100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
224 tayangan33 halaman

Siklus Pemecahan Masalah Kesehatan Sumsel

Dokumen tersebut membahas analisis situasi kesehatan di Provinsi Sumatra Selatan dengan menggunakan metode Hanlon untuk mengidentifikasi masalah prioritas. Beberapa masalah kesehatan yang diidentifikasi antara lain cakupan jamkesmas yang belum memadai, sarana kesehatan yang belum merata, dan angka balita BGM yang masih tinggi. Metode Hanlon menilai masalah prioritas adalah angka balita BGM yang tinggi karena besarnya dampak, tingkat keparahan

Diunggah oleh

sidilah
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
224 tayangan33 halaman

Siklus Pemecahan Masalah Kesehatan Sumsel

Dokumen tersebut membahas analisis situasi kesehatan di Provinsi Sumatra Selatan dengan menggunakan metode Hanlon untuk mengidentifikasi masalah prioritas. Beberapa masalah kesehatan yang diidentifikasi antara lain cakupan jamkesmas yang belum memadai, sarana kesehatan yang belum merata, dan angka balita BGM yang masih tinggi. Metode Hanlon menilai masalah prioritas adalah angka balita BGM yang tinggi karena besarnya dampak, tingkat keparahan

Diunggah oleh

sidilah
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

S2 NONREG KESMAS PROGRAM PASCASARJANA UNHAS 2011

[Link] Hamzah,Dra,MA Sandi Limbong

BERDASARKAN MASALAH DI PROV. SUMATRA SELATAN

PROBLEM SOLVING CYCLE

1) ANALISIS FAKTOR PELAYANAN KESEHATAN

Dalam menganalisis situasi kesehatan, ada beberapa hal yang perlu dikaji, salah satunya yakni jenis data menurut Blum

ANALISIS SITUASI

Angka Kematian Bayi, Angka kematian bayi di Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 adalah 25,28 per 1000 kelahiran hidup Angka Kematian Ibu ,Angka kematian ibu di Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 adalah 307 per 100.000 kelahiran dari target 125 per 100.000 kelahiran hidup Angka Penemuan Kasus Baru , Angka Penemuan Kasus Baru penyakit TB paru di Provinsi Sumatra Selatan adalah 55 % dan angka kesembuhan sebesar 84,3 % Case fatality rate (CFR), CFR penyakit demam berdarah di Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 adalah 0,44 % Insidence Rate (IR), Insidence Rate DBD di Provinsi Sumatra Selatan pada thaun 2008 adalah 34 per 100.000 penduduk

Jumlah penduduk Provinsi Sumatra Selatan adalah 1.417.047 jiwa Kepadatan penduduk. Tingkat kepadatan penduduk di Provinsi Sumatra Selatan tahun 2008 sebesar 3.537 jiwa per KM , Untuk sebaran penduduk Provinsi Sumatra Selatan terakumulasi di Kecamatan Ilir Timur II yaitu sebesar 12,01 % (170.192 jiwa) Struktur umur Jumlah penduduk yang terbesar adalah golongan umur 15 - 44 tahun, yaitu laki- laki 364.959 orang dan perempuan 388.497 orang. Kelompok umur dibawah 15 tahun jumlah laki- laki 14,00 % dan perempuan 13,00 % dari jumlah seluruh penduduk. Untuk kelompok umur 45 - 64 tahun jumlah laki- laki adalah 115.682 atau sebesar 8.16 % dan perempuan 111,570 orang atau sebesar 7,87 % dari jumlah penduduk. Sedangkan untuk kelompok umur lebih dari 65 tahun jumlah laki- laki 22.397 atau sebesar 2, % dan perempuan 28.306 orang atau sebesar 2, % dari jumlah seluruh penduduk Sex ratio, Sex ratio Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 adalah 0,97

2)ANALISIS FAKTOR KEPENDUDUKAN

2)ANALISIS FAKTOR PERILAKU


3) ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN

Dalam menganalisis situasi kesehatan, ada beberapa hal yang perlu dikaji, salah satunya yakni jenis data menurut Blum

