0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Faktor Penyebab Diare pada Balita Bogor

Dokumen tersebut membahas tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Banjarsari Ciawi Bogor periode Januari-Juni 2015. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor infeksi, non-infeksi, lingkungan, sosial ekonomi dan perilaku masyarakat. Dokumen juga menjelaskan tanda dan gejala, komplikasi, pencegahan serta penanganan awal diare.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Faktor Penyebab Diare pada Balita Bogor

Dokumen tersebut membahas tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Banjarsari Ciawi Bogor periode Januari-Juni 2015. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor infeksi, non-infeksi, lingkungan, sosial ekonomi dan perilaku masyarakat. Dokumen juga menjelaskan tanda dan gejala, komplikasi, pencegahan serta penanganan awal diare.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

 

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE


PADA BALITA DI WILAYAH KERJA UPF PUSKESMAS BANJARSARI
CIAWI BOGOR PERIODE
JANUARI - JUNI 2015

OLEH
SITI AISYAH
[Link].177
 
 
PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BHAKTI PERTIWI INDONESIA
JAKARTA
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2014, angka kejadian Balita dengan Diare
berumur 0 - < 11 tahun 7071 orang, berumur 12 – 59 bulan 16.674 orang, berumur >
5 tahun 24.513 orang. Kasus diare ini terbanyak setelah penyakit ISPA. Di wilayah
kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi tahun 2014, angka kejadian Balita dengan
Diare berumur 0 - < 11 tahun 280 orang, berumur 12 – 59 bulan 761 orang, berumur
> 5 tahun 824 orang

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diangkat “Faktor - faktor yang Berhubungan dengan
Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi
Bogor Periode Januari - Juni 2015”

c. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Diare
Definisi Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia,
diare atau penyakit diare adalah bila tinja
mengandung air lebih banyak dari normal. Menurut
WHO diare adalah berak cair lebih dari tiga kali
dalam 24 jam, dan lebih menitik beratkan pada
konsistensi tinja dari pada menghitung frekuensi
berak. Ibu-ibu biasanya sudah tahu kapan anaknya
menderita diare, mereka biasanya mengatakan
bahwa berak anaknya encer atau cair (Cahyadi,
2008).
2.1.2 Etiologi
Berdasarkan Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Penyakit diare dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
i. Faktor Infeksi
Infeksi internal yaitu saluran cerna yang merupakan penyebab utama pada anak, meliputi :
a. Bakteri (Shigella, Salmonella, [Link], Golongan vibrio, BacillusCereus, Clostridium perfringens,
Staphilococ Usaurfus,Camfylobacter, Aeromonas)
b. Virus (Rotavirus, Norwalk + Norwalk like agent, Adenovirus)
c. Parasit :
ii. Faktor Mal Absorbsi
1. Mal Absorbsi karbohidrat Disakarida ( Intoleransi laktosa, Maltosa dan Sukrosa), monosakarida
( intoleransi Glukosa, Fruktosa dan Galaktosa )
2. Mal absorbsi lemak
3. Mal absorbsi protein
3. Faktor Bukan Infeksi
a. Alergi terhadap makanan, makanan basi, susu dan protein
b. Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan
c. Emosional atau stress
4. Penyebab lainnya yang mempengaruhi terjadinya diare pada balita
a. Bakteri, virus, Parasit ( Jamur, cacing, protozoa ).
b. Keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia
c. Kurang gizi
d. Alergi terhadap susu
e. Immuno Defesiansi
f. Lingkungan
g. Faktor Gizi
h. Kependudukan
i. Pendidikan
j. Sosial Ekonomi
k. Perilaku Masyarakat
(Alatas, 1999).
2.1.3 Patofisiologi
Bakteri masuk melalui makanan ke saluran pencernaan dan berkembangbiak
dalam usus, terutama usus besar (kolon). Jika jumlahnya berlebihan, bakteri
ini dapat menimbulkan sakit perut serta diare atau mencret (Admin, 2008).
Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makanan / air minum yang
terkontaminasi tinja / muntahan penyakit diare. Penularan langsung juga dapat
terjadi bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan (Admin,
2008).
1. Penularan Penyakit Diare
Kontak dengan tinja yang terinfeksi secara tidak langsung seperti :
• Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah
dicemari oleh serangga atau terkontaminasi oleh tangan kotor.
• Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi yang
sering memasukkan tangan atau minuman atau apapun kedalam mulut.
Karena virus ini dapat bertahan di permukaan udara sampai beberapa hari.
• Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air
dengan benar.
• Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
• Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar atau
membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi
perobatan dan alat-alat yang dipegang (Suririnah, 2008).
Klasifikasi Diare
Diare akut, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari tanpa diselang-seling
berhenti lebih dari 2 hari, terbagi atas :
a) Diare tanpa dehidrasi
b) Diare dengan dehidrasi ringan, apabila cairan yang hilang 5% dari berat
badan.
c) Diare dengan dehidrasi sedang, apabila cairan yang hilang berkisar 6 – 10%
dari berat badan.
d) Diare dengan dehidrasi sedang, apabila cairan yang hilang lebih dari 10%.
b. Diare persisten, bila diare berlangsung 14 hari atau lebih
c. Disentri, apabila diare berlangsung disertai dengan darah.
(Sinthamurniwaty, 2006).

