RIWAYAT HIDUP
Dr. dr. Hj. ARINA WIDYA MURNI SpPD-KPsi
TTL : Padang Panjang, 9 Maret 1970
Jabatan : Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan
Kepala Sub Bagian Psikosomatik
Bagian Penyakit Dalam FK Unand
Alamat : Komplek Cemara II Blok LL 10
Gn Pangilun Padang
Telp/email:
08126740742
arina_widya_murni@[Link]
Suami : dr Eng Rendy Thamrin
Staf pengajar FT Unand
Anak : 3 orang
Riwayat Pendidikan :
S1 Dokter Umum, FK Unand, tamat 1997
Sp1 Sp Penyakit Dalam , FK Unand, tamat 2006
Sp2 Konsultan Psikosomatik, FKUI, tamat 2010
S3, Biomedik FK Unand, 2017
PICO
(PROBLEM/PATIENT, INTERVENTION,
COMPARATION, OUTCOME)
Dr. dr. Arina Widya Murni, SpPD – Kpsi FINASIM
Fakultas Kedokteran Unand
Prodi Kebidanan
2023
2
Sejarah Evidence Based Practice
Suksesnya Evidence Based Medicine (EBM) (Tanner
(1999)) :
Menstandarkan praktik profesi dokter
Mengeliminasi praktik yang tidak layak (buruk)
Mendukung praktik yang baik (terbaik)
Meminimalkan biaya dan meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan
(Keele (2011))
Evidence Based Practice (EBP)
DEFINISI EVIDENCE BASED PRACTICE
Menurut Greenberg & Pyle (2006) dalam Keele (2011),
“Evidence-Based Practice adalah penggunaan bukti untuk
mendukung pengambilan keputusan di pelayanan
kesehatan”.
Menurut Melnyk & Fineout-Overholt (2011) Evidence-
Based Practice in Nursing adalah penggunaan bukti
ekternal, bukti internal (clinical expertise), serta
manfaat dan keinginan pasien untuk mendukung
pengambilan keputusan di pelayanan kesehatan.
KOMPONEN EBP
(Melnyk & Fineout-Overholt, 2011)
KOMPONEN EBP
(Melnyk & Fineout-Overholt, 2011)
Hasil penelitian, teori-
teori yang lahir dari
penelitian, pendapat
dari ahli, hasil dari
diskusi panel para ahli
KOMPONEN EBP
(Melnyk & Fineout-Overholt, 2011)
Penilaian klinis
Hasil dari proyek peningkatan
kualitas dalam rangka
meningkatkan kualitas
pelayanan klinik
Hasil dari pengkajian dan
evaluasi pasien
Alasan klinis
Evaluasi dan penggunaan
sumber daya tenaga
kesehatan yang diperlukan
untuk melakukan treatment
yang dipilih
Mencapai hasil yang
diharapkan
KOMPONEN EBP
(Melnyk & Fineout-Overholt, 2011)
Memberikan manfaat terbaik untuk
kondisi pasien saat itu dan
meminimalkan pembiayaan
MANFAAT EBP
(Trinder & Reynolds, 2006)
KEKUATAN DAN KELEMAHAN
EBPN
(Trinder & Reynolds, 2006)
7 langkah dalam EBP
0. Menumbuhkan semangat menyelidiki
[Link] pertanyaan klinik dengan menggunakan
PICO/PICOT format
[Link] dan mengumpulkan bukti-bukti (artikel penelititan)
yang paling relevan dengan PICO/PICOT
[Link] penilaian critis terhadap bukti-bukti (artikel
penelititan)
[Link] bukti-bukti (artikel penelititan) terbaik
dengan salah satu ahli di klinik serta memperhatikan
keinginan dan manfaatnya bagi pasien dalam membuat
keputusan atau perubahan
[Link] outcome dari perubahan yang telah
diputuskan berdasarkan bukti-bukti.
[Link] hasil dari EBP
Langkah ke-0
Menumbuhkan Semangat Menyelidiki
“Budaya ini ditanamkan dalam visi dan misi institusi”
Elemen-elemen dalam membudayakan EBP:
Mengajak semua petugas kesehatan untuk menanyakan kembali
praktik kesehatan yang sedang mereka lakukan.
Memasukkan EBP dalam visi, misi, dan promosi yang dilakukan oleh
institusi kesehatan
Adanya mentor serta kadernya yang mempunyai kemampuan dalam
EBP dan kemampuan untuk mengatasi hambatan terkait dengan
perubahan dalam individu dan institusi
Adanya infrastukture yang menyediakan alat-alat untuk
pengembangan EBP
Dukungan administrasi dan adanya leadership yang menilai,
menentukan EBP model, serta menyediakan sumber daya yang
diperlukan untuk mempertahankan budaya EBP
Secara teratur mengenali/mengidentifikasi individu atau kelompok-
kelompok yang secara consisten melakukan EBP
Langkah ke-1
Pertanyaan Klinik dengan PICO/PICOT Format
P : Populasi pasien atau disease of interest
I : Intervensi atau Issues of Interest
C : Intervensi pembanding/ kelompok
pembanding
O : Outcomes/hasil-hasil yang diharapkan
T : Time frame (batas waktu)
Langkah ke-1
Pertanyaan Klinik dengan PICO/PICOT Format
P
In teenagers,
I
how does cognitive-behavioral skills building
compared to yoga affect anxiety after 6 weeks of
treatment ?
C O T
INTERVENTION QUESTION
Langkah ke-1
Pertanyaan Klinik dengan PICO/PICOT Format
P Issues of interest
How do new mothers who have breast-related complications perceive
their ability to breast-feed past the first 3 months after
their infants’ birth?
O T
NON INTERVENTION QUESTION
JENIS-JENIS PERTANYAAN KLINIS
(Melnyk & Fineout-Overholt, 2011)
CONTOH PERTANYAAN PENELITIAN
JENIS PERTANYAAN CONTOH
PENELITIAN
Intervention Bagaimanakah pencegahan terhadap kejadian pressure ulcers dengan
teknik “X” jika dibandingkan dengan pelayanan standar yaitu diganti
posisi setiap 2 jam terhadap munculnya gejala munculnya pressure ulcers
pada pasien yang dirawat diruang perawatan dalam jangka panjang
dimana pasien mempunyai resiko untuk pressure ulcers?
Prognostic Apakah diet karbohidrat mampu memprediksi pemeliharaan berat badan
yang sehat (BMI< 25) selama lebih dari 6 bulan pada pasien yang
mempunyai riwayat keluarga obesitas (BMI> 30)?
Diagnostic Apakah d-dimer assay lebih akurat dalam mendiagnosa deep vein
thrombosis jika dibandingkan dengan ultrasound pada pasien suspected
deep vein thrombosis?
Etiology Apakah wanita kulit putih yang terpapar sinar UV ray berkepanjangan
dan tidak menggunakan protection (>1 jam) meningkatkan resiko
terkena melanoma jika dibandingkan wanita kulit hitam yang tidak
terpapar UV ray?
Meaning Bagaimanakah wanita paruh baya dengan fibromialgia mempersepsikan
kehilanggan motor functions?
Langkah ke-2
Mencari dan Mengumpulkan Bukti-bukti
Kata kunci untuk mencari bukti-bukti = kata-kata yang
ada dalam PICO/PICOT
Cari kata-kata lain yang mempunyai makna sama seperti
kata-kata yang ada di PICO/PICOT
Setiap jenis pertanyaan mempunyai hierarchy of evidence
yang berbeda
Database:
Pubmed
CINAHL
Ovid-medline
National Guideline Clearing house
Chochrane Databases
Langkah ke-3
Melakukan Critical Appraisal Terhadap Bukti-bukti
Critical Appraisal menyesuaikan dari jenis/level artikel
Pertanyaan utama dalam Critical Appraisal adalah
Apakah hasil dari penelitian tersebut valid?
Apakah penelitian tersebut menggunakan metodologi penelitian
yang baik?
Apakah hasil dari penelitian tersebut reliable?
Apakah intervensinya bekerja dengan baik?
Sebesar apa efek dari intervensi tersebut?
Apakah hasil penelitian tersebut akan membantu dalam
melakukan perawatan untuk pasien saya?
Apakah sample penelitiannya mirip dengan pasien saya?
Apakah keuntungannya lebih besar dari pada resikonya?
Apakah intervensi tersebut mudah untuk di implementasikan
LEVELS OF EVIDENCE
FOR INTERVENTION & DIAGNOSTIC QUESTIONS
LEVELS OF EVIDENCE
FOR PROGNOSIS & ETIOLOGY QUESTIONS
LEVELS OF EVIDENCE
FOR MEANING QUESTION
Langkah ke-4
Mengintegrasikan Bukti-bukti
Clinical expertise (CE)
Ini merupakan bagian yang paling penting dalam proses EBP
decision making.
Contoh: saat follow up untuk evaluasi hasil, CE mencatat bahwa
saat treatment kasus acute otitis media first-line antibiotik
tidak effective. Artikel terbaru menyatakan Antibiotik A
mempunyai manfaat yang lebih baik dari pada Antibiotik B
sebagai second-line antibiotik pada anak-anak.
Pasien
Jika kualitas evidence bagus dan intervensi sangat memberikan
manfaat, akan tetapi jika hasil diskusi dengan pasien
menghasilkan suatu alasan yang membuat pasien menolak
treatment, maka intervensi tersebut tidak bisa diaplikasikan.
Langkah ke-5
Mengevaluasi Outcome
Langkah ini penting, untuk menilai dan mendokumentasikan
dampak dari perubahan pelayanan berdasarkan EBP dalam
kualitas pelayanan kesehatan/ manfaatnya bagi pasien.
Menilai apakah perubahan yang terjadi saat
mengimplementasikan hasil EBP di klinik sesuai dengan apa
yang tertulis dalam artikel.
Jika hasil tidak sesuai dengan artikel-artikel yang ada
Apakah treatment dilaksanakan sesuai dengan SOP di artikel;
apakah pasien kita mirip dengan sample penelitian dalam
artikel tersebut?
Langkah ke-6
Menyebarluaskan Hasil dari EBP
Dessiminasi dilakukan untuk meng-share hasil EBP sehingga perawat dan
tenaga kesehatan yang lain mau melakukan perubahan bersama dan atau
menerima perubahan tersebut untuk memberikan pelayanan perawatan
yang lebih baik.
Bentuk-bentuk dessiminasi:
Melalui oral presentasi
Melalui panel presentasi
Melalui roundtable presentasi
Melalui poster presentasi
Melalui small-group presentasi
Melalui podcast/vodcast presentasi
Melalui community meetings
Melalui hospital/organization-based & professional committee
meetings.
Melalui journal clubs
Melalui publishing
SEMOGA BERMANFAAT