WARUGA SEBAGAI DAYA TARIK
WISATA BUDAYA DI DESA
SAWANGAN KABUPATEN MINAHASA
UTARA
Kelompok 6
Anggota Kelompok 6
Marsheila Palar- 210711010600
Stievanno Bendah- 210711010619
Jeflyn Makale- 210711010690
Marcelino Lumeno- 210711010696
Mathew Kalesaran-210711010700
Fernando Tansira- 210711010741
A. PENGERTIAN WISATA BUDAYA
Wisata budaya yang sering disebut juga dengan culture tourism
merupakan sejenis perjalanan wisata yang dibuat untuk
mengetahui bagaimana kebudayaan, cara hidup, sosial, sejarah,
adat istiadat, seni budaya, agama yang ada di suatu wilayah.
Contoh wisata kebudayaan yaitu waruga.
B. PENGERTIAN WARUGA
Waruga berasal dari dua kata “waru” yang bermakna “rumah”
dan “ruga” yang berarti “badan”. Secara harfiah, waruga berarti
“rumah tempat badan yang akan kembali ke surga”. Ketika
jenazah dimasukkan ke dalam waruga, jenazah akan berada
dalam posisi tumit yang bersentuhan dengan bagian bokong dan
mulut seolah mencium lutut.
C. SEJARAH WARUGA
Menurut sejarah, Waruga dimaknai sebagai kuburan tua peninggalan zaman dan budaya
Megalitikum yang tersebar di Sulawesi Utara. Mulanya, Waruga masuk ke Sulawesi Utara melalui
Minahasa Utara yakni daerah Likupang atau daerah-daerah sekitarnya lalu menyebar di tanah
Tonsea dan terus berkembang ke Kabupaten Minahasa, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa
Selatan dan Kabupaten Minahasa Tenggara.
Menurut beberapa penelitian arkeologi menyebutkan, kubur batu Waruga mulai dikenal sejak abad
ke-4 SM. Lalu penggunaan Waruga mulai ditinggalkan sekitar awal abad 20 M. Kini peti kubur
batu Waruga dan situsnya sebagian telah dialihkan fungsinya atau dimanfaatkan menjadi objek
pariwisata dan budaya serta situs cagar alam budaya Minahasa.
D. FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI
PERKEMBANGAN WARUGA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA
BUDAYA.
1. Faktor Internal
faktor lingkungan internal yang dimiliki Cagar Budaya Waruga yang mendukung (kekuatan)
pengembangan Cagar Budaya Waruga sebagai daya tarik wisata antara lain; keunikan peti kubur
waruga, museum waruga, potensi wisata budaya masyarakat lokal, keberagaman atraksi wisata,
serta aksesibilitas ke daya tarik wisata Cagar Budaya Waruga.
2. Faktor Eksternal
Adapun faktor eksternal yang menghambat (ancaman) pengembangan Cagar Budaya Waruga
sebagai daya tarik wisata antara lain; berkembangnya produk daya tarik wisata dalam negeri
maupun luar negeri, kuatnya pengaruh budaya Eropa terhadap masyarakat lokal, maraknya
pencurian benda-benda peninggalan purbakala dan stabilitas keamanan. Adapun sanksi untuk
pencuri Cagar Budaya sanksinya ialah pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 10
tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 250 juta dan paling banyak Rp 2,5 miliar. Hal ini diatur
dengan jelas dalam uu no. 11 tahun 2010.
E. STRATEGI DAN PROGRAM PENGEMBANGAN DALAM
MEWUJUDKAN PARIWISATA YANG BERKELANJUTAN
1. Strategi S-O (Strength-Oportunities)
• Program pemberdayaaan masyarakat lokal dalam pengem- bangan daya tarik wisata Cagar Budaya
Waruga.
• Pemberdayaan potensi seni budaya masyarakat menjadi suatu atraksi wisata.
• Perlindungan waruga sebagai daya tarik wisata
• Perlindungan waruga sebagai daya tarik wisata
• Merancang paket wisata bagi wisatawan yang mengunjungi Desa Sawangan
2. Strategi W-O (‘Weaknesses-Opportunities’)
• Perbaikan dan pembangunan toilet dan lahan parkir
• Pembangunan aula pementasan seni budaya
• Penyediaan pintu masuk ke daya tarik wisata
• Penyediaan tempat penjualan souvenir dan makan minum bagi wisatawan
• Penyediaan sarana transportasi umum
• Kerjasama dari tiap stakeholders dalam meningkatkan anggaran pengembangan daya tarik wisata
3. Strategi S-T (Strengths-Threats)
• Penyediaan pos keamanan
• Sosialisasi dalam melestarikan budaya
• Kerjasama antar stakeholder dalam melestarikan waruga
4. Strategi W-T (Weaknesses-Threats)
• Peningkatan SDM di bidang pariwisata
• Memepresiapkan generasi muda desa sawangan untuk terjun ke industri pariwisata
• Penyuluhan kepada masyarakat lokal tentang sadar wisata
• Pembentukan kelembagaan pariwisata di daya tarik wisata cagar budaya waruga.
THANK YOU