0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan39 halaman

Jenis-Jenis Sapi Potong Lokal Indonesia

Dokumen tersebut membahas beberapa jenis sapi lokal Indonesia seperti Sapi Aceh, Sapi Bali, Sapi Pesisir, Sapi Madura, Sapi Peranakan Ongole, dan Sapi Sumba Ongole. Dokumen menjelaskan ciri-ciri fisik dan asal usul masing-masing jenis sapi tersebut. Sapi-sapi lokal Indonesia tersebut merupakan hasil domestikasi dari banteng dan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik dengan ling

Diunggah oleh

Putri Niideey
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan39 halaman

Jenis-Jenis Sapi Potong Lokal Indonesia

Dokumen tersebut membahas beberapa jenis sapi lokal Indonesia seperti Sapi Aceh, Sapi Bali, Sapi Pesisir, Sapi Madura, Sapi Peranakan Ongole, dan Sapi Sumba Ongole. Dokumen menjelaskan ciri-ciri fisik dan asal usul masing-masing jenis sapi tersebut. Sapi-sapi lokal Indonesia tersebut merupakan hasil domestikasi dari banteng dan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik dengan ling

Diunggah oleh

Putri Niideey
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kuliah 2

Bangsa dan Jenis Ternak Sapi Potong Lokal


Dr. Arsyadi Ali. [Link]., [Link]
Putri Zulia Jati, [Link]., MP

Jurusan Ilmu Peternakan


Fakultas Pertanian dan Peternakan
Sugeng (1992) menyatakan bahwa banteng merupakan sumber sapi asli Indonesia.
Sapi yang ada sekarang merupakan keturunan banteng (Bos bibos) yang dewasa ini
dikenal dengan nama Sapi Bali, sapi madura, sapi jawa, sapi sumatera, dan sapi lokal
lainnya. Muhammad et al, (2009) menyatakan bahwa sapi lokal Indonesia (Sapi Aceh,
Sapi Madura, Pesisir, dan Sapi Peranakan Ongole) berada dalam satu kelompok yang
sama dan semuanya berasal dari Sapi Bali (Gambar 1 )

Filogenetik Sapi Bali dan berbagai jenis sapi lokal lainnya (Muhammad et al., 2009)
Sapi Lokal Indonesia
1. Sapi Aceh
Sapi aceh merupakan satu sapi pedaging lokal
favorit yang merupakan hasil persilangan
antara sapi lokal dengan sapi ongole

Ciri-ciri sapi Aceh Jantan


• Warna dominan merah bata dan
pada daerah pundak
• Berpunuk
• Bergelambir
• Tanduk mengarah ke atas dan lebih
besar
•  Kuping dan daun telinga tidak
jatuh, tidak besar dan agak runcing
•  Tinggi gumba rata-rata 110 cm (3
thn)
Ciri-ciri sapi Aceh Betina
1. Warna dominan merah bata
2. Tidak berpunuk, bagian pundak tidak rata dan sedikit menonjol
3. Tanduk mengarah ke samping, melengkung ke atas kemudian ke
depan dan lebih kecil dari jantan
4. Kuping dan daun telinga tidak jatuh, tidak besar dan agak runcing
5. Tinggi gumba rata-rata 105 cm (3 thn)
2. Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil
domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga
saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional
Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama
didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di
berbagai daerah di Indonesia

Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya


ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu
ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan
tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian
pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut
berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu
hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga
pangkal ekor.
Sapi Bali Jantan

Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali
betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata
menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa
kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata
apabila sapi itu dikebiri.
Sapi Bali Betina
3. Sapi Pesisir

Sapi Pesisir merupakan merupakan sapi asli yang berkembang di kawasan pesisir
Sumatera Barat. Saladin (1983) menduga sapi Pesisir sebagai sisa sapi asli yang pada
mulanya berkembang di Kabupaten Pesisir Selatan. Namun saat ini populasi sapi pesisir
juga ditemukan di Kab. Padang Pariaman, Kab. Pesisir Selatan dan Kab. Agam (Anwar,
2004). Pada tahun 2001 populasi sapi di Pesisir Selatan berjumlah 96.443 ekor (BPS
Sumbar, 2001) dan sebagian besar merupakan sapi pesisir. Populasi sapi Pesisir
diperkirakan sekitar 20% dari total sapi daging di Sumatera Barat yang berjumlah 425.338
ekor pada tahun 1999.

Sapi Pesisir pada umumnya dipelihara secara bebas (berkeliaran) dan masih sangat
sedikit perhatian peternak dalam pemeliharaannya. Sapi Pesisir memainkan peranan
penting sebagai sumber daging bagi masyarakat di kota Padang. Sebanyak 75% sapi yang
dipotong di rumah potong hewan (RPH) kota Padang adalah sapi pesisir.
Sapi Pesisir memiliki bobot badan relatif kecil sehingga tergolong sapi mini (mini cattle).
Sapi pesisir jantan dewasa (umur 4-6 tahun) memiliki bobot badan 186 kg, jauh lebih
rendah dari bobot badan sapi bali (310 kg) dan sapi madura (248 kg). Dengan bobot
badan yang kecil tersebut, sapi pesisir berpeluang dijadikan sebagai hewan kesayangan
(fancy) bagi penggemar sapi mini. Penampilan bobot badan yang kecil tersebut
merupakan salah satu penciri suatu bangsa sapi, sehingga dapat dikatakan bahwa sapi
pesisir merupakan sapi khas Indonesia (terutama di Sumatera Barat) dan merupakan
sumber daya genetik (plasma nutfah) nasional yang perlu dikembangkan dan
dilestarikan.
Sapi Pesisir memiliki keragaman warna bulu yang tinggi. Hasil penelitian Anwar (2004)
menemukan bahwa warna bulu memiliki pola tunggal yang dikelompokkan atas lima
warna utama, yaitu merah bata (34,35%), kuning (25,51%), coklat (19,96%), hitam
(10,91%) dan putih (9,26%). Sapi pesisir dikenal memiliki temperamen yang jinak
sehingga lebih mudah dikendalikan dalam pemeliharaan.

Karakteristik sapi pesisir


yang lain adalah memiliki
tanduk pendek dan
mengarah keluar seperti
tanduk kambing,
Ciri Spesifik Sifat Kualitatif: 
Warna
Tubuh dominan merah bata dengan variasi warna dari kekuningan,
kecokelatan, sampai kehitaman.
Kepala: bulu mata berwarna pirang.
Garis punggung cokelat kehitaman.
Kaki keputih-putihan.
Ekor: rambut ekor berwarna hitam.
Bentuk tubuh kecil, mempunyai gumba dan gelambir kecil.
Bentuk tanduk kecil.
Bentuk telinga kecil, mengarah ke samping
Sapi jantan memiliki kepala pendek, leher pendek dan besar, belakang leher lebar,
ponok besar, kemudi pendek dan membulat
Sapi betina memiliki kepala agak panjang dan tipis, kemudi miring, pendek dan tipis,
tanduk kecil dan mengarah keluar (Saladin, 1983).
4. Sapi Madura
Sapi Madura adalah sapi potong lokal asli Indonesia hasil persilangan antara banteng
dengan bos indicus atau sapi Zebu yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap
iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan penyakit. [
Karakteristik sapi Madura sudah sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki
pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan
paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas. [Kontribusi sapi
madura sebagai sapi potong berkembang baik di Jawa Timur khususnya di pulau Madura
Sapi Madura.  Hasil persilangan sapi bali
dengan sapi india ( bos indicus ), Ciri - ciri :
badan kompak dan kecil, jantan dan
betina warna merah bata, bulu pantat dan
kaki bawah warna putih, perbedaan
dengan sapi bali adalah pada sapi madura
bulu putih tidak jelas batasnya dan garis
hitam pada punggung tidak selalu
[Link] tubuh sapi madura relatif lebih
kecil. Bobot badan jantan dewasa 250 -
300 kg dan betina dewasa 150 - 200 kg.
PBB harian 0,45 kg/[Link] karkas
48,6 - 51,2 %.
5. Sapi Peranakan Ongole

Sapi Peranakan Ongole (PO) pada tahun 1991 populasinya mencapai 4.600.000 ekor
mendominasi jumlah sapi potong di Indonesia dan terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Akan tetapi telah terjadi penurunan yang drastis dan pada tahun 2001 populasinya
dilaporkan sebesar 874.000 ekor dengan konsentrasi tetap di Pulau
Jawa

Sapi PO juga menunjukkan keunggulan sapi tropis yaitu daya adaptasi iklim tropis
yang tinggi, tahan terhadap panas, tahan terhadap gangguan parasit seperti gigitan
nyamuk dan caplak, disamping itu juga menunjukkan
toleransi yang baik terhadap pakan yang mengandung serat kasar tinggi.

