0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan54 halaman

Panduan Lengkap Tentang Diare

Diunggah oleh

Permata Deak303
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan54 halaman

Panduan Lengkap Tentang Diare

Diunggah oleh

Permata Deak303
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DIARE

Oleh :

KELOMPOK 2
FARMASI-D 2014
Nama Kelompok :
Dwi Ayu Permatasari (2014 10410311 168)
Yudha Nurma. Y (2014 10410311 169)
Putri Astutik (2014 10410311 171)
Vinda Wahyu. K (2014 10410311 172)
Dian Karasvita. L (2014 10410311 173)
Mochammad Yusuf (2014 10410311 175)
Mahya Riski. A (2014 10410311 176)
Edo kurnia. P (2014 10410311 177)
Rosmalina. L (2014 10410311 178)
Rika Rahim (2014 10410311 179)
Saulatun Nisa’ (2014 10410311 181)
Ratih Kusumastuti (2014 10410311 182)
Pengertian Diare
• secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi
(buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari,
disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan
atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma
diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten (Menurut
WHO, 1999)
• diareadalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan
bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair
dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali
atau lebih dalam sehari (Depkes RI, 2005)
Klasifikasi Diare
• Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang
meningkat dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dan
bersifat mendadak datangnya, dan berlangsung dalam waktu
kurang dari 2 minggu.
• Diare kronik atau diare berulang adalah suatu keadaan
meningkatnya frekuansi buang air besar yang dapat berlangsung
berminggu-minggu atau berbulan-bulan baik secara terus-menerus
atau berulang, dapat berupa gejala fungsional atau akibat suatu
penyakit berat
IMMUNODEFIS
E Virus: Rotavirus
IENSI : AIDS

T
(40-60%), ALERGI :
Adenovirus MAKANAN
SUSU SAPI

I
O Bakteri: ETIOLOGI
L Escherichia
coli(20-30%),
Shigela sp. (11%),
MALABSORBSI
:KARBOHIDRA
T, LEMAK,

O Vibrio cholerae,
dll
PROTEIN

G Parasit:
Entamoeba
I histolytica(<1%),
Giardia lambia,
Crystosporidium
KERACUNAN
MAKANAN

(4 -11%).
Patofisiologi
Iritasi usus oleh suatu patogen mempengaruhi lapisan mukosa
usus, sehingga terjadi peningkatan produk-produk sekretorik, termasuk
mukus. iritasi oleh mikroba juga mempengaruhi lapisan otot sehingga
terjadi peningkatan motilitas. Peningkatan motilitas menyebabkan
banyak air dan elektrolit terbuang karena waktu yang tersedia untuk
penyerapan zat-zat tersebut dikolon terbuang. Individu yang
mengalami diare berat dapat meninggal akibat syok hipovolemik dan
kelainan elektrolit. Toksin kolera yang dikeluarkan oleh bakteri kolera
adalah contoh dari bahan yang sangat merangsang motilitas dan secara
langsung menyebabkan sekresi air dan elektrolit kedalam usus besar,
sehingga unsur-unsur plasma yang penting ini terbuang dalam jumlah
besar (Buku saku patofisiologi, EGC hal 520-521)
Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
a. Gangguan Osmotik
makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam
rongga
meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus.
b. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan
elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi
rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap
makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltic usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
Patofisiologi

1. Diare osmotik
2. Diare sekretorik
3. Diare eksudatif
4. Diare karena gangguan motilitas
1. Diare osmotik
• Bahan yang tidak dapat diserap akan meningkatkan osmolaritas dalam rongga usus kemudian menarik air
dan elektrolit dari plasma ke rongga usus dan terjadi diare.
• Contoh : Intoleransi makanan, waktu pengosongan lambung yang cepat, defisiensi enzim laktase, laksan
osmotik.
2. Diare sekretorik
• Toksin yang dikeluarkan bakteri (toksin kolera), pengaruh garam empedu, hormon intestinal seperti gastrin
vasoactive intestinal polypeptide (VIP) yang akan mengganggu transport cairan elektrolit (abs << atau
sekresi >> ).
• Toxin menstimulasi cAMP dan cGMP yang akan menstimulasi sekresi cairan & elektrolit.
Diare sekretorik terbagi menjadi 2 yaitu:
• Aktif : akan mengganggu aliran (absorpsi) dari lumen usus ke dalam plasma atau percepatan cairan air dari
plasma ke lumen.
• Pasif : terjadi tekanan hidrostatik dalam jaringan karena terjadi ekspansi air dari jaringan ke lumen usus.
Contoh : peninggian tekanan vena mesenterial, obstruksi sistem limfatik, iskemia usus, proses peradangan
.3. Diare eksudatif
• Kerusakan mukosa usus halus atau usus besar akibat inflamasi.
• Inflamasi & eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri, non infeksi (gluten sensitive
enteropathy, IBD), atau akibat radiasi.
• Contoh : kolitif ulserosa, penyakit Crohn, amebiasis, shigellosis, champylobacter,
yersinia.

4. Diare Karena Gangguan Motilitas


• Gangguan pada kontrol otonomik menyebabkan waktu tansit usus menjadi lebih cepat.
• Misalnya pada diabetik neuropati, post vagotomi, post reseksi usus, hipertiroid,
tirotoksikosis, sindroma usus iritabel.
Manifestasi Klinik
• mendadak mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, demam, menggigil, dan rasa
tidak enak.
• Sering terjadi pergerakan pada usus dan diare dalam kurun waktu 12-60 jam.
• Intermittent periumbilikalis atau kuadran kanan bawah nyeri dengan kram dan
suara usus terdengar
• rasa sakit dengan tenesmus (tegang, tidak efektif, dan feces yang menyakitkan)
pada saat BAB
• Pada diare kronis, riwayat serangan sebelumnya, penurunan berat badan,
anoreksia, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan
mulut serta kulit tampak kering
Sumber : Pharmacotheraphy handbook 7th ed. Hal.619
Penilaian derajat dehidrasi penderita diare
Dehidrasi ringan/
Penilaian Tanpa dehidrasi sedang Dehidrasi berat

Keadaan umum Baik Gelisah, rewel Lesu, tak sadar

Mata Normal Cekung Sangat cekung

Air mata Ada Tidak ada Tidak ada

Mulut, lidah Basah Kering Sangat kering

Rasa haus Minum biasa Sangat haus Malas/ tidak bisa minum

Kekenyalan kulit Normal Kembali lambat Kembali sangat lambat

(IONI 2008, hal. 62)


Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan diare menurut RI antara lain dengan rehidrasi, nutrisi,
medikamentosa
(a) Rehidrasi : diare cair membutuhkan pengganti cairan dan elektrolit tanpa melihat
etiologinya. Jumlah cairan yang diberi harus sama dengan jumlah yang telah
hilang melalui diare dan atau muntah
(b) Nutrisi : makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk
menghindari efek buruk pada status gizi.
(c) Medikamentosa : antobiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin,
obat-obat anti diare meliputi antimotilitas seperti loperamid, difenoksilat, kodein,
opium, adsorben seperti norit, kaolin, attapulgit, anti muntah termasuk prometazin
dan kloropomazin.
Pencegahan
• Pencegahan diare pada dasarnya harus ditunjukan pada tindakan higiene yang cermat
mengenai kebersihan, khususnya cuci tangan dengan bersih, sebelum makan atau
mengolah makanan.
• Alat-alat dapur, bahan makanan , sayur harus dicuci dengan baik.
• Daging/ikan hendaknya dimasak sampai matang dan hidangan perlu disimpan tertutup.
• Tindakan umum, demi mencegah terbukanya luka pada usus dan perdarahan sebaiknya
pasien diare harus beristirahat lengkap (bedrest). Perlu pula dilakukam diet dengan
bahan makanan yang tidak merangsang dan mudah dicerna.
• Bagi penderita diare ringan diberikan oralit, tetapi bila dehidrasi berat maka perlu
dibantu dengan cairan intravena atau infus.
• pemberian makanan kembali (refeeding) sebab selama diare pemasukan makanan akan
sangat kurang karena akan kehilangan nafsu makan dan kehilangan makanan secara
langsung
Contoh Obat Diare
DOSE FORM ADULT DOSE
2.5 mg/tablet
Diphenoxylate 5 mg 4 kali sehari, tidak lebih dari 20 mg/hari
2.5 mg/5 mL

2 mg/capsule awalnya 4 mg, kemudian 2 mg setelah buang air


Loperamide
2 mg/capsule besar, tidak lebih dari 16 mg/hari
Anti motility Paregoric 2 mg/5 mL (morphine) 5-10 ml 1-4 kali sehari
Opium tincture 10 mg/mL (morphine) 0,6 ml 4 kali sehari

2 tablet, kemudian 1 tablet setelah buang air besar,


Difenoxin 1 mg/tablet
hingga 8 tablet/hari
5.7 g kaolin + 130.2 mg
Kaolin-pektin mixture 30-120 ml setelah buang air besar
pectin/30 mL
kunyah 2 tablet 4 kali sehari atau setelah buang air
Polycarbhopil 500 mg/tablet
besar, tidak lebih dari 12 tablet/hari
Adsorbent 750 mg/15 mL
300 mg/7.5 mL
1200-1500 mg setelah buang air besar atau setiap 2
Attapulgite 750 mg/tablet
jam hingga 9000mg/hari
600 mg/tablet
Contoh Obat Diare
DOSE FORM ADULT DOSE
1050 mg/30 mL
262 mg/15 mL 2 tablet atau 30 ml tiap 30 menit sampai
Bismuthsubsalicylate
524 mg/15 mL 1 jam jika perlu hingga 8 dosis/hari
262 mg/tablet

1250 neutral lactase units/4


Antisecretory drops
Enzyme (Lactase) 3-4 tetes dengan susu
3300 FCC lactase units per
tablet

Bacterial replacement
2 tablet atau 1 granul 3-4 kali sehari,
(Lactobacillus aciophilus)
diberikan bersama susu, jus, atau air
(Lactobacillus bulgaricus)

0.05 mg/mL Awal =50 mcg subkutan 1-2 kali sehari


Octreotide 0.1 mg/mL berdasar indikasi hingga 600 mcg/hari
0.5 mg/mL dalam 2-4 dosis terbagi
ANTIBIOTIK
TRIMETHOPRIM DAN
SULFAMETHOXAZOL

Action Sulfamethoxazole (SMZ) inhibits bacterial synthesis of dihydrofolic acid by


competing with PABA. Trimethoprim (TMP) blocks production of tetrahydrofolic
acid by inhibiting the enzyme dihydrofolate reductase. This combination blocks
two consecutive steps in bacterial biosynthesis of essential nucleic acids and
proteins and is usually bactericidal.

Sulfamethoxazole menghambat sintesis bakteri dari asam hidrofilik dan bersaing


dengan PABA. Trimethoprim memblok produksi asam tetrahidrofilik dengan
menghambat enzim hidrofolat reductase. Kombinasi sulfametoxazole dan
trimethoprim dapat memblok dua langkah dalam proses biosentesis bakteri di asam
nukleat dan
Farmakokinetik
 Sulfametoksazol dan trimetoprim dengan cepat dan baik diserap dari saluran
pencernaan setelah pemberian oral
 Luas
didistribusikan ke dalam jaringan tubuh dan cairan, termasuk dahak, aqueous
humor, cairan telinga tengah, sekresi bronkial, cairan prostat, cairan vagina, dan
empedu.
 Trimetropim lebih larut dalam lipid daripada sulfametoksazol, trimetopim memiliki
volume distribusi yang lebih besar ketimbang sulfametoksazol
 Sulfametoksazol dan trimetoprim dimetabolisme di liver.

 Kedua sulfametoksazol dan trimetoprim dengan cepat diekskresikan dalam urin


oleh filtrasi glomerulus dan aktif secretion tubular, Pada orang dewasa dengan
fungsi ginjal normal, sekitar 45-85% dari dosis sulfametoksazol dan 50-67% dari
dosis trimetoprim diekskresikan dalam urin.
Farmakodinamik
Cotrimoxazole adalah antibiotik yang merupakan kombinasi
Sulfamethoxazole dan Trimethoprim dengan perbandingan 5 : 1.
Kombinasi tersebut mempunyai aktivitas bakterisid yang besar
karena menghambat pada dua tahap sintesis asam nukleat dan
protein yang sangat esensial untuk mikroorganisme
Dosis ini harus diturunkan sebanyak separuhnya pada pasien
dengan bersihan kreatinin sebesar 15-30 ml/menit
Mekanisme kerja
Sulfametoksazol (SMZ) menghambat sintesis bakteri asam
dihydrofolic dengan bersaing dengan PABA.
Trimethoprim (TMP) blok produksi asam tetrahydrofolic dengan
menghambat enzim dihidrofolat reduktase.
 Kombinasi ini blok dua langkah berturut-turut dalam biosintesis
bakteri asam nukleat dan protein esensial dan biasanya
bakterisida.

(A to Z Drug Facts,2003)
PABA Sulfonamid
Dihidropteroat
sintessa berkompetisi
dengan PABA

[Link]

Dihidrofolat
Trimetroprim
reduktase
[Link]

Purin

DNA
INTERAKSI OBAT
• Thiazolidinedione : trimetoprim mengurangi metabolisme antidiabet
thiazolidinedione
• Metotrexat : trimetoprim meningkatkan efek toksik metotrexat
• Fenitoin : trimetoprim dan derivat sulfonamid menurunkan metabolisme
fenitoin
• Dapson : trimetoprim meningkatkan konsentrasi plasma dapson dan
sebaliknya
• Derivat sulfonamide : trimetoprim meningkatkan efek samping hipoglikemia dari
derivat sulfonamid
• Vaksin tifoid : antibiotik mengurangi efek dari vaksin tifoid
• Warfarin : derivat sulfonamid meningkatkan efek antikoagulannya
(Drug Information Handbook 17th ed)
Komposisi
Non- forte
Trimetoprim : 80 mg/tab
Sulfametaksazole : 400 mg/tab
Forte
Trimetoprim : 160 mg/tab
Sulfametaksazole : 800 mg/tab ISO Vol 47
Hal.172

Penyimpanan
 Cara penyimpanan obat dengan menyimpannya pada lemari obat atau disimpan
di tempat kering, sejuk, tidak lembab, dan terhindar dari cahaya matahari
langsung. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Aspek Informasi Obat Pustaka

Trimetoprim 80 mg (160 mg), sulfametoksazol 400 mg (800 mg)--> coprim


Komposisi ISO Indonesia Vol 47
200 mg sulfametoksazol dan 40 mg trimetoprim/5ml cortrimoxazole

Pengobatan oral untuk infeksi saluran kemih karena E. Coli, Klebsiella dan
Drug Information Handbook
Indikasi enterobacter sp, M. Morganii, P. Mirabilis dan P Vulgaris; diare karena
17th Edition
enterogenik E. Coli.

Satu dengan 2 kekuatan (sulfamethoxazole 800 mg and trimethoprim 160 mg) Drug Information Handbook
Dosis tablet setiap 12 jam untuk 10-14 hari. 17th Edition
Diare : oral : Satu dengan 2 kekuatan tablet setiap 12 jam untuk 5 hari

Hipersensitif terhadap sulfonamida; anemia megaloblastik yang disebabkan Drug Information Handbook
Kontraindikasi karena kekurangan folat; kehamilan; menyusui; dan janin umur dibawah 2 17th Edition
bulan
Drug Information Handbook
Gangguan pencernaan  mual, muntah, anoreksia
Efek Samping 17th Edition
Reaksi dematologi  ruam atau urtikaria

Drug Information Handbook


Faktor resiko kehamilan C/D  tidak boleh digunakan pada ibu hamil dan
Perhatian 17th Edition
menyusui
REHIDRASI
ORALIT
ORALIT (oral rehidyrations solutions)
• Oralitmerupakan campuran garam elektrolit,seperti natrium
klorida (NaCl), kalium klorida (KCl), dan trisodium sitrat hidrat,
serta glukosa anhidrat. Oralit diberikan untuk mengganti cairan
dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang saat diare.
Aspek Informasi obat Pustaka
Complements Kalium klorida 0,3 g, natrium klorida 0,7 g, natrium bikarbonat 0,5 g, glukosa ISO vol 46 hal
anhidrat 4 g 393
Indiationsc for oral replacement of electrolytes and fluids in patients with dehydration, Martindal ed 36
particularly that associated with acute diarrhea of various aetiologies (p.1694). page 1672
Dose  For adults, a usual dose of 200 to 400 mL of oral rehydration solution for every Martindal ed 36
loose motion has been suggested. page 1672
 The dosage for children is 200 mL for every loose motion, and
 for infants is 1 to 1.5 times their usual feed volume. Normal feeding can
continue after the initial fluid deficit has been corrected. Breast feeding should
continue between administrations of oral rehydration solution.