Klasifikasi Dehidrasi
Berdasarkan klasifikasi dehidrasi WHO, maka dehidrasi di bagi menjadi 3,
yaitu :
1. Dehidrasi Ringan
2. Dehidrasi sedang
3. Dehidrasi Berat
1. Diagnosa Diare
Diagnosa diare ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Amati
konsistensi tinja dan frekuensi buang air besar bayi atau balita. Jika tinja encer
dengan frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari, maka bayi atau
balita tersebut menderita diare. Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk
mengetahui kadar elektrolit dan jumlah sel darah putih. Namun, untuk mengetahui
organisme penyebab diare, perlu dilakukan terhadap contoh tinja (Admin, 2008).

2. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare, adalah :
• Gangguan Osmotik
Makanan dalam zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik
dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan merangsang usus untuk
mengeluarkan cairan sehingga timbul diare.
• Gangguan Sekresi
Gangguan ransangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul
diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
• Gangguan Metabolisme Usus
Hiperstatistik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan hingga timbul diare, jika peristaltik menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul diare.
(Suraatmaja, 2005).
1. Gambaran Klinik
Karena terjadinya mencret dan muntah yang terus menerus, pada awalnya
anak akan merasa haus karena telah terjadi dehidrasi (kekurangan cairan tubuh)
ringan. Bila tidak ditolong dehidrasi bertambah berat dan timbullah gejala-gejala :
anak tampak cengeng, gelisah dan bisa tidak sadarkan diri pada dehidrasi berat,
mata tampak cekung, ubun-ubun cekung (pada bayi), bibir dan lidah kering, tidak
tampak air mata walaupun menangis, turgor berkurang yaitu bila kulit perut dicubit
tetap berkerut, nadi melemah sampai tidak teraba, tangan dan kaki terasa dingin
dan kencing berkurang. Pada keadaan dihidrasi berat, nafas tampak sesak karena
tubuh kehilangan zat basa ( menderita asidosis ). Bila terjadi kekurangan elektrolit
dapat terjadi kejang (Alatas, 1999).
2. Komplikasi
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi
berbagai komplikasi sebagai berikut :
• Dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, atau hipertonik).
• Renjatan Hipovolemik.
• Hipokalemia ( dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardi,
perubahan elektrokardiogram ).
• Hipoglikemia.
• Intoleransi sekunder akibat keruakan villi mukosa usus dan defisiensi enzim
laktase, karena kerusakan villi mukosa usus halus.
• Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik.
• Malnutrisi energi protein ( akibat muntah dan diare, jika lama dan kronik ),
penderita juga mengalami kelaparan ( Mansjoer, 2000).
1. Pencegahan
Untuk menurunkan angka kejadian kematian akibat diare, maka
diperlukan upaya-upaya pencegahan berikut :
• Menggunakan air berih.
• Buang air ditempatnya dan tidak sembarang tempat, latih anak buang air
besar di kakus.
• Cuci tangan sebelum memasak makanan dan pastikan tangan anda
selalu bersih ketika memberikan makanan pada bayi atau balita.
Pastikan peralatan makan dan minum anak bersih dan tidak
terkontaminasi kuman apapun juga.
• Cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
• Untuk bayi, usahakan selalu memasak atau merebus peralatan makan
dan minumnya terlebih dahulu.
• Minum dan makan makanan yang sudah dimasak. Hindari memberikan
makanan setengah masak atau matang pada anak.
• Pastikan air yang dimasak benar-benar mendidih.
• Berikan Asi selama mungkin kepada anak, disamping pemberian
makanan lainya.
• Bayi yang minum susu botol lebih muda terserang diare pada bayi.
• Tetap menyusui anak, walaupun anak terserang diare.
• Pastikan tangan sipengasuh tetap bersih ketika mengasuh anak atau
memberikan makanan pada anak.
• Jaga kebersihan diri dan kebersihan tempat tinggal (Cahyadi, 2008).
2.1.12 Penanganan
Pertolongan pertama pada diare di rumah :
• Minumkan garam Oralit untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan tubuh
sebagai akibat diare. Minumkan cairan oralit sebanyak mungkin si penderita mau.
Caranya
Satu bungkus kecil oralit dilarutkan ke dalam satu gelas air matang (200 cc).
• Kalau Oralit tidak ada, buatlah Larutan Garam Gula. Caranya :
Ambillah air teh ( matang ) 1 gelas. Masukkan dua sendok teh gula pasir dan
seujung sendok teh garam dapur. Diaduk rata dan diberikan kepada penderita
sebanyak mungkin ia minum.
• Bila diare tidak terhenti dalam sehari atau penderita lemas sekali segera bawa ke
pusat kesehatan terdekat.
Pertolongan diare menurut dehidrasi :
1) Tindakan diare dengan dehidrasi ringan atau sedang :
• Beri oralit.
• Teruskan pemberian makanan.
• Berikan makanan lunak yang mudah dicerna dan tidak merangsang.
• Bila tidak ada perubahan segera bawa ke pelayanan kesehatan yang terdekat.
2) Tindakan diare dengan dehidrasi berat :
• Segera bawa ke RS atau pelayanan kesehatan lainya.
• Oralit dan Asi diteruskan selama masih bisa minum.
Suraatmaja, 2005).
UJI VALIDITAS
Scale Scale Corrected
Alpha
Mean Variance Item-
if Item
if Item if Item Total
Deleted
Deleted Deleted Correlation
P1 14.9318 18.7999 .9426 .9613
P2 14.9659 20.4241 .5179 .9706
P3 14.9205 18.8097 .9235 .9617
P4 14.9318 18.7999 .9426 .9613
P5 14.9318 20.1792 .5517 .9701
P6 14.9545 20.2278 .5612 .9697
P7 14.9205 18.7407 .9435 .9612
P8 14.9659 19.9414 .6574 .9676
P9 14.8977 18.7595 .9092 .9620
P10 14.9091 18.7503 .9256 .9616
P11 14.9205 18.8097 .9235 .9617
P12 14.8977 18.7365 .9157 .9618
P13 14.8977 18.8055 .8962 .9623
a Faktor Predisposisi
(Predisposing Factor) :
Kerangka Teori
- Pengetahuan
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Sikap
- Kepercayaan
- Keyakinan Diare pada
- Nilai-nilai Balita
b Faktor Pendukung
(Enabling Factor) :
- Pemberian Asi Eksklusif
- Personal hygiene
- Riwayat alergi
- Sumber Informasi
c.. Faktor pendorong
( Renforing Factors ) :
- Sikap dan prilaku petugas
- Sumber Informasi

Gambar 2.1
“Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Diare Pada Balita (L. Green, 1980).”
Variabel Independent Variabel Dependent

• Pengetahuan
• Pendidikan
• Pekerjaan Diare pada
• Pemberian ASI Balita
Eksklusif

Gambar 3.1
“Kerangka Konsep Penelitian”
Tabel 5.1
Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari
Ciawi Bogor Periode Januari - Juni 2015

No Kejadian Diare Frekuensi Persentase

1 Ya 36 40,9

2 Tidak 52 59,1

Jumlah 88 100
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Tentang Diare
di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi
Bogor Periode Januari - Juni 2015

No Pengetahuan Ibu Frekuensi Persentase

1 Baik 74 84,1

2 Kurang 14 15,9

Jumlah 88 100
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu di Wilayah
Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi Bogor
Periode Januari - Juni 2015

No Pendidikan Ibu Frekuensi Persentase

1 Rendah 74 84,1

2 Tinggi 14 15,9

Jumlah 88 100
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu di Wilayah Kerja UPF Puskesmas
Banjarsari Ciawi Bogor Periode Januari - Juni 2015

No Pekerjaan Ibu Frekuensi Persentase

1 Ya 64 76,1

2 Tidak 21 23,9

Jumlah 88 100
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi Bogor
Periode Januari - Juni 2015

No ASI Eksklusif Frekuensi Persentase

1 Ya 64 76,1

2 Tidak 21 23,9

Jumlah 88 100
Tabel 5.8
Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Diare dengan Kejadian Diare
pada Balita di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi
Bogor Periode Januari - Juni 2015

Kejadian Diare
Total
N Pengetahuan Ya Tidak P-
OR
o Diare Value
N % N % N %
1 Kurang 11 78,5 3 21,5 14 100
2 baik 25 33,7 49 66,3 74 100 ,002 0,139
Total 36 40,9 52 59,1 88 100
Tabel 5.9
Hubungan Pendidikan Ibu dengan Kejadian Diare pada Balita
di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi Bogor
Periode Januari - Juni 2015

Kejadian Diare
Total
Pendidikan Ya Tidak P–
No OR
Ibu Value
N % N % N %

1 Rendah 14 70 6 30 20 100

2 Tinggi 22 32,5 46 67,5 68 100 0,003 0,139

Total 36 40,9 52 59,1 88 100


Tabel 5.10
Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Kejadian Diare pada Balita
di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi Bogor
Periode Januari - Juni 2015

Kejadian Diare
Total
Pekerjaan Ya Tidak P–
No OR
Ibu Value
N % N % N %
1 Ya 24 32,5 49 67,5 73 100
2 Tidak 12 80 3 20 15 100 0,001 0,122
Total 36 40,9 52 59,1 88 100
Tabel 5.11
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare
pada Balita di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari
Ciawi Bogor Periode Januari - Juni 2015

Kejadian Diare
Total
ASI Ya Tidak P-
No
Eksklusif
OR
Value
N % N % N %
1 Ya 21 31,3 46 68,7 67 100
2 Tidak 15 71,4 6 28,6 21 100 0,002 0,183
Total 36 40,9 52 59,1 88 100
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

1. Univariat
a. Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi
Bogor Periode Januari - Juni 2015, proporsi kejadian diare pada balita yaitu sebanyak
59,1 %.
b. Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi
Bogor Periode Januari - Juni 2015. Berdasarkan Pengetahuan Ibu, sebagian besar
pada ibu yang mempunyai pengetahuan baik yaitu sebanyak 84,1 %.
c. Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi
Bogor Periode Januari - Juni 2015. Berdasarkan Pendidikan Ibu, sebagian besar pada
ibu yang pendidikan rendah yaitu sebanyak 77,3 %.
d. Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi
Bogor Periode Januari - Juni 2015. Berdasarkan pekerjaan ibu, sebagian besar pada
ibu yang tidak bekerja yaitu sebanyak 83,0 %.
e. Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja UPF Puskesmas Banjarsari Ciawi
Bogor Periode Januari - Juni 2015. Berdasarkan Pemberian Asi Eksklusif, sebagian
besar pada ibu yang memberikan Asi Eksklusif yaitu sebanyak 76,1%.
2. Bivariat

a. Ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan Ibu tentang diare dengan
Kejadian Diare pada Balita. Nilai OR (Odds Ratio) = 0,139
b. Ada hubungan yang signifikan antara Pendidikan Ibu dengan Kejadian Diare
pada Balita. Nilai OR (Odds Ratio ) = 0,139
c. Ada hubungan yang signifikan antara Pekerjaan Ibu dengan Kejadian Diare
pada Balita. Nilai OR (Odds Ratio ) = 0,122
d. Ada hubungan yang signifikan antara Pemberian ASI Eksklusif dengan
Kejadian Diare Pada Balita. Nilai OR (Odds Ratio) = 0,183.
thank you very
muachh

Anda mungkin juga menyukai