BATANG TEKAN
PENDAHULUAN
• Banyak dijumpai seperti pada kolom dan strutur
rangka batang
• Dapat terdiri dari profil struktur tunggal atau
tersusun yang digabung dengan pelat Kopel
• Kegagalan struktur tekan dapat diakibatkan oleh leleh
pada penampang maupun akibat bahaya tekuk
PENDAHULUAN
• Pendekatan Euler umumunya diabaikan dalam karena
hasil dari percobaan yang dilakukan tak sesuai dengannya
• Pendekatan Euler hanya mungkin terjadi bila nilai (=L/r)
cukup besar >110
• Untuk nilai yang lebih kecil akan terjadi tekuk Inelastis
dan bila <20 akan terjadi leleh pada penampang
• Pada Kenyatannya kegagalan kolom lebih banyak terjadi
akibat tekuk Inelastis
PENDAHULUAN
Kolom ideal yang memenuhi persamaan Euler harus memenuhi anggapan
sebagai berikut :
o Kurva hubungan tegangan regangan tekan sama diseluruh penampang
o Tak ada tegangan sisa
o Kolom benar benar lurus dan prismatis
o Beban bekerja pada titik berat penapang hingga batang melentur
o Kondsi tumpuan harus ditentukan secar pasti
o Berlaku teori lendutan kecil
o Tak ada puntir pada penampang
Klasifikasi Penampang
• Pasal B.4.1a SNI 1729-2020 memberikan klasifikasi
penampang struktur berdasarkan rasio lebar terhadap
tebal dari masing2 elemannya
• Untuk suatu komponen struktur tekan maka penampang
diklasifikasikan sebagai penampang langsing dan non
langsing
• Apabila rasio lebar terhadap tebal (b/t) dari elemen tekan
tidak melebihi nilai maka penampang dikategorikan
sebagai penampang non langsing
• Jika rasio lebar terhadap tebal (b/t) melebihi nilai maka
penampang dikategorikan sebagai penampang langsing
Klasifikasi Penampang
Klasifikasi Penampang
Klasifikasi Penampang
Panjang Tekuk
• Panjang Efektif suatu kolom secara sederhana dapat
didefinisakan sebagau jarak di antara dua titik pada
kolom yang mempunya momen sama dengan nol,
atau didefinisikan juga sebagai jarak diantara dua
titik belok dari kelengkungan kolom.
• Dalam perhitungan kelangsingan komponen struktur
tekan (=L/r) , panjang komponen struktur yang
digunakan harus dikalikan dengan suatu faktor
panjang tekuk K untuk memperoleh panjang efektif
kolom tesebut.
Faktor Panjang Tekuk
• SNI 03-1729-2002 pasal [Link] memberikan daftar
nilai faktor panjang tekuk dari suatu kolom
• Nilai K ini diperoleh dengan mengasumsikan bahwa
kolom tidak mengalami goyangan atau tranlasi pada
ujung2 tumpuannya/
Tekuk Lentur dari suatu Komponen StrukturTanpa
ELemen Langsing
• Jika sebuah komponen struktur tekan dibebani beban aksial tekan
sehingga terjasi tekuksecara keseluruhan elemen tersebut (bukan
tekuk lokal), maka ada tiga macam potensi tekuk yang terjadi :
• Tekuk lentur : Dapat terjadi pada semua penampang
• Tekuk torsi : Tekuk torsi hanya terjasi pada elemen eleman
langsing dengan sumbu simetri ganda. Contoh : penampang
cruciform
• Tekuk lentur torsi : Hanya terjadi pada penampang-
penampang yang hanya mempunyai satu sumbu simetri saja
seperti profil kanal, T, siku ganda dan siu tunggal disamping itu
terjadi pada penampang tanpa sumbu simetri seperti profil
siku tidak sama kaki dan profil Z.
Tekuk Lentur , Tekuk Torsi, Tekuk Lentur Torsi
Kekuatan tekan nominal,Pnt dari Jika
KUAT TEKAN
√
suatu komponen struktur tekan
NOMINAL akibat tekuk lentur harus 𝐾𝐿 𝐸 𝑓𝑦
ditentukan berdasarkan 𝑎¿ <4,71 𝑎𝑡𝑎𝑢 ≤ 2,25
keadaan atas dari tekuk lentur.
𝑟 𝑓𝑦 𝑓𝑒
Nilai Pnt menurut SNI 1729-
[ ]𝑓
𝑓𝑦
2015 pasal E.3 adalah : 𝑓𝑒
𝑓 𝑐𝑟 = 0,658 𝑦
𝑷 𝒏 =𝑭 𝒄𝒓 . 𝑨 𝒈 Jika
√
Dengan :
= Lus bruto penampang 𝐾𝐿 𝐸 𝑓𝑦
= tegangan kritis
𝑎¿ >4,71 𝑎𝑡𝑎𝑢 >2,25
𝑟 𝑓𝑦 𝑓𝑒
𝜋2 𝐸
𝑓 𝑒= 𝑓 𝑐𝑟 =0,887 𝑓 𝑒
( )
2
𝐾𝐿
𝑟
KUAT TEKAN Besarnya faktor ketahanan dan faktor keamanan tekan ditentukan
NOMINAL dalam pasal E.1 SNI 1729:2015 sebagai berikut :
Metode DFBK (Desain Faktor Beban dan Ketahanan)
𝜙 𝑐 =0,9
Metode DKI (Desain kekuatan Ijin)
Ω𝑐 =1,67
Contoh Soal 1 :
Tentuka kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan tersedia dari
suatu komponen struktur tekan dalam gambar berikut. Mutu baja
ASTM A992 (fy = 345)
Data penampang :
d = 298 mm
b = 210 mm
tw = 9 mm
tf = 14 mm
r0 = 18 mm
Soal 1 :
1. Periksa Terhadap batasan
Flens Web
𝑏 h 234
2 21 0 = =25
𝑡𝑓
=
2 𝑥 14
=7,18 𝑡𝑤 9
√
0,56
𝑏
𝐸
𝑓𝑦
=0,56
√
200000
345 √ √
=13,48 1,49 𝐸 =1,49 200000 =35,87
𝑓𝑦 345
h
2 < 𝜆𝑟 → 𝑂𝐾
< 𝜆𝑟 → 𝑂𝐾 𝑡𝑤
𝑡𝑓
Soal 1 :
2. Menentukan rasio kelangsingan
Karena maka rasio kelangsingan dapat ditentukan oleh ry maka :
𝐾 . 𝐿 0,8 𝑥 4500
= =75,47
𝑟𝑦 47,7
3. Menghitung tegangan tekuk Euler
𝜋 2 𝐸 𝜋 2 𝑥 200000
𝑓 𝑒= = =346,56 𝑀𝑃𝑎
( )
2
𝐾𝐿 75,47
𝑟
Soal 1 : 2. Menentukan teganga kritis, Fcr
4 ,71
𝐸
√
𝑓𝑦
=4,71
200000
345 √ 𝐾𝐿
=113,4> (75,47)
𝑟𝑦
𝑆 𝑒h𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝐹𝑐𝑟 𝑑𝑖h𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑢𝑡 :
( ) 𝑓 =( 0,658 ) 345=277,44 𝑀𝑃𝑎
𝑓𝑦 345
𝑓𝑒 346,56
𝐹 𝑐𝑟 = 0,658 𝑦
3. Menghitung kekuatan tekan desain
DFBK DKI
= 0,9*277,44*(8,336) = 277,44*(8,336)/1,67
= .706,35 kN = 1.135,29 kN
Contoh Soal 2 :
Tentuka kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan tersedia dari suatu
komponen struktur tekan dengan panjang KL sebesar 5m pada Penampang
Struktur Berongga (PSB) berikut. Mutu beton ASTM A992 (fy = 345)
Data penampang :
b = 100 mm
h = 150 mm
t = 6 mm
ry = 18 mm
Ag = 2763 mm2
Soal 2 : 1. Periksa Terhadap batasan
Berdasarkan SNI 1729:2015 pasal B.4.1.b, apabila radius sudut tidak diketahui
maka ukuran b dan h harus diambil sebagai dimensi terluar dikurangi 3 kali
ketebalan penampang. Rasio kelangsingan ditentukan berdasarkan dimensi
terbesar antata b dan h.
h 150 −3 ∗ 6
𝜆= = =22
𝑡 6
1,49
h
√ √
𝐸
𝑓𝑦
=1,49
200000
345
=35,87
< 𝜆𝑟 → 𝑂𝐾
𝑡
Soal 2 : 2. Menentukan rasio kelangsingan
𝐾 . 𝐿 5000
= =124,68
𝑟𝑦 40,1
3. Menghitung tegangan tekuk Euler
𝜋2 𝐸 𝜋 2 𝑥 200000
𝑓 𝑒= = =126,58 𝑀𝑃𝑎
( )
2 2
𝐾𝐿 124,68
𝑟
4. Menentukan teganga kritis, Fcr
4 ,71
√ 𝐸
𝑓𝑦
=4,71
√ 200000
345
𝐾𝐿
=113,4 < (124,68)
𝑟𝑦
𝑆 𝑒h𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝐹𝑐𝑟 𝑑𝑖h𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑢𝑡 :
𝐹 𝑐𝑟 =0,877 𝐹𝑒=( 0 , 877 ) 126,58=111,36 𝑀𝑃𝑎
Soal 2 : 3. Menghitung kekuatan tekan desain
DFBK DKI
= 0,9**(2,763) = *(2,763)/1,67
= .276,92 kN = 184,34 kN
Bresing pada Sumbu Lemah
• Dalam beberapa kasus sering dijumpai pemasangan bresing pada
struktur tekan yang panjang
• Umumnya bresing dipasang tegak lurus dari sumbu lemahna
(sumbu dengan jari girasi yg lebih kecil), sehingga panjang efektif
dalam sumbu lemah akan berkurang.
• Dalam hal ini maka nilai (KL/r) dalam arah sumbu X dan Y harus
dihitung dan dibandingkan, rasio kelangsingan yang lebih besar
akan mengindikasikan arah sumbu lemah dan digunakan untuk
menghitung besarnya kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan
tersedia
Soal 3 : Hitunglah besarnya kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan tersedia
dari suatu komponen struktur tekan W300x300 (fy = 345 MPa) . Panjang
efektif dalam arah sumbu x, KLx = 9,0 m dan dalam arah sumbu y
diberikan bresing di tengah tengah tinggi kiolom sehingga nilai Kly = 4,5
m.
Soal 3 : 2. Periksa terhadap batasan r
𝑏
Sayap :
2
=
300
𝑡 𝑦 2 𝑥 15
=10< 0,56
√𝐸 𝐸
𝑓𝑦
( ¿ 13,48 ) 𝒐𝒌
Badan : h 234
=
𝑡 𝑤 10
=23,4 <1,49
𝑓𝑦
3. Menentukan rasio kelangsingan (KL/r)
√
( ¿ 35,87 ) 𝒐𝒌
𝐾 . 𝐿𝑥 9000 𝐾 . 𝐿𝑦 45 00
= =68.70 = =59,92
𝑟𝑥 131 𝑟𝑦 75,1
Karena rasio kelangsingan dalam sumbu x lebih besar, maka nilai Fe dan
Fcr akan dihitung berdasarkan
4. Menghitung tegangan tekuk Euler
𝜋 2 𝐸 𝜋 2 𝑥 200000
𝑓 𝑒= = =418,23 𝑀𝑃𝑎
( )
2
𝐾𝐿 68,70
𝑟
4. Menentukan teganga kritis, Fcr
4 ,71
√
𝐸
𝑓𝑦
=4,71
√
200000
345
𝐾𝐿
=113,4> (68,70)
𝑟𝑥
𝑆 𝑒h𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝐹𝑐𝑟 𝑑𝑖h𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑢𝑡 :
( ) 𝑓 =( 0,658 ) 345=244,27 𝑀𝑃𝑎
𝑓𝑦 345
𝑓𝑒 418,23
𝐹 𝑐𝑟 = 0,658 𝑦
5. Menghitung kekuatan tekan desain (DKII)
DFBK DKI
= 0,9*244,27*(11,98) = 244,27*(11,98)/1,67
= .2633,72 kN = 1.752,31 kN
Tekuk Torsi dan Tekuk Lentur Torsi Tanpa Elemen Langsing
• SNI 1729-2020 Pasala E.4 Mencantumkan persyaratan
pemeriksaan terhadap tekuk lentur torsi unntuk profil-profil
simetris tunggal, asimetris dan penampang simetris ganda
tertentu, misalnya kolom cruciform, siku tunggal dengan b/t >
dan profil T
Dinyatakan bahwa tegangan kritis,Fcr, pada keadaan batas dari tekuk
torsi dan tekuk lentur torsi sebagai berikut :
1. Untuk Komponen struktur tekan siku ganda dan profil T
𝐹 𝑐𝑟 = (
𝐹 𝑐𝑟𝑦 +𝐹 𝑐𝑟𝑧
2𝐻 )[
1− 1−
√
4 𝐹 𝑐𝑟𝑦 𝐹 𝑐𝑟𝑧 𝐻
( 𝑐𝑟𝑦 𝑐𝑟𝑧 )
𝐹 + 𝐹
2
]
Dengan dihitung dari nilai Fcr sperti untuk tekuk
lentur pada sumu y simetri
𝐺. 𝐽
𝐹 𝑐𝑟𝑧 = 2
𝐴 . 𝑟0
2 𝐼𝑥+𝐼 𝑦 2 2
𝑟 0❑ = + 𝑥0 + 𝑦0
𝐴𝑔
𝐻= 1−
( 𝑥 0 2 + 𝑦 02
𝑟0
2 )
a) x0,y0 merupakan koordinat pusat geser terhadap titik berat,
x0 = 0 untuk siku ganda dan profil T
b) G adalah modulus geser diambil sebesar 77200 Mpa
c) J adalah konstanta puntir,
2. Untuk semua kasus lainnya, Nilai Fcr harus ditentukan sesuai
dengan persamaan tekuk lentur, hanya untuk fe ditentukan sebagai
berikut :
a. Untuk komponen struktur simetris ganda
[ ]
2
𝜋 𝐸 𝐶𝑤 1
𝑓 𝑒= 2
+ 𝐺𝐽
( 𝐾 𝑧 𝐿) 𝐼𝑥+𝐼𝑦
2. Untuk komponen struktur simetris tunggal dengan y adalah
sumbu simetri :
𝐹 𝑒= (
𝐹 𝑒𝑦 +𝐹 𝑒𝑧
2𝐻 )[
1− 1−
√
4 𝐹 𝑒𝑦 𝐹 𝑒𝑧 𝐻
( 𝐹 𝑒 𝑦+ 𝐹 𝑒 𝑧 )
2
]
