BIOSENSOR
SILABUS :
• PENDAHULUAN DAN PENGANTAR
•DEFINISI DAN PENGERTIAN
•SEJARAH PERKEMBANGAN
BIOSENSOR
•BIOLOGYCAL AND CHEMICAL
COMPONENTS FOR SENSORS
•IMMOBILIZATION METHODS
•KAJIAN JURNAL BIOSENSOR
BIOSENSOR
Biosensor kimia : alat pengukuran yang
menggunakan reaksi kimia dan biologi untuk
mendeteksi kuantitas analat yang spesifik atau
suatu proses reaksi.
Latar Belakang :
• Adanya kendala analisis secara konvensional
(dengan spektrofotometer misalnya) : warna,
kepekatan, efisiensi waktu.
•Penggunaan biosensor menjadi sangat signifikan
•Dengan biosensor dapat memonitor jalannya /
mekanisme reaksi analisis
Aplikasi sensor yang paling sering kita
jumpai adalah pintu otomatis yang
terdapat di pusat-pusat perbelanjaan. Pintu
akan terbuka dan tertutup secara otomatis
apabila ada orang yang lewat.
Contoh lainnya adalah detektor logam
yang terdapat pada bandara udara,
ataupun detektor asap yang terdapat
dalam perkantoran.
Secara umum, sensor sebenarnya dibedakan
menjadi dua jenis yaitu sensor fisika dan sensor
kimia.
Sensor fisika lebih kepada kemampuannya untuk
mendeteksi kondisi besaran fisika seperti tekanan,
gaya, tinggi permukaan air laut, kecepatan angin,
dan sebagainya.
Sensor kimia merupakan alat yang mampu
mendeteksi fenomena kimia seperti komposisi gas,
kadar keasaman, susunan zat suatu bahan makanan,
dan sebagainya. Termasuk ke dalam sensor kimia
ini adalah biosensor.
Dewasa ini, biosensor telah banyak diteliti dan
dikembangkan oleh para peneliti dan industri, dan
dalam dunia biosensor research, topik yang sedang
berkembang sekarang ini adalah biosensor yang
berbasis DNA (genosensor).
Biosensor sendiri didefinisikan sebagai suatu
perangkat sensor yang menggabungkan
senyawa biologi dengan suatu tranduser.
Dalam proses kerjanya senyawa aktif biologi
akan berinteraksi dengan molekul yang akan
dideteksi yang disebut molekul sasaran.
Hasil interaksi yang berupa besaran fisik
seperti panas, arus listrik, potensial listrik
atau lainnya akan dimonitor oleh transduser.
Besaran tersebut kemudian diproses sebagai
sinyal sehingga diperoleh hasil yang dapat
dimengerti.
Biosensor yang pertama kali dibuat adalah sensor
yang menggunakan transduser elektrokimia yaitu
elektroda enzim untuk menentukan kadar glukosa
dengan metode amperometri.
Sejauh ini, biosensor dalam perkembangannya
mempunyai tiga generasi yaitu
generasi pertama; dimana biosensor
berbasis oksigen,
generasi kedua; biosensor menjadi lebih spesifik
yang melibatkan “mediator” diantara reaksi dan
transduser
generasi ketiga; dimana biosensor
berbasis enzyme coupling.
Untuk produk-produk komersial dari teknologi biosensor,
sekarang ini telah banyak diperjualbelikan.
Biosensor eksternal/internal dalam bentuk chip bahkan telah
diproduksi oleh perusahaan Amerika i-Stat, MicroChips,
Digital Angel, VeriChip yang dapat ditanam dalam tubuh
manusia.
Beberapa Perusahaan Jepang pun turut berpartisipasi, seperti
Matsushita Electric Industrial Co. dengan teknologi
biosensornya yang mampu menetapkan secara cepat dan
mudah pengukuran kolesterol darah.
Tokyo Medical and Dental University dengan biosensor
nafasnya yang memanfaatkan enzim monoamine oksidase A
(MAO A) dan lain sebagainya. Tetapi secara umum untuk
penguna biosensor, hampir 60% pengunanya berasal
dari health-care industri.
Prinsip Kerja Biosensor
Pada dasarnya biosensor terdiri dari tiga unsur yaitu unsur
biologi (reseptor biologi), transduser, dan sistem elektronik
pemroses sinyal.
Unsur biologi yang umumnya digunakan dalam mendesain
suatu biosensor dapat berupa enzim, organel, jaringan,
antibodi, bakteri, jasad renik, dan DNA.
Unsur biologi ini biasanya berada dalam bentuk
terimmobilisasi pada suatu transduser.
Immobilisasi sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara
baik dengan (1) adsorpsi fisik, (2) dengan menggunakan
membran atau perangkap matriks atau (3) dengan
membuat ikatan kovalen antara biomolekul dengan
transduser.
Untuk transduser, yang banyak digunakan dalam
suatu biosensor adalah transduser elektrokimia,
optoelektronik, kristal piezoelektronik, field
effect transistor dan temistor.
Prosesyang terjadi dalam transduser dapat
berupa calorimetric biosensor, potentiometric
biosensor, amperometric biosensor, optical biosen
sor maupun piezo-electric biosensor.
Sinyalyang keluar dari transduser ini kemudian di
proses dalam suatu sistem elektronik
misalnya recorder atau komputer.
Aplikasi Biosensor
Aplikasi biosensor pada dasarnya
meningkat seiring dengan berkembangnya
keperluan manusia dan kemajuan iptek.
Tetapi secara umum tetap didominasi
untuk aplikasi dibidang medis dan
lingkungan hidup. Beberapa bidang
aplikasi lainnya dapat dilihat pada tabel
berikut :
Bidang Kegunaan Biosensor
Aplikasi
Mengontrol penyakit : diabetes, kolesterol, jantung dll
Medis dan Diagnosis untuk : obat, metabolit, enzim, vitamin
Farmasi Penyakit infeksi, alergi.
Studi efisiensi obat
Kontrol polusi
Lingkungan Monitoring senyawa-senyawa toksik di udara, air, dan
Hidup tanah.
Penentuan BOD (biological oxygen demand)
Kimia Mengontrol kualitas makanan (mendeteksi kontaminasi
mikroba, menentukan kesegaran, analisis lemak, protein
dan karbohidrat dalam makanan.
Mendeteksi kebocoran, menentukan lokasi deposit minyak.
Mengecek kualitas udara di ruangan.
Penentuan parameter kualitas pada susu
Mengontrol kualitas tanah.
Pertanian Penentuan degradasi seperti biodegradable pada kayu dan
makanan.
Mendeteksi keberadaan pestisida
Mendeteksi zat-zat kimia dan biologi yang digunakan
Militer sebagai senjata perang (senjata kimia/biologi) seperti virus,
bakteri patogen, dan gas urat syaraf.
Potential Applications
• Clinical diagnostics
• Food and agricultural processes
• Environmental (air, soil, and water) monitoring
• Detection of warfare agents.
Application of Biosensor
Food Analysis
Study of biomolecules and their interaction
Drug Development
Crime detection
Medical diagnosis (both clinical and laboratory use)
Environmental field monitoring
Quality control
Industrial Process Control
Detection systems for biological warfare agents
Manufacturing of pharmaceuticals and replacement
organs
Di Indonesia penelitian di bidang biosensor telah
berkembang pesat. Tetapi kebanyakan penelitian di
bidang ini berhenti pada tahap publikasi ilmiah di
jurnal-jurnal atau seminar-seminar. Dan tidak sampai
menyentuh tahap paten/aplikasi untuk di
komersialisasikan.
Hal ini sangat di sayangkan, padahal penelitian para
ilmuwan Indonesia sangat aplikatif semisal tentang
penelitian pembuatan biosensor untuk mendeteksi
kadar alkohol atau daging hewan tertentu pada produk
makanan atau minuman, atau penelitian untuk
membuat biosensor yang mampu mendeteksi
pestisida, serta berbagai penelitian lainnya. Semuanya
ini berpotensi untuk dikembangkan.
Secara kualitatif, kebutuhan akan biosensor di
Indonesia sangat besar. Dan diperkirakan permintaan
biosensor di pasaran dunia akan selalu meningkat tiap
tahun.
Sebagai perbandingan, data statistik menunjukkan
untuk penjualan sensor di bidang non milter saja pada
tahun 2008 akan mencapai 50-51 miliar dolar AS. Hal
ini dari sisi ekonomis sangat mengiurkan.
Sehingga sudah seyogyanya para peneliti dan
pemerintah Indonesia memanfaatkan momentum
tersebut untuk dapat merintis dan mengembangkan
sistem sensor dengan kreatifitas, langkah dan
kebijakan yang lebih baik lagi.
Components of a Biosensor
Detector
Transduser: sensor and aktuator
Transduser adalah piranti yang mengkonversi sebuah sinyal dari salah
satu bentuk fisika menjadi sebuah sinyal bersesuaian yang memiliki
bentuk fisika berbeda. Bentuk fisika: Listrik, Optik, Mekanik,
Magnetik.
(Transduser adalah konverter atau modifier energi).
Sensor adalah piranti yang menerima dan merespon sinyal atau
stimulus.
Transduser: Sensor dan Aktuator
Sensor : transduser input (contoh, microphone)
Aktuator : transduser output (contoh, loudspeaker)
Sensor Fisika dan Sensor Kimia
Berdasarkan prinsip dan besaran yang diukur, sensor
diklasifikasikan dalam 2 kelompok:
Sensor Fisika, yaitu piranti yang digunakan untuk
pengukuran parameter-parameter fisis seperti
perpindahan (displacement), tekanan, temperatur,
dsb.
Sensor Kimia, adalah piranti pengukuran yang
memanfaatkan reaksi kimia untuk mendeteksi dan
mengkuantifikasi analit spesifik. Contoh, sensor
pH, sensor ion, dsb.
Sensor Biologi (Biosensor)
A biosensor is a device for the detection of an analyte
that combines a biological component with a
physicochemical detector component.
Biosensor Components:
the sensitive biological element (biological material (e.g. tissue,
microorganisms, organelles, cell receptors, enzymes, antibodies,
nucleic acids, etc), a biologically derived material or biomimic).
The sensitive elements can be created by biological engineering.
the transducer in between (associates both components)
the detector element (works in a physicochemical way; optical,
piezoelectric, electrochemical, thermometric, or magnetic.)
Biosensor is a part of chemical sensor
Pengukuran (Measurement)
Model Instrumen Sederhana
• Variabel observable X diperoleh dari measurand
- X dikaitkan dengan measurand dalam beberapa cara yang diketahui (contoh,
mengukur massa)
• Sensor membangkitkan variabel sinyal yang dapat dimanipulasi:
- Processed, transmitted or displayed
• Pada contoh diatas, sinyal dikirim ke display, dimana pengukuran dapat diambil .
Pengukuran
Proses membandingkan kuantitas yang tidak diketahui dengan sebuah standar
dari kuantitas yang sama (mengukur panjang) atau standar dari dua atau lebih
kuantitas-kuantitas terkait (mengukur kecepatan)
Pengukuran (Measurement)
Efektor Permukaan Transduser Amplifikasi/
Aktif Storage/
Prosesing
- Polimer -
- Enzim Elektrokimia
- Antibodi - Optik
- Reseptor - Elektronik Output
- dsb. - Termal
- Mekanik
Kontrol
Hubungan antara variabel pengukuran fisika (X) dan
variabel sinyal (S)
==> Sensor atau instrumen dikalibrasi dengan menerapkan sejumlah
input fisika yang diketahui dan merekam respon sistem tersebut.
Input Tambahan
Mencampurkan Input (Interfering inputs (Y))
- Those that the sensor to respond as the linear superposition with the
measurand variable X
- Linear superposition assumption: S(aX+bY)=aS(X)+bS(Y)
Memodifikasi Input (Z)
- Those that change the behavior of the
sensor and, hence, the calibration curve
- Temperature is a typical modifying input
Karakteristik Sensor
Karakteristik Statik
Sifat-sifat sistem setelah semua efek transien telah disetel terhadap keadaan akhir
atau keadaan stedi
- Akurasi
- Diskriminasi (Resolusi)
- Presisi
- Kesalahan
- Drift
- Sensitivitas
- Linearitas
- Histeresis (backslash)
Karakteristik Dinamik
Sifat-sifat respon transien sistem terhadap input
- Zero order systems
- First order systems
- Second order systems
Akurasi dan Diskriminasi
Akurasi adalah kapasitas sebuah instrumen pengukuran untuk
memberikan HASIL mendekati TRUE VALUE dari kuantitas yang
diukur
- Akurasi terkait dengan bias suatu set pengukuran
- (IN)Akurasi diukur dengan kesalahan absolut dan relatif
ABSOLUTE ERROR = RESULT - TRUE VALUE
ABSOLUTE ERROR
RELATIVE ERROR = ------------------------
TRUE VALUE
Diskriminasi adalah perubahan minimal input yang diperlukan
untuk menghasilkan perubahan yang dapat dideteksi pada output
- Diskriminasi juga dikenal sebagai RESOLUSI
- Jika kenaikannya dari nol, disebut THRESHOLD
Presisi
Presisi adalah kapasitas sebuah instrumen pengukuran untuk
memberikan pembacaan yang sama ketika mengukur secara berulang
kuantitas yang sama pada kondisi yang sama.
• Presisi mengimplikasikan kecocokan (agreement) antara
pembacaan-pembacaan berurutan, BUKAN closeness terhadap nilai
sebenarnya.
- Presisi terkait dengan variance suatu set pengukuran.
• Presisi kebutuhan tetapi bukan kondisi sufficient untuk akurasi
Dua istilah yang terkait dekat dengan presisi
• Repeatability
- The precision of a set of measurements taken over a
short time interval
• Reproducibility
- The precision of a set of measurements BUT
- taken over a long time interval or
- Performed by different operators or
- with different instruments or
- in different laboratories
Akurasi dan Kesalahan
Systematic errors
Result from a variety of factors
• Interfering or modifying variables (i.e., temperature)
• Drift (i.e., changes in chemical structure or mechanical stresses)
• The measurement process changes the measurand (i.e., loading errors)
• The transmission process changes the signal (i.e., attenuation)
• Human observers (i.e., parallax errors)
Systematic errors can be corrected with COMPENSATION methods (i.e.,
feedback, filtering)
Random errors
Also called NOISE: a signal that carries no information
True random errors (white noise) follow a Gaussian distribution
Sources of randomness:
• Repeatability of the measurand itself (i.e., height of a rough surface)
• Environmental noise (i.e., background noise picked by a microphone)
• Transmission noise (i.e., 60Hz hum)
Signal to noise ratio (SNR) should be >>1
• With knowledge of the signal characteristics it may be possible to
interpret a signal with a low SNR (i.e., understanding speech in a loud
environment)
Karakteristik Statik Lainnya
Input range
The maximum and minimum value of the physical variable that can be measured
(i.e., -40F/100F in a thermometer)
Output range can be defined similarly
Sensitivity
The slope of the calibration curve y=f(x)
• An ideal sensor will have a large and constant sensitivity
Sensitivity-related errors: saturation and “dead-bands”
Linearity
The closeness of the calibration curve to a specified straight line (i.e., theoretical
behavior, least-squares fit)
Monotonicity
A monotonic curve is one in which the dependent variable always increases or
decreases as the independent variable increases
Hystheresis
The difference between two output values that correspond to the same input
depending on the trajectory followed by the sensor (i.e., magnetization in
ferromagnetic materials)
• Backslash: hystheresis caused by looseness in a mechanical joint
Karakteristik Dinamik
The sensor response to a variable input is different from that
exhibited when the input signals are constant (the latter is described
by the static characteristics)
The reason for dynamic characteristics is the presence of
energy-storing elements
Inertial: masses, inductances
Capacitances: electrical, thermal
Dynamic characteristics are determined by analyzing the
response of the sensor to a family of variable input waveforms:
Impulse, step, ramp, sinusoidal, white noise…
Sensor Piezoelektrik
Sensor Resistif
Sensor Induktif
Sensor Kapasitif
Rangkaian Jembatan
Pengukuran Perpindahan
Pengukuran Tekanan Darah
Father of the Biosensor
Professor Leland C Clark Jnr
1918–2005
History of Biosensors
1916 First report on immobilization of proteins : adsorption
of invertase on activated charcoal
1922 First glass pH electrode
1956 Clark published his definitive paper on the oxygen
electrode.
1962 First description of a biosensor: an amperometric
enzyme electrodre for glucose (Clark)
1969 Guilbault and Montalvo – First potentiometric
biosensor:urease immobilized on an
ammonia electrode to detect urea
1970 Bergveld – ion selective Field Effect Transistor
(ISFET)
1975 Lubbers and Opitz described a fibre-optic sensor with
immobilised indicator to measure carbon dioxide or
oxygen.
History of Biosensors
1975 First commercial biosensor ( Yellow springs
Instruments glucose biosensor)
1975 First microbe based biosensor, First immunosensor
1976 First bedside artificial pancreas (Miles)
1980 First fibre optic pH sensor for in vivo blood gases
(Peterson)
1982 First fibre optic-based biosensor for glucose
1983 First surface plasmon resonance (SPR)
immunosensor
1984 First mediated amperometric biosensor:
ferrocene used with glucose oxidase for
glucose detection
History of Biosensors
1987 Blood-glucose biosensor launched by
MediSense ExacTech
1990 SPR based biosensor by Pharmacia BIACore
1992 Hand held blood biosensor by i-STAT
1996 Launching of Glucocard
1998 Blood glucose biosensor launch by LifeScan
FastTake
1998 Roche Diagnostics by Merger of Roche and
Boehringer mannheim
Current Quantom dots, nanoparicles, nanowire,
nanotube, etc
Basic Characteristics of a
Biosensor
1. LINEARITY Linearity of the sensor should be high
for the detection of high substrate
concentration.
2. SENSITIVITY Value of the electrode response per
substrate concentration.
3. SELECTIVITY Chemicals Interference must be
minimised for obtaining the correct
result.
[Link] TIME Time necessary for having 95%
of the response.
Example of biosensors
Pregnancy test
Detects the hCG protein in urine.
Glucose monitoring device (for diabetes patients)
Monitors the glucose level in the blood.