Analisis data
Sekaran & Bougie Ch 14, 15
Cakupan Proses Analisis Data
Menyiapkan data siap olah
Analisis statistik deskriptif
Uji kualitas data : uji normalitas data, uji asumsi
klasik regresi OLS
Uji hipotesis
Menyiapkan data
Mengecek data mengecek data (secara kasat
mata) yang akan diolah apakah ada data yang
keliru (aneh), data yang tidak konsisten, data yang
nilainya cukup ekstrim
Menyusundata dalam software statistik sesuai
kebutuhan
Mengecek data dengan bantuan software statistik,
misal dengan scatterplot, boxplot
Mentransformasi data, misal mengalikan satu
variabel dengan variabel lain (model interaksi)
Mencari gambaran data penelitian /
Analisis Statistik deskriptif
Analisis
statistik deskriptif diperlukan untuk
mendapatkan gambaran mengenai karakteristik
data penelitian bisa dijadikan justifikasi dalam
pembahasan hipotesis
Analisis
statistik deskriptif dapat dilihat dari:
frekuensi, central tendency, dispersi, korelasi,
dan gambaran visual variabel (grafik, chart)
Statistik deskriptif: frekuensi
Frekuensiadalah jumlah dari tiap kategori
dinyatakan dalam presentase
Peneliti mungkin mengklasifikasi data ke dalam
berbagai kategori untuk memotret data penelitian
(profil sampel), misal berdasar gender, umur,
ukuran perusahaan, kualitas auditor, laba vs rugi
Statistik deskriptif: central tendency
Ukuran central tendency:
Mean (aritmetik dan geometrik): rata-rata (untuk
skala interval dan rasio)
Median: nilai tengah dari data setelah diurutkan
bisa diinterpretasi bila nilai mean di atas median,
maka nilai dari variabel tersebut cukup tinggi
Mode (modus): kejadian/munculan terbanyak
dalam grup biasanya data berskala nominal
Statistik deskriptif: dispersi, korelasi
Nilai minimum dan maksimum, range
Standar deviasi: menunjukkan sebaran distribusi
atau variabilitas data (data interval, dan rasio)
Korelasi menunjukkan hubungan dua variabel
(korelasi rank Spearman atau Kendall untuk data
nominal/ordinal, dan matrik korelasi pearson untuk data
interval/rasio, Chi square untuk korelasi data nominal)
arah dan magnitude (antara -1 smp +1)
Penyajian dan pembahasan statistik deskriptif
Agar bermanfaat pembahasan statistik deskriptif tidak
hanya mengulang atau menyatakan angka-angka dalam
tabel ke dalam paragraf.
Ukuran sentral tendensi dan dispersi variabel penelitian
dapat dinyatakan dalam sampel penuh atau sampel dibagi
dalam berbagai kategori sesuai kebutuhan peneliti. Misal
rata-rata manajemen laba (variabel) untuk sampel
perusahaan yg rugi dan laba, atau sampel perusahaan
besar kecil, atau berdasar industri.
Statistik deskriptif variabel penelitian juga dapat disajikan
dalam bentuk grafik.
Uji Kualitas Data
Uji reliabilitas dan validitas untuk variabel laten (data
primer: survey kuesioner)
Uji normalitas data untuk analisis yang memerlukan
asumsi distribusi normal (uji parametrik)
Uji asumsi klasik regresi OLS:
Uji normalitas residual
Uji multikolineritas
Uji heteroskedastisitas
Uji autokorelasi
Uji Normalitas data
peneliti perlu menguji terlebih dahulu apakah data
berdistribusi normal jika akan menggunakan uji
parametrik. Jika data tidak berdistribusi normal, maka
dapat digunakan uji non parametrik
Uji normalitas data dilakukan dengan uji scatterplot atau
uji one sample kolmogorov smirnov (KS) test. Jika prob KS
signifikan (<0.05), data tidak berdistribusi normal.
Cek normalitas data untuk setiap variabel, bila ada outlier
dapat dibuang (jika outlier sedikit, data cukup banyak),
atau winzorising (jika outlier cukup banyak, data sedikit)
Uji asumsi normalitas residual
Uji normalitas residual dilakukan jika menggunakan
analisis regresi OLS. Asumsi regresi OLS menyatakan
bahwa residual mengikuti distribusi normal
Uji normalitas residual (save unstandardized residual)
dapat dilakukan dengan uji grafik, Uji KS, uji Jarque-Bera.
