Farmakoterapi syaraf, pulmo
cerna
ASMA
Nama kelompok
A1221005 A1221010 A1221011 A1221023
Fika indahsari
Aulia wahyu a Marisa vernanda Melida saskia h
Prevalensi Asma
• Asma merupakan masalah kesehatan dunia, di mana diperkirakan 300 juta orang
diduga mengidap asma (GINA, 2008)
• Kematian akibat asma di dunia dipekirakan mencapai 250 000 orang/tahun
• Di Indonesia : prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan 2 – 5
% penduduk Indonesia menderita asma
• Separuh dari semua kasus asma berkembang sejak masa kanakkanak, sedangkan
sepertiganya pada masa dewasa sebelum umur 40 tahun.
Definisi Asma
Penyakit inflamasi / peradangan kronik yang banyak dipengaruhi oleh
unsur selular dan ditandai dengan episode serangan berulang berupa
sesak nafas, batuk, mengi akibat hiper-responsiveness bronkus dan
cabang-cabangnya (Dipiro, 2008).
Gejala asma
Gejala asma bersifat episodik, seringkali
reversibel, dengan/tanpa pengobatan.
Gejala awal berupa :
• batuk terutama pada malam hari atau dini
hari
• sesak nafas
• nafas berbunyi (mengik) yang terdengar
jika pasien menghembuskan nafasnya
• rasa berat didada
• dahak sulit keluar
diagnosa pendahuluan pada pasien asma
• Riwayat Medis
• Pemeriksaan Fisik
• Tes Fungsi Paru
• Tes Alergi
• Pemantauan Gejala
• Evaluasi Komorbiditas
Diagnosa Asma
Diagnosis asma yang tepat sangatlah penting, sehingga penyakit ini
dapat ditangani dengan semestinya, batuk kronik berulang merupakan
titik awal untuk menegakkan diagnosis
secara umum untuk menegakkan diagnosis asma diperlukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Analisa Ketepatan Diagnosa
Inflamasi merupakan
reaksi pertahanan diri
terhadap invasi
organisme asing dengan
tujuan perbaikan
jaringan
respon yang
menguntungkan
• Membran mukosa bronkus yang teriritasi akan menjadi hiperemia dan edema sehingga
mengganggu fungsi mukosiliari bronkus. Saluran pernapasan menjadi tersumbat oleh debris
kemudian terjadi reaksi hiperresponsif pada bronkus. Tubuh akan merespon dengan melepaskan
mediator proinflamasi.
• ASM paling terkenal karena perannya dalam bronkokonstriksi akut. Otot polos mengelilingi
saluran napas dalam pola melingkar, mengurangi diameter lumen saluran napas saat
berkontraksi. Fungsi ASM inilah yang menyebabkan obstruksi aliran udara akut, sesak napas,
dan mengi yang paling sering dikaitkan dengan sindrom klinis asma.
ALGORITMA TERAPI
Home
Management
ALGORITMA TERAPI
ALGORITMA TERAPI
TERAPI FARMAKOLOGI
Beta-2 Agonist
β2 Agonist merupakan bronkhodilator kerja
cepat yang paling efektif. Stimulasi reseptor
β2 Adrenergik mengaktivasi adenilsiklase ,
yang menghasilkan peningkatan AMP siklik
intraselular. Hal ini menyebabkan relaksasi
otot polos, stabilisasi membran sel mast, dan
stimulasi otot skelet.
• Albuterol (Salbutamol) dan inhalasi β2 Agonist yang lain (Bitolterol,
Pirbuterol, dan terbutalin) diindikasikan untuk penanganan episode
bronkospasmus iregular dan merupakan pilihan pertama dalam
penanganan asma akut.
• Dalam asma parah akut, β2 Agonist kerja pendek (seperti albuterol)
harus diberikan dalam dosis tinggi menggunakan nebulizer dengan
interval pemberian sering atau melalui inhalasi dosis terukur (Metered
Dose Inhaler/MDI)
Kortikosteroid
• Kortikosterid meningkatkan jumlah reseptor β2 Adrenergik dan meningkatkan
respon reseptor terhadap stimulasi β2 Adrenergik yang mengakibatkan
penurunan produksi mukus dan hipersekresi, mengurangi hiperresponsivitas
bronkus, serta mengembalikan perbaikan jalur nafas.
• Kortikosteroid digunakan untuk pencegahan jangka panjang dan pengontrolan
gejala asma.
Antikolinergik
Contoh obat golongan ini adalah Ipratropium Bromida dan Tiotropium Bromida. Obat
ini merupakan inhibitor kompetitif reseptor muskarinik, menghasilkan bronkodilatasi
hanya pada bronkokonstriksi yang dimediasi kolinergik. Antikolinergik merupakan
bronkodilator efektif tetapi tidak sekuat β2 Agonist
NonFarmakologi
Terapi Nonfarmakologi penyaki ashma antara lain :
1. Menghindari Faktor Pencetus Ashma, yaitu :
• Faktor Lingkungan, seperti Udara Dingin, Debu, dan polutan
• Faktor Allergen, seperti bulu hewan peliharaan (kucing, anjing), spora jamur
• Faktor Emosi, seperti stress, dan Anxietas,
• Faktor pencetus lain yang mungkin terjadi
2. Mengontrol Pola Hidup, antara lain
Selalu berada dalam ruangan dengan ventilasi dan sirkulasi udara yang baik
Kontrol debu dengan membersihkan rumah setiap hari untuk meminimalisir debu yang ada
Edukasi Pasien untuk mengetahui dan mencegah faktor pencetus penyakit Ashma
Pengontrol asma untuk sehari hari
[Link] Corticosteroids (ICS): Obat-obatan ini mengurangi
peradangan dalam saluran udara. Mereka efektif dalam mengurangi
gejala asma dan mencegah serangan. Contohnya adalah
beclomethasone, fluticasone, dan budesonide.
[Link]-Acting Beta Agonists (LABAs): Obat ini membantu
melebarkan saluran udara dengan cara merelaksasi otot-otot di
sekitarnya. Mereka sering dikombinasikan dengan ICS dalam satu
inhaler. Contohnya adalah salmeterol dan formoterol.
[Link] Inhalers: Kombinasi ICS dan LABA dalam satu
inhaler memudahkan penggunaan dan meningkatkan kepatuhan.
Contohnya adalah fluticasone/salmeterol dan
budesonide/formoterol.
Pengontrol asma untuk sehari hari
[Link] Modifiers: Obat-obatan ini mengurangi produksi zat yang
menyebabkan peradangan dalam saluran udara. Contohnya adalah
montelukast.
[Link]: Obat seperti omalizumab, mepolizumab,
reslizumab, dan benralizumab digunakan untuk mengendalikan asma yang
sulit dikontrol dengan obat-obatan lain
[Link] Corticosteroids: Dalam kasus serangan asma parah atau sulit
dikontrol, dokter mungkin meresepkan steroid oral untuk sementara
waktu.
Obat Antiasma
Obat asma dibagi menjadi dua kategori:
(1) Obat kerja cepat (yang digunakan untuk meredakan asma akut)
(2) obat pengendali asma jangka panjang (yang digunakan untuk upaya profilaksis)
1. Obat kerja cepat : digunakan sesuai kebutuhan untuk meredakan gejala jangka
pendek secara cepat selama serangan asma. Jenis obat-obatan kerja cepat adalah:
• Agonis beta 2 kerja cepat: bronkodilator hirup dan cepat ini bekerja dalam
beberapa menit untuk meredakan gejala dengan segera selama serangan
asma. Agonis beta2 kerja cepat dapat digunakan dengan nebulizer atau
inhaler genggam portabel. Contohnya adalah salbutamol dan terbutalin.
• Antimuskarinik: antimuskarinik hirup ini bekerja dengan cepat untuk segera
merilekskan saluran udara, seperti bronkodilator lainnya, sehingga lebih
mudah untuk bernafas. Contohnya adalah ipratropium dan tiotropium.
Obat Antiasma
2. Obat pengendali asma jangka panjang: bekerja dengan meredakan
peradangan di saluran udara dan mencegah terjadinya serangan asma.
a. Kortikosteroid hirup: pencegahan yang paling efektif, namun Anda mungkin
perlu menggunakan obat ini selama beberapa hari hingga minggu sebelum
manfaat maksimumnya dicapai.
• Contohnya flutikason dan budesonid.
b. Beta2-agonis kerja lambat yang dihirup (agonis beta2-adrenergik):
obatobatan ini membuka saluran udara. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa obat tersebut dapat meningkatkan risiko serangan asma yang parah,
kecuali jika digunakan dalam kombinasi dengan Kortikosteroid hirup.
• Contohnya adalah salmeterol dan formoterol.
DAFTAR NAMA OBAT ASMA DI INDONESIA
THANK
YOU