0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan18 halaman

Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL)

Dokumen tersebut membahas tentang Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) yang digunakan untuk mengatasi heterogenitas materi percobaan yang tidak beraturan. RBSL memiliki dua arah pengelompokan yaitu horizontal (baris) dan vertikal (lajur) dengan jumlah taraf perlakuan sama dengan jumlah ulangan, baris, dan lajur. RBSL umumnya digunakan pada percobaan lapangan terbuka.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan18 halaman

Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL)

Dokumen tersebut membahas tentang Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) yang digunakan untuk mengatasi heterogenitas materi percobaan yang tidak beraturan. RBSL memiliki dua arah pengelompokan yaitu horizontal (baris) dan vertikal (lajur) dengan jumlah taraf perlakuan sama dengan jumlah ulangan, baris, dan lajur. RBSL umumnya digunakan pada percobaan lapangan terbuka.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RANCANGAN

BUJUR SANGKAR LATIN


(RBSL)
Dasar Filosofis Penggunaannya
Pada RAK, pengacakan dilakukan satu arah yakni
arah horizontal atau arah vertikal. Hal ini dilakukan
karena penyebab heterogenitas materi percobaan
sudah dapat diketahui.
Apabila heterogenitas materi percobaan tidak
diketahui dengan pasti atau tidak beraturan, maka
pengacakan satu arah tidak akan mampu
menurunkan galat percobaan sehingga tujuan
percobaan tidak tercapai.
Untuk mengatasi kendala heterogenitas materi
percobaan yang tidak beraturan tersebut,
digunakan rancangan lain yakni Rancangan
Bujur Sangkar Latin (RBSL)
Rancangan Bujur Sangkar Latin adalah
rancangan dasar dengan dua arah
pengelompokan yakni arah horizontal (baris) dan
arah vertikal (lajur).
RBSL umumya digunakan pada percobaan
lapangan terbuka.
PERSYARATAN RBSL

Jumlah taraf perlakuan = jumlah ulangan =


jumlah baris = jumlah lajur.
Salah satu diagonal “RBSL Dasar” ditempati
oleh perlakuan yang sama.
Setiap baris dan lajur berisi perlakuan
lengkap dan tidak terdapat perlakuan yang
sama.
Sistem Acak (Random) & Lay Out

Sistem acak (random) pada RBSL adalah sistem


acak terbatas atau disebut juga sistem acak dengan
menggunakan baris dan lajur sebagai pembatasan
dalam pengacakan.
Setiap plot percobaan dalam satu baris dan lajur
memiliki peluang yang sama besar untuk menerima
perlakuan.
Prosedur peletakan perlakuan pada setiap plot
percobaan pada RBSL :
1. Tentukan salah satu RBSL Dasar berdasarkan jumlah taraf
perlakuan yang diuji
2. Lakukan pengacakan baris
3. Susun hasil acak baris di setiap plot percobaan
4. Hasil Acak baris selanjutnya dilakukan pengacakan
berdasarkan lajur.
5. Susun hasil acaknya, dan hasil ini merupakan hasil acak
baris dan lajur.
MODEL TABEL PENGAMATAN
Lajur
Rataan
Baris 1 2 3 4 Total Baris
Baris

1 Y11 Y21 Y31 Y41 Y.1 Ῡ.1


(V1) (V3) (V2) (V4)
2 Y12 Y22 Y32 Y42 Y.2 Ῡ.2
(V4) (V1) (V3) (V2)
3 Y13 Y23 Y33 Y43 Y.3 Ῡ.3
(V2) (V4) (V1) (V3)
4 Y14 Y24 Y34 Y44 Y.4 Ῡ.4
(V3) (V2) (V4) (V1)
Total Lajur Y1. Y2. Y3. Y4. Y.. -
Rat. Lajur Ῡ1. Ῡ2. Ῡ3. Ῡ4. - Ῡ..
Model Linier Additif RBSL

Yijk = μo + ρi + αj + βk + Єijk
dimana :
i = 1, 2, 3, 4, ........, l
j = 1, 2, 3, 4, ........, b
k = 1, 2, 3, 4, ........, t
t = jumlah taraf perlakuan (treatment)
l = jumlah lajur
b =jumlah baris
Model Tabel ANOVA RBSL

SK dB JK KT [Link] F.05 F.01


Nilai Tengah 1 JK NT - - - -
Lajur l–1 JK l JK l/dB l KT l/KT G (dB l ; dB G)
Baris b-1 JK b JK b/dB b KT b/KT G (dB b ; dB G)
Perlakuan t-1 JK P JK P/dB P KT P/KT G (dB P ; dB G)
Galat (l-1)(b-2) JK G JK G/dB G - - -
Total lxb JK T - - - -
Metode Analisis Data
Analisis data percobaan dilakukan dengan menghitung
Jumlah Kuadrat (JK) masing-masing sumber keragaman.
Caranya sebagai berikut :
JK NT (FK) = (Y..)²/(t x r)
JK Total = Y11² + Y21² + ... + Y41² + ... + Y44²
JK Lajur = [(Y1.² + Y2.² + Y3.² + Y4.²)/b] – JK NT (FK)
JK Baris = [(Y.1² + Y.2² + Y.3² + Y.4²)/l] – JK NT (FK)
JK Perlakuan = [(Yt1² + Yt2² + Yt3² + Yt4²)/r] – JK NT (FK)
JK Galat = JK Total - JK NT (FK) - JK Perlk – JK l – JK b
Koefisien Keragaman (KK)
Koefisien Keragaman (KK) menunjukkan tingkat ketepatan
(akurasi) percobaan atas perlakuan yag dibandingkan dan
menjadi indeks penentu baik tidaknya keadaan percobaan.
Semakin tinggi nilai KK, makin rendah keandalan percobaan
tersebut.
Besarnya Koefisien Keragaman ditentukan dengan
menggunakan rumus :
KK = (√KT G)/Ÿ..) x 100%
Pengujian Hipotesis
dan Penarikan Kesimpulan
Hipotesis adalah dugaan sementara atas jawaban masalah
yang akan diteliti dan harus diuji kebenarannya melalui
penelitian ilmiah.
Ada dua kemungkinan atas jawaban masalah tersebut,
boleh jadi dugaannya benar, dan boleh jadi pula dugaannya
tidak benar (artinya : ada hipotesis dan ada antitesis/
hipotesis tandingan).
Karena itu hipotesis diasumsikan ada dua, yakni :
H0 : μA1 = μA2 = μA3 = .. = μAt
H1 : μA1 ≠ μA2 ≠ μA3 ≠ .. ≠ μAt
Pengujian hipotesis dilakukan berdasarkan hasil yang diperoleh pada tabel
analisis ragam (ANOVA) :
Jika Fhit. Perlakuan < F.05, maka perlakuan dinyatakan “berpengaruh tidak
nyata” atau “tn” atau “ns”. Hal ini berarti bahwa tidak ada pengaruh antar taraf
perlakuan yang diuji terhadap parameter yang diamati. Dengan demikian, kita
menerima H0 dan menolak H1.
Jika F.05 ≤ Fhit. Perlakuan ≥ F.01, maka perlakuan dinyatakan “berpengaruh
nyata” atau *. Hal ini berarti bahwa paling sedikit ada satu perlakuan yang
berbeda dengan perlakuan lain yang dicobakan. Dengan demikian, kita
menolak H0 dan menerima H1 pada tingkat keyakinan 95%.
Jika Fhit. Perlakuan > F.01, maka perlakuan dinyatakan “berpengaruh sangat
nyata” atau **. Hal ini berarti bahwa terdapat paling sedikit ada satu perlakuan
yang sangat berbeda dengan perlakuan lain yang dicobakan. Dengan
demikian, kita menolak H0 dan menerima H1 pada tingkat keyakinan 99%.
KESIMPULAN
Penarikan kesimpulan harus berdasarkan hasil pengujian
hipotesis.
Karena itu, terhadap hubungan yang erat antara
perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan
kesimpulan.
TELADAN PENERAPAN

Pengujian 4 varietas padi (V1, V2, V3, dan V4) pada tanah yang memiliki
tingkat kesuburan yang bervariasi. Produksi keempat varietas padi tersebut
(ton/ha) disajikan pada tabel berikut :
Lajur Total Rataan
Baris
I II III IV Baris Baris
I A C B D
15,2 21,5 17,8 18,2 72,70 18,18
II D A C B
19,7 17,3 24,1 18,8 79,90 19,98
III B D A C
17,1 17,6 16,8 22,7 74,20 18,55
IV C B D A
21,9 16,5 18,3 17,4 74,10 18,53
Total Lajur 73,90 72,90 77,00 77,10 300,90 -
Rataan Lajur 18,48 18,23 19,25 19,28 - 18,81
Lakukan pengujian apakah keempat varietas padi tersebut
nyata berbeda produksinya
Apakah sistem pengacakan baris dan lajur tersebut mampu
mengefisiensikan hasil percobaan?
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai