0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan56 halaman

Diagnosa dan Penanganan Demam Ruam

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan56 halaman

Diagnosa dan Penanganan Demam Ruam

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DEMAM RUAM

Presentan : Novita Arya Cahyani-12100121623


Preceptor
Hani Hilda K, dr., Sp.A
Demam

Demam merupakan suhu diatas 100,4 oF (38oC). Demam merupakan respon normal
terhadap berbagai kondisi, yang paling umum adalah infeksi.

Ruam

Ruam merupakan perubahan kulit manusia yang mempengaruhi warna, penampilan,


atau tekstur. Ruam dapat terlokalisasi di satu bagian tubuh, atau mempengaruhi
semua kulit
LESION DESCRIPTION PATHOGEN OR DISEASE
1) Macular or - Macula : red/pink discrete Virus : Measles, Rubella, Roseola,
Maculopapular flat areas, pucat ketika adenovirus, erythema infectiosum,
Rash ditekan, D<1cm Epstein-Barr Virus, echoviruses, HBV, HIV
- Papules : solid, raised
Bakteri : scarlet fever, erythema
lesions, pucat ketika ditekan,
marginatum, erysipelas, arcanobacterium

DIFFEREN
D <1cm
haemolyticum, secondary syphilis,
leptospirosis, pseudomonas aeruginosa,

TIAL
meningococcal infection, salmonella typhi,
lyme disease, mycoplasma pneumoniae

DIAGNOSI
Rickettsiae : rocky mountain spotted fever,
typhus, ehrlichiosis

S OF
Other : Kawasaki disease, rheumatoid
arthritis, drug reaction
2) Diffuse Thickened, scaly skin on palms Bakteri : scarlet fever, staphylococcal
Erythroderma and soles scalded skin syndrome
Toxic shock syndrome
FEVER
Fungi : candida albicans AND RASH
Other : Kawasaki disease
3) Urticarial Rash - Swelling of the lesions Virus : EBV, HBV, HIV
Bakteri : M. pneumoniae, Group A
streptococcus
Other : Drug reaction, serum sickness
LESION DESCRIPTION PATHOGEN OR DISEASE
4) Vesicular, - Vesicular : raise lesions, D <0,5 Virus : Herpes simplex virus, Varcella-zoster
Bullous, cm, contain clear fluid virus, coxsackievirus
Pustular - Pustular bullous : raised
Bakteri : staphylococcal scalded skin syndrome,
lesions, D >0,5 cm, contain
Staphylococcal bullous impetigo, Group A
clear/purulent fluid

DIFFERE
streptococcal crusted impetigo
Rickettsiae : Rickettsialpox

NTIAL
Other : Toxic epidermal necrolysis, erythema
multiforme
5) Ptechial- - Red/purple spot yang tidak Virus : adenovirus, Atypical measles, Congenital
Purpuric menghilang ketika ditekan rubella, Congenital cytomegalovirus, Enterovirus,
Papular-purpuric gloves and socks, HIV,
Hemorrhagic fever viruses
DIAGNOS
Bakteri : Sepsis, Infective endocarditis, Ecthyma
gangrenosum, Vibrio vulnificus IS OF
Rickettsiae : Rocky Mountain, spotted fever,
Epidemic typhus, Ehrlichiosis FEVER
AND
Fungi : Necrotic eschar
Other : Vasculitis, Thrombocytopenia, HSP,

RASH
Malaria
6) Erythema Tender red nodules, due to exudation Virus : EBV, HBV
Nodosum of blood and serum
Bakteri : Group A streptococcus, Mycobacterium
tuberculosis, Yersinia, Cat-scratch disease
Fungi : Coccidioidomycosis, Histoplasmosis
Other : sarcoidosis, Inflammatory bowel disease,
Estrogen-containing oral contraceptives, SLE,
Behcet disease
CAMPAK/MEASLES/
RUBEOLA/MORBILI Epidemiologi

Etiologi ▪ Terdapat diseluruh dunia, merupakan masalah


Kesehatan di negara berkembang

▪Morbilivirus merupakan salah ▪ Di Induonesia menduduki tempat ke 5 dalam


urutan 10 macam penyakit utama pada bayi
satu virus RNA dari famili dan anak usia 1-4 tahun.
paramyxooviridae
▪ Diduga berhubungan dengan cakupan
imunisasi yang menurun.
▪Transmisi : Droplet atau
airborne ▪ Manusia merupakan satu-satunya host
Manifestasi Klinis
▪ Masa Inkubasi : 10-12 hari

▪ Penularan : 2 hari sebelum gejala prodromal sampai 4 hari timbulnya erupsi

▪ Tiga Stadium : prodromal-erupsi-konvalesens

∙ Masa Prodromal
o 3-5 hari biasanya ringan, tapi pada akhir stadium erupsi dapat meningkat mencapai 40 C
o 3C : coryza, cough, conjunctivitis
o Koplik spot : patognomonis, timbul 2 hari sebelum dan 2 hari sesudah stadium erupsi,
berupa lesi punctata putih di daerah mukosa buccal, tersering di daerah molar 2 bawah
∙ Stadium Erupsi
o Pada akhir stadium prodromal : suhu tubuh tinggi,
saat panas mencapai puncaknya🡪 timbul ruam
o Ruam : makuloeritematosus, konfluens
o Dimulai dr belakang telinga🡪 badan, lengan dan
tungkai (dlm 3 hari: ruam tersebar ke seluruh
tubuh)
o Panas tetap tinggi selama 2-3 hari sesudah timbul
ruam.

∙ Stadium Konvalesens
o Panas mulai turun.
o Ruam meninggalkan bekas hiperpigmentasi yg
dapat bertahan sampai 7-14 hari.
Diagnosis
▪ Anamnesis dan pemeriksaan fisik sesuai dengan stadium penyakit

▪ Tanda utama 3C, Koplik’s spot, ruam macula eritomatosus dengan penyebaran yang khas yang
timbul pada saat panas sedang mencapai puncaknya (panas tinggi) dan panas tetap ada selama
2-3 hari sesudah timbul ruam.
▪ Pemeriksaan Penunjang
∙ Leukopenia dengan limfopenia
∙ Di negara maju diagnosis serologis dilakukan pemeriksaan IgM antibody, terdeteksi
sesudah 3 hari timbul ruam. Deteksi antigen dapat dilakukan dengan Teknik :
o PCR (mendeteksi 5 hari sbelum gejala muncul)
o Fluorescent antibody staining dari apus nasofaring
Komplikasi

∙ Otitis media (10-15%)


∙ Pneumonia interstitialis (50-70% disertai dengan kelainan radiologis)
∙ Miokarditis dan pericarditis
∙ Ensefalitis
∙ Subacute sclerosis panencephalitis (SSPE)
∙ Ulkus kornea : terutama pada defisiensi vitamin A
Tata Laksana Indikasi Rawat:
Terapi Suportif ∙ Hiperpireksia (suhu >39 C)
∙ Pemberian cukup cairan ∙ Dehidrasi
∙ Kalori & jenis makanan disesuaikan dg
tingkat kesadaran dan komplikasi
∙ Kejang
∙ Suplemen nutrisi ∙ Asupan oral sulit
∙ Antibiotic (bila tdp infeksi sekunder) ∙ Tdp komplikasi spt pneumonia
∙ Antikonvulsan bila kejang
∙ Vit. A 100.000 IU bila disertai malnutrisi,
dilanjutkan 1.500 IU/hari
RUBELA/GERMAN
MAISLES
Etiologi

▪ Virus Rubela masuk famili Togaviridae, genus Rubivirus

▪ Transmisi : Droplet dan melalui plasenta pada infeksi kongenital

Epidemiologi

▪ Paling sering mengenai anak dan deawasa muda, 5-7 tahun (6-9 tahun).

▪ Sebelum ada vaksin, angka kejadian tertinggi terdapat pada anak usia 5-14 tahun.
Manifestasi Klinis

▪ Masa Inkubasi : 14-21 hari

▪ Penularan : sejak akhir masa inkubasi sampai 5 hari setelah timbulnya ruam.

∙ Masa prodromal antara 1-5 hari ditandai dengan : demam subfebris, malaise, artralgia, gang.
saluran cerna, anorexia, coryza, conjunctivitis ringan, cough, nyeri tenggorokan, dan
limfadenopati.
∙ Terdapat limfadenopati generalisata tapi lebih sering pada nodus limfatikus suboksipital.
∙ Gejala cepat menurun setelah hari pertama timbulnya ruam.
∙ Demam berkisar 38-38,7 C. biasanya timbul dan menghilang bersamaan dengan ruam kulit.
∙ Ruam : maculopapular, eritematosa, tetapi dapat pula scarlatiform, morbilliform atau makula.
∙ Pertama kali ruam tampak di muka dan menyebar ke bawah dengan cept (leher, badan, dan
ekstremitas).
Rubella Kongenital

▪ Infeksi rubella pada ibu hamil dapat menimbulkan infeksi pada janin dengan kelainan teratogenesis yang
bergantung dari umur kehamilan.
▪ Pada waktu mengalami infeksi rubella sebagian ibu hamil (50%) tidak menunjukkan gejala atau tanda
klinis. Meskipun demikian virus dapat menimbulkan infeksi pada plasenta dan diteruskan ke janin, yang
mana virus itu menyerang banyak organ dan jaringan.
▪ Rubella pada ibu dapat menimbulkan berbagai kemungkinan di janinnya, yaitu:
▪ non-infeksi,
▪ infeksi tanpa kelainan apapun,
▪ infeksi dengan kelainan kongenital,
▪ resorpsi embrio,
▪ abortus atau
▪ kelahiran mati
Bayi yang lahir dari ibu hamil yang menderita rubella pada trimester pertama bisa terkena sindrom rubella
kongenital, yaitu :

- Kelainan pendengaran (60-70%)


Tuli sensorineural
- Kelainan jantung (10-20%)
Stenosis pulmonal, PDA, VSD
- Kelainan mata (10-25%)
Retinopati, katarak, mikroftalmia, glaucoma kongenital
- Kelainan sistem saraf pusat (10-25%)
Retardasi mental, mikrosefal, meningoensefalitis
- Lain lain
Trombositopenia, hepatosplenomegaly, radioluscent bone disease, purpura karakteristik (blueberry muffin
appearance)
Diagnosis
Anamnesis

▪ Terdapat keluhan demam, ruam, dan pembesaran kelenjar

Pemeriksaan Fisik

▪ Demam, konjunctivitis, ruam makulopapula, limfadenopati servikal

Pemeriksaan Penunjang
∙ Titer antibody IgG ↑ sebanyak 4x antara specimen fase akut dan konvalesens
∙ IgM rubella (+)
∙ Kultur virus rubella (+) (kultur diambil dr specimen hidung, tenggorok, darah, urin, CSF
1-2 minggu sesudah timbul ruam)
Diagnosis Rubella Kongenital

▪ Pada neonatus diagnosis rubella intrauterin ditegakkan bila ditemukan 2 dari 3 tanda klinis utama:
▪ ketulian,
▪ katarak dan/atau retinopati rubella,
▪ lesi jantung kongenital, serta
▪ ada bukti virologik dan/atau serologik segera setelah lahir, atau
▪ mempunyai bukti infeksi rubella maternal selama kehamilan.

▪ Adanya antibodi IgM dan produksi antibodi terus menerus merupakan petunjuk infeksi kongenital. Pada
bayi yang terinfeksi kongenital, IgM serum spesifik rubella dapat dideteksi sejak lahir selama beberapa
bulan (Ekskresi virus paling aktif 1-3 bulan sejak lahir)
Komplikasi
• Artritis
• Purpura
• Ensefalitis

Tata Laksana
∙ Terapi Suportif
∙ Simptomatik: Analgetic
ROSEOLA INFANTUM/SIXTH
DISEASE/EKSANTEMA
SUBITUM/
PSEUDORUBELLA/ROSE
RASH ON INFANT
Etiologic

▪Human herpes virus 6 (HHV-6) dan HHV-7

Epidemiologi

▪Pada usia 12 bulan, sekitar 60% sampai 90% anak memiliki antibodi terhadap
HHV-6, dan pada dasarnya semua anak menjadi seropositif pada usia 2 sampai
3 tahun.

