0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan97 halaman

Akta Syariah oleh Dr. Erny Kencanawati

Dokumen tersebut membahas tentang aspek hukum syariah dalam lembaga keuangan syariah seperti bank, asuransi, dan lainnya. Terdapat penjelasan mengenai prinsip syariah seperti larangan riba, maisir, gharar, dan hal-hal yang dilarang dalam syariah. Juga disebutkan mengenai akad dan sumber hukum syariah yang menjadi pedoman dalam lembaga keuangan syariah.

Diunggah oleh

Sonya Marbun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan97 halaman

Akta Syariah oleh Dr. Erny Kencanawati

Dokumen tersebut membahas tentang aspek hukum syariah dalam lembaga keuangan syariah seperti bank, asuransi, dan lainnya. Terdapat penjelasan mengenai prinsip syariah seperti larangan riba, maisir, gharar, dan hal-hal yang dilarang dalam syariah. Juga disebutkan mengenai akad dan sumber hukum syariah yang menjadi pedoman dalam lembaga keuangan syariah.

Diunggah oleh

Sonya Marbun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEKNIK PE M B U A T A N

AKTA S Y A R IA H
K E NCAN AWA TI, SH., MH.
DR. ERNY

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN


PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

ASPEK HUKUM SYARIAH
MATERI TPA SYARIAH

BAGIAN 1
AGAMA ISLAM

AKIDAH SYARIAH AKHLAQ

MUAMALA
IBADAH
H
Pendidikan,
Ekonomi,
Sosial, ASPEK LAINNYA HUKUM
Poitik, Hukum Positif
Budaya
SIYASAH
SYARIAH FAKIH
SYARIAH
Hukum yang Hukum hasil Peraturan Per-UU-an yang
ditetapkan Allah dan pemahaman ulama dibuat oleh lembaga yang
Rasulnya mujtahid berwenang
APA SAJA SUMBER HUKUM ISLAM?

 Al-quran
 As-Sunnah/Al-Hadits
Pedoman Hidup  Ijma
Bagi Umat  Ijtihad
Islam baik di  Qiyas
dunia Didukung:
 Sharia Standars AAOFI (the Accounting and Auditing Organization for Islamic
maupun di Financial Institutions
akhirat  Kompilasi Hukum Islam (KHI)
(setelah  Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES)
→  Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
kematian)  Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN)
 Fatwa Al-Irsyad
 Lainnya
SUMBER HUKUM ISLAM

I. AL-QURAN
Kitab suci umat islam. Kata-kata Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
II. AS-SUNNAH / AL-HADITS
Petunjuk Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, berisi suruhan atau larangan kepada umatnya untuk
melakukan sesuatu atau berupa perbuatan nabi dalam melakukan sesuatu, atau berupa sikap berdiam diri dari nabi
terhadap sesuatu kejadian.
III. IJMA: Metode penafsiran terhadap ketentuan Al Quran maupun As Sunnah/Al Hadits, (kesepakatan atau
konsensus universal dari para ahli)
IV. IJTIHAD: Memutuskan suatu perkara yang tidak ada hukumnya atau tidak jelas hukumnya dalam Al Quran maupun
As Sunnah/Al Hadits dengan menggunakan akal sehat dan pertimbangan yang matang, dilakukan oleh
orang yang ahli
V. QIYAS: Metode penafsiran terhadap ketentuan Al Quran maupun As Sunnah/Al Hadits (analogi).

5
AKAD

Akad Pada Umumnya


Dasar hukum akad terdapat dalam al-quran surat al-ma’idah ayat (1), yaitu:
َّ ‫ت لَ ُكم َب ِهي َم ُة ٱَأْل ْن ٰ َع ِم ِإاَّل َما ُي ْتلَ ٰى َعلَ ْي ُك ْم َغي َْر ُم ِحلِّى ٱل‬
‫ص ْي ِد َوَأن ُت ْم ُح ُر ٌم ۗ ِإنَّ ٱهَّلل َ َيحْ ُك ُم َما ي ُِري ُد‬ َ ‫ٰ َٓيَأ ُّي َها ٱلَّ ِذ‬
ْ َّ‫ين َءا َم ُن ٓو ۟ا َأ ْوفُو ۟ا\ ِب ْٱل ُعقُو ِد ۚ ُأ ِحل‬
Arab-latin: yā ayyuhallażīna āmanū aufụ bil-'uqụd, uḥillat lakum bahīmatul-an'āmi illā mā yutlā 'alaikum gaira muḥilliṣ-
ṣaidi wa antum ḥurum, innallāha yaḥkumu mā yurīd terjemah
Artinya: hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan
dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.
Sesungguhnya allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-nya”,
Al-quran surat al-ma’idah ayat (1), syaikh muhammad at-tamimi, kitab tauhid pemurnian ibadah kepada allah,
(jakarta: darul haq, 2016), hlm.190 yang diterjemahkan dari buku kitab at-tauhid al-ladzi huwa haqqullah ‘ala al-abid,
(riyadh: ar-ri asah al-ammah li idarat al-buhuts al-ilmiyah wa al-ifta wa al-irsyad, 1401 H), al-quran surat an-nahl ayat 91.

6
Maksud dari penuhilah janji-janji. Dan juga dijelaskan tentang jaminan allah dan jaminan nabinya (dalam
perjanjian) serta hal tersebut sebagaimana dalam firman allah SWT yang menyatakan bahwa: dan
tepatilah perjanjian dengan allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-
sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan allah sebagai saksimu
(terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
AKAD

Menurut undang-undang perbankan syariah. Akad adalah kesepakatan tertulis antara bank
syariah atau UUS dan pihak lain yang memuat adanya hak dan kewajiban bagi masing-
masing pihak sesuai dengan prinsip syariah (pasal 1 ayat (13) UU perbankan syariah)
Menurut kompilasi hukum ekonomi syariah. Akad adalah kesepakatan dalam suatu
perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk melakukan dan atau tidak melakukan perbuatan
hukum tertentu (pasal 20 angka 1 buku II tentang akad, bab I ketentuan umum, peraturan
mahkamah agung republik indonesia nomor: 02 tahun 2008 tentang kompilasi hukum ekonomi
syari'ah).

8
“ EKONOMI SYARIAH
DALAM LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
(BANK, NON BANK, MULTI FINANCE, LAINNYA)

MATERI TPA SYARIAH



BAGIAN 2
Dasar Hukum Akad Syariah
Dalam Perbankan Syariah

• Undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah


• Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES)
• Kompilasi Hukum Islam (KHI)
• Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (fatwa DSN-MUI), saat ini berjumlah + 120 fatwa
DSN-MUI (terus bertambah)
• Peraturan Bank Indonesia
• Peraturan OJK
• UUJN
• Sharia standars AAOFI (The Accounting And Auditing Organization for Islamic Financial Institutions)
• Fatwa Al-Irsyad
• Lainnya : Peraturan Jabatan PPAT
Perkaban Nomor 8 Tahun 2012

10
PERBANDINGAN BANK KONVENSIONAL & BANK SYARIAH
Topik Bank Konvensional Bank Syariah
1. Akad dan aspek 1. Hukum positif 1. Hukum islam dan hukum
legailitas 2. BANI/Pengadilan positif
2. Lembaga Negeri 2. BASYARNAS/peradilan
Penyelesaian 3. Tidak ada Dewan agama
Sengketa Syariah Nasional 3. Dewan syariah nasional
3. Struktur (DSN) dan Dewan (DSN) dan dewan
Organisasi Pengawas Syariah pengawas syariah (DPS)
4. Investasi (DPS)
4. Halal
5. Prinsip 4. Halal dan haram
Operasional 5. Bagi hasil, jual beli, sewa
5. Bunga (interest)
6. Tujuan 6. Profit dan falah oriented
7. Hubungan 6. Profit oriented
7. Kemitraan
Nasabah 7. Debitor-kreditor

