0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
172 tayangan100 halaman

Panduan Penggunaan Huruf dalam Penulisan

1. Huruf kapital, miring, dan tebal digunakan untuk menekankan bagian tertentu dalam tulisan. 2. Huruf kapital digunakan untuk menulis huruf awal nama orang, gelar, tempat, dan lainnya. 3. Huruf miring digunakan untuk menulis judul buku dan majalah, serta kata asing. 4. Huruf tebal digunakan untuk menekankan bagian yang sudah ditulis miring.

Diunggah oleh

RINA BRIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
172 tayangan100 halaman

Panduan Penggunaan Huruf dalam Penulisan

1. Huruf kapital, miring, dan tebal digunakan untuk menekankan bagian tertentu dalam tulisan. 2. Huruf kapital digunakan untuk menulis huruf awal nama orang, gelar, tempat, dan lainnya. 3. Huruf miring digunakan untuk menulis judul buku dan majalah, serta kata asing. 4. Huruf tebal digunakan untuk menekankan bagian yang sudah ditulis miring.

Diunggah oleh

RINA BRIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pemakaian Huruf Kapital,

Huruf Miring dan Huruf


Tebal

1
Huruf Kapital
1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.(cukup jelas)
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.
Misalnya: Susilo Bambang Yudoyono Markus Sasi
Rudolf Diesel Mujair
Dewa Pedang Ayam Jantan dari Timur
Catatan:
Jika nama orang seperti Diesel, Mujair, dan Ampere dipakai untuk nama
benda atau satuan, maka ditulis dengan huruf kecil, misalnya mesin diesel,
ikan mujair, dan lima ampere.

Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna
‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini Siti Fatimah binti Salim
Indani boru Sitanggang Charles Adriaan van Ophuijsen
Ayam Jantan dari Timur 2
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan

langsung.
Misalnya:

Kata ibu, “Besok pagi dia akan berangkat.”

“Besok pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat.”

Pada kalimat pertama, kata dia ditulis dengan huruf


kecil karena tidak mengawali petikan langsung, tetapi
lanjutan dari frase besok pagi seperti pada kalimat
kedua.
3
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap
kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk
sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:
Katolik Alkitab
Yang Mahakuasa Yang Maha
Pengasih
Allah akan menunjukkan jalan kepada
hamba-Nya.

4
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama
gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang
diikuti nama orang termasuk gelar akademik yang
diikuti nama orang.
Misalnya:
Sultan Hasanuddin, Haji Agus, Raden Ajeng Kartini,
Doktor Mohammad Hatta
Bandingkan!
Tahun ini ia pergi naik haji.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar


kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama
jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
Selamat datang, Yang Mulia.
Selamat pagi, Dokter
5
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur
nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang
atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang
tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Jusuf Kalla
Gubernur NTT
Wakil Bupati TTU
Kepala Desa Humusu

Bandingkan!
Tugas presiden tidak ringan.
Siapakah kepala desa yang baru dilantik itu?
6
[Link] kapital dipakai sebagai huruf pertama nama
bangsa, suku bangsa, dan bahasa

Misalnya:
bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris

Bandingkan!

mengindonesiakan, keinggris-inggrisan

7
[Link] kapital dipakai sebagai huruf pertama nama
tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah (yang
dipakai sebagai nama).

Misalnya:
bulan Agustus, hari Jumat, hari Natal,
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Perang Dunia II.

Bandingkan!

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan


Indonesia.
Perlombaan senjata berisiko pecahnya perang dunia.
8
[Link] kapital dipakai sebagai huruf pertama nama
geografi (yang menjadi unsur nama diri).

Misalnya:
Para pendaki itu berhasil sampai ke puncak Gunung
Mutis.
Mobil itu terseret banjir di Kali Noemuti.
Salah satu tempat wisata di TTU yang
direkomendasikan untuk didatangi adalah Pantai
Wini.

Bandingkan!
Kami berjalan-jalan di pantai.
Mereka mandi di kali.
9
[Link] kapital dipakai sebagai huruf pertama
semua unsur nama negara, lembaga, badan
organisasi atau dokumen kecuali kata
tugas seperti, di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia,
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16

Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia

Bandingkan!
Negara Ibdonesia berbentuk republik.
Beberapa badan hukum telah menangani kasusnya.
10
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua
kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di
dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul
karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang,
untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke
Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

11
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur
singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.

Misalnya:
Dr.
S. H.
S. Pd.
Tn.
Ny.
Sdr.

12
[Link] kapital dipakai sebagai huruf pertama kata
penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu,
saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam
penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.
Adik bertanya, “Itu apa Bu?”
Surat Saudara sudah saya terima.
Besok Paman akan datang.
Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

Bandingkan!
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
13
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata
ganti Anda.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima.

14
Huruf Miring

Huruf miring dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah,


dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam
dafatar pustaka.

• Misalnya:
• Saya memiliki majalah Bahasa dan Kesusastraan.
• Berita itu dimuat di surat kabar Pos Kupang.
• Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia
• Pusat Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

15
2. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau
kelompok kata dalam kalimat.

Misalnya:
Huruf terakhir kata abad ialah d bukan t.
Ia bukan menipu, tetapi ditipu.
Dia tidak diantar, tetapi mengantar.

16
3. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah
atau ungkapan asing kecuali yang telah
disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Carnicia mangostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.
Catatan:
- Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring
diberi satu garis di bawahnya.
- Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing
atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
- Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara
langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.
 

17
HURUF TEBAL

1. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian


tulisan yang sudah ditulis miring.
Misalnya:
Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak
terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia.
Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti
‘dan’.

18
2. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan
bagian- bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau
subbab. Misalnya:
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah


1.1.1 Latar Belakang
1.1.2 Masalah

19
SELESAI

20
Kaidah
Penulisan Kata
(PUEBI)

21
[Link] Dasar (cukup jelas)

[Link] Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai
dengan kata dasarnya.
Misalnya:

berjalan perbaikan sukuisme seniman


lukisan gemetar gerejawi
kamerawan

22
2. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya.
Misalnya:
adibusana infrastruktur proaktif
antarkota antibiotik biokimia
ekabahasa kosponsor mancanegara
multilateral narapidana nonkolaborasi
pascasarjanaprasejarah transmigrasi
subbagian semiprofesional mahasiswa

23
Catatan:
1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata dengan huruf awal huruf
kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
non-Indonesia, non-Jepang, anti-PKI

2) Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu


ada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf
awal kapital.
Misalnya:
Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penolong
3) Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada
nama atau sifat Tuhan, ditulis serangkai, kecuali kata esa, .
Misalnya:
Mahakuasa, Mahacinta, Maha Esa

24
C. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis menggunakan tanda hubung (-) di
antara unsur-unsurnya.

Misalnya:
anak-anak biri-biri buku-buku
cumi-cumi hati-hati kupu-kupu kuda-kuda
kura-kura

Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata (kata majemuk) ditulis dengan
mengulang unsur pertama.
Misalnya:
surat kabar → surat-surat kabar
rumah sakit → rumah-rumah sakit
kereta api → kereta-kereta api 25
D. Gabungan Kata

1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk,


termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis
terpisah.
Misalnya:
duta besar, kambing hitam, persegi panjang, orang tua,

rumah sakit jiwa.

26
[Link] kata, termasuk isilah khusus, yang
mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat
ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan
pertalian unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
buku sejarah-baru, ibu-bapak kami

Bandingkan!

buku-sejarah baru, ibu bapak-kami

27
3. Gabungan kata yang mendapat awalan atau akhiran
tetap ditulis terpisah.
Misalnya:
bertepuk tangan, menganak sungai, garis bawahi.
4. Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran
sekaligus, ditulis serangkai.
Misalnya:
menggarisbawahi, menyebarluaskan
5. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.
Misalnya:
sukarela, daripada, kacamata, kepada, segitiga,
matahari, olahraga, sukacita, manasuka.

28
[Link] Kata

[Link] kata pada kata dasar dilakukan


sebagai berikut.
[Link] di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan,
pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
  Misalnya:
  bu-ah ma-in ni-at sa-at
 
b. Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal.
  Misalnya:
pan-dai au-la sur-vei am-boi

29
c. Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan
(termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua
huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf
konsonan itu.
Misalnya:
ba-pak la-wan de-ngan
ke-nyang mu-ta-khir mu-sya-wa-rah
d. Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan
yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara
kedua huruf konsonan itu.
Misalnya:
Ap-ril cap-lok makh-luk man-di

30
e. Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau
lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi,
pemenggalannya dilakukan di antara huruf kon- sonan yang
pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya:
ul-tra in-fra ben-trok in-stru-men
Catatan:
Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi
tidak dipenggal. 
Misalnya:
bang-krut bang-sa ba-nyak ikh-las kong-res makh-
luk masy-hur sang-gup

31
2. Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan
di antara bentuk dasar dan unsur pembentuknya.
Misalnya:
ber-jalan mem-pertanggungjawabkan
mem-bantu di-ambil
per-buat me-rasakan
makan-an pergi-lah

32
Catatan:
 Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya
mengalami perubahan dilakukan seperti pada kata dasar.
Misalnya:
me-nu-tup me-ma-kai me-nya-pu
 Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada
kata dasar.
Misalnya:
ge-lem-bung ge-mu-ruh ge-ri-gi
si-nam-bung te-lun-juk

33
 Pemenggalan kata yang menyebabkan munculnya satu huruf di
awal atau akhir baris tidak dilakukan.
Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu
telah disampaikan ….
Walaupun cuma-cuma, mereka tidak mau
mengambil makanan itu.
Di bawah ini contoh kesalahan.
Beberapa pendapat mengenai masalah i-
tu telah disampaikan ….
Walaupun cuma-cuma, mereka tidak ma-
u mengambil makanan itu.

34
3. Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan
salah satu unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur
lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur
itu. Tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata
dasar.
biografi bio-grafi / bi-o-gra-fi
bio-data bio-data / bi-o-da-ta
pascapanen pasca-panen / pas-ca-pa-nen
pascasarjana pasca-sarjana / pas-ca-sar-ja-na

35
4. Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada
akhir baris dipenggal di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
Lagu “Indonesia Raya” digubah oleh Wage Rudolf
Supratman. 
5. Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf
atau lebih tidak dipenggal.
Misalnya:
Ia bekerja di DLLAJR.
Proses validasi dilakukan oleh Drs. Jack Parmin,
M. Hum.
Di bawah ini contoh kesalahan.
Proses validasi dilakukan oleh Drs. Jack Parmin, M.-
Hum.
36
F. Kata Depan
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata
yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata
yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata
seperti kepada dan daripada.

Misalnya:
di mana, di dalam, dari mana ke belakang, ke mana

Bandingkan!

Anton lebih pintar daripada kakaknya.


Surat itu ditujukan kepada Rektor Unimor.
37
[Link]

1. Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan


kata yang mendahuluinya.
Misalnya:

Bacalah buku itu baik-baik!


Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Apatah gunanya bersedih hati?

38
[Link] pun ditulis terpisah dari kata yang
mendahuluinya.

Misalnya:
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
Jangankan dua kali, sekali pun ia belum pernah
datang ke rumahku.

Bandingkan!

Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat


dijadikan pegangan.

39
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu berikut ini
ditulis serangkai, misalnya adapun, andaipun,
ataupun, bagaimanapun, kendatipun, maupun,
meskipun, sungguhpun, walaupun.

3. Partikel per yang memiliki makna mulai, demi, dan


tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang
mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.
Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
40
H. Singkatan dan Akronim

[Link] adalah bentuk yang dipendekkan yang


terdiri atas satu huruf atau lebih.

[Link] singkatan nama orang, nama gelar,


sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda
titik.
Misalnya:
A.H. Nasution Abdul Haris Nasution
H. Hamid Haji Hamid
[Link]. magister pendidikan
S.E. sarjana ekonomi
[Link]. sarjana sosial
Sdr. Saudara 41
[Link] nama resmi lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama
dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital dan
tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:

NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia


UI Universitas Indonesia
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
KUHP Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

42
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih
diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
dsb. hlm.
sda. Yth.

d. Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim


dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti
oleh tanda titik.
Misalnya:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
s.d. sampai dengan
43
[Link] kimia, singkatan satuan ukuran, takaran,
timbangan, dan mata uang tidak tidak diikuti
tanda titik.

Misalnya:
Cu kuprum
cm sentimeter
l liter
kg kilogram
Rp rupiah

44
[Link] ialah singkatan yang berupa gabungan huruf
awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata yang
diperlakukan sebagai kata.

[Link] nama diri yang berupa gabungan huruf awal


dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf
kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:
ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara

45
[Link] nama diri yang berupa gabungan suku kata
atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata
ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Kalteng Kalimantan Tengah
Suramadu Surabaya-Madura
Bulog Badan Urusan Logistik
[Link] yang bukan nama diri yang berupa
gabungan
huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku
kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf
kecil.
Misalnya:
pemilu tilang
46
I. Angka dan Bilangan
Angka arab atau angka romawi lazim dipakai
sebagai lambang bilangan.

Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
 
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, dst

47
1. Bilangan dalam teks yang dinyatakan dengan satu
atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika
dipakai secara berurutan seperti dalam perincian.
  Misalnya:

  Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.


Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15
orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.

48
2. Bilangan (terdiri tiga kata) pada awal kalimat ditulis dengan
huruf.
Misalnya:
Lima puluh satu siswa teladan mendapat beasiswa dari
pemerintah daerah.

Bandingkan!

Di sekolah itu, 51 siswa mendapatkan beasiswa dari


pemeritah.

49
3. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat
ditulis sebagian dengan huruf supaya lebih mudah
dibaca.
Misalnya:

Perusahaan itu mendapat pinjaman 250 juta rupiah.


Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu
memerlukan biaya 10 triliun rupiah.

50
4. Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat,
luas, isi, dan waktu serta (b) nilai uang.
Misalnya:

0,5 sentimeter 5 kilogram


4 hektare 10 liter
2 tahun 6 bulan 5 hari 1 jam 20 menit 
Rp5.000,00 US$3,50

51
[Link] lazim dipakai untuk menomori alamat
seperti jalan, rumah, apartemen, atau kamar.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I/15
Hotel Mahameru, Kamar 169
Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201

6. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan


dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surat Yasin: 9
Markus 1:1-10

52
[Link] lambang bilangan tingkat dapat dilakukan
dengan cara berikut ini.
Misalnya:
pada awal abad XX
pada awal abad ke-20
pada awal abad kedua puluh

[Link] lambang bilangan yang mendapat akhiran


-an mengikuti cara berikut ini.
Misalnya:
tahun ’50-an
uang 5000-an
53
10. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan
dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.
Misalnya:

Setiap orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah


tiruan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana
denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan


ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.
11. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama
geografi ditulis dengan huruf. 
Misalnya:
Kelapadua
Kotonanampek
Rajaampat
Simpanglima
Tigaraksa

55
J. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai
dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
 
Rumah itu telah kujual.
Majalah ini boleh kaubaca.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
Rumahnya sedang diperbaiki.

56
K. Kata Sandang si dan sang
 
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.

Catatan:
Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan unsur nama Tuhan.
Misalnya: 
Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.
Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang
Hyang Widhi Wasa.

57
[Link] Tanda Baca
A. Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan
pertanyaan atau seruan. (cukup jelas)

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf


dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi

58
Catatan:

1. Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digi-


tal yang lebih dari satu angka.
2. Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau ang-
ka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih
dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau
gambar. 
Misalnya:
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia

59
[Link] titik dipakai untuk memisahkan angka jam,
menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Misalnya:
pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
[Link] titik dipakai untuk memisahkan angka jam,
menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya: 0.20.30 (20 menit, 30 detik)

60
5. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, tahun,
judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya
dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar
pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari.1920. Azab dan Sengsara. Jakarta:
Balai Pustaka.

61
[Link] titik dipakai untuk memisahkan bilangan
ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
[Link] titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan
ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan
jumlah.
Misalnya:
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
Dia lahir pada tahun 1996.
62
7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang
merupakan kepala karangan atau ilustrasi, tabel, dan
sebagainya.
Misalnya:
Acara Kunjungan Adam Malik
Salah Asuhan
Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda
8. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat
pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat
penerima surat. 63
Misalnya:
1. Kefamenanu, 15 Maret 2018 (tanpa titik)
2. Yth. Sdr. [Link] (tanpa titik)
Jalan Arif 43 (tanpa titik)
Palembang (tanpa titik)
B. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam
suatu perincian atau pembilangan.

64
Misalnya:
Saya memerlukan pakaian seragam, tas, dan buku.
Saya membeli map, kertas, pena dan tinta.
Satu, dua, … tiga! ,
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat
setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti
tetapi, melainkan, dan sedangkan.
Misalnya:
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
Saya memasak, sedangkan adik mencuci piring. 65
3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak
kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu
mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena sibuk, dia lupa akan janjinya.
3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak
kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu
mengikuti induk kalimatnya.
Saya akan datang kalau diundang.
Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
66
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan
penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal
kalimat, termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi,
lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, dengan
demikian, sehubungan dengan itu.
Misalnya:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia
memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.

Buku yang dikembangkan ini sangat valid, sangat


praktis, dan sangat efektif. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa buku ini berkualitas. 67
5. Tanda koma dipakai sebelum dan / sesudah kata seru,
seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dan dipakai
sebelum kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti
Dik, Dok, Bu, Nak, dll.
Misalnya:
O, begitu?
Siapa namamu, Dik?
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan
langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya:
“Saya gembira,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”
68
7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat,
(ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal,
dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang
ditulis berurutan.
Misalnya:
[Link], Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan
Kayumanis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130
Kefamenanu, 10 Mei 1960
Kefamenanu, TTU

69
8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama
yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru
Bahasa Indonesia. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam
catatan kaki.

70
Misalnya:
W.J.S. Poerwadaminta, Bahasa Indonesia untuk
Karang-Mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia,
1967), hlm. 4.

[Link] koma dipakai di antara nama orang dan gelar


akademik yang mengikutinya untuk membedakannya
dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Maria R. Talan, S.E., [Link].
71
[Link] koma dipakai di muka angka persepuluhan
atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan
dengan angka.
Misalnya:
7,50
Rp500,00
[Link] koma dipakai untuk mengapit keterangan
tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya:
Mahasiswa saya, Markus, pandai sekali. 72
[Link] koma dapat dipakaidi belakang keterangan
yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari
salah baca.
Misalnya:
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat
memanfaatkan bahasa daerah.

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

73
[Link] titik koma (;)
[Link] titik koma dapat dipakai sebagai kata
penghubung untuk memisahkan bagian-bagian
kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; ibu menulis makalah;
adik membaca cerita pendek.

74
[Link] titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa. 
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana; dan
(3) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia.
3. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian
pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda
koma. 
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus;
pisang, apel, dan jeruk.

75
[Link] Titik Dua (:)
[Link] titik dua dapat dipakai pada akhir suatu
pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau
pemerian .
Misalnya:
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga:
kursi, meja, dan lemari.
2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan
yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
Hari : Senin
Waktu : 09.00 WIB 76
3. Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian atau penjelasan itu
merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
  Misalnya:

Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari. 

Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi


a. persiapan,
b. pengumpulan data,
c. pengolahan data, dan
d. pelaporan.

77
[Link] titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah
kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
 
Misalnya:
Ibu : “Bawa koper ini, Nak!”
Amir: “Baik, Bu.”
Ibu : “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”

78
5. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan
halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii)
di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv)
nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Matius 2: 1—3
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara

79
E. Tanda Hubung (-)
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang
terpisah oleh pergantian baris. (jelas)

3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

3. Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal,


bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau
menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
 
Misalnya:
11-11-2013
p-a-n-i-t-i-a
80
4. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas
hubungan bagian kata atau ungkapan.
 
Misalnya:
ber-evolusi be-revolusi
meng-ukur me-ngukur

81
5. Tanda hubung dipakai untuk merangkai
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf
kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
b. ke- dengan angka (peringkat ke-2);
c. angka dengan –an (tahun 1950-an);
d. kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf
kapital (ber-KTP, di-SK-kan);
e. kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rahmat-
Mu);
f. huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan 
g. kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang
berupa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).

82
[Link] hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa
Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
di-smash
di-sowan-i
7. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang
menjadi objek bahasan.
  Misalnya:

Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.

Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi


pembetonan.
83
F. Tanda Pisah (−)
[Link] pisah memmbatasi penyisipan kata atau kalimat
yang memberi penjelasan di luar bagian kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu−saya yakin akan
tercapai−diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai


jika kita mau berusaha keras.

