PENGARUH PENDEKATAN PROBLEM BASED
LEARNING (PBL) DENGAN TEKNIK PROBING-
PROMPTING TERHADAP KEMAMPUAN
PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA
SMP
MASALAH DAN LATAR BELAKANG MASALAH
1. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat tidak bisa dipungkiri
berdampak
pada pendidikan, khususnya terhadap kualitas pendidikan karena adanya
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi tentu saja turut membantu proses pembangunan khususnya
pada
bidang pendidikan.
2. Tujuan pendidikan matematika pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu:
a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan
mengaplikasikan
konsep atau logaritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan
masalah.
b. Melakukan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam
membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika.
c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang
model
matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh,
3. Tahun 1989, National Council Teacher of Mathematics mengeluarkan sebuah dokumen
berjudul Currilculum and Evaluation Standards for School Mathematics yang menjadi
acuan untuk perubahan kurikulum selama dekade 1990-an yang berisi bahwa
pemecahan masalah seharusnya menjadi fokus utama dari matematika. Dari
rekomendasi NCTM tersebut dapat diartikan bahwa pemecahan masalah sangat penting
dalam pembelajaran matematika, mengingat masih banyak siswa yang merasa
kesulitan dalam mengkonstruksikan dan mengaplikasikan ide-ide dalam pemecahan
masalah matematika. Tidak hanya sebuah formula yang dapat digunakan untuk
memastikan keberhasilan dalam pemecahan masalah. Oleh karena itu, siswa perlu
memecahkan banyak masalah agar terbiasa melakukan prosesnya.
4. Triyono (Hanifah, 2008: 3), “Salah satu kendala siswa belum lancar dalam memecahkan
soal matematika yaitu belum ada kesiapan untuk mengerjakan soal yang sedikit
berbeda dengan contoh soal yang dibuat guru
RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH
Rumusan Masalah : Apakah kemampuan pemecahan masalah
matematika siswa yang mendapatkan pembelajaran melalui
pendekatan problem based learning (PBL) dengan teknik probing-
prompting lebih baik daripada siswa yang mendapatkan
pembelajaran konvensional?
Batasan Masalah : subjek penelitian siswa SMP materi/pokok
bahasan persegi panjang dan persegi dengan indikator kemampuan
pemecahan masalah menurut Sumarno.
PENTINGNYA MASALAH
Masalah di atas perlu dipecahkan sebab hasilnya dapat digunakan
untuk memperbaharui pembelajaran yang selama ini digunakan
oleh para guru dalam pembelajaran matematika, yaitu
pembelajaran konvensional. Selain itu, bila pembelajaran dengan
pendekatan Problem Based Learning (PBL) teknik Probing-
Prompting lebih baik daripada pembelajaran konvensional dalam
pembelajaran matematika, khususnya kemampuan pemecahan
masalah matematika, guru-guru dapat memanfaatkannya untuk
diterapkan pada proses pembelajaran yang dilakukan.
TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan
sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
kemampuan pemecahan masalah matenatika siswa setelah
mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Problem Based
Learning (PBL) dengan teknik Probing-Prompting.
MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain:
Bagi peneliti, sebagai suatu pembelajaran untuk mengaplikasikan
pegetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan maupun di
luar perkuliahan ke dalam kegiatan pembelajaran yang nyata.
Bagi guru, sebagai informasi bagi pengembangan dan penerapan
model-model pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam
kegiatan pembelajaran matematika di kelas.
Bagi Siswa, melalui pembelajaran dengan pendekatan Problem
Based Learning (PBL) teknik Probing-Prompting diharapkan
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika.
STUDI LITERATUR
Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning (PBL) pertama kali diperkenalkan oleh Faculty of Health Sciences of
McMaster University di Kanada pada tahun 1966. Yang menjadi ciri khas dari PBL yang
dikembangkan di McMaster ini adalah filosofi pendidikan yang berorientasi pada masyarakat,
terfokus pada manusia, melalui pendekatan antar cabang ilmu pengetahuan dan belajar
berdasar masalah.
Menurut Dutch (1995), Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang
mendorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk
mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk
mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subjek. PBL menyiapkan
siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan
menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.
Suseno dan Rudhito (Rahadyan, 2011: 16) menguraikan langkah-langkah pembelajaran
berbasis masalah (Problem Based Learning) yang dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut:
[Link]
2. Orientasi
3. Eksplorasi
4. Negosiasi
5. Integrasi
B. Teknik Probing-Prompting
Muflihin (2011: 9),
“Teknik Probing-Prompting merupakan suatu teknik pembelajaran dengan cara
guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali
sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan tiap siswa dan
pengalamannya dengan pengetahuan baru yang dipelajari”.
Sujarwo, (Muflihin, 2011: 15) mengemukakan pola umum pembelajaran matematika
dengan menggunakan teknik Probing-Prompting melalui tiga tahapan:
1. Kegiatan awal
Guru mengenali pengetahuan prasyarat yang sudah dimiliki siswa dengan
menggunakan teknik
Probing. Hal ini berfungsi untuk introduksi, revisi, dan motivasi.
2. Kegiatan inti
Proses pembelajaran dengan menggunakan teknik Probing-Prompting, dimulai dari
pengembangan dan penerapan-penerapan materi.
3. Kegiatan akhir
Membuat suatu rangkumandari proses belajar-mengajar dan diberikan pekerjaan rumah
untuk
C. Kemampuan Pemecahan Masalah
Menurut Polya (Dewi, 2010: 1),
“Pemecahan masalah adalah salah satu aspek berpikir tingkat tinggi, sebagai proses
menerima masalah dan berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Selain itu,
pemecahan masalah merupakan suatu aktivitas intelektual untuk mencari penyelesaian
masalah yang dihadapi dengan menggunakan bekal pengetahuan yang sudah dimiliki”.
Sumarno (2003) mengungkapkan indikator pemecahan masalah matematika, yaitu
sebagai berikut:
Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur
yang diperlukan.
Merumuskan masalah matematika atau menyusun model matematika.
Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan masalah
baru) dalam atau luar matematika.
Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil permasalahan menggunakan matematika
secara bermakna.
HIPOTESIS
Berdasarkan uraian di atas, hipotesisnya adalah: Siswa yang memperoleh
pembelajaran dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) teknik
Probing-Prompting, kemampuan pemecahan masalahnya lebih baik daripada
siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.
PERISTILAHAN
Problem Based Learning (PBL) adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran
berdasarkan kehidupan nyata kemudian siswa dirangsang untuk mempelajari masalah ini
berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang telah dimiliki siswa sebelumnya
sehingga dapat terbentuk pengalaman baru.
Teknik Probing-Prompting adalah suatu teknik pembelajaran yang disajikan dengan cara guru
mengajukan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali informasi yang
ada dalam diri siswa sehingga siswa dapat membangun dan mengaitkan informasi melalui
jawaban atas serangkaian pertanyaan yang diajukan oleh guru menjadi pengetahuan baru.
Kemampuan Pemecahan Masalah kesanggupan seseorang untuk melakukan kegiatan
menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-
hari atau keadaan lain, dan membuktikan maupun menguji konjektur.
POPULASI DAN SAMPEL
Yang menjadi subjek penelitian adalah siswa SMP kelas VII.
Mengingat penelitian ini memerlukan keteraturan belajar siswa,
maka SMP yang termasuk ke dalam populasi penelitian yaitu
SMP yang berada di kota besar yang pelajarannya berjalan
sesuai dengan peraturan yang berlaku. Salah satu kota besar di
Indonesia adalah Bandung. Jadi populasinya adalah siswa SMP
Negeri 15 Bandung kelas VII. Dari kelas VII dipilih dua kelas
secara acak. Jadi, sampelnya adalah siswa SMP Negeri 15
Bandung kelas VII yang dipilih secara acak menurut kelas.
INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen dalam penelitian ini berupa soal pretes kemampuan pemecahan
masalah dan soal postes kemampuan pemecahan masalah.
Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe uraian, karena
dengan tipe uraian dapat dilihat pola pikir siswa dengan jelas sehingga
kemampuan pemecahan masalahnya terlihat dengan jelas
A. Uji Validitas
Menurut Suherman (1995: 135), “Suatu alat evaluasi dikatakan valid (absah atau sahih)
apabila alat tersebut mampu mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi”.
