HUBUNGAN ANTARA LAMA PUASA DENGAN KEJADIAN POST
OPERATIVE NAUSEA VOMITING PADA PASIEN PASCA GENERAL
ANESTESI DI RS BORNEO CITRA MEDIKA PELAIHARI
I WAYAN SURYAWIDANA
2213063AJ
• Terjadinya PONV bila tidak segera ditangani, dapat menyebabkan timbulnya masalah baru. PONV dapat
menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, hipertensi vena, perdarahan, reptur esofageal, dan dalam
keadaan dapat membuat pasien mengalami dehidrasi berat (Conway, 2009 dalam Supatmi & Agustiningsih,
2015). Selain itu, PONV juga menyebabkan stress post operasi dan kecenderungan malas latihan gerak atau
ambulasi dini pada pasien (Allen, 2004 dalam Supatmi & Agustiningsih, 2015). Dampak lebih lanjut dari PONV
apabila tidak ditangani maka dapat memperpanjang waktu perawatan, meningkatkan biaya perawatan dan dapat
menyebabkan peningkatan stressor (Buckle, 2007 dalam Supatmi & Agustiningsih, 2015). Oleh karena itu
perawat harus memahami dengan benar kondisi mual dan muntah yang dialami pasien dan bagaimana
penanganan untuk mencegah dampak lebih lanjut dari PONV
Berdasarkan pemahaman pada tinjauan pustaka, maka
kerangka teoritis hubungan lama anestesi dengan kejadian Post
Operative Nausea Vomiting pada pasien pasca general anestesi
dapat digambarkan sebagai berikut :
General Anestesi
Faktor risiko PONV:
1. Pasien :
a. Jenis kelamin
b. Usia
c. Obesitas
d. Riwayat migrain
e. Puasa preoperatif
f. Riwayat PONV atau
Motion Sickness Kejadian post operative nausea
and vomiting (PONV) pada pasien
g. Status perokok pasca general anestesi
2. Pembedahan:
a. Lokasi pembedahan
b. Lama pembedahan Kategori PONV :
c. Nyeri
3. Anestesi : 1. Early PONV (2-6 jam)
a. Penggunaan opioid 2. Late PONV (6-24 jam)
b. Penggunaan N2O
c. Agen inhalasi 3. Delayed PONV (>24 jam)
Gambar I. Kerangka Teori
Sumber : Gan, T.J., et al. (2014), Zainumi (2019), Mochtar
(2014), ASPAN(2016), Brunner and Suddarth (2020),
Fitrah (2014).
Variabel bebas Variabel terikat
Variabel penggangu
Faktor risiko PONV:
1. Pasien :
a. Jenis kelamin
b. Usia
c. Obesitas
d. Riwayat migrain
e. Riwayat PONV atau Motion Sickness
f. Status perokok
2. Pembedahan :
a. Lokasi pembedahan
b. Lama pembedahan
c. Nyeri
3. Anestesi :
a. Penggunaan opioid
b. Penggunaan N2O
c. Agen inhalasi
Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian
Keterangan :
: Diteliti
: Tidak diteliti
Dalam penelitian ini yang menjadi fokus pengamatan adalah lama
puasa dengan kejadian Post Operative Nausea Vomiting pada pasien
pasca general anestesi di RS Borneo Citra Medika Pelaihari. Penelitian
ini menggunakan desain penelitian cross sectional, yaitu merupakan
suatu bentuk penelitian dengan pengukuran variabel yang hanya
membutuhkan waktu yang relatif singkat, artinya sampel dilakukan
pengukuran variabel satu kali pada pemeriksaan atau pengkajian data
(Notoatmodjo, 2018).
Variabel Definisi Alat Ukur Skala Hasul Ukur
Operasional
Variabel Lama puasa yaitu Diperoleh Nominal 1. Puasa Adekuat
bebas: Lama jumlah waktu dengan (Pasien puasa 6-
Puasa puasa sebelum menanyakan 8 jam )
pemberian anestesi kapan jam 2. Puasa Tidak
pada pembedahan diinstruksikan Adekuat ( Pasien
untuk mencegah berpuasa, kapan puasa
terjadinya aspirasi >8jam)
makan dan
dari
minum terakhir
isi lambung yang
dapat saat di ruang
menimbulkan penerimaan
gagal nafas
Variabel Post Operative Lembar Nominal 1. Tidak PONV
terikat: Post Nause and observasi PONV (Skor 0 : tidak
Operative Vomiting (PONV) menurut Gordon mual dan
Nausea and adalah kejadian (2013) muntah)
Vomiting mual muntah
(PONV) setelah operasi 2. PONV (Skor 1
yang didapat di : mual saja.
ruang pemulihan Skor 2:
dan ruang muntah. Skor 3:
perawatan dengan mual ≥30 menit
cara monitoring dan muntah ≥2 kali)
setiap jam selama
6 jam pasca
operasi
• Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh pasien dewasa yang menjalani
tindakan general anestesi di ruang IBS RS Borneo Citra Medika Pelaihari dengan jumlah
populasi rata-rata 73 pada pasien remaja-dewasa dengan ASA I-II yang menjalani tindakan
general anestesi setiap bulannya
• Teknik penentuan sampel yang peneliti gunakan consecutive sampling, artinya semua subyek
yang datang berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai
jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro, 2014).
• Sampel penelitian adalah Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien dewasa yang
menjalani tindakan general anestesi di IBS RS Borneo Citra Medika Pelaijhari yang telah
memenuhi kriteria sebagai berikut :
• Kriteria Inklusi :
• Pasien jenis operasi elektif dengan general anestesi
• Pasien dengan usia 17 – 45 tahun
• Status fisik ASA I-II
• Kriteria Ekslusi
• Pasien pasca general anestesi dengan indikasi masuk ICU dikarenakan aspirasi pada saat di intraoperasi
• Pasien dengan riwayat PONV atau motion sickness
• Untuk membuktikan ada tidaknya hubungan tersebut, dilakukan Uji Korelasi Spearman
merupakan salah satu analisis nonparametrik untuk mengetahui kekuatan hubungan dari
dua variabel yang berskala ordinal. Pada penelitian ini pengolahan data menggunakan
program komputer pengolahan data statistik, yang nantinya akan diperoleh nilai . Nilai akan
dibandingkan dengan nilai α. Dasar penentu adanya hubungan penelitian berdasarkan pada
signifikan (nilai ) yaitu Nilai koefisien korelasi spearman memiliki rentang nilai dari -1 hingga
+1. Di mana, semakin nilainya mendekati -1 atau +1, maka semakin kuat hubungannya.
Secara umum, Menurut Notoatmodjo (2015) interpretasi untuk koefisien korelasi spearman
dapat mengikuti aturan berikut
• 0 ≤ |rs| < 0.19 → sangat lemah
0.2≤|rs|<0.39→ lemah
0.4≤|rs|<0.59→ sedang
0.6≤|rs|<0.79→ kuat
0.8 ≤ |rs| ≤ 1→ sangat kuat.
Karakteristik n % Variabel n %
Jenis Kelamin
Laki-laki 37 50,7 General Anestesi 73 100,0
Perempuan 36 49,3
Jumlah 73 100,0
Jumlah 73 100.0
Usia
17-25 tahun 24 32,9
Pada tabel 5.2 diatas menjelaskan bahwa responden berdasarkan
26-45 tahun 49 67,1
Tipe Anestesi General keseluruhannya berjumlah 73 orang
Jumlah 73 100,0 (100.0%)
Pada tabel 5.1 diatas menjelaskan bahwa responden berdasarkan
jenis kelamin yang terbanyak adalah laki-laki berjumlah 37
orang (50,7%). Sedangkan berdasarkan usia yang terbanyak
adalah 26-45 tahun berjumlah 49 orang (67,1%)
Variabel n % Variabel n %
Teknik Anestesi Status Fisik
Inhalasi 59 80,8 ASA I 44 60,3
TIVA 14 19,2 ASA II 29 39,7
Jumlah 73 100,0 Jumlah 73 100,0
Pada tabel 5.4 diatas menjelaskan bahwa
Pada tabel 5.3 diatas menjelaskan responden berdasarkan ASA yang terbanyak
bahwa responden berdasarkan Teknik adalah ASA I berjumlah 44 orang (60,3%)
Anestesi yang terbanyak adalah
Inhalasi yang berjumlah 59 orang
(80.8%
Variabel n % Variabel n %
Lama Puasa Kejadian PONV
PONV 34 46,6
Adekuat (6-8 jam) 61 83,6
Tidak adekuat (> 8 jam) 12 16,4 Tidak PONV 39 53,4
Jumlah 73 100,0
Jumlah 73 100,0
Pada tabel 5.6 diatas dapat
Pada tabel 5.5 diatas menjelaskan
bahwa responden berdasarkan Lama disimpulkan bahwa responden
Puasa yang terbanyak adalah Puasa
berdasarkan Kejadian PONV
Adekuat (6-8 jam) berjumlah 61
orang (83.6%) yang terbanyak adalah Tidak
PONV berjumlah 39 orang
(53.4%)
Kriteria PONV
Lama Puasa PONV Tidak PONV Total P Value
n % n % n %
Puasa Adekuat (6-8 jam) 25 41,0 36 59,0 61 83,55
Puasa Tidak Adekuat (> 8 jam) 9 75,0 3 25,0 12 16,45 0,031
Total 34 46,6 39 53,4 73 100,0
Pada tabel 5.6 diatas, menjelaskan bahwa hubungan lama puasa adekuat (6-8 jam)
dengan PONV berjumlah 25 orang (41.0%) sedangkan yang tidak PONV berjumlah 36
orang (59.0%). Adapun Lama puasa tidak adekuat (> 8 Jam) dengan kejadian PONV
berjumlah 9 orang (75.0 %) sedangkan yang tidak PONV berjumlah 3 orang (25.0%).
Berdasarkan hasil crosstab hubungan antara lama puasa dengan kejadian PONV
pada pasien pasca general anestesi di Rumah Sakit Borneo Citra medika terdapat
hubungan yang signifikan dengan nilai p=0.031
Berdasarkan sampel menurut umur responden, jumlah sampel terbanyak pada rentang umur 26 – 45 tahun (Masa
Remaja Akhir ) yaitu 67.1 % dari seluruh sampel. Penggologan rentang usia pada penelitian ini sesuai dari
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI, 2009). Terdapat hasil yang sedikit berbeda pada
penelitian yang dilakukan oleh Nurwakit di Rumah Sakit Tentara Slamet Riyadi Surakarta pada tahun 2015,
dimana rentang usia mayoritas pasien dengan rentang umur 30 – 40 tahun yaitu 29 orang (60,4%) dari
keseluruhan responden, dan terdapat kesamaan dimana hasil yang diperoleh sama- sama menunjukkan jumlah
sampel terbanyak berada dalam rentang usia produktif. Badan Pusat Statistika mendefinisikan bahwa usia
produktif adalah mereka yang berada dalam rentang usia 15-64 tahun (BPS, 2016). Badan Pusat Statistika
mengkategorikan usia produktif menjadi dua yakni usia sangat produktif (15-49 tahun) dan usia produktif (50-
64 tahun), dimana pada usia tersebut seseorang aktif bekerja dengan mobilitas relatif tinggi, sehingga akan
berdampak pada tingkat resiko atau hal-hal yang menyebabkan seseorang terkena penyakit yang memerlukan
proses operasi, misalnya dampak kecelakaan lalu lintas, akibat jatuh maupun kecelakaan kerja serta penyakit
yang lainnya.
Berdasarkan sampel menurut jenis kelamin responden, jumlah sampel terbanyak pada
jenis kelamin laki-laki yaitu 37 responden (50.7%) dari seluruh sampel. Terdapat hasil
yang sedikit berbeda pada penelitian yang dilakukan oleh Sholihah, Sikumbang dan
Husairi, (2015) yang mengatakan bahwa berdasarkan jenis kelamin menunjukkan
bahwa sebagian besar responden mayoritas yang berjenis kelamin perempuan, yaitu
16 orang atau sebesar 64%.
Berdasarkan sampel menurut tipe anestesi bedah responden yakni general anestesi,
jumlah sampel secara keseluruhan 73 responden (100.0%). Terdapat hasil yang sama
pada penelitian yang dilakukan Sholihah, Marwan dan Husairi (2015) yang
mengatakan bahwa sebagian besar pasien mengalami PONV mendapat tindakan
anestesi umum, yaitu 18 pasien (18.75%).
Berdasarkan sampel menurut teknik anestesi responden yang terbanyak adalah teknik anestesi
inhalasi berjumlah 59 (80.8%) responden. Terdapat hasil yang sama pada penelitian yang
dilakukan Saputri, Susilo & Istianah. (2017). yang mengatakan bahwa sebagian besar responden
mengalami PONV mendapat teknik anestesi inhalasi.
Berdasarkan sampel menurut status fisik ASA responden yakni general anestesi, jumlah
sampel yang terbanyak adalah ASA I yaitu 44 responden (60.3%). Terdapat hasil yang sama
pada penelitian yang dilakukan Eva, Kirnantoro dan Istianah (2017) yang mengatakan
bahwa mayoritas ASA I dengan persentase sebanyak 37 orang responden (88,1%) karena
pada penelitian ini mayoritas responden berkisar pada usia dewasa yaitu 25-45 tahun,
dimana pada usia tersebut belum terjadi gangguan sistemik yang berat.
Berdasarkan hasil penelitian diatas terdapat hubungan yang
signifikan antara lama puasa dengan kejadian PONV pasca
general anestesi di RS Borneo Citra Medika (p=0.031).
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Munsterman dan Strauss, (2017) tentang Rehidrasi Dini
pada Pasien Bedah Dengan Puasa Berkepanjangan untuk
Mengurangi Mual dan Muntah Pasca Operasi mengatakan
bahwa ada hubungan lama puasa dengan kejadian PONV,
namun dapat dicegah dengan rehidrasi dini dengan tepat.
Penelitian lain oleh Ismiatun (2019) tentang insiden mual
muntah pasca anestesi umum pada bedah sinus endoskopi
fungsional di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar
mengatakan bahwa pasien yang lebih banyak mengalami
kejadian mual muntah pasca operasi bedah sinus