Refiner
Paper Production School
Refiner
1 Tujuan Training
2 Basic Theory
3 Equipment
4 Process Control
5 Troubleshooting
2
Refiner
1 Tujuan Training
2 Basic Theory
3 Equipment
4 Process Control
5 Troubleshooting
3
Tujuan Training Refiner
1. Memahami bagian-bagian alat Refiner dan masing-masing
fungsinya
2. Memahami proses refining fiber, parameter yang harus
dikontrol dan target yang harus dicapai.
3. Memahami safety ketika melakukan pekerjaan di refiner
area
4
Refiner
1 Tujuan Training
2 Basic Theory
3 Equipment
4 Process Control
5 Troubleshooting
5
Kayu Terdiri dari Fiber, Vessel, Pitch danWax
Bark / Ikatan antar fiber membuat
Fibers in Pulp kulit kayu kayu bisa tegak
Fiber
Pipe for Water
Shive Vessel
Thin Wall
Paper Breaks
No Fiber
Bonds to fiber
or lignin
Vessel Picking
Paper Breaks
D
E
A Lignin
B F
C
Sticky Pitch Wax and pitch
Paper Breaks Memproteksi kayu terhadap
serangga, bakteri, dll
Brown Spots
on Paper Surface by our
Pulp customers 6
Jenis Fiber
• Umumnya fiber yang digunakan
dalam pembuatan kertas dibedakan
dalam 2 tipe, yaitu; fiber serat
panjang dan fiber serat pendek.
7
Jenis Fiber vs Properties Kertas
8
Vesel
Vesel merupakan alat transportasi
nutrisi tumbuhan dari akar ke seluruh
bagian dari pohon.
Vesel merupakan bahan yang tidak reaktif.
Dalam proses pembuatan kertas vesel
tidak terikat oleh fiber, mereka hanya
terperangkap diantara fiber.
Karena sifatnya yang tidak reaktif, vesel
tidak menyerap tinta sama sekali
9
Vesel
Dalam proses refining,
vesel ini menjadi frakmen
yang lebih kecil.
10
Struktur Fiber
11
Struktur Fiber
• Bentuk fiber, diameter fiber
dengan panjang fiber adalah
1/100 panjangnya fiber.
• Bagian tengah fiber berbentuk
pipa yang berlobang, yang
dikenal dengan “Lumen”.
Dinding fiber terdiri dari diding
dalam dan dinding luar, yang
diantaranya terdapat lapisan
fiber yang tebal yang kaya
akan selulosa
12
Struktur Fiber
• Diding luar (Primary wall)
dengan ketebalan 0.1 – 0.3
m, jumlah gugus OH
rendah, sehingga untuk
menjalin ikatan hidrogen
rendah, dalam prosess
refining diding ini terbuag
13
Struktur Fiber
• Outer seconday wall
dengan ketebalan 0.1 – 0.2
m memiliki kemampuan
yang rendah untuk
menyerap air serta
kemampuan untuk berikatan
hidrogen rendah, sehingga
dalam proses refining
lapisan ini dipecah dan
sebagian terbuang
14
Struktur Fiber
• Secondary wall, ketebalan
1.0 – 5.0 m dan 80% dari
berat total fiber serta jumlah
gugus OH yang tinggi.
• Fibrilnya sejajar dan searah,
ini membuat fiber lebih kaku
dan kuat.
15
Struktur Fiber
• Inner secondary wall
dengan ketebalan 0.1 m
adalah pembatas secondary
wall dan lumen. Bersaman
dengan Lumen yang adalah
inti fiber yang berlobang
akan mengecil atau hilang
sama sekali dalam proses
pembuatan kertas
16
Struktur Fiber
17
Struktur Fiber
• Fiber adalah cellulose yang berikatan hydrogen
satu sama lain
• Cellulose adalah polymer
rantai panjang dari
glukosa
18
Struktur Fiber
• Cellulose tersusun secara rapi,
membuat fiber jadi kaku dan kuat.
• Selama proses pemasakan di pulp
mill, sebagian cellulosa molekul ini
menjadi pendek. Membuat fiber
menjadi tidak kuat.
19
Struktur Fiber
• Akibat terpotongnya molekul
cellulosa membuat struktur fiber
menjadi tidak rapi lagi. Sehingga
air mudah masuk.
• Untuk itu derajat pemasakan pulp (KAPA number)
harus di jaga untuk mencegah terpotongnya
molekul cellulosa ini.
• Nilai viscosity pulp akan turun dengan semakin
banyaknya molekul cellulosa ini terpotong.
20
Struktur Fiber
• Itulah sebabnya, fiber dengan viscositas yang
rendah akan membuat kekuatan kertas berkurang.
• Fiber ini akan semakin lemah kekuatannya ketika
di refining, karena struktur fiber akan semakin
rusak dan mudah terpotong.
21
Struktur Fiber
• Gugus –OH di permukaan
fiber sedikit, sehingga
ikatan hydrogen antara
fiber yang tidak di refining
juga sedikit.
• Itulah sebabnya kertas
yang dibuat dari fiber yang
tidak di refinig mudah
robek
22
Refining Theory
• Untuk meningkatkan group –OH pada permukaan
fiber, maka perlu dilakukan refining agar
permukaan fiber menjadi terfibrilasi.
• Fibril yang terbentuk membuat group –OH menjadi
lebih banyak, sehingga ikatan hydrogen antar fiber
semakin banyak, membuat kertas yang terbentuk
semakin kuat.
23
Refiner
• Refining adalah perlakukan secara mekanikal
terhadap fiber antara pisau metal yang berputar
(rotor) dan tidak berputar (stator)
• Perlakuan ini akan merubah karakteristik fiber.
• Akibat refining : fiber terpotong (cutting), fiber
terbelah (splitting) dan fiber yang tergerus
(bruising).
24
Pisau Refiner
Pisau refiner memiliki “Bar” dan “Grove”,
dimana lebar dari bar dan grove bisa saja berbeda
Design dari pisau refiner ini tergantung pada jenis
pulp yang akan direfining dan hasil akhir dari
pulp yang dirifining
REFINER FILLINGS,
GEOMETRY
Application Bar width, mm Groove width, mm
Hardwood 2.0…3.0 3.0…4.0
Mixed pulp 3.5 4.5
Softwood 4.0…5.5 5.0…7.0
Fibrillating 4.0…8.0 3.0…5.0
Cutting 2.5…4.5 7.0…9.0
GAP ANTARA PISAU REFINER
• Jarak antara stator dan rotor
disebut “gap clearance”
• Gap clearance ini akan berubah
tergantung pada seberapa besar
fiber akan digiling
• Gap clearance ini harus sedikit
lebih besar dari ketebalan fiber.
• Selama proces refining
/penggilingan, fiber melewati gap
ini.
Proses Refining
• Disc refiner dapat
dibandingkan dengan
radial centrifugal pump.
• Stock masuk dari tengah, putaran rotor pisau
refiner memberikan impak energi ke cairan stock.
• Karena gaya centrifugal, stock bergerak ke arah
diameter pisau refiner.
28
Proses Refining
• Gerakan putar rotor ini
merubah kecepatan cairan
stock disekeliling disc.
• Hal ini berakibat stock bergerak berputar di dalam
groove rotor.
• Aliran vortex yang terjadi di dalam groove
membawa fiber dan fiber membengkok di atas bar
29
Proses Refining
• Setelah fiber diatas bar,
fiber mendapat perlakukan
(digiling) dengan
bergeraknya bar terhadap
bar stator.
30
Fibrilasi
• Ketika fiber di refining,
Primary wall sedikit banyak
terkelupas, dan akan menjadi
fine. Demikian juga dengan
Outer secondary wall.
• Bagian luar Secondary wall
mulai terbuka dan benang-
benang halus dipermukan
secondary wall sebagian
terlepas dari dinding. Hal ini
disebut Outer Fibrilasi
31
Fibrilasi
• Fibrilasi ini membuat gugus -
OH semkain meningkat di
permukaan fiber.
• Ini berarti ikatan hydrogen
antara fiber semakin banyak
antara fiber dengan fiber
• Ikatan hydrogen
ini membuat
tensile strength
kertas
meningkat
32
Fibrilasi
• Bagian dalam Secondary
wall mengalami delimanasi.
Ini disebut Inner Fibrilasi
• Deliminasi fiber ini membuat
air dapat masuk ke dalam
fiber.
• Sehingga fiber mulai
mengembang (swelling),
membuat fiber menjadi
lembut dan fleksibel
33
Fibrilasi
• Outer fibrilasi ini banyak
terjadi bila gesekan fiber
dengan fiber dalam refining
proses lebih banyak
• Sedangkan outer fibrilasi
lebih banyak terjadi gesekan
antara pisau refiner dengan
fiber.
• Dalam proses refining kedua fenomena ini terjadi,
dan ini dapat dikontrol dengan proses parameter
dan pemilihan pisau refiner yang tepat.
34
Fibrilasi
• Lumen, bagian tengah fiber
akan memipih.
• Ini berarti luas permukan
kontak antara fiber akan
semakin besar.
35
Fibrilasi
• Semakin lembut dan fleksibel fiber, maka semakin
mudah fiber bengkok dan membuat semakin
mudah fiber menyesuaikan diri dalam tumpukan
fiber.
• Sehingga kontak area antara fiber semakin besar
36
Produk Samping Refiner
Fiber Bengkok
• Fiber yang awal nya lurus
dan kaku, menjadi bengkok.
• Fiber yang bengkok ini kan
berdampak turunnya tensile
strength kertas.
• Karena kontak antar fiber
jadi sedikit
37
Produk Samping Refiner
Fiber Terpotong
• Fiber menjadi pendek, ini
membuat tensile strength kertas
juga turun.
• Semakin banyak fiber terpotong
akan menyebabkan pengeluaran
air di wire section akan semakin
lambat.
• Karena banyak ruang kosong
antar fiber diisi oleh fine,
sehingga hambatan air keluar
semakin tinggi 38
Produk Samping Refiner
Fines
• Refining yang berlebihan akan
mengakibatkan fiber menjadi
semakin rusak.
• Karena fiber yang sudah
terfibilasi, fibril yang terbentuk
lepas dari fiber utama.
39
Produk Samping Refiner (Fines)
40
Produk Samping Refiner (Fines)
41
Produk Samping Refiner (Fines)
42
Produk Samping Refiner (Fines)
• Fibrilar fines ini akan mengisi ruang antara fiber.
• Sehingga hambatan air untuk keluar dari
lembaran fiber akan semakin tinggi.
43
Pengukuran Derajat Refining
• Ada dua cara pengukuran derajat
refining
• Schopper-Reigler mengukur
terhadap dranage resistence dari
stock. Semakin tinggi nilai SR
yang didapat semakin tinggi
derajat refiningnya.
• Canadian Standard Freeness (CSF)
mengukur banyaknya air yang
terdrain. Semakin tinggi nilai CSF
yang didapat semakin rendah
derajat refiningnya
Refiner
1 Tujuan Training
2 Basic Theory
3 Equipment
4 Process Control
5 Troubleshooting
45
Double Disc Refiner Equipment
46
Loading Equipment Double Disc Refiner
47
Loading Equipment Double Disc Refiner
48
How Refining
Loading Working
P1>
= P2
Sliding Head
Motor
Loading
49
Sirkulasi Refining
50
Sirkulasi Refining
51
Packing Seal Shaft Refiner
52
Floating Shaft Refiner
53
Calibration of Refining Blade gab
Sliding Head
Loading Hand
Wheel
54
Calibration of Refining Blade gab
Sliding Head
Loading Hand
Wheel
55
Calibration of Refining Blade gab
4 mm
Sliding Head
Loading Hand
Wheel
56
GEARBOX
Gearbox
Main
Motor
IN OUT
Cooling Water
57
Refiner
1 Tujuan Training
2 Basic Theory
3 Equipment
4 Process Control
5 Troubleshooting
58
No Load Power
Energi refining berasal dari motor elektrik yang ditransfer menjadi
energi mekanik yang diterima oleh fiber dalam proses refining.
Tetapi tidak semua energi diterima oleh fiber karena untuk memutar
rotor disc refiner dibutuhkan juga energi. Energi ini dikenal dengan
nama “idling power” atau “no load power” (Po).
Cara mengukur no load power ini adalah mengalirkan air melewati
pisau refiner dengan rotor berputar dan gab clearence antara pisau
refiner harus sedekat mungkin tetapi tidak bersentuhan.
59
Net Power
Jadi ”Net Power” yang tertransfer ke fiber adalah total
power yang dipakai dikurangi dengan idling power.
kW
t/h = m³/h x C (%)
Net
Netrefining
refiningpower,
power,kW
kW==Total
Totalpower,
power,kW
kW--Idling
Idlingpower,
power,kW
kW
Pe
Pe(kW)
(kW)==Pt
Pt(kW)
(kW)--Po
Po(kW)
(kW)
Amount of Refining
Jumlah Refining, kWh/ton, adalah Net refining energi
yang digunakan selama satu jam dibagi dengan jumlah
fiber yang melewati refiner selama satu jam.
kW
t/h = m³/h x C (%)
Pe
Pe(kW)
(kW)==Pt
Pt(kW)
(kW)--Po
Po(kW)
(kW)
SRE
SRE(kWh/t)
(kWh/t)==—————————————---
—————————————---
mm(t/h)
(t/h)
Refining Intensity,
Specific Edge Load
Pe
Pe(kW)
(kW)==PtPt(kW)
(kW)--Po
Po(kW)
(kW)
SEL
SEL(J/m)
(J/m)==———————————————
———————————————
Ls
Ls(km/s)
(km/s)==Cl
Cl(km)
(km)xxnn(r/s)
(r/s)
SEL adalah energi yang diterima
oleh fiber dari ujung rotor sampai
ujung stator.
