Uji Hipotesis dalam Penelitian Statistika
Uji Hipotesis dalam Penelitian Statistika
Interpolasi linier
UJI HIPOTESIS
A. 1. Pengertian
Hipotesis adalah gabungan kata :
Hipo (= dasar atau sementara) dan
Tesis (=pendapat/pernyataan/kesimpulan yang didasari dan dukungan
fakta atau alasan yang kuat dan masuk akal)
Hipotesis diartikan secara ringkas = pendapat sementara yang didasari
oleh fakta yang kuat dan logis.
Karena bersifat sementara, agar menjadi Tesis, maka hipotesis ini perlu
diuji kebenarannya melalui penelitian (percobaan) dan/atau pengamatan
tentang fakta-fakta empirik yang dapat mendukung atau menolak
hipotesis yang diajukan tersebut.
Dalam Pengujian Hipotesis (Hipotesis statistik) ada hal penting
diketahui yaitu : kebenaran atau ketidakbenaran suatu hipotesis tidak
akan pernah diketahui secara pasti, kecuali seluruh ciri suatu populasi
dapat diamati, tentunya ini sulit dan tidak praktis dilakukan (= ini yang
mendasari berkembangnya Statistika).
Karena itu dalam pengujian hanya memilih sejumlah populasi yang diselidiki
data contoh secara random yang dianggap mewakili informasi yang teramati pada
contoh-contoh tersebut, kemudian dapat ditentukan apakah hipotesis yang diajukan
tersebut wajarnya benar atau salah.
Dalam pengujian hipotesis sering digunakan istilah ditolak dan diterima, penting
dipahami bahwa :
1. Penolakan hipotesis berarti dapat disimpulkan bahwa suatu hipotesis adalah
tidak benar.
2. Penerimaan hipotesis berarti dapat disimpulkan bahwa tidak cukup informasi
untuk menyatakan suatu hipotesis adalah tidak benar atau menolaknya.
2. Bentuk Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori,
dan belum menggunakan fakta.
Dalam analisis statistika inferensia terdapat dua hipotesis yang perlu diuji yaitu
hipotesis penelitian (= menguji jawaban yang sementara/tentatif itu apakah betul –
betul terjadi pada sampel yang diteliti atau tidak, kalau terjadi berarti hipotesis
penelitian terbukti, kalau tidak berarti tidak terbukti) dan hipotesis statistik (=
menguji apakah hipotesis yang telah terbukti atau tidak terbukti berdasarkan data
sampel itu dapat diberlakukan pada pupolasi atau tidak)
Populasi
Penelitian
Reduksi
(penyederhanaan)
Hipotesis penelitian
dibuktikan dengan data
sampel
Bentuk Hipotesis
Median test
Median
Sign test Mann Whitney Spearman
Friedman Extension
U test Rank
Ordinal Run Test Two-way Kruskal- Correlation
Wilcoxon Kolmogorov-
Anova Wallis One
matched Smirnov Kendall Tau
Way Anova
pairs Wald-Wolfowitz
Pearson
Product
One-way One-way Moment
Anova Anova
Interval t-test of t-test Partial
t-test Correlation
Ratio related independent
Two-way Two-way Multiple
Anova Anova Correlation
Regresi
Statistik Parametris
6
Terdapat tiga bentuk hipotesis yang dirumuskan dan diuji yaitu :
a. Hipotesis Deskriptif = merupakan dugaan terhadap nilai satu variabel dalam satu sampel
walaupun di dalamnya bisa terdapat beberapa katagori atau merupakan jawaban sementara
terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkanaan dengan variabel mandiri.
Contoh 1.
Ho : Kecenderungan masyarakat memilih warna gelap dalam membeli kendaraan
H1 : Kecenderungan masyarakat warna dalam membeli kendaraan tidak warna gelap
Contoh 2.
1) Rumusan masalah deskriptif
a) Berapa daya tahan lampu pijar merek X?
b) Sebarapa tinggi semangat kerja karyawan di P.T. Y?
2) Hipotesis Deskriptif
Ho: Daya tahan lampu pijar X = 600 jam. merupakan Ho karena daya tahan lampu
yang ada pada sampel diharapkan tidak berbeda secara signifikan dengan daya tahan pada
populasi.
H1: Daya tahan lampu pijar merek X 600 jam ini bisa > atau < dari 600 jam
3) Hipotesis Statistik (hanya ada bila berdasarkan data sampel)
Ho: = 600
H1 : 600
nilai rata-rata populasi yang dihipotesiskan atau ditaksir melalui sampel.
Untuk rumusan masalah no. 2)
Ho nya:
a) Semangat kerja karyawan di P.T. Y = 75% dari kriteria ideal yang
diharapkan.
b) Semangat kerja karyawan di P.T. Y paling sedikit 75% dari kriteria ideal
yang ditetapkan ( paling sedikit bisa > atau )
c) Semangat kerja karyawan di P.T. Y paling banyak 75% dari kriteria ideal
yang ditetapkan ( paling banyak bisa < atau )
Biasanya hanya satu yang dipilih tergantung pada teori dan pengamatan
pendahuluan pada obyeknya.
H1 nya:
d) Semangat kerja karyawan di P.T. Y 75%
e) Semangat kerja karyawan di P.T. Y < 75%
f) Semangat kerja karyawan di P.T. Y > 75%
Hipotesis statistik adalah (hanya ada bila berdasarkan data sampel)
g) Ho: ρ = 75% b) Ho: ρ 75% c) Ho: ρ 75%
H1 : ρ 75% H1 : ρ < 75% H1 : ρ > 75%
b. Hipotesis Komparatif = merupakan dugaan terhadap perbandingan nilai dua
sampel atau lebih atau jawaban sementara terhadap rumusan masaalah komparatif
(keadan itu terjadi pada waktu yang berbeda). Dalam komparasi ini terdapat
beberapa macam yaitu :
1) Komparasi berpasangan (related) dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k
sampel)
2) Komparasi independen dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k sampel)
Contoh 1.
Sampel Berpasangan, komparatif dua sampel
Ho : Tidak terdapat perbedaan nilai penjualan sebelum dan sesudah ada iklan
H1 : Terdapat perbedaan nilai penjualan sebelum dan sesudah ada iklan
Sampel Independen, komparatif tiga sampel
Ho : Tidak terdapat perbedaan antara birokrat, akademisi, dan pebisnis dalam
memilih partai
H1 : Terdapat perbedaan antara birokrat, akademisi, dan pebisnis dalam memilih
partai
Contoh 2.
1) Rumusan masalah komparatif
Bagaimanakah produktivitas kerja karyawan P.T X bila dibandingkan dengan P.T.
Y?
2) Hipotesis Komparatif
Berdasarkan rumusan masalah ada tiga model Ho nya sebagai berikut:
a) Ho: Tidak terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan di P.T.
X dan P.T. Y; atau terdapat persamaan produktivitas kerja antara karyawan
P.T. X dan P.T. Y
b) Ho: Produktivitas karyawan di P.T. X lebih besar atau sama dengan ()
P.T. Y
c) Ho: Produktivitas karyawan di P.T. X lebih kecil atau sama dengan () P.T.
Y
H1 nya sebagai berikut:
d) H1: Produktivitas kerja karyawan di P.T. X lebih besar (atau lebih kecil)
dari karyawan P.T. Y
e) H1: Produktivitas kerja karyawan di P.T. X lebih kecil (<) dari pada
karyawan P.T. Y
f) H1: Produktivitas kerja karyawan di P.T. X lebih besar (>) dari pada
karyawan P.T. Y
3) Hipotesis Statistik dapat dirumuskan sebagai berikut:
g) Ho: 1 = 2 b) Ho: 1 2 c) Ho: 1 2
H1: 1 2 H1: 1 < 2 H1: 1 > 2
c. Hipotesis Asosiatif = merupakan dugaan terhadap hubungan antara dua
variabel atau lebih atau jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif,
yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Contoh 1.
Ho: Tidak terdapat hubungan antara jenis profesi dengan jenis olah raga yang
disenangi.
H1: Terdapat hubungan antara jenis profesi dengan jenis olah raga yang disenangi.
Contoh 2.
1) Rumusan masalah asosiatif
Adakah hubungan yang signifikan antara kerapihan berpakaian pelayan toko
dengan barang yang terjual.
2) Hipotesis Penelitian:
Terdapat hubungan yang positif antara kerapihan berpakaian pelayan toko
dengan barang yang terjual.
3) Hipotesis Statistik
Ho: ρ = 0 0 berarti tidak ada hubungan
H1: ρ 0 “tidak sama dengan 0” berarti lebih besar (+) atau kurang (-)
dari
nol berarti ada hubungan.
B. Dua Macam Kekeliruan
Dalam pengujian hipotesis, maka dilakukan penelitian, diambil
sampel dihitung nilai-nilai statistiknya yang perlu, kemudian
dibandingkan (dengan menggunakan kriteria tertentu) dengan hipotesis.
Bila hasil penelitian yang diperoleh (dalam pengertian
peluang/probabilitas) jauh berbeda dari hasil yang diharapkan
berdasarkan hipotesis, maka hipotesis ditolak, bila terjadi sebaliknya
hipotesis
Meskipunditerima.
berdasarkan penelitian kita telah menerima atau menolak
hipotesis, tidak berarti bahwa kita telah membuktikan atau tidak
membuktikan kebenaran hipotesis. Yang deperlihatkan hanyalah
menerima atau menolak hipotesis saja.
Ada dua macam kekeliruan/kesalahan dalam melakukan pengujian
hipotesis, yang dikenal dengan nama :
a. Kekeliruan macam I ialah menolak hipotesis yang seharusnya
diterima.
b. Kekeliruan macam II ialah menerima hipotesis yang seharusnya
ditolak.
Tabel Macam Kekeliruan ketika
Membuat kesimpulan tentang Hipotesis
KEADAAN SEBENARNYA
KESIMPULAN
HIPOTESIS BENAR HIPOTESIS SALAH
Terima Hipotesis Tidak Membuat Kekeliruan Kekeliruan Macam II
Tolak Hipotesis Kekeliruan Macam I Tidak membuat
Kekeliruan
95%
_ _ _
X1 μ0 X2 X
Gambar Bagian tengah Kurva, Daerah Terima dan Daerah Tolak
Harga X grs1< X grs < X grs2 = mempunyai perbedaan yang cukup kecil dengan μ0.
Harga X grs < X grs1 atau X grs > X grs2 dianggap cukup besar perbedaannya dng μ0.
Daerah X grs1 sampai X grs2 = daerah terima (area af acceptance) ; Sebelah kiri X grs1
dan sebelah kanan X grs2 disebut daerah tolak (area of rejection atau critical region).
Probabilitas akan mendapatkan harga X grs yang terletak di daerah kritis,
apabila hipotesisnya benar disebut level of significance dari uji tersebut (α)
yang menunjukkan kesalahan macam I (type I error).
. Jika diambil luas kurva 95% maka α = 5% = 0.05 taraf nyata 5% berarti
kira-kira 5 dari tiap 100 kesimpulan bahwa kita akan menolak hipotesis yang
seharusnya diterima. Dengan kata lain kira-kira 95% yakin bahwa kita telah
membuat kesimpulan yang benar. Dikatakan bahwa hipotesis telah ditolak pada
taraf nyata 0.05 yang berarti kita mungkin salah dengan peluang 0.05
. Jika diambil luas kurva 90% maka α = 10% = 0.1
. Jika diambil luas kurva 98% maka α = 2% = 0.02
. Jika diambil luas kurva 99% maka α = 1% = 0.01
Pernyataan Tanda
Jika Null hypothesis (Ho) = ≤ ≥
Maka Aternative hypothesis (H1) ≠ atau < atau > > <
α
0 2,33
Gambar b Uji searah atas
α
– 2,33 0
Gambar c Uji searah bawah
3. Menghitung nilai uji statistik
Tahap ini menghitung penduga parameter dari data sampel yang
diambil (penentuan nilai Z, berdasarkan distribusi samplingnya)
4. Membuat keputusan secara statistik.
Keputusan menolak atau menerima Ho dilakukan setelah
membandingkan nilai uji statistik dengan nilai kritis. Jika nilai uji
statistik berada dalam daerah kritis maka Ho ditolak, jika
sebaliknya Ho diterima.
Misal :
Dalam pengujian searah atas pada tingkat kritis 1% diperoleh
nilai uji statistik 2,4 ini berada dalam daerah kritis ( 2,4 > 2,33
atau 2,33 < 2,4) maka ada alasan untuk menolak Ho, dan resiko
menolak keliru hanya 1%.
Jika pengujiannya dilakukan dua arah, maka nilai uji statistik
berada dalam daerah penerimaan ( – 2,58 < 2,4 < 2,58 ), berarti Ho
diterima.
D. Uji Hipotesis Rata – rata ( Mean ) dan Proporsi
1. Uji Hipotesis Rata-rata Sampel Besar ( n ≥ 30)
Langkah-langkah dalam melakukan uji hipotesisnya :
a) Buat formulasi Ho dan H1
Uji dua arah Ho : μ = μo maka H1 : μ ≠ μo ;
Searah atas/sisi kanan Ho : μ = μo maka H1 : μ > μo ;
Searah bawah/sisi kiri Ho : μ = μo maka H1 : μ < μo
b) Tentukan taraf nyatanya (α)
c) Tentukan aturan pengujiannya.
1) Uji dua arah : Ho diterima jika : – Zα/2 ≤ Z ≤ Zα/2
Ho ditolak jika : Z > Zα/2 atau Z < – Zα/2
2) Uji searah atas/sisi kanan : Ho diterima jika : Z ≤ Zα
Ho ditolak jika : Z > Zα
3) Uji searah bawah/sisi kiri : Ho diterima jika : Z ≥ – Zα
Ho ditolak jika : Z < – Zα
_
d) Dari sampel random hitung nilai Z dengan rumus : Z = (X – μo)/(S/√n)
Contoh :
Pengusaha lampu pijar T mengatakan daya pakai lampu 800 jam. Akhir-akhir ini timbul
dugaan daya pakai telah berubah. Untuk itu dilakukan penyelidikan dengan jalan menguji 50
lampu, ternyata rata-ratanya 792 jam. Dari pengalaman, diketahui bahwa simpangan baku
daya pakai 60 jam. Selidikilah dengan taraf nyata 0,05 apakah lampu itu berubah atau belum
?
Jawab :
Daya pakai lampu dimisalkan berdisribusi normal, maka akan menguji :
a. Ho : μ = 800 jam, berarti lampu itu daya pakainya 800 jam
H1 : μ ≠ 800 jam, berarti kualitas lampu telah berubah
(digunakan pengujian dua sisi/arah)
b. Taraf nyata (α) = 0,05 Z = 1.96 (tabel)
c. Kriteria pengujian : Ho diterima jika : – 1.96 ≤ Z ≤ 1.96
Ho ditolak apabila : Z > 1.96 atau Z < – 1.96
d. Menentukan nilai Z hitung : Diketahui S = 60 jam ; X grs = 792 jam ; n = 50
maka Z = (Xgrs – μ)/(S/√n) = (792 – 800)/(60/√50) = – 0.94
e. Membandingkan hasil d. dengan c.
Maka : – 0.94 (nilai hitung) > – 1.96 (taraf nyata/tabel) atau – 1.96 ≤ – 0.94 ≤ 1.96,
dalam daerah penerimaan, maka Ho diterima dan H1 ditolak
f. Kesimpulan :
Ini berarti dalam taraf nyata 0.05, penyelidikan memperlihatkan bahwa memang daya
pakai lampu masih sekitar 800 jam. Jadi belum berubah.
2. Uji Hipotesis Rata-rata Sampel kecil ( n < 30 )
Langkah-langkah dalam melakukan uji hipotesisnya :
a) Buat formulasi Ho dan H1
Uji dua arah Ho : μ = μo maka H1 : μ ≠ μo ;
Searah atas/sisi kanan Ho : μ = μo maka H1 : μ > μo ;
Searah bawah/sisi kiri Ho : μ = μo maka H1 : μ < μo
b) Tentukan taraf nyatanya (α)
c) Tentukan aturan pengujiannya.
1) Uji dua arah : Ho diterima jika : – t(α/2 ; n – 1) ≤ t ≤ t(α/2 ; n – 1)
Ho ditolak jika : t > t(α/2 ; n – 1) atau t < – t(α/2 ; n – 1)
2) Uji searah atas/sisi kanan : Ho diterima jika : t ≤ t (α ; n – 1)
Ho ditolak jika : t > t(α ; n – 1)
3) Uji searah bawah/sisi kiri : Ho diterima jika : t ≥ – t (α ; n – 1)
Ho ditolak jika : t < – t(α ; n – 1)
_
d) Dari sampel random hitung nilai t dengan rumus : t = (X – μo)/(S/√n)
e) Bandingkan hasil langkah d) dengan langkah c) apakah Ho diterima
atau ditolak, kemudian ambil kesimpulan.
Contoh : Suatu jenis pupuk yang digunakan pada tanaman padi dikatakan akan
menaikkan hasil panenan rata-rata 5 kw/Ha. Suatu sampel random dengan 9 Ha sawah
memberikan rata-rata 4 kw lebih banyak dari rata-rata sebelum menggunakan pupuk
tersebut dengan deviasi standard 1 kw. Apakah cukup alasan untuk menerima
pernyataan bahwa kenaikan rata-rata 5 kw/Ha ?
Jawab :
a) Ho : μ = 5 kw/Ha,
dengan menggunakan pupuk tsb hasil panenan rata-rata naik 5 kw/Ha.
H1 : μ ≠ 5 kw/Ha,
dengan menggunakan pupuk tsb hasil panenan rata-rata tidak naik 5 kw/Ha
(digunakan uji dua sisi/arah)
b) Tentukan taraf nyatanya (α) = 0.05 untuk t(α/2 ; n – 1)= t(0.025 ; 9 – 1) = 2.306 (tabel nilai t)
c) Kriteria pengujiannya.
Ho diterima jika : – 2.306 ≤ t ≤ 2.306
Ho ditolak jika : t > 2.306 atau t < – 2.306
_
d) Menghitung nilai t dengan rumus : t = (X – μo)/(S/√n)
Diketahui : Xgrs = 4 ; μ = 5 ; S = 1 ; n = 9 maka nilai t = (4 – 5 )/(1/√9) = – 1/(⅓) = – 3
Jawab :
1) Ho : μ1 = μ2
H1 : μ1 ≠ μ2 (digunakan pengujian dua sisi)
2) α = 0.05 ; nilai t(0.025;9 – 1) = 2.306
3) Kriteria pengujian : Ho diterima jika : − 2.306 ≤ t ≤ 2.306
Ho ditolak jika : t > 2.306 atau t < − 2.306
4) Perhitungan nilai t dari sampel :
Dari hasil observasi terhadap 9 mahasiswa tersebut di atas dilakukan perhitungan
sebagai berikut :
Mahasiswa Semester Semester D (D – Dgrs) (D – Dgrs)2
ganjil genap
A 64 54 10 12.78 163.3284
B 62 77 -15 -12.22 149.3284
C 45 50 - 5 -2.22 4.9284
D 66 54 12 14.78 218.4484
E 70 89 - 19 -16.22 218.4484
F 62 56 6 8.78 77.0884
G 80 72 8 10.78 116.2084
H 54 65 - 11 -8.22 67.5684
I 65 76 - 11 -8.22 67.5684
- 25 1127.5556