▪Virus ini kemungkinan besar didapat dari orang dewasa tanpa gejala dan
mungkin bertanggung jawab atas 20% kunjungan ke unit gawat darurat untuk
anak usia 6 hingga 18 bulan.
Manifestasi Klinis
Masa Inkubasi : Sulit ditentukan karena kontak tidak diketahi (literatur lain : +- 10 hari)

Transmisi : Droplet

∙ Demam tinggi mendadak mencapai 40-40,6 C, anak tampak irritable, anorexia, biasanya terdapat
diare, coryza, cough, conjunctivitis.
∙ Demam menetap selama 3-5 hari dan menurun secara mendadak ke suhu normal disertai
timbulnya ruam.
∙ Ruam : maculopapular, merah muda, diskret, jarang koalesen sehingga mirip dengan lesi rubella.
∙ Pertama kali di punggung dan menyebar ke leher, ekstremitas atas muka, dan ekstremitas
bawah.
∙ Lama timbul erupsi 1-2 hari, kadang dapat hilang dalam beberapa jam. Ruam hilang tidak
menimbulkan bekas berupa pigmentasi atau deskuamasi.
Diagnosis
∙ Temuan lab tidak spesifik dan tidak
membantu diagnosis
∙ PCR pada saliva dan kelenjar liur🡪 DNA Tata Laksana
HHV 6
∙ Suportif : bedrest, hidrasi cairan adekuat
∙ Serologi🡪 IgM
∙ Simptomatik: antipiretik
(PCT/acetaminophen)

Komplikasi
∙ Infeksi telinga
∙ Serangan demam
SCARLET
FEVER/SKARLATI
NA
Etiologi

▪Streptococcus beta haemolyticus group A


Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
▪ Masa Inkubasi : 1-7 hari (rata-rata 3 hari) o Tonsilofaringitis berat, terdapat eksudat putih
keabu-abuan
▪ Transmisi : Droplet
o White strawberry tongue (awal)🡪 beberapa
▪ Focus infeksi : faring dan tonsil, jarang pada luka hari kemudian berubah red strawberry
operasi/lesi kulit tongue 🡪 patognomonik

Anamnesis
o Ruam ↑ 24-48 jam sesudah onset gejala
o Ruam : pungtata/papula, merah, pucat ketika
Bersifat akut disertai: ditekan
o Malaise o Awalnya di leher dalam🡪 dada dan ekstremitas
o Demam o Pada dahi dan pipi tampak merah dan halus,
tapi disekitar mulut sangat pucat (circumoral
o Nyeri kepala
pallor)
o Menggigil
o Ruam diakhiri dengan deskuamasi
o Muntah
o Dapat terjadi sesudah infeksi luka, luka bakar,
o Sakit menelan atau infeksi kulit karena streptokokus.
Pemeriksaan Penunjang
o Leukositosis
o Titer ASLO (ASTO) ↑
o LED ↑
o CRP dapat (+)
o Biakan apus tenggorokan : GABHS
Komplikasi Tata Laksana
∙ Abses tonsil ∙ Antibiotic
∙ Otitis media
▪ First line
∙ BP
▪ Penisilin V, 125-250 mg/kali p.o 3x1
selama 10 hari
▪ Second line

▪ Eritromisin 20-40 mg/kg/hari p.o. ~10


hari

∙ Suportif
∙ Simptomatik
VARICELLA/
CHICKENPOX/CACAR
AIR DAN HERPES
ZOSTER
▪ Varisela disebabkan oleh virus Herpes varicella atau disebut juga varicella-zoster virus (VZV).

▪ Sedangkan herpes zoster atau shingles merupakan suatu reaktivitasi infeksi endogen pada
periode laten VZV, umumnya menyerang orang dewasa atau anak yang menderita defisiensi
imun.

Epidemiologi

▪ Angka kejadian di negara Indonesia belum pemah diteliti, tetapi di Amerika dikatakan kira-kira
3,1-3,5 juta kasus dilaporkan tiap tahun.

▪ Varisela dapat menyerang semua golongan umur termasuk neonatus, 90% kasus berumur 10
tahun dan terbanyak umur 5-9 tahun.

▪ Seumur hidup 1 seseorang hanya satu kali menderita varisela. Serangan kedua mungkin berupa
penyebaran ke kulit pada herpes zoster.
Manifestasi Klinis dan Diagnosis Pemeriksaan Fisik

▪ Masa Inkubasi : 14-16 hari (10-21 hari) Demam

▪ Transmisi : Varisela sangat mudah menular terutama melalui kontak ∙ Subfebris


langsung, droplet atau aerosol dari lesi vesikuler di kulit ataupun
melalui sekret saluran nafas, dan jarang melalui kontak tidak langsung. ∙ Umumnya sembuh dalam 4 hari

∙ Bila demam berkepanjangan, kemungkinan terjadi komplikasi atau


▪ Penularan : 2 hari sebelum dan 5 hari sesudah erupsi. imunodefisiensi

Anamnesis Ruam

∙ Riwayat terpajan dari lingkungan rumah, sekolah, atau tempat ∙ Berupa vesikel (superficial, dinding tipis, spt tetesan air)
penitipan anak
∙ Pada anak sehat, lesi sekitar 250-500 (10-1.500)
∙ Diawali demam subfebris 1-2 hari sebelum timbul ruam, disertai :
Malaise, nyeri kepala, anorexia, nyeri tenggorokan dan batuk ∙ Macula eritematosa (awal)🡪papula-pustula krusta

∙ Ruam muncul dari kepala, wajah, leher, kemudian keseluruh tubuh ∙ Beberapa lesi dapat muncul di orofaring & mata
dan terasa gatal
∙ Lesi baru terus muncul sampai 3-5 hari.
∙ Faktor Resiko : neonates, pasien keganasan, dan status
∙ Hari ke 6 (2-12 hari): lesi mjd krusta
imunokompromais
∙ Hari ke 16 (7-34 hari) : sembuh sempurna
∙ Pada herpes zoster : nyeri terlokalisasi, hiperestesia, pruritus, demam
tidak begitu tinggi. Ruam dapat ringan, dengan lesi baru muncul ∙ Herpes zoster bermanifestasi sebagai lesi vesicular berkelompok
hingga beberapa hari, gejala neuritis akut minimal dan resolusi dalam 1 atau 2 dermatom yang berdekatan
komplet terjadi dalam 1-2 minggu.
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan lab tidak begitu penting karena diagnosis dapat dilakukan secara klinis.

∙ Leukopenia (pd hari ke 3) diikuti leukositosis


∙ Staining histokemikal mll kerokan lesi kulit
∙ Tzank smear
∙ Serologi : indirect fluorescent antibody (IFA), fluorescent antibody to membrane antigen (FAMA), dan
radioimmunoassay (RIA)
∙ ELISA

Bila pasien demam tinggi dengan gejala gangguan pernafasan, pemeriksaan foto rontgen toraks dilakukan
untuk mengetahui pneumonia.

