● Ekosistem Keuangan Digital
● Inovasi Teknologi
● Incumbent vs Inovasi
Keuangan Digital
Ekosistem Keuangan
Digital
yaitu beberapa pihak yang terdiri
dari otoritas, penyelenggara,
konsumen dan pihak lain yang
menggunakan media digital dalam
kegiatannya
Perubahan Bentuk Ekosistem Keuangan
Saat ini, pelanggan beralih dari cabang ke saluran
digital. Sebuah studi baru-baru ini di Inggris
memperkirakan bahwa kunjungan konsumen ke
cabang bank ritel akan menurun 36% dalam lima
tahun antara 2017 dan 2022, dengan rata-rata
pelanggan pada akhirnya mengunjungi cabang
hanya empat kali setahun. Untuk konsumen yang
lebih muda, penurunan tersebut diperkirakan akan
lebih tajam, dengan rata-rata milenial Inggris
diharapkan mengunjungi bank hanya dua kali
setahun pada tahun 2022
Pergeseran dari Saluran Langsung ke
Saluran Digital
Munculnya ATM memungkinkan pelanggan untuk
melakukan transaksi keuangan di luar jam
operasional bank mereka, dan inovasi saluran
berikutnya seperti perbankan telepon, perbankan
online, dan perbankan seluler telah membebaskan
pelanggan dari kebutuhan untuk melakukan
perbankan mereka di tempat tertentu.
Ekosistem FinTech di Indonesia
terdiri dari beberapa klasifikasi
produk
Jasa lending dan Jasa manajemen
crowdfunding investasi
Startup yang menyediakan Stockbit dan Bareksa, dua
produk ini antara lain perusahaan rintisan yang
Investree, UangTeman, dan menyediakan jasa tersebut
Modalku
Jasa pembayaran dan Jasa edukasi dan
pengiriman uang pengelolaan keuangan
pribadi
Perusahaan yang bergerak
Perusahaan rintisan yang
dibidang ini seperti Dimo,
menyediakan jasa ini antara lain
Kartuku, Dompetku dan Doku
[Link], Duitpintar,
AturDuit dan Jurnal
Ekosistem FinTech di Indonesia
terdiri dari beberapa klasifikasi
produk
Terdapat pula perusahaan rintisan lainnya yang
bergerak pada bidang jasa keuangan yang lebih
spesifik. Misalnya, iGrow dan TaniHub, sebuah startup
yang bergerak pada pembiayaan pertanian; Iwak,
perusahaan rintisan yang menyediakan jasa pendanaan
bidang perikanan; Jojonomic, yang menyediakan jasa
manajemen reimbursement; serta Privy ID yang
menyediakan fitur identitas dan tanda tangan digital
untuk berbagai pengesahan transaksi secara elektronik.
Financial Technology adalah sebuah Kehadiran inovasi teknologi
inovasi teknologi dalam layanan memudahkan transaksi jual
Inovasi
keuangan yang dapat menghasilkan beli dan sistem pembayaran
model-model bisnis, aplikasi, proses menjadi lebih efisien, praktis
atau produk-produk dengan efek dan ekonomis.
material yang terkait dengan penyediaan
layanan keuangan
Teknol
Fintech Sebagai Pendorong
Inklusi Keuangan
Inovasi fintech telah berkontribusi pada kemajuan besar
dalam mengejar inklusi keuangan. Contoh paling terkenal
dari ini adalah keberhasilan transfer uang seluler dan
layanan perbankan M-Pesa. M-Pesa diluncurkan pada
tahun 2007 oleh operator jaringan seluler Safaricom, dan
memungkinkan pengguna untuk "menyetor, mengirim,
dan menarik dana menggunakan ponsel mereka" tanpa
perlu memiliki rekening bank. Layanan tersebut telah
mengubah lanskap keuangan Kenya. Pada tahun 2000,
hanya 27% dari populasi Kenya yang memiliki rekening
bank.
Inovasi Teknologi
pembayaran dengan menggunakan
teknologi digital sudah mulai banyak
menggantikan penggunaan uang
cash dalam berbagai aktivitas seperti
berbelanja, pembayaran tagihan,
transportasi dan lain sebagainya
Manfaat Fintech
mendapat pelayanan yang lebih
baik, pilihan dalam layanan jasa
Konsumen keuangan yang banyak, dan bisa
mendapatkan harga yang lebih
murah.
menyederhanakan rantai tranksaksi,
Pemain menekan biaya operasional dan
modal, serta dapat membekukan
Fintech alur informasi
mendorong transmisi kebijakan
ekonomi, meningkatkan kecepatan
perputaran uang sehingga dapat
Negara meningkatkan ekonomi masyarakat.
Serta turut mendorong Strategi
Nasional Keuangan Inklusif (SKNI)
Incumbent vs Inovasi
Keuangan Digital
Bagi industri keuangan terutama bank, adanya perusahaan teknologi
finansial yang mengadopsi model bisnis bank digital menjadi ancaman
bagi mereka para incumbent yang cenderung tertinggal atau tidak
agresif dalam memanfaatkan maupun mengembangkan teknologi.
Bayangkan saja, bank bisa sekaligus kehilangan nasabah maupun
debiturnya karena adanya P2P lending. Lewat platform tersebut
seseorang bisa langsung menyalurkan kelebihan dananya untuk
memberikan kredit kepada yang membutuhkan. Lewat P2P lending,
nasabah tidak lagi membutuhkan perantara dalam hal ini bank untuk
menyalurkan uangnya. Bahkan, return yang ditawarkan pun jauh lebih
menguntungkan. Pada ahirnya, regulasi yang sudah dibentuk masih
kalah cepat dengan laju inovasi berbagai produk keuangan maupun
model bisnis bank digital yang terus mengandalkan kolaborasi di tengah
persaingan untuk membangun suatu ekosistem.
Tantangan pemerintah dalam memberikan
regulasi mengenai perkembangan fintech
• Perkebangan fintech yang teralu cepat
• Masyarakat banyak yang belum tahu mengenai fintech
• Banyaknya penyedia fintech yang belum terdaftar di ojk
• Banyaknya celah pada system yang menyebabkan kebocoran data konsumen
• Membutuhkan riset secara mendalam
Study Kasus
International Finance Corporation menunjukkan bahwa keberhasilan M-Pesa didorong oleh
dukungan regulasi, khususnya Bank Sentral Kenya yang bekerja sama dengan Safaricom untuk
memberikan lampu hijau bagi layanan tersebut. Program pemerintah yang paling berdampak
selama dekade terakhir dalam mendukung inklusi keuangan adalah inisiatif Aadhaar India,
dengan tujuan untuk memberikan identitas digital kepada seluruh populasinya yang berjumlah
lebih dari satu miliar orang. Pada tahun 2009, pemerintah India membentuk Unique
Identification Authority of India (UIDAI) dengan mandat untuk membentuk sistem identitas
biometrik untuk memberi individu 'nomor identifikasi unik' 12 digit dari pemerintah pusat
negara itu. Peluncuran program telah sukses besar-besaran dengan 1,2 miliar warga India
terdaftar, yang berjumlah sekitar 90% dari populasi negara itu. Melalui Aadhaar, berbagai
cabang pemerintah India telah mendorong pembuatan dan penggunaan saluran pembayaran
online, proses verifikasi pelanggan dan dokumentasi, serta platform digital lainnya. Inisiatif ini
didukung melalui pengembangan 'India Stack', 'antarmuka pemrograman aplikasi terbuka (API)'
yang canggih dengan gabungan perangkat lunak dan empat lapisan penting — lapisan tanpa
kertas, lapisan tanpa kehadiran, lapisan tanpa uang tunai, dan lapisan persetujuan. Sistem ini
memastikan verifikasi digital melalui Aadhaar, dengan tujuan khusus untuk mendorong sistem
pembayaran online tanpa uang tunai yang memungkinkan pengguna memberikan izin mereka
untuk berbagai transaksi harian.
Study Kasus
Misalnya, layanan seperti Paytm berkekuatan 280 juta — dompet seluler terkemuka di India
— sekarang memungkinkan pengguna untuk memilih apakah mereka ingin membagikan
detail kartu Aadhaar mereka untuk formalitas elektronik 'kenali pelanggan Anda'. Tak pelak,
sistem seperti itu berulang kali menimbulkan pertanyaan seputar privasi. Pada September
2018, keputusan penting oleh Mahkamah Agung negara tersebut menganggap Undang-
Undang Aadhaar valid, tetapi memutuskan bahwa entitas swasta — termasuk perusahaan
telekomunikasi, bisnis e-niaga, dan bank — tidak diharuskan untuk mendapatkan informasi
Aadhaar untuk melayani pelanggan. Pada saat yang sama, pengadilan tinggi India juga
menggarisbawahi pentingnya perlindungan data yang kuat. Pada akhirnya, dengan
memberikan otonomi kepada pelanggan tentang di mana dan bagaimana mereka memilih
untuk membagikan data mereka, India memberikan hak kepada warganya untuk menjadi
peserta dalam proses inklusi keuangan. Selain itu, keberhasilan inisiatif Aadhaar dan India
Stack memberikan pola yang menarik bagi pemerintah di seluruh dunia untuk dicermati
secara cermat saat mereka berupaya mendorong peningkatan inklusi keuangan bagi
penduduk mereka sendiri.
THANK YOU