Pemilik Manfaat dalam Pajak Internasional
Pemilik Manfaat dalam Pajak Internasional
OECD menyarankan beberapa pendekatan untuk memastikan penerima manfaat sesuai dengan ketentuan LoB: 'look-through approach', 'subject to tax approach', 'channel approach', dan 'bonafide provision'. Pendekatan ini menganalisis struktur penerima manfaat dan hubungannya dengan ketentuan pajak untuk memastikan bahwa manfaat P3B diberikan kepada pihak yang memang berhak .
Peran utama dari konsep 'Beneficial Owner' dalam P3B adalah untuk menentukan pihak yang sebenarnya berhak mendapatkan manfaat penurunan tarif yang disediakan oleh perjanjian tersebut. Konsep ini penting untuk mencegah penyalahgunaan P3B oleh pihak yang tidak berhak, seperti dalam kasus treaty shopping, dengan cara mengidentifikasi pihak yang benar-benar menikmati manfaat dari penghasilan tanpa harus meneruskannya ke pihak lain .
Pendekatan legal OECD menyoroti hak dan kewajiban perusahaan untuk menentukan pihak yang memiliki hak untuk menggunakan dan menikmati penghasilan tanpa batasan legal untuk meneruskan kepada pihak lain. Dengan menelusuri hubungan legal dan praktik penguasaan aset, OECD memastikan bahwa hanya pihak yang benar-benar independen dalam menjalankan kontrol dan menikmati penghasilan yang diakui sebagai Beneficial Owner .
Kelemahan dalam penerapan ketentuan 'Beneficial Owner' dapat mengakibatkan celah yang dimanfaatkan untuk treaty shopping, dimana pihak yang tidak berhak dapat mendapatkan manfaat berupa tarif pajak yang lebih rendah. Hal ini dapat menyebabkan kerugian pendapatan bagi negara sumber dan mengurangi efektivitas perjanjian P3B dalam mencegah penghindaran pajak .
Perbedaan utama terletak pada penerapan dan pemenuhan persyaratan dalam P3B. Untuk mendapatkan manfaat P3B, penerima penghasilan harus terdaftar sebagai WPLN yang memenuhi kriteria administratif dan substantif sebagai individu atau badan dari negara mitra. Individu biasanya memiliki lebih sedikit kewajiban dibandingkan dengan badan yang perlu menunjukkan tingkat kontrol dan hak atas aset terkait sesuai dengan konsep Beneficial Owner .
Implementasi 'Limitation on Benefit' (LoB) diterapkan melalui beberapa pendekatan seperti 'look-through approach', 'subject to tax approach', dan 'channel approach'. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi dan memverifikasi apakah penerima manfaat adalah pihak yang benar-benar berhak atas manfaat P3B, sehingga mencegah penyalahgunaan seperti treaty shopping. LoB memastikan bahwa manfaat P3B tidak disalurkan kepada pihak yang bukan 'beneficial owner' dan tidak memenuhi persyaratan administratif yang ditetapkan .
'Nominee', 'Agent', dan 'Conduit' berperan dalam penyalahgunaan P3B karena mereka bertindak atas nama pihak lain yang seharusnya tidak berhak atas manfaat P3B. Nominee dan agent menguasai harta untuk pihak lain, sementara conduit merupakan badan yang dibentuk untuk tujuan penghindaran pajak. Skema ini memungkinkan pihak yang tidak berhak untuk memanfaatkan celah peraturan P3B dan meraih keuntungan yang seharusnya tidak dapat diperoleh secara legal .
'Look-through approach' dianggap efektif karena metode ini memungkinkan otoritas pajak untuk mengevaluasi struktur pemilik langsung dan tidak langsung hingga menemukan pihak sebenarnya yang menikmati manfaat ekonomis dari penghasilan. Dengan demikian, pendekatan ini membantu memastikan bahwa fasilitas P3B diberikan hanya kepada Beneficial Owner yang sah dan mencegah skema penyusupan menggunakan 'nominee' atau 'conduit' yang dapat menyembunyikan pemilik sebenarnya dari suatu aset atau penghasilan .
Perbedaan ketentuan antara Undang-Undang PPh dan P3B dapat mempengaruhi penerima penghasilan dengan memberikan peluang untuk memanfaatkan celah peraturan guna mengurangi beban pajak. Misalnya, jika ketentuan P3B menawarkan tarif pajak yang lebih rendah dibandingkan dengan Undang-Undang PPh, penerima penghasilan dapat memilih untuk memanfaatkan perjanjian ini untuk mengurangi pajak yang harus dibayarkan. Namun, hal ini juga membutuhkan penerapan yang tepat agar hanya pihak yang benar-benar berhak yang memperoleh manfaat .
'Certificate of Domicile' berperan sebagai aspek administratif untuk menentukan apakah subjek pajak merupakan subjek pajak dalam negeri yang berhak menerapkan dan menikmati fasilitas P3B. Sertifikat ini digunakan untuk mengonfirmasi bahwa penerima manfaat benar-benar memenuhi persyaratan administratif dan bukan merupakan individu dari negara yang bukan pihak dari P3B yang bersangkutan .