0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
88 tayangan11 halaman

Pemilik Manfaat dalam Pajak Internasional

Dokumen tersebut membahas tentang konsep beneficial owner dalam perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B). Konsep ini bertujuan untuk menentukan pihak yang berhak atas manfaat penurunan tarif pajak berdasarkan P3B dan mencegah praktik treaty shopping. Dokumen tersebut juga menjelaskan definisi beneficial owner, pendekatan untuk mengidentifikasi beneficial owner seperti limitation on benefits, serta peran sertifikat domisili dalam penerapan P3B

Diunggah oleh

Asla Agustin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
88 tayangan11 halaman

Pemilik Manfaat dalam Pajak Internasional

Dokumen tersebut membahas tentang konsep beneficial owner dalam perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B). Konsep ini bertujuan untuk menentukan pihak yang berhak atas manfaat penurunan tarif pajak berdasarkan P3B dan mencegah praktik treaty shopping. Dokumen tersebut juga menjelaskan definisi beneficial owner, pendekatan untuk mengidentifikasi beneficial owner seperti limitation on benefits, serta peran sertifikat domisili dalam penerapan P3B

Diunggah oleh

Asla Agustin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PAJAK INTERNASIONAL

Modul ke:

05 Fakultas
Tax Treaty Provision I:
Beneficial Owner
EKONOMI DAN
BISNIS
Program Studi
AKUNTANSI Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK., CA

Pembuka Daftar Pustaka Akhiri Presentasi


Latar Belakang
• Treaty shopping merupakan suatu skema untuk
mendapatkan manfaat P3B yang dilakukan oleh pihak
yang seharusnya tidak berhak. Penghindaran pajak
melalui treaty shopping terjadi karena lemahnya
peraturan yang ada dalam P3B, sehingga menimbulkan
celah yang dapat dimanfaatkan oleh oknum yang tidak
berhak atas manfaat-manfaat P3B, misalnya
mendapatkan tarif pajak yang lebih rendah dari tarif yang
seharusnya dikenakan oleh negara sumber penghasilan.
• Langkah antisipasi yang banyak dilakukan adalah melalui
penerapan konsep beneficial owner. Beneficial owner
disepakati sebagai satu-satunya pihak yang berhak untuk
mendapatkan manfaat P3B.
<
← MENU AKHIRI >

Definisi beneficial ownwer
• Beneficial owner adalah pihak yang memiliki hak untuk
menikmati suatu kekayaan dan hasil yang timbul dari
kekayaan itu, dapat dengan dengan bebas menggunakan
kekayaan yang dikuasainya, memiliki kontrol, dan
menanggung resiko atas kekayaan yang dikuasainya tanpa
perlu adanya pengakuan secara legal.
• Konsep beneficial owner bertujuan untuk menentukan
keterkaitan antara penghasilan dividen, bunga dan royalti
yang timbul di negara sumber dan subjek pajak di negara
lain yang berhak untuk menikmati fasilitas penurunan tarif
yang disediakan oleh P3B.
• Dengan demikian, konsep beneficial owner memiliki peranan
penting dalam mengartikan pihak yang berhak
menggunakan fasilitas penurunan tarif dalam tax treatyagar
tidak disalahgunakan (Tobing,2013). <
← MENU> AKHIRI →
Nomineee, Agent, dan Conduit
• Salah satu ciri dari adanya kegiatan treaty shopping adalah
adanya agent, nomineee atau conduit. Dalam International
Tax Glossary yang dikutip oleh Hutagaol (2007):
• nomineee dan agent diartikan sebagai pihak yang
menguasai harta untuk pihak lain yang merupakan
beneficial owner dari harta tersebut.
• Sedangkan conduit didefinisikan sebagai suatu badan
yang didirikan berkaitan dengan skema penghindaran
pajak (Meyer, 2010).
• P3B dapat disalahgunakan subjek pajak dalam negeri di
negara ketiga yang bukan merupakan pihak P3B dengan
cara menempatkan nominee atau agent, yaitu pihak yang
bertindak atas nama orang lain di salah satu negara yang
mengadakan P3B (Darussalam dan Ngantung, 2017).
<
← MENU AKHIRI >

Konsep Beneficial Owner dalam P3B

• Sesuai dengan draft OECD Commentary 2011, pihak yang


termasuk Beneficial Owner adalah pihak yang memiliki hak
untuk menggunakan dan menikmati penghasilan tanpa
dibatasi oleh kontrak atau kewajiban legal untuk meneruskan
penghasilan yang diterimanya kepada pihak yang lain. Hal
tersebut dapat ditelusuri dengan pendekatan legal seperti
menelesuri hak dan kewajiban perusahaan.

<
← MENU AKHIRI >

Konsep Beneficial Owner dalam Peraturan
Perpajakan di Indonesia
Konsep Pemilik Manfaat terkandung dalam Perpres No. 13 Tahun 2018 :
• Ditekankan pada orang perseorangan yang memiliki sebenarnya atas
dana atau saham korporasi sebagai akibat dari kepemilikan tiga
kewenangan, yaitu:
I. menunjuk atau memberhentikan direksi, dewan komisaris, pengurus,
pembina, atau pengawas pada Korporasi,
II. memiliki kemampuan untuk mengendalikan korporasi, dan
III. berhak atas dan/atau menerima manfaat dari korporasi baik secara
langsung maupun tidak langsung.
• Adapun ruang lingkup korporasi meliputi: perseroan terbatas, yayasan,
perkumpulan, korporasi, persekutuan komanditer, persekutuan firma,
dan bentuk korporasi lainnya. Pemilik manfaat ini merupakan
orang/individu, bukan badan.

<
← MENU AKHIRI >

Limitation on Benefit (LOB)
• Limitation on Benefit (LoB) merupakan langkah yang digunakan untuk
pencegahan penyalahgunaan P3B yang dilakukan melalui identifikasi beneficial
owner.
• Dalam bagian commentary, OECD menyarankan beberapa bentuk pendekatan
LOB yang dapat diterapkan (OECD, 2010), yaitu:
• 1. Look-through approach
• 2. Subject to tax approach
• 3. Channel Approach
• 4. Bonafide Provision
• Beberapa ketentuan yang dapat ditambahkan untuk melengkapi, seperti:
• a. Activity provision
• b. Amount tax provision
• c. Alternative relief provision
• d. Stock exchange provision
• e. Competent authority provision
<
← MENU AKHIRI >

Certificate of Domicile
• WPLN yang berhak untuk mendapatkan manfaat dari Penerapan
P3B atau Tax Treaty adalah:
1. terdapat perbedaan antara ketentuan yang diatur dalam Undang-
Undang PPh dan ketentuan yang diatur dalam P3B;
2. penerima penghasilan bukan subjek pajak dalam negeri Indonesia;
3. penerima penghasilan merupakan orang pribadi atau badan yang
merupakan subjek pajak dalam negeri dari negara mitra atau
yurisdiksi mitra P3B;
4. WPLN menyampaikan SKD WPLN yang telah memenuhi
persyaratan administratif dan persyaratan tertentu lainnya;
5. tidak terjadi penyalahgunaan P3B; dan
6. penerima penghasilan merupakan beneficial owner, dalam hal
dipersyaratkan dalam P3B.
<
← MENU AKHIRI >

Certificate of Domicile
SKD sebagai Aspek Administratif dalam Menerapkan Suatu P3B

Untuk menentukan apakah subjek pajak merupakan subjek pajak dalam negeri
dari salah satu atau kedua negara yang mengadakan perjanjian sehingga
berhak untuk menerapkan dan menikmati fasilitas P3B,
1. Proven by taxpayer melalui SKD.
2. Proven by tax authorities, yaitu melalui pertukaran informasi (exchange of
information) yang dapat digunakan untuk mencegah penghindaran pajak
berganda, pencegahan pengelakan pajak, dan penyalahgunaan P3B oleh
pihak-pihak yang tidak berhak.

<
← MENU AKHIRI >

Daftar Pustaka
Anang Mury Kurniawan. 2015. Pajak Internasional Edisi Kedua. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Darusasalam,John Hutagaol, Dany Sepriadi,[Link] dan Aplikasi Perpajakan
Internasional,Jakarta: Danny Darussalam Tax Center
Darussalam dan Septriadi, Danny. 2017. Perjanjian penghindaran pajak berganda,
Jakarta: Dimensi Internasional Tax
Gunadi, 2007. Perpajakan Internasional, Jakarta: FEUI
Mas Rasmini dkk, 2019. Pajak Penghasilan III, Tangerang Selatan: Universitas
Terbuka
Organization of Economic Cooperation and Development Model Conventions for
Avoidance of Double Taxation of Income and Capital, OECD , 2010
Timbul Hamonangan Simnajuntak, 2019. Perpajakan Internasional, Yogyakarta:
Andi
Undang-Undang Perpajakan dan aturan pelaksanaannya

<
← MENU AKHIRI
Terima Kasih
Yenny Dwi Handayani, SE.,MSi., AK., CA

Common questions

Didukung oleh AI

OECD menyarankan beberapa pendekatan untuk memastikan penerima manfaat sesuai dengan ketentuan LoB: 'look-through approach', 'subject to tax approach', 'channel approach', dan 'bonafide provision'. Pendekatan ini menganalisis struktur penerima manfaat dan hubungannya dengan ketentuan pajak untuk memastikan bahwa manfaat P3B diberikan kepada pihak yang memang berhak .

Peran utama dari konsep 'Beneficial Owner' dalam P3B adalah untuk menentukan pihak yang sebenarnya berhak mendapatkan manfaat penurunan tarif yang disediakan oleh perjanjian tersebut. Konsep ini penting untuk mencegah penyalahgunaan P3B oleh pihak yang tidak berhak, seperti dalam kasus treaty shopping, dengan cara mengidentifikasi pihak yang benar-benar menikmati manfaat dari penghasilan tanpa harus meneruskannya ke pihak lain .

Pendekatan legal OECD menyoroti hak dan kewajiban perusahaan untuk menentukan pihak yang memiliki hak untuk menggunakan dan menikmati penghasilan tanpa batasan legal untuk meneruskan kepada pihak lain. Dengan menelusuri hubungan legal dan praktik penguasaan aset, OECD memastikan bahwa hanya pihak yang benar-benar independen dalam menjalankan kontrol dan menikmati penghasilan yang diakui sebagai Beneficial Owner .

Kelemahan dalam penerapan ketentuan 'Beneficial Owner' dapat mengakibatkan celah yang dimanfaatkan untuk treaty shopping, dimana pihak yang tidak berhak dapat mendapatkan manfaat berupa tarif pajak yang lebih rendah. Hal ini dapat menyebabkan kerugian pendapatan bagi negara sumber dan mengurangi efektivitas perjanjian P3B dalam mencegah penghindaran pajak .

Perbedaan utama terletak pada penerapan dan pemenuhan persyaratan dalam P3B. Untuk mendapatkan manfaat P3B, penerima penghasilan harus terdaftar sebagai WPLN yang memenuhi kriteria administratif dan substantif sebagai individu atau badan dari negara mitra. Individu biasanya memiliki lebih sedikit kewajiban dibandingkan dengan badan yang perlu menunjukkan tingkat kontrol dan hak atas aset terkait sesuai dengan konsep Beneficial Owner .

Implementasi 'Limitation on Benefit' (LoB) diterapkan melalui beberapa pendekatan seperti 'look-through approach', 'subject to tax approach', dan 'channel approach'. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi dan memverifikasi apakah penerima manfaat adalah pihak yang benar-benar berhak atas manfaat P3B, sehingga mencegah penyalahgunaan seperti treaty shopping. LoB memastikan bahwa manfaat P3B tidak disalurkan kepada pihak yang bukan 'beneficial owner' dan tidak memenuhi persyaratan administratif yang ditetapkan .

'Nominee', 'Agent', dan 'Conduit' berperan dalam penyalahgunaan P3B karena mereka bertindak atas nama pihak lain yang seharusnya tidak berhak atas manfaat P3B. Nominee dan agent menguasai harta untuk pihak lain, sementara conduit merupakan badan yang dibentuk untuk tujuan penghindaran pajak. Skema ini memungkinkan pihak yang tidak berhak untuk memanfaatkan celah peraturan P3B dan meraih keuntungan yang seharusnya tidak dapat diperoleh secara legal .

'Look-through approach' dianggap efektif karena metode ini memungkinkan otoritas pajak untuk mengevaluasi struktur pemilik langsung dan tidak langsung hingga menemukan pihak sebenarnya yang menikmati manfaat ekonomis dari penghasilan. Dengan demikian, pendekatan ini membantu memastikan bahwa fasilitas P3B diberikan hanya kepada Beneficial Owner yang sah dan mencegah skema penyusupan menggunakan 'nominee' atau 'conduit' yang dapat menyembunyikan pemilik sebenarnya dari suatu aset atau penghasilan .

Perbedaan ketentuan antara Undang-Undang PPh dan P3B dapat mempengaruhi penerima penghasilan dengan memberikan peluang untuk memanfaatkan celah peraturan guna mengurangi beban pajak. Misalnya, jika ketentuan P3B menawarkan tarif pajak yang lebih rendah dibandingkan dengan Undang-Undang PPh, penerima penghasilan dapat memilih untuk memanfaatkan perjanjian ini untuk mengurangi pajak yang harus dibayarkan. Namun, hal ini juga membutuhkan penerapan yang tepat agar hanya pihak yang benar-benar berhak yang memperoleh manfaat .

'Certificate of Domicile' berperan sebagai aspek administratif untuk menentukan apakah subjek pajak merupakan subjek pajak dalam negeri yang berhak menerapkan dan menikmati fasilitas P3B. Sertifikat ini digunakan untuk mengonfirmasi bahwa penerima manfaat benar-benar memenuhi persyaratan administratif dan bukan merupakan individu dari negara yang bukan pihak dari P3B yang bersangkutan .

Anda mungkin juga menyukai