Clinical Science Session
Laryngopharyngeal Reflux (LPR)
OLEH
Revi Annisa 2140312203
Farhan Ramadhan 2140312206
PRESEPTOR
dr. Ade Asyari, [Link]-KL(K), FICS
Bab 1 Pendahuluan
Latar Belakang
Laryngopharyngeal Reflux (LPR) atau Refluks esktraesofaring merupakan
sebuah kelainan dimana terjadi inflamasi pada traktus aerodigestif bagian
atas yang berhubungan dengan efek langsung dan tidak langsung dari
refluks isi lambung atau duodenum, yang menyebabkan perubahan
morfologis pada traktus aerodigestif bagian atas.
Penyakit LPR merupakan aliran balik isi lambung atau gastroduodenal ke
dalam laring dan faring dimana cairan lambung ini bersentuhan dengan
jaringan saluran aerodigestif bagian atas.
LPR berbeda dengan Penyakit Gastroesofageal reflux (GERD), yang dimana
GERD disebabkan oleh aliran balik isi lambung ke kerongkongan, yang
menyebabkan esofagitis. Sedangkan gejala yang paling umum pada LPR
berupa kelelahan bicara, sensasi terbakar, sakit, dan terasa benjolan pada
tenggorokan, batuk persisten, dan disfagia.
Penyakit LPR sangat sering dijumpai pada bagian THT dan diperkirakan terjadi
pada 50% pasien yang memiliki gangguan suara. LPR mempunyai beberapa
gejala meliputi nyeri dan rasa mengganjal pada tenggorokan, suara serak, batuk,
sesak nafas.
Paparan dari refluk isi lambung secara terus menerus menyebabkan :
1. Eritema pada laring,aritenoid, pita suara.
2. Edema pada laring, pita suara, dan subglotis.
3. Hipertrofi subsglotis, ventrikula obliterasi.
4. Mukus endolaring.
5. Pembentukan granuloma.
Diagnosis pada LPR secara tradisional didasarkan kepada adanya gejala laring dan
temuan pada laringoskopi.
Kesalahan dalam mendiagnosis LPR dapat memicu pada keadaan overdiagnosis
kearah penyakit yang lebih serius
Tujuan penulisan makalah Clinical Science Session ini
adalah untuk mempelajari anatomi, fisiologi, definisi,
Tujuan Penulisan epidemiologi, etiologi, faktor resiko, patogenesis,
manifestasi klinis, diagnosis, serta penatalaksanaan
terkait kelainan Laryngopharyngeal Reflux.
Penulisan Makalah Clinical Science Session ini
Metode Penulisan menggunakan metode studi pustaka mengenai
Laryngopharyngeal Reflux.
Manfaat penulisan Clinical Science Session ini adalah
Manfaat Penulisan untuk menambah wawasan penulis dan pembaca terkait
penyakit Laryngopharyngeal Reflux.
Bab 2 Tinjauan
Pustaka
Anatomi Faring dan Esofagus
Faring adalah saluran berbentuk corong yang dibagi menjadi 3 bagian
yaitu nasofaring, orofaring, laring faring.
Nasofaring merupakan bagian faring yang terhubung dengan rongga
hidung, pada nasofaring terdapat muara tuba pendengaran, tonsil
adenoid, fossa rosenmuller.
Orofaring merupakan bagian faring yang berpapasan dengan rongga
mulut, pada orofaring terdapat dasar lidah, uvula, tonsil palatina
Pada laringofaring terdapat saluran yang berdinding kartilago, epiglottis,
plika vokalis, arytenoid dan lain-lain.
Anatomi Faring dan Esofagus
Esofagus merupakan saluran pencernaan yang
terpisah dengan faring pada laringofaring. Saluran
pernafasan akan ditutup oleh epiglottis ketika
menelan makanan, esophagus terdiri dari 3 bagian
yaitu pars cervical, thorakal, dan abdomen yang
akan bermuara ke lambung.
Esophagus memiliki 2 spingter, satu di pars cervical
dan satu lagi di esophagus pars abdominal. Kelainan
LPR terjadi karena perlemahan atau tidak
tertutupnya spingter esophagus superior saat posisi
tidur.
FISIOLOGI LARING - FARING
Menelan dapat dibagi menjadi
(1) tahap volunter : mencetuskan proses menelan
(2) tahap faringeal : involunter dan membantu jalannya makanan melalui faring ke dalam esofagus
(3) tahap esofageal : fase involunter lain yang mengangkut makanan dari faring ke lambung
Bila makanan sudah siap untuk ditelan, secara
sadar makanan ditekan atau didorong ke arah
Tahap posterior ke dalam faring oleh tekanan lidah ke
Volunteer atas dan ke belakang terhadap palatum.
Palatum mole tertarik ke atas
Lipatan palatofaringeal pada setiap sisi faring tertarik
ke arah medial
Pita suara pada laring menjadi sangat berdekatan,
Tahap dan laring tertarik ke atas dan anterior oleh otot-
otot leher.
Faringeal Gerakan laring ke atas juga menarik dan melebarkan
pembukaan ke esofagus.
Laring terangkat dan sfingter faringoesofageal
mengalami relaksasi
Peristaltik Primer
Peristaltik primer hanya merupakan kelanjutan dari gelombang
peristaltik yang dimulai di faring dan menyebar ke esofagus
selama tahap faringeal dari proses menelan.
Tahap
Esofageal
Peristaltik Sekunder
Jika gelombang peristaltik primer gagal mendorong semua
makanan yang telah masuk esofagus ke dalam lambung, terjadi
gelombang peristaltik sekunder yang dihasilkan dari peregangan
esofagus oleh makanan yang tertahan, gelombang ini terus
berlanjut sampai semua makanan dikosongkan ke dalam lambung
Kontraksi otot lebih
dahulu
dibandingkan
gerakan peristaltik
esofagus
(Relaksasi
Reseptif) > usaha
mencegah reflux
fisiologis
ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
Penurunan aliran silia
Kerusakan mukosa Aliran silia terhambat
akan menyebabkan
langsung dari paparan pada pH 5,0 dan
terjadinya peningkatan
asam terhenti pada pH 2,0.
risiko terjadinya infeksi.
Teori Pertama
• Reflux : asam, pepsin, tripsin, garam empedu, dan
beberapa protein gastro-duodenum pada mukosa
saluran aerodigestif atas
• Terutama : Pepsin
Merusak mitokondria
Mengubah ekspresi negatif dari faktor pertumbuhan
Mengurangi mekanisme pertahanan terhadap cidera
epitel
Teori Kedua
• Stimulasi kemoreseptor esophagus yang dihasilkan dari
bahan refluks lambung di distal esofagus
PATOFISIOLOGI
Paling sering : Suara Serak
Mekanisme :
• Mukosa pita suara mengalami dehidrasi dan menjadi lengket
• Mikrotrauma
• Sekresi molekul-molekul inflamasi
• Iritasi pepsin kronis dan isi gastroduodenal
• Uncompensated
Diagnosis
Gejala Klinis
Suara serak atau perubahan suara
Batuk kronis
sensasi globus (seolah mengganjal di tenggorok/leher
dada terbakar/heartburn
odinofagia/nyeri menelan
nyeri tenggorok
disfagia/sulit menelan
Reflux Symptom Index
Pertanyaan tervalidasi untuk menentukan kecendrungan pasien dengan LPR, RSI >10 berkorelasi
dengan semakin tingginya terjadi refluks.
• Tingkat suara serak
• Seberapa sering meng-ehem-kan tenggorok
• Postnasal drip atau sekret mukosa tenggorok
• Disfagia
• Batuk setelah makan atau berbarik
• Sesak napas
• Batuk kronis
• Sensasi globus
• Dada rasa terbakar
Pemeriksaan Fisik
Edem sepanjang pita suara
Penebalan pada laring dari anterior hingga
posterior, eritema pada pita komisura posterior memiliki
suara, dan mukosa post- sensitivitas dan spesifitas
cricoid yang baik dalam menilai
kejadian LPR.
Pemeriksaan penunjang
Deteksi refluks dari asam lambung ke arah atas dari saluran aerodigestive
melalui pemeriksaan nilai pH merupakan baku emas diagnosis LPR sedangkan
pemeriksaan radiologi tidak menunjukkan sensitivitas yang baik dalam menilai
LPR.
Tatalaksana
Tatalaksana
-Perubahan gaya hidup
-Pembedahan
Medikamentosa
PPI : terapi utama dalam menekan asam pada penyakit LPR
Antagonis reseptor H2, agen prokinetik, dan sitoprotektan mukosa (sepertisucralfate)
dapat menjadi terapi tambahan
Neuromodulator seperti antidepresan trisiklik, gabapentin, dan pregabalin dapat dipilih
jika gejala tidak membaik dengan supresi asam, khususnya pada kasus dimana terdapat
sensitivitas laring (neuropati) menyebabkan timbulnya gejala LPR.
Refluks dari asam dan pepsin dapat memberikan efek pada
saluran pernapasan karena mengenai saluran aerodigestif
Komplikasi bagian atas sehingga mengakibatkan masalah pernapasan
seperti asma dan pneumonia.
Angka keberhasilan terapi cukup tinggi yaitu
mencapai 90%, dengan catatan terapi harus
Prognosis disertai dengan modifikasi diet yang ketat dan
perubahan gaya hidup.
Terima Kasih
Pertanyaan :
1. Verin : salah satu tatalaksana modifikasi lifestyle, edukasi macam apa yang diberimkpd
pasien?
2. Kiinan : apa hal yang mencetus dan meningkatkan risiko lpr?
3. sharon: apakah butuh pembedahan pada kasus lpr?
4. nadya : apa obat yang dihindari untuk kasus lpr ini?
5. aldo : cara membedakan lpr dan gerd, dan kapan mendiagnosis pasien ini disertai lpr dan
gerd?