0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan29 halaman

Contoh Pengukuran Waktu Kerja

Ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang pengukuran waktu kerja yang meliputi pengertian waktu baku, jenis pengukuran waktu kerja secara langsung dan tidak langsung, faktor penyesuaian waktu kerja, serta beberapa metode penentuan faktor penyesuaian."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan29 halaman

Contoh Pengukuran Waktu Kerja

Ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang pengukuran waktu kerja yang meliputi pengertian waktu baku, jenis pengukuran waktu kerja secara langsung dan tidak langsung, faktor penyesuaian waktu kerja, serta beberapa metode penentuan faktor penyesuaian."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TIME STUDY

Perancangan Sistem Kerja-Pert 5


Nofirza, ST., [Link]., IPM
CONTOH: KONDİSİ AWAL
AFTER TİME STUDY AND LİNE
BALANCİNG

Production
İncrease

15%
Why Motion and Time
Study
 Motion and time study is considered to be the backbone of industrial
engineering, industrial technology, and industrial management
programs because the information that time studies generate affects so
many other areas, including the following:
1. Cost estimating
2. Production and inventory control
3. Plant layout
4. Materials and processes
5. Quality
6. Safety
 Motion study comes first before the setting of time standards, sincr
motion study is a detailed analysis of the work method in an effort to
improve it.
Pengukuran Waktu Kerja

 Usaha untuk menentukan lama waktu kerja yg


dibutuhkan seorang Operator (terlatih dan
“qualified”) dalam menyelesaikan suatu pekerjaan
yang spesifik pada tingkat kecepatan kerja yang
NORMAL dalam lingkungan kerja yang WAJAR
 Pengukuran waktu tersebut merupakan suatu
upaya proses kuantitatif yang diarahkan untuk
mendapatkan suatu kriteria kerja yang objektif
Jenis Pengukuran Waktu
Kerja
Umumnya, proses pengukuran waktu kerja dapat dikelompokkan
atas dua kelompok besar, yaitu:

1) Pengukuran waktu secara langsung


 Pengukuran jam henti (Stopwatch Time Study)

 Sampling kerja (Work Sampling)

2) pengukuran waktu secara tidak langsung


 Data waktu baku (Standard data)

 Data waktu Gerakan (Predetermined Time System): Work Faktor


(WF) System, Maynard Operation Sequece Technique (MOST),
dan Motion Time Measurement ( MTM)
Pengukuran waktu secara
langsung
 Pengukuran waktu dinyatakan langsung karena
pengamat berada di tempat objek pengukuran yang
sedang diamati secara langsung.

 Dengan demikian pengamatan langsung merupakan


pengukuran atas waktu kerja yang dibutuhkan oleh
seorang operator (objek pengamatan) dalam
menyelesaikan pekerjaan.
Pengukuran waktu secara
tidak langsung

 Pengukuran waktu jenis ini disebut tidak langsung,


karena pengamat tidak berada secara langsung di
lokasi (obyek) pengukuran dari awal hingga akhir.

 Pengukuran waktu kerja dilakukan dengan


melakukan analisis berdasarkan perumusan serta
berdasarkan data waktu yang telah tersedia.
Kelebihan dan kekurangan
pengukuran waktu langsung
KELEBIHAN:
 PRAKTIS, mencatat waktu saja tanpa harus menguraikan
pekerjaan ke dalam elemen – elemen gerakannya.
AKURAT

KEKURANGAN:
 Dibutuhkan waktu lebih lama utk memperoleh data waktu
yg banyak untuk tujuan: hasil pengukuran yg TELITI dan
AKURAT
 Biaya lebih MAHAL, karena harus pergi ke tempat dimana
pekerjaan pengukuran kerja berlangsung,
Kelebihan dan kekurangan
pengukuran waktu tidak langsung
KELEBIHAN:
 Waktu relatif SINGKAT, hanya mencatat elemen – elemen gerakan pekerjaan
satu kali saja.
 Biaya lebih MURAH

KEKURANGAN:
 Belum ada data waktu gerakan berupa tabel – tabel waktu gerakan yg
menyeluruh dan rinci.
 Tabel yg digunakan adalah untuk orang EROPA yang tidak cocok untuk orang
INDONESIA
 Dibutuhkan ketelitian yg tinggi untuk seorang pengamat pekerjaan krn akan
berpengaruh thdp hasil perhitungan.
 Data waktu gerakan harus disesuaikan dgn kondisi pekerjaan, misalnya:
Elemen Pekerjaan Kantor tdk sama dgn elemen pekerjaan Pabrik.
Apa itu Waktu Baku?

