0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan42 halaman

Kasus TB Paru pada Pasien Muda 21 Tahun

Dokumen tersebut merangkum kasus TB paru pada seorang pria berusia 21 tahun. Pasien mengeluhkan batuk berdahak selama 3 minggu dan demam naik turun selama 2 minggu disertai sesak napas dan berkeringat malam hari. Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda infeksi paru dan hasil laboratorium menunjukkan peningkatan leukosit beserta perubahan pada sel darah putih. Hasil rontgen thoraks menunjukkan infiltrat paru dan c

Diunggah oleh

Warawiri 11
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan42 halaman

Kasus TB Paru pada Pasien Muda 21 Tahun

Dokumen tersebut merangkum kasus TB paru pada seorang pria berusia 21 tahun. Pasien mengeluhkan batuk berdahak selama 3 minggu dan demam naik turun selama 2 minggu disertai sesak napas dan berkeringat malam hari. Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda infeksi paru dan hasil laboratorium menunjukkan peningkatan leukosit beserta perubahan pada sel darah putih. Hasil rontgen thoraks menunjukkan infiltrat paru dan c

Diunggah oleh

Warawiri 11
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DEPARTEMEN PENYAKIT DALAM

RSUD AMBARAWA
FK UNIVERSITAS UPN VETERAN JAKARTA

PRESENTASI KASUS
TB PARU

DISUSUN OLEH :
YAUMIL RYAN TARUNA ANGKASA– 211021131

PEMBIMBING :
dr. B. Susanto Permadi, SpPD
Table of Contents

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

STATUS PASIEN KESIMPULAN

PEMBAHASAN
KASUS DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH

Tuberkulosis (TB) merupakan salah Pada tahun 1993, World Jumlah kasus baru TB di
satu penyakit infeksi yang masih Health Organization (WHO) Indonesia sebanyak 420.994
menjadi masalah kesehatan telah mengumumkan TB kasus pada tahun 2017 (data
masyarakat di dunia hingga hari ini. sebagai Global Emergency. per 17 Mei 2018).

TB paru termasuk Diperkirakan terdapat 92.000 Indonesia pada tahun 2019


penyakit yang paling kematian pada kasus TB-HIV negatif terdapat 845.000 kasus baru TB
banyak menyerang usia dan 4.700 kematian pada pasien TB- Paru, 19.000 di antaranya kasus
produktif (15-49 tahun). HIV positif. TB-HIV positif.
BAB II
STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Tn. AR
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Usia : 21 tahun
• Tanggal Lahir : 29 Juli 2001
• Status Perkawinan : Belum Menikah
• Pekerjaan : Pelajar
• Suku Bangsa : Jawa
• Agama : Islam
ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada perawatan hari ke-2
tanggal 6 Agustus 2022 di Ruangan rawat inap anyelir RSUD
Ambarawa.

KELUHAN UTAMA
Batuk berdahak .
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke IGD RSGM Ambarawa dengan keluhan batuk
berdahak sejak dua minggu SMRS. Batuk dahak berwarna kehijauan
sudah berlangsung sekitar 3 minggu SMRS. Pasien mengeluhkan demam
naik turun selama 2 minggu SMRS namun tidak mengukur suhu tubuh.
Keluhan disertai dengan sesak napas, nyeri dada, dan berkeringat pada
malam hari. Sesak dirasakan terus menerus. Pasien juga merasa
lemas,mual dan merasa nyeri dada kanan. Pasien mengalami penurunan
berat badan dari 55 kg ke 47 kg selama satu bulan terakhir. Pilek,
muntah, gangguan BAB, dan gangguan BAK disangkal.

Pasien tidak memiliki kontak dengan pasien suspek maupun


terkonfirmasi COVID-19. Pasien tidak memiliki riwayat perjalanan baik
dalam maupun luar negeri dan telah menerima vaksin Astrazeneca
sebanyak satu kali.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

∙ Pasien tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya.