11
PRINSIP SYARIAH
Kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur R, G, M, H, Z
(Penjelasan Pasal 2 UUPS)

Riba

Maisir Gharar

Haram Zalim
PRINSIP SYARIAH

Kegiatan usaha yang berasaskan prinsip syariah, antara lain, adalah kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur:
a. riba, yaitu penambahan pendapatan secara tidak sah (batil) antara lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak
sama kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (fadhl), atau dalam transaksi pinjam-meminjam yang mempersyaratkan
nasabah penerima fasilitas mengembalikan dana yang diterima melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu (nasi’ah);
b. maisir, yaitu transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak pasti dan bersifat untung-untungan;
c. gharar, yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada
saat transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah;
d. haram, yaitu transaksi yang objeknya dilarang dalam syariah; atau
e. zalim, yaitu transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihak lainnya
Penjelasan Pasal 2 UU Perbankan Syariah

13
PERUSAHAAN EKONOMI SYARIAH
MINIMAL ADA 11 (SEBELAS)
• 1. Bank Syariah
• 2. Lembaga Keuangan Mikro Syari'ah (LKMS)
1 -2

• 3. Asuransi Syari'ah
3-4 • 4. Reasuransi Syari'ah

• 5. Reksa Dana Syari'ah


• [Link] Syari'ah dan Surat Berharga Berjangka Menengah
5-6 Syari'ah
7. Sekuritas Syari’ah
8. Pembiayaan Syari'ah
7-8

• 9. Pegadaian Syari'ah
9-10 • 10. Dana Pensiun Lembaga Keuangan Syari'ah (DPLKS)

• 11. Bisnis Syari'ah (semua bisnis dengan mengacu pada prinsip syariah).
11 dan • Lainnya
LAINNYA

PENJELASAN PASAL 49 HURUF i UU Peradilan Agama


UU PERBANKAN SYARIAH NOMOR 21 TAHUN 2008
TENTANG PERBANKAN SYARIAH

1. Bab I Ketentuan Umum


2. Bab II Asas, Tujuan dan Fungsi
3. Bab III Perizinan, bentuk badan hukum, anggaran dasar dan
kepemilikan
4. Bab IV Jenis dan Kegiatan Usaha
Isi UU Perbankan 5. BAB V Pemegang saham pengendali, dewan komisaris, dewan
Syariah secara
pengawas syariah, direksi dan tenaga kerja asing.
Umum
6. Bab VI Tata kelola, prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko
perbankan syariah
7. Bab VII Rahasia Bank
8. BAB VIII Pembinaan dan Pengawasan
9. BAB IX Penyelesaian Sengketa
10. BAB X Sanksi Administratif
11. BAB XI Ketentuan Pidana
12. BAB XII Ketentuan Peralihan
13. Bab XIII Ketentuan Penutup
“ AKAD & PRODUK
BANK SYARIAH
MATERI TPA SYARIAH

BAGIAN 3
SISTEM BUNGA VS BAGI HASIL
No BUNGA BAGI HASIL
1 Penentuan Bunga pada waktu akad dengan asumsi usaha Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil disepakati pada
akan selalu menghasilkan keuntungan waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi

2 Besarnya persentase didasarkan pada jumlah/modal yang Besarnya rasio bagi hasil didasarkan pada jumlah keuntungan
dipinjamkan yang diperoleh

3 Bunga dapat mengembang/variabel dan besarnya naik Rasio bagi hasil tetap tidak berubah selama akad masih berlaku,
turun sesuai dengan naik turunnya bunga patokan atau kecuali diubah atas kesepakatan bersama.
kondisi ekonomi
Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa
4 pertimbangan apakah usaha yang dijalankan peminjam Bagi hasil bergantung pada keuntungan usaha yang dijalankan.
untung atau rugi Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama.
Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan
5 Jumlah pembayaran bunga tidak meningkatkan sekalipun keuntungan
keuntungan naik berlipat ganda
6 Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.
semua agama.

18
AKAD BANK SYARIAH

A. Akad pola titipan


1. Titipan wadi’ah yad amanah adalah titipan murni dari pihak penitip (muwaddi’) yang mempunyai
barang/aset kepada pihak penyimpan (mustawda’)
2. Titipan wadi’ah yad dhamanah (tangan penanggung) adalah pihak penyimpan bertanggungjawab atas
segala kerusakan atau kehilangan yang terjadi pada barang/aset titipan.

B. Akad pola pinjaman


Pinjaman qardh adalah pinjaman kebajikan/lunak tanpa imbalan, biasanya untuk pembelian barang
fungible (dapat diperkirakan berat ukuran jumlah).

C. Akad pola bagi hasil


3. Musyarakah adalah akad bagi hasil ketika dua/lebih penguasaha pemilik dana/modal bekerjasama
sebagai mitra usaha, membiayai investasi usaha baru atau yang sudah jalan.
4. Mudharabah(penanaman modal) adalah penyerahan modal uang kepada orang yang berniaga
sehingga ia mendapatkan persentase keuntungan.
5. Muzara’ah adalah kerjasama pengolahan pertanian antara19pemilik lahan dan penggarap
4. Muzaqah adalah bentuk sederhana dari muzara’ah dimana si penggarap hanya bertanggung jawab
atas penyiraman dan pemeliharaan dan si penggarap berhak atas nisbah dari hasil panen sebagai
imbalannya.

D. Akad pola jual beli


1. Bai’ adalah suatu pertukaran (exchanging) antara suatu komoditas dengan uang atau antara
komoditas dan komoditas lain.
2. Murabahah adalah suatu bentuk jual beli tertentu ketika penjual menyatakan biaya perolehan
barang, meliputi harga barang dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk memperoleh barang
tersebut dan tingkat keuntungan (margin) yang diinginkan.
3. Salam adalah bentuk jual beli dengan pembayaran di muka dan penyerahan barang di kemudian
hari dengan harga, spesifikasi, jumlah, kualitas, tanggal dan tempat penyerahan yang jelas serta
disepakati sebelumnya dalam perjanjian.
4. Istishna adalah memesan kepada perusahaan untuk memproduksi barang atau komoditas tertentu
untuk pembeli/pemesan.
5. Bai’ bithaman ajil adalah jual-beli barang dengan pembayaran dicicil.
20
7. Bai’ inah adalah jenis jual beli dimana pembeli membeli barang secara dicicil lalu barang
tersebut dijual kembali ke penjual dengan harga rendah.
8. Bai’ bithaman al-muajjal adalah jual-beli dengan pemberian barang diberikan dimuka
dan pembayaran dilakukan dikemudian hari.
9. Tawarruq adalah jenis jual beli pembeli membeli barang secara dicicil lalu barang
tersebut dijual kembali ke pihak ketiga (bukan penjual asal) dengan harga rendah.
10. Musawamah adalah jenis jual beli sebagaimana dikenal dalam kehidupan sehari-hari
yaitu penjual dan pembeli melakukan negosiasi harga.

E. Akad pola sewa


11. Ijarah (sewa)
12. Ijarah muntahiya bittamlik adalah transaksi sewa dengan perjanjian untuk
menjual/menghibahkan objek sewa di akhir periode sehingga ini diakhiri dengan alih
kepemilikan objek sewa.

21
F. Akad pola lainnya
1. Wakalah (perwakilan)
2. Kafalah adalah mengalihkan tanggungjawab seseorang kepada orang lain dengan imbalan.
3. Hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berhutang kepada orang lain wajib
menanggungnya.
4. Rahn (pelimpahan kekuasaan)
5. Sharf adalah jual beli suatu valuta dengan valuta lain.
6. Ujr (upah) adalah imbalan yang diberikan/diminta atas suatu pekerjaan yang dilakukan.
7. Ju’alah adalah perjanjian(kontrak) penugasan pekerjaan antar seseorang pemberi tugas
(ja’il) yang mengikat diri untuk memberikan imbalan (ju’al) kepada orang lain (penerima
tugas) karena bersedia atau telah berhasil melaksanakan tugas tertentu yang diberikan
oleh ja’il.
22
PRODUK BANK SYARIAH
Pendanaan Pembiayaan Jasa Perbankan Sosial
1. Pola Titipan 1. Pola Bagi Hasil 1. Pola Lainnya Pola Pinjaman
- Wadiah yad Dhamanah - Mudharabah - Wakalah, Kafalah, -Qardhul Hasan
(Giro, Tabungan) - Musyarakah Hawalah, Rahn, Ujr, Sharf ( ( Pinjaman Kebajikan)
2. Pola Pinjaman (Investment Financing) Jasa Keuangan)
- Qardh (Giro, Tabungan) 2. Pola Jual Beli 2. Pola Titipan
3. Pola Bagi Hasil - Murabahah - Wadi’ah yad Amanah
- Mudharabah Mutlaqah - Musyarakah (Jasa Non Keuangan)
- Mudharabah Muqayyadah - Salam 3. Pola Bagi Hasil
(executing) - Istishna - Mudharabah Muqayyadah
(Tabungan, Deposito, (Trade Financing) ( Channeling)
Investasi, Obligasi) 3. Pola Sewa ( Jasa keagenan)
- Ijarah
- Ijarah wa Iqtina
(Trade Financing)
4. Pola Pinjaman
- Qardh (Talangan)

23
[Link] pendanaan
1. Pendanaan dengan prinsip wadi’ah (titipan)
[Link] wadi’ah
[Link] wadi’ah
2. Pendanaan dengan prinsip qardh (pinjaman)
c. Giro qardh
d. Tabungan qardh
3. Pendanaan dengan prinsip mudharabah (bagi hasil)
e. Tabungan mudharabah
f. Deposit/investasi umum (tidak terikat)
g. Deposit/investasi khusus (terikat)
h. Sukuk al-mudharabah
4. Pendanaan dengan prinsip ijarah (sewa)
- Sukuk al-ijarah

24
B. Produk Pembiayaan

1. Pembiayaan Modal Kerja


a. Bagi hasil
b. Jual beli
2. Pembiayaan Investasi
c. Bagi hasil
d. Jual beli
e. Sewa
3. Pembiayaan Aneka Barang, Perumahan dan Properti
f. Bagi hasil
g. Jual beli
h. Sewa
4. Produk Jasa Perbankan

25
PRODUK JASA PERBANKAN
No Produk Prinsip
Jasa Keuangan
1 Dana Talangan Qardh
2 Anjak Piutang Hiwalah
3 L/C, Transfer, Inkaso, Kliring, RTGS dsb Wakalah
4 Jual beli valuta asing Sharf
5 Gadai Rahn
6 Payroll Ujr/Wakalah
7 Bank garansi Kafalah
Jasa Non Keuangan
8 Safe Deposit Box Wadiah yadd amanah/Ujr
Jasa Keagenan
9 Investasi Terikat (channeling) Mudharabah muqayyadah
Kegiatan Sosial
10 Pinjaman Sosial Qardul Hasan

26
“ TEKNIK PEMBUATAN AKTA
MENURUT
UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS
MATERU TPA SYARIAH

BAGIAN 4
TEKNIK PEMBUATAN AKTA (TPA)
TPA TPA
TPA
PPAT PEJABAT
NOTARIS
LELANG
PJ PPAT-
UUJN
PERKABAN PMK

TPA SYARIAH
TPA SYARIAH TPA SYARIAH PEJABAT
NOTARIS PPAT LELANG
AL-QURAN- AL-QURAN-
AL-QURAN-
AS-SUNNAH, AS-SUNNAH,
KHES, FATWA AS-SUNNAH,
KHES, FATWA,
PJ PPAT- KHES, FATWA &
UUJN
PERKABAN PMK
CONTOH AKTA

MENURUT UUJN
Awal Akta/Kepala Akta

SISTEMATIKA
Badan Akta
AKTA
NOTARIS

Akhir Akta/Penutup Akta


SISTEMATIKA AKTA NOTARIS
MENURUT UUJN

Setiap AKTA terdiri atas :


1. Awal Akta atau Kepala Akta;
2. Badan Akta;
3. Akhir atau Penutup Akta.
AKTA-PASAL 38

Setiap Akta Terdiri Atas:


• Awal Akta Atau Kepala Akta;
• Badan Akta;
• Akhir Atau Penutup Akta.

• Akta Notaris Pengganti dan Pejabat Sementara Notaris, Selain memuat ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), juga memuat nomor dan tanggal penetapan pengangkatan, serta
pejabat yang mengangkatnya.
 
CONTOH AWAL AKTA
1. Awal Akta/Kepala Akta
 Menguraikan jam lebih dahulu (sesuai dengan
ketentuan dan urutan dalam pasal 38 UUJN,
sesuai dalam praktik dan kebiasaan)
Awal Akta atau Kepala Akta memuat :

• Judul akta;
ATAU
• Nomor akta;

• Jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun;


dan
Menguraikan hari lebih dahulu (sesuai uujn dan
dilakukan dalam praktik dan kebiasaan
• Nama lengkap dan tempat kedudukan
notaris.
SESUAI URUTAN DALAM PASAL 38 UUJN,
(SESUAI PRAKTIK DAN KEBIASAAN)

AKAD AL MURABAHAH
Nomor:-1- Tidak pakai huruf dan agar
diberi tanda – (setrip)
Halaman
buat-Pada hari ini, Sabtu, tanggal 14-03-2020 (empatbelas maret duaribu duapuluh). ------------
i
renvo-Pukul 11.00 WIBB (Sebelas nol-nol Waktu Indonesia Bagian Barat). ------------------------------
-Berhadapan dengan Saya, Doktor Erny Kencanawati, Sarjana Hukum, Magister ------------
Hukum, Notaris di Kota Bandung, dengan dihadiri oleh saksi-saksi yang saya, notaris, kenal dan
nama-namanya akan disebutkan pada bagian akhir akta ini : ---------------------------------
PENJELASAN KEPALA AKTA-PENTING!
 Judul Akta (UUJN Pasal 38), sesuaikan dengan akta atau akad yang dibuat dan ditandatangani.
 Nomor Akta (UUJN Pasal 38), akta notaris menggunakan nomor urut per bulan
 Jam, Hari, Tanggal, Bulan, Tahun (UUJN Pasal 38)
 Dahulukan angka kemudian diikuti dengan huruf, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, yaitu:

1) Akta notaris dituliskan dengan jelas dalam hubungan satu sama lain yang tidak terputus-putus
dan tidak menggunakan singkatan.
2) Ruang dan sela kosong dalam akta digaris dengan jelas sebelum akta ditandatangani, kecuali
untuk akta yang dicetak dalam bentuk formulir berdasarkan peraturan perundang-undangan.
3) Semua bilangan untuk menentukan banyaknya atau jumlahnya sesuatu yang disebut dalam
akta, penyebutan tanggal, bulan, dan tahun dinyatakan dengan huruf dan harus
didahului dengan angka.
4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi surat
PENJELASAN KEPALA AKTA-PENTING!

 Nama Notaris Dan Tempat Kedudukan Notaris, tempat kedudukan


notaris yaitu kabupaten atau kota, gunakan nama kabupaten atau
kotanya. berbeda dengan wilayah jabatan, yaitu provinsi, contohnya
provinsi daerah khusus ibu kota jakarta.
Isi dari Pasal 38 ayat (2), yaitu: Awal Akta atau Kepala Akta memuat:
a. Judul Akta;
b. Nomor Akta;
c. Jam, Hari, Tanggal, Bulan, dan Tahun; dan
d. Nama lengkap dan tempat kedudukan notaris.
CONTOH BADAN AKTA
- Tuan Achmad, lahir di Jakarta, pada tanggal 10-
2. Badan Akta 01-1985 (sepuluh januari seribu ----------
Pasal 38 sembilanratus delapanpuluh lima), Warga---
Halaman Negara Indonesia, Swasta, bertempat -------
buat tinggal di Kota ……, Jalan ………………, Rukun
Badan Akta memuat : renvoi
Tetangga …., Rukun Warga …., Kelurahan---
•Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, kewarganegaraan,
……….., Kecamatan ………., Pemegang Kartu
pekerjaan, jabatan, kedudukan, tempat tinggal para penghadap
dan/atau orang yang mereka wakili;
Tanda Penduduk/Nomor Induk----------------
•Keterangan mengenai kedudukan bertindak penghadap; Kependudukan :………………., dikeluarkan---- oleh
•Isi akta yang merupakan kehendak dan keinginan dari pihak yang Dinas Kependudukan Kota …………------ tanggal
berkepentingan;
…… bulan… tahun, yang berlaku --- seumur
•Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, serta pekerjaan, jabatan,
kedudukan, dan tempat tinggal dari tiap-tiap saksi pengenal. hidup.------------------------------------
Contoh Badan Akta

