DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA
CEDERA MEDULA SPINALIS
Oleh: dr. Khusnul Amra Pembimbing: Prof. Dr. dr. Syahrul, Sp. S (K)
PENDAHULUAN
Cedera medula spinalis spinal cord injury (SCI) berupa trauma pada medula
spinalis dan atau struktur di sekitarnya yang menyebabkan perubahan
sementara/permanen terhadap fungsi motorik, sensorik, dan atau otonom
SCI traumatik menyerang lebih dari 250.000 orang di Amerika Serikat dengan
perkiraan 17.000 kasus baru setiap tahunnya dan menjadi salah satu penyebab
tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat trauma
Tatalaksana SCI traumatis memerlukan penanganan multidisiplin (dokter bedah
saraf, bedah ortopedi, dokter saraf, dan fisioterapi). Terapi SCI traumatis terutama
ditujukan untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsi sensorik dan motorik
ANATOMI COLUMNA VERTEBRALIS
ANATOMI MEDULA SPINALIS
VASKULARISASI MEDULA SPINALIS
VASKULARISASI MEDULA SPINALIS
DISTRIBUSI DERMATOM
DISTRIBUSI MIOTOM
TINGKAT MEDULLA SPINALIS YANG
SETARA DENGAN CORPUS VERTEBRA
Tingkat Lesi
Medulla Spinalis Tinggi corpus vertebra
Servikal Sama (C1-C4)
Servikal bawah 1 tingkat lebih tinggi (C5- Th4)
Thorakal Atas 2 tingkat lebih tinggi (T3- T6)
2-3 tingkat lebih tinggi
Thorakal Bawah
(Th7-9)
Lumbal T10-T12
Sakral T12-L1
TRAKTUS MEDULA SPINALIS
JARAS/TRAKTUS
DESCENDING ASCENDING
(MOTORIK) (SENSORIK)
Posterior Column
Piramidalis Ekstrapiramidalis Spinthalamicus
Medial Lemniscus
• Rubrospinal
• Kortikospinal (Otot tubuh) • Getar
• Retikulospinal
• Kortikobulbar (Otot kepala
• Tektospinal
• Proprioseptif Anterior Lateral
dan leher) • Tactile sensation
• Vestibulospinal
Sentuhan dan Nyeri dan
Tekanan Suhu
TRAKTUS MEDULA SPINALIS
TRAKTUS
SOMATOSENSORIK
TRAKTUS
SOMATOSENSORIK
DEFINISI
Trauma medula spinalis atau disebut
juga spinal cord injury (SCI)
Cedera pada tulang belakang dan medula spinalis baik langsung/tidak
langsung menyebabkan lesi di medula spinalis menimbulkan
gangguan neurologis, menyebabkan kecacatan menetap atau kematian
Gejala bervariasi mulai dari nyeri, paralisis, sampai terjadinya
inkontinensia bergantung pada letak kerusakan medula spinalis.
EPIDEMIOLOGI
Kecelakaan lalu lintas merupakan
Insiden tahunan SCI traumatis di
Mayoritas pasien SCI traumatis penyebab paling umum SCI
Amerika Serikat diperkirakan 54
berusia kurang dari 30 tahun traumatis (38%), terutama pada
kasus per juta penduduk
usia muda
Beberapa kasus SCI traumatis Penyebab lain SCI traumatis yang
17.000 kasus baru SCI traumatis
yang berat lebih banyak terjadi sering adalah jatuh (terutama
setiap tahun
pada populasi usia muda pada orang tua; 31%)
EPIDEMIOLOGI
Manifestasi cedera yang paling
sering adalah:
Sebagian besar SCI terjadi pada Inkomplit quadriplegia (45%)
SCI traumatis terjadi
medula spinalis segmen Inkomplit paraplegia (22%)
terutama pada pria (80%)
servikalis Komplit paraplegia (20%)
Komplit quadriplegia (13%)
ETIOLOGI
Traumatik Non-Traumatik
(90%) (10%)
Kecelakaan lalu lintas
Jatuh Infeksi
Olahraga Autoimun
Kecelakaan akibat pekerjaan Keganasan
Rekreasi
Kekerasan
PATOFISIOLOGI
PATOFISIOLOGI
KLASIFIKASI
Keparahan Defisit Keparahan Defisit
Level Cedera
Neurologis Neurologis
High Cervical Nerves (C1-C4) Paraplegia inkomplit (torakal
inkomplit) Complete transaction
Low Cervical Nerves (C5 – C8)
Paraplegia komplit (torakal
Thoracic Nerves (T1-T5) komplit) Central cord syndrome
Tetraplegia inkomplit (servikal
Thoracic Nerves (T6 – T12) Anterior cord syndrome
komplit)
Lumbar Nerves (L1-L5) Tetraplegia komplit (cedera Brown Sequard syndrome
servikal komplit)
Sacral Nerves (S1-S5)
ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK
Anamnesis Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda lesi segmental
Kelemahan anggota gerak Tanda-tanda lesi UMN
(quadriplegi/paraplegi) Gangguan fungsi saraf
otonom:
Hilang rasa (hipestesia segmental)
Mengompol (sulit menahan BAK) – Miksi dan defekasi
Nyeri pinggang inkontinensia
– Keringat (berkurang atau tidak ada)
MANIFESTASI KLINIS
Gangguan / Hilangnya fungsi sensorik, motorik dan otonom di
bawah tingkat secara horizontal
Tanda-tanda segmental
Syok Spinal
Tanda-tanda Lesi UMN
MANIFESTASI KLINIS
Gangguan fungsi sensorik, motorik dan otonom di
Tanda-tanda segmental (dimana terdapat lesi)
bawah tingkat (horizontal)
Kelainan sensorik lesi traktus spinothalamicus atau Dijumpai tanda hiperalgesia atau hiperpatia di
kolumna posterior (dermatomal) batas atas gangguan sensoriknya
Kelainan motorik lesi traktus kortikospinalis
paraplegia/paresis, quadriplegia/ paresis, Fasikulasi atau atrofi otot yang dipersarafi oleh satu
peningkatan refleks tendon, refleks babinski atau beberapa segmen
positif dan spastisitas
Refleks fisiologis berkurang atau tidak ada
Hilangnya fungsi otonom tidak berkeringat di
bawah tingkat lesi dan terdapat disfungsi kandung
kemih, usus, dan seksual. Gejala sesuai tingkat segmen medulla spinalis yang
mengalami lesi.
MANIFESTASI KLINIS
Syok spinal Tanda-tanda Lesi UMN
Refleks fisiologis meningkat
Refleks patologis positif (Babinsky/Chaddock)
Lesi transversal komplit otot ekstremitas lumpuh
Kelumpuhan spastik
lembek tanpa refleks fisiologis dan patologis.
Tonus otot meningkat
Bisa berlangsung selama beberapa hari-minggu.
Tidak ada atropi otot
Dijumpai klonus
KLASIFIKASI ASIA
Grade A Komplit Tidak ada fungsi motorik dan sensorik di bawah level cedera,
khususnya pada segmen S4 – S5
Hanya fungsi sensorik yang ada di bawah level neurologik memanjang
Grade B Inkomplit sampai di segmen S4 – S5
Beberapa fungsi motorik masih ada di bawah level cedera dan lebih
Grade C Inkomplit dari setengah otot di bawah level memiliki mempunyai kekuatan otot
kurang dari 3
Fungsi motorik ada di bawah level cedera dan kebanyakan otot
Grade D Inkomplit
kekuatannya lebih dari atau sama dengan 3
Grade E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal
LEMBAR PENILAIAN SKOR ASIA
DORSAL CORD SYNDROME
Paresis ringan
Gangguan propioseptif (raba dan tekan) bilateral
Gangguan exteroseptif (nyeri dan suhu)pada leher,
punggung dan bokong
VENTRAL CORD SYNDROME
Kehilangan fungsi motorik, sensorik dan
otonom bilateral yang luas di bawah tingkat
lesi.
Tidak ada gangguan rasa getar dan rasa posisi.
