Diagnosa dan Penanganan Demam Ruam
Diagnosa dan Penanganan Demam Ruam
Demam merupakan suhu diatas 100,4 oF (38oC). Demam merupakan respon normal
terhadap berbagai kondisi, yang paling umum adalah infeksi.
Ruam
DIFFEREN
D <1cm
haemolyticum, secondary syphilis,
leptospirosis, pseudomonas aeruginosa,
TIAL
meningococcal infection, salmonella typhi,
lyme disease, mycoplasma pneumoniae
DIAGNOSI
Rickettsiae : rocky mountain spotted fever,
typhus, ehrlichiosis
S OF
Other : Kawasaki disease, rheumatoid
arthritis, drug reaction
2) Diffuse Thickened, scaly skin on palms Bakteri : scarlet fever, staphylococcal
Erythroderma and soles scalded skin syndrome
Toxic shock syndrome
FEVER
Fungi : candida albicans AND RASH
Other : Kawasaki disease
3) Urticarial Rash - Swelling of the lesions Virus : EBV, HBV, HIV
Bakteri : M. pneumoniae, Group A
streptococcus
Other : Drug reaction, serum sickness
LESION DESCRIPTION PATHOGEN OR DISEASE
4) Vesicular, - Vesicular : raise lesions, D <0,5 Virus : Herpes simplex virus, Varcella-zoster
Bullous, cm, contain clear fluid virus, coxsackievirus
Pustular - Pustular bullous : raised
Bakteri : staphylococcal scalded skin syndrome,
lesions, D >0,5 cm, contain
Staphylococcal bullous impetigo, Group A
clear/purulent fluid
DIFFERE
streptococcal crusted impetigo
Rickettsiae : Rickettsialpox
NTIAL
Other : Toxic epidermal necrolysis, erythema
multiforme
5) Ptechial- - Red/purple spot yang tidak Virus : adenovirus, Atypical measles, Congenital
Purpuric menghilang ketika ditekan rubella, Congenital cytomegalovirus, Enterovirus,
Papular-purpuric gloves and socks, HIV,
Hemorrhagic fever viruses
DIAGNOS
Bakteri : Sepsis, Infective endocarditis, Ecthyma
gangrenosum, Vibrio vulnificus IS OF
Rickettsiae : Rocky Mountain, spotted fever,
Epidemic typhus, Ehrlichiosis FEVER
AND
Fungi : Necrotic eschar
Other : Vasculitis, Thrombocytopenia, HSP,
RASH
Malaria
6) Erythema Tender red nodules, due to exudation Virus : EBV, HBV
Nodosum of blood and serum
Bakteri : Group A streptococcus, Mycobacterium
tuberculosis, Yersinia, Cat-scratch disease
Fungi : Coccidioidomycosis, Histoplasmosis
Other : sarcoidosis, Inflammatory bowel disease,
Estrogen-containing oral contraceptives, SLE,
Behcet disease
CAMPAK/MEASLES/
RUBEOLA/MORBILI Epidemiologi
∙ Masa Prodromal
o 3-5 hari biasanya ringan, tapi pada akhir stadium erupsi dapat meningkat mencapai 40 C
o 3C : coryza, cough, conjunctivitis
o Koplik spot : patognomonis, timbul 2 hari sebelum dan 2 hari sesudah stadium erupsi,
berupa lesi punctata putih di daerah mukosa buccal, tersering di daerah molar 2 bawah
∙ Stadium Erupsi
o Pada akhir stadium prodromal : suhu tubuh tinggi,
saat panas mencapai puncaknya🡪 timbul ruam
o Ruam : makuloeritematosus, konfluens
o Dimulai dr belakang telinga🡪 badan, lengan dan
tungkai (dlm 3 hari: ruam tersebar ke seluruh
tubuh)
o Panas tetap tinggi selama 2-3 hari sesudah timbul
ruam.
∙ Stadium Konvalesens
o Panas mulai turun.
o Ruam meninggalkan bekas hiperpigmentasi yg
dapat bertahan sampai 7-14 hari.
Diagnosis
▪ Anamnesis dan pemeriksaan fisik sesuai dengan stadium penyakit
▪ Tanda utama 3C, Koplik’s spot, ruam macula eritomatosus dengan penyebaran yang khas yang
timbul pada saat panas sedang mencapai puncaknya (panas tinggi) dan panas tetap ada selama
2-3 hari sesudah timbul ruam.
▪ Pemeriksaan Penunjang
∙ Leukopenia dengan limfopenia
∙ Di negara maju diagnosis serologis dilakukan pemeriksaan IgM antibody, terdeteksi
sesudah 3 hari timbul ruam. Deteksi antigen dapat dilakukan dengan Teknik :
o PCR (mendeteksi 5 hari sbelum gejala muncul)
o Fluorescent antibody staining dari apus nasofaring
Komplikasi
Epidemiologi
▪ Paling sering mengenai anak dan deawasa muda, 5-7 tahun (6-9 tahun).
▪ Sebelum ada vaksin, angka kejadian tertinggi terdapat pada anak usia 5-14 tahun.
Manifestasi Klinis
▪ Penularan : sejak akhir masa inkubasi sampai 5 hari setelah timbulnya ruam.
∙ Masa prodromal antara 1-5 hari ditandai dengan : demam subfebris, malaise, artralgia, gang.
saluran cerna, anorexia, coryza, conjunctivitis ringan, cough, nyeri tenggorokan, dan
limfadenopati.
∙ Terdapat limfadenopati generalisata tapi lebih sering pada nodus limfatikus suboksipital.
∙ Gejala cepat menurun setelah hari pertama timbulnya ruam.
∙ Demam berkisar 38-38,7 C. biasanya timbul dan menghilang bersamaan dengan ruam kulit.
∙ Ruam : maculopapular, eritematosa, tetapi dapat pula scarlatiform, morbilliform atau makula.
∙ Pertama kali ruam tampak di muka dan menyebar ke bawah dengan cept (leher, badan, dan
ekstremitas).
Rubella Kongenital
▪ Infeksi rubella pada ibu hamil dapat menimbulkan infeksi pada janin dengan kelainan teratogenesis yang
bergantung dari umur kehamilan.
▪ Pada waktu mengalami infeksi rubella sebagian ibu hamil (50%) tidak menunjukkan gejala atau tanda
klinis. Meskipun demikian virus dapat menimbulkan infeksi pada plasenta dan diteruskan ke janin, yang
mana virus itu menyerang banyak organ dan jaringan.
▪ Rubella pada ibu dapat menimbulkan berbagai kemungkinan di janinnya, yaitu:
▪ non-infeksi,
▪ infeksi tanpa kelainan apapun,
▪ infeksi dengan kelainan kongenital,
▪ resorpsi embrio,
▪ abortus atau
▪ kelahiran mati
Bayi yang lahir dari ibu hamil yang menderita rubella pada trimester pertama bisa terkena sindrom rubella
kongenital, yaitu :
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
∙ Titer antibody IgG ↑ sebanyak 4x antara specimen fase akut dan konvalesens
∙ IgM rubella (+)
∙ Kultur virus rubella (+) (kultur diambil dr specimen hidung, tenggorok, darah, urin, CSF
1-2 minggu sesudah timbul ruam)
Diagnosis Rubella Kongenital
▪ Pada neonatus diagnosis rubella intrauterin ditegakkan bila ditemukan 2 dari 3 tanda klinis utama:
▪ ketulian,
▪ katarak dan/atau retinopati rubella,
▪ lesi jantung kongenital, serta
▪ ada bukti virologik dan/atau serologik segera setelah lahir, atau
▪ mempunyai bukti infeksi rubella maternal selama kehamilan.
▪ Adanya antibodi IgM dan produksi antibodi terus menerus merupakan petunjuk infeksi kongenital. Pada
bayi yang terinfeksi kongenital, IgM serum spesifik rubella dapat dideteksi sejak lahir selama beberapa
bulan (Ekskresi virus paling aktif 1-3 bulan sejak lahir)
Komplikasi
• Artritis
• Purpura
• Ensefalitis
Tata Laksana
∙ Terapi Suportif
∙ Simptomatik: Analgetic
ROSEOLA INFANTUM/SIXTH
DISEASE/EKSANTEMA
SUBITUM/
PSEUDORUBELLA/ROSE
RASH ON INFANT
Etiologic
Epidemiologi
▪Pada usia 12 bulan, sekitar 60% sampai 90% anak memiliki antibodi terhadap
HHV-6, dan pada dasarnya semua anak menjadi seropositif pada usia 2 sampai
3 tahun.
▪Virus ini kemungkinan besar didapat dari orang dewasa tanpa gejala dan
mungkin bertanggung jawab atas 20% kunjungan ke unit gawat darurat untuk
anak usia 6 hingga 18 bulan.
Manifestasi Klinis
Masa Inkubasi : Sulit ditentukan karena kontak tidak diketahi (literatur lain : +- 10 hari)
Transmisi : Droplet
∙ Demam tinggi mendadak mencapai 40-40,6 C, anak tampak irritable, anorexia, biasanya terdapat
diare, coryza, cough, conjunctivitis.
∙ Demam menetap selama 3-5 hari dan menurun secara mendadak ke suhu normal disertai
timbulnya ruam.
∙ Ruam : maculopapular, merah muda, diskret, jarang koalesen sehingga mirip dengan lesi rubella.
∙ Pertama kali di punggung dan menyebar ke leher, ekstremitas atas muka, dan ekstremitas
bawah.
∙ Lama timbul erupsi 1-2 hari, kadang dapat hilang dalam beberapa jam. Ruam hilang tidak
menimbulkan bekas berupa pigmentasi atau deskuamasi.
Diagnosis
∙ Temuan lab tidak spesifik dan tidak
membantu diagnosis
∙ PCR pada saliva dan kelenjar liur🡪 DNA Tata Laksana
HHV 6
∙ Suportif : bedrest, hidrasi cairan adekuat
∙ Serologi🡪 IgM
∙ Simptomatik: antipiretik
(PCT/acetaminophen)
Komplikasi
∙ Infeksi telinga
∙ Serangan demam
SCARLET
FEVER/SKARLATI
NA
Etiologi
Anamnesis
o Ruam ↑ 24-48 jam sesudah onset gejala
o Ruam : pungtata/papula, merah, pucat ketika
Bersifat akut disertai: ditekan
o Malaise o Awalnya di leher dalam🡪 dada dan ekstremitas
o Demam o Pada dahi dan pipi tampak merah dan halus,
tapi disekitar mulut sangat pucat (circumoral
o Nyeri kepala
pallor)
o Menggigil
o Ruam diakhiri dengan deskuamasi
o Muntah
o Dapat terjadi sesudah infeksi luka, luka bakar,
o Sakit menelan atau infeksi kulit karena streptokokus.
Pemeriksaan Penunjang
o Leukositosis
o Titer ASLO (ASTO) ↑
o LED ↑
o CRP dapat (+)
o Biakan apus tenggorokan : GABHS
Komplikasi Tata Laksana
∙ Abses tonsil ∙ Antibiotic
∙ Otitis media
▪ First line
∙ BP
▪ Penisilin V, 125-250 mg/kali p.o 3x1
selama 10 hari
▪ Second line
∙ Suportif
∙ Simptomatik
VARICELLA/
CHICKENPOX/CACAR
AIR DAN HERPES
ZOSTER
▪ Varisela disebabkan oleh virus Herpes varicella atau disebut juga varicella-zoster virus (VZV).
▪ Sedangkan herpes zoster atau shingles merupakan suatu reaktivitasi infeksi endogen pada
periode laten VZV, umumnya menyerang orang dewasa atau anak yang menderita defisiensi
imun.
Epidemiologi
▪ Angka kejadian di negara Indonesia belum pemah diteliti, tetapi di Amerika dikatakan kira-kira
3,1-3,5 juta kasus dilaporkan tiap tahun.
▪ Varisela dapat menyerang semua golongan umur termasuk neonatus, 90% kasus berumur 10
tahun dan terbanyak umur 5-9 tahun.
▪ Seumur hidup 1 seseorang hanya satu kali menderita varisela. Serangan kedua mungkin berupa
penyebaran ke kulit pada herpes zoster.
Manifestasi Klinis dan Diagnosis Pemeriksaan Fisik
Anamnesis Ruam
∙ Riwayat terpajan dari lingkungan rumah, sekolah, atau tempat ∙ Berupa vesikel (superficial, dinding tipis, spt tetesan air)
penitipan anak
∙ Pada anak sehat, lesi sekitar 250-500 (10-1.500)
∙ Diawali demam subfebris 1-2 hari sebelum timbul ruam, disertai :
Malaise, nyeri kepala, anorexia, nyeri tenggorokan dan batuk ∙ Macula eritematosa (awal)🡪papula-pustula krusta
∙ Ruam muncul dari kepala, wajah, leher, kemudian keseluruh tubuh ∙ Beberapa lesi dapat muncul di orofaring & mata
dan terasa gatal
∙ Lesi baru terus muncul sampai 3-5 hari.
∙ Faktor Resiko : neonates, pasien keganasan, dan status
∙ Hari ke 6 (2-12 hari): lesi mjd krusta
imunokompromais
∙ Hari ke 16 (7-34 hari) : sembuh sempurna
∙ Pada herpes zoster : nyeri terlokalisasi, hiperestesia, pruritus, demam
tidak begitu tinggi. Ruam dapat ringan, dengan lesi baru muncul ∙ Herpes zoster bermanifestasi sebagai lesi vesicular berkelompok
hingga beberapa hari, gejala neuritis akut minimal dan resolusi dalam 1 atau 2 dermatom yang berdekatan
komplet terjadi dalam 1-2 minggu.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan lab tidak begitu penting karena diagnosis dapat dilakukan secara klinis.
Bila pasien demam tinggi dengan gejala gangguan pernafasan, pemeriksaan foto rontgen toraks dilakukan
untuk mengetahui pneumonia.
Rontgen thorax 🡪 tampak normal atau menunjukkan infiltrate nodular difus bilateral.
Komplikasi
o Orang tua tahu tanda bahaya: ruam yg hebat & nyeri, ▪ Acetaminophen 10-15 mg/kg p.o tiap 4-6 jam (maks 60
x minum, tanda dehidrasi, kelemahan tungkai, mg/kg/hari)
kesadaran ↓, nyeri kepala hebat, kaku kuduk, muntah, o Mengurangi gatal
sesak nafas, demam >4 hari atau ↑ Kembali
▪ Difenhidramin 5 mg/kg/hari p.o terbagi atas 3-4 (maks 300
mg/hari)
▪ Bedak kocok kelamin + mentol
KAWASAKI
DISEASE
▪ Kawasaki disease adalah vasculitis dengan etiologic yang tidak diketahui yang ditandai
dengan keterlibatan multisistem dan peradangan arteri berukuran kecil hingga sedang yang
mengakibatkan pembentukan aneurisma.
Epidemiologi
▪ Paling sering terjadi pada anak < 5 tahun, dengan puncak antara 2-3 tahun, dan jarang terjadi
pada anak di atas 7 tahun.
▪ Insidensi di AS terdapat sekitar 6 per 10.000 anak yang lebih muda dari usia 5 tahun.
Manifestasi Klinis o Abnormalitas cardiovascular melibatkan
pericardium, miokardium dan endocardium, serta
katub jantung dan arteri coroner. Gejala klinis
Fase Akut (10 hari pertama) meliputi :
▪ Demam tinggi tiba-tiba (>40 C), timbulnya o Takikardi
demam diikuti: o Gallop
o Conjunctivitis o Disfungsi ventrikel kiri dengan kardiomegali
(miokarditis)
o Bibir kering, pecah-pecah dan berdarah o Efusi pericardium
o Strawberry tongue o Regurgitasi mitral
o Limfadenopati cervical (>1,5 cm) o Foto rontgen thorax menunjukkan
kardiomegali
o Bengkak tangan dan kaki o EKG melihat aneurisma arteri coroner
o Ruam, yang bervariasi dan dapat menonjol dan disfungsi jantung yang lain.
terutama di daerah selangkangan dan dada
o Abnormalitas arteri coroner terlihat pada akhir
o Abdominal pain dan hydrops gallbladder, CSF minggu pertama sampai kedua.
pleocytosis, sterile pyuria, dan arthritis dapat
terjadi.
o Pemeriksaan Lab:
o Leukosit shift to the left dan anemia
o Penigkatan kadar CRP dan LED
o Trombosit (>450.000/mm3) terjadi
setelah 7 hari, terkadang mencapai
600.000-1.000.000/mm3 pada fase
subakut.
o Pyuria
o Peningkatan enzim fungsi hati,
peningkatan serum troponin
o Abnormalitas lipid: penurunan HDL,
total kolesterol normal, trigliserida
cenderung meningkat.
Manifestasi Klinis Manifestasi Klinis
Fase Subakut (11-25 hari setelah awitan) Fase Convalescent (minggu ke 6-8)
o Penurunan demam secara bertahap o Dimulai dengan menghilangnya gejala klinis
o Ruam dan limfadenopati menghilang o Masih terdapat peningkatan LED dan
trombosit kembali normal
o Deskuamasi kulit, khususnya jari tangan dan
kaki o Beau lines pada kuku mungkin muncul pada
o Trombositosis fase ini.
Kriteria Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
- Kultur darah:
o Fase akut : darah putih, CRP, dan LED dapat sangat meningkat, jumlah trombosit rendah
atau normal
o Fase subakut : jumlah trombosit meningkat
- Kultur urin
- Rontgen dada
- EKG
Tata Laksana
- Intravenous Immunoglobulin (IVIG), dosis tunggal (2g/kg selama 12 jam) : menghasilkan penurunan
suhu yang cepat dan resolusi penyakit klinis pada Sebagian besar pasien, dan yang lebih penting,
mengurangi kejadian aneurisma arteri coroner.
- Aspirin awalnya diberikan dalam dosis antiinflamasi (80-100mg/kg/hari dibagi setiap 6 jam) pada fase
akut
- Setelah demam mereda, aspirin dikurangi menjadi dosis antitrombotik (3-5 mg/kg/hari sebagai dosis
tunggal) dan diberikan melalui fase akut dan convalescent, biasanya selama 6-8 minggu, sampai
ekoardiografi lanjutan tidak ada resolusi aneurisma arteri coroner.
Komplikasi
Prognosis
IVIG mengurangi prevalensi penyakit arteri coroner dari 20% menjadi 25% pada anak yang
diobati dengan aspirin saja, menjadi 2% sampai 4% pada anak yang diobati dengan IVIG dan
aspirin. Selain resiko aneurisma arteri coroner persisten, KD memiliki prognosis yang sangat
baik.
HAND FOOT
MOUTH
DISEASE
(HFMD)
Etiologi
▪ Coxackievirus A 16
▪ Transmisi : Droplet
Manifestasi Klinis
Terapi
▪ Simtomatis
FIFTH DISEASE/
ERITEMA
INFEKSIOSUM
Etiologic
Komplikasi
Terapi
▪ Simtomatis
DAFTAR PUSTAKA
▪ Buku Ajar Infeksi dan Penyakit Tropis Ed 2 IDAI
▪ Buku Panter Ed 6
▪ Rahayu, T.2002. “Gambaran Klinis Penyakit Eksantema Akut pada Anak.” Sari Pediatri, Vol. 4, No.
3:104—13