0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan26 halaman

Penggolongan Obat untuk Asma dan PPOK

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit asma dan pengelompokan obat-obatan untuk penanganannya. Asma adalah penyakit inflamasi saluran pernapasan yang disebabkan oleh berbagai faktor dan memiliki berbagai gejala klinis. Terdapat beberapa jenis obat untuk menangani asma seperti beta-agonis, metilxantin, antikolinergik, glukokortikoid, dan antagonis leukotrien yang bekerja melalui berbagai mekanis

Diunggah oleh

Tari Pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan26 halaman

Penggolongan Obat untuk Asma dan PPOK

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit asma dan pengelompokan obat-obatan untuk penanganannya. Asma adalah penyakit inflamasi saluran pernapasan yang disebabkan oleh berbagai faktor dan memiliki berbagai gejala klinis. Terdapat beberapa jenis obat untuk menangani asma seperti beta-agonis, metilxantin, antikolinergik, glukokortikoid, dan antagonis leukotrien yang bekerja melalui berbagai mekanis

Diunggah oleh

Tari Pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penggolongan Obat

Penyakit Asma Dan


PPOK

Oleh Kelompok 6:

 Robiatul Adawiyah (21110022)


 Cantikc Lesisky (21110024)
 Andre Ardinur (21110036)
Penyakit Asma

1. Definisi

Asma merupakan penyakit inflamasi di mana ukuran


diameter jalan napas menyempit secara kronis akibat edema
dan tidak stabil (Neal, 2006).
Faktor-faktor yang merangsang serangan asma
(bronkospame) mencakup kelembaban, perubahan tekanan
udara, perubahan temperatur, asap, uap (debu, asap, parfum),
kekecewaan emosi dan alergi terhadap partrikel dari bulu
binatang, makanan dan obat-obatan seperti aspirin,
indometesin dan ibuprofen (Kee dan Hayes, 1996).
2. Patofisiologi

a. Obstruksi saluran pernapasan disebabkan oleh banyak faktor seperti


bronkospasme, edema, hipersekresi bronkus, hiperesponsif bronkus
dan inflamasi.
b. Serangan asma yang tiba-tiba disebabkan oleh faktor yang diketahui
atau tidak diketahui, faktor-faktor itu meliputi terpapar alergen, virus,
polutan atau zat-zat lain yang dapat merangsang inflamasi akut atau
konstriksi bronkus.
c. Terlepasnya mediator kimiawi yang terbentuk pada saat cedera
jaringan, sel mast dan leukosit di saluran pernapasan.
d. Kontraksi otot polos bronkus dan sekresi mukus dipengaruhi oleh
sistem simpatik dan parasimpatik. Perangsangan parasimpatik melalui
nervus vagus menyebabkan bronkokontriksi dan sekresi mukus.
Stimulasi nervus vagus dapat terjadi karena rangsangan oleh berbagai
zat pada saluran pernapasan (Priyanto, 2009)
3. Menifestasi klinik

a. Mengi pada saat menghirup nafas.


b. Riwayat batuk yang memburuk pada
malam hari, dada sesak yang terjadi
berulang dan nafas tersengal-sengal.
c. Hambatan pernafasan yang reversibel
secara bervariasi selama siang hari.
d. Adanya peningkatan gejala pada saat
olahraga, infeksi virus, eksposur
terhadap alergen dan perubahan
musim.
e. Terbangun malam-malam (Ikawati,
2006).
4. Klasifikasi asma
Derajat Asma Gejala Frekuensi Gejala Fungsi Paru

FEV1/FVC > 80%


Derajat1 Serangan Gejala < 1 kali/
prediksi
Asma Singkat minggu Gejala
Intermiten Variabilitas <20%
Asimptomatik nokturnal <
2
kali/ bulan
Derajat 2 Serangan Gejala >1 kali/ minggu FEV1/FVC > 80%
Asma persisten mengganggu tapi < 1 kali/ hari Prediksi variabelitas
ringan aktifitas dan tidur Gejala nokturnal > 2 kali/ 20-30%
bulan
Derajat 3 Serangan Gejala terjadi setiap FEV1/FVC 60 -
Asma persisten dapat hari gejala nokturnal > 1 80% prediksi
sedang mengganggu kali/ minggu variabelitas > 30%
aktifitas dan tidur
Derajat 4 Serangan Gejala terjadi setiap FEV1/FVC< 60 %
Asma persisten sering hari Prediksi variabelitas
berat terjadi Gejala nokturnal sering > 30%
terjadi
Berdasarkan Penyebabnya, Asma Bronkhial Dapat
Diklasifikasikan Menjadi 3 Tipe, Yaitu :

1. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh
faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk
bunga, bulu binatang, obat- obatan (antibiotik dan aspirin)
dan spora jamur.

2. Intrinsik (non alergik)


Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang
bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak
diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan
oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi.

3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai
karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik (Tanjung,
2003)
Penatalaksanaan Terapi

Penatalaksanaan asma didasarkan pada beratnya serangan (ringan, sedang dan berat).

a. Pada serangan asma ringan,


Diberikan obat pereda (reliever) berupa β2 agonis secara inhalasi/oral dan tambahan
kortikosteroid oral. Kromolin dapat ditambahkan sebelum paparan dengan alergen.
b. Pada serangan sedang,
Diberikan kortikosteroid intravena atau kromolin ditambah obat β2 agonis inhalasi dan
antikolinergik inhalasi. Apabila masih timbul sesak dosis kortikosteroid dinaikkan dan ditambah
teofillin peroral atau β2 agonis peroral. Kadang diperlukan kortikosteroid oral (prednison)
selama beberapa hari dalam dosis tunggal atau terbagi 2 – 4 dosis dalam seminggu.
c. Pada serangan berat
Diberikan nebulasi β2 agonis dan antikolinergik, kortikosteroid intravena atau kromolin
ditambah aminofillin intravena. Untuk mencegah asma malam dapat ditambah teofillin peroral
atau β2 agonis peroral. Kadang diperlukan kortikosteroid oral (prednison) selama beberapa
hari dalam dosis tunggal atau terbagi 2 – 4 dosis dalam seminggu (Anonim, 1994).
Berdasarkan Mekanisme Kerjanya

a. β2 agonis
β2 agonis adalah bronkodilator yang sangat efektif yang
bekerja dengan meningkatkan aktifitas adenyl cyclase
sehingga meningkatkan produksi intraseluler siklik AMP
(adenosine mono fosfat). Peningkatan siklik AMP
menyebabkan relaksasi otot polos, stabilisasi sel mast dan
stimulasi otot rangka. Beberapa β2 agonis (terutama yang
kurang selektiv) dapat merangsang reseptor β1 yang
berakibat peningkatan kontraksi dan frekuensi denyut
jantung (Priyanto, 2009). Efek samping dari agonis
adrenoseptor beta-2 termasuk tremor (terutama di tangan),
ketegangan, sakit kepala, kram otot, dan palpitas.
1. Agonis Reseptor β-Adrenergik Kerja
Singkat
Obat-obat yang termasuk dalam 2) Agonis Reseptor β-Adrenergik Kerja
kelompok ini antara lain albuterol, Lama
levalbuterol, metaproterenol, terbutalin Agonis reseptor β-Adrenergik
dan pributeril. Mekanisme kerja agonis kerja lama bekerja dengan merelaksasi
reseptor β-adrenergik kerja singkat otot polos saluran napas dan
sebagai anti asma berkaitan dengan menyebabkan bronkodilatasi melalui
relaksasi langsung otot polos saluran mekanisme yang sama dengan agonis
napas dan bronkodilatasi yang durasi singkat. Stimulasi reseptor β-
diakibatkannnya (Goodman dan adrenergik menghambat fungsi banyak
Gilman, 2008). Albuterol dan β2 agonis sel radang, termasuk sel mast, basofil,
selektif inhalasi short acting eosinofil, netrofil dan limfosit. Contoh
diindikasikan untuk terapi intermiten obatnya yaitu Formoterol dan
bronkospasme dan pilihan pertama salmoterol
untuk asma akut (Priyanto, 2009).
c. Antikolinergik
b. Metilxantin Di dalam sel-sel otot polos
Obat golongan metilxantin terdapat keseimbangan antara sistem
bekerja dengan menghambat adrenergis dan sistem kolinergis. Bila
enzim fosfodiesterase sehingga karena sesuatu sebab reseptor β2 dari
mencegah peruraian siklik AMP, sistem adrenergis terhambat, maka
sehingga kadar siklik AMP intrasel sistem kolinergis akan berkuasa dengan
meningkat. Hal ini akan akibat bronkokontriksi. Antikolinergik
merelaksasi otot polos bronkus memblok reseptor muskarin dari saraf-
dan mencegah pelepasan saraf kolinergik di otot polos bronki,
mediator alergi seperti histamin hingga aktifitas saraf adrenergis menjadi
dan leukotrien dari sel mast. dominan dengan bronkodilatasi (Tjay
derivat metilxantin yang dan Rahardja, 2007). Contohnya
mencakup teofillin, aminofillin dan ipratropium dan glycopyrronium. Agonis
kafein. Efek samping dari obat ini beta-2, contohnya salmeterol,
adalah takikardia, palpitasi, mual salbutamol, procaterol, dan terbutaline.
dan gangguan saluran cerna Efek samping yang bisa timbul akibat
yang lain. penggunaan obat antikolinergik adalah
mulut kering.
d. Glukokortikoid e. Antagonis leukotrien
glikokortikoid efektif dalam Ada beberapa obat yang bekerja
menghambat radang saluran napas jika sebagai antagonis LT yaitu :
diberikan secara tunggal. Mekanisme yang 1) Antagonis reseptor leukotrien contohnya
turut menyebabkan efek antiradang terapi Zafirlukas (accolade) adalah LT reseptor
glukokortikoid pada asma meliputi modulasi antagonis yang menghambat terbentuknya
produksi sitokin dan kemokin, ikatan LT dengan reseptornya. Beberapa
penghambatan sintesis eikosanoid, efek samping umum dari Antagonis reseptor
penghambatan akumulasi basofil, eosinofil leukotrien:sakit perut, diare, demam atau
dan leukosit lain secara nyata di jaringan gejala flu lainnya, sakit telinga, kesulitan
paru-paru serta penurunan permeabilitas mendengar, sakit kepala.
pembuluh darah (Goodman dan Gilman, 2) Penghambat sintesis leukotrien
2008) .Anggota dari kelompok obat ini contohnya Zileuton (Zyflo) adalah obat yang
adalah beklometason, triamsinolon, bekerja menghambat enzim 5-
deksametason, hidrokortison dan lipooksigenase yang diperlukan untuk
prednison. Efek samping glukokortikoid sintesis LT. Pemakaian yang terlalu sering
antara lain diabetes dan osteoporosis, yang dapat meningkatkan enzim hepar (SGPT
berbahaya, terutama pada lanjut usia, dan SGOT) sehingga menyebabkan obat ini
dapat terjadi fraktur osteoporotik pada jarang digunakan (Priyanto, 2009).
tulang pinggul dan tulang belakang. Selain Beberapa efek samping umum dari
itu, pemberian dosis tinggi dapat Penghambat sintesis leukotrien: nyeri sinus,
mengakibatkan nekrosis avaskular pada bersin, sakit tenggorokan, sakit kepala,
kepala femur. diare.
Definisi Penyakit PPOK

The Global Initiative for Chronic Obstructive Pulmonary


Disease (GOLD) tahun 2014 mendefinisikan Penyakit
Paru Obstruktif Kronik (PPOK) sebagai penyakit respirasi
kronik yang dapat dicegah dan dapat diobati, ditandai
adanya hambatan aliran udara yang persisten dan
biasanya bersifat progresif serta berhubungan dengan
peningkatan respons inflamasi kronik saluran napas yang
disebabkan oleh gas atau partikel iritan tertentu.
Eksaserbasi dan komorbid berperan pada keseluruhan
beratnya penyakit pada seorang pasien.
Patofisiologi

Hambatan aliran udara merupakan perubahan fisiologi utama pada PPOK yang diakibatkan
oleh adanya perubahan yang khas pada saluran nafas.
Terjadinya peningkatan penebalan pada saluran nafas kecil dengan peningkatan formasi
folikel limfoid dan deposisi kolagen dalam dinding luar saluran nafas mengakibatkan restriksi
pembukaan jalan nafas. Lumen saluran nafas kecil berkurang akibat penebalan mukosa yang
mengandung eksudat inflamasi, yang meningkat sesuai berat [Link] gas polutan dapat
menyebabkan stres oksidatif, selanjutnya akan menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid.
Peroksidasi lipid selanjutnya akan menimbulkan kerusakan sel dan inflamasi.
Proses inflamasi akan mengaktifkan sel makrofag alveolar, aktivasi sel tersebut akan
menyebabkan dilepaskannya faktor kemotataktik neutrofil seperti interleukin-8 dan leukotrien
B4, tumour necrosis factor (TNF), monocyte chemotactic peptide (MCP)-1, dan reactive oxygen
species (ROS).
Faktor-faktor tersebut akan merangsang neutrofil melepaskan protease yang akan
merusak jaringan ikat parenkim paru, sehingga timbul kerusakan dinding alveolar dan
hipersekresi mukus. Rangsangan sel epitel akan menyebabkan dilepaskannya limfosit CD8,
selanjutnya terjadi kerusakan seperti proses inflamasi. Pada keadaan normal terdapat
keseimbangan antara oksidan dan antioksidan. Enzim NADPH yang ada dipermukaan
makrofagdan neutrofil
Gejala Klinis dan Komplikasi

Gejala yang paling sering terjadi pada pasien PPOK adalah sesak
napas dan batuk.
Batuk bisa muncul secara hilang timbul, tapi biasanya batuk kronik
adalah gejala awal perkembangan PPOK. Gejala ini juga biasanya
merupakan gejala klinis yang pertama kali disadari oleh pasien. Batuk
kronik pada PPOK bisa juga muncul tanpa adanya dahak.
Faktor risiko PPOK berupa merokok, genetik, paparan terhadap
partikel berbahaya, usia, hiper-reaktivitas bronkus, status
sosioekonomi, dan infeksi.
Diagnosis

Pada awal perkembangannya, pasien PPOK Tanda-tanda penyakit kronik seperti muscle
tidak menunjukkan kelainan saat dilakukan wasting, kehilangan berat badan,
pemeriksaan fisik. Pada pasien PPOK berat, berkurangnya jaringan lemak merupakan
biasanya didapatkan bunyi mengi dan tanda-tanda saat progresivitas PPOK.
ekspirasi yang memanjang pada Clubbing finger bukan tanda yang khas pada
pemeriksaan fisik. Tanda hiperinflasi seperti PPOK, namun jika ditemukan tanda ini
barrel chest juga mungkin ditemukan. maka klinisi harus memastikan dengan pasti
Sianosis, kontraksi otot-otot aksesori apa penyababnya
pernapasan, dan pursed lips breathing biasa
muncul pada pasien dengan PPOK sedang
sampai berat
Lanjutann…

Spirometri merupakan pemeriksaan


penunjang definitif untuk diagnosis. Selain
spirometri, bisa juga dilakukan Analisis Gas Darah
untuk mengetahui kadar pH dalam darah,
radiografi bisa dilakukan untuk membantu
menentukan diagnosis PPOK, dan Computed
Tomography (CT) Scan dilakukan untuk melihat
adanya emfisema pada alveoli. Beberapa studi juga
menyebutkan bahwa kekurangan a-1 antitripsin
dapat diperiksa pada pasien PPOK ataupun asma.
Pengobatan Dan Perawatan
Terapi Farmakologi

A. Bronkodilator
Bronkodilator adalah pengobatan yang berguna
untuk meningkatkan FEV1 atau mengubah
variable spirometri dengan cara mempengaruhi
tonus otot polos pada jalan napas. Obat golongan
bronkodilator yaitu β2 Agonist (short-acting dan
long acting) dan antikolinergik
a. ß2Agonist (short-acting dan long-acting)
Prinsip kerja dari ß2 agonis adalah relaksasi otot polos jalan napas dengan menstimulasi
reseptor ß2 adrenergik dengan meningkatkan C-AMP dan menghasilkan antagonisme
fungsional terhadap bronkokontriksi. Efek bronkodilator dari short acting ß2 agonist biasanya
dalam waktu 4-6 jam. Penggunaan ß2 agonis secara reguler akan memperbaiki FEV1 dan
gejala (Evidence B). Penggunaan dosis tinggi short acting ß2 agonist pro renata pada pasien
yang telah diterapi dengan bronkodilator long acting tidak didukung bukti dan tidak
direkomendasikan.

Long acting ß2 agonist inhalasi memiliki waktu kerja 12 jam atau lebih. Formoterol dan
salmeterol memperbaiki FEV1 dan volume paru, sesak napas, health related quality of life dan
frekuensi eksaserbasi secara signifikan (Evidence A), tapi tidak mempunyai efek dalam
penurunan mortalitas dan fungsi paru. Salmeterol mengurangi kemungkinan perawatan di
rumah sakit (Evidence B). Indacaterol merupakan long acting ß2 agonist baru dengan waktu
kerja 24 jam dan bekerja secara signifikan memperbaiki FEV1 , sesak dan kualitas hidup
pasien (Evidence A)..
b. Antikolinergik

Obat yang termasuk pada golongan ini adalah


ipratropium, oxitropium dan tiopropium bromide. Efek
utamanya adalah memblokade efek asetilkolin pada
reseptor muskarinik. Efek bronkodilator dari short acing
anticholinergic inhalasi lebih lama dibanding short acting
ß2 agonist. Tiopropium memiliki waktu kerja lebih dari 24
jam. Aksi kerjanya dapat mengurangi eksaserbasi dan
hospitalisasi, memperbaiki gejala dan status kesehatan
(Evidence A), serta memperbaiki efektivitas rehabilitasi
pulmonal (Evidence B). Efek samping yang bisa timbul
akibat penggunaan antikolinergik adalah mulut kering.
Meskipun bisa menimbulkan gejala pada prostat tapi
tidak ada data yang dapat membuktikan hubungan
kausatif antara gejala prostat dan penggunaan obat
tersebut
B. Methylxanthine

Contoh obat yang tergolong


methylxanthine adalah teofilin. Obat ini
dilaporkan berperan dalam perubahan
otot-otot inspirasi. Namun obat ini tidak
direkomendasikan jika obat lain tersedia.
Efek samping dari obat ini adalah
takikardia, palpitasi, mual dan gangguan
saluran cerna yang lain.
C. Kortikosteroid

Kortikosteroid inhalasi yang diberikan


secara regular dapat memperbaiki gejala,
fungsi paru, kualitas hidup serta mengurangi
frekuensi eksaserbasi pada pasien dengan
FEV1 <60% prediksi. Beberapa contoh
kortikosteroid inhalasi antara lain budesonide,
fluticasone, beclomethasone, triamcinolone,
dan mometasone. Efek samping yang bisa
timbul dari penggunaan obat ini adalah
kenaikan berat badan tekanan darah tinggi,
hipokalemia, sakit kepala, lemah otot, buffalo
hump, dan moon face
D. Phosphodiesterase-4 inhibitor

Mekanisme dari obat ini adalah untuk mengurangi inflamasi dengan


menghambat pemecahan intraselular C-AMP. Tetapi, penggunaan obat ini
memiliki efek samping seperti mual, menurunnya nafsu makan, sakit perut,
diare, gangguan tidur dan sakit kepala.
Terapi Farmakologis Lain
Vaksin
vaksin pneumococcus direkomendasikan
1 untuk pada pasien PPOK usia > 65 tahun

2 Alpha-1 Augmentation therapy: Terapi ini


ditujukan bagi pasien usia muda dengan
defisiensi alpha-1 antitripsin herediter berat.
Terapi ini sangat mahal, dan tidak tersedia di
hampir semua negara dan tidak
direkomendasikan untuk pasien PPOK yang
tidak ada hubungannya dengan defisiensi alpha-
1 antitripsin.

3 Antibiotik: Penggunaannya untuk


mengobati infeksi bakterial yang
mencetuskan eksaserbasi
4 Mukolitik (mukokinetik, mukoregulator) dan
antioksidan: Ambroksol, erdostein,
carbocysteine, ionated glycerol dan N-
acetylcystein dapat mengurangi gejala
eksaserbasi.

5 immunoregulators
(immunostimulators,
immunomodulator)

6 Antitusif:
Golongan obat ini tidak
direkomendasikan.
Terapi non-farmakologis

rehabilitasi Terapi oksigen

Konseling nutrisi
Ventilatory suppory
Thank you

Anda mungkin juga menyukai