ANALISIS SITUASI

Lingkungan fisik , terdiri atas : Kelembaban udara Provinsi Sumatra Selatan merupakan daerah tropis dengan angin lembab nisbi,suhu udara cukup panas berkisar 23,4-31,7 C, Curah hujan terbanyak pada bulan Januari, February dan Maret yang mengakibatkan banjir pada daerah-daerah rendah. Selain curah hujan yang tinggi keadaan banjir ini dipengaruhi air pasang yang tinggi, kondisi tanah jenuh yang tidak dapat menyerap air serta besarnya debit air dari hulu. Ketinggian tempat, Permukaan tanah relatif datar, 30 % tanahnya berbentuk rawa. Lingkungan biologis, terdiri atas : Penderita Demam Berdarah di Prov. Sumatra Selatan pada tahun 2008 sebanyak (IR=34 per 100.000 pddk) Karena morfologi tanahnya berupa rawa maka Prov. Sumatra Selatan merupakan tempat bersarang berbagai jenis plasmodium penyebab malaria Karena topografinya berupa dataran rendah maka Prov. Sumatra Selatan memiliki iklim tropis yang hangat dan lembab sehingga mendukung perkembangbiakan nyamuk Lingkungan sosial terdiri atas : Mata pencaharian penduduk adalah bertani dan pekerja industri. Prov. Sumatra Selatan pada tahun 2008 Angka Melek Huruf sebesar 98,2 % dan Angka Pendidikan yang ditamatkan sekolah SD,SLTP dan SLTA dan Universitas pada tahun 2008 telah mencapai 99,44 %.

Perilaku higienis : jumlah penduduk yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan di provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 adalah 75 % Jumlah penduduk di Provinsi Sumatra Selatan yang memanfaatkan Penyediaan Air Bersih adalah 80,2 % Rumah tangga yang melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Provinsi Sumatra Selatan adalah 50,6 %

Masyarakat yang menggunakan sarana pelayanan kesehatan / Puskesmas di Provinsi Sumatra Selatan sebanyak 1.264.478 orang BOR =82,84 %,LOS = 5 hari, TOI = 4 hari

b.

c. Jumlah tenaga kesehatan di [Link] Selatan tahun 2008 adalah 1041 orang dengan perincian sebagai berikut : Dokter: 74,Dokter Spesialis: 6,Dokter Gigi: 38,Bidan: 269,Perawat: 301,Apoteker 5,Ahli Madya Gizi: 39,Sanitarian: 48,Kesehatan Masyarakat S1: 43,S2: 11 d. Sumber pembiayaan di Prov. Sumatra Selatan pada tahun 2008 adalah 1APBD Kota 2. APBD Provinsi 3. APBN Jumlah : Rp.56.626.037 :: Rp.2.684.851 : Rp.59.310.888

Sebanyak 47,7 % masyarakat belum melaksanakan PHBS Sebanyak 8,02 % anak usia sekolah mengalami kegemukan dari yang seharusnya hanya 5 %

Cakupan jamkesmasmasih kurang sebesar 29,2 % dari target 80 %

Sarana PKM belum memadai,dimana 1 puskesmas masih melayani 34.000 penduduk dari yang seharusnya 1 puskesmas melayani 30.000 penduduk

Sarana pustu belum memadai , dimana 1 pustu melayani 18.000 penduduk dari yang seharusnya 1 pustu / 10.000 penduduk Obat esensial-generik yang tersedia di puskesmas di belum memadai dimana setiap 1 orang penduduk mendapatkan US$ 0,35

Sebanyak 32 % bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif

IDENTIFIKASI MASALAH

Sebanyak 84,3 % balita masih BGM

Sebanyak 12,7 % wilayah Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 belum Bebas Jentik Kesembuhan TBC BTA positif belum tercapai dimana sekitar 41 % penderita TBC BTA + belum sembuh

Sebanyak 22 % belum memenuhi syarat kesehatan

Sebanyak 43 % balita yang mengalami diare belum mendapatkan penanganan dengan baik

Sebanyak 43 % balita yang mengalami diare belum mendapatkan penanganan dengan baik