3. Untuk komponen struktur tak simetris fe adalah akar terendah
dari persamaan pangkat tiga berikut :
Soal 1 : Rencanakan komponen struktur tekan berikut dengan
menggunakan penampang profil T, yang memikul beban aksial
tekan berupa beban mati sebesar 90 kN dan beban hidup
sebesar 250 kN. Panjang batang 5000 mm, dengan kondisi
tumpuan ujung berupa sendi. Mutu baja ASTM A992 (fy=345
Mpa)
Data penampang :
d = 125 mm
b = 250 mm
tw = 9 mm
tf = 14 mm
R0 = 16 mm
Rx = 29,8 mm
Ry = 62,9 mm
Y = 20,8 mm
Ag = 4,609 mm2
1. Periksa terhadap syarat kelangsingan penampang r
𝑏
Sayap :
2
=
250
𝑡 𝑓 2 𝑥 14
=8,95< 0,56
√𝐸 𝐸
𝑓𝑦
( ¿ 13,48 ) 𝒐𝒌
Badan : 𝑑 125
=
𝑡𝑤 9
=13 , 88<0,75
𝑓𝑦 √
( ¿18,06 ) 𝒐𝒌
2. Pemeriksaan terhadap tekuk lentur, ditentukan terhadap sumbu
lemah atau sumbu dengan jari2 girasi minimum (sumbu-x)
𝐾 . 𝐿𝑥 5 000
= =1 6 7 .7 8
𝑟𝑥 29,8
√ √
𝐸
4 ,71 =4,71
𝑓𝑦
200000
345
𝐾𝐿
=113,4< (167,78)
𝑟𝑥
𝜋 2 𝐸 𝜋 2 𝑥 200000
𝑓 𝑒= = =70,12 𝑀𝑃𝑎
( )
2
𝐾𝐿 16 7 ,7 8
𝑟
𝐹 𝑐𝑟 =0,877 𝑓 𝑒= ( 0 , 877 ) 70,12=61,49 𝑀𝑃𝑎
3. Pemeriksaan terhadap tekuk torsi dan tekuk lentur torsi
Menghitung Fcry
4 ,71
𝑓 𝑒=
√
𝐸
𝑓𝑦
=4,71
200000
345 √=113,4>
𝜋 2 𝐸 𝜋 2 𝑥 200000
=
𝐾𝐿 5000
𝑟 𝑦 62,9
=312,39 𝑀𝑃𝑎
=79,49 ( )
( )
2
𝐾𝐿 79,49
𝑟
=( 0,658 ) 𝑓 =( 0,658
𝑓𝑦
) 𝟑𝟒𝟓=𝟐𝟏𝟕 , 𝟑 𝑴𝑷𝒂
345
𝑓𝑒 312,39
𝐹 𝑐𝑟 𝑦 𝑦
Menghitung Fcrz
Pusat geser dari penampang T berada pada lokasi sumbu simetri
pada tengah ketebalan sayap , seingga nilai x0 dan y0 adalah :
𝑡𝑓 14
𝑥0 =0 𝑚𝑚 𝑦 0 = 𝑦 − =20,8− =13,8 𝑚𝑚
2 2
2 𝐼𝑥+𝐼 𝑦 2 2 ( 412+1820 ) ∗10 4
𝑟 0❑ = + 𝑥0 + 𝑦0 = + 0+13,8 2=5033,14 𝑚𝑚 2
𝐴𝑔 4609
( ) ( )
2 2 2
𝑥0 + 𝑦 0 0 +13,8
𝐻= 1− =1 − = 0,9621
𝑟 02 5033,14
1 3 1 3 1
𝐽 =∑ 𝑏𝑡 = 𝑥 250 𝑥 14 + ( 125 −14 ) 9 =255639,66 𝑚𝑚
3 4
3 3 3
𝐺 . 𝐽 77200 𝑥 255639,66
𝐹 𝑐𝑟𝑧 = = =𝟖𝟓𝟎 , 𝟕𝟓 𝑴𝑷𝒂
𝐴 . 𝑟0
2
4609 𝑥 5033,14
Menghitung Fcr
𝐹 𝑐𝑟 = (
𝐹 𝑐𝑟𝑦 +𝐹 𝑐𝑟𝑧
2𝐻 )[
1− 1−
√
4 𝐹 𝑐𝑟𝑦 𝐹 𝑐𝑟𝑧 𝐻
( 𝑐𝑟𝑦 𝑐𝑟𝑧 )
𝐹 + 𝐹
2
]
(
𝐹 𝑐𝑟 =
217,3+850,75
2 𝑥 0,9621 )[ √
1 − 1−
4 ∗ 217,3 ∗ 850,75∗ 0,9621
( 217,3 +850,75 ) 2 ]
=214,56 𝑀𝑃𝑎
Nilai Fcr diambil dari nilai yang terendah antara kondisi tekuk lentur
dan tekuk lentur torsi. Dalam al ini Fcr yang menentukan adalah Fcr
dari kondisi tekuk lentur sebesar 61,49 MPa
Menghitung kekuatan tekan desain (DKII)
DFBK DKI
= 0,9*61,49*(4609) = (61,49)*(4609)/1,67
= .255,1 kN = 169,71 kN
Komponen Struktur Tekan Tunggal
Kekuatan Takan Nominal, Pn, dari ko ponen struktur siku tunggal
dapat ditentulkan berdasarkan kondisi tekuk lentur asalkan
perbandingan lebar kaki terhadap tebalnya tidak lebih dari 20
(b/t< ). Untuk kondisi lainnnya maka kekuatan tekan nominalnya
harus diperiksa terhadap kondisi tekuk lentur torsi. Dalam
perhitungan kekuatan tekan nominal struktur tekan siku tunggal
pada rangka batang planar maka rasio kelangsingan yang digunakan
adalah rasio kelangsingan efektif yang ditentukan sebagai berikut :
Jika Jika
𝐾𝐿 𝐿 𝐾𝐿 𝐿
=72+0,75 =32+1,25 ≤200
𝑟𝑥 𝑟𝑥 𝑟𝑥 𝑟𝑥
Untuk siku tak sama kaki dengan rasio panjang kaki kurang dari
1,7 dan disambungkan sampai kaki terpendek, KL/rx arus
ditingkatkan dengan penambahan sebesar :
[( ) ]
2
𝑏1
4 −1
𝑏𝑠
Namun KL/r dari komponen struktur tidak boleh diambil lebih
kecil dari 0,9 KL/rz :
Hitunglah besarnya kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan
tersedia dari suatu komponen struktur siku tunggal sama kaki
(L.100.100.10) seperti pada gambar dibawah. Kondisi kedua
tumpuan adalah sendi-sendi dengan mutu baja ASTM A572 (fy = 345,
Fu=450 MPa) .
Periksa perbandingan
lebar kaki dengan
tebalnya
𝑏 100
= <0,71
𝑡 10
𝐸
𝑓𝑦 √
Karena b/t < 17,09
maka tidak diperlukan
pemeriksaan terhadap
tekuk lentur torsi
2. Menentukan rasio L/rx
𝐾 . 𝐿 2000
= =65 , 79<80
𝑟𝑥 30, 4
3. Menghitung tegangan tekuk Euler
𝐾𝐿 𝐾𝐿
=72+0,75 =72+0,75 ( 65,79 ) =121,34
𝑟𝑥 𝑟𝑥
√ √
𝐸
4 ,71 =4,71
𝑓𝑦
200000
345
𝐾𝐿
=113,4< ( 121,34 ) →𝑇𝑒𝑘𝑢𝑘 𝑒𝑙𝑎𝑠𝑡𝑖𝑠
𝑟
4. Menentukan teganga kritis, Fcr
𝜋2 𝐸 𝜋 2 𝑥 200000
𝑓 𝑒= = =134 , 07 𝑀𝑃𝑎
( )
2 2
𝐾𝐿 121 , 34
𝑟
𝑆 𝑒h𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝐹𝑐𝑟 𝑑𝑖h𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑢𝑡 :
𝐹 𝑐𝑟 =0,877 𝐹𝑒=( 0 , 877 ) 1 34 , 07=117 , 58 𝑀𝑃𝑎
Menghitung kekuatan tekan desain (DKII)
DFBK DKI
= 0,9**(1900) = ()*(1900)/1,67
= .201,1 kN = 133,8 kN
Komponen Struktur Tekan Tersusun
Komponen struktur tekan dapat tersusun dari dua atau lebih profil,
yang disatukan dengan menggunakan baut dan ls atau dengan
menggunakan pelat penghubung.
Kuat tekan nominal dari suatu komponen struktur tekan tersusun yang terdiri
dari dua buah profil yang disambungkan dengan menggunakan alat sambung
baut maupun las, ditentukan seperti ketentuan pada pemeriksaan tekuk lentur
dan tekuk lentur torsi, dengan modifikasi pada nilai KL/r sebagai berikut :
a) Untuk sambungan yang dibaut kencang penuh
( ) =√ ( ) ( )
2 2
𝐾𝐿 𝐾𝐿 𝑎
+
𝑟 𝑚 𝑟 0 𝑟1
b) Untuk sambungan yang dilas atau disambung dngan baut pratarik
(i) Bila
( ) ( )
𝐾𝐿
𝑟 𝑚
=
𝐾𝐿
𝑟 𝑜
(ii) Bila
( ) =√ ( ) ( )
2
𝐾𝐿 𝐾𝐿 𝐾𝑖 𝑎
2
+
𝑟 𝑚 𝑟 0 𝑟1
Dengan :
( )
𝐾𝐿
𝑟 𝑚
=𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑛𝑔𝑠𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑚𝑜𝑑𝑖𝑓𝑖𝑘𝑎𝑠𝑖 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑡𝑟𝑢𝑘𝑡𝑢𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑢𝑠𝑢𝑛
sebagai satu kesatuan pada arah tekuk yang diperitungkan
Ki = 0,5 untuk profil siku yang disusun saling membelakangi
= 0,7 untuk profil kanan yang saling mebelakangi
= 0,86 untuk semua kasus lainnya
a = jarak antar penghubung (mm)
ri = radius girasi minimum setiap komponen (mm)
Setiap komponen dari suatu komponenn strutur tekan yang tersusun
dari dua atau lebih profil, harus disambungkan satu sama lainnya
dengan interval a yang ditentukan sedemikian rupa seingga rasio
kelangsingan efektif Ka/ri dari setiap bentuk komponen diantara
pengencang tidak melebihi ¾ kali rasio kelnagsingan yang menentukan
dari struktur tersusun atau dapat dinyatakan dalam persamaan :
𝐾𝑎 3 𝐾𝐿
≤
𝑟𝑖 4 𝑟
Radius girasi terkecil,r, harus digunakan pada peritungan rasio
kelangsingan dari setiap bagian komponen.
Hitunglah besarnya kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan
tersedia dari suatu komponen struktur tekan tersusun profil
(2L.60.90.10) seperti pada gambar dibawah. Diketahui panjang
batang 2,4 m Kondisi kedua tumpuan adalah sendi-sendi dengan
mutu baja ASTM A36 (fy = 250, Fu=450 MPa) .
Data penampang :
L.60.90.10
2L.60.90.10
= 1875331,2 mm2
rx =28,2 mm
X0 =0
Y0 = ey-t/2=30,5-(10/2) =25,5 mm
𝑥 02 + 𝑦 02 0+25,5
2
𝐻=1− =1 − =0,692
𝑟 02 2109,47
2. Periksa terhadap syarat kelangsingan penampang r
√
Sayap :
𝑏 90 𝐸
𝜆= = =9<0,45 ( ¿ 12,73 ) 𝒐𝒌
𝑡 10 𝑓𝑦
3. Pemeriksaan terhadap tekuk lentur, ditentukan terhadap sumbu
lemah atau sumbu dengan jari2 girasi minimum (sumbu-x)
2 2
𝐾 . 𝐿𝑥 2400 𝜋 𝐸 𝜋 𝑥 200000
𝑓 𝑒= = =272,5 𝑀𝑃𝑎
= =85.11
( )
2 2
𝑟𝑥 29,8 𝐾𝐿 85,11
𝑟
√ √
𝐸
4 ,71 =4,71
𝑓𝑦
200000
250
𝐾𝐿
=133,22> ( 85,11 ) →𝑇𝑒𝑘𝑢𝑘𝑖𝑛𝑒𝑙𝑎𝑠𝑡𝑖𝑠
𝑟𝑥
( ) 𝑓 =( 0,658 ) 𝟐𝟓𝟎=𝟏𝟕𝟎 ,𝟐𝟖 𝑴𝑷𝒂
𝑓𝑦 250
𝑓𝑒 272,5
𝐹 𝑐𝑟 = 0,658 𝑦
4. Pemeriksaan terhadap tekuk lentur torsi
Menggunakan persyaratan dalam pasal E.6 SNI 1729-2020, itung
rasio kelangsingan dimodifikasi dengan menganggap diguakan
sambungan baut pratarik atau las serta diasumsikan digunakan 2
buah konektor,
2400
𝑎 𝑖= =800 𝑚𝑚
3
𝑟 𝑖 =𝑟 𝜂 =12,8 𝑚𝑚(𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘𝑠𝑖𝑘𝑢𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙)
𝑎 800
= =62,5 >40
𝑟 𝑖 12,8
√( ( )
2
( ) )
𝐾𝐿 𝐾𝐿
2
𝐾𝑖 𝑎
= +
𝑟 𝑚 𝑟 0 𝑟1
( )
𝐾𝐿
𝑟 𝑚
=√ 93,06 2+(0,5 ∗ 62,5)2=98,17 <4,71
(Tekuk Inelastis)
𝐸
𝑓𝑦 √
=133,22
𝜋2 𝐸 𝜋 2 𝑥 200000
𝑓 𝑒= = =204,82 𝑀𝑃𝑎
( )
2 2
𝐾𝐿 98,17
𝑟
=( 0,658 ) 𝑓 =( 0,658
𝑓𝑦
)𝟐𝟓𝟎 =𝟏𝟒𝟗 , 𝟗𝟗 𝑴𝑷𝒂
250
𝑓𝑒 204,82
𝐹 𝑐𝑟 𝑦 𝑦
𝐺 . 𝐽 77200 𝑥 46.666,67
𝐹 𝑐𝑟𝑧 = = =𝟏𝟐𝟏𝟏 ,𝟐𝟒 𝑴𝑷𝒂
𝐴 . 𝑟0
2
2820 𝑥 2109,47
𝐹 𝑐𝑟 = ( 𝐹 𝑐𝑟𝑦 + 𝐹 𝑐𝑟𝑧
2𝐻 )[
1− 1−
√4 𝐹 𝑐𝑟𝑦 𝐹 𝑐𝑟𝑧 𝐻
( 𝐹 𝑐𝑟𝑦 + 𝐹 𝑐𝑟𝑧 )
2
]
𝐹 𝑐𝑟 =( 149,99+1211,24
2 𝑥 0,692
1− 1− )[ √
4 ∗149,99 ∗ 1211,24 ∗ 0,6 9 2
( 149,99+1211,24 ) 2 ]
=𝟏𝟒 𝟒 𝑴𝑷𝒂
Nilai ini lebih kecil daripada nilai fcr berdasarkan kondisi tekuk lentur
pada langkah sebelumnya, maka nilai fcr ditentukan berdasarkan
kondisi tekuk lentur torsi
Menghitung kekuatan tekan desain (DKII)
DFBK DKI
= 0,9*144*(2820) = (144)*(2820)/1,67
= .365,5 kN = 243,2 kN