0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan46 halaman

Pengukuran Progres Proyek PLTU 300 MW

Diunggah oleh

k3lbakaru
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan46 halaman

Pengukuran Progres Proyek PLTU 300 MW

Diunggah oleh

k3lbakaru
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGUKURAN PROGRES FISIK

DAN PEMBAYARAN
21 – 23 AGUSTUS 2017

Ir. IPLTU
Gede Ny3oman
x 300 MW
Winarta , Dipl En Tech

[Link] Y 1
PT PLN (PERSERO)
UDIKLAT BOGOR

PENGUKURAN PROGRESS FISIK DAN


PEMBAYARAN

• PROJECT MASTER SCHEDULE DAN


MILESTONE ACTIVITIES
• PEMBUATAN PEMBOBOTAN PROGRESS
FISIK
• PENGUKURAN DAN PENGENDALIAN
PROGRESS FISIK
• PROSES PEMBAYARAN
• PRAKTEK PENGGUNAAN TOOLS
2
PENGUKURAN PROGRES FISIK DAN PEMBAYARAN

GAMBARAN UMUM
Pengukuran Progres Fisik menjadi suatu pekerjaan
atau kegiatan yang wajib dilakukan khususnya oleh Pemberi
Pekerjaan atau Owner untuk mengetahui kemajuan atau
progres fisik proyek yang sedang berjalan. Atau bilamana
Pelaksana Pekerjaan atau Kontraktor/Konsorsium
menyampaikan tagihan atas progres fisik proyek sesuai
kesepakatan yang tertuang didalam dokumen kontrak.
Sedangkan Pembayaran merupakan kewajiban yang
juga harus dilaksanakan oleh Pemberi Pekerjaan berupa
pembayaran sejumlah uang (dalam bentuk Foreign Currency
dan Local Currency) kepada Pelaksana Pekerjaan akibat dari
adanya progres fisik proyek sesuai tata cara pembayaran atau
term of payment yang tertuang didalam dokumen kontrak. 3
PENGUKURAN PROGRES FISIK DAN PEMBAYARAN
PENGUKURAN
Pengukuran merupakan suatu kegiatan yang
dilakukan terhadap suatu objek (benda, jarak, suhu, tekanan
dll) dengan mempergunakan alat ukur tertentu untuk
mendapatkan hasil pengukuran yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Misalkan :
Mengukur jarak alat ukurnya adalah meteran atau pesawat
theodolit
Mengukur ketebalan alat ukurnya adalah thickness meter,
micrometer
Mengukur suhu alat ukurnya adalah termometer
Mengukur tekanan udara adalah pressure gauge
Dst. 4
PENGUKURAN PROGRES FISIK DAN PEMBAYARAN
Agar hasil pengukuran tersebut diatas dapat
dipertanggungjawabkan serta dapat diterima oleh masyarakat
secara umum maka alat ukur tersebut haruslah merupakan
alat ukur yang standar secara internasional.

Pengukuran Progres Fisik dimaksudkan untuk


mengukur atas progres atau kemajuan fisik suatu proyek
ketenagalistrikan (proyek pembangkit, proyek jaringan dan
proyek gardu induk) yang selama ini dibangun oleh PLN.
Progres fisik proyek dalam tahapan pembangunan (actual
progress) haruslah selalu dibandingkan dengan progres yang
direncanakan (plan progress) dengan tujuan :
Untuk mengetahui progres proyek dari waktu ke waktu
Pembayaran progres proyek sesuai ketentuan.
5
PENGUKURAN PROGRES FISIK DAN PEMBAYARAN

6
PENGUKURAN PROGRES FISIK DAN PEMBAYARAN
Dalam konteks pembangunan suatu
proyek pembangkit listrik, maka yang
perlu dilakukan pengukuran adalah:
Jadual penyelesaian proyek
Prosentase kemajuan proyek dari
waktu ke waktu
Bobot atau weight factor dari masing
masing pekerjaan atau peralatan.
Apa alat ukurnya ?
Alat Ukurnya adalah Kesepakatan
antara Pemilik Pekerjaan dengan
Pelaksana Pekerjaan.

7
PENGUKURAN PROGES FISIK DAN PEMBAYARAN
Didalam Perjanjian Kerja antara Pemberi Pekerjaan (PLN)
dengan Konsorsium atau Kontraktor yang dituangkan pada buku
dokumen kontrak, maka ada 3 (tiga) tujuan yang menjadi sasaran
PLN yaitu :
1. Biaya
2. Mutu atau kualitas
3. Waktu atau jadual
Sering disingkat BMW (Biaya Mutu dan Waktu).
Untuk mengukur ketiga tujuan diatas dari waktu ke waktu diperlukan
suatu alat ukur sebagai alat bantu atau alat pengendalian atau
“tools” sebagai alat ukur kesepakatan antara Pemberi Pekerjaan
dengan Pelaksana Pekerjaan.

8
PENGUKURAN PROGES FISIK DAN PEMBAYARAN
BIAYA PROYEK
Kontrak dengan Lumpsum Price dimana biaya untuk
membangun pembangkit dengan kapasitas tertentu sudah jelas
tertuang didalam dokumen kontrak.
Pengukuran Progres Fisik dalam hal ini dimaksudkan untuk
mengukur progres pembayaran atas progres fisik yang telah dicapai
dan menghindari adanya over paid atau kelebihan pembayaran yang
dapat merugikan PLN.
Alat ukurnya adalah :
1. Kesepakatan Work Breakdown Structure (WBS) dan Cost
Breakdown Structure (CBS).
2. WBS dan CBS yang telah disepakati dan disahkan oleh para
pihak dipergunakan sebagai dasar pembayaran progres fisik baik
progres Engineering, Procurement maupun Construction (termasuk
komisioning) untuk jenis kontrak EPC.
9
PENGUKURAN PROGRES FISIK DAN PEMBAYARAN
MUTU PROYEK
Project Quality Management atau QA/QC (Quality Assurance & Quality Control) Program sebagai salah satu alat
pengendalian untuk mengukur mutu. QA/QC Plan dalam bentuk ITP (Inspection & Test Plan) harus mendapatkan
persetujuan dari Pemberi Pekerjaan sebelum diterapkan.
Pengendalian untuk mendapatkan peralatan dengan mutu yang baik harus sudah dilaksanakan mulai dari :
Pekerjaan pabrikasi
Pengiriman material atau peralatan
Penempatan di Lay down area atau warehouse
Pekerjaan konstruksi termasuk komisioning.

Mutu proyek yang baik akan dapat diketahui dari keandalan dan life time peralatannya serta performanace unit pembangkit.
Keandalan : peralatan tidak mudah rusak
Life time : umur peralatan yang wajar
Performance : unjuk kerja sesuai spec

10
PENGUKURAN PROGRES FISIK DAN PEMBAYARAN

JADUAL PROYEK
Jadual penyelesaian proyek merupakan salah satu dari tiga tujuan proyek. Penyelesaian proyek tepat waktu adalah
menjadi target baik oleh Pemberi Pekerjaan maupun Pelaksana Pekerjaan.
Penyelesaian proyek tepat waktu bagi Pemilik Pekerjaan akan meningkatkan elektrifikasi (menambah desa desa mendapat
aliran listrik), menghemat biaya produksi (karena menggunakan bahan bakar murah) dan menggantikan pembangkit
dengan biaya produksi tinggi seperti pembangkit diesel (PLTD) dan PLTU bahan bakar minyak.

Alat ukur untuk mengukur jadual proyek adalah :


1. Project Master Schedule (PMS) dan
2. Kurva ‘ S’

11
PROJECT MASTER SCHEDULE

 PROJECT MASTER SCHEDULE


( PMS )

12
PROJECT MASTER SCHEDULE
Project Master Schedule (PMS) adalah Jadual penyelesaian pekerjaan proyek
secara umum yang akan digunakan sebagai acuan untuk dilaksankan oleh
kontraktor / vendor sesuai batasan waktu yang telah ditentukan.
PMS dibuat mulai dari PMS level-1 sampai dengan PMS level-4.
Apa yang dimaksud dengan Jadual Proyek ?
Jadual dalam pengertian proyek konstruksi merupakan perangkat untuk
menentukan aktivitas yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek dalam
urutan serta kerangka waktu tertentu, dalam mana setiap aktifitas harus
dilaksanakan agar proyek selesai tepat waktu dengan biaya yang ekonomis (Callahan,
1992).
Penyusunan jadual proyek pada kontrak EPC meliputi kegiatan :
* Engineering
* Procurement
* Construction termasuk Commissioning.

13
PROJECT MASTER SCHEDULE
PMS SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN JADUAL
PMS atau Time Schedule dalam bentuk Bar Chart (diagram batang) akan terlihat kapan suatu kegiatan
dimulai serta lamanya kegiatan bersangkutan dilaksanakan.
Bilamana suatu kegiatan atau beberapa kegiatan membutuhkan waktu penyelesaian lebih lama dari rencana dan
akan mengakibatkan penyelesaian proyek terlambat maka diperlukan pengendalian.
PMS bisa juga dirubah atau direvisi bila terjadi hal – hal sebagai berikut :
 Dirubah oleh pemilik proyek karena keterlambatan penyediaan lahan proyek, dana di stop.
Konsekuensinya ?
 Terjadi keterlambatan yang significant oleh kontraktor. Konsekuensinya ?
 Terjadi Force Majeur (huru hara, perang, gempa dll)

Disamping itu pada PMS juga ditetapkan Milestone Activities.

14
TIME SCHEDULE- BAR CHART
Minggu Ke Progress
No. Uraian Pekerjaan Bobot (%)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 -100
0.896 0.896 0.896 0.896
1 Pek. Pondasi 3.585
0.965 0.965 0.965 0.965 0.965 0.965 -80
2 Pek. Beton/Dinding 5.787
1.186 1.186 1.186 1.186 1.186
3 Pek. Kap / Atap 5.932
1.038 1.038 1.038 1.038 -60
4 Pek. Loteng 4.151
2.238 2.238 2.238 2.238
5 Pek. Plesteran 8.951
6.32 6.32 6.32 6.32 6.32 6.32 -40
6 Pek. Lantai 37.920
2.15 2.15
7 Pek. Pintu / Jendela 4.299
3.979 3.979 3.979 3.979 3.979 3.979 -20
8 Pek. Pengecatan 23.870
0.786 0.786 0.786 0.786 0.786 0.786 0.786
9 Pek. Perlengkapan 5.503

Bobot Rencana 100.00 0.896 1.861 1.861 8.181 7.285 9.523 15.474 14.509 14.509 9.139 9.139 5.803 1.824
Komulatip Bobot Rencana 0.896 2.757 4.618 12.799 20.084 29.607 45.081 59.59 74.099 83.238 92.377 98.18 100.00

Bobot Realisasi
Komulatip Bobot Realisasi
15
Selisih
PROJECT MASTER SCHEDULE
PENYUSUNAN JADUAL PROYEK

Apa saja yang menjadi pertimbangan atau perhatian didalam penyususunan


Jadual Proyek ?
 Kurun waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan sesuai kontrak
 Kapan suatu kegiatan harus dimulai
 Kurun waktu atau ‘duration’ penyelesaian suatu kegiatan
 Kegiatan kegiatan yang dapat dilakukan secara paralel
 Pekerjaan yang harus dilakukan series (menunggu pekerjaan lainnya selesai)
 Pekerjaan pekerjaan yang kritikal
 Milestone Activities
 Kewajaran ‘rate ot progress’ dalam setiap bulannya.

16
PROJECT MASTER SCHEDULE
KOMPONEN KOMPONEN PENYUSUNAN JADUAL
Kesiapan atas komponen komponen (komponen fisik) yang harus
dipertimbangan didalam penyusunan jadual tersebut adalah :
 Material
 Alat Kerja
 Manpower

Dicontohkan misalnya menyusun jadual pemasangan Turbin.


1. Memperkirakan kedatangan peralatan turbin di site
2. Peralatan kerja sudah harus dipersiapkan sebelumnya
3. Skill personnel sudah dipersiapkan
4. Metode pelaksanaan harus sudah siap (sebagai tambahan)
5. Pondasi turbin dan power house sudah selesai.

17
PROJECT MASTER SCHEDULE
PMS PADA MULTI DAN SINGLE CONTRACT
Pada pelaksanaan pembangunan proyek, khususnya proyek pembangkit dimana
jenis kontrak umumnya Multi Package Contract dan Single Contract.
Multi Package Contract.
PMS level -1 dibuat oleh Pemberi Pekerjaan bersama Konsultan
Masing masing kontraktor menyampaikan usulan rincian pekerjaan disesuaikan dengan
PMS level – 1 diatas
Usulan kegiatan kontraktor perlu persetujuan Pemberi Pekerjaan.
Selanjutnya diterbitkan Project Master Schedule.

Single Contract
Kontraktor / Konsorsium menyampaikan usulan Project Master Schedule level -1 s/d
level – 4.
Pemberi pekerjaan mengesahkan usulan tersebut setelah dilakukan pembahasan
bersama.

18
PROJECT MASTER SCHEDULE

PENYAMPAIAN PMS CONTRACT EPC


Setelah kontrak dinyatakan Effectice (Effective OF Date), kontraktor
diminta segera menyampaikan draft PMS untuk dibahas bersama dan
selanjutnya disahkan.
Sudah dibahas pada pertimbangan penyusunan draft PMS. Namun ada
hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu pembahasan bersama
antara lain :
 Bagian kegiatan / activities, apakah sudah tercakup semua
 Kewajaran awal dimulainya suatu kegiatan
 Kewajaran ’duration’ untuk setiap kegiatan
 Pekerjaan pekerjaan dalam lintasan kritis harus jelas (CPM)
 Kesiapan atas resources (material, alat kerja dan manpower)
 Kewajaran rate of progress yang direncanakan (terlihat pada
penggambaran Kurva – S)

19
PROJECT MASTER SCHEDULE

Dengan penyusunan jadual proyek yang tepat serta keseriusan


kontraktor, maka beberapa macam kerugian dapat dihindarkan
seperti :

1. Keterlambatan proyek
2. Pembengkakan biaya
3 Mutu proyek
4. Klaim
5. Reputasi kontraktor

Pengesahan PMS dilakukan oleh General Manager dan


Perwakilan Konsorsium/Kontraktor

20
PROJECT MASTER SCHEDULE
KETERLAMBATAN PROYEK
Para Pihak akan mengharapkan proyek selesai tepat waktu. Keterlambatan
pelaksanaan proyek dari jadual yang telah ditetapkan merupakan suatu masalah
yang tidak diharapkan oleh :
Owner sebagai Pemilik Proyek atau Pemberi Pekerjaan
Kontraktor atau Konsorsium sebagai Pelaksana Proyek
Masyarakat sebagai stakeholder PLN

Apa kerugian sebagai Pemilik Proyek ?


Pengeporasian pembangkit biaya murah tertunda
Tambahan pendapatan perusahaan tertunda

Apa kerugian sebagai Pelaksana Proyek ?


Keuntungan berkurang

21
PROJECT MASTER SCHEDULE
 Justru bisa mengalami kerugian
disebabkan oleh karena adanya penambahan upah manpower, masa sewa alat dan
kegiatan lainnya yang membutuhkan biaya serta nama baik kontraktor menjadi
menurun.

Apa kerugian bagi masyarakat ?


 Tidak menikmati aliran listrik

Cara mengatasinya ?
 Dari sisi Owner : mengenakan LD kepada kontraktor
 Dari sisi Kontraktor :
> memilih metode kerja terbaik dan tercepat
> menambah man power
> menambah jumlah alat kerja
> menambah jam kerja / over time

22
PROJECT MASTER SCHEDULE

 MILESTONE ACTIVITIES

23
PROJECT MASTER SCHEDULE
MILESTONE ACTIVITIES

APA ITU MILESTONE ACTIVITIES ?


Milestone Activities adalah kegiatan – kegiatan utama atau penting yang harus dicapai sesuai target yang telah ditetapkan pada
PMS. Bila Milestone Activities terlambat, hampir bisa dipastikan bahwa jadual penyelesaian proyek akan terlambat.
Yang membuat dan menentukan Milestone Activities adalah Pemilik Proyek berdasarkan PMS kemudian dijabarkan secara detail
oleh Kontraktor berdasarkan target Milestone tersebut (Multi Package Contract). Sedangkan untuk Single Contract, Milestone Activities
dibuat oleh Kontraktor dan selanjutnya disahkan oleh Pemilik Proyek.
Pemilik Proyek maupun Kontraktor harus selalu memonitor serta melakukan evaluasi atas jadual proyek tersebut agar Milestone
Activities dapat terpenuhi.

24
PROJECT MASTER SCHEDULE
MILESTONE ACTIVITIES PADA PMS ANTARA LAIN :
 Contract Signing
 Adalah penandatanganan dokumen kontrak antara Pemilik Proyek dengan Kontraktor/Konsorsium setelah ada kesepakatan linkup pekerjaan, jadual
pelaksanaan pekerjaan, nilai kontrak, termin pembayaran dan kondisi kondisi penting lainnya.
 Jaminan Pelaksanaan Pekerjaan telah disampaikan.

