0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan51 halaman

Fisioterapi untuk Asma Bronkial

Fisioterapi pada asma bronkial memberikan pendekatan holistik untuk mengelola gejala dan mencegah serangan dengan melibatkan evaluasi, edukasi, dan teknik pernapasan."

Diunggah oleh

winda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan51 halaman

Fisioterapi untuk Asma Bronkial

Fisioterapi pada asma bronkial memberikan pendekatan holistik untuk mengelola gejala dan mencegah serangan dengan melibatkan evaluasi, edukasi, dan teknik pernapasan."

Diunggah oleh

winda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Fisioterapi Pada

Asma Bronkial

Oleh :
Ftr. Simson Sinuhaji, SST, [Link], AIFO
Disampaikan Pada Mini Seminar Cardiorespirasi, Prodi Profesi Fisioterapi
Institut Kesehatan Medistra, 12 Januari 2023
Devinsi
suatu gangguan yang komplek dari
bronkial yang dikarakteristikan oleh
periode bronkospasme (kontraksi
spasme yang lama pada jalan nafas).
(Joyce M. Black : 1996Polaski : 1996).
Asma
Penyakit jalan nafas obstruktif intermiten,
reversibel dimana trakea dan bronkhi
berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi
tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).
ASMA BRONKHIALE

 Definisi Asma adalah


suatu keadaan dmn
saluran nafas alami
penyempitan krn
hiperaktivitas thd
rangsang tertentu,
yg menyebabkan
peradangan;
penyempitan ini
bersifat sementara.
Kesimpulan Asma

Penyakit gangguan jalan nafas obstruktif


intermiten yang bersifat reversibel, ditandai
dengan adanya periode bronkospasme,
peningkatan respon trakea dan bronkus
terhadap berbagai rangsangan yang
menyebabkan penyempitan jalan nafas.
Klasifikasi
Asma bronkhial dapat diklasifikasikan
menjadi 3 tipe, yaitu :
2. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi
 faktor pencetus nonspesifik atau tidak
diketahui, seperti udara dingin, infeksi
saluran pernafasan dan emosi. Bentuk
asthma ini biasanya dimulai pada saat
dewasa (>35 tahun).
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini
mempunyai karakteristik dari bentuk alergik
dan non-alergik.
Etiologi
 Perubahan cuaca
Serangan berhubungan dengan musim,
seperti: musim hujan, musim kemarau,
musim bunga. Hal ini berhubungan
dengan arah angin serbuk bunga dan
debu.

 Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi
pencetus serangan asma.
Lingkungan kerja
orang yang bekerja di laboratorium hewan,
industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu
lintas bs terjadi serangan asma

Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat


Serangan asma karena aktifitas biasanya
terjadi segera setelah selesai aktifitas
tersebut. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma.
V.
Pa
to
fi sio
lo
gi
As
m
a
PATOLOGI

