0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan59 halaman

Perbedaan Yield dan Kupon Obligasi

Dokumen tersebut membahas tentang penilaian obligasi, termasuk karakteristik obligasi seperti nilai nominal, tingkat bunga kupon, tanggal jatuh tempo, ketentuan penebusan, dan dana pelunasan. Dokumen tersebut juga menjelaskan berbagai jenis yield obligasi seperti yield saat ini, yield hingga jatuh tempo, dan contoh perhitungannya.

Diunggah oleh

zauqi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan59 halaman

Perbedaan Yield dan Kupon Obligasi

Dokumen tersebut membahas tentang penilaian obligasi, termasuk karakteristik obligasi seperti nilai nominal, tingkat bunga kupon, tanggal jatuh tempo, ketentuan penebusan, dan dana pelunasan. Dokumen tersebut juga menjelaskan berbagai jenis yield obligasi seperti yield saat ini, yield hingga jatuh tempo, dan contoh perhitungannya.

Diunggah oleh

zauqi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENILAIAN SURAT

BERHARGA OBLIGASI

Oleh:
Adeka Titis Kurniawan – 123012011058
Patuan Beltsazar S - 123012011014
Dian Permata – 123012011007
M. Zauqi Rahman - 123012011057
Pendahuluan
Salah satu bentuk investasi adalah dengan membeli produk–produk keuangan berupa
surat berharga (efek), yaitu obligasi. obligasi merupakan pernyataan utang dari
penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali
pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada saat jatuh tempo pembayaran.

Obligasi dibedakan menjadi tiga:


1. Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan,
2. Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, dan
3. Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah. Obligasi pemerintah
digunakan untuk membiayai keperluan pemerintah. Obligasi pemerintah bebas
resiko default, artinya investor yakin akan dibayar penuh dan tepat

2
Karakteristik Obligasi dan Yield Obligasi

Umumnya, karakteristik setiap obligasi itu sama, tapi setiap obligasi mempunyai fitur
kontraktualnya masing-masing. Seperti sebagian besar obligasi perusahaan mempunyai
ketentuan untuk melakukan suatu pelunasan di awal, namun beberapa ketentuan penebusan
spesifik bisa berbeda-beda dari obligasi satu ke obligasi yang lainnya.
Karakteristik Obligasi
■ Par Value
Par Value obligasi adalah karakteristik obligasi yang di dalamnya memiliki nilai yang mencerminkan jumlah uang yang dipinjam
oleh pihak perusahaan dan dijanjikan untuk dilunasi lagi saat tanggal jatuh tempo sudah tiba.
■ Tingkat Bunga Kupon (coupon interest rate)
Tingkat bunga kupon adalah pembayaran kupan yang dibagi dengan par value. Pembayaran ini bisa ditentukan ketika obligasi
diterbitkan, dan tetap akan berlaku sepanjang umur obligasi itu sendiri.
■ Tanggal Jatuh Tempo
obligasi umumnya mempunyai tanggal jatuh tempo yang sudah ditentukan, yang mana par value nya harus bisa dilunasi. Waktu
jatuh tempo tersebut ditentukan ketika obligasi pertama kali diterbitkan, seperti 10 tahun atau 15 tahun.

■ Ketentuan Penebusan (call provision)


Ketentuan penebusan adalah suatu ketentuan di dalam kontrak obligasi yang mampu memberikan hak pada emiten untuk bisa
menebus obligasi kembali.

■ Dana Pelunasan (sinking fund provision)


Ketentuan tentang dana pelunasan ini adalah ketentuan dalam kontrak pada suatu obligasi yang meminta pihak emiten untuk
melunasi sebagian emisi obligasi di setiap tahunnya. Beberapa obligasi akan menyertakan ketentuan dana pelunasan yang mampu
memfasilitasi pelunasan emisi obligasi secara lebih teratur.
Yield (imbal hasil)
Menurut daftar istilah Surat Utang Negara, imbal hasil (yield) adalah
keuntungan yang akan diperoleh investor dalam persentase per tahun.
Yield digambarkan melalui kurva yield (yield curve). Kurva tersebut
mengintepretasikan hubungan antara yield dengan waktu jatuh tempo
(time to maturity) untuk suatu jenis obligasi tertentu pada waktu tertentu.
Oleh karena itu, investor dapat mengetahui jangka waktu investasi
terbaik melalui kurva yield.

5
Jenis-jenis Yield
■ Persentase tahunan
■ Yield saat ini (current yield). Yield saat ini adalah rasio antara kupon bunga dengan harga obligasi
saat ini. Misalnya, suatu obligasi dibeli dengan harga Rp10.000.000 dengan masa tenor 5 tahun,
lalu obligasi ini menawarkan kupon sebesar 10% per tahunnya. Harga obligasi saat ini
Rp8.000.000, maka yield saat ini bisa dihitung dengan:
Rp10.000.000 x 10% / Rp8.000.000 x 100% = 12,5%

■ Yield saat jatuh tempo (yield to maturity, untuk obligasi). Yield saat jatuh tempo adalah tingkat
pengembalian investasi yang didapatkan investor hingga berakhirnya masa tenor obligasi atau
saat nilai investasi awal dikembalikan sepenuhnya ke investor. Yield saat jatuh tempo dihitung
dengan menyamakan harga obligasi saat ini dengan seluruh tingkat pengembalian di masa depan.
Yield Obligasi
26/5
■ Ada dua istilah yang terkait dengan karakteristik pendapatan suatu
obligasi, yaitu yield obligasi (bond yield) dan bunga obligasi (bond
interest rate).
■ Yield obligasi merupakan ukuran pendapatan obligasi yang akan
diterima investor, yang cenderung bersifat tidak tetap.
■ Yield obligasi tidak bersifat tetap, sebagaimana layaknya bunga
(kupon) obligasi, karena yield obligasi akan sangat terkait dengan
tingkat return yang disyaratkan investor.
KUPON DAN CURRENT
YIELD
■ Nominal yield obligasi atau tingkat kupon (coupon rate) adalah
penghasilan bunga kupon tahunan yang dibayarkan pada
pemegang obligasi.
Penghasilan bunga tahunan
Tingkat kupon (atau nominal yield) =
Nilai nominal

■ Current yield obligasi adalah penghasilan bunga kupon


tahunan dibagi dengan harga pasar obligasi.
Penghasilan bunga tahunan
Current yield =
Harga pasar obligasi
Contoh:
■ Sebuah obligasi mempunyai nilai nominal Rp1 juta dengan tingkat
kupon 12 persen dibayar dua kali setahun. Seorang investor
membelinya pada harga 95,00 (artinya 95 persen dari nilai
nominal).

■ Current yield adalah


(0.12 x Rp1 juta) / (0,95 x Rp1 juta) = 12,63 persen.
YIELD TO MATURITY (YTM)
■ Yield to maturity (YTM) diartikan sebagai tingkat return majemuk yang
akan diterima investor jika membeli obligasi pada harga pasar saat ini
dan menahan obligasi tersebut hingga jatuh tempo.
■ Jika dua asumsi berikut terpenuhi, yield to maturity yang diharapkan
akan sama dengan realized yield:
YIELD TO MATURITY (YTM) (lanjutan)

 Asumsi pertama adalah bahwa investor akan mempertahankan


obligasi tersebut sampai dengan waktu jatuh tempo. Nilai yang
didapat jika asumsi pertama dipenuhi sering disebut dengan
yield to maturity (YTM).
 Asumsi kedua adalah investor menginvestasikan kembali
pendapatan yang diperoleh dari obligasi pada tingkat YTM yang
dihasilkan.
YIELD TO MATURITY (YTM) (lanjutan)
■ YTM adalah tingkat bunga yang menyamakan harga obligasi (P)
dengan nilai sekarang dari semua aliran kas yang diperoleh dari
obligasi sampai dengan waktu jatuh tempo.
■ Pendapatan hasil investasi kembali dari pembayaran kupon
obligasi disebut dengan interest on interest.
■ Untuk obligasi yang memberikan kupon yang tinggi atau waktu
jatuh tempo yang panjang, asumsi bahwa investor akan
melakukan reinvestasi atas semua pendapatan bunga yang
diperoleh dari obligasi menjadi penting.
YIELD TO MATURITY (YTM) (lanjutan)
■ Persamaan untuk menghitung YTM adalah:
2n C i /2 Pp
P t

t  1 (1  YTM/2) (1  YTM/2)2n
dalam hal ini:
P = harga obligasi pada saat ini (t=0)
n
= jumlah tahun sampai dengan jatuh tempo obligasi
Ci = pembayaran kupon obligasi I setiap tahunnya
YTM = yield to maturity
Pp = nilai par dari obligasi
 Asumsi kupon obligasi dibagikan setiap semester
YIELD TO MATURITY (YTM) (lanjutan)
■ Untuk memperoleh nilai YTM yang mendekati dapat digunakan persamaan berikut:

