FAKULTAS HUKUM
Analisis Hukum Terhadap Perjanjian
Tidak Tertulis Dalam Pembagian
Hasil Laba Ternak Sapi Antara
Pemodal dan Peternak di Desa
Gajah Ayee Kecamatan Pidie
Hafiz Hidayatullah
NPM : 22104111014
Suhaibah, S.H.,M.H Nazaruddin, S.H.,M.H
(Pembimbing I) (Pembimbing II)
Latar Belakang
Bisnis ternak sapi potong kelas rumahan telah marak dilakukan dikalangan
masyarakat, peternak sapi kelas rumahan mampu mengembangkan
bisnisnya dengan modal dan keuntungan yang memadai. Terdapat 2
macam bentuk perjanjian usaha ternak sapi yang lazim dipakai dalam
masyarakat. Bentuk perjanjian yang lazim ada dalam masyarakat saat ini
adalah bentuk perjanjian yang terikat dalam kemitraan seuai yang diatur
dalam Undang Undang Nomor 13 Tahun 2017 Tentang Kemitraan Usaha
Peternakan, Dan Bentuk Perjanjian Tradisional. Bentuk perjanjian usaha
kemitraan adalah bentuk perjanjian tertulis antara orang atau badan usaha
dengan perusahaan yang diikat melalui kontrak atau perjanjian usaha yang
disahkan oleh Notaris atau pejabat terkait.
2
Seminar Proposal 2
Latar Belakang
Di Indonesia ada beberapa daerah yang masi menerapkan perjanjian tradisional
pembagian hasil laba ternak, salah satunya di desa Gajah Ayee Kecamatan
Pidie. Tradisi yang masi berlaku disini yaitu mawah. Mawah adalah suatu cara
seseorang berinvestasi dengan cara menyerahkan asetnya (tanah, hewan ternak
dan lain - lain) kepada orang lain untuk dikelola kemudian keuntungannya akan
dibagikan kepada kedua belah pihak sesuai dengan perjanjian yang sudah
disepakati. Tradisi mawah dilakukan dengan perjanjian tidak tertulis. Perjanjian
tidak tertulis sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat, perjanjian tersebut
sudah lama dipraktekkan oleh orang - orang terdahulu dalam membuat
kesepakatan atau perjanjian, perjanjian tidak tertulis biasanya lebih singkat dan
efektif daripada perjanjian tertulis. Meskipun sah menurut hukum perjanjian
tidak tertulis juga membawa resiko, ketidakjelasan dalam pembagian
laba dapat menyebabkan konflik antar pemodal dan peternak,
terutama jika salah pihak merasa dirugikan. Maka dari itu sangat
penting kedua belah pihak untuk menjaga komunikasi yang baik untuk
mencapai kesepakatan yang jelas
Seminar Proposal
3
3
Rumusan Masalah
Bagaimana Analisis hukum Terhadap perjanjian tidak
tertulis dalam pembagian hasil laba ternak sapi antara
pemodal dan peternak didesa gajah aye kecamatan
pidie?
Apa saja kendala hukum yang dihadapi terhadap
perjanjian tidak tertulis dalam pembagian hasil laba
ternak sapi antara pemodal dan peternak di desa gajah
aye?
Bagaimana Upaya hukum yang dapat ditawarkan untuk
meningkatkan legalitas hukum dalam perjanjian tidak
tertulis dalam pembagian hasil ternak sapi antara
pemodal dan peternak?
Tujuan Penelitian
1. Agar kita mengetahui pandangan hukum terhadap perjanjian tidak tertulis
dalam pembagian hasil laba ternak sapi antara pemodal dan peternak di desa
Gajah Ayee Kecamatan Pidie.
2. Agar kita mengetahui apa saja kendala hukum yang dihadapi terhadap
perjanjian tidak tertulis dalam pembagian hasil laba ternak sapi antara
pemodal dan peternak di desa Gajah Ayee.
3. Agar kita mengetahui Upaya hukum yang dapat ditawarkan untuk
meningkatkan legalitas hukum dalam perjanjian tidak tertulis dalam
pembagian hasil ternak sapi antara pemodal dan peternak.
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
salah satu sumber informasi dan bahan referensi di Fakultas
Hukum Universitas Jabal Ghafur serta memberikan masukan bagi
Manfaat ilmu pengetahuan, khususnya dalam hukum perjanjian tidak
tertulis.