- Menurut keterangannya untuk tindakan hukum dalam akta ini telah-------------


memperoleh persetujuan dari Isteri satu-satunya yang sah, yaitu : ------------------------
-Nyonya Zaenab, lahir di Jakarta, pada tanggal 09-01-1995 (sembilan januari seribu--
Halaman sembilan ratus sembilan puluh lima), Warga Negara Indonesia, Ibu Rumah Tangga,---
buat bertempat tinggal sama dengan suaminya penghadap tersebut di atas, yaitu di --------
renvoi Kota ….., Jalan ……………………, Rukun Tetangga …., Rukun Warga …., Kelurahan-------
……….., Kecamatan ………., pemegang Kartu Tanda Penduduk/Nomor Induk-------------
Kependudukan :………………., dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Kota ………………… tanggal ……bulan … tahun, yang berlaku Seumur Hidup,-------------
yang turut pula hadir dihadapan saya, Notaris untuk menandatangani akta ini sebagai
tanda persetujuannya;-----------------------------------------------------------------------------
- Untuk selanjutnya disebut sebagai “Nasabah” ---------------------------------------------

dan seterusnya (sesuaikan dengan kasus)--------------------------------------


------------------------------------ DEMIKIAN AKTA INI -------------------------------
- Dibuat dan ditandatangani di Kota Administrasi Jakarta Barat, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta, pada jam, hari, tanggal, bulan, tahun sebagaimana
disebutkan pada bagian awal akta, dengan dihadiri oleh:------------------------
3. Akhir atau Penutup Akta 1. Tuan Ali, lahir di Jakarta, pada tanggal 10-01-1999 (sepuluh Januari seribu
Pasal 38 sembilan ratu sembilan puluh sembilan), Karyawan Swasta, bertempat
tinggal di Kota Jakarta Barat, Jalan…………………………, Rukun Tetangga ….,
Rukun Warga …., Kelurahan ……….., Kecamatan ………., Pemegang Kartu
Akhir Atau Penutup Akta Memuat: Tanda Penduduk/Nomor Induk Kependudukan : ……….. dikeluarkan oleh
Halaman
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota …, tanggal …… bulan… tahun,
buat
•Uraian tentang pembacaan akta sebagaimana renvoi
yang berlaku sampai dengan seumur hidup.---------------------------------------
dimaksud dalam pasal 16 ayat (1) huruf m atau pasal 2. Tuan Abdulah, lahir di Jakarta, pada tanggal 11-01-1998 (sebelas januari
seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan), Karyawan Swasta,
16 ayat (7);
bertempat tinggal di Kota ….. , Jalan…………………………, Rukun Tetangga
•Uraian tentang penandatanganan dan tempat …., Rukun Warga …., Kelurahan……….., Kecamatan ………., Kota Bogor,
penandatanganan atau penerjemahan akta jika ada;
Pemegang Kartu Tanda Penduduk/Nomor Induk Kependudukan …………….,
•Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota …………,
jabatan, kedudukan, dan tempat tinggal dari tiap-tiap tanggal …… bulan … tahun ....., yang berlaku sampai dengan seumur
saksi akta; hidup;------------------------------
•Uraian tentang tidak adanya perubahan yang terjadi -untuk sementara berada di Kota Administrasi Jakarta Barat. ----------------------
dalam pembuatan akta atau uraian tentang adanya - Keduanya pegawai saya, Notaris, sebagai saksi-saksi. ------------------------------
perubahan yang dapat berupa penambahan, - Segera setelah akta ini dibacakan oleh saya, Notaris kepada para penghadap
pencoretan, atau penggantian serta jumlah dan saksi-saksi, pada saat itu juga para penghadap membubuhkan sidik jari
perubahannya. pada lembaran tersendiri yang dilekatkan dalam minuta akta ini dan akta ini
ditandatangani oleh para penghadap, saksi-saksi dan saya, Notaris.--------------
“ TEKNIK PEMBUATAN AKTA
MENURUT
SYARIAH
MATERI TPA SYARIAH

BAGIAN 5
DASAR
PEMBUATAN
AKTA
NOTARIS/PPAT Al-Quran

As-Sunnah/Al-Hadits

Ijma/Ijtihad/Qiyas/Lainnya

Fatwa MUI/DSN

UUJN/PJ PPAT

PERKABAN
GUNAKAN:
Apakah wajib
menggunakan  ISTILAH SYARIAH atau
Bahasa Arab atau
Istilah Syariah?  ISTILAH SYARIAH DAN
PADANANNYA atau
 ISTILAH UMUM (jika belum ada
yang pas padanannya)
ISTILAH ADA
DALAM
KHES BUKU II

KONVENSIONAL SYARIAH
1. Akta/Perjanjian/Kesepakatan 1. Akad
2. Jual Beli 2. Bai
3. Sewa Menyewa 3. Ijarah
PENGGUNAAN ISTILAH
BANK KONVENSIONAL BANK SYARIAH
• Akta • Akad
• Kredit • Pembiayaan
• Debitur • Nasabah
• Perjanjian Kredit • Akad Pembiayaan
• Akta Sewa Menyewa • Akad Ijarah
• Perjanjian Utang Piutang • Akad Qardh
• Lainnya • Lainnya
CONTOH AKTA

MENURUT SYARIAH
Awal Akta/Kepala Akta

Kalimat Bismillahirrohmanirrohim
Dalil Al-Quran atau As-Sunnah/Al-Hadits
Atau doa’doa

SISTEMATIKA
AKTA Badan Akta
NOTARIS
SYARIAH
Kalimat Alhamdulillahirobilalamin
Atau doa-doa

Akhir Akta/Penutup Akta


Kalimat Bismillahirrohmanirrohim
Dalil Al-Quran atau As-Sunnah/Al-Hadits
Atau doa’doa

Dibuat W
Halaman A
Tersendiri R
(sebagai K
warkah) A
H

Kalimat Bismillahirrohmanirrohim
Dalil Al-Quran atau As-Sunnah/Al-Hadits
Atau doa’doa
SISTEMATIKA AKTA NOTARIS
MENURUT SYARIAH

Setiap AKTA terdiri atas :


1. Awal Akta atau Kepala Akta;
2. Badan Akta;
3. Akhir atau Penutup Akta.
AKTA-PASAL 38

Setiap Akta Terdiri Atas:


• Awal Akta Atau Kepala Akta;
• Badan Akta;
• Akhir Atau Penutup Akta.

• Akta Notaris Pengganti dan Pejabat Sementara Notaris, Selain memuat ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), juga memuat nomor dan tanggal penetapan pengangkatan, serta
pejabat yang mengangkatnya.
 
“ CONTOH KEPALA AKTA, BADAN
AKTA, AKHIR AKTA
MENURUT SYARIAH
MATERI TPA SYARIAH

BAGIAN 6
CONTOH AWAL AKTA
1. Awal Akta/Kepala Akta
 Menguraikan jam lebih dahulu (sesuai dengan
ketentuan dan urutan dalam pasal 38 UUJN,
sesuai dalam praktik dan kebiasaan)
Awal Akta atau Kepala Akta memuat :

• Judul akta;
ATAU
• Nomor akta;

• Jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun;


dan
Menguraikan hari lebih dahulu (sesuai uujn dan
dilakukan dalam praktik dan kebiasaan
• Nama lengkap dan tempat kedudukan
notaris.
JAM LEBIH DAHULU (SESUAI URUTAN DALAM PASAL 38 UUJN,
SESUAI PRAKTIK DAN KEBIASAAN)

Ingat
Prinsip
Syariah

Tidak pakai huruf dan agar


AKAD PEMBIAYAAN MURABAHAH diberi tanda – (setrip)

