PAJAK INTERNASIONAL
Modul ke:
03 Fakultas
Konsep Dasar
Perpajakan Internasional
EKONOMI DAN
BISNIS
Program Studi
AKUNTANSI Yenny Dwi Handayani, SE., MSi., AK., CA
Pembuka Daftar Pustaka Akhiri Presentasi
Transaksi lintas batas negara
• Transaksi lintas batas negara adalah transaksi antar pihak yang
berasal dari dua negara (ruang lingkup internasional). Hal ini
mengakibatkan adanya perlakuan lebih dari satu yurisdiksi hukum
perpajakan dari masing-masing negara.
• Transaksi lintas negara dapat menimbulkan permasalahan dalam
bidang perpajakan. Hukum Pajak Internasional Indonesia secara
umum dapat dikatakan berlaku terbatas hanya pada subyek dan
obyek yang berada di wilayah Indonesia saja.
• Dengan kata lain terhadap orang atau badan yang tidak bertempat
tinggal atau badan yang tidak berkedudukan di Indonesia pada
dasarnya tidak dikenakan pajak berdasarkan undang-undang
Indonesia.
• Namun demikian, Hukum Pajak Internasional Indonesia dapat
berkaitan (berhubungan) dengan subyek maupun obyek yang
berada di luar wilayah Indonesia sepanjang ada hubungan yang
erat, yaitu dalam hal terdapat hubungan ekonomis atau hubungan
kenegaraan dengan Indonesia.
<
← MENU AKHIRI >
→
4 Azas pemajakan
Prof Rochmat Sumintro membagi dasar pengenaan pajak menjadi 4 azas
pemajakan yang terdiri dari:
1. Azas domisili: subjek pajak dikenakan pajak dinegara tempat subjek pajak
tersebut berdomisili
2. Azas sumber: pajak dikenakan berdasarkan dimana sumber pajak
penghasilan tersebut berasal. Sumber penghasilan biasanya dilihat dari
negara mana pembayaran atas penghasilan tersebut berasal
3. Azas kewarganegaraan: pengenaan pajak didasarkan pada status
kewarganegaraan seseorang. Jadi setiap orang yang menjadi warga negara
disuatu negara akan dikenakan pajak dinegara tersebut, walaupun
penghasilannya dari negara lain
4. Azas teritorial: pajak dikenakan atas penghasilan yang diperoleh diwilayah
(teritorial) suatu negara. Jadi yang dikenakan pajak hanya atas penghasilan
yang diperoleh dalam wilayah negara tersebut
<
← MENU AKHIRI >
→
Konsep Dasar Pemajakan Lintas Batas Negara
Dua dimensi ketentuan pajak internasional
1. Pemajakan terhadap WPDN atas Penghasilan Luar Negeri. Pemajakan atas
penghasilan luar negeri atau transaksi ke luar batas negara (outward,
outbound transaction) karena umumnya melibatkan eksportasi modal ke
mancanegara.
2. Pemajakan terhadap WPLN atas Penghasilan dari Dalam Negeri.
Pemajakan atas penghasilan domestik atau transaksi ke dalam batas negara
(inward, inbound transaction) karena umumnya melibatkan importasi modal
dari manca negara.
Secara umum, pemajakan penghasilan luar negeri dilakukan oleh negara
domisili (residence country), sedangkan pemajakan penghasilan domestik
dilakukan oleh negara sumber (source country) sesuai yurisdiksi hukum pajak
masing-masing negara. Hal inilah yang dapat menimbulkan pengenaan pajak
berganda sehingga perlu diatur dalam suatu persetujuan antara negara sumber
dan negara domisili. Dengan demikian pemajakan transaksi lintas negara dapat
dilakukan dengan mengacu kepada ketentuan-ketentuan pajak internasional.
<
← MENU AKHIRI >
→
Ruang lingkup pajak internasional
• Ruang lingkup pajak internasional meliputi aturan pajak
internasional yang sudah ada dalam UU Pajak Indonesia,
aturan perpajakan yang ada di UU Pajak Negara lain
yang bersinggungan serta persetujuan penghindaran
pajak tax treaty yang telah dibuat Indonesia dengan
negara lain.
<
← MENU AKHIRI >
→
Juridical versus Economic Double Taxation
• Pasal 23 A dan 23 B model P3B OECD membedakan
pajak berganda yuridis (juridica double taxation) dengan
pajak ganda ekonomis (economical double taxation) yaitu
• Pajak berganda yuridis terjadi apabila atas
penghasilan yang sama yang diterima oleh orang yang
sama dikenakan pajak oleh lebih dari satu negara
sedangkan
• Pajak berganda ekonomis terjadi apabila dua orang
yang berbeda (secara hukum) dikenakan pajak atas
suatu penghasilan yang sama (atau identik).
<
← MENU AKHIRI >
→
Secara teoritis dan normatif, istilah pajak berganda international
meliputi beberapa unsur:
1. Pengenaan pajak oleh beberapa otoritas pemajakan atas
beberapa kriteria identitas.
2. Identitas subjek pajak (wajib pajak yang sama)
3. Identitas objek pajak (objek pajak yang sama)
4. Identitas masa pajak
5. Identitas (atau kesamaan) pajak.
Pajak berganda internasional dapat terjadi apabila
beberapa negara mengenakan pajak yang sama (sejenis
atau setara) terhadap satu wajib pajak atas objek pajak
yang sama untuk masa pajak yang sama pula.
<
← MENU AKHIRI >
→
TIPE PAJAK BERGANDA INTERNASIONAL
• Faktual dan potensial
• Yuridis dan ekonomis
• Langsung dan tidak langsung
<
← MENU AKHIRI >
→
Hukum Pajak Internasional
Ottmar buhler membagi Hukum Pajak Internasional dalam arti sempit dan
hukum pajak internasional dalam arti luas.
• Hukum Pajak Internasional dalam arti sempit adalah “Kaedah-kaedah
norma hukum perselisihan yang didasarkan pada hukum antar bangsa
(hukum internasional),”
• Hukum Pajak dalam arti luas ialah: “Kaedah-kaedah hukum antar bangsa
ini ditambah peraturan nasional yang mempunyai obyek hukum perselisihan,
khususnya tentang perpajakan.”
• Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam membahas kebijakan pajak
internasional di Indonesia akan tetap berdasar atau merujuk pada ketetapan
yang tertuang dalam Undang-undang Pajak Penghasilan yaitu Undang-
undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang
Pajak Penghasilan. Lebih khusus mengenai ketentuan pajak internasional
tersebut diatur dalam Pasal 24 UU Pajak Penghasilan.
<
← MENU AKHIRI >
→
Sumber hukum pajak internasional
Sumber-sumber Hukum Pajak Intenasional terlalu luas jika ingin
kita kaji, sehingga dipersempit hanya terkait dengan Negara
Indonesia, sumber-sumber hukum tersebut antara lain :
• Kaedah Hukum Pajak Nasional/ yang mengandung unsur
asing, contoh: UU PPN, UU PPH
• Kaedah-kaedah yang berasal dari traktat (Kaedah hukum yang
dibuat menurut perjanjian antar negara baik secara bilateral
maupun multilateral)
• Keputusan Hakim Nasional atau Komisi Internasional tentang
pajak-pajak Internasional.
<
← MENU AKHIRI >
→
Daftar Pustaka
Anang Mury Kurniawan. 2015. Pajak Internasional Edisi Kedua. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Darusasalam,John Hutagaol, Dany Sepriadi,[Link] dan Aplikasi Perpajakan
Internasional,Jakarta: Danny Darussalam Tax Center
Darussalam dan Septriadi, Danny. 2017. Perjanjian penghindaran pajak berganda,
Jakarta: Dimensi Internasional Tax
Gunadi, 2007. Perpajakan Internasional, Jakarta: FEUI
Mas Rasmini dkk, 2019. Pajak Penghasilan III, Tangerang Selatan: Universitas
Terbuka
Organization of Economic Cooperation and Development Model Conventions for
Avoidance of Double Taxation of Income and Capital, OECD , 2010
Timbul Hamonangan Simnajuntak, 2019. Perpajakan Internasional, Yogyakarta:
Andi
Undang-Undang Perpajakan dan aturan pelaksanaannya
<
← MENU AKHIRI
Terima Kasih
Yenny Dwi Handayani, SE., MSi., AK., CA