Jika residual tidak berdistribusi normal, lakukan casewise
diagnostic untuk mendeteksi observasi yang tidak normal.
Dalam kasus sampel cukup besar, di atas 100 observasi,
asumsi normalitas dapat diabaikan.
Asumsi Multikolinieritas
Asumsi regresi OLS menyatakan bahwa model regresi
seharusnya tidak terjadi multikolinieritas. Multikolinieritas
adalah korelasi yang kuat/sempurna antar variabel
independen (hanya untuk regresi linier berganda)
Adanya multikolineritas menyebabkan koefisien variabel
independen menjadi cenderung tidak signifikan
Deteksi Multikolinieritas: (1) R2 tinggi, namun tidak ada
variabel independen yang signifikan, (2) korelasi antar
variabel independen lebil dari 0,8, (3) Tolerance value
dan Variance Inflation factor (VIF) tidak terjadi
multikolinieritas jika TV > 0.1 atau VIF < 10
Asumsi Multikolinieritas
Cara mengatasi multikolinieritas:
Mengeluarkan variabel independen yang memiliki korelasi
sangat tinggi
Transformasi data menggunakan log atau lag data
Gunakan data centered untuk analisis. Data centered adalah
data mentah dikurangi nilai rata-rata (mean-nya)
Uji Heteroskedastisitas
Asumsi ini menyatakan bahwa nilai residual model regresi memiliki
varian (variance) yang sama (homoskedastisitas). Umumnya terjadi
pada data cross-sectional
Dilanggarnya asumsi homoskedastisitas akan membuat koefisien regresi
tidak efisien sehingga tidak bisa digunakan sebagai dasar pengujian
hipotesis
Deteksi heteroskedastisitas dengan uji statistik: Uji Glejser, uji White,
uji Breusch-Pagan-Godfrey (BPG test), dll
Jika terjadi heteroskedastisitas, maka perlu dilakukan koreksi terhadap
standard error agar memperoleh estimasi parameter yang benar, misal
koreksi HAC dengan software eviews
Uji Autokorelasi
Model regresi yang yang baik mengasumsikan tidak terjadi
autokorelasi. Autokorelasi menunjukkan adanya korelasi
residual dari satu pengamatan (perioda t) dengan pengamatan
lainnya (perioda t-1). Biasanya terjadi pada data time series.
Deteksi Autokorelasi adalah dengan (1) uji durbin watson (uji
DW), jika nilai DW terletak antara du dan 4-du, maka tidak
terdapat autokorelasi, (2) uji Langrange Multiplier (LM test)
atau uji Breusch-Godfrey (BG test) jika prob chi square <
0,05 terjadi autokorelasi
Koreksi autokorelasi dapat dilakukan dengan koreksi standard
error (Newey test) dengan software eviews
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis adalah menggunakan statistik inferensial untuk
menarik kesimpulan mengenai populasi berdasarkan data dari sample
Penelitian akan berusaha menolak H0 dengan tingkat keyakinan
tertentu ada risiko bahwa kesimpulan mengenai populasi yang
diturunkan dari sampel adalah keliru (salah)
Ada dua tipe kesalahan berkaitan dengan penarikan kesimpulan: Type
I error (alpha = α, level of significance) probabilitas menolak H0
(simpulkan H1) padahal sebenarnya H0. Type II error (beta = β)
probabilitas gagal menolak H0 (simpulkan H0) padahal sebenarnya
H1. Riset bisnis fokus pada type 1 error.
Statistical power adalah probabilitas menolak H0 dengan benar
tergantung alpha, efek size (perbedaan dalam populasi), dan jumlah
sample
Memilih metoda analisis statistik
Testing hypothesis on single mean One sample t test (metric), Chi-square
(non metric)
Testing hypothesis about two related mean
Independent samples independent sample t-test (metric), Chi square or
Mann-Whitney U-test (non metric)
Related samples paired sample t-test (metric), Chi square or Wilcoxon signed-
rank test (non metric), McNemar’s test (non metric- nominal)
Testing hypothesis about several mean: one way ANOVA (metric), Chi
square (non metric)
Multivariate
One metric dependent variable : two way anova, multiple regression, conjoint
One non metric dependent variable: discriminant analysis, logistic regression
More than one metric dependent variable: multivariate anova (Manova),
canonical correlation