Mencari validitas dengan menggunakan rumus korelasi product moment yaitu:
(Suherman, 1995: 150):
Dalam hal ini diartikan sebagai koefisien validitas. Klasifikasi koefisien validitas, menurut
Guiford
(dalam Suherman, 2003: 147), dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut ini:
B. Uji Reliabilitas
Menurut Suherman (1995: 167), “Berkenaan dengan alat evaluasi, suatu alat
evaluasi (tes dan non-tes) disebut reliabel) jika hasil evaluasi tersebut relatif tetap jika
digunakan untuk subjek yang sama”. Kapan pun alat ukur tersebut digunakan akan
memberikan hasil ukur yang sama.
Untuk mengetahui reliabilitasnya digunakan rumus Alpha yaitu:
Klasifikasi koefisien reliabilitas, menurut Guiford (dalam Suherman, 2003: 177),
dapat dilihat pada Tabel 3.4 berikut ini:
C. Indeks Kesukaran
Untuk indeks kesukaran dari tiap butir soal berbentuk uraian, digunakan rumus:
Menurut Suherman (Omoh, 2009: 25), klasifikasi indeks kesukaran yang banyak
digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.5 berikut ini
D. Daya Pembeda
Suherman (Omoh, 2009: 26) mengatakan, “Daya pembeda dari sebuah soal adalah
seberapa jauh
kemampuan butir soal dapat membedakan antara testi yang mengetahui jawaban dengan
benar dan
testi yang tidak dapat”.
Untuk mengetahui daya pembeda dari butir soal tes digunakan rumus sebagai
berikut:
Menurut Suherman (Omoh, 2009: 26), klasifikasi daya pembeda yang banyak digunakan
dapat
dilihat pada Tabel berikut ini:
METODE DAN DESAIN PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen
dengan desain kelompok kontrol pretes dan postes. Berikut ini merupakan
desain penelitian kelompok kontrol pretes-postes :
A O X O dengan : O = pretes = postes
A O O X adalah pengajaran matematika dengan
pendekatan Problem Based Learning teknik
Probing-Prompting
PROSEDUR PENELITIAN
1. Tahap Persiapan
Kegiatan-kegiatan yang meliputi tahap persiapan adalah:
Pengajuan judul penelitian, penyusunan proposal penelitian, mengajukan surat izin
penelitian, pembuatan instrumen penelitian yang merupakan instrumen tes yang
terdiri dari seperangkat soal pretes dan seperangkat soal postes.
2. Tahap Pelaksanaan
Kegiatan-kegiatan yang meliputi tahap pelaksanaan adalah:
Observasi ke SMP Negeri 15 Bandung, melakukan pretes pada kelas eksperimen dan
kelas kontrol, melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat,
melakukan postes setelah pembelajaran usai dilaksanakan
3. Tahap Pengolahan Data
kegiatan yang meliputi tahap pengolahan data adalah:
Menganalisis data yang terkumpul menggunakan uji statistik, membuat
TEKNIK ANALISIS DATA
1. Teknik Analisis Data Pretes
Data tersebut dianalisis dengan bantuan software SPSS 17,0 for Windows, dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Uji Normalitas
b. Uji Homogenitas
c. Uji Kesamaan Dua Rata-rata
Hipotesis tersebut dirumuskan dalam bentuk hipotesis statistik (uji dua pihak) sebagai berikut :
Ho : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2
Keterangan:
Ho : Kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak berbeda secara signifikan.
H1 : Kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan.
Dengan kriteria uji diterima H0, jika probabilitas > 0,025 sebaliknya jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak.
Atau terima Ho untuk dengan taraf signifikansi 0,05.
2. Teknik Analisis Data Postes
a. Uji Normalitas
b. Uji Homogenitas
c. Uji Kesamaan Dua Rata-rata
Hipotesis tersebut dirumuskan dalam bentuk hipotesis statistik (Uji satu pihak) sebagai berikut :
Ho : µ1 = µ2
H1 : µ1 > µ2
Keterangan:
H0 : Kemampuan pemecahan masalah siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan
Problem
Based Learning (PBL) teknik Probing-Prompting tidak lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah
siswa
yang memperoleh pembelajaran konvensianal.
H1 : Kemampuan pemecahan masalah siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan
Problem
Based Learning teknik Probing-Prompting lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah siswa yang
memperoleh pembelajaran konvensianal.
Dengan kriteria uji tolak H0 untuk dan terima H0 jika memiliki harga lain, dengan taraf signifikansi 0,05.
JADWAL KEGIATAN