0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan27 halaman

Panduan Lengkap Eritroderma dalam Dermatologi

Eritroderma adalah kondisi kulit yang melibatkan lebih dari 90% permukaan kulit yang mengalami eritema dan skuama. Penyebab utama eritroderma adalah dermatosis sebelumnya seperti psoriasis dan dermatitis atopi, reaksi obat, dan penyakit sel kulit T. Penatalaksanaan eritroderma melibatkan penanganan penyebab primer dan komplikasi sistemik dengan kombinasi terapi topikal dan sistemik. Prognosis tergantung pen

Diunggah oleh

kharisma alifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan27 halaman

Panduan Lengkap Eritroderma dalam Dermatologi

Eritroderma adalah kondisi kulit yang melibatkan lebih dari 90% permukaan kulit yang mengalami eritema dan skuama. Penyebab utama eritroderma adalah dermatosis sebelumnya seperti psoriasis dan dermatitis atopi, reaksi obat, dan penyakit sel kulit T. Penatalaksanaan eritroderma melibatkan penanganan penyebab primer dan komplikasi sistemik dengan kombinasi terapi topikal dan sistemik. Prognosis tergantung pen

Diunggah oleh

kharisma alifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FITZPATRICK’S

DERMATOLOGY
ERITRODERMA

Chapter 23
Hal 266-279
PENDAHULUAN
 Eritroderma  Eritema dan skuama luas
pada kulit yang melibatkan lebih dari 90%
total luas permukaan kulit
 Sistemik dan kemungkinan komplikasi
mengancam jiwa  ketidakseimbangan
cairan dan elektrolit, ggn. termoregulasi,
demam, takikardi, hipoalbumin,
septikemia.
 Penyebab tersering  psoriasis, dermatitis
atopi, dermatitis dan dermatosis
spongiotik lain, reaksi hipersensitivitas
obat, CTCL
 20 %  idiopatik
 Penatalaksanaan eritroderma 
kombinasi terapi simtomatik dengan
mengatasi penyebab primer dan potensi
komplikasi sistemik.
 Prognosis tergantung penyebab yang
mendasari.
 Eritroderma yg diinduksi oleh obat 
prognosis baik
 Eritroderma yang berhubungan dengan
keganasan  mortalitas tinggi.
EPIDEMIOLOGI
 Insiden 0,9-71,0/100.000 jumlah pasien
rawat jalan
 Laki-laki : perempuan = 2-4 : 1
 Usia bervariasi 41-61 tahun
ETIOLOGI
 Dermatosis sebelumnya penyebab
terbanyak pada org dewasa(52%) (interval
27%-68%)
 Hipersensitif obat (15%)
 CTCL (5%)
 Idiopatik (20%)
 Penyebab penyakit primer tersering :
psoriasis(23%), Dermatitis spongiotik (20%).
 Pencetus terjadinya psoriasis eritroderma :
 Obat (litium, terbinafin,anti malaria)
 Topikal iritan (Tar)
 Penyakit sistemik
 Penghentian kortikosteroid topikal poten atau oral, MTX, atau
biologik (efalizumab)
 Infeksi  HIV
 Kehamilan
 Stress emosional
 Fototerapi
 Jarang  penyakit imunobullosa, peny. Jaringan
konektif, infeksi (skabies dan [Link]), PRP,
keganasan.
 Bayi dan neonatus  DD: Dermatosis
(psoriasis, dermatitis atopi, dermatitis
seboroik), obat, infeksi (SSSS)
PATOGENESIS
 Patogenesis  belum dapat dijelaskan
(dermatosis sebelumnya serta penyakit
primer yang berkembang menjadi
eritroderma)
 Sitokin, chemokin dan reseptornya 
sebagai patogenesis eritroderma
PATOGENESIS
 Berhubungan dengan pathogenesis dari
penyakit yang mendasarinya.
 Studi  profil sitokin pada infiltrat dermal
menunjukkan mekanisme patofisiologi yang
berbeda antara eritroderma ringan dan
sindrom sezary
 Eritroderma ringan  profil sitokin T-helper
1, sebaliknya sindrom Sezary menunjukkan
profil sitokin T-helper 2.
 Interaksi antara molekul adhesi dan ligannya 
penting dalam proses respon imun dan inflamasi
 Peningkatan level sirkulasi molekul adhesi
(ICAM-1, VCAM-1 dan E-selectin)  memicu
reaktivitas eritroderma sekunder pada psoriasis
dan dermatitis atopi.
 Tidak ada perbedaan tingkat ekspresi dari
molekul pada sel endotel yang ditemukan pada
tipe eritroderma yang berbeda.
 Interaksi kompleks antara molekul adhesi
dan sitokin  berkontribusi terhadap
peningkatan mitosis dan pergantian
(turnover) epidermis pd ED
 Skuama pd ED  akibat penurunan transit
time epidermis dan mengarah pada
kehilangan protein, asam amino, dan
asam nucleic  hipoalbuminemia
 Beberapa pasien dengan eritroderma
kronik idiopatik yang berkembang menjadi
CTCL  resiko tinggi berkembang menjadi
mikosis fungoides atau sindrom sezary.
 Dilaporkan  peningkatan Ig E pada banyak
tipe dari eritroderma
 Peningkatan IgE (eritroderma psoriatic) 
perubahan profil sitokin T-helper 1 pada
psoriasis menjadi sitokin T-helper 2 pada
eritroderma psoriatic.
 Mekanisme peningkatan Ig-E  berbeda pada
tiap tipe eritroderma.
GAMBARAN KLINIK

Riwayat
 Mengungkapkan faktor pencetus  riwayat
kesehatan sebelumnya (riwayat dermatosis,
kondisi kesehatan sistemik), riwayat
keluarga dan penggunaan obat.
 Pasien psoriasis dan dermatitis atopi 
penggunaan kortikosteroid topikal, sistemik,
metotreksat, infeksi, fototerapi, kehamilan
dan stress emosional.
LESI KULIT
 Awal  bercak kemerahan  eritema
generalisata.
 Skuama putih atau kekuningan muncul
beberapa hari setelah onset eritema 
muncul di daerah fleksural
 Kronis  edema dan likenifikasi
 Periorbital  ektropion dan epifora.
 Perubahan kuku  onikolisis,
hiperkeratosis subungual, perdarahan
splinter, paronikia, garis Beau dan
onikomadesis.
LABORATORIUM
 Tidak spesifik
 Anemia, leukositosis, eosinofilia,
peningkatan IgE, peningkatan sedimen
eritrosit
 Gangguan elektrolit dan gangguan fungsi
ginjal
HISTOPATOLOGI
 Non spesifik
 Akut  spongiosis dan parakeratosis
infiltrat inflamatori non spesifik ke
berbagai lapisan dermis
 Kronik  akantosis dan elongasi rete
ridges
KOMPLIKASI

 Komplikasi sistemik  ketidakseimbangan


cairan dan elektrolit, gangguan
termoregulasi, infeksi, gagal jantung,
acute respiratory distress syndrome,
dekompensasi penyakit hati kronis.
 Kehilangan protein 10-15%  eritroderma
non psoriatic, 25%  eritroderma
psoriatic.
PROGNOSIS
 Tergantung etiologi yang mendasari
 Rata-rata mortalitas bervariasi dari 3,75%
- 64%
 Kematian diakibatkan komplikasi seperti
sepsis, pneumonia dan gagal jantung
PENGOBATAN
 Awal  penggantian cairan dan elektrolit.
Lini pertama
 Topikal :
 Oatmeal baths,
 wet dressing,
 emolien,
 kortikosteroid potensi lemah

 Sistemik :
 Antihistamin sedative
 Antibiotik sistemik jika terdapat infeksi sekunder
 Diuretik untuk udem perifer
Lini kedua yaitu:
Sistemik
 Kortikosteroid  reaksi hipersensitifitas obat,
penyakit imunobulosa, dermatitis atopi. Dosis
1-2 mg/kgBB/hari
 Siklosporin  psoriasis, dermatitis atopi.
Dosis 4-5 mg/kgBB/hari
 Metotrexat  psoriasis, dermatitis atopi,
pitiriasis rubra pilaris. Dosis 5-25 mg per
minggu tergantung dari fungsi ginjal dan
respon terhadap terapi
 Acitretin (Soriatane)  psoriasis, pitiriasis
rubra pilaris. Dosis 25-50 mg per hari
 Mycophenolate mofetil  psoriasis,
dermatitis atopi, penyakit immunobulosa.
Dosis 1-3 g per hari
 Infliximab  psoriasis. Dosis 5-10
mg/kgBB.
PENCEGAHAN
 Menghindari obat-obatan yang menyebabkan
eritroderma sebelumnya
 Pasien harus mengingat apa penyebab alerginya
 Menghindari penggunaan steroid sistemik pada
pasien dengan psoriasis  mencegah rebound
flares.
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai