CHAPTER 7
RISIKO
NAMA : A Zaky Balya A
202310047
NAMA : Mohammad Faldi F
202310062
Manajemen risiko proyek adalah proses penting yang harus dilakukan untuk memastikan keberhasilan proyek.
Setiap proyek memiliki risiko yang dapat berasal dari berbagai sumber, baik yang dapat diprediksi maupun
yang tidak terduga. Risiko ini dapat berdampak dari yang kecil hingga yang dapat menyebabkan kegagalan
proyek total. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi dan menilai risiko sejak awal, serta
merencanakan langkah-langkah mitigasi yang tepat.
Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko adalah langkah pertama dalam manajemen risiko. Metode yang umum digunakan termasuk:
• Checklists: Daftar periksa yang berkembang seiring pengalaman proyek yang bertambah.
• Studi Kasus Proyek Sebelumnya: Mempelajari proyek serupa untuk memahami risiko yang mungkin
terjadi.
• Brainstorming: Mengumpulkan tim untuk menghasilkan ide-ide tentang risiko yang mungkin dihadapi,
menciptakan suasana terbuka di mana semua ide diterima tanpa penilaian.
Pengantar Manajemen Risiko
Proyek
Setelah risiko diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah menilai dan
menganalisis risiko tersebut. Proses ini meliputi:
Analisis Kualitatif: Menggambarkan risiko secara deskriptif
untuk memahami karakteristik dan dampaknya.
Analisis Kuantitatif: Menggunakan data numerik untuk
memberikan peringkat pada risiko berdasarkan kemungkinan
dan dampaknya.
Analisis Kualitatif :
Fault-tree analysis dan Fishbones
Fault-tree analysis dan diagram Ishikawa (fishbone diagram) adalah
metode yang sering digunakan untuk mengidentifikasi penyebab dan
efek dari risiko.
Diagram fishbone dapat dengan mudah digunakan tanpa perlu
modifikasi untuk menganalisis kegagalan atau kinerja yang buruk
dalam organisasi. Proses ini biasanya dimulai dengan memikirkan
tentang efeknya, kemudian mencari kemungkinan penyebabnya.
Penilaian dan Analisis Risiko
Failure Mode and Effect analysis (FMEA)
Metode ini mungkin lebih bermanfaat karena dimulai
dengan mempertimbangkan kemungkinan peristiwa risiko
(mode kegagalan) dan kemudian memprediksi semua
efek yang mungkin ditimbulkan. Tabel dibawah
merupakan contoh metode FMEA dimana metode
tersebut mencerminkan proses kualitatif karena
mempertimbangkan karakteristik setiap risiko, namun
tidak memberikan peringkat prioritas atau
mengkuantifikasi efek jika risiko tersebut terjadi.
Penilaian dan Analisis Risiko
Risk Classification Matrices
Matriks klasifikasi risiko adalah alat yang digunakan dalam
manajemen risiko proyek untuk mengelompokkan risiko berdasarkan
dua kriteria utama: kemungkinan terjadinya dan dampak yang
ditimbulkan jika risiko tersebut terjadi. Dalam konteks ini, matriks
dapat dibagi menjadi beberapa bagian, dengan versi yang lebih
sederhana sering kali terdiri dari empat kuadran:
1. High Chance – High Impact: Risiko yang memiliki kemungkinan
tinggi untuk terjadi dan dapat menyebabkan dampak besar pada
proyek.
2. High Chance – Low Impact: Risiko yang mungkin sering terjadi
tetapi dengan dampak yang relatif kecil.
3. Low Chance – High Impact: Risiko yang jarang terjadi tetapi
dapat menyebabkan kerugian besar jika terjadi.
4. Low Chance – Low Impact: Risiko yang tidak mungkin terjadi
dan jika terjadi, dampaknya tidak signifikan.
Penilaian dan Analisis Risiko
Analisis Kuantitatif :
Failure Mode Effect Critically Analysis (FMECA)
Dalam metode FMECA terdapat tiga kolom penilaian di mana analis risiko diminta untuk memasukkan angka
yang mencerminkan tingkat signifikansi risiko, dengan skala dari satu hingga lima, di mana angka tertinggi
menunjukkan signifikansi terbesar.
Setelah semua item dinilai, daftar dapat diurutkan berdasarkan angka peringkat ini, sehingga risiko dengan
prioritas tertinggi muncul di atas.
Penilaian dan Analisis Risiko
Pendaftaran Risiko Metode Menghadapi Risiko
Setelah risiko dinilai, penting untuk mencatatnya Setelah risiko terdaftar, manajer proyek harus
dalam risk register. Ini adalah dokumen yang memutuskan bagaimana cara menghadapinya.
mencakup: Beberapa strategi yang dapat diterapkan termasuk:
Menghindari Risiko: Menghentikan aktivitas yang
ID risiko
menyebabkan risiko.
Deskripsi risiko dan konsekuensinya Mengurangi Risiko: Mengambil langkah-langkah
Probabilitas dan dampak untuk meminimalkan dampak risiko.
Tindakan mitigasi yang diusulkan Menerima Risiko: Menerima risiko kecil yang tidak
berdampak signifikan.
Tanggung jawab untuk setiap risiko
Berbagi Risiko: Menggandeng mitra untuk
Pendaftaran risiko harus diperbarui secara berkala
membagi risiko besar.
untuk mencerminkan perubahan dalam proyek.
Mentransfer Risiko: Mengalihkan risiko kepada
pihak lain, seperti melalui asuransi.
Asuransi dalam Manajemen Risiko
Asuransi adalah alat penting dalam manajemen risiko yang memungkinkan organisasi untuk melindungi diri dari dampak
finansial risiko. Jenis asuransi yang umum mencakup:
Terdapat empat kelas utama asuransi:
1. Tanggung Jawab Hukum: Meliputi pembayaran kepada pihak lain akibat kewajiban hukum, kontrak, atau profesional,
termasuk kompensasi yang diberikan oleh pengadilan dan biaya hukum, tetapi tidak mencakup denda yang dijatuhkan oleh
pengadilan.
2. Perlindungan terhadap Kerusakan atau Kehilangan Properti: Menjamin perlindungan terhadap kerugian atau kerusakan
pada properti, termasuk pekerjaan sementara, pekerjaan yang sedang berlangsung, peralatan konstruksi yang dimiliki,
peralatan sewaan, dan barang milik karyawan.
3. Perlindungan Personel: Meliputi perlindungan yang berhubungan dengan staf atau karyawan.
4. Kerugian Finansial: Berfokus pada kerugian yang bersifat finansial.
Polis asuransi dapat menggabungkan perlindungan untuk dua atau lebih kelas risiko di atas.
Asuransi Wajib
Dalam proyek konstruksi dan teknik, ada kewajiban untuk melakukan inspeksi dan sertifikasi peralatan seperti
alat angkat, sistem tekanan, dan ventilasi. Di Inggris, hal ini diatur dalam berbagai regulasi seperti Health and
Safety at Work Act 1974 serta aturan turunan lainnya, seperti:
LOLER 1998 (Lifting Operations and Lifting Equipment Regulations),
PUWER 1998 (Provision and Use of Work Equipment),
PSSR 2000 (Pressure Systems Safety Regulations), dan lainnya.
Kewajiban Kontraktual
Dalam proyek komersial dan industri, kontrak sering kali menetapkan kewajiban asuransi terhadap berbagai
risiko. Pihak pembeli proyek, misalnya, biasanya ingin memastikan kontraktor memiliki perlindungan yang
memadai untuk tanggung jawab hukum terkait cedera, kerusakan properti, atau kehilangan keuangan akibat
proyek.
Cakupan tanggung jawab hukum yang biasanya diwajibkan meliputi:
Kompensasi atas cedera atau kerusakan pada orang (termasuk karyawan, pekerja lain, dan publik),
Kerusakan atau kehilangan properti (termasuk pekerjaan yang sedang berjalan),
Kerugian finansial,
Kecelakaan,
Tanggung jawab atas produk,
Kelalaian profesional,
Gangguan yang disebabkan oleh pekerjaan, dan
Kerusakan lingkungan.
Mendapatkan Asuransi
Untuk memperoleh asuransi, kontraktor dapat langsung menghubungi underwriter atau melalui broker yang
berpengalaman dalam bidang proyek terkait. Asuransi harus direncanakan sejak awal proyek untuk memastikan
perlindungan yang memadai dan menghindari keterlambatan dalam memperoleh cakupan.
Perencanaan Krisis
Perencanaan untuk menghadapi krisis adalah langkah penting dalam mengantisipasi dampak besar yang mungkin terjadi
pada sebuah proyek. Beberapa risiko dapat membawa konsekuensi serius sehingga diperlukan rencana kontingensi
khusus untuk menangani krisis dengan cepat dan tepat.
Langkah awal dalam menyusun rencana kontingensi adalah membentuk organisasi inti yang terdiri dari individu kunci
yang akan memimpin manajemen krisis. Anggota komite harus memiliki wewenang untuk mengambil tindakan cepat dan
mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan selama krisis.
Setelah kelompok inti terbentuk, mereka harus merancang rencana kontingensi yang mencakup pengadaan dana darurat,
penyimpanan peralatan khusus, dan koordinasi dengan organisasi sekunder yang dapat memberikan bantuan segera.
Untuk memastikan kesiapan, rencana kontingensi diuji melalui simulasi, baik berupa latihan di meja (tabletop exercises)
maupun latihan lapangan. Latihan ini membantu mengidentifikasi kekurangan dalam rencana, menguji kecepatan respons,
dan memastikan koordinasi yang baik di bawah kondisi darurat, seperti pemadaman listrik atau gangguan komunikasi
Thank you