 Effective Date Of Contract


 Kontrak atau surat perjanjian kerja sudah ditandatangani
 Pendanaan proyek sudah ada atau jelas dilanjutkan dengan L/C open
 Lahan proyek sudah dibebaskan

25
PROJECT MASTER SCHEDULE
CONTOH : PLTU LONTAR UNIT 4 (EXTENTION)

 Contract Signing : 17 September 2015


 Contract Effective : 01 April 2016
 Kapasitas : 315 MW
 Tipe kontrak : EPC
 Pemberi kerja : PLN
 Pelaksana kerja : Sumitomo Corporation
 Nilai kontrak : N/A

26
PROJECT MASTER SCHEDULE
 Kickoff Meeting
 Kickoff Meeting wajib dilaksanakan setelah kontrak ditandatangani atau kontrak sudah dinyatakan effektif
 Agendakan kickoff meeting berdasarkan clausul clausul pada dokumen kontrak dan para pihak menyampaikan hak dan kewajibannya.
 Tidak diperbolehkan merubah isi kontrak dan hanya mengatur teknis pelaksanaan kontrak dan komunikasi kedua belah pihak dalam
peleksanaan pekerjaan di lapangan
 Kontraktor diminta menyampaikan dokumen dokumen sesuai permintaan didalam kontrak (khususnya dari sisi waktu sesuai ketentuan
pada dokumen kontrak)
 Vendor list yang tidak tercantum didalam dokumen kontrak
 Site organization chart terkait dengan personnelnya.

27
PROJECT MASTER SCHEDULE
 Site Development
 Survey (topography, bathymetry, oceanography, soil test, dll)
 Site clearing
 Cut & fill
 Soil treatment (pematangan lahan proyek-bila ada).
 Pile loading test

 Ground Breaking *
 Dimulainya pekerjaan pemancangan (bila ada)
 Biasanya dihadiri oleh pejabat PLN setingkat Direksi

 1st Pouring Concrete Foundation


 Pastikan kesiapan batching plant dan kalibrasi alat ukurnya
 Pastikan hasil mix design

28
MASTER PROJECT SCHEDULE
 1st Steel Structure Erection *
• Pemasangan boiler steel structure
• Check dengan baik hasil pengukuran posisi anchor bolt.

 Steam Drum Lifting *


• Sebagian boiler steel structure termasuk bracing
• girders sudah terpasang.

 Power Back Feeding


• Diperlukan untuk individual test
• Peralatan proteksinya sudah terpasang
• Power energize sampai 6 kV.

 Balance OF Plant
 MED / RO 29
 Water Treatment Plant
MASTER PROJECT SCHEDULE
 Waste Water Treatment Plant
 Clorination Plant System
 Sampling Rack System

 Boiler Hydrostatic Test


 Mempergunakan air demin
 Bagaimana kalau air demin belum siap dihasilkan dari
BOP System ?
 Umumnya mempergunakan air PDAM setempat.
 Bilamana pekerjaan proyek sesuai schedule dan
tahapannya, maka tidak diperlukan boiler preservasi.
 Catatan :
- Air leak test sering dilakukan sebelum hydro test.

30
PROJECT MASTER SCHEDULE
 SISTEM SUPLAI BAHAN BAKAR
Sistem suplai bahan bakar batu bara dikerjakan paralel
dengan kegiatan lainnya dan harus sudah selesai sebelum
kegiatan boiler first firing.
Sistem suplai bahan bakar batu baru meliputi antara lain :
1. Jetty and Trestle
2. Ship unloader
3. Conveyor
4. Transfer tower
5. Coal yard
6. Stacker reclaimer
7. Coal bunker
31
p

32
33
MASTER PROJECT SCHEDULE
 Boiler First Firing
• Sistem suplai udara dan bahan bakar selesai
• F/F system sudah ditest dan standby.
Sistem pemadam kebakaran harus sudah siap sebelum pelaksanaan first
firing
• Steam blow out dan target plate.
Uap harus sudah dinyatakan bersih dari kotoran khususnya solid partikel
sebelum masuk dan memutar turbin.

 Steam Admission / Steam to Set


• Steam pertama kali memutar turbin
• Rub check
• Check vibrasi
• No load test
• Over speed test
• dst

34
35
MASTER PROJECT SCHEDULE
 First Synchronization *
• Pembangkit menghasilkan listrik dan masuk jaringan
• Umumnya first sinkron dilakukan oleh Direksi PLN
• Load test
• Load rejection test.

 Performance Test (PT)


• Biasanya diperlukan set up 2 – 3 hari (termasuk internal
test)
• PT dapat diulang 1 kali
• Tidak memenuhi performance guarantee akan dikenakan LD
(Liquidated Damages)

 Reliability Run Test


• Lama pelaksanaan umunya 30 hari termasuk Full Load Test
(MRC) 36
MASTER PROJECT SCHEDULE

• Unit trip disebabkan masalah external tidak


diperhitungkan.