PRIORITAS MASALAH Penentuan prioritas dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara-cara yang digunakan antara lain dengan cara Bryant, Cara Ekonometrik, Metode Delbercq atau Metode Hanlon. Dalam masalah kali ini dipilih penentuan prioritas dilakukan dengan menggunakan Metode Hanlon karena dianggap sangat lengkap dan objektif sehingga mampu mencerminkan kondisi sesungguhnya yang ingin diselesaikan di lapangan

Kriteria Hanlon sebagai berikut : 4 kriteria yang digunakan : Kriteria A yaitu Besarnya Masalah Kriteria B yaitu Tingkat Kegawatan Masalah Kriteria C yaitu Kemudahan Penanggulangan Masalah Kriteri D yaitu PEARL faktor

LANGKAH 1 : Kriteria A ditentukan oleh : A1. Presentase penduduk yang terkena efek langsung dari masalah A2. Jumlah rata-rata biaya yang dikeluarkan perorangan, perbulan, akibat masalah tersebut A3. Besarnya kerugian yang dialami penduduk

Nilai

Persentase penduduk yang terkena

Biaya yang Kerugian yang dialami dikeluarkan/orang/bulan penduduk (dalam ribuan) (dalam ribuan)

10 8 6 4 2 1

26-35 % 16-25 % 11-15 % 6-10 % 2-5 % <2%

Rp. 100 Rp. 51-Rp.100 Rp.31-Rp.50 Rp.16-Rp.30 Rp.5-Rp.15 < Rp.5

> Rp.10.000 Rp.5.100-Rp.10.000 Rp.2.600-Rp.5.000 Rp.1.100-Rp.2.500 Rp.500-Rp.1.000 < Rp.500

Dari 13 jenis masalah di atas, maka besar kriteria A diperoleh sebagai berikut :
Biaya yang dikeluarkan/orang/bulan (dalam ribuan rupiah) 50 50 Kerugian yang dialami penduduk (dalam ribuan rupiah) <500 <500

Persentase penduduk yang Masalah terkena 1 2 29,2 % 11,75 %

3
4 5 6

44,45 %
68 % 12,7 % 41 %

16-30
16-30 31-50 >100

2.600-5.000
2.600-5.000 5.100-10.000 >10.000

7
8 9 10 11 12 13

43 %
22 % 22 % 84,3 % 32 % 3,02 47,7 %

>100
>100 51-100 >100 >100 16-30 >100

2.600-5.000
5.100-10.000 5.100-10.000 >10.000 >10.000 2.600-5.000 >10.000

Nilai masing-masingnya adalah sebagai berikut :


Kerugian yang dialami penduduk (dalam ribuan) 1 1 6 6 8 10 6 8 8 10 10 6 10

Masalah

Persentase penduduk yang terkena 10 6 10 10 6 10 10 8 8 10 10 2 10

Biaya yang dikeluarkan/orang/bula n (dalam ribuan) 6 6 4 4 6 10 10 10 8 10 10 4 10

Total

Rata-rata

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

17 13 20 20 20 30 26 26 24 30 30 12 30

5,67 4,33 6,67 6,67 6,67 10 8,67 8,67 8,00 10 10 4,00 10

LANGKAH 2 :

Kriteria B ditentukan oleh : B1. Tingkat urgensinya B2. Kecenderungan B3. Tingkat Keganasannya Masing-masing diberi penilaian dari 0-10 skala

Masalah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Keganasan 10 6 6 7 8 10 6 6 6 9 7 7 9

Tingkat Urgensinya 10 8 7 9 8 10 10 5 7 10 6 5 8

Kecenderu ngan 7 5 5 7 8 10 10 5 6 10 6 5 8

Total 27 19 18 23 24 30 26 16 19 29 19 17 25

Rata-rata 9,00 6,33 6,00 7,67 8,00 10,00 8,67 5,33 6,33 9,67 6,33 5,67 8,33

LANGKAH 3 : Menentukan kriteria kelompok C yang terdiri dari kemudahan penanggulangan, menyangkut sumber-sumber dan teknologi yang tersedia untuk menyelesaikan masalah. Masing-masing kepala bagian (Kesga,P2M,Promkes,Kesling,Progra m)terlibat dalam memberikan nilai. Masing-masing orang memberikan nilai antara 0,5 1,5 berdasarkan perkiraan kemudahan penanggulangan.

Skala pengukurannya adalah sebagai berikut : 0,5 : Sangat sulit 0,75 : Sulit 1,0 : Antara sulit dan mudah 1,25 : Mudah 1,5 : Sangat mudah

MASALA H 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

NILAI KEMUDAHAN PENANGGULANGAN KESGA 1,25 0,75 0,75 0,75 0,5 0,5 1,0 1,0 1,0 0,75 0,5 0,5 0,5 P2M 1,25 0,75 0,75 0,75 1,0 0,5 1,25 1,25 0,75 0,5 0,5 0,5 0,5

RATAPROGR TOTAL RATA PROMKES KESLING AM 1,0 0,75 0,75 0,75 0,5 0,5 0,5 1,25 1,25 1,25 1,25 1,25 1,25 1,0 0,75 0,75 0,75 1,0 0,5 1,0 0,5 0,5 0,5 1,0 0,5 0,5 1.25 0,5 0,5 0,5 0,5 0,75 0,75 0,75 0,5 0,75 1,5 0,75 1,0 4,5 3,5 3,5 3,5 3,5 2,75 4,5 4,75 4 3,75 4,75 3,5 3,75 0,9 0,7 0,7 0,7 0,7 0,55 0,9 0,95 0,8 0,75 0,95 0,7 0,75

LANGKAH 4 :

Menentukan kriteria D (PEARL Faktor) P : Appropriateness (kesesuaian) E : Economic Feasibility (secara ekonomi murah) A : Acceptability (dapat diterima) R : Resources Availability (tersedianya sumber daya) L : Legality (legalitas terjamin)

Jawaban kriteria ini ada 2 yaitu : Ya = 1 ; Tidak = 2

Masalah 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Appropria te 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Economic Feasibility 0 0 0 0 1 0 1 1 0

Acceptability 1 1 1 1 1 0 1 1 1

Resources Availability 0 1 1 1 1 0 1 1 0

Legality 1 1 1 1 1 1 1 1 1

P*E*A*R*L 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1

10 11

1 1

0 1

0 1

0 1

1 1

12 13

1 1

1 1

0 0

1 1

0 1

0
0

Setelah nilai kelompok kriteria A,B,C, dan D didapatkan melalui dimasukkan ke dalam formula sebagai berikut : Nilai Prioritas Dasar (NPD) = (A + B) * C Nilai Prioritas Total (NPT) = (A + B) * C * D

penetapan kriteria, nilai-nilai tersebut kemudian

Masalah 1 2 3 4

A 5,67 4,33 6,67 6,67

B 9,00 6,33 6,00 7,67

C 0,9 0,7 0,7 0,7

D 0 0 0 0

(A+B)*C 13,20 7,46 8,87 10,04

(A+B)*C*D 0 0 0 0

Urutan Prioritas

5
6 7 8 9 10 11

6,67
10 8,67 8,67 8,00 10 10

8,00
10,00 8,67 5,33 6,33 9,67 6,33

0,7
0,55 0,9 0,95 0,8 0,75 0,95

1
0 1 1 0 0 1

10,27
11,00 15,61 13,30 11,46 14,75 15,51

10,27
0 15,61 13,30 0 0 15,51

4
1 3

12
13

4,00
10

5,67
8,33

0,7
0,75

0
0

6,77
13,75

0
0

PRIORITAS MASALAH 1

Masalah 7 (Sebanyak 43 % balita yang mengalami diare di Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 belum mendapatkan penanganan dengan baik )

PRIORITAS MASALAH 2

Masalah 11 (Sebanyak 32 % bayi di Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 tidak mendapatkan ASI eksklusif )

PRIORITAS MASALAH 3

Masalah 8 (Sebanyak 22 % makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 belum memenuhi syarat kesehatan )

PRIORITAS MASALAH 4

Masalah 5 (Sebanyak 12,7 % wilayah Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2008 belum Bebas jentik )

TUJUAN UMUM /GOAL Terwujudnya derajat kesehatan balita di Prov. Sumatra Selatan yang setinggi-tingginya

TUJUAN KHUSUS/OBJECTIVE Meningkatkan penanganan balita sakit karena Diare di Provinsi Sumatra Selatan pada tahun 2009 dari 57 % menjadi 100 %

TUJUAN PELAKSANAAN/IMPLEMENTING OBJECTIVE Terlaksananya penanganan balita yang menderita penyakit diare di 16 kecamatan se Prov. Sumatra Selatan

TUJUAN SUMBER DAYA/RESOURCING OJECTIVE


Melatih tenaga kesehatan untuk menangani balita dengan penyakit diare pada Prov. Sumatra Selatan pada tahun 2008 Menyusun anggaran untuk mendanai peningkatan cakupan penanganan balita dengan diare Mengarahkan sarana dan prasarana kesehatan untuk memfasilitasi peningkatan cakupan penanganan balita dengan diare di Prov. Sumatra Selatan pada tahun 2008

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH PENINGKATAN CAKUPAN MTBS KARENA DIARE :


Melatih tenaga MTBS di setiap puskesmas

Pelayanan puskesmas keliling

Mengaktifkan kader posyandu untuk deteksi dini penyakit diare di wilayahnya

Membagikan larutan oralit kepada setiap RT


Membuka puskesmas pembantu yang dekat dengan wilayah yang susah dijangkau

Dapat langsung berdampak pada peningkatan penanganan kasus diare pada balita

Pelaksanaannya waktunya singkat dan mudah

KRITERIA MUTLAK

Biaya yang dibutuhkan tidak lebih dari 10 juta

Tenaga yang tersedia mencukupi untuk melaksanakan kegiatan tersebut

Biaya maintenance murah ; bobot 10

Mudah dipantau ; bobot 4

KRITERIA KEINGINAN

Tidak mudah rusak / hilang ; bobot 8

Mudah diperbaiki / ditingkatkan kemampuann ya ; bobot 6

SKORING ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH : Skoring dengan kriteria mutlak

ALTERNATIF

NO

KRITERIA MUTLAK

LATIH PETUGAS MTBS

PEMBA AKTIFKA PUSKEL PUSTU GIAN N KADER ORALIT

1
2 3

MANFAATNYA DIRASAKAN

LANGSUNG

X X

TENAGA YANG TERSEDIA CUKUP BIAYA PELAKSANAAN 10 JUTA WAKTU PELAKSANAANNYA 2 HARI

SKORING DENGAN KRITERIA KEINGINAN


ALTERNATIF
NO KRITERIA KEINGINAN LATIH PETUGAS MTBS

PUSKEL

AKTIFKAN KADER

PEMBAGIAN ORALIT

1 2

Biaya pemeliharaan murah Tidak mudah rusak/ hilang


Mudah ditingkatkan kemampuannya

7.10 70

7.10 = 70 8.8 = 64

9 .10 = 90 8.8 = 64

8.10 = 80 6.8 = 48

8.8 = 64

4.6 = 24

5.6 = 30

5.6 = 30

2.6 = 12

Mudah dipantau JUMLAH

4.4 = 16 174

4.4 = 16 180

1.3 = 3 189

3.4 = 12 152

PENGAMBILAN KEPUTUSAN
KEPUTUSAN SEMENTARA

Berdasarkan tabel di atas maka alternatif kegiatan yang menjadi keputusan sementara untuk dilaksanakan adalah mengaktifkan kader posyandu untuk deteksi dini kasus diare pada balita di wilayahnya dan pelaksanaan puskesmas keliling

KONSEKUENSI
Mengaktifkan kader posyandu untuk deteksi dini kasus diare, tidak ada konsekuensinya
Puskesmas keliling , petugas yang bertugas di puskesmas menjadi berkurang karena melaksanakan kegiatan lapangan sehingga efektifitas pelayanan menjadi berkurang

