0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan20 halaman

Activity Support dalam Perancangan Kota

Pendukung kegiatan (activity support) berfungsi menghubungkan dua atau lebih pusat kegiatan umum dan meningkatkan aktivitas di kota. Bentuknya ada dua, yakni ruang terbuka seperti taman dan plaza, serta bangunan seperti toko dan kantor. Kriteria desainnya memperhatikan keragaman aktivitas, kultur lokal, dan skala manusia.

Diunggah oleh

Angel Liu Ichi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan20 halaman

Activity Support dalam Perancangan Kota

Pendukung kegiatan (activity support) berfungsi menghubungkan dua atau lebih pusat kegiatan umum dan meningkatkan aktivitas di kota. Bentuknya ada dua, yakni ruang terbuka seperti taman dan plaza, serta bangunan seperti toko dan kantor. Kriteria desainnya memperhatikan keragaman aktivitas, kultur lokal, dan skala manusia.

Diunggah oleh

Angel Liu Ichi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

AKTIFITAS

PENDUKUNG
(ACTIVITY SUPORT)
Aktifitas pendukung (activity Suport)
Hamid Shirvani.
Buku :The Urban Design Process
1985
Activity support (Kegiatan pendukung) adalah salah satu elemen di dalam perancangan kota yang ada dalam buku “urban design
Process” Oleh Hamid Sirvani , di dalamnya terdapat praktek perancangan Kawasan / kota , pada kedelapan elemen ini mempunyai
peran Yang sama penting dan saling terkait anatara satu dengan yang lain , berikut merupakan delapan kategori elemen
perancangan kota yaitu :

1. Tata Guna Lahan (land use).


2. Bentuk dan Massa Bangunan 5. Pedestrian (pedestrian area).
(building form and massing). 6. Kegiatan Pendukung (activity support).
3. Sirkulasi dan Ruang Parkir (circulation 7. Tanda-Tanda (signage).
and parking). 8. Preservasi (preservation
4. Ruang Terbuka (open space).

Kegiatan Pendukung (activity Support )menurut Hamid Shirvani dalam buku Urban Design Process Adalah Segala
fungsi dari bangunan dan kegiatan yang memperkuat/mendukung ruang-ruang public pada Kawasan kota,karena Pada
aktivitas atau kegiatan dan ruang fisik selalu melengkapi satu sama lainya .
Hamid Shirvani.
Buku :The Urban Design Process
1985

Pendukung (support) atau penyokong adalah medukung sesuatu , sedangkan aktivitas (activity)
adalah kegiatan mengarah pada suatu pergerakan , activiy support berarti berhubungan dengan
potensi/elemen yang mendukung suatu kegiatan , Dalam hubungannya dengan perancangan kota,
kegiatan pendukung berarti suatu elemen kota yang mendukung dua atau lebih pusat kegiatan umum yang
berada di kawasan pusat kota yang mempunyai konsentrasi pelayanan yang cukup besar
Aktivitas pendukung bukan hanya termasuk ketentuan mengenai jalur pejalan kaki atau pusat
perbelanjaan, akan tetapi termasuk fungsi utama dan elemen yang berguna dalam aktivitas masyarakat
kota. Hubungan integrasi dan koordinasi dari pola aktivitas memungkinkan terjadinya program pendukung
yang penting dalam sebuah perencanaan kota. Integrasi dari kegiatan indoor dan juga kegiatan outdoor
juga sangat penting dalam perencanaan aktivitas pendukung dalam perancangan kota
Hamid Shirvani.
Buku :The Urban Design Process
1985

Komponen perancangan dalam Activity Suport


1. Berupa taman terbuka untuk umum
2. Berupa jalur pedestrian, di dalamnya
terdapat street vendor (PKL), cafe (tempat
rendevouz)
3. Kegiatan-kegiatan yang bersifat instan
(misal tempat kuliner pada malam hari
Hamid Shirvani.
Buku :The Urban Design Process
1985

• Karakteristik dan Bentuk Activity Support • Kriteria Perancangan Activity Support

,
Shirvani (1985) mengatakan activity support dapat
dikembangkan, dikoordinasikan dan diintegrasikan ke dalam
jalur pedestrian dan plaza juga termasuk ke dalam lingkungan fisik perkotaan yang asli. Dalam hal ini, activity
activity support. Selain kedua elemen tersebut, support harus masuk ke dalam karakterisitik kota tersebut agar
activity support juga menghubungkan aktivitas utama sebuah kota tidak kehilangan elemen keaslian dari karakter atau
dengan aktivitas lainnya, seperti department store, ciri khas kota tersebut. Dengan kata lain, untuk menghadirkan
taman rekreasi, perpustakaan umum, balai pertemuan, ciri khas lingkungan kota yang ada, hendaknya kriteria desain
dan lain sebagainya dari bentuk dan fungsi activity support ini juga harus melihat
aspek kontekstual dari lingkungannya
Aktifitas pendukung (activity Suport)
Pendukung Kegiatan (Activity Support) Sasmito, Adi. 2011.
Jurnal Dinamika Sains vol. 09 No. 20.
Semarang : Universitas Pandanaran.

Adapun bentuk dari pendukung kegiatan yaitu kegiatan penunjang yang menghubungkan dua atau lebih pusat-pusat kegiatan umum yang
ada dikota, antara lain

• berupa ruang terbuka atau bangunan yang diperuntukan bagi


• Yang berwujud bangunan/ruang tertutup adalah seperti
kepentingan umum Ruang terbuka, bentuk fisiknya dapat
1. kelompok pertokoan eceran(grosir),
berupa
2. pusat pemerintahan,
1. taman rekresasi,
3. pusat jasa dan
2. taman kota,
4. kantor department store, dan lainnya.
3. plaza-plaza,
4. taman budaya,
5. kawasan pedagang kaki lima,
6. jalur pedestrian,
7. kumpulan pedagang penjual barang-barang seni lainnya.

Dari uraian diatas, terlihat bahwa pendukung kegiatan dapat merupakan ruang bebas untuk manusia, sebagaimana jalan sebagai
ruang yang bebas untuk mobil, hanya disini diperlukan untuk istirahat, misalnya tempat duduk, fasilitas untuk berteduh dan lainnya.
Hal ini akan memberikan kesan visual tersendiri sebagai identitas kawasan tersebut.
Pendukung Kegiatan (Activity Support) Sasmito, Adi. 2011.
Jurnal Dinamika Sains vol. 09 No. 20.
Semarang : Universitas Pandanaran

Kriteria Desain Pendukung Kegiatan

• perancangan “Pendukung Untuk terciptanya Keberadaan “Pendukung Kegiatan “ sebagai salah satu elemen
dialog yang menerus dan memiliki karakter “penghidup” kegiatan kota dengan diwarnai karakter lingkungan
lokal dalam menarik para pemakai / yang terdiri dari berbagai fungsi dan keaneka ragaman kegiatan.
pengunjung, Semakin dekat dengan pusat kota, semakin tinggi konsentrasi
• perlu adanya keragaman dan intensitas kegiatan pelayanan, intensitas dan keberagaman kegiatan, dan demakin
yang dihadirkan dalam ruang tersebut. dibutuhkan “Pendukung Kegiatan”, karena keberadaannya dapat
• Untuk menggerakkan dan memberikan dan mengintegrasikan kegiatan yang berlainan dan sebagai
memberikan kehidupan yang lebih ramai di penghubung antar kegiatan yang berada di lingkungan lain
dalam kegiatan utama kota, perlu adanya
koordinasi antar kegiatan dengan lingkungan
sekitar.
• Memperhatikan kultur dan pola kehidupan
sosial kota.
• Memperhatikan jarak antar pusat kegiatan
dengan skala pejalan kaki.
Aktifitas pendukung (activity Suport)
.(Danisworo dalam Carolina, 2008.)

Fungsi dari activity support adalah menghubungkan dua atau lebih pusat-pusat kegiatan umum dan
menggerakkan fungsi kegiatan utama kota menjadi lebih hidup, menerus dan ramai.

Bentuk dari activity support ada dua yaitu

Ruang terbuka, bentuk fisiknya dapat berupa


• taman rekreasi,
Sedangkan yang berbentuk bangunan
• taman kota,
diperuntukkan bagi kepentingan umum / ruang
• plaza-plaza,
tertutup adalah
• taman budaya,
• kelompok pertokoan eceran (grosir),
• kawasan pedagang kaki lima,
• pusat pemerintahan, pusat jasa dan
• jalur pedestrian,
• kantor, department store,
• kumpulan pedagang makanan kecil, penjual barangbarang
• perpustakaan umum, dsb.
seni / antik atau merupakan kelompok hiburan
tradisional / lokal.
.(Danisworo dalam Carolina, 2008.)

Kriteria perancangan activity support adalah :

• perlu adanya keragaman dan • memperhatikan kultur dan pola


intensitas kegiatan yang dihadirkan kehidupan sosial kota dimana hal ini
dalam ruang tersebut untuk merupakan suatu sistem dari bentuk
menciptakan dialog yang menerus kegiatan yang memperhatikan aspek
dan memiliki karakter local; kontekstual;

• perlu adanya koordinasi antara • perlu adanya bentuk dan lokasi yang
kegiatan dengan lingkungan binaan terukur dari ruang / fasilitas yang
yang dirancang; menampung dan bertitik tolak dari skala
manusia, untuk dapat menampung
aktivitas pada elemen activity support,
agar tidak terjadi konflik kepentingan
antara pengguna tanah di kota.
Jurnal-Jurnal terdahulu
KAJIAN PENGARUH PERKEMBANGAN ACTIVITY SUPPORT (KEGIATAN PENDUKUNG) FASILITAS PENDIDIKAN TERHADAP
ELEMEN PERANCANGAN KAWASAN PADA KORIDOR JALAN SETURAN RAYA
FRANSISKUS XAVERIUS, HARANDA ADWITYA
PROGRAM STUDI MAGISTER ARSITEKTUR PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ATMA JAYA
YOGYAKARTA 2017

Latar belakang
• Penelitian ini membahas tentang
pengaruh perkembangan activity
support (kegiatan pendukung) Metode penelitian
fasilitas pendidikan terhadap elemen Metode yang digunakan dalam penelitian
perancangan kawasan pada koridor ini adalah metode deskriptif kualitatif
Jl. Seturan Raya di lihat dari Pendekatan Teori
identifikasi kegiatan
− Teori Tentang Activity Support.(Shirvani,
utama ,identifikasi elemen activity
Hamid. The Urban Design Process)
support (kegiatan
− Teori Tentang Koridor.
pendukung),identifikasi elemen
− Teori Elemen Perancangan Kawasan.
perancangan kawasan dan kajian
− Teori Tentang Perkembangan Kawasan.
potensi serta permasalahan ada .
− Teori Analisis SWOT.
PENGARUH KEBERAGAMAN ACTIVITY SUPPORT TERHADAP TERBENTUKNYA CITRA KAWASAN DI JALAN
PANDANARAN KOTA SEMARANG
Dea Putri Ghassani, Bambang Setioko, Gagoek Hardiman
Magister Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
2015
Latar Belakang

Jalan Pandanaran ini memang difungsikan


sebagai kawasan komersial. Seiring dengan Metode Penelitian
berjalannya waktu, kemudian hadir fungsi
Metode kuantitatif rasionalistik
bangunan lain seperti perkantoran yang
digunakan dengan pengumpulan data Pendekatan Teori
melengkapi keberagaman aktivitas di kawasan
melalui
ini. Adanya keberagaman yang terjadi di • Teori Tentang Activity Support.
kawasan ini, tentu ada pengaruhnya terhadap (Shirvani, Hamid. The Urban
• studi literatur,
terbentuknya citra kawasan. Dengan Design Process)
• kuesioner, dan
keberagaman activity support yang ada di • Teori Fungsi utama activity
• observasi lapangan.
Jalan Pandanaran, masyarakat kota Semarang support menurut Danisworo
sangat mengenal kawasan Jalan Pandanaran (1991)
Selanjutnya analisis statistik dengan
sebagai kawasan pusat oleh-oleh dimana • Teori tata Guna lahan menurut
uji regresi menggunakan software
kawasan pusat oleholeh hanya sebagian dari Darmawan (2003:12)
SPSS 17.0 for windows.
penggal Jalan Pandanaran. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh
keberagaman activity support terhadap
terbentuknya citra kawasan.
PENGARUH ACTIVITY SUPPORT TERHADAP PENURUNAN KUALITAS VISUAL PADA KAWASAN KAMPUS UNDIP
SEMARANG STUDI KASUS : KORIDOR JALAN HAYAM WURUK SEMARANG

FELISIA FEMY KARTIKA K.D, ST


MAGISTER TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2008

Latar Belakang

Pada koridor jalan Hayam Wuruk sekarang


ini muncul berbagai macam activity support
diantaranya yaitu bangunan – bangunan
komersial, kios – kios dan PKL. Pada
Metode Penelitian
awalnya, activity support dimaksudkan
untuk membantu mahasiswa dalam Metode penelitian yang Teori pendekatan
memenuhi kebutuhannya, namun seiring digunakan adalah post
berjalannya waktu perkembangannya positivistic rasionalistic dengan • Teori Activity Support (Hamid
semakin tidak terkendali. Dengan adanya pengolahan data kuantitatif Sirvani (1984))
penelitian ini diharapkan dapat diketahui kemudian dianalisis dan • Teori kualitas Visual ((Smardon,
bagaimana pengaruh activity support dilanjutkan dengan 1986) dan (Lynch (1960))
terhadap kualitas visual pada kawasan
kampus UNDIP sebagai langkah awal
pemaknaan
tindakan preventif mempertahankan koridor
jalan Hayam Wuruk sebagai kawasan
pendidikan
PENGARUH ACTIVITY SUPPORT TERHADAP KAWASAN PECINAN SEMARANG DI MALAM HARI

Stella Prita Anugeraheni*) , R. Siti Rukayah, Bambang Setioko


Program Studi Magister Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,
2015

Latar belakang
Keberadaan activity support pada
malam hari berupa Waroeng Metode penelitian
Semawis merupakan salah satu Metode yang digunakan adalah
kegiatan pendukung yang metode kuantitatif rasionalistik
memiliki tujuan yakni dengan menggunakan analisa Pendekatan teori
mengembalikan fungsi kawasan deskriptif dan pengujian regresi • Karakter visual kawasan
pada malam hari yang karena tujuan dari penelitian ini ini dinilai berdasarkan
mempengaruhi pada karakter adalah menggali informasi Grand Theory yang
visual yang muncul dari bangunan mengenai pengaruh kegiatan digunakan (Smardon,
sekitarnya. Penelitian ini memiliki activity support. 1986) dan kaitan visual
tujuan untuk mengetahui kawasan pecinan.
pengaruh activity support berupa • Teori Activity Support
bazaar malam terhadap karakter (Hamid Sirvani (1984))
visual kawasan pecinan
ANALISA ACTIVITY SUPPORT YANG MENDORONG PERKEMBANGAN SEBUAH KORIDOR
(Studi Kasus: Jalan Tlogosari Raya Semarang)
Faricha Putri Aulia , Agung Budi Sardjono , Suzanna Ratih Sari
Program Studi Magister Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Semarang
2020

Latar Belakang
Koridor Jalan Tlogosari Raya adalah
salah satu contoh koridor komersil
dengan berbagai aktivitas masyarakat Metode penelitian
perkotaan. Hanya beberapa koridor
Metode penelitian yang digunakan
saja yang terlihat ramai dan
adalah dengan metode Deskriptif
berkembang. Semakin menjauhi pintu
Kualitatif Pendekatan teori
masuk Bumi Tlogosari koridor terlihat
sepi dan tidak ada PKL yang ikut
mejajakan dagangannya di sepanjang • Teori Activity suppor (Hamid
jalan tersebut, walaupun banyak ruko Srvani 1985 , Sasmito, 1992
berjajar yang tetap buka melayani • Teori perkembangan Koridor
konsumen. Penelitian ini bertujuan ((Trancik, 1986)
untuk mengetahui jenis dan bentuk
activity support yang mendorong
berkembangnya koridor jalan
Tlogosari Raya.
Latar Belakang

