PRINSIP PENILAIAN KELAS
KELOMPOK 2 :
Jumriani Sultan (22701251028)
Zulfa Safina Ibrahim (22701251027)
Zafrullah (22701251021)
Mulyadi (22701251032)
PRINSIP PENILAIAN KELAS
A. Pengertian Penilaian Kelas
Menurut Sudjana dan Rivai (2011), penilaian kelas adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan
interpretasi informasi mengenai tingkah laku siswa yang berhubungan dengan tujuan instruksional untuk
kepentingan pengambilan keputusan. Menurut BSNP (2017), penilaian kelas merupakan suatu proses yang
terintegrasi dengan pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus dan sistematis untuk
mengumpulkan informasi tentang kemampuan peserta didik. Dari Hamalik (2013), penilaian kelas adalah
suatu proses yang melibatkan kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan informasi tentang hasil
belajar siswa dalam rangka pengambilan keputusan tentang kemajuan belajar siswa. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa penilaian kelas adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan interpretasi
informasi tentang hasil belajar siswa yang dilakukan secara terus-menerus dan sistematis untuk kepentingan
pengambilan keputusan. Proses ini terintegrasi dengan pembelajaran dan melibatkan kegiatan
mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan informasi tentang kemampuan siswa yang berhubungan
dengan tujuan instruksional.
Bukti dalam penilaian tidak hanya terbatas pada pengukuran, melainkan juga melibatkan pengamatan
terhadap perilaku siswa dalam konteks pembelajaran. Pengamatan dapat memberikan informasi yang
lebih komprehensif dan akurat tentang kemampuan siswa, karena mencakup aspek-aspek yang tidak
dapat diukur melalui tes atau tugas tertulis. Pengamatan dapat memberikan informasi yang berguna
tentang kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam situasi
nyata (Wiggins, 1998).
Menurut Popham (2014), pengamatan memberikan informasi yang dapat membantu guru dalam
menentukan kebutuhan dan kelemahan siswa secara individual, serta menyesuaikan pengajaran agar
lebih sesuai dengan kebutuhan [Link] penilaian kelas, guru perlu mempertimbangkan
penggunaan pengamatan sebagai alat untuk memperoleh informasi yang lebih holistik dan akurat
tentang kemampuan siswa, serta untuk merencanakan pengajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan
kebutuhan individu siswa.
Penilaian dilaksanakan melalui berbagai bentuk antara lain: penilaian unjuk kerja
(performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek
penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portofolio), dan penilaian diri.
Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang
menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan
mampu dikerjakannya). Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk
dibandingkan dengan peserta didik lainnya, tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik
tersebut sebelumnya (Qodir, 2017).
Penilaian terhadap proses dan hasil belajar dapat dilakukan oleh pelaku internal atau
eksternal. Pelaku internal dalam penilaian adalah guru yang merencanakan dan melaksanakan
penilaian selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan pelaku eksternal adalah pihak
luar yang melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar, yang biasanya dilakukan
oleh lembaga atau institusi baik di dalam maupun luar negeri. Penilaian eksternal dilakukan
sebagai pengendali mutu proses dan hasil belajar peserta didik, seperti yang dilakukan oleh
lembaga/institusi dalam penelitian yang dilakukan untuk itu (Haryanto, 2020).
B. Prinsip Penilaian
Dalam penilaian hasil belajar peserta didik, penting untuk memperhatikan prinsip-prinsip
penilaian agar pelaksanaannya efektif dan efisien. Guru sebagai pelaksana penilaian
harus memahami dan menerapkan prinsip-prinsip tersebut dengan baik, sehingga dapat
memberikan dampak positif pada pemahaman hakikat dari penilaian. Ahmadi (2018)
mengatakan bahwa guru harus memperhatikan prinsip-prinsip penilaian yang baik agar
tidak terjadi ketidakadilan dalam pemberian penilaian pada siswa. Hal ini diperlukan
untuk mencegah kesalahan pada pelaksanaan dan pemberian penilaian, baik dalam
konsep maupun implementasi di dalam pembelajaran (Andini et al., 2021). Adapun
prinsipnya adalah sebagai berikut:
1. Berorientasi kepada Pencapaian Kompetensi
Salah satu prinsip penilaian kelas yang penting adalah "penilaian mencakup semua aspek kompetensi" yang
berarti bahwa penilaian harus mencakup seluruh aspek kompetensi yang menjadi target pembelajaran. Hal ini
penting untuk memastikan bahwa peserta didik tidak hanya mampu mengingat informasi tetapi juga memahami,
menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi materi pelajaran. Selain itu, penilaian harus dilakukan
dengan menggunakan berbagai teknik yang sesuai untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik dan
harus dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya. (Rahman & Nasyrah, 2019)
Sehingga, penilaian tidak hanya memberikan ukuran keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan, tetapi juga
memberikan masukan yang berguna bagi guru dalam merancang dan mengevaluasi pembelajaran selanjutnya.
Dalam hal ini, penting bagi guru untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip penilaian dengan baik agar
dapat memberikan penilaian yang akurat dan dapat diandalkan. (Asrul et al., 2014).
[Link]
Prinsip penilaian kelas yang selanjutnya adalah valid, artinya penilaian harus sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan. Hal ini ditegaskan oleh Khalafalla (2016) bahwa penilaian yang valid adalah yang mengukur apa
yang seharusnya diukur sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan, penilaian yang valid
akan memberikan gambaran yang akurat tentang kemampuan peserta didik dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus memastikan bahwa instrumen penilaian yang digunakan telah teruji
kevalidannya dan dapat mengukur kompetensi atau aspek yang diinginkan. Selain itu, proses penilaian juga
harus dilakukan dengan cara yang valid, misalnya memberikan soal yang sesuai dengan kemampuan peserta
didik dan menggunakan teknik penilaian yang tepat. Dengan demikian, prinsip valid dalam penilaian kelas
harus diperhatikan agar hasil penilaian dapat diandalkan dan dapat memberikan informasi yang benar tentang
kemampuan peserta didik.
3. Transparan
Prinsip penilaian kelas secara transparan menekankan pada keterbukaan dan kejelasan
dalam proses penilaian atau asesmen, metode yang digunakan dan hasil yang
diperoleh oleh siswa. Hal ini dianggap dapat membantu siswa untuk memahami
tujuan dan standar penilaian, serta memberikan kesempatan untuk memberikan umpan
balik dan melakukan perbaikan (Phopam, 2014). Seorang guru dapat menyampaikan
ini pada awal pembelajaran maupun pada awal penilaian maupun tugas dengan
menjelaskan kriteria penilaian yang akan dilaksanakan. Selain itu menerapkan rubrik
penilaian yang jelas agar siswa memahami kriteria penilaian dan bagaimana mereka
dapat mencapai nilai yang terbaik.
4. Adil dan Objektif
Prinsip penilaian kelas secara adil dan objektif adalah suatu pendekatan dalam penilaian kelas yang
menekankan pada keadilan dan ketidakberpihakan dalam memberikan nilai atau kata lain tidak
dipengaruhi oleh subjektivitas penilaian. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua siswa
diperlakukan secara sama dan adil dalam proses penilaian (Haryanto, 2020). Guru dapat menerapkan
sikap adil dan objektif ini dengan mengaitkan prinsip-prinsip penilaian transparan sehingga siswa
mengetahui tentang penilaian yang diberikan dan dapat menyampaikan jika tidak sesuai.
5. Berkesinambungan
Penilaian kelas secara berkesinambungan adalah penilaian yang mengharuskan guru untuk melakukan
penilaian secara terus-menerus dan terintegrasi dalam proses pembelajaran sehingga akan memperoleh
informasi kemajuan atau perkembangan peserta didik ( Brookhart, S. M., 2013). Tujuannya adalah untuk
memastikan bahwa penilaian yang dilakukan oleh guru selalu relevan dengan perkembangan siswa,
sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun rencana pembelajaran. Pelaksanaan penilaian
hasil belajar dilakukan secara terencana, bertahap, dan terus menerus sehingga mampu memperoleh
gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik ( Rahman & Nasyrah, 2019). Test yang dilakukan “
on the spot” dan hanya satu-dua kali, tidak akan memberikan informasi yang objektif mengenai peserta
didik (Nurhayati, 2016).
6. Menyeluruh
Penilaian hasil belajar dapat terlaksana dengan baik apabila dilaksanakan secara utuh
atau menyeluruh. Menyeluruh dapat berarti bahwa penilaian yang dilakukan harus mencakup
berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan serta perubahan tingkah laku
peserta didik (Supriadi, 2011). Menurut Ahmad (2015), dalam melakukan penilaian, seluruh
aspek kepribadian peserta didik juga harus dinilai baik dalam segi kognitif, afektif, maupun
psikomotoriknya. Menurut Condie et al. (2005), penilaian harus menyeluruh atas berbagai segi
penilaian, yakni:
a. Mencakup keseluruhan materi
b. Mencakup berbagai aspek berpikir (ingatan, pemahaman, aplikasi, dan sebagainya)
c. Melalui dengan berbagai cara yaitu tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan, pengamatan
insidental, dan sebagainya.
6. Menyeluruh
Penilaian hasil belajar dapat terlaksana dengan baik apabila dilaksanakan
secara utuh atau menyeluruh. Menyeluruh dapat berarti bahwa penilaian yang
dilakukan harus mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan
perkembangan serta perubahan tingkah laku peserta didik (Supriadi, 2011).
Menurut Ahmad (2015), dalam melakukan penilaian, seluruh aspek kepribadian
peserta didik juga harus dinilai baik dalam segi kognitif, afektif, maupun
psikomotoriknya. Menurut Condie et al. (2005), penilaian harus menyeluruh atas
berbagai segi penilaian, yakni:
a. Mencakup keseluruhan materi
b. Mencakup berbagai aspek berpikir (ingatan, pemahaman, aplikasi, dan
sebagainya)
c. Melalui dengan berbagai cara yaitu tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan,
pengamatan insidental, dan sebagainya.
7. Kooperatif
Prinsip kooperatif menyatakan bahwasanya dalam kegiatan penilaian, guru hendaknya bekerja sama
dengan semua pihak baik orang tua atau wali murid peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, dan
peserta didik sendiri. Hal ini diharapkan agar semua pihak merasa puas dengan hasil penilaian yang
dilakukan dan pihak-pihak yang terkait merasa dihargai (Ahmad, 2015).
8. Bermakna
Penilaian diharapkan mempunyai makna yang saling berhubungan dan berpengaruh
untuk berbagai pihak. Penilaian hendaknya mudah dipahami agar dapat ditindaklanjuti
oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil dari dilaksanakannya penilaian hendaknya
mencerminkan gambaran yang utuh terkait prestasi peserta didik yang mengandung
informasi seputar kelemahan, keunggulan, minat, dan tingkat penguasaan materi peserta
didik dalam mencapai kompetensi yang telah disyaratkan (Hamalik, 2007).
1. Praktis
Praktis mengandung arti mudah untuk digunakan, baik digunakan bagi guru yang
menyusun maupun orang lain yang akan menggunakan (Arifin, 2012). Menurut Barlow
(1997), sebuah tes dikatakan memiliki praktibilitas yang tinggi apabila mudah dalam
pengadministrasiannya, yakni sebagai berikut:
a. Mudah dilaksanakan, artinya tidak menuntut peralatan yang banyak dan
memberikan kebebasan siswa untuk mengerjakan soal yang mudah terlebih
dahulu,
b. Mudah diperiksa, artinya tes tersebut dilengkapi dengan kunci jawaban serta
pedoman skoringnya,
c. Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat dilanjutkan oleh
orang lain.
Contoh Soal :
1 Sebutkan definisi dari penilaian kelas?
Jawab: Penilaian kelas adalah suatu proses pengumpulan,
pengolahan, dan interpretasi informasi tentang hasil belajar siswa
yang dilakukan secara terus-menerus dan sistematis untuk
kepentingan pengambilan keputusan.
Latihan
1
Mengapa salah satu prinsip penilaian kelas itu harus berorientasi
pada pencapaian kompetensi?
2
Sebutkan contoh dari prinsip penilaian kelas pada tahap
"Transparan“?
3
Sebutkan contoh dari prinsip penilaian kelas pada tahap
"Kooperatif“?
4
Apa maksud dari praktis pada prinsip penilaian kelas?
5
Menurut Condie et al., (2015), penilaian kelas harus menyeluruh
terhadap berbagai segi penilaian, sebutkan cakupan nya.
Terima Kasih