0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan19 halaman

Tatalaksana TB Paru dan Hipertensi

Diunggah oleh

Puspa hayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan19 halaman

Tatalaksana TB Paru dan Hipertensi

Diunggah oleh

Puspa hayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI INFEKSI

DAN TUMOR

TB PARU
Kelompok : 3
Nama :
1. Kresna Surya Atmaja 050215A010
2. M. Adib Kurniawan 050215A021
3. Maria F. Sartika Sastro 050215A011
4. Puspa Hayu Ramadhan 050215A012
5. Septi Putri Utami 050215A013
6. Stefan Adrianus Kabelen 050215A014
TUJUAN
Untuk mengetahui tatalaksana, penggunaan
obat, dan monitoring terhadap kasus pasien TB
paru dengan riwayat hipertensi.
DEFINISI
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan
oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis
konplex. Sebagian besar kuman TB menyerang
paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh
lainnya (Simon, 2002)
Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang
menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura
(selaput paru).

Klasifikasi Tuberkulosis Paru :


1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)
2. Berdasarkan Tipe Penderita
KASUS
Bapak Bani (48 kg), 60 th) mengeluh batuk terus
menerus sejak 1 bulan yang lalu dan semakin
sering pada 2 minggu yang lalu. Penderita juga
merasa lemah lesu, demam, malam hari
berkeringat dan kehilangan berat badan 5 kg
selama 2 minggu ini.
• Riwayat penyakit dahulu: Hipertensi dan mendapat HCT 25 mg tiap hari.
• Hasil pemeriksaan:
Tekanan darah 138/88 mmHg
Respiratoty rate 16 x/menit
Hearth rate 84x/menit
Suhu 380C
• Laboratorium:
BTA (+)
Na 134 mEq/L
SGOT 72 ui/L
SGPT 56 ui/L
K 34 mEq/L
Cl 96 mEq/L
Kreatinin 1,3 mg/dL
BUN 30 mg/dL
Bilirubin total 1,0 mg/dL
• Diagnosa: TB Paru
Pertanyaan:
1. Bagaimanakah tatalaksana terapi kasus ini?
2. Informasi apa yang perlu diberikan mengenai
penggunaan obatnya?
3. Bagaimana monitoring terhadap keberhasil-
an terapi?
PENYELESAIAN KASUS
Rekam Medis
1. Karakteristik/demografi pasien
a. Identitas pasien lesu, demam, malam hari berkeringat
• Nama : Bpk. Bani dan kehilangan berat badan 5 kg
• Umur : 60 tahun • Tempat timbul gejala : saluran
• Jenis Kelamin : laki-laki pernafasan bawah
• Berat Badan : 48 kg • Gejala lain :-

b. Catatan anamnesis c. Riwayat Penyakit Dahulu


• Gejala utama : batuk terus : hipertensi
menerus d. Riwayat Pengobatan tiap hari
• Waktu gejala : sejak 1 bulan yang : HCT 25 mg
lalu dan semakin sering pada 2 e. Riwayat penyakit keluarga
minggu yang lalu :-
• Gejala tambahan : lemah f. Riwayat Sosial : -
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : sadar g. Tenggorakan
b. Tanda Vital : Sakit di sertai batuk
•Tekanan darah h. Thorax/dada :-
: 138/88 mmHg i. Abdomen/perut : -
•Respiratoty rate j. Musculoskeletal/alt gerak:
: 16 x/menit -
•Hearth rate : 84x/menit k. Neurologik : -
•Suhu : 380C l. Genital/rectal :-
c. Kulit : -
d. Keadaan kepala : -
e. Mata :-
f. Hidung :-
3. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium:
• BTA (+)
• Na 134 mEq/L
• SGOT 72 ui/L
• SGPT 56 ui/L
•K 34 mEq/L
• Cl 96 mEq/L
• Kreatinin 1,3 mg/dL
• BUN 30 mg/dL
• Bilirubin total 1,0 mg/dL
4. Penatalaksanaan Terapi
a. Untuk pengobatan TB Paru
1) Terapi farmakologi
Pasien tersebut termasuk ke dalam pasien TBC kategori 1,
sehingga regimen pengobatannya yaitu 2HRZE/4H3R3.

2) Terapi non obat


• Mengkonsumsi makanan bergizi
• Perbaikan kondisi umum
• Diet, keseimbangan cairan
• Menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal
• Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah agar selalu berganti
dengan udara yang baru
• Berolah raga seperti berjalan santai dipagi hari
• Minum air hangat yang banyak dapat melegakan tenggorokan
b. Untuk pengobatan hipertensi
1) Terapi farmakologi
Lisinopril 5 mg, 10 mg.

2) Terapi non farmakologi


• Diet rendah garam atau kolesterol atau lemak
jenuh
• Mengurangi asupan garam kedalam tubuh
• Melakukan olahraga seperti aerobik atau jalan
cepat selama 30 – 45 menit sebanyak 3 – 4 x
seminggu
• Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi
alcohol
Metode Penyelesaian Kasus dengan SOAP

1. SUBYEKTIF
Bapak Bani dengan berat badan 48 kg dan
usia 60 tahun mengeluh batuk terus menerus
sejak 1 bulan yang lalu dan semakin sering
pada 2 minggu yang lalu. Penderita juga merasa
lemah, lesu, demam, malam hari berkeringat
dan kehilangan berat badan 5 kg selama 2
minggu ini. Dan mempunyai riwayat penyakit
hipertensi dan mendapat HCT 25 mg tiap hari.
2. OBYEKTIF
Hasil Pemeriksaan Laboratorium:
Nilai Normal Keterangan
TD : 138/88mm Hg 120 / 80 mmHg Pre Hipertensi
Nadi : 84 x/menit 60 - 100 x /menit Normal
Suhu : 38°C 36,5 - 37,5 °C Meningkat
RR : 16 x/menit 18 - 20 x /menit Normal
Na : 134 mEq/L 134 - 144 mEq/L Normal
Cl : 96 mEq/L 96 - 106 mEq/L Normal
K : 3,4 mEq/L 3,4 - 4,8 mEq/L Normal
Kreatinin : 1,3 mg/Dl 0,6 - 1,3 mg/dL Normal
BUN : 30 mg/dL 5 - 25 mg/dL Meningkat
SGOT : 72 U/L 5 - 35 U/L Meningkat
SGPT : 56 U/L 5 - 35 U/L Meningkat
Bilirubin total : 1,0 mg/dL ≤ 1,4 mg/dL Normal
BTA (+) - Kultur bakeri (+)

Dari hasil pemeriksaan laboratorium pasien didiagnosa


menderita TB paru karena BTA (+). Obat yang pernah
digunakan oleh pasien yaitu HCT 25 mg tiap hari.
3. ASSESMENT
a. Pasien mengalami penurunan berat badan 5 kg selama 2 minggu.
b. Hal tersebut dikarenakan pasien mengkonsumsi HCT dengan dosis 25
mg tiap hari. Dilihat dari riwayat penyakit, pasien mengalami
hipertensi dan riwayat pengobatan hipertensi tidak jelas sehingga
perlu diatasi.
c. Pasien mengalami peningkatan BUN (Blood Urea Nitrogen) sehingga
dalam pemilihan obat harus diperhatikan karena pasien memiliki
gangguan pada fungsi ginjal. Pasien juga mengalami peningkatan
pada serum SGOT dan SGPT.
d. Hal tersebut menunjukkan bahwa pasien memiliki gangguan pada
fungsi hati.
e. Pasien didiagnosa menderita TB paru. Hal tersebut ditunjukkan
dengan adanya BTA (+) sehingga harus diberikan terapi yang sesuai
dengan kondisi fisik pasien.
4. PLANNING
a. Pasien merupakan pasien baru TBC sehingga pengobatannya
mengikuti kategori 1 yaitu 2HRZE/4H3R3.
b. Penggunaan HCT dihentikan karena menyebabkan penurunan
berat badan pada pasien yang cukup drastis.
c. Mengatasi hipertensi pada pasien dengan memberikan obat
golongan ACEIs (Angiotensin-converting enzyme Inhibitor).
Pemberian obat golongan ACEIs tersebut dikarenakan obat
golongan tersebut cocok untuk pasien yang mengalami gangguan
fungsi hati dan ginjal.
d. Mengobati pasien TB paru dengan memberikan regimen obat
yang sesuai untuk kondisi fisik pasien yang mengalami gangguan
fungsi hati dan ginjal.
e. Melakukan terapi farmakologi maupun non farmakologi untuk
pasien TB paru.
MONITORING
1. Memonitoring kepatuhan pasien dalam menelan OAT dengan cara memberikan
pengawasan langsung. Pada tahap pengobatan intensif pasien mendapat obat
setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya
kekebalan obat.
2. Monitoring secara berkala hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan
fisik pasien.
3. Bila terdapat gangguan fungsi hati dan ginjal, maka dianjurkan untuk menurunkan
dosis OAT.
4. Jika SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali maka OAT harus dihentikan.
5. Pemberian pengobatan OAT pada gangguan fungsi hati dan ginjal ini harus
dimonitoring secara berkala dengan melakukan pemeriksaan fungsi hati dan ginjal.
6. Kadar obat dalam plasma harus dimonitoring secara berkala untuk mengetahui
efektivitas penggunaan OAT maupun toksisitas akibat penggunaan OAT.
KIE
(Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
1. OAT ini harus diminum sampai selesai sesuai dengan kategori penyakit atau
petunjuk dokter atau petugas kesehatan lainnya dan diupayakan agar tidak lupa.
2. Bila lupa satu hari, jangan meminum dua kali pada hari berikutnya.
3. Minum sesuai jadwal yang diberitahukan oleh dokter atau petugas kesehatan
lainnya misalnya pada pagi hari.
4. Menghindari meminum alkohol dan menghindari kebiasaan merokok.
5. Obat yang diberikan harus disesuaikan dengan berat badan, sehingga perlu
diberitahukan berat badan pasien kepada petugas kesehatan.
6. Rifampisin menyebabkan urin, air ludah, dahak, dan air mata akan menjadi coklat
merah. Bagi yang menggunakan softlens disarankan untuk tidak menggunakannya
karena akan bereaksi atau berubah warna.
7. Etambutol diminum dengan makanan atau pada saat perut isi.
8. INH sebaiknya diminum dalam keadaan perut kosong. Waktu yang baik pemberian
INH adalah 1-2 jam sebelum makan.
KESIMPULAN
1. Dari kasus yang telah diuraikan tersebut, dapat disimpulkan
bahwa pasien didiagnosa menderita TB paru dengan BTA (+) dan
termasuk ke dalam TB kategori 1 yang diberikan regimen
pengobatan yaitu (2HRZE/4H3R3). Artinya pasien tersebut diobati
dengan isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan etambutol selama 2
bulan (fase intensif) setiap hari dan selanjutnya 4 bulan (fase
lanjutan) dengan isoniazid dan rifampisin 3 kali dalam seminggu.
2. Pemberian HCT dihentikan karena efek sampingnya dapat
menurunkan berat badan pasien.
3. Untuk pengobatan hipertensi menggunakan Lisinopril.

Anda mungkin juga menyukai