Sapi PO merupakan hasil pemuliaan melalui sistim persilangan dengan grading up


sapi Jawa dan Sumba Ongole (SO) lewat setengah abad silam.
Saat ini sapi PO yang murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak di silangkan
dengan sapi Brahman, sehingga sapi Peranakan Ongole diartikan sebagai sapi lokal
berwarna putih (keabu-abuan) berkelasa dan bergelambir. Sapi Peranakan ongole
terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi
yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tena ga yang kuat dan
aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah ber-anak, jantannya
memiliki kualitas semen yang baik. 
Karakteristik Sapi ongole dikutip dari
[Link] :

• jenis ternak berukuran sedang, dengan gelambir yang lebar yang longgar dan
menggantung. 
• Badannya panjang sedangkan lehernya pendek. 
• Kepala bagian depan lebar diantara kedua mata.
• Bentuk mata elip dengan bola mata dan sekitar mata berwarna hitam. 
• Telingan agak kuat, ukuran 20-25 cm, dan agak menjatuh. 
• Tanduknya pendek dan tumpul, tumbuh kedepan dan kebelakang. 
• Pada pangkal tanduk tebal dan tidak ada retakan. 
• Warna yang populer adalah putih. Sapi jantan pada kepalanya berwarna abu
tua, pada leher dan kaki kadang-kadang berwarna hitam. 
• Warna ekor putih, kelopak mata putih dan otot berwarna segar, kuku
berwarna cerah dan badan berwarna abu tua.
• Sapi ini lambat dewasa, pada umur 4 tahun mencapai dewasa penuh.
•  Bobot sapi 600 kg pada sapi jantan dan 300-400 kg untuk sapi betina. 
• Berat lahir 20-25 kg. 
• persentase karkas 45-58% dengan perbandingan daging tulang 3,23 : 1.
Sapi Peranakan Ongole Jantan
Sapi Peranakan Ongole Betina
6. Sapi Sumba Ongole

Sapi ongole (Bos indicus) memerankan peran yang penting dalam sejarah sapi di
Indonesia. Sapi jantan Ongole dibawa dari daerah Madras, India ke pulau Jawa,
Madura dan Sumba. Di Sumba dikenal dengan sapi Sumba Ongole. Sapi Sumba Ongole
(SO) dibawa ke Jawa dan dikawinkan dengan sapi asal jawa dan kemudian dikenal
dengan peranakan ongole (PO) Sapi ongole dan PO baik untuk mengolah lahan karena
badan besar, kuat, jinak dan bertemperamen tenang, tahan terhadap panas, dan
mampu beradaptasi dengan kondisi yang minim. Sapi-sapi ongole asal India
dimasukkan kali pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Pulau Sumba, pada awal
abad ke 20, sekitar tahun 1906-1907. Dari empat jenis sapi, yang dimasukkan ke
Sumba saat itu, yaitu sapi Bali, sapi Madura, sapi Jawa, dan sapi Ongole, ternyata
hanya sapi Ongole yang mampu beradaptasi dengan baik dan berkembang dengan
cepat, di pulau yang panjang musim kemaraunya ini. Sekitar tujuh atau delapan tahun
kemudian, pada tahun 1914, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Pulau Sumba
sebagai pusat pembibitan sapi Ongole murni. Upaya ini disertai dengan memasukkan
42 ekor sapi ongole pejantan, berikut 496 ekor sapi ongole betina serta 70 ekor
anakan ongole.
Dalam laporan tahunan Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur (1989) tercatat,
pada tahun 1915, Pulau Sumba sudah mengekspor enam ekor bibit sapi ongole
pejantan. Empat tahun kemudian, pada 1919, ekspor sapi ongole dari Pulau Sumba
tercatat sebanyak 254 ekor, dan pada tahun 1929, meningkat mencapai 828 ekor.
Sapi-sapi asal Sumba ini pun memiliki merek dagang, sapi Sumba Ongole (SO).
Perkembangan selanjutnya, Sumba kembali ditetapkan sebagai pusat pembibitan
sapi ongole murni di masa pemerintahan Presiden Soeharto, melalui Undang-
Undang Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 6 Tahun 1967. Sapi ongole
memang menjadi ciri khas Pulau Sumba, terutama Sumba Timur. Selain sapi,
kekhasan lain Sumba Timur adalah padang rerumputan (sabana). Bentangan sabana
kering tampak bagaikan lautan menguning.
Sapi Sumba Ongole (SO) mempunyai perawakan seperti sapi ongole (Jawa), warna
asli putih, memiliki rangka dan perfoma produksi yang lebih baik dari sapi ongole.
Frame yang tinggi panjang, bertanduk, perototan dan pertulangan kuat. Sapi ini
mempunyai bobot 400-600 kg.
Pertambahan bobot badannya berkisar 1antara .6 – 2.0 kg / ekor/ hari, dan rata
rata karkas yang dihasilkan di atas 52.5%.
7. Sapi Kuantan

Penetapan rumpun sapi kuantan sebagai kkekayaan sumberdaya genetik ternak lokal
berdasarkan:

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1052/kpts/SR.120/10/2014

Populasi Sapi Kuantan di Kabupaten Indragiri Hulu sebanyak 5950 ekor, dan di
Kabupaten Kuantan Singingi berjumlah sekitar 2386 ekor (Dinas Peternakan dan
Kesehatan Hewan Provinsi Riau, 2011). Berdasarkan hasil survey pada tahun 2014
terjadi penurunan jumlah populasi Sapi Kuantan. Hal ini diduga berkaitan dengan sistem
pemeliharaan yang bersifat ekstensif, adanya penjualan ternak sapi keluar provinsi,
tingginya jumlah pemotongan ternak produktif, menyempitnya areal penggembalaan,
dan kurang tersedianya pejantan
Sejarah dan asal usul Sapi Kuantan belum diketahui secara pasti. Diduga sapi ini
berasal dari India yang dibawa bangsa Hindu ke Indonesia, atau merupakan
sapi liar Indonesia seperti banteng (Bos sondaicus dan Bos indicus) yang
dijinakkan
Performa Sifat Kualitatif Sapi Kuantan

Sifat kualitatif Sapi Kuantan masih bervariasi untuk warna kulit dan
bentuk tanduk. Sedangkan untuk warna putih pada bagian dalam kaki dan
warna putih di sekitar mulut pada umumnya seragam, sehingga dapat
dijadikan sebagai ciri khas Sapi Kuantan tersebut.

Variasi warna kulit Sapi Kuantan jantan dewasa di Kabupaten Indragiri Hulu
dan Kuantan Singingi meliputi hitam, cokelat keruh, putih kecokelatan dan
putih. Warna kulit Sapi Kuantan jantan didominasi putih kecokelatan. Variasi
warna kulit Sapi Kuantan betina meliputi cokelat kemerahan, hitam, kehitaman,
cokelat keruh, cokelat merah bata, putih kecokelatan dan putih. Warna kulit
Sapi Kuantan betina didominasi putih kecokelatan.
Persentase
Sifat Kualitatif
Jantan (n= 53) Betina (n=158)

Warna kulit :    
Cokelat
- 4,62%
Kemerahan
Hitam 17,65% 6,15%
Kehitaman - 10,77%
Cokelat Keruh 11,76% 9,23%
Cokelat Merah
- 9,23%
Bata
Putih Kecokelatan 52,94% 55,38%
  Putih 17,65% 4,62%
Total 100% 100%
Kehitaman Putih Kecoklatan

Cokelat Keruh Putih


Keberadaan tanduk pada Sapi Kuantan baik jantan maupun betina
adalah normal, walaupun demikian mempunyai bentuk yang
bervariasi: melengkung ke atas, melengkung ke depan, melengkung ke
bawah, tanduk pendek dan kecil serta tidak bertanduk

Tabel Bentuk Tanduk Sapi Kuantan Jantan dan Betina


Dewasa
Persentase
Sifat Kualitatif
Jantan (n=53) Betina (n=158)
Bentuk Tanduk :  
Melengkung ke atas 52,94% 32,31%

Melengkung ke depan - 36,92%

Melengkung ke bawah - 6,15%

Tidak bertanduk - 4,62%


    Tanduk pendek kecil 47,06% 20,00%
Total 100% 100%
Melengkung ke atas

Melengkung ke bawah

Melengkung ke depan
Sifat reproduksi sapi kuantan

No Parameter Reproduksi Lama

1 Dewasa Kelamin 18-24 Bulan

2 Umur Beranak Pertama 34-36 Bulan

3 Umur Sapi 6-8 Bulan


Populasi Sapi di Kabupaten Kuantan Singingi
No Kecamatan Sapi
1 Kuantan Mudik 2.617
2 Hulu Kuantan 1.258
3 Gunung Toar 1.566
4 Pucuk Rantau 269
5 Singingi 3.081
6 Singingi Hilir 2.781
7 Kuantan Tengah 1.738
8 Sentajo Raya 2.432
9 Benai 1.974
10 Kuantan Hilir 639
11 Pangean 1.587
12 Logas Tanah Darat 2.428
13 Kuantan Hilir Seberang 1.226
14 Cerenti 1.279
15 Inuman 1.286
Jumlah Total 26.161

Sumber: Dinas Peternakan Kab Kuantan Singingi (2014)


Sapi Lokal Malaysia
Sapi kedah-Kelantan (KK)

Breed: tropical breed (Bos indicus)


Origin: Local (Malaysia)
Features: Resistant to weather,
moisture, disease, lice.
Solid body, various colors brown,
black, brown and yellow.
Being able to use and process low-
quality food.
Birth weight of 14-16 kg. Low weight
gain.
Slow to adult. Mature weight 200-
250 kg.
High fertility levels. Meat yield 45%
of body weight

Anda mungkin juga menyukai