Teori dan Jenis Penyimpangan Sosial
Teori dan Jenis Penyimpangan Sosial
Robert K. Merton mengidentifikasi lima bentuk adaptasi perilaku terhadap situasi: 1) Konformitas, mengikuti cara dan tujuan masyarakat. Misal, seseorang bekerja keras untuk mendapatkan keberhasilan yang diakui masyarakat. 2) Inovasi, mengikuti tujuan dengan cara yang dilarang, seperti melakukan korupsi untuk memperoleh kekayaan. 3) Ritualisme, meninggalkan tujuan budaya namun tetap menjalankan cara yang ditetapkan, misalnya seseorang yang secara rutin bekerja tanpa mengejar kenaikan jabatan. 4) Retretisme, tidak mengikuti tujuan atau cara, contohnya pecandu narkoba yang menarik diri dari tuntutan sosial. 5) Pemberontakan, menciptakan struktur sosial baru, misalnya kelompok yang menolak kapitalisme dan mengadopsi sistem kolektif .
Penyimpangan negatif berdampak buruk terhadap sistem sosial karena pelakunya cenderung mengikuti nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan dapat mengganggu struktur sosial yang ada. Misalnya, kejahatan atau perilaku antisosial dapat menimbulkan gangguan ketertiban umum, meningkatkan rasa ketidakamanan, dan melemahkan kepercayaan antar individu dalam masyarakat. Ini dapat memicu respons dari kontrol sosial seperti penegakan hukum yang lebih ketat, tetapi juga dapat menumbuhkan ketidakpuasan terhadap otoritas jika tidak dikelola dengan baik .
Penyimpangan situasional merujuk pada perilaku menyimpang yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh situasional atau sosial yang ada di sekitar individu. Contohnya, tekanan dari kelompok sebaya atau situasi ekonomi yang buruk dapat memaksa individu untuk bertindak secara menyimpang dari norma-norma yang ada. Konsep ini menekankan bahwa bukan semata-mata kehendak individu, tetapi kekuatan eksternal yang memengaruhi keputusan untuk menyimpang .
Konformitas dianggap sebagai bentuk adaptasi yang paling diterima dalam masyarakat karena individu yang konformal mengikuti cara dan tujuan yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Ini mencerminkan penerimaan penuh dari norma-norma sosial dan memperkuat stabilitas serta keteraturan dalam masyarakat. Konformitas membantu dalam mempertahankan kohesi sosial dan mencegah terjadinya konflik yang timbul dari penyimpangan nilai-nilai .
Proses sosialisasi berperan penting baik dalam mencegah maupun menyebabkan perilaku menyimpang. Sosialisasi yang sempurna memperkenalkan individu kepada norma-norma yang diterima dan memfasilitasi konformitas kepada nilai-nilai sosial. Sebaliknya, sosialisasi yang tidak sempurna atau sosialisasi subkebudayaan menyimpang dapat memperkenalkan norma-norma bertentangan dengan masyarakat umum, sehingga meningkatkan kemungkinan perilaku menyimpang berkembang, karena individu belajar dan menginternalisasi norma menyimpang dari lingkungannya .
Menurut teori pelabelan Edwin M. Lemert, ada dua jenis penyimpangan: penyimpangan primer dan sekunder. Penyimpangan primer adalah perilaku menyimpang yang pelakunya masih dapat diterima secara sosial, sementara penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang tidak dapat ditolerir oleh masyarakat. Teori ini menekankan bahwa labelisasi oleh masyarakat dapat mempengaruhi apakah suatu perilaku dianggap menyimpang atau tidak .
Teori asosiasi diferensial oleh Edwin H. Sutherland menjelaskan bahwa perilaku menyimpang bersumber dari pergaulan dengan orang-orang yang berperilaku menyimpang. Perilaku ini dipelajari melalui proses alih budaya, di mana seseorang mempelajari suatu budaya menyimpang melalui interaksi dengan kelompok sosial yang memiliki nilai-nilai menyimpang .
Penyimpangan individu adalah ketika seorang individu melakukan tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku secara pribadi, sedangkan penyimpangan kelompok melibatkan tindakan menyimpang yang dilakukan bersama-sama oleh sekelompok orang. Penyimpangan kelompok biasanya dipengaruhi oleh kekuatan situasional atau sosial yang lebih besar yang memaksa individu untuk berbuat menyimpang bersama kelompoknya .
Inovasi, sebagai bentuk dari perilaku menyimpang, dapat berdampak positif bagi sistem sosial karena mengandung unsur kreativitas dan memperkaya alternatif dalam cara pandang atau bertindak. Misalnya, inovasi dalam teknologi yang awalnya dianggap menyimpang atau tidak lazim dapat menjadi terobosan yang mendorong kemajuan ekonomi dan sosial, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat .
Penyimpangan sistematik dibedakan dari penyimpangan lainnya dengan adanya organisasi sosial khusus yang memiliki status formal, peranan, nilai-nilai, norma, dan moral tertentu yang berbeda dari situasi umum dalam masyarakat. Berbeda dengan penyimpangan individu atau situasional yang mungkin berbasis kejadian atau tekanan eksternal, penyimpangan sistematik diorganisir dan terstruktur, serta sering kali melibatkan perubahan berkelanjutan dalam norma dan nilai kelompok .