 Commercial Operation Date (COD)


• Dikeluarkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) dari lembaga
yang diberikan kewenangan, misal PLN JASER.
• Berdasarkan PERMEN ESDM No. 0045 tahun 2005 dan
PERMEN ESDM No. 0046 tahun 2006
• Setiap usaha ketenagalistrikan wajib memenuhi ketentuan
ketenagalistrikan yaitu A3 (aman, andal dan akrab)
• Keputusan Direksi mengenai kewajiban mendapatkan
sertifikat laik operasi (SLO) diatur dalam Kep Dir No.
004.K/DIR/2013 tentang Inspeksi, Pengujian dan
Sertifikat Laik Operasi (SLO) Instalasi KetenagaIistrikan

37
MASTER PROJECT SCHEDULE

Taking Over Certificate (TOC)


•Adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Pemilik Proyek
setelah kontraktor menyelesaikan seluruh kewajibannya
melaksanakan kegiatan komisioning dan performance test.
•Kontraktor berhak meminta diterbitkan TOC atau serah
terima pekerjaan tahap 1 apabila hasil performance test
berhasil dan dapat diterima oleh tim komosioning.
• Minor pending list atau save operation
• Operasi unit masih dibawah kontrol kontraktor
• Mulai diperhitungkannya warranty period.

 Deem TOC
• Biasanya atas permintaan Owner
• Owner tidak memenuhi kewajibannya
38
MASTER PROJECT SCHEDULE

Final Acceptance Certificate (FAC)


•Adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Pemilik Proyek
setelah kontraktor menyelesaikan seluruh kewajiban
didalam masa pemeliharaan termasuk hutang hutang
pembayaran kepada supplier / subvendornya (dengan
dokumen/pernyataan affidavit).
•Telah pula dilakukan First Year Inpection dan seluruh
pending termasuk as built drawings , NCR, defect during
warranty period.

•Bagaimana kalau masih ada minor pending items ?

•Dengan terbitnya FAC ini berarti kontrak sudah ditutup.

39
PROJECT MASTER SCHEDULE

MANFAAT PMS

40
PROJECT MASTER SCHEDULE
MANFAAT PMS / JADUAL PROYEK

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan jadual


proyek antara lain :
1. Bagi Pemilik Pekerjaan
Mengetahui waktu mulai dan selesainya suatu kegiatan serta
proyek secara keseluruhan
Merencanakan aliran biaya (disburse scheduel)
Mengevaluasi jadual penyelesaian proyek (bila ada
keterlambatan) dan biaya proyek.

2. Bagi Kontraktor
Memprediksi dan menentukan kapan suatu kegiatan yang
spesifik dimulai dan diakhiri.
Merencanakan kebutuhan material, alat kerja dan manpower

41
PROJECT MASTER SCHEDULE

 Mengatur waktu keterlibatan sub-kontraktor


 Merencanakan aliran kas
 Mengevaluasi jadual penyelesaian proyek dan biaya
proyek.

42
PROJECT MASTER SCHEDULE
PROJECT SCHEDULING
Hal – hal yang mendapatkan perhatian di lapangan
berkaitan dengan jadual proyek antara lain :
1. Software Microsoft Project (MS Project 2010) atau
Primavera perlu tersedia di kantor PLN untuk
mengendalikan jadual proyek.

2. PLN Project Control Engineer harus mampu dan telah


memahami sequence Proyek. Di lapangan bersama
sama Project Control Engineer Kontraktor
mengendalikan jadual sesuai kontrak

3. Updating Jadual harus dilakukan secara konsisten


setiap bulan, agar project scheduling sesuai format
microsoft project “well implemented”, dalam
mengendalian jadual di lapangan
43
PROJECT MASTER SCHEDULE

RESUME

 PMS SEBAGAI ACUAN JADUAL PENYELESAIAN PROYEK


OLEH KONTRAKTOR SESUAI BATASAN WAKTU YANG
TELAH DITETAPKAN.

 PMS JUGA DIPERGUNAKAN SEBAGAI ACUAN


MEMPERSIAPKAN SUMBER DAYA ATAU SEBALIKNYA

 KOORDINASI DENGAN SUB KONTRAKTOR / SUB


VENDOR

 SEBAGAI DASAR PERHITUNGAN KLAIM (BILA ADA)


- WAKTU
- BIAYA 44
PROJECT MASTER SCHEDULE

 CONTOH : PROJECT MASTER SCHEDULE

45
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai