LARUTAN PEMBAWA
BIJIH
Pendahuluan
Menurut Robbs (2006), 4 hal yang penting dalam
pembentukan mineral bijih (ore):
• Sumber dan karakter dari larutan pembawa bijih
• Sumber dari penyusun bijih dan bagaimana mereka
terkandung dalam larutan
• Migrasi dari larutan pembawa bijih
• Pola pengendapan
Apa itu Larutan Pembawa Bijih?
• Komposisi utama terdiri dari H O,CO , dan NaCl
2 2
• Dijumpai sebagai fluida bebas pada air meteorik, air laut
pada suatu cekungan, dan secara lokal dijumpai pada
proses magmatik dan metamorfik
• Dikontrol oleh suhu, elevasi, dan densitas (Kesler, 2005)
• Larutan pembawa bijih berguna untuk mengetahui
tempat terbentuknya suatu endapan bijih
Larutan pembawa nijih secara umum dibagi menjadi 4, yaitu:
• Air magmatik
• Air metemoril
• Air metamorfik
• Air konat (connate water)
Keempat jenis larutan di atas dijumpai dalam keadaan panas
atau dingin, di kedalaman atau di permukaan.
Apabila terpanaskan dalam fase cair maka disebut larutan
hidrotermal (hydrothermal fluid), jika dijumpai dalam fase gas
disebut pneumatolytic.
Air Magmatik (Magmatic Water)
• Istilah lain juvenil water adalah air atau larutan yang terkandung dalam
magma atau dalam volatile
• Berasal dari proses kristalisasi, pembekuan dan dekompresi magma selama
proses emplacement atau pada saat letusan gunung api.
• Komposisi utama CO2, NaCl, dan H2O, yang terlarut dalam larutan silika
yang akan mengalami penigkatan konsentrasi apabila magma membeku.
• Suhu cukup tinggi 600 – 800ºC
• Mengandung salinitas dan logam yang tinggi
• Tingginya kandungan NaCl berkontribusi dalam proses transportasi logam
dalam pembentukan bijih
Air Meteorik (Meteoric Water)
• Adalah air yang berasal dari hasil presipitasi di permukaan bumi, termasuk
air hujan, air sungai, air danau, air tanah, air pencairan es, dan air laut.
• Komposisi air Na, K, Ca, Mg, Cl, HCO3, SO4, yang memegang peranan
penting dalam sistem endapan hidrotermal terutama yang berasosiasi
dengan gunung api dan magmatisme bawah laut.
• Air meteorik bergerak sesuai dengan siklus air kemudian terpanaskan
apabila mendekati dapur magma atau sumber panas lainnya di dalam bumi.
• Pemanasan tersebut menyebabkan air tersirkulasi ke atas dan menjadi
bagian dari proses hidotermal
• Pergerakan tersebut menyebabkan terjadinya proses pencucian pada
mineral2 dalam batuan yang dilewatinya kemudian mengendapkannya di
tempat lain. Proses pencucian mineral dalam batuan akan mengubah
komposisi kimia batuan disebut proses hidrotermal, dan pengendapannya
di sebut mineralisasi.
Air Konat (Connate Water)
• Yaitu air yang mulanya dari air laut, terjebak dalam pori-pori batuan sedimen pada
saat batuan sedimen terbentuk dan tidak mengalami kontak dengan atmosfer
dalam kurun waktu tertentu. Biasa disebut dengan air formasi.
• Komposisi utama H2O, tetapi juga banyak mengandung ion pada larutan yaitu Na,
Cl, Mg, HCO3, Sr, Ba, N.
• Air konat tidak berperan langsung dalam pembentukan mineral bijih, kecuali
lapisan tersebut mengalami proses metamorfisme. Proses metamorfisme
mengaktivasi dan menjadi pelarut yang sangat kuat untuk logam karena banyak
mengandung klorin. Air ini juga berperan dalam proses hidrotermal.
• Pada suatu cekungan sedimen, air konat akan bersifat lebih saline, melebihi air
laut akibat proses filtrasi dalam pembentukan serpih dan proses asimilasi endapan
evaporit membentuk brine.
Air Metamorfik (Metamorphic
Water)
• Adalah air yang dihasillkan atau berasosiasi dengan prose
metamorfisme
• Dihasilkan dari proses perubahan unsur-unsur pada minera
yang mengakibatkan terurainya mineral-mineral hydrous
• Mengandung unsur H20, CO2, CH4, S, dan bahan volatil lainnya
• Cenderung salinitas rendah dan kandungan sulfur yang rendah.
• Berperan penting dalam pembentukan emas tipe orogenik
(orogenic gold deposit)
Ada tiga kondisi ketika endapan bijih terbentuk dari air
metamorfik (Yardley & Cleverley, 2013):
1. Apabila air metamorfik yang relatif kaya akan logam
menyediakan media untuk terjadinya proses segregasi yang
menyebabkan terjadinya proses pemgayaan (enrichment)
2. Apabila terjadi infiltrasi larutan yang kaya akan air dari sekis
menjadi marmer pada suhu yang tinggi dan menyebabkan
terjadinya reaksi yang cepat pada suhu yang rendah
3. Apabila proses pengangkatan yang cepat (rapid uplift)
menghasilkan proses dehidrasi walaupun terjadi penuruan
suhu sehingga jumlah rata-rata fluida yang dihasilkan tidak
dibatasi oleh aliran panas (heat flow)
Definisi Alterasi Hidrotermal
• Alterasi hidrotermal adalah perubahan dalam mineralogi,
tekstur, fisik, dan komposisi batuan yang terjadi akibat
interaksi dengan larutan hidrotermal (White, 1996).
• AlterasiHidrotermal adalah suatu proses kompleks yang
melibatkan aspek mineralogi, kimia, perubahan tekstur,
sebagai hasil interaksi larutan hidrotermal dengan batuan
dalam kondisi fisika-kimia tertentu (Pirajno, 2009).
Batuan + Larutan Hidrotermal = Alterasi Mineral primer
Mineral Sekunder
Faktor yang Mempengaruhi Alterasi
Beberapa faktor yang mempengaruhi alterasi antara lain
(Browne, 1978 dalam Corbett dan Leach, 1997):
• Suhu (Temperature)
• Komposisi Kimia Fluida
• Konsentrasi
• Komposisi Batuan Induk
• Reaksi kinetik
• Durasi aktivitas
• Permabilitas
Model skematik endapan epitermal
yang dimodifikasi dari Buchanan
(1981 dalam White, 2010).
MAGMA
Tingkat Alterasi Hidrotermal
Pervasive alteration Selective alteration
Strong = > 75% mineral alterasi Unaltered = no secondary minerals
Intense = completely altered (except Weak = minor (<25%) secondary minerals
primary quartz, zircon & apatite), but
primary textures remains visible.
Total = completely altered (except Moderate = 25 – 75% secondary
primary quartz, zircon & apatite), but
primary textures remains lost.
Strong = >75 % secondary minerals
Sumber: Short course manual, Kingston Morrison (1996)
Hal-hal penting dalam penyelidikan alterasi:
• Komposisi kimia, tekstur, dan struktur kondisi kimia fisika
proses hidrotermal yang terjadi.
• Mineral-mineral alterasi penentuan tipe alterasi.
• Zonasi / tipe alterasi posisi / jalur hidrotermal sehingga
jalur mineralisasi dapat di telusuri.
Tipe Alterasi
• Klasifikasi tipe alterasi hidrotermal dibuat untuk
memudahkan penamaan zona alterasi berdasarkan
kumpulan mineralnya. Berikut penjelasan klasifikasi tipe
alterasi (Corbett dan Leach, 1997):
• Tipe Alterasi terdiri dari:
Argilik Lanjut
Argilik
Filik
Propilitik
Potasik
Argilik Lanjut
• Mineral alterasi terbentuk
pada kondisi pH rendah (≤4)
yaitu grup mineral silika,
alunit, dan kaolinit. Meyer
dan Hamley memasukkan
grup mineral kaolinit yang
terbentuk pada fase
temperatur rendah (dickite
dan pyrophillite) dalam tipe
alterasi ini seperti yang
ditunjukkan
Argilik
• Kumpulan mineral alterasi yang terbentuk pada suhu rendah (100-250C)
dan umumnya mempunyai pH rendah (sekitar 4-5). Rose dan Bart (1979)
membagi tipe alterasi ini berdasarkan dominasi mineral kaolinit dan
smektit (Corbett dan Leach, 1997). Tipe alterasi argilik juga terdiri dari grup
mineral klorit dan illit.
• Tipe alterasi ini terbentuk pada
Filik
kondisi pH yang sama dengan
tipe argilik namun mempunyai
temperatur yang lebih tinggi
(>200-250C). Dicirikan oleh
kehadiran mineral serisit atau
muskovit. Kemungkinan juga
mengandung anggota mineral
kaolin yang mempunyai
temperatur lebih tinggi
(pyrophyllite-andalusite) dan
grup mineral klorit sebagai
ubahan dari serisit/muskovit.
Propilitik
• Terbentuk pada kondsi pH netral-basa yang dicirikan oleh
kehadiran mineral epidot dan/atau klorit (Meyer dan
Hamley, 1967 dalam Corbett dan Leach, 1997). Pada suhu
relatif rendah (200-300C), kumpulan mineral alterasi
didominasi oleh zeolit yang digantikan oleh epidot. Albit
sekunder dan/atau K-feldspar umumnya dapat juga
dijumpai pada tipe alterasi ini
Potasik
• Terbentuk pada temperatur yang tinggi, dalam kondisi
pH netral-basa yang dicirikan oleh kehadiran mineral
biotit dan/atau K-feldspar + magnetit aktinolit
klinopiroksin.