KEPUTUSAN TETAP
Berdasarkan pertimbangan policy marker (pemerintah). Consumer (masyarakat), provider (pelaksana) maka diputuskan bahwa kegiatan yang akan dilaksanakan adalah mengaktifkan kader posyandu untuk deteksi dini kasus diare pada balita di wilayahnya

Dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Prov. Sumatra Selatan pada bulan April 2011 di Balai Pelatihan Kesehatan Palembang. Pelatihan diberikan kepada kader dari 16 kecamatan di seluruh wilayah Provinsi Sumatra [Link] fasilitator dari Dinas Kesehatan Pusat. Pelatihan dimulai dengan pre test dengan hasil nilai rata rata 6.5 dan diakhiri dengan post test dengan hasil nilai rata rata 9.

Materi yang disampaikan selama pelatihan antara lain : Perkenalan, kontrak belajar dan menyusun harapan Tugas tugas kader posyandu Pengenalan penggunaan buku Early Metode pelatihan: ceramah, tanya warning alert response system diare jawab, sharing pengalaman, Pengisian blanko laporan W1 penugasan, bermain peran, simulasi Teknik deteksi dini kasus diare Simulasi pelaksanaan kegiatan deteksi dini dan kewaspadaan KLB diare Evaluasi dan rencana tindak lanjut (RTL)

JENIS PEMANTAUAN

INDIKATOR

Apakah semua peserta pelatihan telah ditunjuk dan dimobilisasikan ke tempat pelatihan sesuai menurut jadwal?

PEMANTAU AN

Anggaran dan Kerangka Waktu

Apakah peningkatan kemampuan dan kegiatan pelatihan telah diselesaikan menurut jadwal? Apakah kegiatan pelatihan tercapai sesuai dengan rencana pelaksanaan yang disetujui?

Apakah dana pelatihan tepat pada waktunya?

dialokasikan

Pemantauan manfaat

Perubahan apa yang telah berlangsung selama pelatihan dan setelah peserta kembali melaksanakan tugasnya? Perubahan apa yang terjadi dengan angka cakupan penanganan kasus diare pada balita setelah pelatihan ini?

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN

Pengawasan kegiatan dilaksanakan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Prov. Sumatra Selatan

ditemukan penyimpangan dalam pengalokasian anggaran pelatihan sehingga biaya pelatihan membengkak dari proposal yang disusun sebelumnya.

No Anggaran Kegiatan 1 Membuat susunan Tim/ Panitia Pelaksana Mendata jumlah kasus diare pada balita di 2 setiap kecamatan 3 Mendata jumlah kader di setiap posyandu 4 Membuat proposal anggaran kegiatan Menyusun metodologi dan Materi Pelatihan 5 serta alternatif pembicara Menginventarisir alternatif tempat 6 pelaksanaan pelatihan Rapat konsolidasi akhir pemantapan 7 pelaksanaan pelatihan 8 Pelatihan kader posyandu 9 Pelatihan kader posyandu 10 Pelatihan kader posyandu 11 Pelatihan kader posyandu 12 Pendampingan kader di lapangan 13 Membuat sekretariat pemantauan kader 14 Evaluasi kegiatan TOTAL

Jumlah Anggaran (Rp) 200.000 500.000 300.000 300.000 100.000 100.000 300.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 5.000.000 2.000.000 3.000.000 51.800.000

Realisasi (Rp) 500.000 600.000 450.000 500.000 250.000 200.000 350.000 12.000.000 11.000.000 10.500.000 15.000.000 7.300.000 2.900.000 3.200.000 64.750.000

Besar Penyimpangan Anggaran 300.000 100.000 150.000 200.000 150.000 100.000 50.000 2.000.000 1.000.000 500.000 5.000.000 2.300.000 900.000 200.000 12.950.000

Ternyata terjadi pembengkakan anggaran sebesar Rp. 12.950.000,- atau terjadi penyimpangan anggaran sekitar 20 %.

Peserta, pemandu, narasumber dan penyelenggara pelatihan masih belum mematuhi aturan waktu kehadiran selama pelatiha

Rata - Rata Kedatangan


No Uraian Jadwal Realisasi

Rata Rata Kepulangan

Jadwal

Realisasi

Peserta

7.30

8.00

20.30

21.00

Pemandu

7.30

8.30

21.00

22.00

3 4

Narasumber Panitia

7.30 7.00

8.40 7.30

19.30 21.00

20.30 22.00

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 TO

KECAMATAN Ilir Barat II Gandus Seberang Ulu I Kertapati Seberang Ulu II Plaju Ilir Barat I Bukit Kecil Ilir Timur I Kemuning Ilir Timur II Kalidoni Sako Sukarame Sematang Borang Alang-Alang Lebar TAL

JUMLAH KADER AKTIF 35 35 35 40 35 20 25 30 30 25 20 25 35 35 30 30 485

JUMLAH KADER IKUT PELATIHAN 35 30 32 38 32 19 25 30 30 24 19 24 30 35 30 30 463

% TIDAK HADIR PELATIHAN 100 85,71 91,43 95 91,43 95 100 100 100 96 95 96 85,71 100 100 100 95,46

Ditemukan kecamatan yang tidak mengirimkan kadernya lengkap sehingga target peserta yang diharapkan tidak tercapai. Dari data di atas disimpulkan bahwa hanya 95,46 % kader posyandu yang hadir pelatihan sehingga masih ada sekitar 4 % yang belum ikut.

EVALUASI

JE NIS

HASILNYA

Evaluation of needs
Dilakukan sebelum pelatihan kader posyandu dilaksanakan dengan memperhatikan dasar pertimbangan kegiatan menurut data yang ada pada tahap analisis situasi. Hasilnya : Pelatihan kader posyandu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Prov. Sumatra Selatan dengan 43 % kasus diare pada balita yang belum tertangani.

Evaluation of Design
Evaluasi ini menilai kelayakan dan memadainya rencana program atau proposal suatu kegiatan kesehatan terhadap kebutuhan masyarakat
Pre dan Post Test, untuk melihat kemampuan peserta sebelum mendapatkan pelatihan. Dengan hasil test tersebut diharapkan terlihat tingkat kemampuan peserta, sehingga dapat ditindak lanjuti dalam proses pelatihan Evaluasi harian : evaluasi ini dilakukan oleh peserta untuk mengetahui tingkat pemahaman mengenai materi serta terhadap pemandu. Evaluasi ini sebaiknya diadakan pada setiap topik, untuk memastikan bahwa materi yang disampaikan benar-benar dipahami oleh peserta.

Pengamatan pemandu terhadap peserta : evaluasi ini dilakukan oleh penanggungjawab kelas yang bertugas untuk mengamati perkembangan setiap peserta selama pelatihan

Evaluation of Performance

Evaluasi ini untuk menilai keserasian antara rencana kegiatana di atas kertas dengan implementasi di lapangan : Jumlah kader posyandu yang mengikuti pelatihan deteksi dini diare pada balita adalah sebesar 97,8 % Keaktifan kader selama pelatihan selama sesi diskusi dan tanya jawab sebesar 89,7 % Ketepatan waktu pelatihan dan kehadiran peserta selama pelatihan sebesar 98,2 % Materi pelatihan yang diberikan sesuai dengan tujuan pelatihan yaitu meningkatkan keaktifan kader posyandu dalam deteksi dini diare pada balita

Evaluation of Effect

Evaluasi ini merupakan analisis terhadap pengaruh langsung segera dari hasil suatu kegiatan kesehatan. Tingkat pengetahuan kader posyandu sebelum dan sesudah pelatihan mengalami peningkatan dari 65 % menjadi 95 % Sikap dan motivasi kader posyandu dalam deteksi dini balita dengan diare meningkat dari 65 % menjadi 91 %

Impact Evaluation

Evaluasi ini merupakan analisis terhadap akibat langsung dan tidak langsung dari sebuah kegiatan. Bisa dilakukan setelah jangka waktu 1 tahun. Dengan melihat persentase penanganan balita dengan diare di Provinsi Sumatra Selatan

Anda mungkin juga menyukai