“FUNGSI TEORI DAN PENGERTIAN HIPOTESIS”
Dosen Pengampu :
Prof. Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, [Link]., [Link]., Ph.D
Dr. Syukrul Hamdi, [Link].
“FUNGSI TEORI DAN PENGERTIAN HIPOTESIS”
Disusun olah:
Zulfa Safina Ibrahim (22701251027)
Jumriani Sultan (22701251028)
Mulyadi (22701251032)
Atika Miftah Ramadhani (22701251033)
A. Pengertian Teori
Menurut Nazir (2005:19) menyatakan bahwa teori adalah sebuah set konsep
atau construct yang berhubungan satu dengan yang lainnya, suatu set dari proporsi
yang mengandung suatu pandangan sistematis dan fenomena. Nazir (2005:19)
menyatakan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengenal teori.
Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri atas konstrak (construct) yang
sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut
secara jelas pula.
2. Teori menjelaskan hubungan antarvariabel atau antarkonstrak (construct)
sehingga pandangan yang sistematis dari fenomena-fenomena yang diterangkan
oleh variabel dengan jelas kelihatan.
3. Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variabel mana
yang berhubungan dengan variabel mana.
B. Peran dan Fungsi Teori :
Teori merupakan alat dari ilmu (tool of science). Nazir (2005: 19-20) menyatakan bahwa sebagai
alat dari ilmu, teori mempunyai peranan sebagai berikut:
1. Teori mendefinisikan orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi terhadap
jenis-jenis data yang akan dibuat abstraksinya. Teori sebagai orientasi utama dari ilmu.
Fungsi pertama dari teori adalah memberi batasan terhadap ilmu dengan cara memperkecil
jangkauan (range) dari fakta yang akan dipelajari. Karena banyak fenomena yang dapat
dipelajari dari berbagai aspek, maka teori membatasi aspek mana saja yang akan dipelajari
dari suatu fenomena tertentu.
Misalnya permainan bola kaki, dapat dipelajari dari berbagai
aspek, seperti dari aspek fisik, dari aspek ekonomi (penawaran dan permintaan terhadap
bola kaki), dari aspek kimia, aspek sosiologi, dan sebagainya. Dengan adanya teori, maka
jenis fakta mana yang relevan dengan aspek tertentu dari fenomena dapat dicari dan ditentukan.
2. Teori memberikan rencana (scheme) konseptual, dengan rencana mana fenomena-
fenomena yang relevan disistematiskan, diklarifikasikan, dan dihubung-
hubungkan. Teori sebagai konseptualisasi dan klasifikasi. Tugas dari ilmu juga
mengembangkan sistem klasifikasi dari struktur konsep. Dalam pengembangan terse-
but, ilmu memegang peranan penting, karena konsep serta klasifikasi selalu berubah
karena pentingnya suatu fenomena berubah-ubah.
[Link] memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dan
sistem generalisasi. Teori meringkaskan fakta. Teori meringkaskan hasil penelitian.
Dengan adanya teori, generalisasi terhadap hasil penelitian dapat dilakukan dengan
mudah. Teori juga dapat memadu generalisasigeneralisasi satu sama lain secara
empiris sehingga dapat diperoleh suatu ringkasan hubungan antargeneralisasi atau
pernyataan.
4. Teori memberikan prediksi terhadap fakta. Teori memprediksi fakta-fakta.
Penyingkatan fakta-fakta oleh teori akan menghasilkan uniformitas dari pengamatan-
pengamatan. Dengan adanya uniformitas tersebut, maka dapat dibuat prediksi terhadap
fakta-fakta yang akan datang. Teori fakta-fakta apa yang dapat mereka harapkan
muncul berdasarkan pengamatan fenomena- fenomena sekarang.
5. Teori memperjelas celah-celah di dalam pengetahuan kita.
Teori menjelaskan celah kosong. Karena meringkaskan fakta-fakta sekarang dan
memprediksikan fakta-fakta yang akan datang, yang belum diamati, maka teori dapat
memberikan petunjuk dan memperjelas daerah mana dalam khazanah ilmu
pengetahuan yang belum dieksplorasi.
Misalnya, jika teori menyatakan bahwa terdapat hubungan terbalik antara pendapatan
dan fertilitas, maka teori tersebut menunjukkan celah mana saja di mana hubungan
tersebut berlaku secara umum, ataukah teori tersebut berlaku hanya pada kelompok
pendapatan tertentu.
C. Pengertian Hipotesis
Hipotesis berasal dari kata hypo yang berarti kurang dari dan thesis yang
berarti pendapat. Jadi Hipotesis merupakan suatu pendapat atau kesimpulan
yang sifatnya sementara atau belum benar-benar berstatus sebagai pendapat.
Hipotesis juga dapat berarti jawaban sementara terhadap suatu permasalahan
penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin atau paling tinggi
tingkat kebenarannya. Secara teknik, hipotesis merupakan pernyataan mengenai
keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya melalui data sampel penelitian.
Sedangkan secara statistik, hipotesis merupakan pernyataan keadaan parameter
yang akan diuji melalui statistik sampel (Margono, 2004).
Pendapat terkait pengertian hipotesis juga telah dikemukakan oleh Nazir (2005)
yakni hipotesis menyatakan hubungan apa yang akan dicari atau yang ingin
diketahui, dimana hipotesis merupakan jawaban sementara dari permasalahan
penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris.
Sugiyono (2015) menyatakan hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan
masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pertanyaan. Dikataakan sementara karena jawaban yang diberikan belum
berdasarkan fakta-fakta empiris melalui pengumpulan data atau hanya berdasarkan teori
yang
relevan. Dapat disimpulkan bahwasanya hipotesis merupakan jawaban teoritis terhadap
rumusan masalah penelitian, namun belum jawaban yang empiris dengan data.
D. Ciri-Ciri Hipotesis :
Penulisan hipotesis yang baik harus berdasarkan kriteria atau ciri-ciri tertentu.
Menurut Nazir (2005), hipotesis yang baik harus sederhana, dapat diuji, serta mempertim
bangkan semua fakta-fakta yang relevan, masuk akal, dan tidak bertentangan
dengan hukum alam yang telah diciptakan Tuhan. Ciri-ciri hipotesis yang baik dapat
dijabarkan sebagai berikut, yakni:
1. Hipotesis harus menyatakan hubungan
Hipotesis dalam pengertian ilmiah harus mempunyai ciri khas sebagai berikut,
hipotesis merupakan pernyataan terkaan tentang hubungan antar variabel, hipotesis
mengandung dua atau lebih variabel yang akan diukur, dan hipotesis menspesifikasikan
bagaimana variabel-variabel tersebut berhubungan.
2. Hipotesis harus sesuai fakta
Hipotesis harus bersifat terang, dimana kandungan konsep dan variabel harus jelas,
dapat mudah dimengerti, dan tidak mengandung hal-hal yang metafisik.
3. Hipotesis harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya
Ilmu pengetahuan
Hipotesis juga harus tumbuh dari ilmu pengetahuan dan ada hubunganya dengan ilmu
pengetahuan yang berada dalam bidang penelitian yang sedang dilakukan. Jika tidak,
maka hipotesis bukan lagi terkaan, tetapi merupakan suatu pertanyaan yang tidak
berfungsi sama sekali.
4. Hipotesis harus dapat diuji
Hipotesis harus dapat diuji, baik dengan nalar, kekuatan memberi alasan,
ataupun dengan menggunakan alat-alat statistika. Hipotesis harus bersifat
spesifik, karena pernyataan hubungan antar variabel yang terlalu umum
biasanya akan memperoleh banyak kesulitan dalam pengujian.
5. Hipotesis harus sederhana
Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk yang sederhana dan terbatas
untuk mengurangi timbulnya kesalah pahaman pengertian. Semakin
khas dan sederhana sebuah hipotesis dirumuskan, semakin kecil pula
kemungkinan terdapat salah pengertian dan semakin kecil pula
kemungkinan memasukkan hal-hal yang tidak relevan ke dalam hipotesis.
6. Hipotesis harus bisa menerangkan fakta
Hipotesis juga harus dinyatakan daam bentuk yang dapat menerangkan hubungan
fakta-fakta yang ada dan dapat dikaitkan dengan teknik pengujian yang dapat dikuasai.
Hipotesis harus dirumuskan sesuai dengan kemampuan teknologi serta keterampilan
menguji dari si peneliti.
E. Kegunaan Hipotesis
Secara umum, terdapat dua alasan utama yang penting untuk diharuskannya menyusun hipotesis
menurut Furchan (2004), yakni:
(1). Hipotesis yang memiliki dasar kuat menunjukan bahwa
peneliti memiliki cukup pengetahuan untuk melakukan penelitian di bidang tersebut.
(2). Hipotesis memberikan arah dalam pengumpulan dan penafsiran data serta menunjukan
dengan jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan.
F. Jenis-Jenis Hipotesis
1. Hipotesis Nul (H0)
Hipotesis nul diperkenalkan oleh bapak statistikan Fisher, diformulasikan untuk ditolak sesudah
pengujian. Hipotesis Nul (H0) adalah hipotesis yang mendeskripsikan tidak ada hubungan/
pengaruh antara vaiabel X terhadap variabel Y. Hipotesis ini biasanya diuji dengan menggunakan
statistika atau perhitungan statistika.
Adapun contoh perumusan statistika Nul adalah:
(a). Tidak ada perbedaan antara…. dengan….dalam
(b). Tidak ada pengaruh….. terhadap…
2. Hipotesis Alternatif (Ha)
Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang mendeskripsikan ada hubungan antra variabel X dengan
variabel Y dengan menggunakan pengujian statistika. Adapun perumusan statistika alternatif adalah:
(a.) Ada hubungan antara… dengan
(b). Ada perbedaan antara… dengan…
(c.) Jika… Maka…
(d.) Semakin…maka… akan semakin…
3 Hipotesis Terarah (Two- Tailed Hypotheses)
Hipotesis terarah (Two- Tailed Hypotheses) adalah hipotesis yang diajukan oleh peneliti, dimana peneliti
telah merumuskan dengan tegas yang menyatakan bahwa variabel independen memang sudah dipresiksi
berpengaruh terhadap variavel dependen.
Contoh:
(a.) siswa yang diajar dengan metode inkuiri lebih tinggi hasil belajarnya, dibandingkan dengan siswa
yang diajar dengan menggunakan metode ceramah.
H0 = Pemberian glukosa dan vitamin B12 tidak dapat meningkatkan produksi antibiotik Streptomicin
pada Streptomyces sp.
H1 = Pemberian glukosa dan vitamin B12 dapat meningkatkan produksi antibiotik Streptomicin pada S
treptomyces sp.
4. Hipotesis tidak terarah (One- Tailed Hypotheses)
Hipotesis tak terarah adalah hipotesis yang diajukan dan dirumuskan oleh peneliti tampak belum tegas
bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Fraenkel dan Wallen (1990:42)
menyatakan bahwa hipotesis tak searah itu menggambarkan bahwa peneliti tidak menyusunkan prediksi
secara spesifik tentang arah hasil penelitian yang akan dilakukan.
Contoh :
Ada perbedaan pengaruh penggunaan metode mengajar inkuiri dan curah pendapat terhadap prestasi
belajar siswa . Ada perbedaan status gizi antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan.
G. Bentuk-Bentuk Hipotesis
Bentuk-bentuk Hipotesis berdasarkan sifatnya adalah sebagai berikut:
1.) Hipotesis Deskriptif
Menurut Sugiyono (2001:83) hipotesis deskriptif adalah dugaan tentang nilai suatu variabel mandiri atau
gambaran tentang sampel penelitian.
contoh:
(a). Rumusan Masalah Deskriftif
Berapa lama daya tahan lama duduk siswa belajar secara daring di SMAN 11 Makassar?
(b). Hipotesis Deskriptif
Daya tahan lama duduk duduk siswa beljar secara daring di SMAN 11 Makassar 10 jam/hari.
Hipotesis siatas adalah H0 karena daya tahan lama duduk siswa belajar secara daring tidak berbeda secara
signifikan dengan daya tahan duduk siswa yang ada pada populasi. (10 jam/hari merupakan angka hasil
pengamatan sementara).
(c). Hipotesis Statistik
H0 : miu = 10 jam/hari
Ha : miu =/ 10 jam/hari
(2). Hipotesis Komparatif
Menurut Sugiyono (200:85) hipotesis komparatif adalah pernyataan yang menunjukkan dugaan nilai dalam
satu variabel atau lebih pada sampel yang berbeda. Sedangkan menurut Riduan (2002) hipotesis komparatif
dirumuskan untuk memberikan jawaban pada permasalahan yang bersifat membedakan. Dapat disimpulkan
bahwa hipotesis komparatif adalah dugaan tentatif dari rumusan masalah yang komparatif. Artinya memiliki
variabel yang sama, populasi beda, sampel dan keadaan yang berbeda.
contoh:
(a). Rumusan Masalah Komparatif
Bagaimana motivasi siswa saat pembelajaran daring SMA 11 Makassar bila dibandingkan
dengan SMA 17 Makassar?
(b). Hipotesis Komparatif
H0 : Tidak terdapat perbedaan motivasi siswa saat pembelajaran daring antara SMA 11 Makassar
dan SMA 17 Makassar
Ha : Terdapat perbedaan motivasi siswa saat pembelajaran daring antara SMA 11 Makassar dan
SMA 17 Makassar
H0 : Motivasi siswa saat pembelajaran daring SMA 11 Makassar lebih besar atau sama dengan SMA 17
Makassar
Ha : Motivasi siswa saat pembelajaran daring SMA 11 Makassar lebih kecil dengan SMA 17 Makassar
H0 : Motivasi siswa saat pembelajaran daring SMA 11 Makassar lebih Kecil atau sama dengan SMA 17
Makassar
Ha : Motivasi siswa saat pembelajaran daring SMA 11 Makassar lebih besar dengan SMA 17 Makassar
5.3 Hipotesis Asosiatif
Sugiyono (2001:86) menyatakan bahwa hipotesis asosiatif adalah suatu pernyataan yang menunjukkan
dugaan tentang hubungan antara dua variabel yang menunjukkan dugaan tentang hubungan antata dua
variabel atau lebih.
Contoh :
(a). Rumusakan Masalah Asosiatif
Adalah hubungan antara persepsi siswa terhadap pembelajaran daring dengan hasil belajar Fisika
(b). Hipotesis Penelitian
Terdapat hubungan antara persepsi siswa terhadap pembelajaran daring dengan hasil belajar Fisika
(c). Hipotesis Statistik
H0 : p=0
Ha : p(=/) 0
6. Persyaratan untuk Hipotesis
Persyaratan untuk Hipotesis menurut (Arikunto, 2002) sebagai berikut :
1. Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas.
2. Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antra dia atau lebih variabel.
3. Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian
yang relevan.
Margono (2004) menyatakan pedoman yang dapat digunakan merumuskan hipotesis adalah:
1. Hipotesis dinyatakan sebagai hubungan antara ubahan-ubahan.
2. Hipotesis dinyatakan dalam kalimat pernyataan
3. Hipotesis dapat diuji kebenarannya, atau peneliti dapat mengumpulkan data untuk menguji kebenarannya.
4. Hipotesis dirumuskan dengan jelas.
7. Cara Menguji Hipotesis :
Apabila peneliti telah mengumpulkan dan mengolah data, bahan pengujian hipotesis
tentu akan sampai kepada suatu kesimpulan menerima atau menolak hipotesis tersebut.
Di dalam menentukan penerimaan dan penolakan hipotesis maka hipotesis alternatif (Ha) diubah
menjadi hipotesis nol (Ho).
Misal dengan asumsi bahwa populasi tergambar dalam kurva normal. Maka jika kita menentukan
taraf kepercayaan 95% dengan pengetesan 2 ekor, maka akan terdapat dua daerah kritik, yaitu di
ekor kanan dan di ekor kiri kurva, masing-masing 2½%.
Daerah kritik merupakan daerah penolakan hipotesis (hipotesis nihil) dan disebut daerah sig-
nifikansi. Sebaliknya daerah yang terletak di antara dua daerah kritis, yang diarsir, dinamakan
daerah
penerimaan hipotesis, atau daerah non-signifikansi.
Cara menguji hipotesis, menggunakan daerah kurva normal dan dari perhitungan Z-score dengan
rumus:
Z
Apabila harga Z-score terletak di daerah penerimaan Ho, maka Ha yang dirumuskan, tidak diterima.
8. Kekeliruan yang Terjadi dalam Pengujian Hipotesis
Benar dan tidaknya hipotesis tidak ada hubungannya dengan terbukti dan tidaknya hipotesis tersebut.
Seorang peneliti mungkin merumuskan hipotesis yang isinya benar, tetapi setelah data terkumpul dan
dianalisis ternyata hipotesis tersebut ditolak, atau tidak terbukti. Sebaliknya mungkin seorang peneliti
merumuskan sebuah hipotesis yang salah, tetapi setelah dicocokkan dengan datanya, hipotesis yang salah
tersebut terbukti.
Dalam hal lain dapat terjadi perumusan hipotesisnya benar tetapi ada kesalahan dalam penarikan
kesimpulan. Kesalahan penarikan kesimpulan tersebut barangkali disebabkan karena kesalahan sampel,
kesalahan perhitungan ada pada variabel lain yang mengubah hubungan antara variabel belajar dan variabel
prestasi yang pada saat pengujian hipotesis ikut berperan.
Macam kekeliruan ketika membuat kesimpulan tentang hipotesis:
Kesimpulan dan Keputusan Keadaan Sebenarnya
Hipotesis benar Hipotesis salah
Terima hipotesis Tidak membuat kekeliruan Kekeliruan macam II
Tolak hipotesis Kekeliruan macam I Tidak membuat kekeliruan
Selanjutnya ditentukan bahwa probabilitas melakukan kekeliruan macam I dinyatakan dengan ɑ (alpha),
sedangkan melakukan kekeliruan macam II dinyatakan dengan β (beta). Nama-nama ini akhirnya
digunakan untuk menentukan jenis kesalahan.
Kesalahan tipe I ini disebut taraf signifikansi pengetesan, artinya kesediaan yang berwujud besarnya
probabilitas jika hasil penelitian terhadap sampel akan diterapkan pada populasi. Besarnya taraf signifikansi
ini pada umumnya sudah diterapkan terlebih dahulu. Untuk penelitian-penelitian di bidang ilmu pendidikan
pada umumnya digunakan taraf signifikansi 0,05 atau 0,01, sedangkan untuk peneliti obat-obatan yang
resikonya menyangkut jiwa manusia, diambil 0,005 atau 0,001, bahkan mungkin 0,0001.
9. Penelitian Tanpa Hipotesis
Pendapat pertama mengatakan, semua penelitian pasti berhipotesis. Semua peneliti diharapkan
menentukan jawaban sementara, yang akan diuji berdasarkan data yang diperoleh.
Hipotesis harus ada karena jawaban penelitian juga harus ada, dan butirbutirnya sudah disebut dalam
problematika maupun tujuan penelitian.
Pendapat kedua mengatakan, hipotesis hanya dibuat jika yang dipermasalahkan menunjukkan
hubungan antara dua variabel atau lebih. Jawaban untuk satu variabel yang sifatnya deskriptif,
tidak perlu dihipotesiskan. Penelitian eksploratif yang jawabannya masih dicari dan sukar diduga,
tentu sukar ditebak apa saja, atau bahkan tidak mungkin dihipotesiskan.
Berdasarkan pendapat kedua ini maka mungkin sekali di dalam sebuah penelitian, banyak hipotesis tidak
sama dengan banyaknya problematika dan tujuan penelitian. Mungkin problematika unsur 1 dan 2 yang
sifatnya deskriptif tidak diikuti dengan hipotesis, tetapi problematika nomor 3 dihipotesiskan.
Contoh : Hubungan antara motivasi berprestasi dengan etos kerja Guru di Sekolah A.
Problematika 1:
Seberapa tinggi motivasi berprestasi Guru Di sekolah A?
(tidak dihipotesiskan).
Problematika 2:
Seberapa tinggi etos kerja Guru di sekolah A? (tidak dihipotesiskan)
Problematika 3:
Apakah ada dan seberapa tinggi hubungan antara motivasi berprestasi dengan etos kerja Guru
di sekolah A?
Hipotesis: Ada hubungan yang tinggi antara motivasi berprestasi dengan etos kerja Guru di sekolah A.
Terima Kasih
[Link] _ Free PowerPoint Templates, Diagrams and Charts