 Definisi dari waktu baku adalah “waktu yang dibutuhkan untuk


menghasilkan sebuah produk di sebuah stasiun kerja dengan 3
kondisi sebagai berikut:
(1) Operator yang qualified dan well-trained
(2) Bekerja pada kondisi normal,
(3) Melakukan pekerjaan khusus.”
 Ketiga kondisi ini perlu dipahamai dalam pengukuran waktu.
 Waktu baku menjadi salah satu informasi yang sangat penting
dalam departemen produksi. Dan manfaatnya dapat mendukung
jawaban terhadap permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
Apa itu Waktu Baku? (cont’s)

 Determining the number of machine tools to buy

 Determining the number of production people to employ

 Determining manufacturing costs and selling prices

 Scheduling the machines, operations, and people to do the job and deliver on time

 Determining the assembly line balance, determining the conveyor belt speed, loading the
work cells with the correct amount of work, and balancing the work cells

 Determine individual worker performance and identifying operations that are having
problems so the problems can be corrected

 Paying incentive wages for outstanding team or individual performance

 Evaluating cost reduction ideas and picking the most economical method based on cost
analysis, not opinion

 Evaluating new equipment purchases to justify their expense

 Developing operation personnel budgets to measure management performance.


WAKTU BAKU

 Penentuan waktu baku :

• Waktu siklus: waktu hasil pengamatan secara


langsung yang tertera dalam stop watch.
• Waktu normal: waktu kerja telah
mempertimbangkan factor penyesuaian
• Waktu baku: waktu kerja dengan
mempertimbangkan factor penyesuaian dan
faktor kelonggaran (allowance ).
Tingkat Ketelitian dan Keyakinan

Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan


maksimum hasil pengukuran dari waktu
penyelesaian sebenarnya.

Tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan


pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi
syarat ketelitian tadi
Penyesuaian
 Factor penyesuaian adalah faktor yang diberikan untuk
menjaga kewajaran kerja, sehingga tidak terjadi kekurangan
waktu karena idealnya kondisi kerja yang diamati.
 Faktor penyasuaian dalam pengukuran waktu kerja dibutuhkan
untuk menentukan waktu normal dari operator yang berada
dalam sistem kerja tertentu.
 Beberapa metode dalam menentukan besar faktor
penyesuaian, antara lain :
1. Cara Persentase
2. Metode shumard
3. Metode Westinghouse
4. Metode Obyektif
5. Metode Bedaux atau sintesis
Cara Persentase

Cara paling awal, sederhana, dan mudah!


Nilai ‘p’ ditentukan oleh pengukur melalui pengamatan
selama pengukuran, misal:

Ditentukan p = 110%
Jika Ws = 14,6 menit,
Maka Wn= 14,6 x 1,1 = 16,6 menit

Cara ini memiliki kekurangan tingkat subjektifitas


sangat tinggi dan hasil penilaiannya terkesan ‘kasar’
Penyesuaian Metode
Shumard
Patokan penilaian berdasarkan ‘kelas-kelas performansi
kerja” –tiap kelas punya nilai sendiri-sendiri.
CONTOH:
Bila performansi operator dinilai
EXCELENT dengan nilai 80,
maka: p= 80/60 =1,33

Dan jika Ws = 276,4 detik maka:


WN = 276,4 x 1,33
= 367,6 detik
Metode Westinghouse
Penilaian berdasarkan 4 faktor:

 SKILL (Ketrampilan): kemampuan mengikuti cara kerja


yang ditetapkan.
 EFFORT (Usaha): kesungguhan yang ditunjukkan
operator ketika bekerja.
 CONDITION (Kondisi kerja): kondisi lingkungan fisik
lingkungan (pencahayaan, temperatur, dan kebisingan
ruangan)
 CONSISTENCY (Konsistensi): kenyataan bahwa setiap
hasil pengukuran waktu menunjukkan yang berbeda-beda
hasil
Metode Westinghouse
Contoh

Jika diketahui Ws =124,6 detik dicapai dengan:


Ketrampilan = Fair (E1) = -0,05
Usaha =Good (C2) = 0,02
Kondisi =Excelent (B)= +0,04
Konsistensi =Poor (F) = -0,04
Jumlah Σpi = -0,03

Jadi p = (1+Σpi) = (1+(-0,03)) = 0,97


Sehingga WN = Ws x P
= 124,6 x 0,97
= 0,97 menit = 120,9 detik
Metode Objektif
 Cara yang memperhatikan 2 faktor : kecepatan
kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan
 Contoh
Bagian badan yang dipakai : C = 2
Pedal kaki : F = 0
Cara menggunakan kekuatanTangan : H = 0
Koordinasi mata dengan tangan : L = 7
Peralatan : O = 1
Berat : B – 5 = 13
Jumlah Σpi = 23
Sehingga : P2 = ( 1+ 0,23 ) atau P2 = 1,23 .

Faktor penyesuaiannya dihitung dengan :


P = P1 x P2
Jika P1 telah dinilai besarnya sama dengan 0,9 maka factor
penyesuaian untuk operator yang bersangkutan adalah :
P = 0,9 x 1,23 = 1,11
Tabel tingkat kesulitan cara
objektif
KEADAAN Simbol PENYESUAIAN

ANGGOTA BADAN TERPAKAI


Jari A 0
Pergelangan Tangan Dan Jari B 1
Lengan Bawah, Pergelangan Tangan Dan Jari C 2
Lengan Atas, Lengan Bawah dst. D 5
Badan E 8
Mengangkat Beban dari Lantai dengan Kaki E2 10

PEDAL KAKI
Tanpa Pedal, atau Satu Pedal dengan Sumbu di bawah Kaki F 0
Satu atau Dua Pedal dengan Sumbu tidak di bawah Kaki G 5

PENGGUNAAN TANGAN
Kedua tangan saling bantu atau bergantian. 0
Kedua tangan mengerjakan gerakan yang sama. H 18

H2
Tabel tingkat kesulitan cara
objektif
KEADAAN Simbol PENYESUAIAN

KOORDINASI MATA DENGAN TANGAN


Sangat sedikit. I 0
Cukup dekat. J 2
Konstan dan dekat. K 4
Sangat dekat. L 7
Lebih kecil dari 0,04 cm. M 10

PERALATAN
Dapat ditangani dengan mudah. N 0
Dengan sedikit control. O 1
Perlu control dan penekanan. P 2
Perlu penanganan hati – hati . Q 3
Mudah pecah dan patah. R 5

Kecepatan kerja: Wajar p=1


Lambat p<1
Cepat p>1
Metode Bedaux dan
Sintesa
 = cara Shumard, hanya nilai – nilai pada cara Bedaux dinyatakan dalam “ B “
( huruf pertama dari Bedaux, penemunya ) seperti misalnya 60 B atau 70 B.
 Sedangkan cara Sintesa agak berbeda dengan cara – cara lainya, dimana
dalam cara ini waktu penyelesaian setiap elemen gerakan dibandingkan dengan
harga – harga yang diperoleh dari tabel – tabel data waktu gerakan, untuk
kemudian dihitung harga rata – ratanya . Harga rata – rata inilah yang dinilai
sebagai factor penyesuaian bagi satu siklus yang bersangkutan.
 Misalkan waktu – waktu penyelesaian untuk elemen – elemen pekerjaan
pertama, kedua dan ketiga bagi suatu siklus pekerjaan adalah 17, 10 dan 32 dtk.
Dari tabel – tabel data waktu gerakan didapat untuk elemen – elemen yang
sama masing – masing 17, 12 dan 29 detik.
 Terlihat yang berbeda adalah pada elemen – elemen kedua dan ketiga, maka
untuk elemen – elemen ini perbandingannya 12/10 dan 29/32; rata – ratanya
yaitu 1,05 dijadikan factor penyesuaian untuk ketiga elemen pekerjaan tersebut
atau untuk seluruh siklus yang bersangkutan.
KELONGGARAN

 Kelonggaran adalah waktu yang diberikan untuk tiga hal,


yaitu untuk kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa lelah
dan hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindarkan
 Pemberian kelonggaran ini dimaksudkan untuk memberi
kesempatan kepada operator untuk melakukan hal – hal
yang harus dilakukannya, sehingga waktu baku yang
diperoleh dapat dikatakan data waktu kerja yang lengkap
dan mewakili sistem kerja yang diamati
 Pemberian faktor kelonggaran dan penyesuaian secara
bersama - sama, selayaknya dapat dirasakan adil (fair),
baik dari sisi operator maupun dari sisi manajemen.
KELONGGARAN UNTUK
MENGHILANGKAN RASA FATIQUE

 Berdasarkan pengalamannya pekerja dapat


mengatur kecepatan kerjanya sedemikian rupa
sehingga lambatnya gerakan – gerakan kerja
ditunjukan untuk menghilangkan rasa fatique ini.
KELONGGARAN UNTUK HAMBATAN –
HAMBATAN TAK TERHINDARKAN

Beberapa contoh kelonggaran ini:


 menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas terkait
sesuatu yang penting ketika operasi berjalan.
 melakukan penyesuaian – penyesuaian mesin.
 memperbaiki kemacetan singkat seperti mengganti alat potong
yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya.
 mengasah peralatan potong.
 mengambil alat – alat khusus atau bahan – bahan khusus dari
gudang.
 mesin berhenti karena matinya aliran listrik.
KELONGARAN DALAM
PERHITUNGAN WAKTU BAKU
 Misalkan suatu pekerjaan yang sangat ringan yang dilakukan sambil duduk
dengan gerakan – gerakan yang terbatas, membutuhkan pengawasan mata terus
– menerus dengan pencahayaan yang kurang memadai, temperature dan
kelembaban ruangan normal, sirkulasi udara baik, tidak bising.

 Dari tabel dan analisa kondisi didapat presentase kelonggaran untuk kebutuhan
pribadi dan untuk fatique sebagai berikut:
( 7 + 0 + 3 + 5 + 2,5 + 0 + 2 ) % = 19,5 %

 Jika dari sampling pekerjaan didapat bahwa kelonggaran untuk hambatan yang
tidak terhindarkan adalah 5 %, maka kelonggaran total yang harus diberikan
untuk pekerjaan itu adalah ( 19,5 + 5 ) % = 24,5 %.

 Jika waktu normalnya telah dihitung sama dengan 5,5 menit, maka waktu
bakunya adalah : 5,5 + 0,245 (5,5) = 6,85 menit
 WS

 Wn = Ws x P

 Wb = Wn + L
= Wn + (Wn x l)
= Wn (1+l)
Dimana:
L = Waktu Kelonggaran
L = % kelonggaran

Anda mungkin juga menyukai