BAB II.
KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN
A. Pengertian Pendidikan
B. Berbagai Pengertian Filsafat Pendidikan
C. Hubungan Filsafat dan Pendidikan
D. Manfaat Belajar Filsafat Pendidikan
E. Ruang Lingkup Kajian Filsafat Pendidikan
A. Pengertian Pendidikan
• Kneller (via Siswoyo, 1995: 5) mengatakan
pendidikan dapat dipandang dalam arti luas dan
teknis, atau dalam arti hasil dan dalam arti proses.
• Dalam arti yang luas, pendidikan menunjuk pada
suatu tindakan atau pengalaman yang mempunyai
pengaruh berhubungan dengan pertumbuhan atau
perkembangan pikiran (mind), watak (character),
atau kemampuan fisik (physical ability) individu.
• Pendidikan dalam artian ini berlangsung terus
seumur hidup.
• Dalam arti teknis, pendidikan adalah proses yang
terjadi di dalam masyarakat melalui lembaga-lembaga
pendidikan (sekolah, perguruan tinggi, atau lembaga-
lembaga lain), yang dengan sengaja
mentransformasikan warisan budayanya, yaitu
pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan-ketrampilan
dari generasi ke generasi.
• Dalam arti hasil, pendidikan adalah apa yang diperoleh
melalui belajar, baik berupa pengetahuan, nilai-nilai
maupun keterampilan- keterampilan.
• Sebagai suatu proses, pendidikan melibatkan
perbuatan belajar itu sendiri; dalam hal ini pendidikan
sama artinya dengan perbuatan mendidik seseorang
atau mendidik diri sendiri.
• Dewey (1916: 3) mengatakan bahwa
pendidikan dalam arti yang sangat luas
diartikan sebagai cara atau jalan bagi
keberlangsungan kehidupan sosial.
• Setiap orang adalah bagian dari kelompok
sosial yang terlahir dalam kondisi belum
memiliki perangkat-perangkat kehidupan
sosial seperti bahasa, keyakinan, ide-ide
ataupun norma-norma sosial.
• Gutek (1988: 4) mengatakan bahwa pendidikan
dalam pengertian yang sangat luas adalah
keseluruhan proses sosial yang membawa seseorang
ke dalam kehidupan berbudaya.
• Spesies manusia secara biologis melakukan
reproduksi sebagaimana halnya makhluk hidup
lainnya, tetapi dengan hidup dan berpartisipasi
dalam sebuah kebudayaan, manusia secara
bertahap mengalami proses ”menjadi” sebagai
penerima dan partisipan dalam sebuah kebudayaan.
• Banyak orang dan lembaga sosial yang terlibat
dalam proses akulturasi generasi muda.
• Selanjutnya, Gutek (1988: 4) mengatakan bahwa
pendidikan dalam arti yang lebih formal dan sempit
terjadi di sekolah, yaitu suatu agensi khusus yang
dibentuk untuk menanamkan keterampilan,
pengetahuan dan nilai-nilai dalam diri subjek didik.
• Di sekolah terdapat guru-guru yang dipandang ahli
dalam proses pembelajaran.
• Pendidikan informal berhubungan pula dengan
pendidikan formal atau persekolahan.
• Program pengajaran, kurikulum dan metode
mengajar harus dikaitkan dan disesuaikan dengan
ketentuan yang ada dalam masyarakat.
• Ki Hadjar Dewantara (1977: 20) berpendapat
bahwa pendidikan adalah tuntunan di dalam
hidup tumbuhnya anak-anak, yaitu menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-
anak itu agar mereka sebagai manusia dan
anggota masyarakat dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-
tingginya.
B. Berbagai Pengertian Filsafat Pendidikan
• Randal Curren (via Chambliss, 2009: 324)
mengatakan bahwa filsafat pendidikan adalah
penerapan serangkaian keyakinan-keyakinan
filsafati dalam praktik pendidikan.
• filsafat pendidikan berusaha untuk memahami
pendidikan secara lebih mendalam,
menafsirkannya dengan menggunakan konsep-
konsep umum yang dapat menjadi petunjuk atau
arah bagi tujuan-tujuan dan kebijakan pendidikan.
• filsafat pendidikan bersifat spekulatif,
preskriptif, dan analitik.
• Bersifat spekulatif artinya bahwa filsafat
membangun teori-teori tentang hakikat
manusia, masyarakat dan dunia dengan cara
menyusunnya sedemikian rupa dan
menginterpretasikan berbagai data dari
penelitian pendidikan dan penelitian ilmu-ilmu
perilaku (psikologi behavioristik).
• Filsafat bersifat preskriptif artinya filsafat pendidikan mengkhususkan
tujuan-tujuannya, yaitu bahwa pendidikan seharusnya mengikuti
tujuan-tujuan itu dan cara-cara yang umum harus digunakan untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut.