Efek samping  Muntah terjadi karena terlalu cepat pemberiannya dan segera dihentikan selama Martindal ed 36
10 menit yang dilanjutkan dengan yang jumlah yang lebih kecil. page 1672
 Risiko hipernatremia atau overhydration
 Overdosis solusi rehidrasi oral pada pasien dengan gangguan ginjal dapat
menyebabkan hipernatremia dan hiperkalemia

Perhatian  Untuk orang gastrointestinal obstruction


 oliguric or anuric
 renal failure,
 or when parenteral rehydration therapy is indicated as in severe dehydration or
intractable vomiting.
ZINK
Zinc
• Zinc merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk kesehatan dan
pertumbuhan anak.
• Zinc yang ada dalam tubuh akan menurun dalam jumlah besar ketika anak
mengalami diare.

Manfaat :
• Menggantikan kehilangan Zink dan mempercepat penyembuhan diare serta
meningkatkan kekebalan tubuh.
• Zinc merupakan mineral penting bagi tubuh dan sekitar 300 enZim dalam tubuh
yang bergantung pada enZim.

Zink Kapan diberikan ?


• Satu kali sehari selama 10 hari berturut-turut dan harus dilanjutkan meskipun
diarenya sembuh agar imunitasnya kuat dan mencegah terulangnya diare pada hari
ke 2-3 bulan kedepan.
Aspek Informasi obat Pustaka
komposisi Effervescent tablets, zinc sulfate monohydrate BNF ed 67 page
125 mg (45mg zinc), 670
Indikasi zinc deficiency or supplementation in BNF ed 67 page
zinc-losing conditions, Ophthalmic solution used as mild astringent for relief of eye
irritation 670
A to z drug facts
Dose  Dose ADULT and CHILD over 30 kg, 1 tablet in water 1–3 times daily after food; BNF ed 67 page
 Zinc deficiency: Oral: 110-220 mg zinc sulfate (25-50 mg elemental zinc)/dose 3
times/day (DIH) 670
 CHILD under 10 kg, ½ tablet daily; 10–30 kg, ½ tablet 1–3 times daily DIH ed 17,2009

Efek samping abdominal pain, dyspepsia, nausea, A to z drug facts


vomiting, diarrhoea, gastric irritation; irritability,
DIH ed 17,2009
headache, lethargy, Nausea; vomiting (especially in large oral doses).

Kontarindikasi Direct injection of undiluted solution into peripheral vein A to z drug facts

Interaksi Fluoroquinolones; tetracyclines: Absorption of these agents may be decreased, A to z drug facts
quinolone, golongan tetracylin DIH ed 17,2009

perhatian Ibu hamil, laktasi, renal impartment, ben z yl alkohol A to z drug facts
ADSORBEN
Adsorben
Adsorben adalah zat padat yang dapat menyerap zat cair dimana dapat
menghentikan episode diare. agen adsorben diduga berfungsi terutama melalui adsorpsi
dari racun dan zat-zat lain yang menghasilkan diare. Adsorben yang biasa digunakan
adalah Kaolin/pektin, dan attapulgit.
Mekanisme aksi Attapulgit :
Attapulgite merupakan adsorbent dan tidak diabsopsi oleh saluran cerna, sebagian
besar dimetabolisme di usus dan dikeluarkan melalui feses. Attapulgite adalah sebuah
adsorptif magnesium aluminium phyllosilicate yang mengikat racun , bakteri dan air.
Bekerja non-selektif, mengadsorpsi air, enterotoxin, juga obat dan nutrisi. Pemberian
adsorbent berjarak 2 – 3 jam dengan pemberian obat lain.
Mekanisme aksi Kaolin
Kaolin adalah suatu absorben untuk menyerap toksin
baik yang berupa gas atau bahan beracun lainnya yang
merangsang dari saluran usus, selanjutnya membentuk
lapisan pelindung pada dinding usus. Pektin sebagai
bahan yang berfungsi untuk menghilangkan hasil
pertumbuhan bakteri yang bersifat racun. Karena
kemampuannya membentuk asam galakturonat dari
kuman maka bisa berefek mematikan kuman yang
merugikan.
Aspek Attapulgit koalin / pectin
Indikasi untuk mengatasi gejala diare dan kram pengobatan gejala diare

Kontraindikasi Pasien yang hypersensitive terhadap attapulgite atau komponen Gunakan pada bayi dan anak-anak <3 tahun
penyusunnya. tanpa bimbingan dokter; gunakan untuk> 2
hari atau di hadapan demam tinggi; obstruksi
usus; radang usus besar.
Dosis Dewasa : 2 tablet setelah buang air besar pertama kali, 2 DEWASA: PO 60-120 ml (kekuatan biasa)
tablet tiap kali setelah buang air besar berikutnya. Maksimal atau 45-90 ml (konsentrat) setelah masing-
12tablet/hari. masing diare.
Anak 6-12 tahun : ½ dosis dewasa. Maksimal 6 tablet/hari. ANAK 6-12 YR: PO 30-60 ml (kekuatan
biasa) atau 30 ml (konsentrat) per dosis.
ANAK 3-5 YR: PO 15-30 ml (kekuatan
biasa) atau 15 ml (konsentrat) per dosis.

Efek samping Konstipasi


perhatiaan Jangan gunakan untuk> 2 hari. Jika diare berlanjut, hubungi Kehamilan: Kategori B. Laktasi: Kaolin dan
penyedia layanan kesehatan. Dosis tidak didirikan pada anak pektin tidak diserap dari saluran pencernaan;
<3 tahun. Transfer ke dalam ASI tidak diharapkan
Pustaka BNF 57th edition tahun 2009 A to Z drugs facts
GOODMAN GILMAN’S-Manual Of Pharmacology And
Therapeutics -2008 :642
SCOPMA
HYOSCINE-
N-BUTYLBROMIDE
Farmakokinetik
• Hiosin N-butil bromida sebagai amonium kuartener lebih kurang larut dalam lemak
sehingga sedikit diabsorpsi. (Martindale 36th p.1735)
• Metabolisme dihati, dan apabila diberikan dalam bentuk injeksi, Hiosin n-
butil bromida dimetabolisme lebih dari 108 jam. (AHFS 2010, 1303)
• Distribusi : Obat berikatan dengan protein plasma secara reversibel dan dapat
melewati plasenta dan terdistribusi ke air susu. (AHFS 2010, 1303)
• Eliminasi : Sebagian besar diekskresikan melalui urin (3.4 % atau kurang dari 1%
daridosis tunggal) dalam waktu 72 jam setelah administrasi injeksi subkutan.
(AHFS 2010, 1303)
Farmakodinamik
Hiosin telah digunakan sebagai Antispasmodic untuk meringankan nyeri otot polos
kejang terkait dengan saluran pencernaan. Bekerja dengan menurunkan motilitas
gastrointestinal dan digunakan untuk mengurangi spasme pada sindrom iritasi usus
(At a Glance, p.32)

Mekanisme kerja
Bekerja memblok asetilkolin yang dilepaskan dari terminal syaraf pada reseptor muskarinik.
Hiosin N-bromida memiliki reseptor yg khas pada ganglia parasimpatik viseral dan menunjukkan
efek antispasmodik yg khas pada otot polos saluran ceran.

(At Glance FARMAKOLOGI MEDIS ed. 5 hal 22-23)


(Kimia medisinal 2 hal 371)
Interaksi obat
Haloperidol : skizofrenia memburuk , penurunan kadar haloperidol , dan dyskinesia
tardive mungkin terjadi.
IV tidak kompatibel : Solusi tidak kompatibel dengan alkali.
Fenotiazin : Tindakan fenotiazin mungkin akan menurun
(A to Z Drug Facts)

Efek sedatif dari hiosin dapat ditingkatkan dengan alkohol atau depresan SSP lainnya.
(Martindale 36th : 1734)
Aspek Informasi Obat pustaka
Komposisi Hyoscine-N-butylbromide (ISO 48: 500)
Indikasi Anastesi, kejang anoxic, empedu, kolik ginjal, gangguan Martindale 36th : 1735
jantung, depresi, dismenore, gangguan mata, gangguan
gastrointestinal (antispasmodik), vertigo

Dosis Dewasa 300mcg, max 3 kali sehari Martindale 36th : 1735


Anak 3-4 tahun 75 mcg, max 150 mcg/hari
Anak 4-10 tahun 75-150 mcg
Anak > 10 tahun 150-300 mcg

Kontra indikasi ileus paralitik , pyloric stenosis , megakolon toksik , dan BNF 61 : 47
pembesaran prostat, glaukoma
Efek samping Sembelit, bradikardia ( diikuti oleh takikardia , palpitasi dan BNF 61 : 47
aritmia ) , mengurangi bronkial sekresi , urgensi kemih dan
retensi, mulut kering, mual , muntah , dan pusing ; sangat
jarang , sudut tertutup glaukoma dapat terjadi

perhatian Perhatian telah disarankan pada pasien lansia dan pada Martindale 36th : 1734
pasien dengan gangguan hati, atau ginjal fungsi, sebagai
efek samping CNS telah dinyatakan menjadi lebih mungkin
pada pasien ini. Telah ada laporan langka peningkatan
frekuensi kejang di pasien epilepsi.
ANTI
MORTILITAS
Obat Manfaat Resiko

Difenoksilat Diare akut, kronis ESO: mata kabur, mulut kering

Loperamid Diare akut, kronis ESO : badan tdk enak, konstipasi, ileus
paralitikus, depresi SSP

Paregorat Diare akut, kronis Potensi penyalahgunaan besar

Difenoksin Diare akut, kronis ESO : = Difenoksilat


1. Diphenoxylate HCl/Atropine Sulfate
aspek Informasi obat pustaka
indikasi terapi tambahan dalam pengobatan diare A to Z Drug Facts
kontraindikasi Icterus obstruktif, diare yang berhubungan dengan pseudomembran A to Z Drug Facts
enterokolitis, penggunaan pada anak-anak <2th.
dosis DEWASA : dosis awal : PO 5mg 4xsehari. ANAK 2-12th : PO 0,3-0,4mg/kg/hari A to Z drug Facts
dibagi dalam 4 dosis.

interaksi Alcohol, barbiturate, SSP depresan, obat penenang; dapat meningkatkan aksi A to Z Drug Facts
dari MAO inhibitor. Dapat memicu krisis hipertensi.

Perhatian Kehamilan: Kategori B. anak-anak: kontraindikasi pada anak-anak <2th. Diare: A to Z Drug Facts
jangan berikan untuk diare yang berkaitan dengan organisme yang menembus
mukosa usus (salmonella, sigella).

Efek samping CV: Takikardia. SSP: Pusing; kantuk; sedasi; sakit kepala; rasa tidak enak; A to Z drug Facts
kelesuan; kegelisahan; euforia; depresi; mati rasa ekstremitas; kebingungan.
Derm: Pruritus; edema angioneurotic; urtikaria; kulit kering dan selaput lendir;
pembilasan. GI: Mulut kering; anoreksia; mual; muntah; ketidaknyamanan
perut; ileus paralitik; megakolon toksik; pankreatitis; sembelit. GU: retensi urin.
LAIN: Pembengkakan gusi; anafilaksis; hipertermia
2. Co-phenotrope
aspek Informasi obat pustaka

indikasi Tambahan untuk Rehidrasi pada diare akut. Kontrol konsistensi feses setelah BNF 61
kolostomi atau ileostomi.
kontraindikasi analgesik opioid harus dihindari pada pasien dengan depresi pernafasan akut dan BNF 61
ketika ada risiko dari ileus paralitik. Mereka juga kontra-ditunjukkan dalam kondisi
yang berhubungan dengan mengangkat tekanan intrakranial dan cedera kepala
(analgesik opioid mengganggu respon pupil penting bagi neurologis penilaian).
pasien koma tidak boleh diobati dengan analgesik opioid.
dosis Tablet, Co-phenetrope 2,5/0,025 (difenoksilat hidroklorida 2,5 mg, atropine sulfat 25 BNF 61
mikrogram), dosis awalnya 4 tablet kemudian 2 tablet setiap 6 jam sampai diare
terkontrol. ANAK 4-9 tahun 1 tablet 3 x sehari. 9-12 tahun 1 tablet 4 kali sehari. 12-
16 tahun 2 tablet 3 x sehari.

iinteraksi Antimuskarinik, analgesic opioid. BNF 61


perhatian Anak-anak sangat rentan overdosis dan observasi diperlukan setidaknya 48 BNF 61
jam setelah konsumsi.

