0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan12 halaman

Berantas Mafia Tanah Melalui Digitalisasi

Transformasi digital dalam tata kelola sumberdaya pertanahan menjadi kebutuhan untuk memberikan pelayanan prima secara cepat dan transparan serta mengatasi masalah mafia tanah dan konflik pertanahan. Program-program pemerintah seperti reforma agraria, TORA, dan IP4T belum sepenuhnya menyelesaikan masalah, sehingga diperlukan pengawasan dan komitmen lebih besar untuk kepentingan rakyat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan12 halaman

Berantas Mafia Tanah Melalui Digitalisasi

Transformasi digital dalam tata kelola sumberdaya pertanahan menjadi kebutuhan untuk memberikan pelayanan prima secara cepat dan transparan serta mengatasi masalah mafia tanah dan konflik pertanahan. Program-program pemerintah seperti reforma agraria, TORA, dan IP4T belum sepenuhnya menyelesaikan masalah, sehingga diperlukan pengawasan dan komitmen lebih besar untuk kepentingan rakyat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Transformasi Digital

Tata Kelola Sumberdaya Pertanahan


( Berantas Mafia Tanah dan Akhiri Tumpang Tindih Lahan)

H. FACHRUL RAZI, [Link]


KETUA KOMITE I DPD RI
Pengantar
 Mafia Tanah dan Tumpang Tindih Kepemilikan Lahan itu ada, dan masih
terjadi sampai saat ini. Kasus terakhir yang cukup menonjol perhatian
publik misalnya mafia tanah yang menyerobot dari rumah dari Ibu Dito
Patti Djalal, Eks Menteri luar Negeri 2014. Kasus lain menimpa Keluarga
dari Mantan Jaksa Agung Era Presiden, Baharuddin Lopa, Kasus
Penyerobotan Tanah di Pontianak.

 Komite I DPD RI dalam Temuan Hasil Pengawasannya menemukan banyak


Konflik Pertanahan Masih Terjadi di Daerah. Ada Konflik Tanah Adat/Ulayat,
Konflik Tanah terkait Tapal Batas, Konflik Tanah antara Masyarakat dengan
Badan Hukum, Konflik Tanah terkait Tata Ruang.

 Temuan DPD RI ada di 34 Provinsi, sudah diserahkan kepada Pemerintah,


Kementerian ATR didalamnya.
DASAR HUKUM
[Link]-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3)
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”

[Link] Pokok-Pokok Agraria No 5 Tahun 1960

3. TAP MPR IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya
Alam.
Pembaruan agraria : Proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan
kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya agraria,
dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan
dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia

4. UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, Klaster Pertanahan

Kata Kunci dari seluruh Pengaturan : Kemakmuran rakyat adalah tujuan dari hak
negara menguasai bumi, air dan kekayaan alam yang ada di Indonesia.
UU CIPTA KERJA, RESEP BARU PEMERINTAH

 Pilihan Pemerintah dengan menginisiasi lahirnya UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang


Cipta Kerja yang didalamnya terdapat pengaturan klaster Pertanahan, dalam
implementasinya sedang ditunggu publik luas.

 Beberapa Peraturan Pemerintah terkait hal diatas telah terbit seperti Peraturan
Pemerintah Nomor 18 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah
Susun, dan Pendaftaran Tanah, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum,
Peraturan Pemerintah Nomor 23 tentang Penyelenggaraan Kehutanan, Peraturan
Pemerintah Nomor 43 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Ketidaksesuaian Tata Ruang,
Kawasan Hutan, lzin, dan/atau Hak Atas Tanah dan Peraturan Pemerintah Nomor 64
Tentang Badan Bank Tanah.

 Resep ini idealnya bukan untuk melayani korporasi, harus demi kepentingan rakyat
luas.
Transformasi Digital, Sebuah Kebutuhan,
Bukan Pilihan
 Tansformasi Digital dalam Tata Kelola Sumberdaya Pertanahan
menjadi kebutuhan dalam memberikan pelayanan prima dari
pemerintah kepada masyarakat.

 Citra birokrasi yang lambat, berbelit belit dan tidak transparan dalam
pengurusan dan penyelesaian masalah pertanahan menjadi
terpecahkan, karena transformasi digital mengandaikan kecepatan
dan keterbukaan dalam cara kerjanya.

 Proses Transformasi digital membutuhkan kesiapan SDM dan


edukasi bagi masyarakat secara luas. Ada pengetahuan dan
kecakapan baru yang harus ditansformasikan kepada masyarakat.
Kebijakan yang Belum Optimal
01 Peraturan Presiden No. 86 Tahun 2018 Tentang Reforma
Agraria

 Terbitnya Perpres 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria menghadirkan peluang sekaligus titik
lemah dalam mengatasi persoalan konflik agraria. Disatu sisi, peluang bagi masyarakat untuk
dapat mengajukan atau mengusulkan objek TORA dari beberapa sumber tanah yang tersedia,
seperti: tanah-tanah yang terlantar; Hak Guna Usaha (HGU) yang telah habis masa berlakunya;
tanah dari pemegang HGU (20%); kawasan hutan yang sudah ditetapkan menjadi kawasan non
hutan; atau areal penggunaan lain dan tanah terlantar di luar kawasan hutan, tanah timbul, dan lain
sebagainya.

 Dalam kenyataannya keberadaan Perpres ini masih belum mampu dioptimalkan untuk
menyelesaiakan berbagai konflik pertanahan/agraria yang terjadi di berbagai daerah khususnya
konflik yang melibatkan masyarakat dengan pemilik izin konsesi lahan ataupun masyarakat dengan
perusahaan negara. Masyarakat yang selama ini sudah menduduki dan menguasai lahan-lahan
eks-HGU, tidak sepebuhnya dapat menggunakan peraturan ini sebagai dasar bagi perlindungan
penguasaan lahan yang selama ini sudah diduduki.
Lanjutan….
02 Program Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) Butuh
Pengawasan Lebih

 Pemerintah telah menargetkan 4,9 juta hektar lahan yang akan dibagikan
kepada masyarakat sebagai salah satu program Reforma Agraria dan sekaligus
untuk menyelesaikan konflik pertanahan yang terjadi. Dengan adanya sertifikasi
tanah dan legalisasi aset, diharapkan konflik pertanahan dapat berkurang.

 Keberadaan TORA yang tidak diawasi dan diselesaikan dengan baik akan
memicu terjadinya konflik di masyarakat khususnya mengenai kejelasan status
lahan. Investasi yang semakin meningkat dan status lahan yang masih belum
jelas akan terakhir menimbulkan tingkat sengketa tanah yang semakin tinggi.
Lanjutan….
03 Program Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan
Pemanfaatan Tanah (IP4T)

 Tujuan pelaksanaan IP4T ini adalah dalam rangka penyelesaian penguasaan tanah
yang berada di dalam kawasan hutan. Dengan dasar hukum Peraturan Bersama
Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Menteri Kehutanan Republik Indonesia,
Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, dan Kepala Badan Pertanahan Nasional
Republik Indonesia: Nomor 79 Tahun 201; Nomor PB.3/MENHUT-II/2014; Nomor
[Link]/M/2014; Nomor 8/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan
Tanah yang berada di dalam Kawasan Hutan.

 Program IP4T belum optimal dalam menyelesaikan konflik penguasaan Tanah yang
berada di Kawasan baik berkaitan dengan tanah adat maupun berkaitan dengan tanah
transmigrasi. Banyak kasus terjadi di Kalimantan
Lanjutan….
04 Sertifikat dan Mafia Tanah

 Program sertifikat tanah untuk legalitas hukum atas bidang tanah merupakan salah satu
upaya untuk mengurangi sengketa dan konflik pertanahan ataupun dalam investasi
dunia usaha.

 Mendaftarkan seluruh bidang tanah menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional harus
dibarengi dengan pemberantasan mafia tanah.

 Mafia tanah tidak bisa bekerja apabila tidak ada kerjasama dengan orang dalam yang
menerbitkan sertifikat Tanah. Pembersihan kedalam menjadi Kebutuhan.
Rekomendasi

DPD RI telah banyak memberikan rekomendasi terkait persoalan tanah, agar Kementerian
ATR/BPN RI diantaranya:

 untuk mempercepat proses penataan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan


pemanfaatan tanah melalui penataan aset dan penataan akses dengan tetap
memperhatikan hak-hak masyarakat hukum adat

 memberantas mafia pertanahan dan segera menyelesaikan berbagai konflik pertanahan


yang terjadi di daerah dengan melibatkan Pemerintah Daerah;

 Mendorong Rancangan Undang-Undang tentang Masyarakat Hukum Adat sebagai


bentuk pengakuan dan perlindungan terhadap Masyarakat Hukum Adat yang masih
hidup di Indonesia.
Penutup

 Transformasi digital menjadi salah satu cara dalam


mendorong proses tranparansi tata kelola sumberdaya
pertanahan. Dengan adanya transparansi diharapkan bisa
mengikis mafia tanah yang sudah sangat meresahkan

 Komitemen pemerintah dan aparatur birokrasi menjadi salah


satu kunci utama atas perbaikan tata kelola pertanahan di
Indonesia.
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai