Kerangka Regulasi Kebandarudaraan IABI
Kerangka Regulasi Kebandarudaraan IABI
REGULATORY FRAMEWORK
ENGKING BAIHAKI
2
PROFILE
Organisasi mandiri, nirlaba dan organisasi profesi yang menghimpun
para ahli dari unsur-unsur : Regulator, Operator Bandara Udara,
Konsultan, Akademisi dan Peneliti.
[Link]
3
4
5
6
THE OLD & NEW TEAM
WORKING EXPERIENCES :
2017 - ........ : PENGURUS IABI
PT A NGKASA PURA II
2002 – 2004 : KEPALA BAGIAN HUKUM DAN HUMAS PT ANGKASA PURA II.
The 5 W’s
• BROADCAST
• ONE-WAY COMMUNICATION
• BLIND TRANSMISSION
• TWO-WAY COMMUNICATION
12
Air Transport System
1. Overview of the Air Transportation System
1.1 Airports
1.2 Air Traffic Control Systems
1.3 Airplanes
1.4 Airlines
2. Impacts of the Air Transportation System
2.1 Economic/land use impacts
2.2 Noise Impacts
2.3 Air Emissions
2.4 Ecological Impacts
3. Future Issues
13
THE AIR TRANSPORTATION SYSTEM IN THE 21ST CENTURY
Thomas E. Nissalke, Jr. Hartsfield
Air transportation is one of the most important components of the world’s transportation
system. Not only does it provide the major means of long-distance travel in the world, but its
economic impacts on global and national economies is substantial In addition, because of the
very nature of aviation infrastructure (for example, airports) and the current technology for flight
(for example, jet engines that consume fuel and emit air pollutants), air transportation plays an
important role in efforts to improve environmental quality and promote sustainable
development. The major components of the air transportation system include airports, air traffic
control systems, aircraft, and airlines. Changes in each of these components will have important
consequences for the future of the aviation industry. For example, significant airside congestion
is occurring at some of the world’s largest airports. How can additional capacity be provided in
an environment where major infrastructure investment is constrained? Technological advances
are preparing for a major shift in air traffic control away from ground-based aircraft guidance to
satellite navigation systems that allow aircraft to fly their own routes. One of the major trends in
air transportation over the past 80 years has been ever increasing aircraft size and weight. If
aircraft continue to get bigger, what will this do to airport capacity and environmental impacts?
And finally, in a deregulated market environment, the airline industry is extremely volatile, with
market conditions significantly affecting the viability of air service and the profitability of some
airlines around the world.
14
AIR TRANSPORTATION
REGULATORY FRAMEWORK
(In Indonesia)
SARANA / PRASARANA/
FACILITIES INFRASTRUCTURE
PP No. 3 /2001
PP No. 40 /1995 jo. PP No. 70 /2001
(KEAMANAN DAN
PP No. 3 /2000 (KEBANDAR-
KESELAMATAN
(ANGKUTAN UDARA) UDARAAN)
PENERBANGAN)
17
AERODROME atau BANDARA ?
• Aerodrome adalah kawasan di daratan dan/atau
perairan dengan batas-batas tertentu yang hanya
digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan
lepas landas. (UU 1/2009, 47).
18
AERODROME atau BANDAR
UDARA
• Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan
untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun
penumpang, dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos,
serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan
dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi.
(UU No. 1/1992, 11;
19
AERODROME = BANDAR UDARA ?
20
'Bandara Halim itu alutsista, jangan diganggu
penerbangan komersil'
Sabtu, 6 Juni 2015 13:35 Reporter : Mohammad Yudha Prasetya
21
NOTAM
(2511/17 NOTAMN
Q) WIIF/QMRLC/IV/NBO/A/000/999/06165S10653E005
A)WIIH
B)17 07 28 0200 C) 17 07 28 0500
E)RWY 06/24 CLSD DUE TO WIP)
26/03/23 22
International & National Air Laws
SIGNATORY STATE ?
UU No. 2/1976
Nota Diplomatic Kedutaan Besar RIS di
Washington kepada Menteri Luar Negeri
Amerika Serikat tanggal 1 Mei 1950.
Pasal 10
Pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang
apabila berkenaan dengan :
[Link] politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara;
[Link] wilayah atau penetapan batas wilayah negara Republik
Indonesia;
[Link] atau hak berdaulat negara;
[Link] asasi manusia dan lingkungan hidup;
[Link] kaidah hukum baru;
[Link] dan/atau hibah luar negeri
28
Kewajiban
Contracting State
Art. 12 to keep its regulations uniform, to the greatest extent
possible, with those established under the
Convention.
Art. 28 Provide, in its territory, airports, radio services,
meteorological services and other air navigation
facilities to facilitate international air navigation
Art. 37 to collaborates in securing the highest practicable
degree of uniformity in regulations, standards,
procedures, etc, in which such uniformity will
facilitate and improve air navigation.
29
PERATURAN PER-UU-AN NASIONAL
PERATURAN NASIONAL
BIDANG KEBANDARUDARAAN
Undang-undang
Peraturan Pemerintah
Peraturan Menteri Perhubungan
Peraturan Dirjen Perhubungan Udara
30/11/2016 30
HIRARKI PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN NASIONAL
(Ref. Tap MPR III/2000 & UU 12/2011)
30/11/2016
Regulatory Framework
32
Regulatory Framework
CHICAGO CONVENTION 1944 &
ANNEXES
UU No. 1/2009
33
Hirarki Peraturan Bidang
Kebandarudaraan
Khusus Bidang Kebandarudaraan:
• Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun
2009 tentang Penerbangan (UUP);
• PP No. 3 Tahun 2001 dan PP No. 70 Tahun 2001;
• PP No. 40 Tahun 2012;
• Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) yang
lebih dikenal dengan sebutan Civil Aviation Safety
Regulations (CASR), d.h.i. PKPS Bagian 139 (kita lebih
mengenalnya sebagai CASR Part 139);
• Manual of Standards (MOS); dan
• Advisory Circulars (AC).
30/11/2016 35
SANDINGAN PERMENHUB DENGAN ANNEXES
36
UU PENERBANGAN DARI WAKTU KE WAKTU
SERTA PERATURAN PELAKSANAANNYA
(KEBANDARUDARAAN)
UU UU 15/1992 UU 1/2009
83/58
--- PP 3/2001 PP 70/2001 PKPS 139 PP 3/2001 PP 70/2001 PP40/2012 PKPS 139
& MOS 139 & MOS 139
(PP40/1995 jo.
PP 3/2000,
PP71/1996,
dll).
UURI No. 1 Tahun 2009
BAB X - KEBANDARUDARAAN
Bagian Kesatu Umum Psl. 192
30/11/2016 38
TATANAN KEBANDARUDARAAN
NASIONAL
Izin mendirikan bangunan bandar Penyelenggara bandar udara Izin mendirikan bangunan Bandar
udara diterbitkan setelah meme- umum harus menguasai tanah Udara diterbitkan setelah meme-
nuhi persyaratan: dan/atau perairan dan ruang udara nuhi persyaratan:
a. bukti kepemilikan dan/atau pada lokasi yang telah ditetapkan a. bukti kepemilikan dan/atau
penguasaan lahan; .......dst. untuk keperluan pelayanan jasa penguasaan lahan; .......dst.
kebandarudaraan, pelayanan
keselamatan operasi penerbangan,
dan fasilitas penunjang bandar
udara
Legalumum
Aspect of Airport / Engking
26/03/23 42
Baihaki
PENETAPAN LOKASI, PEMBANGUNAN /
PENGEMBANGAN BANDARA
1. UU No. 1/2009 (Pasal 201 – 211)
2. Permenhub no. : PM 69/2013 tentang Tatanan
Kebandarudaraa Nasional
3. Permenhub no. : PM 20/2014 tentang Tatacara
dan Prosedur Penetapan Lokasi Bandar Udara
43
PENETAPAN LOKASI, PEMBANGUNAN /
PENGEMBANGAN BANDARA
• PM 20/2014 tentang Tatacara dan Prosedur Penetapan Lokasi Bandar
Udara
Penetapan lokasi bandar udara memuat (Psl 2):
a. titik koordinat; dan
b. rencana induk bandar udara.
44
PENETAPAN LOKASI, PEMBANGUNAN /
PENGEMBANGAN BANDARA
• UU No. 1/2009 Pasal 214 -216
• PP 40/2012 tentang Pembangunan dan Lingkungan
Hidup Bandar Udara
• PM 87/2016 ttg Tatacara & Prosedur Pemberian
IMB-BU
45
Prosedur Perizinan Pembangunan Bandara
46
Peta Kebutuhan Lahan Bandara
47
Sertifikat Operasi Bandar Udara
Bandar udara yang telah memenuhi ketentuan
keselamatan penerbangan, Menteri memberikan:
•sertifikat bandar udara, untuk bandar udara yang
melayani pesawat udara dengan kapasitas lebih dari 30
(tiga puluh) tempat duduk atau dengan berat maksimum
tinggal landas lebih dari 5.700 (lima ribu tujuh ratus)
kilogram; atau
•register bandar udara, untuk bandar udara yang
melayani pesawat udara dengan kapasitas maksimum 30
(tiga puluh) tempat duduk atau dengan berat maksimum
tinggal landas sampai dengan 5.700 (lima ribu tujuh
ratus) kilogram.
50
Kegiatan Pengusahaan
di Bandar Udara
UU No. 1/2009 Psl 232 – 238
PM 56/2015 tentang Pengusahaan di Bandar Udara jo. PM 187/2015
Pelayanan jasa kebandarudaraan:
Take-off landing, parkir & penyimpanan pesawat udara;
Terminal utk pelayanan penumpang;
Elektronika, listrik, air & limbah buangan;
Lahan utk bangunan (kelancaran angkutan udara).
Pelayanan jasa terkait bandar udara:
Penunjang kegiatan pelayanan kegiatan operasi pesawat udara;
Penujnang kegiatan pelayanan penumpang & barang ;
Memberikan nilai tambah pengusahaan bandara.
51
Kegiatan Pengusahaan
di Bandar Udara
KERJASAMA
Antara lain:
1) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 83 Tahun 2010 tentang
Penduan Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam
Penyediaan Infrastruktur Transportasi;
2) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 193 Tahun 2015 tentang
Konsesi dan Bentuk Kerjasama Lainnya antara Pemerintah dengan BUBU
untuk Pelayanan Jasa Kebandarudaraan.
52
PELAYANAN JASA BANDAR UDARA
Pasal 235 UU No.1/2009
(1) Pelayanan jasa kebandarudaraan yang dilaksanakan oleh badan
usaha bandar udara diselenggarakan berdasarkan konsesi
dan/atau bentuk lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan diberikan oleh Menteri dan dituangkan dalam
perjanjian.
Yang dimaksud dengan “bentuk lainnya” adalah kerja sama antara
lain dalam bentuk build operate own, build operate transfer, dan
contract management.
(2) Hasil konsesi dan/atau bentuk lainnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) merupakan pendapatan negara sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
60
Air Traffic Control Systems (LPPNPI)
61
ICAO – USOAP
Hasil Pemeriksaan Effective Implementation (EI) Indonesia ,
dibandingkan dengan rata-rata global (%)
(Koran SINDO, Minggu, 20 Mei 2018)
UNSUR RATA-RATA INDONESIA
GLOBAL (%) (%)
Legislasi 71,90 71,43
Organisasi 68,79 69,23
Lisensi 72,88 75,00
Operasional 68,00 87,00
Kelaikan Udara 77,92 90,91
Investigasi 55,66 63,70
Kecelakaan
Layanan Navud 63,33 84,09
Bandara 59,20 72,77
62
ICAO - USOAP
• Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) - Continuous
Monitoring Approach (CMA).
• The USOAP CMA is designed to monitor the safety oversight capabilities and
safety performances of States on a continuous basis. The USOAP CMA audit
assesses the safety oversight capability of a State by evaluating its
implementation of the eight critical elements (CEs) of a safety oversight
system.
• The safety oversight capability of a State is measured by the Effective
Implementation (EI), which is calculated for each CE or each audit area. The
overall EI of a State is the percentage of satisfactory Protocol Questions
(PQs) over the total number of satisfactory and not-satisfactory PQs.
• 58/192 dunia (sebelumnya no. 152), 10/39 Asia-Pasific.
63
PANGKALAN UDARA,
BANDARA UMUM DAN BANDARA KHUSUS
• Pangkalan Udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dengan
batas-batas tertentu dalam wilayah Republik Indonesia yang digunakan
untuk kegiatan lepas landas dan pendaratan pesawat udara guna
keperluan pertahanan negara oleh Tentara Nasional Indonesia.
• Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-
batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat
dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan
tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi
dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas
pokok dan fasilitas penunjang lainnya.
• Bandar Udara Umum adalah bandar udara yang digunakan untuk melayani
kepentingan umum.
• Bandar Udara Khusus adalah bandar udara yang hanya digunakan untuk
melayani kepentingan sendiri untuk menunjang kegiatan usaha pokoknya.
64
PANGKALAN UDARA,
BANDARA UMUM DAN BANDARA KHUSUS
Bandar Udara Khusus
Pasal 247
(1) Dalam rangka menunjang kegiatan tertentu, Pemerintah, pemerintah daerah,
dan/atau badan hukum Indonesia dapat membangun bandar udara khusus setelah
mendapat izin pembangunan dari Menteri.
(2) Izin pembangunan bandar udara khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus memenuhi persyaratan:
a. bukti kepemilikan dan/atau penguasaan lahan;
b. rekomendasi yang diberikan oleh pemerintah daerah setempat;
c. rancangan teknik terinci fasilitas pokok; dan
d. kelestarian lingkungan.
(3) Ketentuan keselamatan dan keamanan penerbangan pada bandar udara khusus
berlaku sebagaimana ketentuan pada bandar udara.
65
PANGKALAN UDARA,
BANDARA UMUM DAN BANDARA KHUSUS
Pasal 249
Yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” antara lain untuk tujuan medical
evacuation dan penanganan bencana.
66
PANGKALAN UDARA,
BANDARA UMUM DAN BANDARA KHUSUS
67
PANGKALAN UDARA,
BANDARA UMUM DAN BANDARA KHUSUS
• Pangkalan Udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dengan
batas-batas tertentu dalam wilayah Republik Indonesia yang digunakan
untuk kegiatan lepas landas dan pendaratan pesawat udara guna
keperluan pertahanan negara oleh Tentara Nasional Indonesia.
• Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-
batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat
dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan
tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi
dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas
pokok dan fasilitas penunjang lainnya.
• Bandar Udara Umum adalah bandar udara yang digunakan untuk melayani
kepentingan umum.
• Bandar Udara Khusus adalah bandar udara yang hanya digunakan untuk
melayani kepentingan sendiri untuk menunjang kegiatan usaha pokoknya.
68
PANGKALAN UDARA,
BANDARA UMUM DAN BANDARA KHUSUS
Bagian Ketiga Belas
Penggunaan Bersama Bandar Udara dan Pangkalan Udara
Pasal 257
(1) Dalam keadaan tertentu bandar udara dapat digunakan sebagai pangkalan udara.
(2) Dalam keadaan tertentu pangkalan udara dapat digunakan bersama sebagai
bandar udara.
(3) Penggunaan bersama suatu bandar udara atau pangkalan udara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan memperhatikan:
– kebutuhan pelayanan jasa transportasi udara;
– keselamatan, keamanan, dan kelancaran penerbangan;
– keamanan dan pertahanan negara; serta
– peraturan perundang-undangan.
69
PANGKALAN UDARA,
BANDARA UMUM DAN BANDARA KHUSUS
70
PP 70/2001
PENGGUNAAN BERSAMA BANDAR UDARA ATAU PANGKALAN UDARA
Pasal 51
(1) Bandar udara atau pangkalan udara dapat digunakan secara bersama untuk
penerbangan sipil dan penerbangan militer.
(2) Penggunaan bersama suatu bandar udara atau pangkalan udara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan:
a. keamanan dan keselamatan penerbangan;
b. kelancaran operasi penerbangan;
c. keamanan dan pertahanan pangkalan udara; dan
d. kepentingan penerbangan sipil dan militer.
Pasal 52
(1) Penggunaan bersama bandar udara atau pangkalan udara untuk penerbangan
sipil dan penerbangan militer ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
71
BANDAR UDARA KHUSUS
Pasal 251
Bandar udara khusus dapat berubah status menjadi
bandar udara yang dapat melayani kepentingan
umum setelah memenuhi persyaratan ketentuan
bandar udara.
Pasal 252
Ketentuan lebih lanjut mengenai izin pembangunan
dan pengoperasian bandar udara khusus, serta
perubahan status menjadi bandar udara yang dapat
melayani kepentingan umum diatur dengan
Peraturan Menteri.
BANDAR UDARA KHUSUS
Pasal 251
Bandar udara khusus dapat berubah status menjadi
bandar udara yang dapat melayani kepentingan
umum setelah memenuhi persyaratan ketentuan
bandar udara.
Pasal 252
Ketentuan lebih lanjut mengenai izin pembangunan
dan pengoperasian bandar udara khusus, serta
perubahan status menjadi bandar udara yang dapat
melayani kepentingan umum diatur dengan
Peraturan Menteri.
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN
Antara lain:
1) Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KM 48
Tahun 2002 Tentang Penyelenggaraan Bandar Udara Umum;
2) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : PM. 41 Tahun 2011 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kantor Otoritas Bandar Udara.
3) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 55 Tahun
2015 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139
(Civil Aviation Safety Regulations Part 139) Tentang Bandar Udara
(Aerodrome).
4) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia ...........
76
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN
4) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KM 20
Tahun 2009 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan (Safety
Management System).
5) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KM 8
Tahun 2010 Tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional.
6) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 31
Tahun 2013 Tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional.
7) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 57
TAHUN 2011 TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN
SIPIL BAGIAN 171 (CIVIL AVIATION SAFETYREGULATION PART 171)
TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN TELEKOMUNIKASI
PENERBANGAN (AERONAUTICAL TELECOMMUNICATION SERVICE
PROVIDERS)
8) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia............
77
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN
8) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM
21/2015 tentang Standar Keselamatan Penerbangan;
9) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor ........
Tahun ....... Tentang Penetapan Lokasi Bandar Udara .......
(berisikan selain rencana induk bandar udara, juga penetapan
KKOP dan kawasan kebisingan di dan sekitar bandar udara).
78
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN
B. FUNGSI PENGUSAHAAN
Antara lain:
1) Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 36 Tahun 2014 (sebagaimana
diubah dengan PM 179 Tahun 2015) tentang Tatacara dan Prosedur
Pengenaan Tarif Jasa Kebandarudaraan;
2) Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 45 Tahun 2015 tentang
Persyaratan Kepemilikan Modal Badan Usaha di Bidang Transportasi.;
3) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia 56 Tahun 2015
(sebagaimana diubah dengan PM 187 Tahun 2015) tentang Kegiatan
Pengusahaan di Bandar Udara;
4) Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 66/2015 tentang
Kegiatan Angkutan Udara Bukan Niaga dan Angkutan Udara Niaga Tidak
Berjadwal LN Dengan Pesawat Udara Sipil Asing ke dan dari Wilayah NKRI.
79
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN
C. KERJASAMA
Antara lain:
1) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 83 Tahun 2010 tentang
Penduan Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha
Dalam Penyediaan Infrastruktur Transportasi;
2) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 193 Tahun 2015 tentang
Konsesi dan Bentuk Kerjasama Lainnya antara Pemerintah dengan BUBU
untuk Pelayanan Jasa Kebandarudaraan.
80
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERHUBUNGAN UDARA
Antara lain:
1. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor
SKEP/124/VI/2009 Tentang Pedoman Pelaksanaan Bandar Udara Ramah
Lingkungan (Eco Airport).
2. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP 116 Tahun
2013 Tentang Pemindahan Pesawat Udara Yang Rusak Di Bandar Udara.
3. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP 262 Tahun
2013 Tentang Petunjuk dan Tata Cara Pemeriksaan dan Pengujian Kinerja
Peralatan Kemanan.
4. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP 114 Tahun
2013 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor 41 Tahun 2011 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Otoritas
Bandar Udara
81
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERHUBUNGAN UDARA
5. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/100/XI/1985
Tanggal 12 Nopember 1985 Tentang Peraturan dan Tata Tertib Bandar Udara.
6. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara NOMOR : KP 25 TAHUN 2014
TENTANG PETUNJUK DAN TATA CARA PERATURAN KESELAMATAN
PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 171-06, STANDAR PEMBUATAN BUKU MANUAL
OPERASI PENYELENGGARA PELAYANAN TELEKOMUNIKASI PENERBANGAN
( ADVISORY CIRCULAR PART 171-06, AERONAUTICAL TELECOMMUNICATION
SERVICE PROVIDER OPERATION MANUAL)
7. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP. 29 Tahun 2014
Tanggal 30 Januari 2014 Tentang Manual Standar Teknis dan Operasional
Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139 (Manual Operation
Standards CASR Part 139) Volume 1 Bandar Udara (Aerodrommes).
82
DAFTAR PUSTAKA
1. Paul Stephen Dempsey, Public International Air Law, Institute and Center for Research in Air & Space Law, McGill University, 2008.
2. Alexander T. Wells, Ed.D., Airport Planning & Management, 4th ed., McGraw-Hill.
3. Prof. DR.H.K. Martono, SH., LLM., Hukum Udara Nasional dan Internasional Publik (Public International and National Air Law), jakarta, 2012.
4. UU No. 1/2009 tentang Penerbangan.
5. UU No. 24/2000 tentang Perjanjian Internasional.
6. PP No. 3/2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan.
7. PP No. 70/2001 tentang Kebandarudaraan.
8. PP No. 40/2012 tentang Pembangunan dan Lingkungan Hidup Bandar Udara.
9. KM 34/2005 tentang Penetapan Lokasi Bandar Udara di Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka, Propinsi Jawa Barat.
10. KM 5/2007 tentang Rencana Induk Bandar Udara di Kabupaten Majalengka Prov. Jawa Barat.
11. KM 44/2002 tentang Tatatan Kebandarudaraan Nasional.
12. PM 11/2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.
13. PM 69/2013 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.
14. PM 20/2014 tentang Tatacara dan Prosedur Penetapan Lokasi Bandar Udara.
15. PM 15/2015 tentang Konsesi dan Bentuk Kerjasama Lainnya Antara Pemerintah Dengan badan Usaha Pelabuhan Di Bidang Kepelabuhanan.
16. PM 43/2015 tentang Konsesi dan Bentuk Kerjasama Lainnya Antara Pemerintah Dengan Badan Usaha Bandar Udara Untuk Pelayanan Jasa
Kebandarudaraan.
17. PM 193/2015 tentang Konsesi dan Bentuk Kerjasama Lainnya Antara Pemerintah Dengan Badan Usaha Bandar Udara Untuk Pelayanan Jasa
Kebandarudaraan.
18. PM 56/2015 tentang Pengusahaan di Bandar Udara.
19. DG Degree No. KP 28 Year 2014 of Operational and Technical Standard CASR Part 139 (Manual Standard CASR – Part 139) Volime II – Heliport.
20. DG Degree No. KP29 Year 2014 of Operational and Technical Standard CASR Part 139 (Manual Standard CASR – Part 139) Volime I – Aerodrome.