Kawasan Jalan Ahmad yani ,dan Jln kartini adalah Kawasan Komersial ,Kawasan tersebut merupakan pusat
perputaran ekonomi Kota-Kotamobagu , Aktivitas ekonomi seperti perdagangan dan jasa merupakan contoh aktivitas
yang cukup berpengaruh dalam perkembangan pada Kawasan tersebut. Koridor Komersial merupakan contoh produk
ruang kota yang cepat berkembang dengan pesat.
Koridor pada jalan ahmad yani dan jln kartini adalah salah satu contoh koridor komersil dengan berbagai
aktivitas masyarakat perkotaan baik berupa kantor, perbankan, warung makan, pertokoan dan bisnis ritel. Awal mula
perencanaan, koridor ini memang dibangun dan direncanakan sebagai koridor komersil yang dibangun banyak ruko
dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat [Link] seiring berjalannya waktu ruko-ruko ini
menjadi lebih padat dan menarik minat PKL untuk mendekat. Sekarang terlihat pada bagian depan ruko
banyak berjajar Pedagang Kaki Lima yang ikut menjajakan dagangannya di wilayah [Link] Fenomena
yang terjadi terlihat tidak meratanya perkembangan koridor pada area tersebut. Hanya beberapa koridor saja
yang terlihat ramai dan berkembang , ruko yang lainnya tidak ada Pedagang kaki Lima yang ikut mejajakan
dagangannya di sepanjang jalan tersebut, walaupun pada Kawasan tersebut banyak ruko berjajar yang tetap
buka melayani konsumen.
Rumusan Masalah Tujuan Penelitian

Dari latar belakang yang ada yang di


kemukakan, didapat rumusan masalah dalam
Tujian dari penelitian ini adalah
penelitian yaitu :
1. Untuk mengetahui pengaruh tidak nya activity
1. Apakah Activity Support berpengaruh
support terhadap perkembangan koridor-koridor
terhadap perkembangan Koridor jalan ahmad
Kawasan kota kotamobagu
yani ,jalan yos sudarso dan Jalan kartini ?
2. Mengetahui jenis dan karakteristik activity
2. Jenis dan Karakteristik Activity Support Apa
support apa yang paling banyak berpengaruh
yang paling banyak berpengaruh pada Koridor
pada Kawasan koridor Kota kotamobagu
jalan ahmad yani ,jalan yos sudarso dan Jalan
kartini ?
Hipotesis

suatu kawasan/koridor kota selalu diikuti oleh aktivitas pendukung , dimana kedua hal ini saling
mengisi fungsi dan perannya. Kegiatan Pendukung (activity Support )menurut Hamid Shirvani dalam
buku Urban Design Process Adalah Segala fungsi dari bangunan dan kegiatan yang
memperkuat/mendukung ruang-ruang public pada Kawasan kota,karena Pada aktivitas atau kegiatan
dan ruang fisik selalu melengkapi satu sama lainya . Koridor yang berada pada jalan ahmad yani , jalan
kartini dan jalan yos sudarso memiliki potensi yang baik untuk bisa di kembangkan , namun seiring
berjalannya waktu Kawasan koridor tersebut hanya ramai pada beberapa titik lokasi saja tidak secara
merata .
Dari gambaran di atas, dapat ditarik suatu hipotesis bahwa aktvitas support yang ada di koridor jalan
ahmad yani ,jalan kartini dan jalan yos sudarso mempengaruhi perkembangan koridor. Dan
diindikasikan bahwa pengaruh aktivitas komersial seperti: rumah makan dan restaurant menjadi aspek
terbesar yang akan mempengaruhi pertumbuhan koridor jalan ahmad yani ,Jalan kartini dan jalan yos
sudarso
Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif . Penelitian deskriptif
menurut Kenneth D. Bailey adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang
suatu fenomena secara detil (untuk menggambarkan apa yang terjadi)3 . Penelitian deskriptif bermaksud
memberikan gambaran suatu gejala sosial tertentu, sudah ada informasi mengenai gejala sosial seperti
yang dimaksudkan dalam suatu permasalahan penelitian namun belum memadai
Penulis menggunakan metode kualitatif karena peneliti sendiri akan menjadi instrument dalam penelitian
ini. Kirk dan Miller1 mendefinisikan penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan
sosial yang secara fundamental bergantung pada manusia dalam kawasannya tersendiri dan berhubungan
dengan orang orang tersebut dalam bahasa dan peristilahannya.
Metode Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan.
• Tahap pertama melakukan pengamatan atau survey lapangan untuk menemukan isu atau
permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian.
• Tahap kedua melakukan pengumpulan data dan menggali informasi dari informan yang meliputi
pemilik ruko ,pengunjung, pedagang kaki lima dan pejalan kaki sebagai pengguna koridor.
• Tahap ketiga menganalisis data dari hasil observasi dan wawancara.
• Kemudian menarik kesimpulan dan mencocokan dengan teori yang sudah ada. Apakah
ditemukan temuan baru atau sesuai dengan teori yang ada.

Anda mungkin juga menyukai