0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan25 halaman

Modifikasi Isosterik dalam Kimia Medisinal

Dokumen tersebut membahas berbagai jenis isomer yang relevan dalam kimia obat, termasuk bioisoster, stereoisomer (enantiomer dan diastereomer), isomer posisi, isomer geometrik, dan isomer konformasi. Jenis-jenis isomer ini dapat mempengaruhi aktivitas biologis dan sifat obat.

Diunggah oleh

deaapr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan25 halaman

Modifikasi Isosterik dalam Kimia Medisinal

Dokumen tersebut membahas berbagai jenis isomer yang relevan dalam kimia obat, termasuk bioisoster, stereoisomer (enantiomer dan diastereomer), isomer posisi, isomer geometrik, dan isomer konformasi. Jenis-jenis isomer ini dapat mempengaruhi aktivitas biologis dan sifat obat.

Diunggah oleh

deaapr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tim Kimia Medisinal

Jurusan Farmasi Unsyiah


Definisi Isomer
Definisi Isomer
Definisi Isomer
Bioisoster
Bioisostere adalah senyawa atau grup yang
menunjukkan karakter yang hampir sama untuk hal sbb:
• volume dan bentuk molekul
• distribusi elektron
• Sifat fisik seperti : hidrofobisitas

Senyawa Bioisoster mempengaruhi sistem yang sama


sebagai agonis atau antagonis  aktivitas biologik yang
lebih atau kurang terhadap satu sama lain
Tujuan modifikasi isosterik
Contoh modifikasi isosterik
• Penggantial H dengan F  antineoplastik yang sangat
poten
Contoh modifikasi isosterik
• Aminopterin (I) meniru bentuk tautomer dari asam folat
(II) mengoptimalkan ikatan hidrogen dengan bagian aktif
dari enzim
Contoh modifikasi isosterik
Pada trans-diethylstilbesterol, adanya gugus hidroksi fenol mirip
dengan gugus fenol dan alkohol pada estradiol alami  bentuk
trans aktif sedangkan bentuk cis tidak aktif
Stereoisomer
• Ada 2 tipe stereoisomer: isomer konformasi
dan isomer konfigurasi (isomer optik, isomer
geometrik, enantiomer dan diastereomer)
• Stereoisomer adalah senyawa yang memiliki
jumlah dan jenis atom yang sama, konfigurasi
ikatan yang sama tetapi berbeda dalam
pengaturan atom 3 dimensinya
• Stereoisomer terbagi 2: enantiomer dan
diastereoisomer
Enantiomer
• Apakah A dan B enantiomer?
Enantiomer

• Enantiomer adalah senyawa dengan struktur yang tidak identik


tetapi merupakan refleksi cermin terhadap satu sama lain
• Struktur dikatakan kiral jika struktur A tidak sama apabila
‘diletakkan/ditimpa’ pada struktur refleksi cerminnya
• Enantiomers share same physical properties,
e.g. melting points, boiling points and
solubilities.
• same chemical properties.
• Differ in pharmacological actions.
• Perbedaan enantiomer dapat menyebabkan
• Efek samping yang merugikan
• Toksisitas
• Pola absorbsi yang berbeda
• Afinitas yang berbeda terhadap ikatan protein
• Derajat metabolisme yang berbeda
Enantiomer dan aktivitas biologis
• (S)-(+) Naproxen sodium aktif sebagai antinflamasi non steroid
sedangkan (R)-(-) naproxen sodium tidak aktif
Diastereisomer
• Diastereisomer adalah semua stereoisomer yang
bukan enantiomer
Diastereoisomer dan aktivitas bilogis
• Trans tripolidine
menunjukkan
aktivitas sebagai
antihistamin,
antikolinergik, obat
flu dan mengatasi
sinus

• Cis-tripolidine tidak
menunjukkan
aktivitas tersebut
Isomer Posisi
• Senyawa yang memiliki rumus empiris yang sama tetapi
pengaturan letak atom berbeda
• Cth: senyawa I (pentobarbital) merupakan zat yang bekerja
dengan durasi singkat sedangkan senyawa II (Amobarbital)
memiliki durasi intermediate
Isomer Posisi
• Senyawa III bukan merupakan substrat untuk enzim COMT
(catechol methyl transferase)  diekskresi lebih lama
• merupakan stimulan beta-2 adrenergik pengobatan asma
bronkial dengan waktu kerja panjang
• Hal tersebut berlawanan dengan senyawa IV
Isomer Geometrik
• Isomer yang disebabkan adanya atom atau
gugus-gugus yang terikat langsung pada ikatan
rangkap atau pada sistem alisiklik
Isomer geometrik
• Isomer estrogenik 14x lebih kuat, karena:
- Efek sterik minimal
- Jarak identitas antara 2 gugus OH hampir
sama dengan estradiol
Easson-Stedman Theory
• Salah satu isomer dapat berinteraksi dengan reseptor sedangkan
isomer lain tidak
• Senyawa di bawah memiliki 3 tempat pengikatan yaitu: (i) catechol
binding site ‘A’ ; (ii) hydroxy binding site ‘B’ ; and (iii) anionic
binding site ‘C’ maka urutan aktivitas nya adl:R > S ~ deoxy
Isomer Konformasi
• Dalam mensintesis zat obat para ahli memilih
konformasi yang ‘rigid’ daripada konformasi
‘flexibel’ dengan tujuan :
• Meningkatkan selektifitas thd reseptor
• Mengurangi efek yang tak diinginkan
• Utk mengetahui pengaruh gugus fungsi
terhadap interaksi dengan reseptor
• Dopamin konformasi trans  aktivitas biologis
maksimum

Anda mungkin juga menyukai