84
2. Tanda pisah menegaskan keterangan aposisi atau
keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih
jelas.
Misalnya:
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diaba-
dikan menjadi nama bandar udara internasional.
[Link] pisah dipakai di antara dua bilangan atau
tanggal dengan arti ’sampai ke’ atau ’sampai dengan’.
Misalnya:
1910−1945
Jakarta−Bandung
85
[Link] Elipsis (…)

1. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu


kalimat atau naskah ada bagian yang dihilanngkan.
Misalnya:
Sebab-sebab kemerosotan…akan diteliti lebih lanjut.

2. Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak


selesai dalam dialog.

Misalnya:
“Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?” 86
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah
kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk
menandai penghilangan teks dan satu untuk
menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan
hati hati….
H. Tanda Tanya (?)
[Link] tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.(jelas)
87
2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk
menyatakan bagian kallimat yang disangsikan atau yang
kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
I. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan
yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan
kesungguhan, ketidakpercayaan, atupun rasa emosi yang
kuat.
88
Misalnya:

Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!


Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
Masa! Dia bersikap seperti itu?
Merdeka!

89
J. Tanda Kurung ((…))
1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau
penjelasan.
Misalnya:
Dia mempertpanjang Surat Ijin Mengemudi (SIM).

2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan


yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Misalnya:
Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama
tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

90
3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang
kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya:
Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

4. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang


memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b)
tenaga kerja, dan (c) modal.
91
K. Tanda Kurung Siku ([…])
1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau
kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada
kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain.
Tanda itu menyatakan bahwa keslahan atau
kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli
Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indo-
nesia dirayakan secara khidmat.
92
2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam
kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Misalnya:
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya
dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35-38])
perlu dibentangkan di sini.
L. Tanda Petik ("…”)
1. Tanda petik mengapit, petikan langsung yang berasal
dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis
lainnya.
93
Misalnya:
“Saya belum siap,” kata Mira, "tunggu sebentar!”
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, ”Bahasa negara ialah
bahasa Indonesia.”
2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab
buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:
Bacalah “Bola Lampu”dalam buku Dari Suatu Masa,
dari Suatu Tempat.
Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku
itu.
94
3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal
atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:
“Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!

95
M. Tanda Petik Tunggal (‘…’)
1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di
dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya Basri, ”Kau dengar bunyi ’kring-kring’ tadi?”
“Kita bangga karena lagu ‘Indonesia Raya’ berkuman-
dang di arena olimpiade itu,” kata Ketua KONI.
2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau
penjelasan kata atau ungkapan asing.
Misalnya:
Feed-back ‘balikan’
96
[Link] Garis Miring
[Link] garis miring dipakai di dalam nomor surat dan
nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang

terbagi dalam dua tahun takwim atau tahun ajaran.

Misalnya:
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
Tahun anggaran 1985/1986

[Link] garis miring dipakai sebagai pengganti kata


dan, atau, dan tiap. 97
Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi
Dikirim lewat darat/laut
Harganya Rp25,00/lembar

3. Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau


kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas
kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis
orang lain.
Misalnya:
 
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa

kali.
Dia sedang menyelesaikan /h/utangnya di bank.

98
O. Tanda Penyingkat atau Apostrof ( ′ )
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian
kata atau bagian angka tahun.

Misalnya:
Ali ′ kan kusurati. ( ′ kan = akan )
1 Januari ′ 88 ( ′ 88 = 1988 )

99
Kuis

Salinlah teks di bawah ini dengan menyempurnakan ejaan!

Hingga saat ini global positioning system (gps) boleh dikatakan


sebagai hasil teknologi terbaru dalam system penentuan lokasi
system ini terdiri dari tiga segmen yaitu konstalasi satelit segmen
pengontrol dan segmen penerima jika dibandingkan dengan
satelit dopler satelit yang digunakan pada generasi sebelumnya
satelit generasi baru ini memiliki keunggulan dalam segi
ketelitian dan waktu pemakaiannya oleh sebab itu system ini
banyak dimanfaatkan untuk keperluan nafigasi dan survey
sekarang system tersebut sudah digunakan di burlington northern
nama sebuah perusahaan perkereta apian di amerika serikat

100

Anda mungkin juga menyukai