∙ Riwayat DM,Asma, penyakit jantung, alergi makanan
maupun obat-obatan disangkal oleh pasien.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Ibu pasien pernah memiliki keluhan serupa dengan pasien
dan sempat diberikan OAT 10 tahun yang lalu. Pasien tidak
mengetahui apakah ibu pasien sembuh, selesai berobat, atau
putus obat.
RIWAYAT PRIBADI
SOSIAL DAN EKONOMI
Pasien merupakan perokok aktif selama lebih dari 4 tahun. Dalam
sehari pasien dapat menghabiskan satu bungkus rokok. Pasien tinggal di
kawasan padat penduduk, rumah pasien tidak memiliki cukup ventilasi
dan sinar matahari yang cukup.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : E4M6V5, GCS: 15 🡪 Compos mentis
Tanda-tanda Vital
• Tekanan Darah : 110/74 mmHg
• Nadi : 102 x/menit
• Frek. Napas : 22 x/menit
• Suhu : 36.6 ºC
• SaO2 : 98%
Status Antropometri
• BB : 47 kg
• TB : 160 cm
• IMT : 18,35 (underweight)
Status Generalis
Mata
Kepala
Edema palpebral (-/-),
Normocephal, rambut
konjungtiva pucat (-/-),
berwarna hitam distribusi
merata, rambut tidak sklera ikterik (-/-), pupil
mudah dicabut isokor, mata tidak cekung

Hidung
Simetris, deviasi septum (-/-),
sekret (-), nafas cuping hidung Telinga
(-/-), perdarahan (-), massa (-), Normotia, sekret (-),
concha tidak edema dan tidak
perdarahan (-), massa (-),
hiperemis
nyeri tekan (-), hiperemis (-)

Leher
Mulut & Tenggorokan
Pembesaran KGB (-),
tiroid simetris, tidak Mukosa bibir pucat, Tonsil T1-T1, tonsil
membesar dan tidak mukosa mulut lembab, dan faring tenang,
bergerak saat menelan sianosis (-), lesi (-) hiperemis (-)
THORAX
Pulmo Inspeksi : Normochest, pergerakan dada simetris, tidak ada massa, tidak ada
lesi, tidak ada retraksi

  Palpasi : Pergerakan simetris. ICS tidak melebar. Ekspansi dada normal. Tidak
ada yang tertinggal. Taktil fremitus simetris kanan dan kiri. 

  Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru.


  Auskultasi : Suara vesikuler simetris kanan kiri, ronkhi basah (+/+), wheezing (-/-)
Cor Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
  Palpasi : Iktus cordis teraba di ICS V linea midclavicularis sinistra
  Perkusi : Batas kanan ICS IV LPS dextra, batas kiri ICS V LMC sinistra, pinggang
jantung pada ICS III LPS sinistra

  Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni regular, murmur (-/-), gallop (-/-)
Status Generalis
Abdomen Inspeksi : Perut tampak datar, massa (-), lesi pada dinding perut (-)

  Auskultasi : Normoperistaltik,Bising Usus (+)

  Palpasi : Massa (-), hepatosplenomegali (-), ballotement (-/-), nyeri ketok (-/-),
nyeri tekan epigastrium (+)
  Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen

Ekstremitas Superior : Akral hangat,  CRT<2 detik, pucat, turgor kulit dalam batas normal,
edema (-/-)

Inferior : Akral hangat, CRT<2 detik, pucat, pitting edema pada kedua tungkai(-/-)
Pemeriksaan
Penunjang
✔ Radiografi
✔ Laboratorium
Rontgen Thorax
7/8/22
Foto polos thoraks PA RSUD Ambarawa (7 Agustus 2022)
Cor tidak membesar,
sinuses dan diafragma normal
Pulmo: hili normal, corakan bronchovaskuler normal,
tampak infiltrat di lapang atas dan bawah paru kanan.
Tampak rongga lusen multiple dinding tebal, air fluid
level (+), honey comb appearance di lapang bawah paru
kanan
Kesan: TB paru aktif
LABORATORIUM
HASIL
Nilai Rujukan
Jenis Pemeriksaan (8/8/2022)
 

IMUNOSEROLOGI
Anti HIV Penyaring

Metode 1 Non Reaktif Non Reaktif


Reagen Fokus

Metode 2 Tidak dikerjakan Non Reaktif


Metode 3 Tidak dikerjakan Non Reaktif
Kesimpulan Non Reaktif  
Saran -    
NamaPemeriksaan HasildanTanggalPemeriksaan NilaiRujukan
7/08/22 9/08/22 10/08/22 11/08/22
HEMATOLOGI
Hemoglobin 13.2 11.4 13.2–17.3mg/dL
Hematokrit 39 34 40–52
Leukosit 21.0 16.7 3.8–10.6103uL
Trombosit 323 422 150–440103uL

LABORATORIUM Eritrosit
RDW
4.67
13.9%
4.03
14.4%
4.40–5.90103uL

NilaiEritrosit
MCV 83 83 80–100fl
MCH 28 28 26–34pg
MCHC 34 34 32–36g/dL
Hitung Jenis
Basofil 0.0 0.0 0.0–1.0%
Eosinofil 0.0 0.0 2.0–4.0%
Neutrofil 83.0 82.0 50.0–70.0%
Limfosit 10.0 10.0 25.0–40.0%
Monosit 4.0 8.0 2.0–8.0
NLR 8.60 8.20 <3.12
LED 39 65 0 – 10mm/jam
Makroskopis
Warna Kuning Kuning muda
Kejernihan Jernih Jernih
Mikroskopis
Eritrosit 0–1 0 – 1/LBP
Leukosit 1–2 1 – 6/LBP
EpitelSel +1 Positif/LPK

LABORATORIUM Silinder
Bakteri
Negatif
Negatif
Negatif/LPK
Negatif/LPK
Kristal Negatif Negatif/LPK
Ragi Negatif Negatif/LPK
Lain-lain
Kimia
pH 5.0 7.0
BeratJenis 1.015 1.010–1.032
ProteinUrin Negatif Negatif
GlukosaUrin Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Urobilinogen 0.2 0.2–1.1E.U/dL
Nitrit Negatif Negatif
LeukositEsterase Negatif Negatif
Blood Negatif Negatif
BTA (08/08/2022)
Jenis Pemeriksaan HASIL (08/8/2022) Nilai Rujukan

MIKROBIOLOGI
Pemeriksaan BTA
∙ Jenis Bahan Sputum  
∙ Tanggal diperiksa 08/04/2022  
∙ Hasil Negatif Negatif

TCM Sputum
Hasil pemeriksaan tanggal 8 Agustus 2022: MTB not detected
TATA LAKSANA
Terapi Farmakologis
- IVFD NaCl 0.9% 500 cc + ketorolac Edukasi dan Rehabilitasi
60 mg/ 24 jam • Edukasi mengenai kronisitas penyakit,
- Inj. Omeprazole 2 x 40 mg IV
pentingnya rutin konsumsi OAT untuk
- Inj. Ceftriaxone 1 x 2 g IV
mencegah resistensi, menekan replikasi serta
- OAT 4 KDT 1 x 3 tab po
- Vit B6 1 x 1 tab po penyebaran bakteri, dan berhenti merokok
- Curcuma 3x1 tab po • Edukasi kepada keluarga mengenai
penyebaran bakteri, tindakan preventif,
Rencana Monitoring
pentingnya rutin minum obat, dan menunjuk
Monitor fungsi paru dan salah satu perwakilan sebagai Pengawas

skala nyeri pasien Menelan Obat (PMO)


PROGNOSIS
Quo Ad
Vitam
Ad bonam
Quo ad Quo Ad
Sanationam Functionam
Dubia ad bonam Dubia ad bonam
BAB III
PEMBAHASAN
KASUS
ANALISIS MASALAH
1. TB Paru
Diagnosis TB Paru pada pasien dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pada
anamnesis terdapat beberapa gejala yang mengarah pada TB Paru, dimana
diantaranya pasien mengalami sesak, batuk berdahak, malaise. Pasien juga adanya
penurunan berat badan yang drastis yaitu ± 8 kg disertai penurunan nafsu makan dan
mual. Keluhan ini juga disertai timbulnya nyeri pada dada kanan. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan kesadaran compos mentis, tachycardia, dan tachypnea, dan dyspnea.
Pada auskultasi paru ditemukan rhonchi basah pada bagian basal kedua paru. Pada
pemeriksaan laboratorium ditemukan leukositosis (21.0 menjadi 16.7),dan
peningkatan LED (39 menjadi 65). Hasil foto thorax tampak kesan TB paru aktif .
BAB IV
TINJAUAN
PUSTAKA
Definisi TB
Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga
sering dikenal dengan Basil Tahan Asam (BTA).
Sebagian besar kuman TB sering ditemukan menginfeksi parenkim
paru dan menyebabkan TB paru, namun bakteri ini juga memiliki
kemampuan menginfeksi organ tubuh lainnya (TB ekstra paru)
seperti pleura, kelenjar limfe, tulang, dan organ ekstra paru
lainnya
Epidemiologi TB

Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2020 yang


diterbitkan oleh WHO, diperkirakan pada tahun
2019 terdapat:
44%
• Insiden kasus : 10 juta 25%
• Kasus meninggal (HIV negatif) : 1,2 juta
• Kasus meninggal (HIV positif) : 208.000

Jumlah kasus baru TB di Indonesia 🡪 420.994 kasus pada tahun 2017 (data per 17 Mei 2018).
Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TB tahun 2017 pada laki-laki 1,4 kali lebih besar
dibandingkan perempuan. Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada faktor
risiko TB misalnya merokok dan kurangnya kepatuhan minum obat.
Etiologi TB

1. Mycobacterium tuberculosis, 🡪 bakteri yang paling sering ditemukan, dan


2. Mycobacterium bovis, menular antar manusia melalui rute udara.
3. Mycobacterium africanum,
4. Mycobacterium microti
5. Mycobacterium cannettii.

Tuberkulosis biasanya menular dari manusia ke manusia lain lewat


udara melalui percik renik atau droplet nucleus (<5 microns) yang
keluar ketika seorang yang terinfeksi TB paru atau TB laring batuk,
bersin, atau bicara.
Faktor Risiko TB
1. Orang dengan HIV positif dan penyakit immunocompromised lain.
2. Orang yang mengonsumsi obat imunosupresan dalam jangka waktu panjang.
3. Perokok
4. Konsumsi alkohol tinggi
5. Anak usia <5 tahun dan lansia
6. Memiliki kontak erat dengan orang dengan penyakit TB aktif yang infeksius.
7. Berada di tempat dengan risiko tinggi terinfeksi tuberculosis (contoh: lembaga
permasyarakatan, fasilitas perawatan jangka panjang)
8. Petugas kesehatan
Klasifikasi TB
● Terduga TB :
• Ada gejala atau tanda TB.
• Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak
napas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam
hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan
• pasien dengan HIV positif, batuk sering kali bukan merupakan gejala TB yang khas, sehingga
gejala batuk tidak harus selalu selama 2 minggu atau lebih.
● Kasus TB :
• Ditemukan Mycobacterium tuberculosis kompleks yang diidentifikasi dari spesimen klinik
(jaringan, cairan tubuh, usap tenggorok dll) dan kultur.
• Pada keterbatasan lab, TB paru ditegakkan apabila ditemukan satu atau lebih dahak BTA (+)
Atau
• Seorang pasien yang setelah dilakukan pemeriksaan penunjang untuk TB sehingga didiagnosis TB
oleh dokter
Kasus TB
Klasifikasi Utama :
Terkonfirmasi secara bakteriologis Terdiagnosis secara klinis
• Pasien TB paru BTA positif • Pasien TB paru BTA negatif dengan hasil
• Pasien TB paru hasil biakan MTB positif pemeriksaan foto toraks mendukung TB.
• Pasien TB paru BTA negatif dengan tidak
• Pasien TB paru hasil tes cepat MTB positif
ada perbaikan klinis setelah diberikan
• Pasien TB ekstraparu terkonfirmasi secara antibiotika non OAT, dan mempunyai
bakteriologis, baik dengan BTA, biakan faktor risiko TB.
maupun tes cepat dari contoh uji jaringan • Pasien TB ekstraparu yang terdiagnosis
yang terkena secara klinis maupun laboratoris dan
• TB anak yang terdiagnosis dengan histopatologis tanpa konfirmasi
bakteriologis.
pemeriksaan bakteriologis.
• TB anak yang terdiagnosis dengan sistim
skoring
Patogenesis
TB
PDPI, 2006
Manifestasi Klinis
Gejala tambahan:
• Batuk darah
• Sesak napas
Gejala utama: • Badan lemas
batuk berdahak • Pe↓ nafsu makan
• Pe↓ berat badan yang tidak disengaja
≥ 2 minggu
• Malaise
• Berkeringat di malam hari tanpa kegiatan
fisik
• Demam subfebris > 1 bulan
• Nyeri dada
Pemeriksaan Fisik
• Kelainan tergantung organ yang terlibat
• TB paru tergantung luas kelainan struktur paru
• Kelaianan paru umumnya terletak pada daerah
lobus superior terutama daerah apeks dan
segmen posterior dan apeks lobus inferior
• Auskultasi dapat ditemukan suara napas bronkial,
amforik, suara napas melemah, rhonki basah
Alur
Diagnosis
Permenkes RI, 2020
Pengobatan
Paduan OAT untuk pengobatan TB di Indonesia adalah:
2RHZE / 4 RH

Fase intensif :
4 obat berupa Rifampisin (R), Isoniazid (H), Pirazinamid (Z),
dan Etambutol (E) selama 2 bulan
Fase lanjutan :
2 obat Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) selama 4 bulan
Dosis OAT untuk pengobatan TB-SO menggunakan
tablet kombinasi dosis tetap (KDT)
Berat Badan (kg) Fase intensif setiap hari Fase lanjutan setiap hari
dengan KDT RHZE dengan KDT RH (150/75)
(150/75/400/275)
  Selama 8 minggu Selama 16 minggu
30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet
38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet
≥ 55 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet

Sumber : PDPI 2021


Dosis OAT lepasan lini pertama untuk
pengobatan TB-SO
Nama Obat Dosis Harian
Dosis (mg/kgBB) Dosis maksimum (mg)
Rifampisin (R) 10 (8-12) 600
Isoniazid (H) 5 (4-6) 300
Pirazinamid (Z) 25 (20-30)  
Etambutol (E) 15 (15-20)  
Streptomisin 15 (12-18)  

Sumber : PDPI 2021


Edukasi untuk pasien TB
• Edukasi mengenai kronisitas penyakit, pentingnya rutin konsumsi OAT untuk mencegah
resistensi, menekan replikasi serta penyebaran bakteri, dan berhenti merokok
• Edukasi kepada keluarga mengenai penyebaran bakteri, tindakan preventif, pentingnya
rutin minum obat, dan menunjuk salah satu perwakilan sebagai Pengawas Menelan
Obat (PMO)
• Pemeriksaan resistensi obat
• Kontrol satu minggu post rawat inap untuk mengevaluasi gejala klinis pasien serta gejala
efek samping obat
• Kontrol satu bulan post pemberian OAT untuk mengevaluasi gejala klinis, perubahan
berat badan, dan mengevaluasi hasil pemeriksaan resistensi obat (jika sudah ada)
• Kontrol dua bulan post pemberian OAT untuk mengevaluasi gejala klinis, perubahan
berat badan, mengevaluasi hasil pemeriksaan resistensi obat, dan foto polos thorax
Edukasi untuk pasien TB
• Alkohol harus dihindarkan karena hanya mengandung kalori tinggi, tidak

memiliki vitamin 🡪 dapat memperberat fungsi hepar.

• Menjaga asupan cairan yang adekuat (minum minimal 6-8 gelas per hari).

• Prinsipnya pada pasien TB tidak ada pantangan.

o Bila demam dapat diberikan obat penurun panas/demam.

o Bila perlu dapat diberikan obat untuk mengatasi gejala batuk, sesak napas atau

keluhan lain.

o Hentikan merokok.
DAFTAR PUSTAKA
1. PPDI. TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN DI
INDONESIA. 2021:1-81.
2. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata
Laksana Tuberkulosis. 2020.
3. Infodatin Kementerian Kesehatan RI. Tuberkulosis. 2018.
4. Kristini TD, Hamidah R, et al. Potensi Penularan Tuberculosis Paru pada
Anggota Keluarga Penderita. 2020;15:24-28.
5. Werdhani, Retno Asti. Patofisiologi, diagnosis, dan klafisikasi
tuberkulosis. Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Okupasi, dan
Keluarga. FKUI. (2002): 2-3.
Thanks!
Do you have any questions?

CREDITS: This presentation template was created by Slidesgo, including


icons by Flaticon, and infographics & images by Freepik

Anda mungkin juga menyukai