0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan19 halaman

Ciri dan Penanganan Rabies pada Manusia

Rabies adalah penyakit infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat dan ditularkan melalui gigitan hewan penular seperti anjing, kucing, dan monyet. Gejalanya bervariasi mulai dari demam, sakit kepala, hingga hidrofobia dan kematian. Diagnosis didasarkan pada riwayat gigitan hewan dan gejala klinis. Penanganannya meliputi pembersihan luka, vaksinasi, dan suportif karena belum ada pengobatan spesifik.

Diunggah oleh

Diko Koestantyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan19 halaman

Ciri dan Penanganan Rabies pada Manusia

Rabies adalah penyakit infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat dan ditularkan melalui gigitan hewan penular seperti anjing, kucing, dan monyet. Gejalanya bervariasi mulai dari demam, sakit kepala, hingga hidrofobia dan kematian. Diagnosis didasarkan pada riwayat gigitan hewan dan gejala klinis. Penanganannya meliputi pembersihan luka, vaksinasi, dan suportif karena belum ada pengobatan spesifik.

Diunggah oleh

Diko Koestantyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

INFEKSI

RABIES
DEFINISI
• Rabies / penyakit anjing gila  penyakit infeksi akut pada sistem
saraf pusat (otak) karena virus rabies.
• Penyakit ini merupakan penyakit zoonosa (zoonosis): penyakit
infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia melalui pajanan
atau Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yaitu anjing, kera,
musang, anjing liar, kucing. Penularan rabies juga biasanya terjadi
melalui gigitan hewan yang telah terinfeksi, pencemaran luka
segar atau selaput lendir dengan saliva atau otak hewan yang telah
terinfeksi.
EPIDEMIOLOGI
• World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 memperkirakan bahwa
setiap tahun di dunia ini terdapat sekurang-kurangnya 50.000 orang meninggal
karena rabies. Rabies bisa terjadi disetiap musim atau iklim, dan kepekaan
terhadap rabies kelihatannya tidak berkaitan dengan usia, seks atau ras.
• Beberapa daerah di Indonesia yang saat ini masih tertular rabies sebanyak 16
propinsi: Pulau Sumatera (Sumatera Utara, SumateraBarat, Jambi, Bengkulu,
Sumatera Selatan, dan Lampung), Pulau Sulawesi(Gorontalo, Sulawesi Utara,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan SulawesiTenggara), Pulau Kalimantan
(Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, danKalimantan Timur) dan Pulau
Flores.
ETIOLOGI
• Virus rabies merupakan virus RNA familia Rhabdoviridae, genus
Lyssa.
• Virus berbentuk peluru dengan salah satu ujungnya berbentuk
kerucut dan pada potongan melintang berbentuk bulat atau
elips (lonjong). Virus tersusun dari ribonukleokapsid dibagian
tengah, membran selubung (amplop) di bagian luarnya dan
terdapat tonjoloan (spikes) yang jumlahnya lebih dari 500 buah.
Pada membran selubung (amplop) terdapat kandungan lemak
yang tinggi (glikoprotein). Virus berukuran panjang 180 nm,
diameter 75 nm, tonjolan berukuran 9 nm, dan jarak antara
spikes 4-5 nm.
• Virus peka terhadap sinar ultraviolet, zat pelarut lemak, alkohol
70%, yodium, fenol dan klorofrom. Virus juga akan mati dengan
deterjen, sabun, etanol 45%, solusi yodium. Virus dapat
bertahan hidup selama 1 tahun dalam larutan gliserin 50%.
Pada suhu 600ºC virus mati dalam waktu 1 jam dan dalam
penyimpanan kering beku (freezedried) atau pada suhu 40ºC
dapat tahan selama bebarapa tahun.
PATHOGENESIS RABIES
MASA INKUBASI
• Masa inkubasi virus rabies dari masuk melalu gigtan sampai timbul
gejala klinis berkisar antara 2 minggu sampai 2 tahun (umunya 3-8
minggu). Menurut WHO rata-rata 30-90 hari.
• Variasi masa inkubasi bisa tergantung oleh letak luka gigitan  semakin
dekat dengan otak seperti di atas bahu, gejala klinis akan cepat timbul,
juga kedalaman luka, jenis virus dan jumlah virus yang masuk.
• Faktor pengaruh lain: daya tahan tubuh penderita, virulensi virus, banyak
gigitan, gigitan terdapat pada wajah (dekat dengan medulla oblongata
dan banyak mengandung saraf yang halus dan kecil)
GEJALA KLINIS
• Hewan
a. Stadium Prodromal
• Berlangsung antara 2-3 hari  terlihat adanya perubahan temperamen yang masih ringan: Hewan mulai
mencari tempat-tempat yang dingin/gelap, menyendiri, reflek kornea berkurang, pupil melebar dan hewan
terlihat tak acuh terhadap tuannya. Hewan menjadi sangat perasa, mudah terkejut dan cepat berontak bila ada
provokasi  perubahan perilaku mulai diikuti oleh kenaikan suhu badan.
[Link] Eksitasi
• Berlangsung selama 3-7 hari  Hewan mulai garang, menyerang hewan lain ataupun manusia yang dijumpai
dan hipersalivasi. Dalam keadaan tidak ada provokasi hewan menjadi murung terkesan lelah dan selalu
tampak seperti ketakutan. Hewan mengalami fotofobia atau takut melihat sinar sehingga bila ada cahaya
akan bereaksi secara berlebihan dan tampak ketakutan.
c. Stadium Paralisis
• Berlangsung secara singkat  sulit untuk dikenali atau bahkan tidak terjadi dan langsung berlanjut pada
kematian  Hewan mengalami kesulitan menelan, suara parau, sempoyongan, akhirnya lumpuh dan mati.
GEJALA KLINIS
• Manusia
a. Stadium Prodromal
• Gejala awal yang terjadi adalah perasaan gelisah, demam, malaise, mual, sakit kepala, gatal, merasa seperti
terbakar, kedinginan, kondisi tubuh lemah dan rasa nyeri di tenggorokan selama beberapa hari.
b. Stadium Sensoris
• Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka kemudian disusul dengan
gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap ransangan sensoris.
c. Stadium Eksitasi
• Tonus otot-otot akan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala berupa eksitasi atau ketakutan
berlebihan, rasa haus, ketakutan terhadap rangsangan cahaya, tiupan angin atau suara keras. Penderita
menjadi bingung, gelisah, dan rasa tidak nyaman. Kebingungan menjadi semakin hebat dan berkembang
menjadi argresif, halusinasi, dan selalu ketakutan. Tubuh gemetar atau kaku kejang.
[Link] Paralisis
• Gejala tidak khas, terdapat monoplegi atau paraplegi flaksid, kematian karena kelumpuhan otot nafas.
DIAGNOSIS
• Anamnesis
• Keluhan pasien sesuai dengan stadium klinis rabies yang disertai
dengan riwayat tergigit, tercakar atau kontak dengan anjing, kucing,
atau binatang lainnya yang :
• Positif rabies (hasil pemeriksaan otak hewan tersangka).
• Mati dalam waktu 10 hari sejak menggigit bukan dibunuh).
• Tak dapat diobservasi setelah menggigit (dibunuh, lari, dan sebagainya).
• Tersangka rabies (hewan berubah sifat, malas makan, dan lain-lain).
DIAGNOSIS
• Pemeriksaan Fisik
• Pada saat pemeriksaan, luka gigitan mungkin sudah sembuh bahkan mungkin telah
dilupakan.
• Pada pemeriksaan dapat ditemukan gatal dan parestesia pada luka bekas gigitan yang sudah
sembuh (50%), mioedema (menetap selama perjalanan penyakit).
• Jika sudah terjadi disfungsi batang otak maka terdapat: hiperventilasi, hipoksia, hipersalivasi,
kejang, disfungsi saraf otonom, sindroma abnormalitas ADH, paralitik/paralisis flaksid.
• Pada stadium lanjut dapat berakibat koma dan kematian.
• Tanda patognomonis
• Encephalitis Rabies: agitasi, kesadaran fluktuatif, demam tinggi yang persisten, nyeri pada
faring terkadang seperti rasa tercekik (inspiratoris spasme), hipersalivasi, kejang, hidrofobia
dan aerofobia.
DIAGNOSIS
• Pemeriksaan Penunjang
• Hasil pemeriksaan laboratorium kurang bermakna
KRITERIA DIAGNOSIS
• Diagnosis ditegakkan dengan riwayat gigitan (+) dan hewan yang
menggigit mati dalam 1 minggu.
• Gejala fase awal tidak khas: gejala flu, malaise, anoreksia,
kadang ditemukan parestesia pada daerah gigitan.
• Gejala lanjutan: agitasi, kesadaran fluktuatif, demam tinggi yang
persisten, nyeri pada faring terkadang seperti rasa tercekik
(inspiratoris spasme), hipersalivasi, kejang, hidrofobia dan
aerofobia.
DIAGNOSIS BANDING
• Penderita rabies harus dibedakan dengan rabies histerik: suatu reaksi psikologik
orang-orang yang terpapar dengan hewan yang diduga mengidap rabies. Penderita
dengan rabies histerik akan menolak jika diberikan minum (pseudohidropobia)
sedangkan pada penderita rabies sering merasa haus.
• Tetanus dapat dibedakan dengan rabies melalui masa inkubasinya yang pendek,
adanya trismus, kekakuan otot yang persisten diantara spasme, status mental
normal, cairan serebrospinal biasanya normal dan tidak terdapat hidropobia.
• Ensefalitis dapat dibedakan dengan metode pemeriksaan virus dan tidak dijumpai
hidrofobia.
• Intoksikasi Obat-obatan
TATA
LAKSANA
TATA LAKSANA RABIES
BERDASARKAN PERDOSSI
• Isolasi pasien penting segera setelah diagnosis ditegakkan untuk menghindari
rangsangan-rangsangan yang bisa menimbulkan spasme otot ataupun untuk mencegah
penularan.
• Fase awal: Luka gigitan harus segera dicuci dengan air sabun (detergen) 5-10 menit
kemudian dibilas dengan air bersih, dilakukan debridement dan diberikan desinfektan
seperti alkohol 40-70%, tinktura yodii atau larutan ephiran, Jika terkena selaput lendir
seperti mata, hidung atau mulut, maka cucilah kawasan tersebut dengan air lebih lama;
pencegahan dilakukan dengan pembersihan luka dan vaksinasi.
• Fase lanjut: tidak ada terapi untuk penderita rabies yang sudah menunjukkan gejala
rabies, penanganan hanya berupa tindakan suportif dalam penanganan gagal jantung dan
gagal nafas.
TATA LAKSANA RABIES
BERDASARKAN PERDOSSI
• Pemberian Serum Anti Rabies (SAR) Bila serum heterolog (berasal dari serum kuda) Dosis 40 IU/ kgBB disuntikkan
infiltrasi pada luka sebanyak- banyaknya, sisanya disuntikkan secara IM. Skin test perlu dilakukan terlebih dahulu.
Bila serum homolog (berasal dari serum manusia) dengan dosis 20 IU/ kgBB, dengan cara yang sama.
• Pemberian serum dapat dikombinasikan dengan Vaksin Anti Rabies (VAR) pada hari pertama kunjungan.
• Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dalam waktu 10 hari infeksi yang dikenal sebagai post-exposure prophylaxis
atau “PEP”VAR secara IM pada otot deltoid atau anterolateral paha dengan dosis 0,5 ml pada hari 0, 3, 7,14, 28
(regimen Essen atau rekomendasi WHO), atau pemberian VAR 0,5 ml pada hari 0, 7, 21 (regimen
Zagreb/rekomendasi Depkes RI).
• Pada orang yang sudah mendapat vaksin rabies dalam waktu 5 tahun terakhir, bila digigit binatang tersangka
rabies, vaksin cukup diberikan 2 dosis pada hari 0 dan 3, namun bila gigitan berat vaksin diberikan lengkap.
• Pada luka gigitan yang parah, gigitan di daerah leher ke atas, pada jari tangan dan genitalia diberikan SAR 20
IU/kgBB dosis tunggal. Cara pemberian SAR adalah setengah dosis infiltrasi pada sekitar luka dan setengah dosis IM
pada tempat yang berlainan dengan suntikan SAR, diberikan pada hari yang sama dengan dosis pertama SAR.
EDUKASI
• Keluarga ikut membantu dalam halpenderita rabies yang sudah
menunjukan gejala rabies untuk segera dibawa untuk penanganan
segera ke fasilitas kesehatan. Pada pasien yang digigit hewan
tersangka rabies, keluarga harus menyarankan pasien untuk
vaksinasi.
• Laporkan kasus Rabies ke dinas kesehatan setempat.
PROGNOSIS
• Prognosis pada umumnya dapat buruk, karena kematian dapat
mencapai 100% apabila virus rabies mencapai SSP.
• Prognosis selalu fatal karena sekali gejala rabies terlihat,
hampir selalu kematian terjadi dalam 2-3 hari sesudahnya
sebagai akibat gagal napas/henti jantung. Jika dilakukan
perawatan awal setelah digigit anjing pengidap rabies, seperti
pencucian luka, pemberian VAR dan SAR, maka angka survival
mencapai 100%.

Anda mungkin juga menyukai