0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
369 tayangan11 halaman

Hubungan Tri Rna dan Panca Yadnya

Hubungan antara upacara yadnya dengan tri rna erat karena yadnya digunakan untuk membayar hutang tri rna melalui lima jenis pengorbanan suci (panca yadnya) dan lima jalan (panca marga yadnya) seperti pengorbanan harta, tubuh, pikiran, belajar, dan ilmu. Contohnya adalah upacara keagamaan, kematian, dan kelahiran untuk membayar dewa, manusia, dan leluhur.

Diunggah oleh

Sdtriamarta Tabanan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
369 tayangan11 halaman

Hubungan Tri Rna dan Panca Yadnya

Hubungan antara upacara yadnya dengan tri rna erat karena yadnya digunakan untuk membayar hutang tri rna melalui lima jenis pengorbanan suci (panca yadnya) dan lima jalan (panca marga yadnya) seperti pengorbanan harta, tubuh, pikiran, belajar, dan ilmu. Contohnya adalah upacara keagamaan, kematian, dan kelahiran untuk membayar dewa, manusia, dan leluhur.

Diunggah oleh

Sdtriamarta Tabanan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN TRI RNA

DENGAN YADNYA
Upacara  Yadnya adalah cara-cara
melakukan hubungan antara  Atman dengan 
ParAtman atau antara manusia dengan  Sang
Hyang Widhi serta semua manifestasinya
agar mencapai kesucian jiwa. Kata
“Yadnya” berarti pengorbanan atau
persembahan suci.
Tujuan pelaksanaan  yadnya

adalah untuk menebus Tri Rna. Hubungan antara Tri Rna dengan
Yadnya erat sekali, karena Yadnya itu muncul sebagai akibat dari
kita memiliki hutang Tri Rna. Hutang Tri Rna itu harus dibayar
dengan melakukan Yadnya. 
Panca Marga Yadnya dan Panca Yadnya
• Panca Marga Yadnya terdiri dari 3 kata,yaitu :
• Panca : 5
• Marga : jalan
• Yadnya : pengorbanan suci
Jadi Panca Marga Yadnya : lima jenis jalan pengorbanan suci untuk mendapatkan kesempurnaan

• Panca Yadnya terdiri dari 2 kata


• Panca : 5
• Yadnya : pengorbanan suci
Jadi Panca Yadnya adalah lima jenis pengorbanan suci yang patut dilaksanakan oleh manusia
untuk membayar  Tri Rna dalam mencapai kesempurnaan hidup
Bagian-bagian Panca Marga Yadnya :
1)  Drvya Yadnya yaitu pengorbanan harta benda milik sendiri
2)  Tapa Yadnya yaitu pengorbanan dengan jalan mengendalikan indria terutama
hawa nafsu
3)  Yoga Yadnya yaitu pengorbanan dengan jalan mengolah fsik dan batin serta
bermeditasi menyatukan cipta-rasa-karsa
4)  Swadyaya Yadnya yaitu pengorbanan dengan mempelajari pustaka-pustaka suci
5)  Jnana Yadnya yaitu pengorbanan melalui ilmu pengetahuan yaitu mengolah ilmu
pengetahuan suci tentang kerahasiaan kemahakuasaan Tuhan.
BAGIAN PANCA YADNYA

1)  Dewa Yadnya adalah pengorbanan /persembahan suci kehadapan Sang  Hyang Widhi beserta

segala manifestasinya. 

2)   Pitra Yadnya adalah persembahan suci kepada para leluhur

3)   Rsi Yadnya adalah persembahan suci untuk para Rsi

4)  Manusa Yadnya adalah persembahan suci untuk kesejahtraan manusia

5)   Bhuta Yadnya adalah persembahan suci kepada Bhuta Kala dan makhluk 

      bawahan.
Contoh membayar Tri Rna

 Dewa Rna dibayar dengan melaksanakan Dewa Yadnya dan Buta

Yadnya

 Pitra Rna dibayar dengan melaksanakan Pitra Yadnya dan

Manusa Yadnya

 Rsi rna dibayar dengan melaksanakan Rsi Yadnya.


Contoh Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya

 Dewa Yadnya :
 Tri Sandhya setiap hari,
 melaksanakan upacara pada hari Purnama, Tilem, piodalan di Pura, Siwaratri, Saraswati,
Galungan, Kuningan.

 Bhuta Yadnya :
• Upacara Mecaru,
• Ngaturang Segehan,
• Upacara Panca Wali Krama (dilaksanakan setiap 10 tahun sekali di Pura Agung Besakih.
• Upacara Eka Dasa Rudra (dilaksanakan setiap 100 tahun sekali di Pura Agung Besakih)
Contoh Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya

 Pitra Yadnya :
• menunjukkan prilaku yang luhur dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud bakti kepada
leluhur yang masih hidup,
• melakukan upacara kematian terhadap leluhur yang telah meninggal dapat dilakukan
dengan dua cara, meliputi; upacara penguburan mayat dan upacara pembakaran mayat.
Upacara penguburan dan pembakaran mayat disebut dengan nama Upacara Ngaben.

 Upacara Ngaben dalam pelaksanaannya terdiri dari dua tahap yaitu:


• Sawa Wedana yaitu upacara pembakaran/penguburan badan kasar sebagai simbul atau
makna mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya.
• Atma Wedana yaitu upacara pembakaran/penguburan tahap kedua yaitu pembakaran badan
halus (Suksma Sarira) yang disimbulkan dengan Sekah atau Upacara ini lebih dikenal
dengan nama Nyekah, Mamaukur, Ngasti, Maligia dan Ngeroras. Tujuan Upacara Atma
Wedana adalah untuk meningkatkan status roh leluhur menjadi Dewa Hyang.
Contoh Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya

 Manusa Yadnya :
• Upacara garbha wadana atau pagedong-gedongan yaitu upacara bayi selama di dalam kandungan.
• Upacara bayi yang baru lahir.
• Upacara bayi kepus puser atau disebut upacara Mapanelahan.
• Upacara bayi berumur 42 hari atau disebut upacara tutug kambuhan.
• Upacara bayi berumur 105 hari disebut nyambutin. Biasanya juga disebut dengan istilah telu bulan
atau 3 bulanan menurut perhitungan wuku Bali.
• Upacara oton atau otonan biasanya dirayakan setiap 6 bulan sekali berdasarkan hari kelahiran
menurut perhitungan wuku Bali.
• Upacara potong gigi yang disebut Mepandas atau metatah atau mesangih. Upacara ini dapat
dilakukan baik terhadap anak laki-laki maupun anak perempuan yang sudah menginjak dewasa.
Contoh Rsi Yadnya
 Upacara Eka Jati atau Mewinten yaitu upacara pengukuhan seseorang menjadi Pinandita atau Pemangku. Tugas dan

kewenangan Eka Jati seperti:

 -          bertanggung jawab pada pura dimana tempat orang di winten,

 -          menyelesaikan upacara di lingkungan masyarakat sekitar.

 Upacara Dwi Jati atau Mediksa yaitu upacara pengukuhan seseorang menjadi Pendeta atau sulinggih dengan kewenangan

Ngloka pala sraya yang berarti tempat bagi masyarakat untuk memohon bantuan petunjuk agama.

 Kewenangan seseorang yang sudah Dwi Jati, adalah:

 menyelesaikan/muput suatu upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat,

 memberikan pencerahan, pembinaan tentang ajaran agama dan bagaimana mengamalkan ajaran agama dalam

kehidupan sehari-hari kepada umat,

 berhak mendapatkan Daksina,

 berhak mendapatkan punia dan menerima Resi Bojana.

Anda mungkin juga menyukai