ELECTROCONVULSIVE
THERAPY (ECT)
ECT
ECT Electroconvulsive therapy didefinisikan sebagai suatu
tindakan terapi untuk episode depresi berat, mania dan
beberapa jenis skizofrenia yang parah dengan menggunakan
aliran listrik singkat dalam jumlah terkendali untuk
menghasilkan kejang. Aktivitas kejang ini diyakini membawa
perubahan biokimia tertentu yang dapat mengurangi atau
bahkan menghilangkan gejala.
METODE
ECT dilakukan dengan cara memberikan aliran listrik pada
otak melalui 2 elektrode yang ditempatkan pada bagian
temporal kepala. Aliran tersebut akan menimbulkan kejang-
kejang seperti kejang yang terjadi pada epilepsi granmal.
SEJARAH PERKEMBANGAN ECT
Teori Antagonisme
Teori-teori awal Biologi
01 02
Terapi Kejutan Insulin Induksi Kejang
(Insulin Shock therapy) 03 04 dengan tenaga listrik
Perbaikan dalam
05 Anestesiologi
Terapi Kejutan Insulin
(Insulin Shock Therapy)
Manfred Sakel, seorang dokter dari Viennese
pada tahun 1920.
Dia membuktikan dengan fakta-fakta terapi
insulin bagi penderita skizofrenia.
Insulin diberikan pada pasien untuk
menginduksi suatu keadaan hipoglikemik.
Induksi Kejang Dengan
Arus Listrik
Pada tahun 1937, dokter dari Italian Ugo Cerletti & Franscisco Bini menggunakan aliran listrik yang
diletakkan pada kepala untuk menginduksi kejang terapeutik.
Pasien pertama yang mempunyai gejala katatonia dan dia membaik.
Lebih aman daripada induksi kejang dengan menggunakan zat kimia.
Diterima secara luas di seluruh Eropa dan Amerika.
Perbaikan-perbaikan
dalam Anestesiologi
Pada periode awal Penggunaan Curare, sebagai Pada tahun
komplikasi seperti fraktur perelaksasi otot, oleh 1951”suxamethonium”
tulang dan pasien merasa Bennett pada 1940 membuat digunakan secara luas untuk
tak nyaman . paralisis sempurna pada memodifikasi penggunaan
pasien selama kejang. ECT dengan bantuan
anestesi ringan yang
biasanya untuk menghindari
rasa takut pasien dan
menghindari efek tercekik /
tersumbatnya jalan nafas
Prinsip Kerja
● ECT menginduksi kejang dengan pemberian arus listrik singkat
● Dahulu tanpa anastesi sekarang dibawah anestesi umum
● Atropin (untuk mengurangi sekresi)
● Depolarisasi relaksasi otot (succynilcholine)
● Pemberian rangsang listrik secara :
○ Bilateral
○ Unilateral
Application of electrodes
● Bilateral
Masing-masing elektroda ditempatkan pada 2,5-4 cm diatas titik tengah, pada
garis yang menghubungkan tragus dengan chantus lateral.
● Unilateral
Elektroda hanya ditempatkan pada satu sisi kepala, biasanya sisi yang tidak
dominan. ECT unilateral biasanya lebih aman karena efek sampingnya jauh lebih
sedikit.
Parameter arus listrik
Dosis standar menurut American Psychiatric Association
● Voltage: 70-120 volts
● Duration: 0,7-1,5 seconds
Indikasi ECT
Depresi Berat (kerja lebih cepat, aman, mungkin
lebih efektif dari trisiklik)
Gangguan Afektif Bipolar (depresi, manik dan
campuran)
Schizophrenia (afektif dan katatonik)
Katatonia
Indikasi Lain
Status
Parkinsonisme
epilepticus
Neuroleptic Gangguan
Malignant obsesif-
syndrome kompulsif
Kontraindikasi ECT
pemeriksaan pre
ECT
• Pemeriksaan fisik
• laboratorium
• EKG
• Thorax photo
• EEG
evaluasi pre ECT
1. RIWAYAT
• hipertensi
• cedera muskuloskeletal
• osteoporosis 2. PERSIAPAN PASIEN
• antipsikotik • informed consent
• lithium • Puasa (4-6 jam sebelum ECT)
• antidepresan trisiklik
• reserpine atau
• antikolinesterase
PROSEDUR
obat-obatan tipe stimulasi elektrik posisi elektroda
• Antikolinergik • Sine waves
• Anestesi • Brief pulse
• methohexital
• ketamine • Bilateral
• propofol • Unilateral
• Muscle relaxant
• succinylcholine
• curare
Frekuensi
● Biasanya 2 sd. 5 x / minggu
● Terapi segera dihentikan sesudah tampak
kemajuan klinis
CARA PENGGUNAAN
periksa tanda vital induksi kejang
berikan stimulasi
pasang elektroda
elektrik
bebaskan jalan nafas berikan penahan
dan alat bantu gigitan
anestesi ventilasi
muscle relaxant
monitoring
EKG EEG
Komplikasi
Kategori 1
Kategori ini adalah risiko kesehatan dan fisik, termasuk reaksi negatif
terhadap obat anestesi dan obat relaksasi otot, komplikasi kardiovaskular,
trauma fisik, nyeri, ketidaknyamanan, kejang berkepanjangan dan kematian.
Kategori 2
Kategori ini adalah risiko disfungsi kognitif dan memori (bersifat sementara
dan membaik dalam waktu 6 bulan setelah ECT).
Kategori 3
Kategori ini adalah risiko kerusakan pada alat ect, dimana kualitas alat TEK
yang digunakan harus memenuhi Standard International Elektrotechnical
Commision.
Kesimpulan
● ECT efektif dalam berbagai gangguan jiwa seperti
depresi, mania, skizofrenia terutama katatonia,
tetapi tetap menjadi isu yang belum terselesaikan
bagaimana mekanisme kerja ECT pada setiap
gangguan jiwa tersebut.
● Keberhasilan dari ECT secara klinis tergantung
dari kualitas aktivitas kejang yang dibangkitkan.
● Dokter harus menggunakan ECT secara bijaksana
dan berhati-hati untuk meminimalkan risiko
sebanyak mungkin.
LINK VIDEO
[Link]
w?usp=sharing
Thank
You
CREDITS: This presentation template was created by
Slidesgo, and includes icons by Flaticon, and
infographics & images by Freepik
Please keep this slide for attribution