MODEL DAN DESAIN -NH-
PRAKTIK DOKTER GIGI
PRAKTIK PERORANGAN
Berdasarkan ketentuan dalam permenkes no. 2052/MENKES/PER/X/2011 tentang
izin praktik dan pelaksanaan praktik kedokteran:
a) Setiap dokter gigi yang akan melakukan praktik kedokteran wajib memiliki SIP
b) Setiap dokter gigi dan dokter gigi spesialis maksimum boleh melakukan praktik di
tiga lokasi pelayanan kesehatan
c) SIP dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Untuk memperoleh SIP, dokter gigi yang bersangkutan harus mengajukan
permohonan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat praktek
kedokteran gigi dilaksanakan dengan melampirkan :
🢝Fotokopi STR Dokter Gigi yang diterbitkan dan dilegalisir asli KKI yang masih berlaku
🢝Surat pernyataan memiliki tempat praktik atau surat keterangan dari sarana pelayanan
kesehatan sebagai tempat praktiknya
🢝Surat Rekomendasi dari organisasi profesi tempat praktik
🢝Pas foto berwarna ukuran 4 X 6 sebanyak tiga lembar dan 2 X 3 sebanyak dua lembar
SIP berlaku selama 5 (lima) tahun sejak tanggal diterbitkan dan untuk
memperbaharuinya, diperlukan surat rekomendasi dari Organisasi Profesi.
SIP harus diperpanjang, di periksa dan nomor SIP harus dicantumkan pada
kertas resep dan papan nama
Dokter Gigi yang melakukan pelayanan kesehatan tanpa memiliki SIP,
dipidana sesuai tetentuan Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran.
Aturan papan nama berdasarkan Kode Etik Kedokteran Indonesia
(Kodeki) penjelasan Pasal 4 KODEKI yaitu:
•Ukuran 40 x 60 cm (maksimal 60 x 90 cm).
•Dengan dasar cat putih dan huruf hitam.
•Pada papan nama tercantum Nama Gelar yang sah dan jenis
pelayanan sesuai dengan Surat Ijin Praktik, serta Waktu Praktik.
•Papan nama tersebut tidak boleh dihiasi warna dan penerangan yang
bersifat iklan.
KLINIK
Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
028/Menkes/Per/I/2011, pengertian klinik adalah fasilitas pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang
menyediakan pelayanan medis dasar dan spesialistik, diselenggarakan oleh
lebih dari satu jenis tenaga kesehatan dan dipimpin oleh seorang tenaga
medis (Menkes RI, 2001)
Menurut Peraturan Menteri Republik Indonesia Nomor 028/Menkes/Per/I/2011,
klinik berdasarkan pelayanannya dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Klinik Pratama
Klinik yang melayani pelayanan medik dasar.
2. Klinik Utama
Klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik atau pelayanan
medik dasar dan spesialistik.
Fungsi didirikannya klinik dokter gigi adalah untuk menangani pasien yang
mengalami gangguan pada gigi ataupun untuk melakukan perawatan rutin.
Tujuan di lakukan perancangan klinik dokter gigi adalah untuk memperbaiki
pandangan masyarkat tentang tempat klinik dokter gigi sebagai tempat yang
menakutkan untuk di kunjungi. Oleh karena itu perlu dilakukan perancangan
interior pada klinik dokter gigi yang dapat membuat pengunjung merasa
nyaman.
Berikut adalah klasifikasi fasilitas peraturan Menteri kesehatan
Republik Indonesia NOMOR 028/MENKES/PER/I/2011 tentang klinik yang
harus dilengkapi apabila ingin mendirikan sebuah klinik antara lain :
- Pasal 9
Bangunan klinik paling sedikit terdiri atas:
a. ruang pendaftaran/ruang tunggu;
b. ruang konsultasi dokter;
c. ruang administrasi;
d. ruang tindakan;
e. ruang farmasi;
f. kamar mandi/wc;
g. ruangan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan.
Pasal 10
Prasarana klinik yang harus dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan
baik, meliputi:
a. instalasi air;
b. instalasi listrik;
c. instalasi sirkulasi udara;
d. sarana pengelolaan limbah;
e. pencegahan dan penanggulangan kebakaran;
f. ambulans, untuk klinik yang menyelenggarakan rawat inap; dan sarana
lainnya sesuai kebutuhan.
Selain itu juga, klinik harus dilengkapi dengan peralatan medis dan
nonmedis yang memadai sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan.
Syarat peralatan tersebut adalah:
1. memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan.
2. memiliki izin edar.
3. Harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengamanan
Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi penguji dan pengkalibrasi yang
berwenang.
Klinik Kedokteran Gigi merupakan tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan pelayanan kedokteran gigi yang dilaksanakan oleh
lebih dari satu orang dokter gigi, dengan persyaratan sebagai berikut:
[Link] oleh seorang dokter gigi /dokter gigi spesialis yang
mempunyai Surat Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik sebagai
penanggung jawab pelayanan.
[Link]-masing dokter gigi /dokter gigi spesialis mempunyai Surat
Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik (SIP) sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bangunan/ruangan sebagai berikut:
🢝1) Mempunyai bangunan fisik yang permanen dan tidak bergabung dengan tempat tinggal.
🢝2) Mempunyai ruang pendaftaran /ruang tunggu, ruang konsultasi kedokteran gigi minimal 3x4 m2
dengan fasilitas tempat cuci tangan dengan air yang mengalir, ruang administrasi, ruang emergency,
kamar mandi/WC dan ruang lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan;
🢝3) Memenuhi persyaratan hygiene dan sanitasi;
🢝4) Ventilasi yang menjamin peredaran udara yang baik dilengkapi dengan mekanis (AC, kipas angin,
exhaust fan) dan penerangan yang cukup.
🢝5) Mempunyai sarana pembuangan limbah dan limbah harus dikelola sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
Memiliki Peraturan Internal, Standar Prosedur Operasional dan Peraturan Disiplin
yang tidak bertentangan dengan Standar Kompetensi, Standar Profesi dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Memiliki izin fasilitas pelayanan kesehatan, izin penyelenggaraan dan izin peralatan
kedokteran sesuai dengan ketentuan peratuan perundang-undangan yang berlaku;
Memasang papan nama fasilitas pelayanan kesehatan dan daftar nama dokter yang
berpraktik di klinik tersebut.
Desain ruang praktek dokter gigi yang baik, setidaknya memiliki tiga
kelompok ruangan sebagai berikut.
[Link] Resepsionis
Ruang ini adalah ruang yang pertama kali ditemui para pasien. Di ruangan
ini segala kelengkapan administrasi akan disediakan. Barang-barang yang
dibutuhkan di ruangan ini adalah meja, komputer, alat tulis, filling cabinets,
dan telefon.
[Link] Tunggu
Ruang tunggu berguna untuk tempat istirahat atau jeda bagi pasien.
Beberapa furnitur yang harus tersedia di ruang ini adalah koran/majalah, TV,
kursi panjang dan kursi cadangan. Ruangan tunggu membutuhkan sentuhan
seni dan kreasi pada dindingnya.
[Link] Periksa
Ruangan ini sebaiknya tidak terlalu pengap dan banyak ornamen.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah pencahayaan.
Pencahayaan yang baik adalah yang memiliki intensitas rendah.
Ruangan periksa sebaiknya dilengkapi pengukur tinggi badan,
peralatan medis, timbangan, tempat tidur, tirai dan kasur angkat.
MENURUT DESAIN RUANG
Tentukan prioritas kebutuhan Anda agar luas ruangan tidak
terbuang percuma. Apabila luas area terbatas, prioritaskan luas
ruangan terbesar untuk area perawatan Anda. Luas ruang tunggu
dan kamar mandi yang kecil dapat dikompensasikan dengan desain
unik yang membuat pasien nyaman.
Perencanaan tata ruang harus terfokus pada aktivitas yang akan
dilakukan pada pasien, oleh asisten dan dokter gigi. Tata ruang
harus membentuk kondisi kerja yang optimal.
Pikirkan flow gerakan Anda, dari mensterilkan produk, duduk dan
menjelaskan treatment plan pada pasien, di mana harus
meletakkan dental chair, dll. Tujuan perencanaan dan penempatan
alat sesuai flow aktivitas ditujukan agar ada cukup ruangan untuk
dokter gigi dan asistennya sehingga gerakan dapat dilakukan
secara ergonomis dan alami. Jangan sampai ruwetnya penataan
ruang menyebabkan dokter gigi dan asisten seling menghalangi
ruang gerak partnernya.
RESEPSIONIS
RESEPSIONIS DAN RUANG
TUNGGU
RUANG TUNGGU
RUANG PRAKTIK
RUANG STERIL
WHAT KIND OF DENTAL OFFICE
DO YOU WANT?