Reviu Rencana Kebutuhan BMN 2024
Reviu Rencana Kebutuhan BMN 2024
Negara (RKBMN)
Workshop Teknik Reviu Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara
Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara
Peraturan terkait RKBMN
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2020
Tentang Perubahan PP No. 27 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan BMN/D
[Link] 3
Apa itu RKBMN ?
[Link] 4
Siklus Penyusunan RKBMN
APIP
[Link] 5
Tahapan Pelaksanaan RKBMN
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 105/KM.6/2022
Seluruh KL
Kemenkeu, PPATK, Kemensekneg,
K/L lain KemenPPN/BPN, KemenpanRB, KPK, RKBMN Pengadaan
LKPP, MK, KY RKBMN Pemelihaaan
RKBMN Pengadaan
Kemenkeu RKBMN Pemelihaaan RKBMN Pengadaan RKBMN Pemanfaatan
RKBMN Pemelihaaan RKBMN Pemindahtanganan
RKBMN Pengadaan RKBMN Penghapusan
RKBMN Pemelihaaan RKBMN Pemanfaatan
RKBMN Pemanfaatan RKBMN Pemindahtanganan
RKBMN Pemindahtanganan RKBMN Penghapusan
RKBMN Penghapusan K/L Lain
RKBMN Pengadaan
RKBMN Pemelihaaan
[Link] 6
Perubahan RKBMN
Perubahan RKBMN, dapat dilakukan pada
terdapat perubahan organisasi yang berdampak pada perubahan kebutuhan pengadaan dan/atau
pemeliharaan BMN berdasarkan persetujuan MenpanRB, namun dokumen persetujuannya diterima
setelah batas waktu penyampaian usulan RKBMN kepada Pengelola Barang atau setelah penetapan
RKBMN Hasil Penelaahan sebelum tahun pelaksanaan RKBMN
[Link] 7
Hubungan RKBMN dan RKA-K/L
RKBMN RKA-K/L
TA 2022 TA 2023
Agst Nov Des Jan Feb Mar Apr Okt Nov Des
[Link] 9
RKBMN RKA-K/L
[Link] 10
RKBMN RKA-K/L
PMK 153/2021
Pasal 1 Rencana Kebutuhan BMN yang selanjutnya disingkat RKBMN adalah dokumen
perencanaan BMN untuk periode 1 (satu) tahun.
[Link] 11
Reviu RKBMN
Lampiran III Keputusan Menteri Keuangan Nomor 128/KM.06/2022
Reviu RKBMN
Lampiran III Keputusan Menteri Keuangan Nomor 128/KM.06/2022
Reviu RKBMN adalah penelaahan atas dokumen RKBMN yang bersifat tahunan oleh auditor APIP K/L
yang kompeten, untuk memastikan penyusunan RKBMN telah dilaksanakan sesuai ketentuan yang
berlaku.
APIP K/L tidak mengambil alih tanggung jawab Pengguna Barang terhadap kebijakan yang ditetapkan
dalam proses penyusunan dan kebenaran angka RKBMN yang diusulkan karena hal tersebut adalah
tetap menjadi tanggung jawab Pengguna Barang
Sasaran Reviu adalah agar Menteri/Pimpinan Lembaga memperoleh keyakinan bahwa dokumen RKBMN
yang disusun oleh Pengguna Barang dilengkapi dokumen pendukung, sesuai kepatuhan terhadap penerapan
kaidah RKBMN antara lain telah mempertimbangkan kesesuaian program, kegiatan, dan keluaran (output)
berupa BMN dengan Renstra-K/L, ketersediaan BMN pada satuan kerja di lingkungan Pengguna Barang,
Standar Barang dan Standar Kebutuhan, Kondisi Barang, dan Status Barang
[Link] 13
Reviu RKBMN
Lampiran III Keputusan Menteri Keuangan Nomor 128/KM.06/2022
Waktu Reviu RKBMN dilaksanakan setelah proses konsolidasi RKBMN oleh Pengguna
Pelaksanaan Barang dan sebelum disampaikan oleh Pengguna Barang kepada Pengelola
Reviu RKBMN Barang.
Pelaksanaan reviu tidak mencakup pengujian atas pengendalian intern, penetapan risiko pengendalian,
dan pengujian atas respon terhadap permintaan keterangan dengan cara perolehan dokumen melalui
aplikasi, pengamatan, atau konfirmasi dan prosedur tertentu yang dilaksanakan dalam suatu audit.
[Link] 14
Tata Cara Reviu RKBMN
[Link] 15
Kompetensi Tim Reviu
memahami Sistem
memahami tata memiliki
Perencanaan
cara penyusunan kemampuan dasar-
Pembangunan
RKBMN dasar reviu
Nasional
memahami proses
memahami tata
bisnis atau tugas menguasai teknik
cara penyusunan
dan fungsi unit komunikasi
RKA K/L
yang diteliti
[Link] 16
Standar Barang dan Standar Kebutuhan
PMK 172/2020
PMK 172/2020
Standar Barang dan Standar Kebutuhan Barang Milik Negara
Tanah dan Bangunan Tanah dan Bangunan Tanah dan Tanah dan Bangunan
Ruang Gedung Perkantoran Gedung Rumah Bangunan Gedung Gedung Tempat
Negara Pendidikan Persidangan
Lingkup
Tanah dan Bangunan Kendaraan Kendaraan
SBSK Gedung Tahanan Jabatan Operasional
[Link] 18
Program Kerja Reviu RKBMN
Reviu Kelengkapan
Dokumen Pendukung
Dokumen notulen
Data existing BMN pada SIMAN, rapat, atau surat
Renstra K/L termasuk tanah dan/atau pernyataan dari
bangunan terindikasi idle instansi di bidang
pekerjaan umum
[Link] 21
Reviu atas Perencanaan Kebutuhan
Bangunan Gedung Kantor
SBSK
Usulan Satker
Standar Ketinggian
Ketinggian Bangunan
Bangunan
Standar Kebutuhan
Kebutuhan Unit Unit
A. Klasifikasi Bangunan Sesuai Pengguna B. Standar Ketinggian Bangunan C. Standar Kebutuhan Unit
[Link] 23
Hitung Luas Bangunan Neto dan Bruto
Luas Bangunan Neto Luas Bangunan Bruto
jumlah luas keseluruhan ruangan dalam luas keseluruhan ruangan dalam
gedung yang dapat diutilisasi. gedung, termasuk bagian yang tidak dapat diutilisasi.
Tips
• Ruang-ruang kerja dan penunjang secara keseluruhan
berpatokan terhadap jumlah pejabat/pegawai kecuali
untuk “Lobi/Fasilitas Lain” menggunakan pengali Luas
Tips
Bangunan Neto Ex Lobi. Perhatikan Jenis Klasifikasi Bangunan Gedung
• Tentukan terlebih dahulu Luas Bangunan Neto Ex Lobi lalu
Negara (Sederhana, Tidak Sederhana Bertingkat
dikalikan 0,02 (20 m2 per 1000 m2) lalu jumlahkan secara
keseluruhan. Rendah, Tidak Sederhana Bertingkat Tinggi) untuk
• Pergunakan data jumlah pegawai ideal berdasarkan menentukan Koefisien Luas Bangunan yang tidak
perhitungan Analisis Beban Kinerja atau data sejenis, dapat diutilisasi.
“Jangan gunakan data pegawai eksisting!”.
[Link] 24
Klasifikasi Bangunan Gedung Negara
Bangunan Tidak
Bangunan Sederhana
Sederhana
bangunan dengan spesifikasi teknis tidak sederhana
memiliki kompleksitas dan teknologi yang tidak
bangunan dengan spesifikasi teknis sederhana sederhana
memiliki kompleksitas dan teknologi Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah
sederhana selama paling singkat 10 (sepuluh) tahun.
tidak bertingkat atau memiliki jumlah lantai
1. Bangunan Tidak Sederhana Bertingkat Rendah
paling tinggi 2 (dua) lantai bertingkat paling tinggi 4 (empat) lantai
luas lantai keseluruhannya kurang dari 500 m 2 luas lantai keseluruhannya lebih dari 500 m2
masa penjamin kegagalan bangunannya SLB tidak diutilisasi sebesar 25% LBB
adalah selama 10 (sepuluh) tahun.
SLB tidak diutilisasi sebesar 20% LBB 2. Bangunan Tidak Sederhana Bertingkat Tinggi
bertingkat lebih dari 4 (empat) lantai
memiliki sarana dan prasarana bangunan yang lengkap
SLB tidak diutilisasi sebesar 30% LBB
[Link] 25
Reviu atas Perencanaan Kebutuhan
Tanah Bangunan Kantor
Catatan Penting:
• Dengan tetap memperhatikan Optimalisasi Eksisting Tanah
• Harus diajukan bersamaan dengan RKBMN Bangunan yang berdiri di atasnya
• Dilengkapi dokumen koefisien dasar bangunan
u ka n Luas an Lua
s
an Lua
s
Te nt
gunan Tentuk Lahan Tentuk an
r B a n m um Lah
Cara Menghitung Das a Minimu M aks i m
[Link] 26
Reviu atas Perencanaan Kebutuhan Rumah Negara
Catatan Penting:
• Dengan tetap memperhatikan Optimalisasi Eksisting Rumah Negara
• Harus dilengkapi dokumen pembahasan dengan dinas PU
• Tidak diperkenakan melalui mekanisme sewa
[Link] 27
SBSK Bangunan Gedung Rumah Negara
A. Klasifikasi Bangunan Sesuai Pengguna B. Standar Ketinggian Bangunan C. Standar Kebutuhan Unit
1. Type Khusus: RN Pimpinan Lembaga Negara, berdasarkan pembahasan bersama antara Pengguna
1. Rumah Negara Tipe Khusus, Tipe A, dan
Menteri, Pimpinan Lembaga Pemerintah non Barang/Kuasa Pengguna Barang bersangkutan dengan
Kepenterian, setingkat.
Tipe B paling tinggi 2 (dua) lantai; instansi/unit kerja yang bertanggung jawab di bidang
2. Type A; RN Pejabat setingkat Es. 1 2. Rumah Negara Tipe C, Tipe D, dan Tipe E pekerjaan umum
3. Type B: RN Pejabat Setingkat Es. 2 adalah 1 (satu) lantai.
4. Type C: RN pejabat setingkat Es.3
5. Type D: Kantor pejabat setingkat Es.4
6. Type E: Kantor pejabat setingkat Es.5
[Link] 28
Reviu atas Perencanaan Kebutuhan Tanah Rumah Negara
Catatan Penting:
• Dengan tetap memperhatikan Optimalisasi Eksisting Tanah Standar Luas Tanah
• Harus diajukan bersamaan dengan RKBMN Rumah Negara 1. Type Khusus: 1.000 m2.
yang berdiri di atasnya 2. Type A; 600 m2
• Terdapat toleransi luas Tanah untuk tipe rumah negara 3. Type B: 350 m2
4. Type C: 200 m2
melebihi standar maksimal luas tanah (misalnya DKI
5. Type D: 120 m2
Jakarta 20%, ibu kota provinsi 30%, ibu kota kabupaten/ 6. Type E: 100 m2
kota 40% dan pedesaan 50%).
• Tidak diperkenankan melalui mekanisme sewa
[Link] 29
Reviu atas Perencanaan Kebutuhan Kendaraan Jabatan, Operasional, Fungsional
Catatan Penting:
• Memperhatikan Optimalisasi Eksisting Kendaraan. Jumlah Eksisting Kendaraan dapat dipengaruhi oleh:
• rencana penggunaan, antara lain: alih fungsi (dialihkan ke jenis kendaraan lain), dihentikan penggunaannya.
• rencana pemanfaatan, pemindahtanganan dan penghapusan. Syarat penghapusan: berumur 7 tahun, kondisi rusak
berat dengan kondisi fisik setinggi-tingginya 30%
• rencana pengadaan kendaraan dalam DIPA yang akan direalisasikan pada semester II tahun berjalan.
• revisi anggaran terkait penambahan kendaraan hasil optimalisasi anggaran tahun berjalan
• rencana pengadaan kendaraan dalam RKA-K/L (pagu alokasi anggaran) tahun berikutnya.
• Dalam hal telah dilaksanakan delayering jabatan struktural menjadi jabatan fungsional, standar kebutuhan pengadaan
Kendaraan Operasional dapat dilakukan dengan tetap memperhitungkan jabatan struktural lama yang berubah
menjadi jabatan fungsional.
[Link] 30
SBSK Kendaraan Jabatan
Standar Kebutuhan Kendaraan Jabatan
Tingkat Jabatan Jumlah Pilihan Jenis Kelas Maksimum
Standar Barang Kendaraan Jabatan Maksimum
Menteri dan yang setingkat 2 unit Sedan dan/atau Kualifikasi A
Kualifikasi Jenis Spesifikasi SUV atau MPV
Sedan 3.500 cc, 6 Silinder Wakil Menteri 1 unit Sedan atau Kualifikasi A
SUV/MPV
Sport Utility Vehicles 3.500 cc, 6 Silinder
Eselon IA dan yang setingkat 1 unit Sedan atau SUV Kualifikasi B
A (SUV)/
Multi Purpose Vehicles Eselon IB dan yang setingkat 1 unit Sedan atau SUV Kualifikasi C
Sedan 2.500 cc, 4 Silinder Eselon IIB dan yang setingkat 1 unit SUV Kualifikasi E
B
SUV 3.000 cc, 6 Silinder Eselon III dan yang setingkat, 1 unit MPV Kualifikasi F
yang berkedudukan sebagai
Sedan 2.000 cc, 4 Silinder
C kepala kantor
SUV 2.500 cc, 4 Silinder
Eselon IV dan yang setingkat, 1 unit MPV Kualifikasi G
D SUV 2.500 cc, 4 Silinder yang berkedudukan sebagai
E SUV 2.000 cc, 4 Silinder kepala kantor dengan wilayah
kerja minimal 1 (satu)
MPV 2.000 cc Bensin atau
kabupaten/kota
F 2.500 cc Diesel, 4
Eselon IV dan yang setingkat, 1 unit Sepeda Motor Kualifikasi G
Silinder
yang berkedudukan sebagai
MPV 1.500 cc, 4 Silinder kepala kantor dengan wilayah
G
Sepeda Motor 225 cc, 1 Silinder kerja kurang dari 1 (satu)
kabupaten/kota
[Link] 31
SBSK Kendaraan Operasional
Setingkat Es.
50 % Jumlah Jumlah Jabatan Pembulatan ke
III / Kantor
Pelayanan Jabatan Es. IV Es. IV atas
[Link] 32
Ketentuan Alih Fungsi AADB
Kendaraan Roda 2
Didukung
Tidak Melebihi SBSK dan Jumlah Kendaraan Dokumen
Operasional dengan adanya alih fungsi tidak RP4
mengalami perubahan.
[Link] 34
Reviu atas atas Perencanaan
Pemeliharaan BMN
Objek Tanah dan/atau Bangunan
Perencanaan
Pemeliharaan BMN Selain Tanah dan/atau Bangunan
[Link] 36
Terima Kasih