Pd penderita asma, penyempitan saluran pernafasan


mrpk respon thd rangsang, yg terjadi pd paru-paru
normal td pengaruhi saluran nafas. Penyempitan ini dpt
dipicu oleh berbagai rangsang, spt serbuk sari, debu,
bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.
Pd serangan asma, otot polos bronki alami kejang dan
jaringan yg melapisi saluran udara alami pembengkakan
krn adanya peradangan dan pelepasan lendir kedlm
saluran udara, shg akan memperkecil diameter saluran
udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini
menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga
supaya dapat bernafas.
 Sel-sel tertentu dlm saluran udara (terutama sel mast)
diduga penyebab awal mula terjadinya penyempitan ini.
Sel mast di bronki melepas bahan spt histamin dan
leukotrien yg sebabkan terjadinya: - kontraksi otot polos
- peningkatan pembentukan lendir - perpindahan sel
darah putih tertentu ke bronki. Sel mast mengeluarkan
bahan tsb sbg respon thd benda asing (alergen), spt
serbuk sari, debu halus yg tdpt dalam rumah atau bulu
binatang.
Asma juga dpt terjadi pd orang tanpa alergi tertentu.
Reaksi yg sama terjadi jika orang tsb melakukan olah
raga atau berada dlm cuaca dingin. Stres dan
kecemasan bisa memicu dilepaskannya histamin dan
leukotrien.
Sel lainnya (eosnofil) yg ditemukan dalam saluran udara
penderita asma melepaskan bahan lainnya (juga
leukotrien), yg juga menyebabkan penyempitan saluran
udara.
Manifestasi Klinik
1. Objektif:
 Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang
disertai wheezing.
 Dapat disertai batuk dengan sputum kental, sulit
dikeluarkan.
 Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas
tambahan
 Cyanosis, tachicardia, gelisah, pulsus paradoksus.
 Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di
apex dan hilus) dan batuk
2. Subjektif:
· Klien merasa sukar bernafas, sesak,
anoreksia.
3. Psikososial:
· Cemas, takut dan mudah tersinggung
· Kurangnya pengetahuan klien
terhadap situasi penyakitnya.
Ada beberapa tingkatan penderita asma
yaitu :
1) Tingkat I
2) Tingkat II
a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan
fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya
tanda2 obstruksi jalan nafas.
b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh
serangan.
3) Tingkat III
a) Tanpa keluhan.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru
menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak
diteruskan mudah diserang kembali.
4) Tingkat IV
a)Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan
nafas berbunyi wheezing.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru
didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
5) Tingkat V

a) Status asmatikus yaitu serangan asma akut


yang berat bersifat refrator sementara
terhadap pengobatan yang lazim dipakai.
b) Asma  penyakit obstruksi jln nafas yg
reversibel. Pada asma yang berat timbul
gejala spt: Kontraksi otot2 pernafasan,
sianosis, gangguan kesadaran, penderita
tampak letih, takikardi.
I. PENGKAJIAN.
    1. Vital Sign:
     a. HR. normal 60-80 /min Rest.
 b. RR. Normal: 16-20/min.
     c. BP
   2. Gelisah /tidak sadar.
Sesak nafas:
 a.  RR > 32 ,dangkal < 12 dalam.
 b. HR (bradicardi/tachycardi, fibrilasi.
 c.  BP Sistole kurang dari 80 mmHg
 d. PH, PaO2 dan PaCO2 lihat analisa gas
 e.  berat / ringan sesak nafas.
 g.  Kecepatan perkembangan sesak nafas:
 h. Penyerta sesak nafas:
Contoh Pengukuran DISPNEA
• Tujuan : membedakan tingkat keparahan
& evaluasi perjalanan dispnea
• Beberapa cara pengukuran :
[Link] analog visual (VAS)
[Link] Borg yang dimodifikasi,
[Link] sesak Medical Research Council (MRC)
[Link] sesak American Thoracic Sosiety (ATS)
[Link] Dyspnea Index (BDI)
[Link] Dyspn Index (TDI)
Skala sesak dari MRC
Deskripsi Peringkat Derajat
-------------------------------------------------------------------------------------------

• Tidak sesak saat berjalan bergegas atau 0 tak sesak nafas

sedikit mendaki
• Sesak saat berjalan bergegas atau 1 ringan
sedikit mendaki
• Berjalan lebih lambat dibanding orang seumur 2 sedang
karena sesak atau harus berhenti untuk
bernapas saat berjalan biasa
• Berhenti untuk bernapas setelah berjalan 3 berat
• 100 yard atau setelah berjalan beberapa menit
• Pada ketinggian tetap
• Terlampau sesak untuk keluar rumah atau 4 sangat
berat
atau sesak saat berpakaian / melepas pakaian

--------------------------------------------------------------------------------------------
Skala sesak ATS
• Derajat 1 : Tidak sesak kecuali aktiviti latihan
berat
• Derajat 2 : Sesak saat menaiki tangga secara
tergesa-gesa atau saat mendaki
bukit kecil.
• Derajat 3 : Berjalan lebih lambat dibanding
kebanyakan orang
• Derajat 4 : Harus berhenti untuk bernapas setelah
berjalan kira-kira 100 yard.
• Derajat 5 : Terlalu sesak untuk keluar rumah atau
sesak saat menggunakan atau
melepas pakaian
• Baseline dypsnea index (BDI)
membedakan derajat dispnea satu waktu
tertentu
• Transitional dyspnea index (TDI)
menilai perubahan setelah beberapa
intervensi dalam waktu tertentu
• Pengukuran lainnya : kuisioner Chronic
respiratory disease questionnaire
(CRDQ), kuisioner status fungsional paru
dan dispnea, oksigen cost diagram (OCD)
1). Problem dahak :

pekat purulen BUIH


DAHAK : a. BUIH SALIVA
sputum
b. SALIVA
  c. ENDAPAN SPUTUM,.
2). Edema
3). Mengi, wheezing.
4). Demam .
Analisa gas darah :
a). PH 7.35-7.4
b). PaO2 80-100mmHg.
Hipoksemia kurang dari 53 mmHg.
c). PaCO2 35-45 mmHg Kurang
Hipokarbia kurang 35mmHg
Hiper karbia lebih dari 49 mmHg
Kriteria diagnosa gagal nafas.

PaO2 < 60mmHg, PaCO2 > 49 mmHg


tanpa gangguan alkalosis metabolik
Primer
(Muhadi,OE Tampubolon, 1989)
Analisa lab Gas Darah

Asidosis acut respiratory acidosis


a 7.1 metabolik acidosis
r 7.2 chronic respiratory
t 7.3 acidosis
e 7.4
r 7.5 metabolik alkalosis
I 7.6 respiratory alkalosis
7.7 2 4 6 8 10 12
Alkalosis PH= 7,35-7,4 PCO2= 5-6 kpa
Batuk:
a. Macam batuk.
1). Batuk disadari
2). Batuk tidak disadar
3). Kuatnya / lemahnya batuk diukur
  dengan spirometri (FEV1).
4). Secara subyektif dibuat kriteria batuk yang
menggambarkan frekuensi batuk , kuatnya
batuk dan sbg.
Mendengarkan suara nafas dan batuk
1.  Pola nafas tidak efektif:
a.   Lihat gerakan
b.  aktivitas otot pernafasan.
c.   Lihat pola nafas:
1). Dispnue: cepat teratur.
2). Orthopnue : sulit nafas posisi lain
3). Kusmul : nafas cepat dalam.
4). Biot : frekuensi menurun, apnue periodik irama tidak teratur.
5). Cheyene stoke: Cepat, naik turun kadang-kadang apnue irama
6). Paradoksal braething:
Pemeriksaan ROM.
ROM yang perlu dilakukan pengukuran
minimal
1. Fleksibilitas sangkar thorak saat inspirasi
dan ekspirasi maksimal.
2. Sendi bahu.
3. Sendi intercostal.
4. Gerakan scapulae costae.
Sensorik jalan nafas.
a. Dilakukan dengan memberikan
aroma yang menyebabkan
gangguan nafas.
b. Reflek menelan.
c. Reflek menghisap.
Kekuatan otot pernafasan.
1. Pengerak sendi bahu ( Fleksi, ekstensi,
abd,add, indo rotasi, eksorotasi.
2. Pectoralis, trapesius, sternocledomastoideus.
3. Abdominalis (fleksor trunk) & extensor trunk).
4. Diapraghma.
5. Dan yang dianggap perlu.
Sikap.

1. Barel chest.
2. Skoliosis.
3. Kiposis.
4. Asimetriskel shoulder, dada
dll
Test kemampuan kerja fisik
a. Endurance dynamik test.
b. Test 6 menit jalan Six min wolk test (SWT).
(0,06Xjarak tempuh(meter)-(0,104 X Usia(th)
+(0,052X Berat Badan(kg) + 2,9 : 3,5 =METS
0,06 jarak tempuh – 0,104 usia +0,052 BB +2,9 : 3,5 = mets.
Contoh: Tuan A.
Umur :61 th, B B :71,5 Kg, TB: 170 Cm
Jarak tempuh selama 6 menit= 523 m
(0,06x523)-(0,104x61)+(0,052X71,5)+2,9 = 9,04 Mets.
3,5
Test 12 menit jalan.
Jarak tempuh selama 12 menit dlm
meter : 12
X= jarak tempuh 1 menit dalam meter.
Y=X-133
Z=Y x 0,172
VO2 maks= Z + 33,3 = ml/Kg/Min
Kelompok nilai kemampuan.
Baik sekali > 52,1 ml/Kg/Min.
Baik = 42,1 ml/Kg/Min
Cukup = 34,1 ml/Kg/Min
Kurang = 28,1 Ml/Kg/Min
Kurang sekali = 14 Ml/Kg/Min (Kalsifikasi Patologis).
Mets. Vo2 maks.
10 --Sehat kurang-=-------| 35 ml/kg/min
8---Recavery-=------| 28 ml/kg/min
6---Sakit ringan-| 21 ml/kg/min
4----xx------|14 ml/kg/min Indikasi rawat.
2---x---|7 ml/kg/min
X= sakit berat sekali (ICCU) XX sakit Berat =umum
Problematik penderita asma
1. Sesak napas

oedema dr membrana mukosa


bronkospasme
hypersekresi dari mukus
2. Adanya perub. Patofisiologi pd sal
napas

high lung volume breathing pattern


Increase work of breathing.
Increase RR
Low PaO2
prolonged expiration
hyperinflation
3. Batuk

Biasanya non-productive cough


Pasca serangan -> productive cough ->
inflamasi pd mukosa -> increase mucus
production
 airflow limitation
 infection

4. Penurunan toleransi aktivitas


Decrease exc.
5. Sesak saat
tolerance
aktivitas
Exc. Induced asthma

6. EIB: serangan asma yg tercetuskan


bila melakukan exercise/ latihan
• Dicetuskan oleh exc. Dg intensitas tinggi &
lama
• Ditemukan pd 80% penderita asma
• 41 dari 67 atlet tim olimpiade USA 1984
mendapatkan medali
Apa yang dapat FT berikan?

1. Pada saat terjadi serangan asma


2. Pada paska serangan akut
 Rileksasi otot-otot pernapasan
•Heating
•Massage
•Breathing control
 Bronchial toilet
 Humidification.
Postural drainage.
ACBT
 Ambulasi bertahap
3. Pada saat diluar serangan
 Mobilisasi & penguatan otot-2
pernapasan(Weiner, dkk, 2000)
 Breathing control
 Exercise (Hallstrand, Bates &
Schoene, 2000)
 Edukasi : (Emtner, 1999)
4. Edukasi :
Proses penyakit
Rencana terapi scr individual
Penggunaan peakflow meter untuk
monitoring
Evaluasi tehnik penggunaan obat-2
inhalasi
Manfaat latihan, termasuk latihan
pernapasan dan tehnik pembersihan
sputum scr mandiri
IX. Evaluasi.
 Borg Scale & Rate of Perceived Exertion
 Spirometer
 Analisa gas darah
 Chest X-ray
 Auskultasi
 Six minutes walk test
 Muscle length test
Kesimpulan…
 Angka kejadian asma cenderung
meningkat
 Peny. yg potensial fatal -> 90% dapat
dicegah
 Pend Asma dapat berprestasi
 Perlunya penatalaksanaan yang
melibatkan berbagai disiplin ilmu
DAFTAR PUSTAKA

1. Baratawidjaja, K. (1990) “Asma Bronchiale”,


dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta : FK
UI.
2. Crockett, A. (1997) “Penanganan Asma dalam
Penyakit Primer”, Jakarta :Hipocrates.
3. Crompton, G. (1980) “Diagnosis and
Management of Respiratory Disease”, Blacwell
Scientific Publication.
4. Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran”, Jakarta : EGC.
5. Price, S & Wilson, L. M. (1995)
“Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit”,Jakarta : EGC.
6. Pullen, R. L. (1995) “Pulmonary Disease”,
Philadelpia : Lea & Febiger.
7. Rab, T. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”, Jakarta :
Hipokrates.
8. Rab, T. (1998) “Agenda Gawat Darurat”,
Jakarta : Hipokrates.
9. Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan
Anak”, Jakarta : Info Medika.
[Link], H. (1995) “Asma ; Apa dan
Bagaimana Pengobatannya”, Jakarta : FK UI.

Anda mungkin juga menyukai