Halaman Nomor:-1-
buat -Pada Jam 10.00 WIB (Sepuluh Waktu Indonesia Barat), hari ini,
renvoi
Senin, tanggal 5-10-2017 (lima oktober dua ribu tujuh
belas).----
-Berhadapan dengan saya, Doktor Erny Kencanawati, Sarjana
Hukum, Magister Hukum, Notaris di Kota Bandung, dengan
dihadiri oleh saksi-saksi yang saya, Notaris, kenal dan nama-
namanya akan disebutkan pada bagian akhir akta ini : -------------
HARI LEBIH DAHULU (DILAKUKAN DALAM PRAKTIK DAN
KEBIASAAN)

Ingat
Prinsip
Syaria Tidak pakai huruf dan agar
h diberi tanda – (setrip)

AKAD PEMBIAYAAN IJARAH


Halaman Nomor:-1-
buat
renvoi
- Pada hari ini, Senin, tanggal 5-10-2017 (lima Oktober dua ribu tujuh
belas), jam 10.00 WIB (sepuluh Waktu Indonesia Barat), ----------------------
- Berhadapan dengan saya, Doktor Erny Kencanawati, Sarjana Hukum,
Magister Hukum, Notaris di Kota Bandung, dengan dihadiri oleh saksi-
saksi yang saya, Notaris, kenal dan nama-namanya akan disebutkan pada
bagian akhir akta ini : -------------------------------------------------------------------
Penjelasan

Judul Akta (UUJN pasal 38), sesuaikan dengan akta atau akad yang dibuat dan ditandatangani.
Nomor Akta (UUJN pasal 38), akta notaris menggunakan nomor urut per bulan
Jam, hari, tanggal, bulan, tahun (UUJN pasal 38)
Dahulukan angka kemudian diikuti dengan huruf, sebagaimana dimaksud dalam pasal 42, yaitu:
1) Akta notaris dituliskan dengan jelas dalam hubungan satu sama lain yang tidak terputus-putus dan tidak menggunakan singkatan.
2) Ruang dan sela kosong dalam akta digaris dengan jelas sebelum akta ditandatangani, kecuali untuk akta yang dicetak dalam bentuk
formulir berdasarkan peraturan perundang-undangan.
3) Semua bilangan untuk menentukan banyaknya atau jumlahnya sesuatu yang disebut dalam akta, penyebutan tanggal, bulan, dan tahun
dinyatakan dengan huruf dan harus didahului dengan angka.
4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi surat kuasa yang belum menyebutkan nama penerima kuasa.
Nama Notaris Dan Tempat Kedudukan Notaris, tempat kedudukan notaris yaitu kabupaten atau kota, gunakan nama kabupaten atau kotanya.
Berbeda dengan wilayah jabatan, yaitu provinsi, contohnya provinsi daerah khusus ibu kota jakarta. Isi dari pasal 38 ayat (2), yaitu: awal akta
atau kepala akta memuat:
a. Judul Akta;
B. Nomor Akta;
C. Jam, Hari, Tanggal, Bulan, Dan Tahun; dan
D. Nama Lengkap Dan Tempat Kedudukan Notaris.
Ingat
Prinsip
Syariah CONTOH BADAN AKTA
2. Badan Akta - Pasal 38
I. Tuan Achmad, lahir di Jakarta, pada tanggal -------------- 10-
Badan Akta memuat : 01-1985 (sepuluh januari seribu sembilan ratus------ delapan
Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir,
puluh lima), Warga Negara Indonesia,------------ wiraswasta,
kewarganegaraan, pekerjaan, jabatan,
Halaman bertempat tinggal di Kota Bandung,---------- Jalan ………………………,
kedudukan, tempat tinggal para penghadap
buat
dan/atau orang yang mereka wakili; Rukun Tetangga …., Rukun Warga …., Kelurahan ………..,
renvoi
Keterangan mengenai kedudukan bertindak Kecamatan ………., Pemegang Kartu Tanda Penduduk/Nomor
penghadap;
Induk Kependudukan …………., dikeluarkan oleh Dinas
Isi akta yang merupakan kehendak dan
Kependudukan dan Catatan Sipil Kota ……., tanggal …… bulan…
keinginan dari pihak yang berkepentingan;
Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, tahun, yang berlaku-------- seumur
serta pekerjaan, jabatan, kedudukan, dan hidup;-------------------------------------------------------
tempat tinggal dari tiap-tiap saksi pengenal.
CONTOH BADAN AKTA Ingat
Prinsip
Syariah
- Menurut keterangannya untuk melakukan tindakan hukum dalam akta ini telah memperoleh persetujuan
dari isteri satu-satunya yang sah, yaitu:
------------------------------------------------------------------------------------------
- Nyonya Zaenab, lahir di jakarta, pada tanggal 09-01-1995 (sembilan Januari seribu sembilan ratus-----------
sembilan puluh lima), Warga Negara Indonesia, Ibu Rumah Tangga, bertempat tinggal sama dengan--------
Halaman suaminya Penghadap tersebut di atas, yaitu di Jalan …………………………, Rukun Tetangga …., Rukun Warga--
buat
…., Kelurahan ……….., Kecamatan ………., Kota ………, Pemegang Kartu Tanda Penduduk/Nomor Induk
renvoi Kependudukan : ………………., dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota ………., tanggal
…… bulan… tahun....., yang berlaku seumur hidup
yang turut pula hadir dihadapan saya, Notaris untuk menandatangani akta ini sebagai tanda
persetujuannya;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-
- Untuk selanjutnya disebut sebagai
“nasabah”.-------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------dan seterusnya (sesuaikan dengan kasus)--------------------------------------------------
- Para penghadap dengan ini mengucapkan:
Bismillahirrahmanirrahim
(Dan seterusnya)
CONTOH BADAN AKTA
Ingat
Prinsip
Syariah
-Pasal 1 (Definis)
-Pasal 2
-Pasal 3
-Pasal 4
Halaman -Pasal 5
buat -Pasal 6
renvoi -Pasal 7 Sesuaikan Dengan
-Pasal 8
-Pasal 9
Kesepakatan Para
-Pasal 10 Penghadap
-Pasal 11
-Pasal 12
-Pasal 13
-Pasal 14
-Pasal 15
-Dan Seterusnya
KLAUSULA AKAD PEMBIAYAAN BANK SYARIAH-ILUSTRASI!
Jumlah Pembiayaan Dan Self Financing
Jangka Waktu Pembiayaan
Tujuan Penggunaan Pembiayaan
Mata Uang Pembiayaan Dan Angsurannya
Ingat
Bagi Hasil Prinsip
Angsuran Oleh Penerima Pembiayaan Syariah
Pelunasan Pembiayaan Sebelum Jangka Waktunya (Prepayment)
Agunan
Asuransi Barang Agunan Dengan Syarat Banker’s Clause (Asuransi Syariah)
Event Of Default Atau Tigger Clause Atau Acceleration Clause (Klausul Percepatan, Hak Sepihak Dari Bank Mengkahiri
Perjanjian). (Jangan Sampai Merugikan Debitur, Zhalim)
Pemberian Kuasa Kepada Bank
Conditions Precedent Atau Predisbursment (Syarat Tangguh)
Representations And Waranties (Pernyataan Dan Jaminan)
Covenant (Persetujuan Atau Janji Dari Penerima Pembiayaan Untuk Melakukan Atau Tidak Melakukan Sesuatu).
Penyelesaian Perselisihan
Pilihan Hukum Dan Kewenangan
Lainnya
(Klausul Di Atas Dicek Kembali Apakah Sesuai Dengan Prinsip Syariah Atau Belum?)

58
Saksi
2:1 CONTOH AKHIR ATAU PENUTUP AKTA
Perempuan
3. AKHIR ATAU PENUTUP AKTA 2 : Laki 1
--------------------------------------------Demikian Akta Ini ----------------------------------
PASAL 38 - Dibuat dan ditandatangani di Kota Bandung, pada jam, hari, tanggal, bulan, tahun
sebagaimana disebutkan pada bagian awal akta, dengan dihadiri oleh:

AKHIR ATAU PENUTUP AKTA MEMUAT: Halaman 1. Tuan ALI, lahir di Jakarta, pada tanggal 10-01-1999 (sepuluh Januari seribu
sembilan ratus sembilan puluh sembilan), karyawan swasta, bertempat tinggal
buat
di Kota Bandung, Jalan …………………………, rukun tetangga …., rukun warga ….,
 Uraian tentang pembacaan akta sebagaimana renvoi kelurahan ……….., kecamatan ………., pemegang kartu tanda penduduk/nomor
dimaksud dalam pasal 16 ayat (1) huruf m atau induk kependudukan :………………., dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan
pasal 16 ayat (7); Catatan Sipil ………………… tanggal ……bulan…tahun, yang berlaku sampai
 Uraian tentang penandatanganan dan tempat dengan seumur hidup. -------------
2. Tuan ABDULAH, lahir di Jakarta, pada tanggal 11-01-1998 (sebelas Januari
penandatanganan atau penerjemahan akta jika seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan), karyawan swasta, bertempat
ada; tinggal di Kota Cimahi, jalan …………………………, rukun tetangga …., rukun warga
 Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, …., kelurahan ……….., kecamatan ………., kota bogor, pemegang kartu tanda
pekerjaan, jabatan, kedudukan, dan tempat tinggal penduduk/nomor induk kependudukan ………………., dikeluarkan oleh Dinas
dari tiap-tiap saksi akta; Kependudukan dan Catatan Sipil ………………… tanggal ……bulan…tahun, yang
 Uraian tentang tidak adanya perubahan yang berlaku sampai dengan seumur hidup,
-Untuk sementara berada di Kota Bandung.--------------------------------------
terjadi dalam pembuatan akta atau uraian tentang Ingat - Keduanya pegawai saya, Notaris, sebagai saksi-saksi. -------------------------------
adanya perubahan yang dapat berupa Prinsip - Segera setelah akta ini dibacakan oleh saya, Notaris kepada para penghadap dan
penambahan, pencoretan, atau penggantian serta Syariah
saksi-saksi, pada saat itu juga para penghadap membubuhkan sidik jari pada
jumlah perubahannya. lembaran tersendiri yang dilekatkan dalam minuta akta ini dan akta ini
ditandatangani oleh para penghadap, saksi-saksi dan saya, Notaris.---------
PENGHADAP - PASAL 39

Penghadap harus memenuhi syarat:

 Paling rendah berumur 18 tahun/telah menikah & cakap melakukan perbuatan hukum.
 Penghadap harus dikenal oleh notaris atau diperkenalkan kepadanya oleh 2 orang saksi pengenal
yang berumur paling rendah 18 tahun atau telah menikah dan cakap melakukan perbuatan
hukum atau diperkenalkan oleh 2 penghadap lainnya.

 Pengenalan tersebut dinyatakan secara tegas dalam akta.


MINIMAL 2 ORANG SAKSI - PASAL 40 Ingat
Prinsip
Syariah

 Setiap akta yang dibacakan oleh notaris dihadiri paling sedikit 2 (dua) orang saksi, kecuali peraturan
perundang-undangan menentukan lain.
 Saksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat sebagai berikut:
» Paling rendah berumur 18 (delapan belas) tahun atau sebelumnya telah menikah; Saksi
2 Banding 1
» Cakap melakukan perbuatan hukum; Laki (2)
» Mengerti bahasa yang digunakan dalam akta; Perempuan
(1)
» Dapat membubuhkan tanda tangan dan paraf; dan
» Tidak mempunyai hubungan perkawinan atau hubungan darah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah
tanpa pembatasan derajat dan garis ke samping sampai dengan derajat ketiga dengan Notaris atau para
pihak.
 Saksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepada Notaris atau
diterangkan tentang identitas dan kewenangannya kepada Notaris oleh penghadap.
 Pengenalan atau pernyataan tentang identitas dan kewenangan saksi dinyatakan secara tegas dalam akta.
PELANGGARAN - PASAL 41

Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, Pasal 39, dan Pasal 40
mengakibatkan akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan.
AKTA TIDAK DISINGKAT DAN TERPUTUS-PASAL 42

 Akta notaris dituliskan dengan jelas dalam hubungan satu sama lain yang tidak terputus-putus
dan tidak menggunakan singkatan.

 Ruang dan sela kosong dalam akta digaris dengan jelas sebelum akta ditandatangani, kecuali
untuk akta yang dicetak dalam bentuk formulir berdasarkan peraturan perundang-undangan.

 Semua bilangan untuk menentukan banyaknya atau jumlahnya sesuatu yang disebut dalam
akta, penyebutan tanggal, bulan, dan tahun dinyatakan dengan huruf dan harus didahului
dengan angka.

 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi surat kuasa yang belum
menyebutkan nama penerima kuasa.
AKTA BAHASA INDONESIA/BAHASA ASING-PASAL
43

 Akta wajib dibuat dalam Bahasa Indonesia.


 Dalam hal penghadap tidak mengerti bahasa yang digunakan dalam akta, Notaris wajib
menerjemahkan atau menjelaskan isi akta itu dalam bahasa yang dimengerti oleh penghadap.
 Jika para pihak menghendaki, akta dapat dibuat dalam bahasa asing.
 Dalam hal akta dibuat sebagaimana dimaksud pada ayat (3), notaris wajib menerjemahkannya
ke dalam Bahasa Indonesia.
 Apabila Notaris tidak dapat menerjemahkan atau menjelaskannya, akta tersebut diterjemahkan
atau dijelaskan oleh seorang penerjemah resmi.
 Dalam hal terdapat perbedaan penafsiran terhadap isi akta sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
maka yang digunakan adalah akta yang dibuat dalam Bahasa Indonesia.
PENANDATANGANAN AKTA - PASAL 44
 Segera setelah akta dibacakan, akta tersebut ditandatangani oleh setiap penghadap, saksi, dan
Notaris, kecuali apabila ada penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dengan
menyebutkan alasannya.
 Alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan secara tegas pada akhir akta.
 Akta sebagaimana dimaksud dalam pasal 44 ayat (3) ditandatangani oleh penghadap, Notaris,
saksi, dan penerjemah resmi.
 Pembacaan, penerjemahan atau penjelasan, dan penandatanganan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (3) serta dalam pasal 43 ayat (3) dinyatakan secara tegas pada akhir akta.
 Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan
ayat (4) mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di
bawah tangan dan dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut
penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada Notaris
Kepentingan Pada Bagian Tertentu
Pasal 45

 Dalam hal penghadap mempunyai kepentingan hanya pada bagian tertentu dari akta, hanya
bagian akta tertentu tersebut yang dibacakan kepadanya.

 Apabila bagian tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterjemahkan atau dijelaskan,
penghadap membubuhkan paraf dan tanda tangan pada bagian tersebut.

 Pembacaan, penerjemahan atau penjelasan, dan penandatanganan sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan secara tegas pada akhir akta.
Menolak Tanda Tangan & Tidak Hadir Penutupan Akta
Pasal 46

Apabila pada pembuatan pencatatan harta kekayaan atau berita acara mengenai suatu perbuatan
atau peristiwa, terdapat penghadap yang:
a. Menolak membubuhkan tanda tangannya; atau
b. Tidak hadir pada penutupan akta, sedangkan penghadap belum menandatangani akta
tersebut, hal tersebut harus dinyatakan dalam akta dan akta tersebut tetap merupakan akta
otentik.

Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus dinyatakan dalam akta dengan
mengemukakan alasannya.
Wajib Dilekatkan - Pasal 47

 Surat kuasa otentik atau surat lainnya yang menjadi dasar kewenangan pembuatan akta yang
dikeluarkan dalam bentuk originali atau surat kuasa di bawah tangan wajib dilekatkan pada
minuta akta.
 Surat kuasa otentik yang dibuat dalam bentuk minuta akta diuraikan dalam akta.
 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak wajib dilakukan apabila surat kuasa telah
dilekatkan pada akta yang dibuat di hadapan notaris yang sama dan hal tersebut dinyatakan
dalam akta.
RENVOI/PERUBAHAN ISI AKTA-PASAL 48
 Isi akta dilarang untuk diubah dengan:
Diganti;
Ditambah;
Dicoret;
Disisipkan;
Dihapus; Dan/Atau
Ditulis Tindih.

 Perubahan isi akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d dapat
dilakukan dan sah jika perubahan tersebut diparaf atau diberi tanda pengesahan lain oleh penghadap,
saksi, dan Notaris.

 Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan suatu
akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan dan dapat menjadi alasan bagi
pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada Notaris.
3 MODEL ATAU CARA RENVOI-PASAL 49

 Setiap perubahan atas akta sebagaimana dimaksud dalam pasal 48 ayat (2) dibuat di sisi kiri
akta. Dalam hal suatu perubahan tidak dapat dibuat di sisi kiri akta, perubahan tersebut dibuat
pada akhir akta, sebelum penutup akta, dengan menunjuk bagian yang diubah atau dengan
menyisipkan lembar tambahan.
 Perubahan yang dilakukan tanpa menunjuk bagian yang diubah mengakibatkan perubahan
tersebut batal.
 Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah
tangan dan dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut
penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada notaris.
RENVOI-PASAL 50
 Jika dalam akta perlu dilakukan pencoretan kata, huruf, atau angka, pencoretan dilakukan
sedemikian rupa sehingga tetap dapat dibaca sesuai dengan yang tercantum semula, dan jumlah
kata, huruf, atau angka yang dicoret dinyatakan pada sisi kiri akta
 Pencoretan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan sah setelah diparaf atau diberi
tanda pengesahan lain oleh penghadap, saksi, dan notaris.
 Dalam hal terjadi perubahan lain terhadap pencoretan sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
perubahan itu dilakukan pada sisi kiri akta sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 49 ayat (2).
 Pada penutup setiap akta dinyatakan tentang ada atau tidak adanya perubahan atas
pencoretan.  
 Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), serta
dalam pasal 38 ayat (4) huruf d tidak dipenuhi, akta tersebut hanya mempunyai kekuatan
pembuktian sebagai akta di bawah tangan dan dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita
kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada notaris.
BERITA ACARA PEMBETULAN-PASAL 51

 Notaris berwenang untuk membetulkan kesalahan tulis dan/atau kesalahan ketik yang terdapat
pada minuta akta yang telah ditandatangani.
 Pembetulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di hadapan penghadap,
sakmemberikan catatan si, dan notaris yang dituangkan dalam berita acara dan tentang hal
tersebut pada minuta akta asli dengan menyebutkan tanggal dan nomor akta berita acara
pembetulan.
 Salinan akta berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib disampaikan kepada para
pihak.
 Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mengakibatkan suatu
akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan dan dapat menjadi
alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan
bunga kepada notaris.
LARANGAN BUAT AKTA HUBUNGAN KEKELUARGAAN - PASAL 52

Notaris tidak diperkenankan membuat akta untuk diri sendiri, istri/suami, atau orang lain yang
mempunyai hubungan kekeluargaan dengan notaris baik karena perkawinan maupun hubungan darah
dalam garis keturunan lurus ke bawah dan/atau ke atas tanpa pembatasan derajat, serta dalam garis
ke samping sampai dengan derajat ketiga, serta menjadi pihak untuk diri sendiri, maupun dalam
suatu . kedudukan ataupun dengan perantaraan kuasa.
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku, apabila orang tersebut pada ayat (1)
kecuali notaris sendiri, menjadi penghadap dalam penjualan di muka umum, sepanjang penjualan itu
dapat dilakukan di hadapan notaris, persewaan umum, atau pemborongan umum, atau menjadi
anggota rapat yang risalahnya dibuat oleh notaris.
Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berakibat akta hanya
mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan apabila akta itu ditandatangani oleh
penghadap, tanpa mengurangi kewajiban notaris yang membuat akta itu untuk membayar biaya, ganti
rugi, dan bunga kepada yang bersangkutan.
LARANGAN HUBUNGAN KEKELUARGAAN-PASAL 53

Akta notaris tidak boleh memuat penetapan atau ketentuan yang memberikan sesuatu hak
dan/atau keuntungan bagi:
a. Notaris, istri atau suami notaris;
b. Saksi, istri atau suami saksi; atau
c. Orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan notaris atau saksi, baik
hubungan darah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah tanpa pembatasan derajat
maupun hubungan perkawinan sampai dengan derajat ketiga
GROSSE AKTA-PASAL 55

 Notaris yang mengeluarkan grosse akta membuat catatan pada minuta akta mengenai penerima
grosse akta dan tanggal pengeluaran dan catatan tersebut ditandatangani oleh notaris.
 Grosse akta pengakuan utang yang dibuat di hadapan notaris adalah salinan akta yang mempunyai
kekuatan eksekutorial.
 Grosse akta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pada bagian kepala akta memuat frasa "demi
keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa", dan pada bagian akhir atau penutup
aktamemuat frasa "diberikan sebagai grosse pertama", dengan menyebutkan nama orang yang
memintanyadan untuk siapa grosse dikeluarkan serta tanggal pengeluarannya.
 Grosse akta kedua dan selanjutnya hanya dapat diberikan kepada orang sebagaimana dimaksud
dalam pasal 54 berdasarkan penetapan pengadilan.
TERAAN CAP/STEMPEL-PASAL 56, 57

 Akta originali, grosse akta, salinan akta, atau kutipan akta yang dikeluarkan oleh notaris wajib
dibubuhi teraan cap/stempel.
 Teraan cap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus pula dibubuhkan pada salinan surat yang
dilekatkan pada minuta akta.
 Surat di bawah tangan yang disahkan atau dilegalisasi, surat di bawah tangan yang didaftar dan
pencocokan fotokopi oleh notaris wajib diberi teraan cap/stempel serta paraf dan tanda tangan
notaris.
Ingat :
Grosse akta, salinan akta, kutipan akta notaris, atau pengesahan surat di bawah tangan yang
dilekatkan pada akta yang disimpan dalam protokol notaris, hanya dapat dikeluarkan oleh notaris
yang membuatnya, notaris pengganti, atau pemegang protokol notaris yang sah.
PEMBUATAN, PENYIMPANAN, DAN PENYERAHAN PROTOKOL
NOTARIS-PASAL 58

 Notaris membuat daftar akta, daftar surat di bawah tangan yang disahkan, daftar surat di bawah tangan yang dibukukan,
dan daftar surat lain yang diwajibkan oleh undang-undang ini.
 Dalam daftar akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1), notaris setiap hari mencatat semua akta yang dibuat oleh atau di
hadapannya, baik dalam bentuk minuta akta maupun originali, tanpa sela-sela kosong,, masing-masing dalam ruang yang
ditutup dengan garis-garis tinta, dengan mencantumkan nomor unit, nomor bulanan, tanggal, sifat akta, dan nama semua
orang yang bertindak baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai kuasa orang lain.
 Akta yang dikeluarkan dalam bentuk originali yang dibuat dalam rangkap 2 (dua) atau lebih pada saat yang sama, dicatat
dalam daftar dengan satu nomor.
 Setiap halaman dalam daftar diberi nomor unit dan diparaf oleh majelis pengawas daerah, kecuali pada halaman pertama
dan terakhir ditandatangani oleh majelis pengawas daerah.
 Pada halaman sebelum halaman pertama dicantumkan keterangan tentang jumlah halaman daftar akta yang ditandatangani
oleh majelis pengawas daerah.
 Dalam daftar surat di bawah tangan yang disahkan dan daftar surat di bawah tangan yang dibukukan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), notaris setiap hari mencatat surat di bawah tangan yang disahkan atau dibukukan, tanpa sela-sela
kosong, masing-masing dalam ruang yang ditutup dengan garis-garis tinta, dengan mencantumkan nomor unit, tanggal,
sifat surat, dan nama semua orang yang bertindak baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai kuasa orang lain.
AKTA NOTARIS PENGGANTI-PASAL 60

 Akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris pengganti


dicatat dalam daftar akta.
 Surat di bawah tangan yang disahkan dan surat di bawah
tangan yang dibukukan, dicatat dalam daftar surat di bawah
tangan yang disahkan dan daftar surat di bawah tangan yang
dibukukan.
TANGGUNG JAWAB ATAS AKTA-PASAL 65

Notaris, notaris pengganti, dan pejabat sementara notaris bertanggung jawab atas setiap akta yang
dibuatnya meskipun protokol notaris telah diserahkan atau dipindahkan kepada pihak penyimpan
protokol notaris.

Notaris yang melanggar ketentuan pasal 58 dan pasal 59 dapat dikenai sanksi berupa:
a. Peringatan tertulis;
b. Pemberhentian sementara;
c. Pemberhentian dengan hormat; atau
d. Pemberhentian dengan tidak hormat.

 
NOTARIS PENGGANTI & PEJABAT
SEMENTARA NOTARIS

• Akta notaris pengganti dan pejabat sementara notaris, selain memuat


ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4),
juga memuat nomor dan tanggal penetapan pengangkatan, serta
pejabat yang mengangkatnya.
SYARAT PENGHADAP/PARA PENGHADAP
Pasal 39

(1) Penghadap harus memenuhi syarat sebagai berikut:


a. paling rendah berumur 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah; dan
b. cakap melakukan perbuatan hukum.
(2) Penghadap harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepadanya oleh 2 (dua)
orang saksi pengenal yang berumur paling rendah 18 (delapan belas) tahun atau
telah menikah dan cakap melakukan perbuatan hukum atau diperkenalkan oleh 2
(dua) penghadap lainnya.
(3) Pengenalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dinyatakan secara tegas dalam
Akta.
SAKS-SAKSI DALAM AKTA NOTARIS
Pasal 40

(1) Setiap Akta yang dibacakan oleh Notaris dihadiri paling sedikit 2 (dua) orang saksi, kecuali peraturan
perundang-undangan menentukan lain.
(2) Saksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. paling rendah berumur 18 (delapan belas) tahun atau sebelumnya telah menikah;
b. cakap melakukan perbuatan hukum;
c. mengerti bahasa yang digunakan dalam Akta;
d. dapat membubuhkan tanda tangan dan paraf; dan
e. tidak mempunyai hubungan perkawinan atau hubungan darah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah
tanpa pembatasan derajat dan garis ke samping sampai dengan derajat ketiga dengan Notaris atau para
pihak.
(3) Saksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepada Notaris
atau diterangkan tentang identitas dan kewenangannya kepada Notaris oleh penghadap.
(4) Pengenalan atau pernyataan tentang identitas dan kewenangan saksi dinyatakan secara tegas dalam Akta.
AKIBAT PELANGGARAN

Pasal 41
Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, Pasal 39, dan Pasal 40
mengakibatkan Akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan.
PRODUK BANK SYARIAH
FUNDING LANDING FEE BASES
a. Tijarah (Jual Beli)
a. Al Wadi’ah (Titipan) - Murabahah a. Al Wakalah
- giro - Salam (perwakilan)
- Istisna b. Al Kafalah
b. Mudharabah (Bagi
b. Ijarah (Sewa)
hasil) (penjaminan)
- Ijarah Muntahiyah Bit
- tabungan c. Al Hawalah
Tamlik (Sewa Beli)
- deposito c. Syirkah (pengalihan hak
- Musyarakah (kerjasama tanggung jawab)
modal usaha) d. Ar Rahn (gadai)
- Mudharabah (kerjasama e. Al Qardh (kebajikan)
modal usaha)
MURABAHAH
Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000
adalah jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati.

Akad yang digunakan adalah Murabahah, yaitu akad jual-beli antara bank dan nasabah. Bank akan
melakukan pembelian atau pemesanan barang sesuai permintaan nasabah kemudian menjualnya
kepada nasabah sebesar harga beli ditambah keuntungan Bank yang disepakati.

Manfaat :
Dapat digunakan untuk memenuhi usaha modal kerja, investasi atau konsumtif (misalnya, kendaraan
bermotor, rumah, dll)
Angsuran tetap selama masa perjanjian.

TIJARAH (JUAL BELI)


Fasilitas :

Dapat digunakan untuk


 pembiayaan konsumtif, seperti pembelian rumah dan kendaraan;
 produktif, seperti pembelian mesin produksi.

Pengembalian diangsur sesuai kemampuan

TIJARAH (JUAL BELI)


SALAM
FATWA DSN NO. 05/DSN-MUI/IV/2000

Adalah jual beli terhadap sesuatu yang belum ada yang pembayarannya dilakukan secara tunai
namun barang diserahkan secara tangguh.
Bank sebagai pembeli dan nasabah sebagai penjual.
Dalam transaksi ini ada kepastian kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan.

Ketentuan umum dalam ba’issalam adalah sebagai berikut :


[Link] hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas, seperti jenis, macam, ukuran,
mutu dan jumlahnya;
[Link] hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai dengan akad, nasabah harus
bertanggung jawab;
[Link] bank tidak menjadikan barang yang dibeli atau dipesannya sebagai persediaan, maka
bank dimungkinkan melakukan akad salam pada pihak ketiga (pembeli kedua).

TIJARAH (JUAL BELI)


ISTISHNA
FATWA DSN NO. 06/DSN-MUI/IV/2000

Jual beli seperti pada akad salam namun pembayarannya dilakukan oleh bank dalam beberapa kali
pembayaran.
Istishna diterapkan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi.

Ketentuan umum :
a. Spesifikasi barang pesanan harus jelas seperti jenis, macam, ukuran, mutu dan jumlahnya;
b. Harga jual yang telah disepakati dicantumkan dalam akad dan tidak boleh berubah selama
berlakunya akad;
c. Jika terjadi perubahan kriteria pesanan dan terjadi perubahan harga setelah akad ditandatangani,
maka seluruh biaya tambahan tetap ditanggung nasabah.

TIJARAH (JUAL BELI)


IJARAH
FATWA DSN NO. 09/DSN-MUI/IV/2000

Transaksi ijarah dilandasi dengan pemindahan manfaat. Disini nasabah tidak


mempunyai hak untuk memiliki barang tersebut akan tetapi hanya menikmati
manfaat barang yang menjadi objek.
Bank mengenakan biaya sewa terhadap nasabah.
Misalnya, safe deposit box.

Pada jenis ijarah munthahia bithamlik (sewa yang diikuti berpindahnya


kepemilikan), di akhir masa sewa, bank dapat menjual barang yang disewakan
kepada nasabah. Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian.

IJARAH (SEWA)
MUSYARAKAH
FATWA DSN NO. 08/DSN-MUI/IV/2000

Musyarakah adalah bentuk kerjasama dalam suatu usaha oleh dua pihak dengan ketentuan-
ketentuan sbb :
a. Semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek musyarakah dan dikelola bersama-sama;
b. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh
pelaksana proyek;
c. Pemilik modal dipercaya untuk menjalankan proyek musyarakah, tidak boleh melakukan tindakan
seperti :
1. Menggabungkan dana proyek dengan harta pribadi;
2. Menjalankan proyek musyarakah dengan pihak lain tanpa izin pemilik modal lainnya;
3. Memberi pinjaman kepada pihak lain;
4. Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaan atau digantikan oleh pihak lain;
5. Setiap pemilik modal dianggap mengakhiri kerjasama apabila

SYIRKAH (BAGI HASIL)


- menarik diri dari perserikatan
- meninggal dunia;
- menjadi tidak cakap hukum.
f. Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek harus diketahui bersama;
g. Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan di dalam akad.

SYIRKAH (BAGI HASIL)


MUSYARAKAH MUTANAQISHAH
FATWA DSN NO. 08/DSN-MUI/IV/2000

Musyarakah Mutanaqishah atau disebut juga MMq yaitu salah satu bentuk skema dalam
pembiayaan Syariah yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan bisnis, baik perorangan maupun
perusahaan. 
 
Pembiayaan MMq dimanfaatkan untuk pembelian aset usaha (investasi). Selain itu juga dapat
dimanfaatkan leaseable aset yang sudah dimiliki untuk memperoleh pembiayaan yang akan
digunakan untuk pengembangan usaha seperti kebutuhan operasional usaha sehari – hari antara
lain: pembelian bahan baku, stok, pembayaran gaji karyawan dsb.
 
Dengan metode angsuran, fasilitas pembiyaan dengan skema MMq memberikan benefit fleksibelitas
dalam pembayaran angsuran, atau jadwal pembayaran pembiayaan modal kerja sesuai dengan
kondisi cashflow usaha.

SYIRKAH (BAGI HASIL)

Anda mungkin juga menyukai