0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan40 halaman

Mentoring Kepala Sekolah Berorientasi Merdeka Belajar

Diunggah oleh

John Barier
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan40 halaman

Mentoring Kepala Sekolah Berorientasi Merdeka Belajar

Diunggah oleh

John Barier
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

MENTORING KEPALA
SEKOLAH
BERORIENTASI
MERDEKA BELAJAR
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
DIREKTORAN PENDIDIKAN PROFESI DAN PEMBINAAN GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2021
2 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

TUJUAN
• Meningkatkan kompetensi Kepala Sekolah
dalam menindaklanjuti Supervisi Akademik
• Meningkatkan kompetensi Paedagogik Guru
Dalam menyusun RPP MANTUL Berdiferensiasi
3 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

TUGAS UTAMA KEPALA SEKOLAH DAN INDIKATOR KINERJA SUPERVISI AKADEMIK

a. Kepala sekolah mengidentifikasi masalah


pengelolaan Pembelajaran

1. Merencanakan program
b. Kepala sekolah merumuskan tujuan yang
supervisi akademik dalam
dilengkapi dengan target pencapaian yang
rangka peningkatan
terukur.
profesionalisme guru.

c. Kepala sekolah mengembangkan


instrumen supervisi.
4 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

TUGAS UTAMA KEPALA SEKOLAH DAN INDIKATOR KINERJA SUPERVISI AKADEMIK


a. Kepala sekolah mengadakan pertemuan awal
untuk menjaring data rencana pembelajaran dan
menetapkan fokus kegiatan supervisi

b. Kepala sekolah melaksanakan kegiatan


pemantauan pembelajaran dan membuat catatan
2. Melaksanakan supervisi yang objektif dan selektif sebagai bahan
akademik terhadap guru pemecahan masalah supervisi
dengan menggunakan
pendekatan dan teknik c. Kepala sekolah melakukan pertemuan refleksi,
supervisi yang tepat. menganalisis catatan hasil observasi, dan
menyimpulkan hasil observasi

d. Kepala sekolah memfasilitasi guru dalam


merencanakan tindak lanjut perbaikan sistem
penilaian hasil belajar
5 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

TUGAS UTAMA KEPALA SEKOLAH DAN INDIKATOR KINERJA SUPERVISI AKADEMIK


a. Kepala sekolah bersama guru menyusun
rekomendasi tindaklanjut perbaikan dalam bentuk
kegiatan misalnya Coaching/Mentoring

b. Kepala sekolah mengecek ulang keterlaksanaan


rekomendasi oleh guru dengan pendampingan dll
3. Menindaklanjuti hasil
supervisi Akademik c. Kepala sekolah melaksanakan pembinaan dan
pengembangan guru sebagai tindaklanjut
kegiatan supervisi

d. Kepala sekolah menggunakan data hasil


supervisi sebagai bahan perbaikan perbaikan
kinerja pelaksanaan program

Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 menjadikan kepala sekolah full sebagai pemimpin dan manajer sekolah, tidak lagi dibebani tugas mengajar. Hal ini
bertujuan agar kepala sekolah dapat fokus melaksanakan tugasnya untuk meningkatkan mutu sekolah. Adapun tugas Menindaklanjuti Hasil Supervisi
Akademik sesuai Pasal 15 ayat (1) dan Butir Penilaian Kinerja Kepala Sekolah Nomor (35) Kepala Sekolah melaksanakan supervisi proses
pembelajaran pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan tindaklanjut hasil penilaian
6 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PROGRAM MENTORING KEPALA SEKOLAH SEBAGAI TINDAKLANJUT SUPERVISI AKADEMIK


BERORIENTASI MERDEKA BELAJAR

A. Ruang Lingkup Pengembangan

1. Ruang Lingkup penelitian dan pengembangan ini pada program mentoring kepala sekolah
dasar Berorientasi Merdeka Belajar.
2. Mentoring Kepala Sekolah dibatasi pada Pengelolaan Pembelajaran di Sekolah Dasar.
3. Pembelajaran di Sekolah Dasar itu dibatasi pada Pembelajaran Tematik dan Pembelajaran
berdisferensiasi.
4. Merdeka Belajar dibatasi pada aspek Pembelajaran Berdifferensiasi dengan istilah BEKEL
MANTUL PDCA merupakan akronim dari Bedah Kelas Meaningful, Achievment, Needs
Analysis, Timely, Urgent dan Look to the Future dengan langkah Plan, Do,Check Act).
5. Penelitian dan Pengembangan di lakukan di Sekolah Dasar Kabupaten Boyolali
7 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENGEMBANGAN PROGRAM MENTORING KEPALA SEKOLAH


BERORIENTASI MERDEKA BELAJAR

B. Manfaat lain dari hasil penelitian dan pengembangan ini secara praktis

1. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut dari guru, kepala sekolah, pengawas sekolah,
dosen, pengembang pembelajaran maupun instansi yang terkait dalam mengembangkan
pembelajaran berorientasi merdeka belajar
2. Kepala Sekolah dalam meningkatkan Kompetensi Supervisi Akademik
3. Guru dalam Peningkatan Kompetensi Paedagogik
4. Guru dalam Praktek Pengelolaan Pembelajaran berorientasi Merdeka Belajar
5. Guru dalam memperluas pengetahuan dan pemahaman tentang pengelolaan pembelajaran
berorientasi merdeka belajar
6. Siswa dalam menambah prestasi dan motivasi dalam pembelajaran berorientasi merdeka
balajar
7. Siswa dalam memberikan kontribusi peningkatkan hasil dan dampak belajar
8 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PROGRAM MENTORING KEPALA SEKOLAH


BERORIENTASI MERDEKA BELAJAR

C. Hakekat Mentoring

“Seorang kepala sekolah harus mampu menciptakan gagasan inovasi dalam mengembangkan kompetensi guru dan
kompetensi peserta didik. Pengembangan kompetensi guru akan berdampak pada peningkatan dan pengembangan
kompetensi peserta didik. Belajar melalui pendampingan dapat memfasilitasi transformasi perspektif yang ada dan / atau
perolehan perspektif baru (Andrea Nolan & Tebeje Molla, 2016)”

Mentoring BEKEL MANTUL hakekatnya Kepala Sekolah membimbing dan mendampingi


pengelolalaan kelas baik secara fisik kelas / setting kelas yang menggambarkan Situasi dan
kondisi pelaksanaan pembelajaran era merdeka belajar (dari administrasi perangkat
pembelajaran, pemanfaatan IT sampai pajang karya hasil pembelajaran) dan secara proses
pelaksanaan pembelajaran menggunakan stategi MANTUL.
Dalam mentoring ini Kepala Sekolah membimbing dan mendampingi guru guru di
sekolahnya menekankan pada peningkatan kemampuan guru mengelola Pembelajaran
berorientasi merdeka belajar.
9 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENGEMBANGAN PROGRAM MENTORING KEPALA SEKOLAH


BERORIENTASI MERDEKA BELAJAR DI SEKOLAH DASAR

D. Langkah langkah mentoring BEKEL MANTUL PDCA

Pra Mentoring Mentoring Pasca Mentoring


1. Mengidentifikasi dan 1. Persiapan (sosialisasi kegiatan yang akan dilakukan, Melaksanakan Penilaian Kinerja
Memetakan kemampuan Guru waktu kegiatan, personil yang terlibat, dan sejenisnya) Guru (PKG)
dari hasil PKG/UKG dan hasil 2. Pelaksanaan (membimbing dan mendampingi
Supervisi Akademik. pengelolalaan kelas baik secara fisik kelas / setting
2. Menganalisis profil guru dan kelas yang menggambarkan Situasi dan kondisi
analisis kebutuhan pelaksanaan pembelajaran era merdeka belajar)
pengembangan profesi 3. Monitoring dan Evaluasi (pemantauan rutin terhadap
melalui mentoring, pelaksanaan program kegiatan untuk mengetahui
3. Menyusun rencana Mentoring perkembangan dan mengidentifikasi apakah kegiatan
melalui langkah Persiapan, dijalankan sesuai perencanaan atau tidak.)
Pelaksanaan, Monev dan 4. Refleksi dan Tindak lanjut (Merenungi dan mencermati
Refleksi setiap tahapan Mentoring yang telah dilakukan)
10 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENGEMBANGAN PROGRAM MENTORING KEPALA SEKOLAH


BERORIENTASI MERDEKA BELAJAR DI SEKOLAH DASAR

E. Pembelajaran berorientasi Merdeka Belajar


Proses Belajar Mengajar MANTUL di Era Merdeka Belajar

1. Pengelolaan pembelajaran daring maupun luring dilaksanakan untuk memberikan


pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan
seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan,
2. Pengelolaan pembelajaran dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain
mengenai pandemi Covid-19 dan pengembangan live skill sesuai konstektual siswa,
3. Aktivitas dan tugas belajar dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-
masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/ fasilitas yang dimiliki siswa,
4. Bukti atau produk aktivitas belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari
guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif
11 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
“Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran
di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid”

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru
yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:


1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk
mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada
dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas
dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
3. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif
yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang
sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana
pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang
berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
5. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya
fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap
dapat berjalan secara efektif.
12 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang
mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman
mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap
dapat menguasai materi baru tersebut.

Beberapa contoh perspektif kontinum dengan mengadaptasi alat yang disebut Equalizer yang
diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001):
a. Bersifat mendasar - Bersifat transformatif
b. Konkret – Abstrak
c. Sederhana – Kompleks
d. Terstruktur - Open Ended
e. Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)
f. Lambat - Cepat
13 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

a. Bersifat mendasar - Bersifat transformatif


Saat sebagian murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru, atau jika ide itu bukan di salah
satu bidang yang dikuasai oleh murid, mereka sering membutuhkan informasi pendukung yang
lebih jelas, sederhana, dan tidak bertele-tele untuk memahami ide tersebut. Mereka akan perlu
waktu untuk berlatih menerapkan ide secara langsung. Jika murid berada dalam tingkatan ini,
maka bahan-bahan materi yang mereka gunakan dan tugas-tugas yang mereka lakukan harus
bersifat mendasar dan disajikan dengan cara yang membantu mereka membangun landasan
pemahaman yang kuat. Di lain waktu, ketika murid dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka
pahami atau berada di area yang menjadi kekuatan mereka, maka dibutuhkan informasi yang
lebih rinci dari ide tersebut. Mereka perlu melihat bagaimana ide tersebut berhubungan dengan
ide-ide lain untuk menciptakan pemikiran baru. Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan
tugas yang lebih bersifat transformatif
14 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

b. Konkret – Abstrak
Di lain kesempatan, guru mungkin dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat
apakah mereka masih di tingkatan perlu belajar secara konkret atau sudah siap bergerak
mempelajari sesuatu yang lebih abstrak

c. Sederhana – Kompleks
Beberapa murid mungkin perlu bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi
pada satu waktu; yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi.

d. Terstruktur - Open Ended


Kadang-kadang murid perlu menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk
mereka, di mana mereka tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di
waktu lain, murid siap menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka
15 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

e. Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)


Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir
dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin
seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain,
beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada yang lain

f. Lambat - Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu
bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu,
murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk
mempelajari sebuah topik
16 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID
17 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

Kesiapan belajar Murid telah memahami Murid telah memahami Murid belum memahami
(Readiness) konsep keliling; dapat konsep keliling namun belum lancar dalam konsep keliling.
melakukan operasi hitung melakukan
perkalian dasar. operasi hitung perkalian dasar.
Nama murid Susi Rini Iwan Rudi Ali Yanti Lolly Aep Anisa Lutfi Seli
Najib Rina Robert Wawan

Proses Murid diminta Murid Murid akan mendapatkan


mengerjakan soal-soal menggunakan bantuan benda-benda konkret pembelajaran eksplisit
tantangan yang untuk menghitung tentang konsep keliling. Guru
mengaplikasikan konsep keliling keliling bangun akan memberikan
dalam
  kehidupan datar (misalnya menggunakan stik es krim). Jika scaffolding dalam proses
sehari-hari. murid akan diminta mengalami kesulitan, murid diminta menerapkan ini.
untuk bekerja secara mandiri strategi “3 before me” (bertanya kepada 3 teman
dan saling memeriksa sebelum bertanya langsung pada guru). Guru akan
pekerjaan masing-masing. sesekali datang ke kelompok ini untuk memastikan
tidak ada miskonsepsi.
Dalam contoh di atas, guru mendiferensiasi pembelajaran dengan mempertimbangkan kesiapan belajar murid.
18 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

Mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan:


a. Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka
sendiri untuk belajar;
b. Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;
c. Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk
mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;
d. Meningkatkan motivasi murid untuk belajar
19 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

Beberapa ide yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan minat diantaranya
misalnya:
a. Meminta murid untuk memilih apakah mereka ingin mendemonstrasikan pemahaman dengan
menulis lagu, melakukan pertunjukan atau menari atau bentuk lain sesuai minat mereka.
b. Menggunakan teknik Jigsaw dan pembelajaran kooperatif.
c. Menggunakan strategi investigasi kelompok berdasarkan minat.
d. Membuat kegiatan “sehari di tempat kerja”.
e. Murid diminta mempelajari bagaimana sebuah keterampilan tertentu diaplikasikan dalam
kehidupan nyata. Mereka boleh memilih profesi yang sesuai minat mereka.
f. Membuat model
20 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

Minat Olahraga Kesenian (Prakarya) Sains

Nama murid Rudi Ali Iwan Susi Rini Lolly Aep Anisa
Najib Rina Wawan Robert Lutfi Seli
Yanti

Produk Membuat tulisan prosedur Membuat tulisan prosedur Membuat tulisan


tentang bagaimana tentang bagaimana prosedur tentang
cara menggiring bola cara membuat rumah- rumahan bagaimana cara
dalam permainan sepak dari stik es krim. membuat rangkaian
bola. listrik paralel dan
seri.
Dalam contoh di atas, guru mendiferensiasi pembelajaran dengan mempertimbangkan perbedaan
minat murid.
21 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan
kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien.

Faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang yang harus diperhatikan:


a. Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.
b. Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal- impersonal.
c. Visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator).
d. Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).
e. Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on,
dsb).
22 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
KESIAPAN BELAJAR MINAT MURID PROFIL BELAJAR MURID
(READINESS) MURID

Profil Belajar murid Visual Auditori Kinestetik


Nama murid Rudi Ali Iwan Susi Rini Lolly Aep Anisa Lutfi
Najib Rina Wawan Robert Seli Yanti

Produk Murid diperbolehkan memilih cara mendemonstrasikan pemahaman mereka tentang habitat
makhluk hidup. Boleh dalam bentuk gambar, rekaman wawancara maupun performance.

Proses Saat menjelaskan guru Guru juga menyediakan Guru membuat beberapa
menggunakan banyak kesempatan bagi murid sudut belajar atau display
gambar atau alat bantu untuk mengakses yang ditempel di tempat-
visual. sumber belajar yang tempat berbeda untuk
dapat didengarkan murid memberikan kesempatan
secara lisan. murid bergerak saat
mengakses informasi.
Dalam contoh di atas, guru mendiferensiasi pembelajaran dengan mempertimbangkan perbedaan gaya belajar.
23 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
7 Alasan Mengapa Pembelajaran Berdiferensiasi Dapat Berhasil
( Ini adalah terjemahan bebas dari artikel yang dipublikasikan melalui website
[Link] works/)
Diadaptasi dari How to Differentiate Instruction in Academically Diverse Classrooms, 3rd Edition,
oleh Carol Ann Tomlinson, Alexandria, VA: ASCD. ©2017 oleh ASCD

1. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif.


2. Pembelajaran Berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif
3. Pembelajaran Berdiferensiasi berakar pada penilaian.
4. Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap
konten, proses, dan produk
5. Pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada murid
6. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh
kelas, kelompok dan individual
7. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat "organik" dan dinamis
24 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
Pembelajaran yang baik versus pembelajaran berdiferensiasi yang baik

PEMBELAJARAN YANG BAIK PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI YANG BAIK

murid akan melakukan aktivitas atau murid akan melakukan aktivitas atau membuat
membuat sesuatu: sesuatu:
● dengan menggunakan keterampilan ● dalam berbagai moda dan pada berbagai
penting dan informasi penting; tingkat kerumitan, serta dalam berbagai
● untuk memahami ide / prinsip penting rentang waktu;
atau menjawab pertanyaan penting. ● dengan jumlah dukungan dari guru atau teman
sebaya yang bervariasi (scaffolding);
● menggunakan keterampilan penting dan
informasi penting;
● untuk memahami ide / prinsip penting atau
menjawab pertanyaan penting.
25 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

A. Definisi Coaching

Whitemore (2018:14) menyatakan bahwa coaching merupakan kegiatan pembinaan yang


membuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerja mereka sendiri, yang membantu
mereka untuk belajar daripada mengajar mereka.

Cakupan dari coaching meliputi:


1. Mengakses potensial
2. Memfasilitasi individu untuk membuat perubahan yang diperlukan
3. Memaksimalkan kinerja
4. Membantu orang memperoleh ketrampilan dan mengembangkan
5. Menggunakan teknik komunikasi khusus
26 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

A. Definisi Coaching

Bentuk dari coaching adalah percakapan dan membantu orang yang dibimbing untuk
meningkatkan kinerjanya. Coaching juga dapat dilakukan fleksibel, baik formal atau pun tidak
formal.

Coaching adalah gaya pembinaan dengan cara berkomunikasi, yang lebih banyak mendengar
secara aktif serta bertanya untuk menggali lebih banyak serta memberikan umpan balik positif
yang konstruktif dalam rangka menggali
27 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

A. Definisi Coaching

pencapaian potensi diri dari orang yang dituntunnya (coachee). Selain itu, kepala sekolah akan
melibatkan guru dalam mengambil suatu keputusan, sehingga dari keputusan yang diambil, guru
akan memiliki “rasa memiliki” atas keputusan tersebut dan akan bertanggungjawab dan
berkomitmen dalam melakukannya.

Menerapkan pembinaan dengan coaching ini tidaklah mudah, karena kepala sekolah harus
memiliki ketrampilan mendengarkan dengan baik, kemampuan bertanya yang jitu dan
pengelolaan emosi yang matang sehingga dapat sabar, berempati dalam melakukan coaching
dengan guru. Kata kunci dalam aktivitas Coaching adalah memecahkan masalah, merumuskan
strategi dan langkah- langkah yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan.
28 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

B. Jenis-jenis Coaching
Homan dan Miler dalam Nadya (2012:45)

1. Coaching untuk mendukung pembelajaran


Jenis coaching ini diterapkan untuk mendukung proses pembelajaran karyawan yang
mengarah kepada proses pengembangan secara individu. Proses ini fokus pada pekerjaan
atau tugas yang nyata dalam waktu yang sesungguhnya. Coach membantu coachee berpikir
mengenai berbagai aspek kegiatan dalam tugasnya. Sebagai contoh coach membantu
coachee dalam mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang harus diubah, menetapkan
tujuan SMART (Spesific, Measurable, Attainaible, Realistic, and Timely).
29 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

B. Jenis-jenis Coaching
Homan dan Miler dalam Nadya (2012:45)

2. Coaching untuk kinerja


Coaching jenis ini ditujukan untuk menjadi intervensi perbaikan kinerja bagi organisasi,
karena dapat dilakukan berdasarkan keinginan untuk mendapatkan kinerja yang lebih baik.
Dalam hal ini, coach membantu individu dalam belajar bagaimana menetapkan sasaran
untuk dirinya, meningkatkan kesadaran pribadi, memperbaiki kinerja dan mengembangkan
strategi-strateginya untuk meningkatkan kualitas hidup
30 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

B. Jenis-jenis Coaching
Homan dan Miler dalam Nadya (2012:45)

3. Coaching untuk pengembangan kepemimpinan


Jenis coaching ini lebih dikenal dengan istilah excecuitve coaching, coaching ini dapat
diimplementasikan untuk mendukung proses umpan balik 360 derajat dimana para
pemimpin eksekutif, kolega, senior, dan alur laporan langsung memberikan feedback
tentang efektivitas individu dengan menjawab pertanyaan spesifik tentang perilakunya.
31 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

B. Jenis-jenis Coaching
Homan dan Miler dalam Nadya (2012:45)

4. Coaching tim dan kelompok


Jenis coaching ini melibatkan team leader dan team coach. Coaching tim dapat sangat
bermanfaat ketika diimplementasikan pada tim yang mendapat proyek baru, atau tim yang
sedang menghadapi tenggat waktu. Baik coach internal dan eksternal yang bekerja sama
dengan tim dapat membantu untuk meningkatkan komunikasi memperkuat komitmen dan
meningkatkan kemungkinan untuk menyelesaikan proyek atau tujuan
32 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

C. Pelaksanaan Coaching oleh Kepala Sekolah


Coaching dilaksanakan setelah kepala sekolah melaksanakan supervisi. Hasil supervisi akan
dianalisis mana yang menjadi potensi guru dan mana yang menjadi kelemahan guru dalam
mengajar. Dalam pelaksanaan coaching kepala sekolah fokus kepada kelemahan guru, dan
mengubah kelemahan tersebut menjadi komitmen yang akan dikembangkan guru pada
pembelajaran berikutnya, melalui kesadaran yang timbul dari dalam diri guru sendiri.
Langkah-Langkah dalam melaksanakan Coaching menurut Salim (2014: 61)
1. 2. 3. 4. 5.
Building Trust Active Listening Clarifying Asking the Right Giving Feedback
(Membangun (Mendengarkan (Mengklarifikasika Questions (Memberikan
Kepercayaan) Secara Aktif) n untuk kejelasan (Menanyakan umpan balik)
pembicaraan) pertanyaan yg
tepat)
33 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

C. Pelaksanaan Coaching oleh Kepala Sekolah


Langkah-Langkah dalam melaksanakan Coaching menurut Salim (2014: 61)
a. Building Trust (Membangun Kepercayaan)
Membangun Kepercayaan dapat dilakukan dengan cepat dan sederhana, melalui
komunikasi. Ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk membangun sebuah hubungan
yang baik secara efektif, yakni dengan 3 perangkat komunikasi yaitu Content (Kata- kata),
Body Posture and Facial Expression (Bahasa Tubuh),Voice Pitch and Volume (Intonasi
Suara).

b. Active Listening (Mendengarkan Secara Aktif)


Dengan menjadi pendengar yang aktif, kita dapat dengan mudah menghindari
kesalahpahaman yang seharusnya tidak perlu terjadi.
34 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

C. Pelaksanaan Coaching oleh Kepala Sekolah


Langkah-Langkah dalam melaksanakan Coaching menurut Salim (2014: 61)
c. Clarifying (Mengklarifikasikan untuk kejelasan pembicaraan)
Mengklarifikasi bertujuan untuk membantu menemukan permasalahan yang sesungguhnya.
Clarifying juga dapat menghindarkan terciptanya makna ganda (ambigu) yang sering kali
membingungkan dan membuat orang salah mengerti.

d. Asking the Right Questions (Menanyakan pertanyaan yang tepat)


Menanyakan pertanyaan yang tepat dapat membantu menemukan
permasalahan yang sesungguhnya,serta dapat membantu untuk menjawab dan mengatasi
permasalahan yang dihadapi oleh client/pegawai.
35 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

C. Pelaksanaan Coaching oleh Kepala Sekolah


Langkah-Langkah dalam melaksanakan Coaching menurut Salim (2014: 61)
e. Giving Feedback (Memberikan umpan balik).
Memberikan jawaban dari permasalahan yang dihadapi,serta mengarahkan karyawan untuk
bertindak selanjutnya.
36 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

C. Pelaksanaan Coaching oleh Kepala Sekolah


langkah-langkah kepala sekolah dalam melakukan pembinaan kepada guru
1. Menemukan potensi
Pada tahap ini, kepala sekolah mencari kelebihan yang menjadi keunggulan dalam kinerja
guru dari hasil pengamatannya saat supervisi.

2. Memberi apresiasi
Kepala sekolah memberikan apresiasi dengan cara memuji atau menunjukkan ekspresi
bangga dengan kinerja baik guru. Hal ini penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri
guru. Serta menimbulkan kesadaran bahwa ada potensi-potensi kebaikan yang bisa
dibangun selanjutnya
37 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

C. Pelaksanaan Coaching oleh Kepala Sekolah


langkah-langkah kepala sekolah dalam melakukan pembinaan kepada guru
3. Mengukur kepuasan kinerja
Kepala sekolah menanyakan kepuasan kinerja dengan mengukur dari rentang 1 sampai 10.
Dimana 1 sangat tidak puas dan 10 sangat puas. Hal ini membuat guru menyadari bahwa
kinerjanya tidaklah sempurna

4. Menemukan kekurangan kinerja


Kepala sekolah menanyakan hal apa yang membuat guru tidak puas dengan hasil kinerja
mengajarnya
38 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

C. Pelaksanaan Coaching oleh Kepala Sekolah


langkah-langkah kepala sekolah dalam melakukan pembinaan kepada guru
5. Menemukan perbaikan
Kepala sekolah mengajak guru menemukan sendiri hal apa yang seharusnya dilakukan
untuk memperbaiki kinerja mengajar selanjutnya.

6. Berkomitmen
Kepala sekolah meminta guru berkomitmen melakukan perbaikan dengan cara menuliskan
minimal 3 hal yang akan menjadi perbaikan kinerja mengajar pada buku catatan guru dan
kepala sekolah.

Contoh dialog dalam rangka melakukan coaching dapat dilihat dalam link youtube berikut ini:
[Link] [Link]
39 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

PENERAPAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

D. Coaching Model TIRTA


Coaching model TIRTA merupakan modifikasi dari model GROW yang telah dikenal sebelumnya
40 COACHING DALAM SUPERVISI GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ENDANG RAHAYU MUDI HASTUTI

Thanks !
Do you have any questions?
endangrahayum@[Link]
+62 813 2919 5608
[Link]

Anda mungkin juga menyukai