Refining Theory
Cutting edge length calculation
• CEL = Zr Zst l
=18°
• 12 segments in both rotor and stator
four 315mm long bar
two 210mm long bar
l1 two 105mm long bar
Z1
• Cutting edge length
l2 Z2 Z1 96960.105 = 967.7m/rev
Z2 72720.105 = 544.3m/rev
l3 Z3 Z3 48480.105 = 241.9m/rev
30° Total 1753.9m/rev
l=105mm
Refining Intensity, Specific Edge Load,
Typical figures
• Softwood, weak 2.0…4.0 J/m
• Softwood, strong 4.0…6.0 J/m
• Hardwood, weak 0.4…0.8 J/m
• Hardwood, strong 0.8…1.5 J/m
• Recycled fiber, weak 0.4…2.0 J/m
• Recycled fiber, strong 2.0…4.0 J/m
• Post refining of mechanical pulps 0.7…1.5 J/m
• Reject refining in chemical pulp mill 0.5…2.0 J/m
Refining System,
Power Control vs SEC Control
Specific Energy,
kWh/t
Fiber Flow,
t/h
Motor Power,
kW
REFINING KUALITI
• Semakin banyak refining bar berarti
individu fiber akan mengalami impak
beberapa kali ketika melewati refiner.
• Sehingga net refining energi yang
digunakan adalah dibagi dengan
banyaknya bar yang dilewati tetapi
energi yang dipakai kecil.
• Jadi semakin banyak energi impak tapi
kecil akan menghasilkan “gentle
refining”
• Dan sebaliknya
REFINING KUALITI
• Kecepatan rotor akan
mempengaruhi bebrapa kali fiber
melewati daerah refining .
• Semakin tinggi kecepatan rotor
artinya semakin sering fiber
melewati daerah refining.
• Sehingga energi yang digunakan
setiap impak pada fiber akan
rendah.
REFINING KUALITI
• Lebar Bar, semakin lebar bar yang
digunakan maka semakin lama
waktu fiber melewati refiner gap.
• Energi akan didistribusi selama
waktu yang lebih lama tersebut,
sehingga energi impak akan lebih
rendah. Akibatnya fiber tidak
mengalami stress yang berlebihan.
REFINING KUALITI
• Stock kosistensi, semakin tinggi
kosnistensi stock yang masuk
kerefiner maka akan semakin
banyak fiber menyerap energi yang
digunakan di refiner.
• Bila konsistensi rendah maka
kemampuan fiber untuk menyerap
energi akan turun. Sehingga stress
pada individual fiber akan
meningkat. Resiko akan rusaknya
fiber akan tinggi.
Dampak refining terhadap kualiti kertas
• Semakin lama fiber mengalami refining / penggilingan
maka tesile strength akan meningkat.
• Hal ini dikarenakan semakin banyak terjadi fibrilasi
pada fiber sehingga ikatan hidrogen antara fiber
semakin banyak
Dampak refining terhadap kualiti kertas
• Daya robek (tearing resistance) pada awal refining
meningkat, tatapi semakin lama fiber di refining daya
robek semakin menurun.
• Hal ini dikarenakan semakin banyaknya didnding dalam
fiber yang terfibrilasi dan fiber yang terpotong
Dampak refining terhadap kualiti kertas
• Opacity atau daya tembus cahaya
pada kertas juga akan semakin
menurun bila waktu refining
semakin lama.
• Fiber yang pada awalnya kaku,
karena refining yang lama
menyebabkan banyak terdapa
rongga didalam fiber tersebut
dan juga fiber semakin tipis.
Dampak refining terhadap kualiti kertas
• Meningkatnya density fiber karena fiber memipih,
bengkok dan terpotong
Interlocking Refiner
Persiapan
• Sebelum refiner di operasikan, posisi
pisau refiner harus dalam posisi open
(limit switch ON)
• Drain valve refiner close (tertutup)
• Gearbox cooling water ON
• Sealing water ON
• Level feed refiner tank diatas low limit
Interlocking Refiner
Start Up
• Tutup inlet dan outlet refiner.
• Buka air flashing refiner.
• Start refiner setelah tekanan air di dalam refiner diatas
1 bar.
Interlocking Refiner
Start Up
• Start pompa stock dan sirkulasikan stock.
• Buka inlet dan outlet valve dan tutup bypass valve.
• Buka valve forward setelah pressure stabil.
Interlocking Refiner
Loading
• Total flow diatas low limit.
• Tekanan inlet refiner diatas low limit. High speed
• Konsistensi stock diatas low limit.
• Besar loading tergantung forward flow. Low speed
High speed
• Drain valve close. Pompa start
79
Refiner
1 Tujuan Training
2 Basic Theory
3 Equipment
4 Process Control
5 Troubleshooting
80
81