Pp  P
Ci 
YTM *  n
Pp  P
2
dalam hal ini:
YTM* = nilai YTM yang mendekati
P = harga obligasi pada saat ini (t=0)
n = jumlah tahun sampai dengan jatuh tempo obligasi
Ci = pembayaran kupon untuk obligasi i setiap tahunnya
Pp = nilai par dari obligasi
=

CONTOH PERHITUNGAN YTM 34/51

■ Sebuah obligasi yang tidak callable akan


jatuh tempo 10 tahun lagi, nilai parnya
Rp 1000 dan tingkat kuponnya adalah
18%. Diasumsikan obligasi tersebut saat
ini dijual dengan harga di bawah par
yaitu Rp 917,69. Berapakah YTM obligasi
ini?
=

CONTOH PERHITUNGAN YTM


37/51
■ Pendekatan YTM adalah:

1000 - 917,69
180 
YTM*  10
1000  917,69
2
180  8,213

953,845

YTM *  19 ,73%
YIELD TO CALL (YTC)
■ Yield to call (YTC) adalah yield yang diperoleh pada obligasi
yang bisa dibeli kembali (callable).
■ Obligasi yang callable, berarti bahwa emiten bisa melunasi atau
membeli kembali obligasi yang telah diterbitkannya dari tangan
investor yang memegang obligasi tersebut, sebelum jatuh
tempo.
YIELD TO CALL (YTC)

■ Untuk menghitung YTC, bisa digunakan persamaan


berikut ini:
2c
Ci / 2 Pc
P t
 2c
t 1 (1  YTC / 2) (1  YTC / 2)
■ YTC yang mendekati bisa ditentukan dengan:
Pc  P
Ci 
YTC *  n
Pc  P
2
CONTOH PERHITUNGAN YTC 45/51

■ Sebuah obligasi yang callable jatuh tempo 20


tahun lagi dan kupon yang diberikan adalah 18%.
Nilai par obligasi tersebut adalah Rp1.000 dan
saat ini dijual pada harga Rp1.419,5.
Kemungkinan obligasi tersebut akan dilunasi oleh
emiten 5 tahun lagi dengan call price sebesar
Rp1.180. Berapakah YTC obligasi ini?
CONTOH PERHITUNGAN YTC
46/51

■ Jawab:
1180 - 1419,5
180 
YTC *  5
1180  1419 ,5
2

180  (47,9)

1299,75

YTC *  10 ,16%
REALIZED (HORIZON) YIELD (RY)
■ Yield yang terealisasi (horison) adalah tingkat return yang diharapkan investor
dari sebuah obligasi, jika obligasi tersebut dijual kembali oleh investor
sebelum waktu jatuh temponya.
■ Perhitungan yang harus dilakukan dalam menentukan yield horizon
memerlukan beberapa estimasi yang sebelumnya tidak digunakan pada ukuran
yield lainnya.
■ Estimasi yang harus dilakukan investor antara lain adalah estimasi harga jual
obligasi pada akhir periode investasi yang diharapkan dan estimasi tingkat
reinvestasi untuk pendapatan kupon yang diperoleh.
REALIZED (HORIZON) YIELD (RY)
CONTOH PERHITUNGAN RY 49/51

■ Sebuah obligasi, nominal Rp1.000, umur 10


tahun dan kupon 16%, dijual pada harga
Rp750. Investor mengestimasi bahwa
dalam dua tahun mendatang suku bunga
yang berlaku akan turun, sehingga
diperkirakan harga obligasi akan naik.
Estimasi harga obligasi pada dua tahun
mendatang pada saat suku bunga turun
adalah Rp900. Berapakah realized yield
obligasi ini?
CONTOH PERHITUNGAN RY
50/51

■ Jawab: Yield yang terealisasi dari


obligasi tersebut diperkirakan sebesar:
900  750
160 
* 2 160  75
YR  
900  750 825
2

YR *  28,48%
Valuasi Obligasi Menggunakan Spot Rates
Spot rate merupakan tingkat bunga yang langsung bisa diketahui investor pada waktu melakukan investasi.
Berikut formula untuk menghitung spot rate

25
Term Structure of Interest Rate

Pengertian
■ Serangkaian tingkat bunga yang diurut berdasarkan waktu jatuh tempo tertentu.
■ Nilai dan kondisi dari tingkat bunga akan menentukan nilai dan kondisi dari struktur
waktu yang pada akhirnya akan menghasilkan kurva imbal hasil.
■ Kurva imbal hasil (yield curve), didefinisikan sebagai hubungan antara hasil investasi
(imbal hasil) dengan jatuh tempo investasi
Term Structure of Interest Rate

■ Kurva imbal hasil biasanya diestimasi dengan menggunakan imbal hasil


obligasi diskonto yang disetahunkan kemudian dihitung dengan metode
bunga berbunga (continuously compounded). Kurva imbal hasil tidak
dapat diobservasi secara langsung akibat tidak adanya obligasi diskonto
yang memiliki tanggal jatuh tempo yang berkelanjutan. Sebagai
konsekuensinya, kurva imbal hasil biasanya diestimasi dengan
menerapkan metode struktur waktu yang membentuk obligasi yang
memiliki kupon dengan waktu jatuh tempo yang berbeda-beda.
Term Structure of Interest Rate
■ Terdapat 4 (empat) teori yang menjelaskan terbentuknya kurva imbal hasil yaitu:
1. The Pure Expectations Theory, kurva imbal hasil pada suatu waktu tertentu menggambarkan ekspektasi
tingkat bunga jangka pendek di masa yang akan datang. Peningkatan/penurunan pada imbal hasil merupakan
peningkatan/penurunan pada tingkat bunga jangka pendek.
2. The Pure Risk Premium Theory, terdapat dua versi dalam menggambarkan bentuk dari resiko premium yaitu
The Liquidity Premium dan The Preferred Habitat. The Liquidity Premium mengemukakan bahwa investor
lebih tertarik untuk mempertahankan obligasi dengan masa jatuh tempo yang lebih lama dengan harapan
obligasi memberikan tingkat pengembalian yang tinggi (pada tingkat risiko premium tertentu) sehingga
mampu menyeimbangkan volatilitas yang tinggi dari obligasi tersebut. The Preferred Habitat, mengemukakan
bahwa investor tidak selalu berniat untuk melikuidasi investasinya secepat mungkin, biasanya dipengaruhi
oleh kondisi kewajiban investor.
3. The Market Segmentation Theory, dalam kerangka pemikiran teori ini, ada beberapa kategori investor yang
terdapat di pasar dengan kondisi masing-masing investor berinvestasi pada segmen tertentu sesuai dengan
kewajibannya tanpa pernah berpindah ke segmen lain.
4. The Biased Expectations Theory, merupakan kombinasi dari Pure Expectations Theory dan Risk Premium
Theory. Teori ini menyimpulkan bahwa kurva imbal hasil mencerminkan ekspektasi pasar akan tingkat bunga
di masa yang akan datang dengan tingkat likuiditas yang tidak tetap dari waktu ke waktu.
Types of Term Structure of Interest
Rates
■ Normal/Positive Yield
Kurva hasil normal memiliki kemiringan positif. Ini berlaku untuk sekuritas
dengan jatuh tempo yang lebih lama yang memiliki eksposur risiko yang
lebih besar dibandingkan dengan sekuritas jangka pendek. Jadi secara
rasional, investor akan mengharapkan kompensasi (hasil) yang lebih tinggi,
sehingga menimbulkan kurva imbal hasil yang miring positif.

■ Bond yields or interest rates are


plotted against X-axis while time
horizons are plotted on Y-Axis.
Types of Term Structure of Interest
Rates
■  Steep
Kurva hasil yang curam hanyalah variasi lain dari kurva hasil normal
hanya saja kenaikan suku bunga terjadi lebih cepat untuk tingkat bunga
yang jatuh temponya lebih lama dibandingkan dengan yang jatuh
temponya pendek.
Types of Term Structure of Interest
Rates
■   Inverted/Negative Yield
Kurva terbalik terbentuk ketika ada ekspektasi yang tinggi dari hasil
jangka panjang jatuh di bawah hasil jatuh tempo pendek di masa depan.
Kurva hasil terbalik merupakan indikator penting dari perlambatan
ekonomi yang akan segera terjadi.
Types of Term Structure of Interest
Rates
■ Humped/Bell-Shaped
Jenis kurva ini tidak khas dan sangat jarang. Ini menunjukkan bahwa
imbal hasil untuk jangka menengah lebih tinggi daripada jangka panjang
dan pendek, yang pada akhirnya menunjukkan perlambatan.
Types of Term Structure of Interest
Rates
■ Flat
Kurva datar menunjukkan pengembalian yang serupa untuk jangka
panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.
Expectations Hypothesis
■ Teori ekspektasi digunakan untuk meramalkan suku bunga jangka pendek berdasarkan suku bunga jangka
panjang saat ini dengan mengasumsikan tidak ada peluang arbitrase dan oleh karena itu menyiratkan bahwa
dua strategi investasi yang tersebar dalam waktu yang sama harus menghasilkan jumlah pengembalian yang
sama. Misalnya, Investasi dalam obligasi untuk dua obligasi satu tahun berturut-turut menghasilkan bunga
yang sama seperti berinvestasi dalam obligasi dua tahun hari ini.
■ Expectation Hypothesis ini membantu investor untuk meramalkan tingkat bunga masa depan dan juga
membantu dalam pengambilan keputusan investasi; tergantung pada hasil dari teori ekspektasi, investor akan
mengetahui apakah tingkat masa depan menguntungkan atau tidak untuk investasi.
■ Suku bunga jangka panjang yang digunakan dalam teori biasanya adalah suku bunga obligasi pemerintah,
yang membantu penganalisis untuk memprediksi suku bunga jangka pendek dan juga untuk memperkirakan di
mana suku bunga jangka pendek ini akan diperdagangkan di masa depan.
Expectations Hypothesis
Expectations Hypothesis
■ Pure Expectations Theory
Asumsi dari teori ini adalah bahwa forward rates mewakili tarif masa
depan yang akan datang. Di satu sisi, struktur istilah mewakili
ekspektasi pasar pada suku bunga jangka pendek.
■ Liquidity Preference Theory
Dalam teori ini, likuiditas diberikan preferensi, dan investor menuntut
premi atau tingkat bunga yang lebih tinggi pada sekuritas dengan jatuh
tempo yang lama karena lebih banyak waktu berarti lebih banyak risiko
yang terkait dengan investasi.
■ Preferred Habitat Theory
Investor obligasi yang berbeda lebih memilih satu jangka waktu jatuh
tempo daripada yang lain dan juga mereka bersedia membeli obligasi ini
jika cukup memperhitungkan premi risiko dihasilkan pada obligasi
tersebut. Dalam teori ini, semuanya sama, asumsi dasarnya adalah
bahwa obligasi pilihan investor adalah obligasi jangka pendek daripada
obligasi jangka panjang, yang menunjukkan bahwa obligasi jangka
panjang menghasilkan lebih dari obligasi jangka pendek.
Expectations Hypothesis
Contoh:
■ Seorang investor melihat pasar obligasi saat ini dan bingung tentang pilihan investasinya, di mana
ia memiliki informasi di bawah ini yang tersedia:
■ Tingkat bunga satu tahun untuk obligasi yang jatuh tempo dalam satu tahun = 3,5%
Obligasi yang jatuh tempo dalam 2 tahun dengan tingkat bunga 4%
■ Tingkat obligasi jatuh tempo satu tahun satu tahun dari sekarang akan diasumsikan sebagai F1
■ Jadi, ada dua pilihan di depan investor apakah dia memilih untuk berinvestasi dalam obligasi 2
tahun atau berinvestasi dalam obligasi satu tahun berturut-turut, tetapi investasi mana yang akan
menghasilkan pengembalian yang baik untuknya.
■ Mari kita hitung menggunakan asumsi teori ekspektasi: (1+0,035)*(1+F1) = (1+0,04) ^2
■ Sekarang kami menghitung untuk F1 = 4,5%, jadi dalam kedua skenario, investor akan
mendapatkan rata-rata 4% per tahun.
Liquidity Preference (Term Premium)
Hypothesis
■ Teori Preferensi Likuiditas adalah model yang menyarankan bahwa investor harus menuntut tingkat bunga
atau premi yang lebih tinggi pada tingkat bunga dengan jatuh tempo jangka panjang yang membawa risiko
lebih besar karena investor lebih suka investasi yang sangat likuid.
■ Teori Preferensi Likuiditas menunjukkan bahwa investor menuntut premi yang semakin tinggi pada tingkat
bunga jangka menengah dan panjang dibandingkan dengan tingkat bunga jangka pendek. Menurut teori, yang
dikembangkan oleh John Maynard Keynes untuk mendukung gagasannya bahwa permintaan likuiditas
memiliki kekuatan spekulatif, investasi likuid lebih mudah untuk diuangkan dengan nilai penuh.
■ Uang tunai umumnya diterima sebagai aset paling likuid. Menurut teori preferensi likuiditas, suku bunga pada
tingkat bunga jangka pendek lebih rendah karena investor tidak mengorbankan likuiditas untuk kerangka
waktu yang lebih besar daripada tingkat bunga jangka menengah atau panjang.
Liquidity Preference (Term Premium)
Hypothesis
Tiga motif yang menentukan permintaan likuiditas:
■ The transactions motive menyatakan bahwa individu memiliki preferensi likuiditas untuk menjamin memiliki uang
tunai yang cukup untuk kebutuhan dasar sehari-hari. Dengan kata lain, pemangku kepentingan memiliki permintaan
likuiditas yang tinggi untuk menutupi kewajiban jangka pendek mereka, seperti membeli bahan makanan dan
membayar sewa atau hipotek. Biaya hidup yang lebih tinggi berarti permintaan uang tunai/likuiditas yang lebih tinggi
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tersebut.
■ The precautionary motive berkaitan dengan preferensi individu untuk likuiditas tambahan jika masalah atau biaya tak
terduga muncul yang membutuhkan pengeluaran uang tunai yang besar. Peristiwa ini termasuk biaya tak terduga
seperti perbaikan rumah atau mobil.
■ Speculative motive. Ketika suku bunga rendah, permintaan uang tunai tinggi dan investor mungkin lebih suka
memegang aset sampai suku bunga naik. Motif spekulatif mengacu pada keengganan investor untuk mengikat modal
investasi karena takut kehilangan kesempatan yang lebih baik di masa depan.
Ketika suku bunga yang lebih tinggi ditawarkan, investor menyerahkan likuiditas sebagai ganti suku bunga yang lebih
tinggi. Sebagai contoh, jika suku bunga naik dan harga obligasi turun, investor dapat menjual obligasi dengan pembayaran
rendah dan membeli obligasi dengan pembayaran lebih tinggi atau menahan uang tunai dan menunggu tingkat
pengembalian yang lebih baik.
Liquidity Preference (Term Premium)
Hypothesis
Contoh:
Diketahui bahwa investor dalam tiga tahun mungkin membayar tingkat bunga 2%,
kemudian selama 10 tahun mungkin membayar tingkat bunga 4% dan 30 tahun
mungkin membayar tingkat bunga 6%. Bagi investor untuk mengorbankan
likuiditas, mereka harus menerima tingkat pengembalian yang lebih tinggi sebagai
imbalan atas persetujuan untuk mengikat uang tunai untuk jangka waktu yang
lebih lama.
Segmented Market Hypothesis

■ Teori segmentasi pasar adalah teori bahwa suku bunga jangka panjang dan jangka
pendek tidak berhubungan satu sama lain. Ini juga menyatakan bahwa suku bunga yang
berlaku untuk obligasi jangka pendek, menengah, dan panjang harus dilihat secara
terpisah seperti item di pasar yang berbeda untuk tingkat bunga atas utang.
■ Kesimpulan utama teori ini adalah bahwa kurva imbal hasil ditentukan oleh kekuatan
penawaran dan permintaan dalam setiap pasar/kategori jatuh tempo tingkat suku bunga
atas utang dan bahwa imbal hasil untuk satu kategori maturitas tidak dapat digunakan
untuk memprediksi imbal hasil untuk kategori maturitas yang berbeda.
Segmented Market Hypothesis

■ Teori segmentasi pasar juga dikenal sebagai teori pasar tersegmentasi. Hal ini
didasarkan pada keyakinan bahwa pasar untuk setiap segmen jatuh tempo obligasi
terutama terdiri dari investor yang memiliki preferensi untuk berinvestasi pada tingkat
suku bunga dengan jangka waktu tertentu: jangka pendek, menengah, atau panjang.
■ Teori segmentasi pasar lebih lanjut menegaskan bahwa pembeli dan penjual yang
membentuk pasar untuk surat berharga jangka pendek memiliki karakteristik dan
motivasi yang berbeda dari pembeli dan penjual surat berharga jangka menengah dan
jangka panjang. Teori ini sebagian didasarkan pada kebiasaan investasi berbagai jenis
investor institusional, seperti bank dan perusahaan asuransi. Bank umumnya menyukai
tingkat suku bunga jangka pendek, sedangkan perusahaan asuransi umumnya menyukai
tingkat suku bunga jangka panjang.
Yield Spreads
■ Yield Spreads adalah perbedaan antara hasil pada instrumen utang yang berbeda dari
berbagai jatuh tempo, peringkat kredit, penerbit, atau tingkat risiko, dihitung dengan
mengurangi hasil satu instrumen dari yang lain. Perbedaan ini paling sering dinyatakan
dalam basis poin (bps) atau poin persentase.
■ Yields Spreads contohnya yang terjadi yaitu spread kredit. Misalnya, jika obligasi
Treasury lima tahun berada pada 5% dan obligasi Treasury 30-tahun berada pada 6%,
spread hasil antara kedua instrumen utang adalah 1%. Jika obligasi 30 tahun
diperdagangkan pada 6%, maka berdasarkan spread imbal hasil historis, obligasi lima
tahun harus diperdagangkan di sekitar 1%, sehingga sangat menarik dengan imbal hasil
saat ini 5%.
■ Yields Spreads adalah metrik utama yang digunakan investor obligasi saat mengukur
tingkat pengeluaran untuk obligasi atau kelompok obligasi. Misalnya, jika satu obligasi
menghasilkan 7% dan yang lain menghasilkan 4%, spreadnya adalah 3 poin persentase
atau 300 basis poin. Obligasi non-Treasury umumnya dievaluasi berdasarkan perbedaan
antara hasil dan hasil obligasi Treasury dengan jatuh tempo yang sebanding.
Yield Spreads
■ Types of Yield Spreads
1. Spread volatilitas nol (Z-spread) mengukur spread yang direalisasikan oleh investor di seluruh
kurva kurs spot Treasury, dengan asumsi obligasi akan dipegang hingga jatuh tempo. Metode ini
bisa menjadi proses yang memakan waktu, karena membutuhkan banyak perhitungan berdasarkan
trial and error. Anda pada dasarnya akan mulai dengan mencoba satu angka spread dan menjalankan
perhitungan untuk melihat apakah nilai sekarang dari arus kas sama dengan harga obligasi. Jika
tidak, Investor harus memulai dari awal dan terus mencoba hingga kedua nilai tersebut sama.
2. Spread obligasi imbal hasil tinggi adalah perbedaan persentase dalam imbal hasil saat ini dari
berbagai kelas obligasi imbal hasil tinggi dibandingkan dengan obligasi korporasi tingkat investasi
(misalnya peringkat AAA), obligasi Treasury, atau ukuran obligasi patokan lainnya. Spread obligasi
imbal hasil tinggi yang lebih lebar dari rata-rata historis menunjukkan risiko kredit dan default yang
lebih besar untuk obligasi yang tidak baik.
3. Spread yang disesuaikan dengan opsi (OAS) mengubah perbedaan antara harga wajar dan harga
pasar, yang dinyatakan sebagai nilai dolar, dan mengubah nilai tersebut menjadi ukuran hasil.
Volatilitas suku bunga memainkan bagian penting dalam formula OAS. Opsi yang disematkan
dalam tingkat suku bunga dapat memengaruhi arus kas, yang merupakan sesuatu yang harus
dipertimbangkan saat menghitung nilai tingkat bunga.
DURA
SIObligasi yang mempunyai umur maturitas sama,

tetapi memberikan kupon yang berbeda,


ternyata tidak bisa dianggap sama umur
maturitasnya.
Misalnya:
Obligasi B yang memberikan kupon 18% akan
lebih cepat menutupi harga beli obligasi
dibandingkan dengan obligasi A yang kuponnya
hanya 16%, meskipun umurnya sama (10
tahun)
DURA
SI
■ Durasi merupakan jumlah tahun yang diperlukan untuk bisa
mengembalikan harga pembelian obligasi tersebut. Durasi
diukur dengan menghitung rata-rata tertimbang maturitas aliran
kas obligasi, berdasarkan konsep nilai sekarang (present
value).
PENENTUAN
DURASI
□ Untuk menghitung besarnya durasi dapat digunakan
persamaan berikut:

n
PV(CFt
Durasi Macaulay = D = ∑ t
t1
) P

dalam hal ini:


t = periode dimana aliran kas diharapkan akan diterima
= jumlah periode sampai jatuh tempo
PV(CF
n t) = nilai sekarang dari aliran kas pada periode t yang
didiskonto pada tingkat YTM
P = Harga pasar obligasi
FAKTOR PENENTU
DURASI
□ Lama durasi suatu obligasi akan ditentukan oleh tiga faktor
yaitu:
1. maturitas obligasi

2. pendapatan kupon

3. yield to maturity.

□ Dari ketiga faktor tersebut, hanya faktor maturitas saja


yang mempunyai hubungan searah dengan durasi.
ARTI PENTING DARI KONSEP
DURASI
1. Konsep durasi tersebut bisa menjelaskan kepada kita
mengenai perbedaan antara umur efektif berbagai
alternatif pilihan obligasi.
2. Konsep durasi dapat digunakan sebagai salah
satu strategi pengelolaan investasi.
3. Durasi dapat digunakan sebagai ukuran yang
lebih akurat untuk mengukur sensitivitas harga
obligasi terhadap pergerakan tingkat bunga,
karena durasi sudah mengkombinasikan kupon
dan maturitas obligasi.
DURASI
MODIFIKASIAN
□ Untuk menghitung persentase perubahan harga
obligasi karena adanya perubahan tingkat bunga
tertentu, maka kita bisa menggunakan durasi yang
sudah dimodifikasi dengan cara berikut:

Durasi modifikasian  D 
D (1 r)

dalam hal ini:


D* = durasi
modifikasian r = YTM
obligasi
DURASI
MODIFIKASIAN
□ Durasi modifikasian dapat digunakan untuk
menghitung persentase perubahan harga suatu
obligasi akibat adanya perubahan tingkat bunga
pasar:

- D *  %perubahan
%Perubahan harga  1
dalam r
r
CONTOH
4
□ Dengan menggunakan contoh sebelumnya,
yaitu durasi sebesar 3,797 dan YTM sebesar
16%, maka durasi modifikasiannya adalah
3,273.

D  3,797/(1 0,16)  3,273


CONTOH 4
(LANJUTAN)
□ Jika diasumsikan terjadi perubahan tingkat
bunga pasar sebesar 3% yaitu dari 10% menjadi
13%, maka perubahan harga obligasi akan
mendekati -9,82%.

ΔP P  - 3,273  (0.03)  
9,82%
VOLATILITAS HARGA OBLIGASI
Volatilitas adalah hal yang sering mengacu pada jumlah ketidakpastian atau risiko yang
terkait dengan ukuran perubahan nilai sekuritas. Volatilitas yang lebih tinggi berarti bahwa
nilai sekuritas berpotensi tersebar di rentang nilai yang lebih besar. Ini berarti bahwa harga
sekuritas dapat berubah secara dramatis dalam periode waktu yang singkat di kedua arah.
VOLATILITAS HARGA OBLIGASI

(1). Harga obligasi berhubungan terbalik dgn hasilnya.


(2). Harga obligasi berhubungan searah dgn umur obligasi.
(3). Semakin lama umur obligasi, maka harga nya akan meningkatdgn peningkatan yang
semakin kecil.
(4). Hubungan antara perubahan harga obliga- si dgn perubahan absolut hasil tidak ber- sifat
simetris
(5). Harga obligasi berhubungan terbalik dgn coupon rate. Semakin tinggi coupon rate-
nya , fluktuasi harga obligasi semakin ren dah utk tingkat perubahan hasil yg sama.
Konveksitas (Convexity)

■ Convexity adalah tolok ukur tingkat kedua dari risiko suku bunga; mengukur
kelengkungan profil nilai / hasil saat ini. Convexity dapat dianggap sebagai indikasi
kesalahan yang kita buat ketika menggunakan durasi dan durasi yang dimodifikasi,
karena mengukur tingkat dimana kelengkungan hubungan harga / yield obligasi
menyimpang dari estimasi garis lurus. Convexity juga berhubungan positif dengan
durasi.
Option adjusted spread

■ spread hasil yang harus ditambahkan ke kurva yield benchmark untuk mendiskontokan
pembayaran sekuritas agar sesuai dengan harga pasarnya, menggunakan model
penetapan harga dinamis yang memperhitungkan opsi tertanam. OAS karenanya
bergantung pada modal merupakan konsep yang dapat diterapkan pada keamaan yang
didukung hipotek (MBS), atau obligasi lain dengan opsi yang disematkan, atau turunan
atau opsi tingkat bunga lainnya. MBS atau callable bond, opsi yang melekat pertama
terutama terkait dengan hak peminjam untuk membiayai kembali utang dengan tingkat
bunga yang lebih rendah.
THANK YOU 
Question?

Anda mungkin juga menyukai