Penelitian [Link] Praktis
praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi
yang bermanfaat bagi penulis dan berbagai pihak, seperti
akademisi dan praktisi hukum, dalam rangka upaya penegakan
hukum di Indonesia dan mewujudkan kesejahteraan serta
keadilan Negara Indonesia.
Landasan Teori
Perjanjian adalah kesepakatan kedua belah pihak atau lebih mengenai suatu hal
yang telah disepakati [Link] buku KUH Perdata III menganut sistem
terbuka, artinya para pihak boleh melakukan perjanjian dengan siapa saja, serta
syarat - syarat berlakunya dan perjanjian itu baik lisan maupun tulisan. Berikut
pengertian perjanjian menurut para ahli :
a. R. Subekti
Perjanjian menurut R. Subekti adalah peristiwa di mana satu pihak membuat
perjanjian dengan pihak lain untuk melakukan tindakan atau hal tertentu.
b. Prof. Wirjono Projodikoro
Perjanjian menurut Prof. Wirjono prodjodikoro, adalah suatu hubungan hukum,
artinya satu orang wajib melakukan suatu hal tertentu dan pihak lain berhak
menuntut kewajiban itu dalam hukum perjanjian.
c. Abdulkadir
Perjanjian menurut Abdulkadir, adalah kesepakatan antara dua orang atau lebih
untuk melakukan pengelolaan sesuatu yang bersifat materil.
7
Seminar Proposal 7
Landasan Teori
Perjanjian tidak tertulis merupakan perjanjian yang sah sebagaimana dalam
kajian hukum perdata selama dibuat tidak bertentangan dengan Pasal 1320 Kitab
Undang - Undang Hukum Perdata. Keberadaan perjanjian tidak tertulis melekat
pada prinsip kebebasan para pihak yang membentuk dan melaksanakan
perjanjian sebagaimana dalam asas kebebasan berkontrak serta didukung pula
pada asas - asas hukum perjanjian lainnya.
8
Seminar Proposal
8
Landasan Teori
Asas - asas Perjanjian
1. Asas konsensualisme
Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHPer.
Pada pasal tersebut ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian
adalah adanya kata kesepakatan antara kedua belah pihak. Asas ini merupakan
asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara
formal, melainkan cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak.
9
Seminar Proposal 9
Landasan Teori
2. Asas kebebasan berkontrak (freedom of contract)
Asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk membuat atau tidak
membuat perjanjian, mengadakan perjanjian dengan siapapun, menentukan isi
perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, serta menentukan bentuk
perjanjiannya apakah tertulis atau lisan, Keberadaan asas ini diatur dalam Pasal
1338 KUH Perdata yang berbunyi “Semua perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
10
Seminar Proposal 10
Landasan Teori
3. Asas kepastian hukum (pacta sunt servanda)
Asas yang berkaitan erat dengan akibat dari perjanjian. Asas ini mengandung arti
bahwa setiap perjanjian yang dibuat oleh kedua pihak harus ditaati kedua pihak
tersebut layaknya undang - undang. Asas pacta sunt servanda lahir dari doktrin
praetor romawi yaitu pacta conventa servabo yang memiliki arti saya
menghormati atau menghargai perjanjian, Dalam KUH Perdata asas ini diatur
dalam Pasal 1338 yang menyatakan “Semua perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Seminar Proposal11
11
Landasan Teori
4. Asas itikad baik
Asas itikad baik dalam bahasa hukumnya disebut De Goedetrow. Asas ini
berkaitan dengan pelaksanaan suatu perjanjian. Mengenai asas itikad baik ini
terdapat dalam pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata yang menentukan
“persetujuanpersetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Itikad baik
dapat dibedakan dalam pengertian subjektif dan objektif. Itikad baik dari segi
subjektif berarti kejujuran.
12
Seminar Proposal 12
Landasan Teori
5. Asas kepribadian (personality)
Asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan atau membuat
perjanjian hanya dapat untuk kepentingan perorangan saja. Hal ini berdasarkan
ketentuan Pasal 1315 yang menyatakan bahwa “Pada umumnya seseorang tidak
dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri”.
Selain itu asas ini juga diatur dalam Pasal 1340 KUH Perdata yang menyatakan
“Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya.”
Seminar Proposal 13
13
Unsur-unsur Perjanjian
Landasan Teori
a) Unsur Esensialia
Unsur Esensialia adalah unsur yang mutlak harus ada untuk terjadinya perjanjian, agar
perjanjian itu sah dan ini merupakan syarat sahnya perjanjian, sifat esensialia perjanjian
adalah sifat yang menentukan perjanjian itu tercipta (constructieve oordeel)
b) Unsur Naturalia
Unsur Naturalia adalah unsur yang lazim melekat pada perjanjian, yaitu unsur yang
tanpa diperjanjikan secara khusus dalam perjanjian secara diam-diam dengan sendirinya
dianggap ada dalam perjanjian. Unsur ini merupakan sifat bawaan (natuur) atau melekat
pada perjanjian. Misalnya penjual harus menjamin cacat - cacat tersembunyi kepada
pembeli.
c) Unsur Aksidentalia
Unsur Aksidentalia artinya unsur yang harus dimuat atau dinyatakan secara tegas di
dalam perjanjian oleh para pihak. Misalnya, jika terjadi perselisihan, para pihak telah
menentukan tempat yang di pilih.
14
14
Landasan Teori
Dasar hukum perjanjian tidak tertulis merujuk pada Pasal 1320 ayat (1)
menyatakan salah satu syarat sahnya suatu perjanjian diperlukan adanya
“sepakat mereka yang mengikatkan dirinya”, dan harus memenuhi 4 (empat)
syarat dalam menentukan perjanjian tersebut sah atau tidak sah yaitu:
1) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
3) Suatu hal tertentu
4) Suatu sebab yang halal.
Pasal 1338 ayat (1) menentukan bahwa “semua perjanjian yang dibuat secara
sah berlaku sebagai undang-undang bagi yang membuatnya”. Hukum adat
dapat juga dijadikan rujukan dari dasar hukum perjanjian tidak tertulis karena
terdapat asas - asas dan norma - norma yang terkandung didalamnya.
15
15
Metode Penelitian
1. Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pedekatan yuridis empiris.
Merupakan kajian lapangan untuk mengecek ketentuan
hukum yang berlaku dan mencari tahu apa yang terjadi
didalam kehidupan masyarakat melalui wawancara,
narasumber dan informan. Pendekatan yurdis empiris
yang bertujuan mengkaji dan menganalisis tentang
penerapan hukum perjanjian tidak tertulis dalam
pembagian laba hasil ternak, status hukum serta cara
pembagun hasil laba ternak.
2. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan dilingkungan komunitas
masyarakat desa Gajah Ayee Kecamatan Pidie.
Metode Penelitian
3. Populasi dan penentuan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok
masyarakat. Penentuan sampel dalam penelitian ini
dilakukan purposive sampling, dari keseluruhan
populasi dipilih beberapa sample yang terdiri dari
responden dan informan.
4. Metode Pengumpulan Data
a. Studi Kepustakaan
b. Lembar Angket
c. Observasi Wawancara
Metode Penelitian
5. Sumber Bahan Hukum
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer merujuk pada sumber sumber hukum yang
bersifat asli dan langsung menciptakan, mengatur dan menetapkan
norma hukum. Bahan hukum primer dalam penelitian ini terdiri dari
undang - undang tentang perjanjian tidak tertulis.
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder merujuk apada analisis, interprestasi, atau
tanggapan terhadap bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder
dalam penelitian ini meliputi buku hukum, artikel hukum, komentar
hukum, doktrin hukum, dan laporan penelitian hukum.
Metode Penelitian
Analisis Hukum
Analisis hukum mengenai kedudukan hukum terhadap perjanjian
tidak tertulis dalam pembagian hasil laba, kendala hukum yang
dihadapi dalam pembagian hasil laba serta solusi hukum yang
melibatkan pemahaman mendalam tentang undang - undang,
kebijakan, serta hukum adat. Analisis hukum ini membantu
membentuk dasar untuk merumuskan rekomendasi kebijakan,
advokasi, perubahan hukum, atau upaya untuk memperkuat
perlindungan hukum terhadap perjanjian tidak tertulis, Hal ini
dimaksudkan untuk memperleh pembahasan dan untuk
memecahkan isu yang dihadapi.
Metode Penelitian
Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan sesuai dengan jadwal dan
langkah penulisan skripsi sesuai yang direncanakan
yaitu pada bulan oktober 2024.
Jadwal waktu yang direncanakan:
a. Persiapan : 10 hari
b. Pengumpulan data : 20 hari
c. Pengolahan data : 20 hari
d. Anlisa data : 20 hari
e. Penulisan lapoan : 30 hari
= 100 hari
Terima Kasih