0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan25 halaman

Panduan Asma pada Anak: Definisi dan Tatalaksana

Diunggah oleh

Desca Nathalia Tae
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan25 halaman

Panduan Asma pada Anak: Definisi dan Tatalaksana

Diunggah oleh

Desca Nathalia Tae
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Asma pada

Anak
Pembimbing :
dr. Novi Handayani, Sp.A

Disusun Oleh :
Desca Nathalia Tae
112022023
Definisi
● Global Initiative for Asthma (GINA) tahun 2022 mendefinisikan asma sebagai penyakit
heterogen yang ditandai dengan inflamasi kronik saluran respiratori,yang dapat bermanifestasi
sebagai batuk, mengi dan sesak napas yang bervariasi dalam waktu maupun intensitas disertai
dengan lmitasi aliran udara ekspirasi.
● International Consensus on Pediatric Asthma (ICON) mendefinisikan asma sebagai gangguan
inflamasi kronik yang berhubungan dengan obstruksi saluran respiratori dan hiper-responsivitas
bronkus yang secara klinis ditandai dengan batuk, mengi dan sesak napas berulang.
● Asma merupakan penyakit saluran respiratori dengan dasar inflamasi yang mengakibatkan
obstruksi dan hiperreaktivitas saluran respiratori dengan derajat bervariasi.
Epidemiologi
● Asma termasuk dalam peringkat 20 kondisi penyakit terbanyak pada anak di dunia.
● Kejadian asma di dapatkan lebih banyak pada anak (8,4%) dari pada dewasa (7,7%).
● Prevalens asma anak semakin meningkat seperti yang dilaporkan oleh Center for disease control
and prevention (CDC), terdapat peningkatan sebesar 0,9%.
● Riset di Australia , Selandia Baru dan inggris juga menunjukan bahwa prevalens asma anak
meningkat 2x lipat pada dua dekade terakhir.
● Di Indonesia, prevalensi berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi
asma untuk seluruh kelompok usia sebesar 3,5% dengan prevalensi penderita asma pada anak usia
< 1 tahun sebesar 0,4%, anak usia 1 - 4 tahun sebesar 1,6% dan usia 5 - 14 tahun sebesar 1,9% dan
usia 15-24 tahun sebesar 2,2%.
Patogenesis
Patofisiologi
● Gangguan aliran udara napas akibat okstruksi bronkus karena kontraksi otot polos
bronkus (bronkokonstriksi).
● Selaras dengan inflamasi pada asma yang bersifat kronik dengan derajat yang
berfluktuasi, maka obstruksi dan hiperresponsivitas bronkus juga bervariasi.
● Gejala batuk, mengi dan sesak dapat tidak terjadi sama sekali dalam waktu progresif.
● Variasi intensitas gejala dari waktu ke waktu merupakan salah satu karakteristik klinis
utama asma yaitu episoditas. Bahkan dalam jangka 24jam, intensitas gejala asma dapat
bervariasi ekstrim yang disebut sebagai variabilitas.
Anamnesis
A. Gejala : batuk , mengi , sesak napas , rasa tertekan di dada atau kombinasi dari gejala-gejala tersebut.
Karakteristik gejalanya yaitu berulang (episodik), cenderung memburuk pada malam hari (nokturnal),
dipicu oleh pencetus (trigger) tertentu, dan dapat membaik dengan atau tanpa pengobatan (reversibel).
B. Pencetus (trigger) gejala misalnya infeksi virus saluran respiratori, perubahan cuaca atau suhu,
aktifitas berlebihan, pajanan alergen atau iritan.
C. Faktor Risiko :
1. penyakit alergi (asma, rinitis alergi, dermatitis atopi, urtikaria, alergi makanan) , riwayat BBLR
atau prematuritas ,
2. riwayat pajanan produk tembakau selama dalam kandungan , selama bayi dan balita ,
3. pajanan dengan hewan berbulu ,
4. riwayat penyakit infeksi saluran respiratori pada massa bayi (usia 0-12bulan)
D. Riwayat pengobatan dengan bronkodilator dan responsnya
E. Komorbid atau penyakit penyerta seperti : rinitis alergi , rinosinusitis, GERD, OSAS dan obesitas.
Pemeriksaan Fisik
Pada umumnya anak asma yang sedang tidak bergejala atau tidak dalam serangan itu tidak ditemukan kelainan pada
pemeriksaan fisik. Jika sebaliknya dapat ditemukan napas cepat , Spo2 turun, retraksi dan mengi pada auskultasi.

Pada serangan asma yang sangat berat , mengi dapat tidak terdengar (silent chest) karena obstruksi yang berat. Pada anak
dengan persisten berat dapat ditemukan bentuk dada barrel chest.

Jika ada penyakit alergi dapat ditemukan tanda dermatitis atopi,rinitis alergi atau tanda alergi seperti gambar dibawah ini
:
Diagnosis
Dipertimbangkan asma bila terdapat satu dari indikator:
• Episode batuk, mengi, kesulitan bernapas, atau sesak dada yang berulang
• Gejala yang terjadi pada malam hari atau mengganggu tidur
• Gejala yang tampaknya dipicu oleh infeksi saluran pernapasan atas, olahraga, paparan
hewan, debu, jamur, asap tembakau, aerosol, perubahan cuaca, stres, ekspresi
emosional yang kuat, atau menstruasi
Pemeriksaan Penunjang
● Spirometri  Uji fungsi paru dan reversibilitas untuk menilai variabilitas. Bila tidak
tersedia, pemeriksaan dengan peak flow meter.
● Uji inflamasi saluran respiratori: FeNO (fractional exhaled nitric oxide), eosinofil
sputum.
● Foto rotgen dada >>> bila ada kecurigaan pada diagnosis lain spt TB , bronkietaksis ,
sinusitis dll.
Klasifikasi Asma
[Link] berdasarkan kekerapan gejala (aspek kronik)

[Link] berdasarkan derajat serangan (aspek akut) :

Berdasarkan berat ringannya serangan , asma diklasifikasikan menjadi :


• Serangan ringan – sedang
• Serangan berat
• Serangan dengan ancaman henti napas.
3. Klasifikasi berdasarkan derajat kendali
● Asma terkendali adalah asma yang tidak bergejala dengan atau tanpa obat pengendali dan kualitas hidup pasien baik .
Penulisan diagnosis asma

● Penulisan diagnosis asma pada anak harus lengkap , yang menunjukan kekerapan,keadaan saat diperiksa , dan
derajat kendali.
Contoh :
 Asma intermiten , tanpa gejala , terkendali penuh
 Asma persisten sedang ,tanpa gejala , terkendali sebagian
 Asma persisten berat , serangan ringan-sedang , terkendali sebagian
Tatalaksana Farmakologi
● Obat-obat Asma ditujukan untuk mengatasi imbalans saraf otonom dan inflamasi kronik yang sewaktu-waktu
mengalami keadaan akut, yang merupakan 2 konsep dasar patogenesis asma.
● Sebagai garis besar , obat asma dibagi menjadi dua kelompok :

1. Obat Pereda (reliever)

A. Obat untuk mengatasi bronkospasme akut akibat imbalans saraf otonom yaitu golongan short acting beta agonist
(SABA) misalnya salbutamol , fenoterol dan terbutalin , dan short acting muscarinic antagonist (SAMA) misalnya
ipratropium bromid. Kombinasi SABA dan SAMA dapat dipakai pada saat serangan , jika tidak ada respons terhadap
sediaan SABA tunggal.

B. Obat relaksan otot polos saluran respiratori seperti obat golongan xatin (aminofilin) dan magnesium sulfat (MgSO4).

C. Obat untuk mengatasi inflamasi akut pada serangan asma, yaitu kortikosteroid sistemik dan kortikodteroid inhalasi
(KI) dosis tinggi yang diberikan bersamaan dengan SABA.

.
2. Obat Pengendali (controller)

A. Obat anti inflamasi : kortikosteroid inhalasi (KI) sebagai obat pengendali utama bekerja mengatasi proses inflamasi
kronik saluran respiratori agar tidak mudah terjadi gejala atau serangan.
Leukotrien receptor antagonist (LTRA) seperti montelukast juga merupakan obat anti inflamasi yang dapat dipakai
sebagai pengendali. Kortikosteroid inhalasi dapat diberikan tersendiri atau dalam bentuk kombinasi dengan obat lain.

B. Obat untuk mengatasi imbalans saraf otonom yaitu dengan mempertahankan dilatasi bronkus dengan pemberian obat
saraf otonom yang berdurasi kerja panjang. Golongan obat dalam kelompok ini adalah golongan long-acting beta
angonist (LABA) dan long-acting muscarinic antagonist (LAMA).
LABA diberikan dalam kombinasi dengan KI , sedangankan LAMA dapat dipakai sebagai obat tambahan terhadap KI
atau KI-LABA.

C. Kelompok obat-obat biologis seperti anti-IgE dan beberapa antibodi monoklonal lain seperti anti-IL-4 dan anti-IL-5
atau IL-5R. Obat – obat tersebut dipakai sebagai pengendali tambahan (adds-on), dipertimbangkan untuk pasien asma
persisten berat yang belum terkendali walaupun telah mendapatkan obat pengendali (KI atau KI-LABA) dosis tinggi.
Tatalaksana Jangka Panjang
Tatalaksana Non-Farmakologi
KOMUNIKASI – INFORMASI DAN EDUKASI (KIE)

KIE untuk anak dan keluarga :

 Mengidentifikasi , mengendalikan serta menghindari faktor-faktor yang memicu gejala asma dan pencetus
serangan
 Mengenali gejala dan perburukan gejala (serangan) dan cara penanganannya
 Mengenal tanda-tanda awal serangan asam antara lain batuk , mengi , rasa dada tertekan dan napas cepat
 Mampu mengetahui kapan dan kemana mencari pertolongan
 Pentingnya penggunaan obat pengendali asma sesuai anjuran dokter
 Cara atau teknik memakai alat inhalasi yang tepat dan benar
 Kemandirian anak dalam penatalaksanaan asma
 Penjelasan dan cara memakai PFM , inhaler dan spacer
 Monitor gejala dengan nilai PFM
 Menerapkan pola hidup sehat (berolahraga dan tidak merokok)
Thank You  

Anda mungkin juga menyukai