Rontgen thorax 🡪 tampak normal atau menunjukkan infiltrate nodular difus bilateral.
Komplikasi

∙ Infeksi sekunder o/ bakteri (Stafilokokus dan Streptokokus) yang menimbulkan impetigo,


furunkel, selulitis, erysipelas, dan jarang gangrene.
∙ Ensefalitis
∙ Pneumonia (90%) terjadi pada orang dewasa dan jarang terjadi pada anak.
Khusus
Tata Laksana o Antiviral

Umum ▪ Asiklovir 80 mg/kg/hari terbagi atas 4-5 ~5 hari (maks


3.200 mg/hari)
o Mandi untuk mengurangi gatal dan mencegah infeksi
Pada kasus berat (ensefalitis, pneumonia, pasien
sekunder imunokompromai)
o Hindari menggaruk dg memotong kuku/pakai sarung ▪ Asiklovir 1.500 mg/m2/hr IV terbagi tiap 8 jam selama 7-10
tangan saat tidur hari
o Banyak minum o Antipiretik

o Orang tua tahu tanda bahaya: ruam yg hebat & nyeri, ▪ Acetaminophen 10-15 mg/kg p.o tiap 4-6 jam (maks 60
x minum, tanda dehidrasi, kelemahan tungkai, mg/kg/hari)
kesadaran ↓, nyeri kepala hebat, kaku kuduk, muntah, o Mengurangi gatal
sesak nafas, demam >4 hari atau ↑ Kembali
▪ Difenhidramin 5 mg/kg/hari p.o terbagi atas 3-4 (maks 300
mg/hari)
▪ Bedak kocok kelamin + mentol
KAWASAKI
DISEASE
▪ Kawasaki disease adalah vasculitis dengan etiologic yang tidak diketahui yang ditandai
dengan keterlibatan multisistem dan peradangan arteri berukuran kecil hingga sedang yang
mengakibatkan pembentukan aneurisma.

Epidemiologi

▪ Paling sering terjadi pada anak < 5 tahun, dengan puncak antara 2-3 tahun, dan jarang terjadi
pada anak di atas 7 tahun.

▪ Insidensi di AS terdapat sekitar 6 per 10.000 anak yang lebih muda dari usia 5 tahun.
Manifestasi Klinis o Abnormalitas cardiovascular melibatkan
pericardium, miokardium dan endocardium, serta
katub jantung dan arteri coroner. Gejala klinis
Fase Akut (10 hari pertama) meliputi :
▪ Demam tinggi tiba-tiba (>40 C), timbulnya o Takikardi
demam diikuti: o Gallop
o Conjunctivitis o Disfungsi ventrikel kiri dengan kardiomegali
(miokarditis)
o Bibir kering, pecah-pecah dan berdarah o Efusi pericardium
o Strawberry tongue o Regurgitasi mitral
o Limfadenopati cervical (>1,5 cm) o Foto rontgen thorax menunjukkan
kardiomegali
o Bengkak tangan dan kaki o EKG melihat aneurisma arteri coroner
o Ruam, yang bervariasi dan dapat menonjol dan disfungsi jantung yang lain.
terutama di daerah selangkangan dan dada
o Abnormalitas arteri coroner terlihat pada akhir
o Abdominal pain dan hydrops gallbladder, CSF minggu pertama sampai kedua.
pleocytosis, sterile pyuria, dan arthritis dapat
terjadi.
o Pemeriksaan Lab:
o Leukosit shift to the left dan anemia
o Penigkatan kadar CRP dan LED
o Trombosit (>450.000/mm3) terjadi
setelah 7 hari, terkadang mencapai
600.000-1.000.000/mm3 pada fase
subakut.
o Pyuria
o Peningkatan enzim fungsi hati,
peningkatan serum troponin
o Abnormalitas lipid: penurunan HDL,
total kolesterol normal, trigliserida
cenderung meningkat.
Manifestasi Klinis Manifestasi Klinis

Fase Subakut (11-25 hari setelah awitan) Fase Convalescent (minggu ke 6-8)
o Penurunan demam secara bertahap o Dimulai dengan menghilangnya gejala klinis
o Ruam dan limfadenopati menghilang o Masih terdapat peningkatan LED dan
trombosit kembali normal
o Deskuamasi kulit, khususnya jari tangan dan
kaki o Beau lines pada kuku mungkin muncul pada
o Trombositosis fase ini.
Kriteria Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang

- Kultur darah:
o Fase akut : darah putih, CRP, dan LED dapat sangat meningkat, jumlah trombosit rendah
atau normal
o Fase subakut : jumlah trombosit meningkat
- Kultur urin
- Rontgen dada

- EKG
Tata Laksana
- Intravenous Immunoglobulin (IVIG), dosis tunggal (2g/kg selama 12 jam) : menghasilkan penurunan
suhu yang cepat dan resolusi penyakit klinis pada Sebagian besar pasien, dan yang lebih penting,
mengurangi kejadian aneurisma arteri coroner.
- Aspirin awalnya diberikan dalam dosis antiinflamasi (80-100mg/kg/hari dibagi setiap 6 jam) pada fase
akut
- Setelah demam mereda, aspirin dikurangi menjadi dosis antitrombotik (3-5 mg/kg/hari sebagai dosis
tunggal) dan diberikan melalui fase akut dan convalescent, biasanya selama 6-8 minggu, sampai
ekoardiografi lanjutan tidak ada resolusi aneurisma arteri coroner.
Komplikasi

Sebagian besar kasus sembuh tanpa gejala sisa.

Prognosis

IVIG mengurangi prevalensi penyakit arteri coroner dari 20% menjadi 25% pada anak yang
diobati dengan aspirin saja, menjadi 2% sampai 4% pada anak yang diobati dengan IVIG dan
aspirin. Selain resiko aneurisma arteri coroner persisten, KD memiliki prognosis yang sangat
baik.
HAND FOOT
MOUTH
DISEASE
(HFMD)
Etiologi

▪ Coxackievirus A 16

▪ Masa Inkubasi : 4-6 hari

▪ Transmisi : Droplet
Manifestasi Klinis

o Masa prodromal : Panas subfebris, malaise. Nyeri


tenggorokan, anorexia (1-2 hari sebelum ruam)
o Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan
dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta,
terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat
menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil.
o Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih
keabu-abu an, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan
kaki termasuk telapak tangan dan telapak kaki, pada
permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat
di bokong.
o Lesi menghilang tanpa bekas.
Diagnosis

▪ Isolasi virus dengan tzank smear

Terapi

▪ Simtomatis
FIFTH DISEASE/
ERITEMA
INFEKSIOSUM
Etiologic

▪ Parvovirus humanus B19

▪ Masa Inkubasi : 5-16 hari (rata-rata 8 hari)

▪ Transmisi : melalui alat rumah tangga dan droplet


Manifestasi Klinis

▪ Tidak terdapat gejala prodromal yang khas,


seringkali timbulnya ruam merupakan gejala awal
dari penyakit.

▪ Karakteristik ruam terbagi dalam 3 stadium:

- Eksantema pada pipi berupa papuleritematosa


yang menjadi pucat pada penekanan, dikelilingi
daerah pucat. Lesi kemudian meluas dan
memberikan gambaran “slappedcheek”. Kulit
pada lesi terasa hangat dan bertahan sampai 4-5
hari.
- Dimulai 1-4 hari timbulnya bercak pada wajah,
timbul macula/papula/urtika eritematosa
terutama pada ekstensor ekstremitas dan
menyebar dan ke bokong badan, lesi
berkonfluensi dan terjadi penyembuhan yang
ireguler sehingga memberikan gambaran
retikuler/anyaman.
- Pada stadium ini eksantema berlangsung selama
1-6 minggu dan ditandai dengan eksntema yang
hilang timbul.
Diagnosis

▪ Berdasarkan manifestasi klinis dan uji serologis

Komplikasi

▪ Artritis akut pada dewasa,

Terapi

▪ Simtomatis
DAFTAR PUSTAKA
▪ Buku Ajar Infeksi dan Penyakit Tropis Ed 2 IDAI

▪ Buku Panter Ed 6

▪ Nelson Essentials of Pediatrics 7th Edition

▪ Rahayu, T.2002. “Gambaran Klinis Penyakit Eksantema Akut pada Anak.” Sari Pediatri, Vol. 4, No.
3:104—13

Anda mungkin juga menyukai