• Filsafat pendidikan bersifat analitik tatkala filsafat pendidikan
berupaya menjelaskan pernyataan-pernyataan spekulatif dan
preskriptif, menguji rasionalitas ide-ide pendidikan, baik
konsistensinya dengan ide-ide yang lain maupun cara-cara yang
berkaitan dengan adanya distorsi pemikiran. Konsep- konsep
pendidikan diuji secara kritis; demikian pula dikaji juga apakah
konsep- konsep tersebut memadai ataukah tidak ketika berhadapan
dengan fakta yang sebenarnya.
• Filsafat pendidikan berusaha menjelaskan banyak makna yang
berbeda yang berhubungan dengan berbagai istilah-istilah yang
banyak digunakan dalam lapangan pendidikan seperti ”kebebasan”,
”penyesuaian”. ”pertumbuhan”, ”pengalaman”, ”kebutuhan”, dan
”pengetahuan”.
C. Hubungan Filsafat dan Pendidikan
• Filsafat mempunyai hubungan yang erat dengan pendidikan, baik
pendidikan dalam arti teoretis maupun praktik.
• Setiap teori pendidikan selalu didasari oleh suatu sistem filsafat tertentu
yang menjadi landasannya.
• Demikian pula, semua praktik pendidikan yang diupayakan dengan
sungguh-sungguh sebenarnya dilandasi oleh suatu pemikiran filsafati
yang menjadi ideologi pendorongnya.
• Pemikiran filsafati tersebut berusaha untuk diwujudkan dalam praktik
pendidikan.
• Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Barnadib (1994: 4) bahwa
filsafat pendidikan pada dasarnya merupakan penerapan suatu analisis
filosofis terhadap lapangan pendidikan.
• Dewey (via Barnadib, 1994: 4) seorang filsuf Amerika yang sangat
terkemuka mengatakan bahwa filsafat merupakan teori umum dari
pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan.
• Barnadib (1994: 5) mengatakan bahwa
hubungan filsafat dan pendidikan dapat
dibedakan menjadi:
1) Hubungan keharusan
• Berfilsafat berarti mencari nilai-nilai ideal
(cita-cita) yang lebih baik, sedangkan
pendidikan mengaktualisasikan nilai-nilai ini
dalam kehidupan manusia. Pendidikan
bertindak mencari arah yang terbaik, dengan
berbekal teori- teori pendidikan yang
diberikan antara lain oleh pemikiran filsafat
2) Dasar pendidikan
• Filsafat mengadakan tinjauan yang luas terhadap realita
termasuk manusia, maka dibahaslah antara lain pandangan
dunia dan pandangan hidup.
• Konsep- konsep ini selanjutnya menjadi dasar atau landasan
penyusunan tujuan dan metodologi pendidikan.
• Sebaliknya, pengalaman pendidik dalam realita menjadi
masukan dan pertimbangan bagi filsafat untuk
mengembangkan pemikiran pendidikan.
• Filsafat memberi dasar-dasar dan nilai-nilai yang sifatnya das
Sollen (yang seharusnya), sedangkan praksis pendidikan
berusaha mengimplementasikan dasar-dasar tersebut, tetapi
juga memberi masukan dari realita terhadap pemikiran ideal
pendidikan dan manusia. Jadi, ada hubungan timbal balik di
antara keduanya.
D. Manfaat Belajar Filsafat Pendidikan
• Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di
lembaga pendidikan tenaga keguruan dituntut
untuk memikirkan masalah-masalah hakiki
terkait pendidikan.
• Pemikiran mahasiswa menjadi lebih terasah
terhadap persoalan-persoalan pendidikan baik
dalam lingkup mikro maupun makro.
• Hal ini menjadikan mahasiswa lebih kritis
dalam memandang persoalan pendidikan.
• Di samping itu, mahasiswa yang mempelajari dan
merenungkan masalah-masalah hakiki pendidikan
akan memperluas cakrawala berpikir mereka
sehingga dapat lebih arif dalam memahami
problem pendidikan Sebagai intelektual muda
yang kelak menjadi pendidik atau tenaga
kependidikan sudah sewajarnya bila mereka
dituntut untuk berpikir reflektif dan bukan
sekedar berpikir teknis di dalam memecahkan
problem-problem dasar kependidikan dengan
menggunakan kebebasan intelektual dan
tanggung jawab sosial yang melekat padanya.
E. Ruang Lingkup Kajian Filsafat Pendidikan
• Hal-hal yang menjadi kajian filsafat pendidikan sangat luas
cakupannya, sebagai berikut.
– Merumuskan secara tegas sifat hakiki pendidikan
– Merumuskan hakikat manusia sebagai subjek dan objek
pendidikan.
– Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama
dan kebudayaan.
– Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat
pendidikan dan teori pendidikan.
– Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat
pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan)
– Merumuskan sistem nilai dan norma atau isi moral pendidikan yang
menjadi tujuan pendidikan.