Efek samping Nyeri perut, anoreksia, demam. BNF 61


Loperamid HCl
Mekanisme kerja
memperlambat motilitas usus, mempengaruhi air dan elektrolit pada tinja melalui
usus, menghambat gerak peristaltik, mengurangi volume feses, mengurangi
viskositas dan densitas feses, mengurangi pengeluaran cairan dan elektrolit.
aspek Informasi obat pustaka
indikasi Kontrol dan mengurangi gejala-gejala diare non-spesifik atau kronis akut; pengurangan A to Z Drug Facts
volume output ileostomy.

kontraindikas kolitis pseudomembran karena penggunaan antibiotik; diare akut yang terkait dengan A to Z Drug Facts
i organisme yang menembus dinding usus (misalnya, toksigenik Escherichia coli,
Salmonella, dan Shigella); kondisi di mana sembelit harus dihindari; diare berdarah;
demam; kolitis ulserativa akut (potensi megakolon toksik).

dosis Diare akut : A to Z Drug Facts


DEWASA: PO 4 mg diikuti oleh 2 tidak melebihi 16 mg / 24 jam. ANAK 8 TO 12 YR (>
30 KG): 2 mg tid. 6-8 YR (20 sampai 30 KG): bid 2 mg. 2 sampai 5 YR (13 sampai 20 KG)
Diare kronik :
DEWASA: PO 4 sampai 8 mg qd atau bid

interaksi Tak satu pun didokumentasikan A to Z Drug Facts


Efek samping SSP: Kelelahan; kantuk; pusing. Derm: Ruam. GI: Nyeri perut; distensi atau A to Z Drug Facts
ketidaknyamanan; sembelit; mual; muntah; mulut kering.
perhatian Kehamilan: Kategori B. Anak-anak: Tidak dianjurkan untuk anak-anak <2 tahun. Gunakan A to Z Drug Facts
dengan hati-hati pada anak-anak. kolitis ulserativa akut: Agen yang menghambat motilitas
usus atau menunda waktu transit usus dapat menyebabkan megacolon toksik. Hentikan jika
distensi abdomen atau gejala yang tak diinginkan lainnya terjadi. gangguan hati: koma
hepatik dapat diendapkan pada pasien dengan penyakit hepatorenal lanjut atau disfungsi
hati.
LACTO B
MEKANISME KERJA

Mencegah adesi patogen, kompetisi nutrien dan faktor pertumbuhan dengan patogen,
efek tropik yang baik bagi fungsi fisiologik dan integritas mukosa usus serta aktivitas
laktase diketahui dapat memperbaiki absorpsi dan membantu mengatasi kelainan yang
terjadi selama diare, sehingga mampu meminimalkan gangguan nutrisi yang terjadi.

Sari Pediatri, Vol. 8, No. 3 (Suplemen), Januari 2007


CARA PENGGUNAAN/PEMAKAIAN

Lacto B
Dapat dicampurkan kedalam susu atau dari buah
Dapat dicampurkan kedalam bubur atau makanan bayi
Dilarutkan dengan air minum
LACTO B
INDIKASI Gangguan pencernaan termasuk diare, penyakit DIH 17th
radang usus, dan infeksi gastrointestinal.
Menyeimbangkan bakteri flora normal pada saluran
pencernaan.

KONTRAINDIKASI hipersensitivitas untuk setiap komponen formulasi DIH 17th

Efek Samping 1. Asidosis metabolik (Martindale 36th ed


hal. 2372)

2. GI : Perut Kembung DIH 17 th Edition


INFORMASI KHUSUS

- Dapat diberikan bersamaan dengan makanan bayi, dan susu formula


(Pramudianto, 2009 ; Sukandar dkk.,2009).

-Dapat pula diberikan bersama susu, jus, ataupun air


(Wells, Barbara G. et al, 2009)
Pasien Assesment
• Alamat pasien?
• Keluhan apa yang diderita?
• Apa yang dilakukan untuk mengatasi keluhan sebelum ke dokter?
• Informasi apa yang diberikan oleh dokter?
• Riwayat alergi?
• Riwayat penyakit?
• Riwayat pengobatan?
DRP
Jenis DRP DRP yang ditemukan dalam Resep Penyelesaian
TERAPI NON FARMAKOLOGI
• Perbanyak minum air putih
• Menjaga kebersihan makanan dan minuman yang di konsumsi
• Cuci tangan dengan sabun sebelum makan
• Menghindari soda dan minuman tinggi kadar glukosa
• Menghentikan mengonsumsi makan yang padat dan susu
• Rehidrasi: mengganti cairan yang hilang sampai diarenya berhenti baik secara
intravena maupun oral contohnya minum oralit.
• Kurangi
makanan pedas, makanan berserat tinggi, dan kurangi jajan
sembarangan
• Perbanyak kosumsi permen atau gunakan lip ice untuk mencegah bibir kering

Anda mungkin juga menyukai