0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
316 tayangan46 halaman

Indeks Efektivitas Pengendalian Korupsi

Dokumen ini membahas kerangka pengukuran indeks efektivitas pengendalian korupsi (IEPK) yang digunakan BPKP untuk menilai upaya pencegahan dan penanganan risiko korupsi di organisasi. IEPK merupakan pengukuran kemajuan upaya pengendalian korupsi berdasarkan kerangka pengendalian fraud dari COSO/ACFE dan kerangka pengendalian SPIP. Dokumen ini juga menjelaskan komponen dan unsur penilaian matur

Diunggah oleh

Dinika alyusebtin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
316 tayangan46 halaman

Indeks Efektivitas Pengendalian Korupsi

Dokumen ini membahas kerangka pengukuran indeks efektivitas pengendalian korupsi (IEPK) yang digunakan BPKP untuk menilai upaya pencegahan dan penanganan risiko korupsi di organisasi. IEPK merupakan pengukuran kemajuan upaya pengendalian korupsi berdasarkan kerangka pengendalian fraud dari COSO/ACFE dan kerangka pengendalian SPIP. Dokumen ini juga menjelaskan komponen dan unsur penilaian matur

Diunggah oleh

Dinika alyusebtin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BIMTEK NEW SPIP

INDEKS EFEKTIVITAS PENGENDALIAN KORUPSI

(IEPK)

• Oleh
Perwakilan BPKP Provinsi Jawa Timur
29
Juli 2021
MADIA ARDIANTO, SE.,[Link].,CA.,CPA.,CRMP

Pendidikan:
– S-1 Fak. Ekonomi Universitas Airlangga
– S-2 MAKSI Universitas Airlangga

Jabatan:
– Audtor Madya selaku Pengendali Teknis pada BPKP Jatim

Riwayat Pekerjaan
– BPKP Kalimantan Selatan
– BPKP Sulawesi Tenggara
– BPKP Jawa Timur
DB I

iEPK
INDEK EFEKTIFITAS PENGENDALIAN KORUPSI

Kerangka pengukuran kemajuan segala


upaya pencegahan dan penanganan risiko
korupsi di dalam organisasi
(Per BPKP 05 Th 2021)
.
JENIS KORUPSI MENURUT UU TIPIKOR

Gratifikasi Suap Menyuap


2
Benturan Kepentingan Dalam 7 Kerugian 3
Pengadaan Keuangan Penggelapan Dalam

1 Negara Jabatan

6 -Pasal 2 & 3
4
Perbuatan Curang Pemerasan

5
.
PENGENDALIAN KORUPSI

FRAMEWORK FCP BPKP


FRAMEWORK FRM
(COSO/ACFE 2016)
Menetapkan kebijakan Linda l
pengelolaan risiko fraud
sbg bagian dari tata
Mone v kelola organisasional

PENGENDALIAN Memonitor proses


pengelolaan risiko fraud,
Melaksanakan asesmen

KORUPSI melaporkan hasilnya &


melakukan perbaikan
risiko fraud
komprehensif
Pe nris
Menyelenggarakan proses Memilih, mengembangkan,
pelaporan fraud dan dan menerapkan aktivitas
pendekatan terkoordinasi pengendalian preventif &
untuk investigasi &tindakan detektif
korektif Ke nda l
Inkom

FRM (Coso/ACFE 2016)


iEPK
iEPK & KINERJA
Intervensi
Pengawasan
ORGANISASI

iEPK - Expected
iEPK utk
apa TOOLS
PETA JALAN
untuk perbaikan CONSULTING gap TOOLS
ASSURANCE
GRC korupsi di
KLPBU

iEPK - Existing
PENETAPAN TUJUAN STRUKTUR DAN PROSES PENCAPAIAN TUJUAN SPIP
Penilaian Kualitas
Penilaian Struktur dan Proses (Unsur SPIP) Penilaian Capaian 4 Tujuan SPIP
Perencanaan
FRAMEWORK SPIP

LINGKUNGAN Efektivitas dan Efisiensi


PENGENDALIAN

Sasaran Strategis
K/L/D Keandalan Pelaporan
PEMANTAUAN
PENILAIAN Keuangan
RISIKO

Pengamanan Aset Negara

Strategi Pencapaian
Sasaran Strategis
Ketaatan Terhadap
INFORMASI
INFORMASI DAN
DAN KEGIATAN Peraturan Perundang-
KOMUNIKASI
KOMUNIKASI PENGENDALIAN undangan

MANAJEMEN KUALITAS SEKTOR PUBLIK


MATURITAS SPIP
ASPEK MANAJEMEN RISIKO ASPEK PENGENDALIAN KORUPSI ASPEK KAPABILITAS APIP
Komponen, Unsur, dan Subunsur Penilaian Maturitas Penyelenggaraan SPIP Bobot Unsur/ Subunsur Bobot Komponen
PENETAPAN TUJUAN   40.00%
Kualitas Sasaran Strategis 50.00%  
Kualitas Strategi Pencapaian Sasaran Strategis 50.00%  
SUB JUMLAH PERENCANAAN 100.00%  
STRUKTUR DAN PROSES   30.00%
Lingkungan Pengendalian    
Penegakan Integritas dan Nilai Etika (1.1) 3.75%  
PENILAIAN Komitmen terhadap Kompetensi (1.2) 3.75%  
Kepemimpinan yang Kondusif (1.3) 3.75%  
STRUKTUR DAN Pembentukan Struktur Organisasi yang Sesuai dengan Kebutuhan (1.4) 3.75%  
PROSES Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab yang Tepat (1.5)
Penyusunan dan Penerapan Kebijakan yang Sehat tentang Pembinaan SDM (1.6)
3.75%
3.75%
 
 
MERUPAKAN Perwujudan Peran APIP yang Efektif (1.7)
Hubungan Kerja yang Baik dengan Instansi Pemerintah Terkait (1.8)
3.75%
3.75%
 
 
PENILAIAN Penilaian Risiko
Identifikasi Risiko (2.1)
 
10%
 
 
PARAMETER SUB Analisis Risiko (2.2)
Kegiatan Pengendalian
10%
 
 
 
UNSUR SPIP Reviu atas Kinerja Instansi Pemerintah (3.1) 2.27%  
Pembinaan Sumber Daya Manusia (3.2) 2.27%  
(SEPERTI PADA Pengendalian atas Pengelolaan Sistem Informasi (3.3) 2.27%  
Pengendalian Fisik atas Aset (3.4) 2.27%  
TOOLS PENILAIAN Penetapan dan Reviu atas Indikator dan Ukuran Kinerja (3.5) 2.27%  
Pemisahan Fungsi (3.6) 2.27%  
SEBELUMNYA) Otorisasi atas Transaksi dan Kejadian yang Penting (3.7) 2.27%  

NAMUN DI-UPDATE Pencatatan yang Akurat dan Tepat Waktu atas Transaksi dan Kejadian (3.8)
Pembatasan Akses atas Sumber Daya dan Pencatatannya (3.9)
2.27%
2.27%
 
 
UNTUK MASING- Akuntabilitas terhadap Sumber Daya dan Pencatatannya (3.10)
Dokumentasi yang Baik atas SPI serta Transaksi dan Kejadian Penting (3.11)
2.27%
2.27%
 
 
MASING TUJUAN Informasi dan Komunikasi
Informasi yang Relevan (4.1) 5%
   
 
SPIP (4 KERTAS Komunikasi yang Efektif (4.2)
Pemantauan
5%
 
 
 
KERJA) DAN Pemantauan Berkelanjutan (5.1) 7.50%  
Evaluasi Terpisah (5.2) 7.50%  
MENCAKUP SUB JUMLAH STRUKTUR DAN PROSES 100.00%  
PENCAPAIAN TUJUAN   30.00%
PARAMETER MRI Efektivitas dan Efisiensi Pencapaian Tujuan Organisasi    
Capaian Outcome 15%  
SERTA IEPK. Capaian Output 15%  
Keandalan Pelaporan Keuangan    
Opini LK 25%  
Pengamanan atas Aset    
Keamanan Administrasi 10%  
Keamanan Fisik 5%  
Keamanan Hukum 10%  
Ketaatan pada Peraturan Perundang-undangan    
Temuan Ketaatan 20%  
SUB JUMLAH HASIL 100.00%  
TOTAL BOBOT   100.00%
PENGUKURAN IEPK
DALAM PARAMETER MAPPING PAREMETER PENGUKURAN IEPK DALAM PENGUKURAN SPIP

SUBUNSUR SPIP KAPABILITAS PENGELOLAAN RISIKO KORUPSI


AREA/KOMPONEN PENILAIAN IEPK
PENERAPAN STRATEGI PENCEGAHAN PENANGANAN KEJADIAN KORUPSI
KEBIJAKAN SEPERANGKAT DUKUNGAN POWER PEMBELAJAR ASESMEN SALURAN KEPEMIMPINAN INTEGRITAS IKLIM ETIS INVESTIGASI TINDAKAN
PENILAIAN SPIP ANTI KORUPSI SISTEM ANTI SUMBER (KUASA DAN AN ANTI DAN MITIGASI PELAPORAN ETIS ORGANISASI PRINSIP KOREKTIF
KORUPSI DAYA WEWENANG) KORUPSI RISIKO INTERNAL YANG ONAL
KORUPSI EFEKTIF DAN
KREDIBEL
2. PENILAIAN STRUKTUR DAN PROSES
Subunsur 1.1 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter
Subunsur 1.3 1 parameter 1 parameter 1 parameter
Subunsur 2.2 1 parameter
Subunsur 4.1 1 parameter
Jumlah 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter 1 parameter

PILAR BOBOT SKOR NILAI


KAPABILITAS PENGELOLAAN RISIKO KORUPSI 48% 0,80
KEBIJAKAN ANTIKORUPSI 9,60% 1,50 0,14
SEPERANGKAT SISTEM ANTIKORUPSI 7,20% 1,50 0,11
DUKUNGAN SUMBER DAYA 7,20% 1,88 0,14
POWER (KUASA & WEWEWANG) 14,40% 1,88 0,27
PEMBELAJARAN ANTIKORUPSI 9,60% 1,50 0,14
PENERAPAN STRATEGI PENCEGAHAN 36% 0,62
ASESMEN DAN MITIGASI RISIKO KORUPSI 9,00% 1,82 0,16
SALURAN PELAPORAN INTERNAL YANG EFEKTIF 3,60% 1,95 0,07
DAN KREDIBEL
KEPEMIMPINAN ETIS 9,00% 1,88 0,17
INTEGRITAS ORGANISASIONAL 7,20% 1,50 0,11
IKLIM ETIS PRINSIP 7,20% 1,50 0,11
PENANGANAN KEJADIAN KORUPSI 16% 0,24
INVESTIGASI 8,00% 1,50 0,12
TINDAKAN KOREKTIF 8,00% 1,50 0,12
TOTAL 100% 1,66
iEPK

Pilar 1: Kapabilitas Pengelolaan Risiko Korupsi


Pilar 2: Penerapan Strategi Pencegahan
Pilar 3: Penanganan Kejadian Korupsi
PENJABARAN
PILAR KE DALAM
DIMENSI DAN
INDIKATOR
KAPABILITAS PENGELOLAAN RISIKO KORUPSI

Karakteristik Kebijakan eksplisit atas pengendalian korupsi yang


organisasional mencakup pernyataan kebijakan, penetapan struktur
yang pengelola risiko korupsi, serta standar perilaku
antikorupsi
mengisyaratkan
adanya
kapasitas dan
kompetensi
organisasi untuk Kompetensi merujuk gabungan pengetahuan, skill dan
mengelola risiko pengalaman yang memampukan organisasi mengelola
korupsi. risiko korupsi. Selain pembelajaran (anti) korupsi,
termasuk di dalamnya adalah bagaimana power
dipertontonkan pimpin-an agar kompetensi diperoleh.
KAPABILITAS PENGELOLAAN RISIKO KORUPSI

Karakteristik Kapasitas merujuk kemampuan organisasi untuk bekerja


organisasional memenuhi fungsinya. Kemampuan ini berarti segala
yang sesuatu dari dalam organisasi (inside out) yang
memungkinkan organisasi mampu menuntaskan misinya
mengisyaratkan
mencapai tujuan (mengatasi kerentanan organisasi
adanya terhadap perilaku korupsi yang merusak & merugikan)
kapasitas dan
kompetensi
organisasi untuk Kompetensi merujuk gabungan pengetahuan, skill dan
mengelola risiko pengalaman yang memampukan organisasi mengelola
korupsi. risiko korupsi. Selain pembelajaran (anti) korupsi,
termasuk di dalamnya adalah bagaimana power
dipertontonkan pimpin-an agar kompetensi diperoleh.
01. KEBIJAKAN
Kebijakan eksplisit atas Atribut kualitas
pengendalian korupsi
mencakup pernyataan kebijakan,
yang
indikator
1. Ada kebijakan antikorupsi secara
eksplisit
penetapan struktur pengelola risiko
korupsi, serta standar perilaku
antikorupsi (Par 1.1.2) 2. Ada struktur permanen yang
bertanggung jawab dalam
Manifestasi pernyataan kebijakan bisa pengelolaan risiko korupsi dengan
beragam. Rumusan dalam misi, kewenangan yang lengkap
deklarasi program antikorupsi, mis
SMAP, ZI, WBS, kebijakan 3. Standar perilaku antikorupsi yang
pengendalian benturan kepentingan, spesifik dan jelas mengatur perilaku
dll, serta keberadaan penetapan yang boleh dan tidak boleh
struktur & standar perilaku yang dilakukan oleh semua pegawai
berorientasi atau berciri antikorupsi.
02. SEPERANGKAT ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR

SISTEM 1. SOP asesmen risiko korupsi


komprehensif
Organisasi menetapkan dan
melaksanakan SOP antikorupsi 2. SOP pengendalian preventif &
yang mencakup tiga proses detektif a.l.
prinsip dalam pengelolaan risiko o sistem manajemen antisuap,
korupsi, yakni cegah, deteksi, dan o sistem pengendalian gratifikasi,
respons (Par 1.1.3) o sistem edukasi (anti) korupsi

Cerminan faktual keberadaan


3. SOP pelaporan internal, termasuk
kebijakan antikorupsi. Idealnya
perlindungan pelapor
mencakup tiga prinsip proses:
cegah-deteksi-respon, melalui
4. SOP investigasi & tindakan korektif
penetapan SOP FRA, SOP
pengendalian preventif, WBS
5. SOP monitoring & evaluasi kegiatan
internal, serta SOP investigasi dan
antikorupsi
tindakan korektif.
03. DUKUNGAN SUMBERDAYA

Program antikorupsi didukung


Atribut kualitas indikator
dengan penyediaan alokasi
sumberdaya secara eksplisit dan 1. Anggaran untuk pengelolaan risiko
memadai, baik anggaran, personil, korupsi dialokasikan secara eksplisit
dan sarana prasarana (1.3.5) dalam dokumen anggaran
Dukungan eksplisit alokasi SDM, 2. Personil/petugas untuk pengelolaan
keuangan, dan sarana prasarana risiko korupsi ditetapkan
menjadi cerminan konkret
kapasitas MR korupsi. Ketiadaan 3. Sarana dan prasarana penunjang
dukungan terindikasi dari kondisi kegiatan pengelolaan risiko korupsi
manakala kegiatan-kegiatan disediakan.
pengelolaan risiko korupsi
terhambat signifikan (=macet) 4. Kegiatan pengelolaan risiko korupsi
lantaran ketidakcukupan personil, tidak terhambat karena masalah
anggaran, dan/atau ketiadaan kekurangan sumber daya manusia,
sarana-prasarana. keuangan, atau sarana-prasarana
04. POWER
ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR

1. Pimpinan mempertontonkan sikap


anti korupsi dalam proses
Faktor kekuasaan dan wewenang
pembuatan keputusan sehari-hari
yang melekat pada pimpinan unit
kerja dipakai untuk tujuan
mengelola risiko korupsi secara 2. Pimpinan tidak ragu untuk mengakui
efektif (tidak membiarkan/ kelemahan dan terbuka untuk
mengabaikan) (Par 1.3.6) menerima masukan demi risiko
Indikator ini adalah tentang korupsi terkelola efektif (tidak
bagaimana kuasa dan wewenang melakukan pembiaran)
didemonstrasikan pimpinan untuk
mengelola risiko korupsi: tidak
3. Pemimpin menampakkan usaha
abai, bersikap terbuka, niatan
membangun kerjasama dengan
menggalang kerjasama.
berbagai pihak, internal dan
eksternal, dari keyakinan bahwa
upaya menanggulangi korupsi
adalah aksi kolektif
05. PEMBELAJARAN (ANTI)
KORUPSI
ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR

1. Program pembelajaran antikorupsi


Tentang proses unit kerja sebagai lingkungan kepada pejabat dan staf
belajar dikelola untuk memungkinkan pegawai di diselenggarakan secara terstruktur
semua level berpartisipasi dalam program dan terjadwal.
antikorupsi dengan menghindari perilaku koruptif
dan menunjukkan sikap lugas ketika berhadapan
dengan situasi yang memicu perilaku korupsi. 2. Program pembelajaran antikorupsi
Proses belajar juga harus menjangkau stakeholders kepada petugas khusus
(penyedia dan pengguna layanan) untuk diselenggarakan secara terstruktur
mendapatkan komitmen kerjasama untuk dan terjadwal
berjalannya program antikorupsi (Par 1.1.4)

3. Program pembelajaran antikorupsi


kepada pengguna layanan dan
penyedia barang diselenggarakan
secara terstruktur dan terjadwal
PENERAPAN STRATEGI PENCEGAHAN
EFEKTIVITAS PENCEGAHAN & DETEKSI DINI
Satu-kesatuan proses Dimensi yang menyoroti kualitas penerapan strategi
preventif & detektif perilaku korupsi. Kondisi berada
yang menyeluruh
pada level terendah manakala penerapan sekadar
pada semua elemen seremonial. Komponen indikator mencakup asesmen
penerapan strategi dan mitigasi risiko, pengelolaan saluran pelaporan
pencegahan korupsi. internal yang kredibel, serta indikator kepedulian
Berfokus pada
aktualisasi kapabilitas
BUDAYA ORGANISASI ANTIKORUPSI
- implementedness - Dimensi yang menyoroti seberapa efektif proses telah
berhasil membentuk keyakinan bersama (shared
belief) anggota organisasi mengenai
korupsi/antikorupsi dalam rangka mencapai tujuan
bersama. Kepemimpinan etis, integritas
organisasional, dan iklim etis prinsip menjadi indikator
B-O-A-K
06. ASESMEN & MITIGASI
ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR
RISIKO KORUPSI
Merupakan kegiatan yang terstruktur dan 1. Kegiatan asesmen risiko mencakup
sistematis dalam mengidentifikasi, upaya identifikasi risiko korupsi di
menganalisis probabilitas dan signifikansi semua level pegawai
dampak bila suatu praktik korupsi terjadi 2. Kegiatan asesmen risiko mencakup
dan mengevaluasinya dalam rangka identifikasi skenario/modus dan
menentukan respons yang tepat penyebab korupsi
terhadapnya, yang menjangkau seluruh
kegiatan utama organisasi dan 3. Kegiatan asesmen risiko korupsi
menghasilkan rancangan tindak menghasilkan peta risiko korupsi
pengendalian memitigasi risiko korupsi yang 4. Kegiatan asesmen risiko korupsi
sudah terpetakan (Par. 2.2.6) menghasilkan RTP spesifik sebagai
Kegiatan yang terstruktur dan sistematis langkah mitigatif.
dalam mengidentifikasi, memahami, dan 5. Rencana tindak pengendalian
mengevaluasi probabilitas dan signifikansi dijalankan.
dampak praktik korupsi. Mitigasi menjadi
bagian takterpisahkan dari proses ini 6. Asesmen risiko korupsi periodik
sebagai tindak lanjut (respons) atas hasil dilakukan secara konsisten (Bila ada
profiling risiko korupsi hambatan tidak didiamkan).
07. WBS YG
ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR
BERFUNGSI &
1. Pegawai memahami keberadaan
KREDIBEL dan fungsi sistem whistleblowing
internal
Saluran pelaporan internal yang
dikelola secara kredibel dalam 2. Intensi whistleblowing pegawai
menerima pelaporan dan relatif besar.
memberikan perlindungan kepada
pelapor sehingga kepedulian 3. Sikap pegawai terhadap tindakan
meningkat dan memberikan efek pelapor (whistleblower) positif.
penggentar yang efektif.(Par 4.1.5) 4. Pegawai mempersepsi saluran
Program pembelajaran antikorupsi whistleblowing internal terpercaya
diharapkan membawa perubahan 5. Pegawai mempersepsi mekanisme
berupa peningkatan kepedulian perlindungan pelapor terpercaya.
pegawai dan stakeholder atas risiko
korupsi. Perilaku korupsi dihindari, 6. Ada bukti sistem pelaporan
dan berpartisipasi melalui berfungsi dan dimanfaatkan
pemanfaatan saluran pelaporan pegawai atau stakeholder.
internal
08. KEPEMIMPINAN ETIS
Pemimpin adalah penerap kaidah
perilaku etis sekaligus menerapkannya ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR
dalam manajemen, artinya menjadikan
nilai-nilai etis sebagai norma yang 1. Perilaku pemimpin kongruen dengan
harus dipatuhi bawahan. Pimpinan standar perilaku di organisasi
mendorong bawahan untuk (menjadi role model)
mengikutinya melalui atensi yang 2. Pimpinan terbuka mendiskusikan isu
diberikan di berbagai kesempatan, etis/ korupsi dengan bawahan
keterbukaan dan transparansi,
reinforcement, perlakuan adil, dan 3. Pimpinan memperlihatkan perlakuan
pengambilan keputusan yang adil dan seimbang kepada bawahan
menyertakan pertimbangan etis. 4. Pimpinan konsisten menegakkan
(1.3.7) norma etis yang berlaku kepada
Di dalam kepemimpinan etis, seorang seluruh pegawai
pemimpin adalah penerap kaidah etis
sekaligus menerapkannya dalam
manajemen, artinya menjadikan nilai-
nilai etis sebagai norma yang harus
dipatuhi bawahan.
09. INTEGRITAS ORGANISASIONAL
ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR
Integritas adalah keutamaan-keutamaan
(virtues) seperti kejujuran, hal dapat
dipercaya (trustworthiness), komitmen 1. Proses pengelolaan anggaran telah
terhadap standar etis, atau keteguhan sikap berjalan sesuai ketentuan
& perilaku sesuai prinsip moral/etika. 2. Proses rekrutmen, mutasi, &
Berintegritas berarti apa yang diucapkan promosi pegawai telah menghindari
utuh, lengkap, takbercacat, taklebih dan praktik favoritisme, percaloan, &
takkurang. Pada konteks organisasi, gratifikasi.
integritas berarti apa yang dinyatakan dalam
kebijakan, SOP, peraturan, atau standar, itu 3. Transparansi telah dipraktikkan
pula yang dilaksanakan: utuh, tidak kurang secara luas.
dan tidak lebih. Transparansi dan 4. Praktik suap sudah dihindari
akuntabilitas, itulah wujud nilai integritas
organisasional. Integritas organisasional 5. Praktik gratifikasi sudah dihindari
adalah tingkat kesesuaian kegiatan dengan 6. Praktik jamuan mewah sudah
peraturan/kebijakan secara keseluruhan, dihindari.
yang berarti bukan sekadar kesesuaian
secara formal, tetapi juga kesesuaian 7. Konflik kepentingan tidak dibiarkan.
dengan nilai prinsip yang melandasi
terbitnya peraturan/ kebijakan.(Par 1.1.5)
ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR

10. IKLIM ETIS 1. Pegawai menempatkan kepatuhan


kepada aturan di atas pertimbangan
Terdapat persepsi bersama oleh lain
semua pegawai secara umum 2. Pegawai diekspektasi patuh
bahwa yang dijadikan acuan sepenuhnya pada kode etik dan
utama sebagai perilaku etis standard profesi
adalah peraturan, SOP, hukum,
atau standar profesional (Par 3. Pegawai berpersepsi patuh kepada
1.1.6) aturan & SOP itu sangat penting
4. Dalam membuat keputusan,
pertimbangan paling utama adalah
apakah keputusan tersebut tidak
bertentangan dengan hukum dan
peraturan
PILAR PENANGANAN KEJADIAN KORUPSI

Ukuran DIMENSI RESPONS, yakni pendekatan terkoordinasi


untuk melakukan investigasi atas indikasi perilaku
keefektifan
koruptif yang terdeteksi dan tindakan korektif yang
pengelolaan risiko dapat mencakup sanksi, pemulihan kerugian, dan
korupsi ditinjau perbaikan pengendalian.
dari konsistensi
penggunaan
kapabilitas dalam DIMENSI KEJADIAN, yakni peristiwa negatif
penerapan bermuatan korupsi yang diperhitungkan sebagai
indikator inefektivitas pengelolaan risiko korupsi.
strategi
Informasinya diperoleh dari penilaian atas
pencegahan dokumentasi temuan audit internal/eksternal, aktivitas
APH, termasuk pemberitaan di media massa.
11. INVESTIGASI ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR

1. Indikasi korupsi yg terdeteksi


Mencakup semua langkah tindak
direspons segera
lanjut atas indikasi korupsi yang
terdeteksi, mulai dari sebatas 2. Penunjukan orang/tim yang
klarifikasi hingga audit investigatif. bertugas melakukan investigasi
(Par 1.1.7) telah memperhatikan kompetensi.
Indikaitor ini mencakup semua
langkah tindak lanjut atas indikasi 3. Aspek independensi diperhitungkan
korupsi yang terdeteksi, mulai dari dalam melakukan langkah
sebatas klarifikasi hingga audit investigasi (konflik kepentingan tidak
investigatif. Ukuran efektivitas dibiarkan)
ditunjukkan oleh kualitas respon
terhadap semua bentuk indikasi
korupsi yang terdeteksi.
12. TINDAKAN KOREKTIF
Semua langkah yang diambil
dalam rangka memperbaiki
kerusakan yang ditimbulkan oleh ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR
praktik korupsi di dalam organisasi
berupa pemastian perilaku
dihentikan melalui pengenaan
1. Upaya pemulihan kerugian akibat
sanksi dan perbaikan melalui
korupsi dijadikan prioritas untuk
pemulihan kerugian dan
dilakukan
peningkatan pengendalian.
(Par 1.1.8) 2. Penegakan sanksi kepada pelaku
korupsi dilakukan secara konsisten
Indikaitor ini mencakup semua
langkah tindak lanjut atas hasil 3. Hasil investigasi selalu diikuti aksi
audit investigatif berupa recovery, perbaikan pengendalian
sanksi dan perbaikan
pengendalian.
Ukuran efektivitas ditunjukkan
oleh kualitas tindakan terhadap
hasil audit investigasi.
13. PERISTIWA
KORUPSI ATRIBUT KUALITAS INDIKATOR

Semua peristiwa yang bermuatan


korupsi menjadi bagian indikator
Terdapat peristiwa yang berindikasi korupsi
inefektivitas pengelolaan risiko
yang melibatkan pejabat dalam satu tahun
korupsi. Meski ketiadaan peristiwa
terakhir berdasarkan analisis atas:
korupsi yang terungkap tidak serta
merta menjadi bukti pengelolaan - Aktivitas APH
risiko korupsi efektif, tetapi
terungkapnya korupsi dari hasil - Temuan BPK
temuan auditor atau aktivitas APH - Temuan APIP
menjadi faktor koreksi EPK.
PENDEKATAN PENGUKURAN

artifisial substansial

EPK dinilai dalam kontinum artifisial –> substansial


Artinya, kondisi untuk setiap indikator mungkin berada
pada titik terendah, yakni risiko korupsi takterkelola,
kebijakan/kegiatan antikorupsi artifisial atau formalitas
belaka. Semakin maju, berarti kegiatan semakin substansial
hingga sampai ke titik tertinggi: risiko korupsi terkelola
secara substansial (terjadi perubahan nyata di organisasi.
Penerapan kebijakan/sistem telah bertransformasi menjadi
budaya dan berdampak nyata pada kinerja pencapaian
tujuan organisasi)
Terases Asesor
METODE PENGUMPULAN DAN
Selfreport
Reviu Pustaka ANALISIS DATA
Survei
Kuesioner Wawancara
s emua purposive sampling

+eksternal
Observasi

Analisis
Statistik Analisis Analisis
deskriptif isi tematis

Scoring
PERSIAPAN SWAASESMEN VALIDASI ANALISIS PELAPORAN

Reviu Pustaka Wawancara, Observasi, Statistik Deskriptif Penting bagi


Survei Kuesioner
Reviu Dokumen Content Analysis asesor untuk
Analisis Tematik mengedepankan
prinsip substansi,
bukan hal-hal
formal. Sebagai
akuntabilitas,
asesor
Langkah pencarian data menuangkan
Indepth interview Statistik deskriptif justifikasinya di
dari berbagai sumber
mengenai informasi yang (individual & kolektif) + mengagregasi jawaban dalam KKP
dapat dikaitkan dengan responden. Analisis
observasi adalah tahapan konten dan tematik ⑤
praktik pengelolaan
risiko korupsi pada
untuk peroleh insight dari dilakukan terhadap
instansi sasaran, berupa pejabat/ pegawai terkait, dokumen & transkrip

regulasi, dokumen sekaligus sebagai proses wawancara. Kata-kata
kebijakan, publikasi validasi hasil asesmen kunci diidentifikasi lalu
laporan di laman resmi, mengategorikan materi
kuesioner & reviu pustaka ③
hasil pemeriksaan transkrip menurut tema
BPK/APIP/APH, putusan untuk setiap indikator.
tertentu. Tema
pengadilan, termasuk Partisipan wawancara ②
pemberitaan di media dimaksud adalah hal-
dipilih secara purposive hal yang mengonfirmasi
massa
sampling. atau mendiskonfirmasi ①

indikator iEPK.
SASARAN PENGUKURAN (UNIT ANALISIS)

Tidak semua unit kerja dijadikan objek pengukuran,


melainkan ditentukan unit kerja strategis berdasarkan
tingkat faktor risiko yang akan menjadi prioritas
• Unit analisis dalam peningkatan efektivitas pengelolaan risiko korupsi.
pengukuran iEPK Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih unit
adalah organisasi organisasi sasaran:
- adanya komitmen pimpinan organisasi
- kondisi pengendalian intern terutama unsur lingkungan
pengendalian. Organisasi yang bereputasi baik dalam
penegakan integritas dalam pelayanan publik dan PBJ
lebih preferable.
IEPK & SPIP
APIP
EPK SPIP

MRI
Pasal 1 PP 60/2008
SPIP dalam PP 60/2008 bukan SPI merupakan proses integral TENTANG SPIP
hanya terkait pengendalian intern untuk memberikan keyakinan
Pasal 3
memadai atas tercapainya tujuan
namun mencakup proses tata organisasi
Penerapan unsur SPIP
kelola, manajemen risiko, dan dilaksanakan menyatu dan
menjadi bagian integral dari
pengendalian (GOVERNANCE, Pasal 11
kegiatan Instansi Pemerintah
RISK, AND CONTROL). Peran APIP:
• Memberikan keyakinan yang Pasal 13
memadai atas ketaatan dan
3E Pimpinan Instansi Pemerintah
• Memberikan peringatan wajib melakukan penilaian
dini dan meningkatkan risiko terhadap:
efektivitas MR • Tujuan Instansi Pemerintah
SAIPI Paragraf 3100 : • Memelihara dan • Tujuan tingkat kegiatan
meningkatkan kualitas tata
“Proses tata kelola sektor publik, manajemen
kelola pemerintahan
risiko, dan pengendalian intern masing-masing tidak Pasal 16
didefinisikan secara terpisah dan berdiri sendiri
Pasal 14
sebagai suatu proses dan struktur, melainkan Pimpinan instansi pemerintah
memiliki hubungan antara proses tata kelola sektor Untuk mencapai tujuan,
mengidentifikasi setiap risiko
publik, manajemen risiko, dan pengendalian intern. yang melekat pada sifat,
organisasi perlu menetapkan:
Oleh karena itu, Auditor harus mengevaluasi proses • Strategi operasional misinya, atau pada kegiatan
signifikansi dan kompleksitas
tata kelola sektor publik, manajemen risiko, dan • Strategi manajemen
dari setiap program spesifik
pengendalian intern auditi secara keseluruhan sebagai terintegrasi dan rencana
yang dilakukan
satu kesatuan yang tidak dipisahkan”. penilaian risiko
DALAM PP 60 TAHUN 2008
PIMPINAN INSTANSI PEMERINTAH MEMILIKI TANGGUNG JAWAB UNTUK:

1 3
MENYUSUN
MENCAPAI TUJUAN
PERENCANAAN DAN
ORGANISASI
MENETAPKAN PENILAIAN
RISIKO MELALUI 4 TUJUAN
TUJUAN
SPIP
ORGANISASI

LINGKUNGAN 2 KEGIATAN
PENGENDALIAN PENGENDALIAN
MEMBANGUN
SISTEM
SESUAI VISI MISI PENGENDALIAN EFEKTIVITAS & EFISIENSI
INTERN YANG
MEMADAI
KEANDALAN PELAPORAN
CASCADING SELARAS KEUANGAN
INFORMASI
DAN
PEMANTAUAN KOMUNIKASI PENGAMANAN ASET
ORIENTASI HASIL/ NEGARA
OUTCOME
KETAATAN TERHADAP
PROGRAM DAN PERATURAN
KEGIATAN TEPAT PERUNDANG UNDANGAN
Sumber: gambar diolah dari PP 60 Tahun 2008
FRAMEWORK PENILAIAN PENYELENGGARAN SPIP
PENETAPAN TUJUAN STRUKTUR DAN PROSES PENCAPAIAN TUJUAN SPIP
Penilaian Kualitas Penilaian Capaian 4 Tujuan SPIP
Penilaian Struktur dan Proses (Unsur SPIP)
Perencanaan

LINGKUNGAN Efektivitas dan Efisiensi


PENGENDALIAN

Sasaran Strategis
K/L/D Keandalan Pelaporan
PEMANTAUAN
PENILAIAN Keuangan
RISIKO

Pengamanan Aset Negara

Strategi Pencapaian
Sasaran Strategis
Ketaatan Terhadap
INFORMASI
INFORMASI DAN
DAN KEGIATAN Peraturan Perundang-
KOMUNIKASI
KOMUNIKASI PENGENDALIAN undangan

MANAJEMEN KUALITAS SEKTOR PUBLIK


NILAI MATURITAS SPIP
MANAJEMEN RISIKO INDEKS IEPK LEVEL KAPABILITAS APIP
PERISTIWA AKTUAL KORUPSI

NEW SPIP Digunakan sebagai pengurang


nilai (penalti)
Berlaku bagi skor IEPK
maupun SPIP (termasuk MRI)
Kasus korupsi yang telah
memasuki tahapan penuntutan
sampai dengan
Identifikasi waktuputusan
terjadinya
(inkracht), terkecuali
korupsi krusial untuk kasus
hasil Operasiapakah
menentukan Tangkap Tangan
tindakan
(OTT)
korektifyang
telahlangsung
dilakukandapat
dijadikan
sehingga dasar
mencegahpenalti
PROSES Klasifikasi
Kasus

PENALTI
psi
s u s Koru
si s Ka
Anali Institusional
Dilakukan secara bersama-sama yaitu melibatkan
pejabat dan staf K/L/D secara lintas hierarki
dan/atau lintas fungsi

Informasi dari APH

• Kasus Korupsi Berjalan S Institusional


U &
Laporan Auditor M Individual
Dilakukan oleh pribadi atau individuAset
ASN tanpa
Eksternal B melibatkan pihak lain, baik secara hierarki
E maupun lintas fungsi
• BPK R

I
Laporan APIP N
F
O Terhadap seluruh pilar
• Inspektorat dan BPKP dari IEPK
R
M
Media Massa A
S Terhadap sub unsur
I SPIP dan MRI terkait
• Isu yang berkembang di dengan kasus korupsi
masyarakat
METODE PENALTI Veto dilaksanakan dengan
menurunkan gradasi per
parameter

Institusional Individual

Penurunan maksimal
Veto terhadap MRI adalah sampai dengan
bergantung pada kebijakan (Gradasi E)
sub unsur SPIP untuk SPIP
terkait

Veto terhadap pilar-pilar IEPK


menyesuaikan pada hasil analisis

Catatan: Tabel di atas dapat digunakan sebagai referensi namun tidak membatasi Tim Penjamin Kualitas dalam menganalisis
hubungan kausalitas dan melakukan pengurangan nilai pada sub unsur


Terima kasih

Anda mungkin juga menyukai