CENTRAL CORD SYNDROME
Paresis anggota gerak atas lebih berat
dibandingkan anggota gerak bawah.
Gangguan sensorik bervariasi
Disosiasi sensibilitas
Disfungsi miksi, defekasi dan seksual
Penyebab utama : siringomeilia, hipotensif
spinal cord ischemia trauma (fleksi ekstensi)
dan tumor spinal
BROWN SEQUARD SYNDROME
Ipsilateral
Corticospinal weakness
Loss of joint position and vibration (posterior
column)
Contralateral
Loss of pain and temp sensation (spinothalmic
tract) one or two levels below the lesion.
CONUS MEDULARIS SYNDROME
Lesi pada tingkat vertebral L2 mempengaruhi conus medullaris.
Anestesi sadel bilateral (S3- S5).
Dirasakan tiba-tiba bilateral dan simetris.
Gangguan BAB dan BAK
Hilang refleks anal (S4-S5) dan bulbocavernosus (S2-S4)
Hilang tonus anal dan impotensi
Fungsi motorik tungkai bawah dan refleks achilles baik.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan pencitraan dapat dilakukan setelah pasien mendapat penilaian dan resusitasi
awal serta jika pasien memenuhi kriteria pada kuisioner CCR dan NEXUS
Tes pencitraan yang dapat dilakukan dapat berupa X-ray, CT Scan, dan MRI
CT-scan saat ini direkomendasikan dalam melakukan evaluasi dan memberikan hasil
mendetail terkait jenis dan lokasi tulang belakang dalam struktur anatomi
Pasien tidak sadar atau mengalami trauma multipel pemeriksaan CT pada area kepala,
leher, dada, perut, dan panggul dengan view koronal dan sagittal
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak semua pasien dengan cedera medula spinalis memerlukan
pemeriksaan pencitraan yang sama
Pasien tanpa gejala yang sadar Pasien dengan gejala yang sadar
Pasien tidak sadar
penuh penuh
Tidak ada nyeri tekan pada cervical
Tidak ada defisit neurologis CT-scan tulang belakang servikal CT-scan tulang belakang servikal
Sadar penuh merupakan pencitraan awal merupakan pencitraan awal
Tidak terdapat intoksikasi
Tidak terdapat nyeri
Jika hasil CT-scan normal Jika hasil CT-scan normal
Tidak memerlukan pemeriksaan
pasiennya punya keluhan MRI pasiennya punya keluhan MRI
pencitraan maupun imobilisasi tulang
dalam 48 jam dalam 48 jam
belakang servikal
PEMERIKSAAN PENUNJANG
MRI pasien SCI bagian anterior medula spinalis CT scan vertebra pada pasien SCI
TATALAKSANA
TATALAKSANA
Fase pra rumah sakit
Prinsip utama tatalaksana trauma medulla
spinalis adalah maksimalisasi pemulihan Fase rumah sakit
neurologis, stabilisasi spinal dan rehabilitasi
Fase rehabilitasi
TATALAKSANA
TIME IS SPINE adalah prinsip utama dalam manajemen akut SCI
TATALAKSANA PRA RUMAH SAKIT
Sekitar 10-25% pasien cedar medulla spinalis mengalami
defisit neurologis akibat tatalaksana pra rumah sakit yang
tidak mumpuni. Penanaganan ini berperan penting dalam
menentukan prognosis pasien trauma medulla spinalis.
Penekanan yang penting adalah imobilisasi pasien,
penjagaan jalan nafas, kontrol pendarahan dan syok dan
transfer pasien ke RS yang memadai segara mungkin
TATALAKSANA MEDIKAMENTOSA
Obat Mekanisme Bukti efektivitas
Neuroproteksi dengan cara mengurangi peroksidasi membrane Keterbatasan bukti bersifat neuroprotektif.
Metilprednisolon intravena Sebagian besar studi terbaru gagal membuktikan
lipid dan inflamasi paska trauma. keuntungan terapi ini pada SCI.
Tidak ada bukti perbaikan pada NASCIS atau skor
Naloxon Inhibisi efek neurotoksik dari opioid dinorfin A endogen motor ASIA.
Tidak ada bukti perbaikan pada NASCIS atau skor
Tirilazad Menurunkan peroksidasi lipid membrane neuron. motor ASIA. Tidak ada perbedaan pada skor
NASCIS jika dibandingkan dengan infus
metilprednisolon selama 24 jam
Penghambat kanal kalsium yang mencegah aktivasi enzim
Tidak ada bukti perbaikan pada NASCIS atau skor
Nimodipin apoptotic bergantung kalsium dan menghambat pelepasan motor ASIA
glutamate presinaps.
Penghambat kanal natrium, mengurangi pengeluaran Percobaan fase I menunjukan adanya peningkatan
Riluzole glutamate bergantung natrium sehingga mengurangi 15.5 pada skor motorik. Fase IIB dan III masih
kerusakan neuronal. berlangsung
Antibiotik hasil modifikasi dari tetrasiklin, mengurangi Percobaan fase II menunjukan adanya perbaikan
Minosiklin
inflamasi, apoptosis neuronal, dan aktivasi mikroglia. skor motorik (14 poin). Fase III sedang berlangsung
Neuroproteksi dengan cara mengurangi eksitotoksiksitas yang
Basic fibroblast growth factors dimediasi glutamate. Belum ada hasil dari percobaan fase I/II
TATALAKSANA MEDIKAMENTOSA
Metilprednisolon 30 mg/kgbb IV bolus
Onset <3 jam selama 15 menit, ditunggu 45 menit
selanjutnya 5,4 mg/kgbb/jam selama 23 jam
Glukokortikosteroid dosis Diberikan dengan cara yang sama, namun
Onset 3-8 jam
tinggi dosis infus dilakukan selama 47 jam
Onset > 8 jam Tidak dianjurkan
TATALAKSANA OPERATIF
Terdapat fracture, pecahan tulang menekan medulla spinalis
Gambaran neurologis progresif memburuk
Herniasi diskus intervertebralis yang menekan medulla spinals
Tindakan pembedahan dapat dilakukan dalam rentang waktu 24 jam
hingga 3 minggu pascacedera
Tindakan operatif dini < 24jam lebih bermakna dalam menurunkan risiko
komplikasi dan perburukan neurologis
TATALAKSANA REHABILITASI
Rehabilitasi dimulai saat pasien sudah stabil
Mencegah komplikasi (kontraktur, dekubitus, infeksi paru)
Dimulai sejak fase akut sd kronik yang meliputi: Memperbaiki ketergantungan pasien dalam menjalankan
Perawatan aktivitas sehari-hari
Terapi fisik Membantu pasien menerima keadaannya untuk menjalani
pola hidup yang baru
Terapi kerja
Membantu pasien untuk dapat kembali bersosialisasi
Menjaga pernafasan dan obat-obatan
Istirahat dan rekreasi debridement lesi decubitus profunda, supositoria dan
enema untuk inkontinensia alvi, antiinflamasi nonsteroid
Psikologi untuk nyeri kronik, kombinasi karbamazepin atau
Pelayanan nutrisi gabapentin dan clonazepam atau antidepresan
Latihan wicara
Pekerjaan social
Sampai dengan konseling kesehatan seksual
KOMPLIKASI
Syok kardiovaskular Deep vein thrombosis
Distress pernapasan Ulkus dekubitus
Pneumonia Kontraktur
PROGNOSIS
Prognosis dapat bervariasi tergantung pada SCI komplit prognosis buruk, apabila tidak
tingkat, komplit tidaknya lesi, cedera yang mengalami perbaikan dalam 72 jam
menyertai, penyakit komorbid, dan umur dari mengalami defisit neurologi dan atau kecacatan
pasien. yang menetap
Angka mortalitas sebesar 3,8% SCI inkomplit prognosis yang lebih baik
dengan kemungkinan >50% pasien dapat
Rata-rata pasien akan memiliki angka harapan berjalan normal bila masih terdapat fungsi
hidup sebesar 18,1-88,4%. sensorik dibawah lesi
THANK YOU
Place Your Picture Here And Send To Back